NEW
Font size
WorksheetsLATIHAN SOAL DRAMA
Total questions: 20
Worksheet time: 20mins
Perhatiakan dialog berikut!
Brilian : "Sekarang serahkan hp kalian, kami akan minta uang tebusan!!!" (mendorong Dimi masuk)
Dimi : "Ka …ka ... kami tidak bawa hp." (gugup).
Brilian : "Periksa kantongnya!!"
Timmy : "Siap, bos." (memeriksa kantong)
Markus: "Ada gak? Ini tempat apa?" (matanya melotot)
Timmy : "Ruang menyimpan perkakas bekas," (sambil meraba kantong si anak). "Ini bos, hpnya." (mengeluarkan hp).
Markus : "Tanyakan nomor hp orang tuanya! Hubungi untuk minta tebusan!"
Timmy : "Siap, bos!"
Suasana kutipan drama tersebut adalah ....
Haru
Tegang
Sedih
Seram
Prihatim
Perhatiakan dialog berikut!
Rina : "Apa-apaan sih? Kok posterku disobek?" (menahan marah)
Aji : […]
Rina : "Maaf..maaf enak saja!"
Aji : (dengan amat menyesal) "Iya deh, aku ganti postermu. Tapi kamu mau maafin aku kan?"
Rina : "Ya. Lain kali kamu jangan ceroboh."
Aji : (dengan tersenyum) "Oke, Bos!"
Dialog yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang kutipan drama tersebut adalah...
Maafin aku Rina. Aku tidak sengaja.
Maafin aku Aji. Aku tidak sengaja.
Begitu saja kok kamu marah, Rin.
Baiklah aku akan beli yang baru.
Tenang, jangan marah Rin.
Perhatikan dialog berikut!
Bapak : "Siapa yang datang, Bu?" (setelah temannya pergi)
Ibu: "Teman kerja ibu, tadi ada pembagian honor."
Bapak : "Tadi kan sudah ketemu di kantor?"
Ibu: "Minta penjelasan tentang pembagian honor."
Bapak: "Kok ke Ibu, Ibu kan bukan bendahara?"
Ibu: "Dia kan selalu tidak terima dengan pembagian yang ada. Padahal, nggak ikut kerja."
Bapak : "........"
Ibu: "Ya begitulah, ia selalu menilai pekerjaan dengan uang."
Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang dialog tersebut adalah ....
Dia selalu gelap mata dalam bertindak
Semua mengenal dia sebagai pekerja yang ulet
la termasuk karyawan yang sangat berpengalaman
Wow, dia memang mata duitan
Pekerjaan dia memang terlalu banyak
Tema dalam penggalan naskah drama tersebut adalah….
Kasih tak sampai antara bangsawan dan putri kerajaan
Kisah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang ibu dan kakeknya
Kisah cinta terlarang antara seorang anak yang mencintai ibu kandungnya sendiri layaknya seorang kekasih
Kisah perjuangan seorang anak yang mencari keberadaan ibu kandung dan kakek kandungnya
Kisah patriotisme seorang prajurit yang setia terhadap kerajaannya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Maya : "Pokoknya, Ibu harus setuju!"
Ibu : (menarik napas panjang kecewa) "Dengan apa Ibu membayarnya?"
Maya : (terkejut dan gugup) "Kan masih lama, Ibu."
Ibu : "Biaya kursus cukup besar, Maya."
Maya : [ …............................................ ]
Ibu : (dengan tersenyum) "Nah, begitu. Ini gres putri Ibu."
Dialog yang sempurna untuk melengkapi cuilan rumpang kutipan drama tersebut yakni …
Iya deh, Maya turuti nasihat Ibu.
Maya, kita kini lagi kesulitan.
Coba kau mengerti kondisi Ibu.
Baiklah Ibu akan beli yang baru
Coba ibu pikirkan dulu.
Pagi itu terasa amat dingin menusuk kulit, ketika Rian dan Alma sama-sama meneguk kopi bersama untuk sekadar menghangatkan hubungan mereka yang nyatanya lebih dingin dari udara. Mereka bingung akan memulai dari mana. Setelah beberapa menit hanya diam, akhirnya Alma membuka percakapan pagi itu dengan suara lirihnya.
