WorksheetsPENILAIAN HARIAN CERPEN
Total questions: 20
Worksheet time: 3600secs
Sudah hampir jam satu malam, ketakutan menyerangku. Aku ingin menelepon ke rumah, tapi kupastikan Mak Yem menunggu ayah di rumah sakit. Tiba-tiba aku merasa bersalah, ini sebuah egoisme. Aku dan Yu Ning kejar karir dan selalu lupa kalu masih punya ayah yang harus kami perhatikan. Selalu lupa menelepon beliauhanya untuk mengucapkan, “Halo”. Padahal, sebelum keberangkatanku ke Jakarta, ayah bilang, “Kalian berdua memilih karir di Jakarta. Tak seorang pun memang ingin bersama laki-laki tua sepertiku. Aku tahu tidak ada yang harus disalahkan, setiap anak pasti mencari sarangnya yang baru. Tapi, sesekali teleponlah aku. Itu sudah lebih dari cukup.”
amanat kutipan cerita di atas adalah ...
jangan sia-siakan kesempatan untuk meraih sukses karir
kesempatan tidak akan pernah datang dua kali dalam hidup
orang tua harus mendukung anaknya untuk mencapai karirnya
sesukses apapun selalu ingat dan memperhatikan orang tua
"Jadi, apa yang membawamu kemari?”
“Kenangan.”
“Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap sekitar 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Alur dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
Alur maju
Alur mundur
Alur campuran
Tidak menggunakan alur
Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan? Atau ia sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan ia lalai. Hingga akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Dalam paragraf tersebut terdapat unsur ekstrinsik
nilai budaya
nilai sosial
nilai moral
nilai agama
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, larasati segera memulai pembicaraan.
“Sebelum membicarakan soal diah, saya perlu menjelaskan menggapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin saya bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan”
“Maksud ibu apa?
‘ Saya khawatir , keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Sifat tokoh larasati berdasarkan kutipan di atas adalah?
penyayang
angkuh
pemberani
penakut
Bacalah kutipan cerita berikut!
“Kenapa kamu kesal? Kenapa harus marah?” tanya Ratih. “Mendoakan orang yang sakit kan bagus.”
“Bukan cuma bagus, tapi harus. Masalahnya, apakah yang mereka ucapkan itu benar-benar mereka jalani? Apa pernah kegiatan berdoa untuk kesembuhan bu Siska itu benar-benar mereka lakukan, entah itu di rumah, di masjid, di gereja, di wihara atau di mana pun mereka berada? Atau mereka sekadar mengetikkan kata-kata di keyboard smartphone dan memencet tombol send untuk menyenang-nyenangkan bu Siska? Aku yakin yang mereka lakukan basa-basi belaka!!!”
“Jangan suka curiga….”
“Mereka sendiri yang bicara.”
(Basa-Basi, Jujur Prananto)
Watak tokoh Aku dalam kutipan cerita tersebut digambarkan penulis melalui ….
perbuatan tokoh
cakapan/dialog tokoh
penamaan tokoh
pandangan/dialog tokoh tertentu terhadap tokoh lain
Nilai moral yang terdapat dalam cerita tersebut adalah ....
Beni segera meminta pertolongan untuk mengobati Heru.
Heru mengakui bahwa dirinya tidak melakukan pemanasan.
Heru meminta maaf kepada pemain tim A karena dia cedera.
Beni tidak mengacuhkan Heru, meskipun ia tahu Heru terkilir.
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ceroboh, malas, kaya
rajin, marah, teliti
ramah, telaten, dermawan
cermat, pelit, perhitungan
Ia sendiri tersenyum basah, mengenakan toga dan memegang ijazah kelulusan. Rambutnya telah dipotong pendek. Alangkah syahdunya subuh itu datang sementara suara sember masih saja terdengar dari tape recorder yang disetel penjual roti bakar.
(Resta Gunawan, "Dini Hari di Sudut Kampus")
Nilai yang menonjol dari kutipan teks tersebut adalah ....
agama
budaya
pendidikan
sosial
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….
1
2
3
4
O, alangkah girangnya Marni mendapatkan sandal baru untuk berlebaran. Sandal kecil bekas pakai. Barang itu lalu dibungkus dan diserahkan kepada Marni. Lihatlah betapa gembiranya gadis cilik itu. dipeluknya bungkusan dengan erat, seakan takut barang itu lepas daripadanya. Diciumnya dan ditimang-timangnya. Senandung kecil terdengar dari mulutnya yang mungil..... Latar suasana yang tergambar pada kutipan cerpen di atas adalah....
duka cita
sedih
marah
riang gembira
Pagi ini suasana di rumah begitu ramai. Kakakku yang sedang mengandung akan mengadakan acara di rumah. Di desa tempatku tinggal, setiap ada wanita hamil yang usia kandungannya menginjak 7 bulan akan ada acara yang bernama “tingkepan 7 bulanan” atau “mitoni”.