Paragraf tersebut merupakan bagian dari naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, betul! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
ORANG ASING
Interior sebuah rumah kampung di daerah Bumiayu berupa sebuah meja di tengah. Di sebelah kiri meja menghadap ke samping, duduk seorang asing sedang menghabiskan makanannya.
Orang asing : (mendorong kursinya ke belakang dan menghabiskan minumannya). Enak-enak sekali. Sungguh aku rasakan, baiklah aku mengaso sekarang. Aku capek sekali habis jalan kaki lwat htan-hutanitu. Alhamdulillah, aku mujur sekali menemukan rumah ini.
Cuplikan cerita tersebut berlatar....
Tengah hutan
Perjalanan
Daerah pemukiman
Dalam rumah
Pinggir kampung
Pak Pikun
(1) Dasar maling! Belum sampai sebulan di sini kamu sudah kambuh lagi, ya?
(2) Dasar nggak tahu diri! Ayo, kembalikan kepadaku! Mana, heh?
(3) Jidul (meringkuk diam)
Pak Pikun (semakin keras suaranya)
(4) Jidul! Kamu mau kembalikan apa tidak? Mau insaf apa tidak?
(5) Apa mau kupanggilkan orang-orang sekampung untuk mencincangmu, heh? Kamu mau dipukuli seperti dulu lagi? Ayo, mana?
Kalimat yang menunjukkan konjungsi kronologis terdapat pada nomor?
kalimat 1
kalimat 2
kalimat 3
kalimat 4
kalimat 5
Petunjuk/ perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh disebut...
Kramanung
Kramagung
Kramaung
Kramadung
Kramabung
Bacalah kutipan naskah drama berikut!
Ayah: "Kau kelihatannya tidak suka melihat ayah tinggal di sini, Dam.
Adam : "Ya, aku tidak suka. Kecuali Ayah bilang pada Zuz dan Qon, bahwa cerita-cerita itu bohong."
Ayah : (menggeleng) "Aku tidak berbohong!"
Adam : "Kalau begitu Ayah tahu resikonya. Ayah harus pergi dari...."
Taani : "Dam! (Taani berseru kencang, sambil menangis) jangan lakukan, aku mohon jangan lakukan. Itu Ayah Dam, Ayah kau! yang menggendong kau saat bayi. Itu Ayah Dam."
Ayah : Baik.... baik lah. (ayah berdiri, matanya redup)
Taani : "Jangan pergi!" (berlari menahan lengan ayah) "Aku mohon, Ayah jangan pergi."
Ayah : "Ayah tidak kemana-mana bukan?" (tertawa kecil) "kau dan anak-anak bebas mengunjungiku kapan saja di rumah kecil itu."
Konflik dalam cuplikan drama tersebut adalah....
Adam dan Taani tidak suka dengan Ayah
Ayah tidak suka pada Adam dan Taani
Adam benci pada Ayah, karna ceritanya bohong.
Taani sayang pada Ayah karena sering menggendong
Adam yang mengusir ayahnya.
Perhatikan teks drama berikut dengan saksama!
Tina : “Tuhan menakdirkan semua nasib manusia, kita hanya menjalani.”
Ibu : “Nah, pikiran begitu itu yang tak ku sukai, kau sudah ditakdirkan punya suami buta, tak adakah niatmu, tidak adakah usahamu untuk mengubah takdir itu? Sebab takdir itu baru jatuh setelah manusia berusaha. Tina, kau bukan anakku jika kau tidak berani melawan takdir yang pahit.”
Tina : “Aku sudah berusaha, Abas juga sudah berusaha, dan inilah hasilnya. Dan kami dapat membelanjai diri untuk hidup sehari- hari.
Ibu : ….
Konflik yang terjadi antara Tina dan Ibu adalah....
Usaha melawan takdir
Pasrah menjalani takdir
Pandangan mengenai takdir
Nasib merupakan takdir
Usaha memperbaiki takdir
Bacalah penggalan drama berikut!
Asdiarti : "Kenapa?"
Yanti : "Sangat ruwet!"
Asdiarti : "Kau dipaksa kawin oleh orang tuamu?"
Yanti : "Antara lain itu. Tapi banyak lagi soalnya."
Asdiarti : "Apa?"
Yanti : "Ah, sudahlah. Sebaiknya kau tak usah memaksaku mengatakannya. Sulit. Terlalu sulit."
Asdiarti : "Yah, aku tahu kau kerasan di rumah."
Yanti : (memandang)
Asdiarti : "Itu persoalan yang banyak kita rasakan bersama."
Yanti : "Kau juga mengalami seperti itu?"
Asdiarti : "Memang, cuma persoalanku tidak seberat persoalanmu."
Bagian dialog yang mendukung watak tokoh (Yanti) yang tertekan karena banyak masalah adalah ....
(memandang)
Sangat ruwet!
Terlalu sulit.
Kau juga mengalami seperti itu?
Antara lain itu. Tapi banyak lagi soalnya
Adegan Ponirah dan Marni dengan menggendong bakul dan mengenakan topi caping.
Marni : Pon ... Ponirah!
Ponirah : Ada apa?
Marni : Aku melihat sepintas bayangan orang di sana!
Ponirah : Tenang saja!
Marni : Tenang . . . tenang? Tenang bagaimana? Kalau musuh?
Ponirah : Musuh? Marni, kita ini jualan buah dan tidak punya musuh. Kita harus yakin, yang berani bergerak di malam hari hanya TNI. Ayo jalan!
Marni : Tapi bulu kudukku berdiri.
Ponirah : Maka jangan di sini, ayo terus jalan!
Keduanya berjalan dengan sesekali menoleh ke belakang. Topi caping di tangan kiri. Tangan kanan di balik seakan
memegang senjata.
Situasi yang dilukiskan dalam penggalan drama di atas adalah....
mencekam
mengerikan
menggelisahkan
menjengkelkan
menegangkan
Bacalah dengan cermat penggalan naskah drama berikut!
Satilawati : (merasa kasihan) “Maafkanlah segala perkataanku itu, kartili. Jangan dimasukan dalam hati.”
Kartili: “(tersenyum) “Tentu tidak, Satilawati. Aku mengerti keadaanmu kemarin. Sekarang aku memuji kesetiaanmu dengan Isak. Sungguhpun telah engkau ketahui bahwa ia “…”
Satilawati:“Gila, ya , Tapi ada sesuatu, suara halusku mengatakan bahwa ia akan baik lagi. Baik untuk selama-lamanya.”
Kartili: “itu yang kuhargakan tinggi, kepercayaanya kepada diri sendiri.”
Satilawati : “ Dan biarpun tidak balik kembali aku juga dapat mengikatkan diriku kepada orang lain.”
Masalah dalam penggalan naskah drama tersebut adalah ...
Suami yang sakit gila dan tak kunjung
sembuh
Suami yang tidak setia dan akhirnya di
benci istrinya
Seorang istri yang sangat kecewa atas
kehidupanya
Sahabat yang senang turut campur uru-
san orang lain
Pandangan seorang terhadap perilaku
orang
Perhatikan penggalan naskah drama berikut!
Alin: "Betul, Dan, aku masih punya orang tua dan adik-adik. Namun, aku pun dapat merasakan kesedihanmu."
Dani: "Benar, Alin. Aku memang menumpang di rumahmu. Aku tak punya orang tua. Aku merasa selalu merepotkanmu."
Alin: "Jangan berprasangka seperti itu. Kamu kan sudah lama mengenalku."
Dani: ...
Kalimat yang tepat untuk melengkapi dialog tersebut adalah ...
"Alin, berbicara memang mudah, ya, membuktikannya cukup lama dan sulit."
"Tidak usahlah engkau munafik, kamu juga tidak menyukai aku tinggal bersamamu, kan?"
"Terima kash Alin, engkau memang sahabat sejatiku dan aku tidak perlu ragu."
"Tapi, aku belum bisa membalas kebaikanmu
seperti yang kauharapkan."
"Jarang sekali kita berbicara seperti ini, kamu terlalu sibuk, ya, Alin?"
Bacalah kutipan naskah drama berikut dengan saksama!
Nirmala: "Ya Allah! Di manakah Bilal dan Nurma? (tangis Nirmala pun meledak) "Ya, Allah mengapa kau ambil kedua anakku? Mengapa tidak aku saja!" (suasana di ruangan itu haru biru diliputi kesedihan mendalam begitu mendengar kejadian yang sebenarnya)
Dokter Anis: "Bagaimana kejadiannya?"(setelah keadaan agak mereda)
Sultan: "Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 itu kami sekeluarga sedang makan pagi di ruang tengah. Tiba-tiba terja di gempa bumi cukup hebat.