Penggalan unsur ektrinsik cerpen diatas adalah ....
Nilai agama
Nilai budaya
Nilai moral
Nilai sosial
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor ….
(1)
(3)
(4)
(5)
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi geletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah…
di hutan, pagi hari
di desa, siang hari
di sungai, sore hari
di sungai, malam hari
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Dua minggu sudah kau pergi. Meninggalkan jejak-jejak abadi di hidupku. Warnanya mulai kusam, sayang. Bukan mungkin lagi, karena usia kita sudah tua. Aku tak pernah menyangka bahwa minggu lalu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama anak-anak yang kita cinta. Yang sudah kita besarkan dengan kasih sayang. Dari dekapan seorang ayah sepertimu. Itu sangat membuat kami tenang.
Seyuman Terindah Darimu
Tema dari kutipan cerpen tersebut adalah..
Kehilangan
Kesepian
Kerinduan
Kesendirian
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
orang pertama sebagai tokoh utama
orang pertama sebagai tokoh sampingan
orang ketiga serba tahu
orang ketiga terbatas
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Jenis alur dalam kutipan cerpen di atas adalah …
progresif
regresif
campuran
ganda
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Watak tokoh aku yang penakut, dalam kutipan cerpen di atas disampaikan melalui ….
dialog antar tokoh
komentar tokoh
tindakan tokoh
pikiran tokoh
Aku masih ingat betapa Raka selalu datang ke toko bunga ini setiap hari Jumat. Ia selalu membeli satu tangkai mawar putih, yang kemudian ia serahkan kepada seorang perempuan muda di ujung jalan. Aku hanya seorang penjaga toko, tetapi kehadirannya setiap minggu membuatku penasaran. Suatu hari, aku memberanikan diri bertanya, "Untuk siapa mawar ini, Mas Raka?"
Raka hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Untuk seseorang yang sangat berarti bagiku."
Aku tidak pernah tahu siapa perempuan itu, tetapi aku selalu melihat bagaimana Raka memberikan mawar itu dengan penuh kasih sayang. Hingga suatu hari, Raka tidak datang lagi. Aku merasa kehilangan, meski aku tahu aku hanya seorang saksi bisu dari kisah cintanya.
Berdasarkan teks di atas, sudut pandang apa yang digunakan dalam cerita?
Sudut pandang orang ketiga serba tahu
Sudut pandang orang ketiga pengamat
sudut pandang orang pertama pelaku utama
sudut pertama pelaku sampingan
Di tengah hutan yang sunyi, Rena berjalan sendirian, merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Ia tahu bahwa ia telah tersesat, tetapi tidak ingin mengakui rasa takut yang mulai menguasai pikirannya. Di kejauhan, seekor burung hantu mengawasi setiap langkahnya dengan cermat, seolah memahami ketidakpastian yang dirasakan Rena. Meski tidak disadarinya, di balik pepohonan yang gelap, ada sepasang mata lain yang juga mengintai, menunggu momen yang tepat untuk mendekat.
Rena tidak menyadari bahwa langkah-langkahnya semakin mendekat ke tepi jurang, sebuah tempat yang telah lama menjadi rahasia bagi makhluk-makhluk di hutan itu. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang mendesak untuk terus maju, meskipun rasa takut terus menghantui.
Berdasarkan teks di atas, sudut pandang apa yang digunakan dalam cerita?
sudut pandang orang ketiga pengamat
sudut pandang orang ketiga serba tahu
sudut pandang orang pertama pelaku utama
sudut pandang orang pertama pelaku sampingan
Bayu duduk di tepi danau, mengamati riak air yang tenang di bawah sinar matahari sore. Dia merenungkan kejadian pagi itu, saat dia dan sahabatnya, Dika, bertengkar hebat. Bayu merasa bersalah, tapi dia tidak tahu bagaimana harus meminta maaf. Dalam pikirannya, dia bertanya-tanya apakah Dika juga merasakan hal yang sama atau justru marah padanya.
Bayu tidak tahu bahwa di tempat lain, Dika juga sedang merenungkan pertengkaran mereka, namun dengan perasaan yang berbeda. Baginya, persahabatan mereka masih berarti, meski ada kesalahpahaman yang terjadi.
Berdasarkan teks di atas, sudut pandang apa yang digunakan dalam cerita?
sudut pandang orang ketiga serba tahu
sudut pandang orang ketiga pengamat
sudut pandang orang pertama pelaku utama
sudut pandang orang pertama pelaku sampingan