Kami pun berhamburan ke luar rumah. Saya menggendong Bilal sedang Dik Nirmala menggendong Nurma!" (jelas Sultan sambil menggigit bibir karena menahan kepedihan amat dalam) "Setelah guncangan gempa itu reda tiba-tiba dari arah pantai orang berteriak-teriak air! air! Ketika diterjang bah tsunami, kami pun berempat saling berangkulan. Selanjutnya kami terseret air bersama bangunan, pohon, mobil dan bahan-bahan lain. Dik Nurmala dan kedua anak saya menjerit-jerit ketakutan karena timbul tenggelam dan tertimpa benda-benda yang terseret air."
Nirmala: "Tidak lama kemudian arus air yang menyeret kami menabrak bangunan bertingkat.
Kedua anak kami terlempar entah ke mana. Saya dan suami pingsan dan tenggelam setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi!"
Hanya Kebesaran dan Rahmat-Nya,
(Aku masih, Aisyah)
Masalah yang diungkapkan dalam kutipan naskah drama tersebut adalah ...
Seorang ibu mengalami gangguan jiwa karena depresi yang berat.
Ratapan orang tua karena kehilangan ananya pada peristiwa tsunami Aceh.
Orang tua yang kehilangan anak dan masih berharap anaknya kembali.
Orang tua yang ditinggalkan oleh kedua anaknya di tsunami Aceh.
Ketakutan orang tua akan kehilangan harta benda yang dicintainya.
Bacalah naskah drama berikut!
Si Pincang : "Hah, lepas. Sekian puluh ribu. Sia-sia, kenapa Bos terlalu cepat memutuskan."
Si Tua: "Sudahlah. Itulah yang dinamakan nasib."
Si Pincang : "Apa aku harus menyerah kepada nasib begitu saja? Apa aku harus kalah?"
Si Tua: "Menyerah? Tidak. Kalah sekali untuk meraih kemenangan beberapa kali."
Si Pincang : "Semestinya aku menang. Keunggulan Si Buruk dariku hanya terletak pada dia begitu akrab dengan Bos. Alasan Bos menolakku sesungguhnya menyakitkan hati; aku pincang!"
Masalah yang diungkapkan dalam naskah drama tersebut adalah...
Kekalahan Si Pincang dari Si Buruk karena alasan yang tidak masuk akal.
Si Tua yang menasihati Si Pincang karena dipecat oleh Bos.
Bos yang tidak berusaha berbuat adil terhadap anak buahnya.
Kondisi Si Pincang yang tidak dekat dengan Bos dan pimpinannya.
Penyesalan Si Pincang yang berkepanjangan atas dosa yang dilakukannya.
Perhatikan teks drama berikut ini!
Budi : "Mbak, mari bekerja membantu orang tua kita, kita ikut meringankan beban beliau ya!"
Teti: "Aku juga kashan, Dik, mereka bekerja siang malam demi kita, demi adik kecil kita!"
Budi : "Tapi, aku tak tahu caranya, kita mau bekerja apa? Kita ini mash terlalu kecil untuk bekerja, ya, Mbak?"
Teti : (diam berpikir sejenak), "Bagaimana kalau adik main gitar, kakak yang nyanyi, seperti yang sering kita lakukan!"
Budi : "Bagus Mbak, jadi kita bisa bersama-sama meringankan beban orang tua kita!"
Teti: "Ya, seperti peribahasa ...
Peribahasa yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang adalah ...
Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Bagai menegakkan benang basah.
Berani karena benar, takut karena salah.
Berat tak dipikul, ringan tak dijinjing.
Cermati dialog berikut!
Ica: "Sudah lama kita tidak bertemu teman kita ya, Gus?"
Gus: "Benar, Ca. sudah rindu rasanya berkumpul seperti dulu."
Ica: "....."
Gus: "Itu ide yang bagus. Kapan kita wujudkan?"
Ica : "Liburan akhir tahun pelajaran saja."
Kalimat yang tepat untuk melengkapi tersebut adalah ...
Bagaimana kalau kita adakan reuni?
Berkumpul-kumpul seperti apa yang kamu maksudkan?
Kapan kita berkumpul dengan teman-teman?
Di mana kita laksanakan acara kumpul tersebut?
Ah, itu sangat mudah untuk dilakukan lagi, asal mau saja?
