NEW
Font size
WorksheetsHikayat dan Cerpen
Total questions: 50
Worksheet time: 1hrs 15mins
Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa. Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat menyembuhkan penyakit itu.
Sumber teks: Buku Kesusastraan Melayu Klasik
Kata-kata arkais yang ditemukan pada teks diatas adalah...
upeti dan hatta
upeti, hatta, dan nujum
raja, elok, dan nujum
elok dan nujum
upeti, putri, dan nujum
Diambilnya pisau, lalu ditorehnya gendang itu. Maka Putri Ratna Sari keluar dari gendang itu.
Sumber teks: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian
Karakteristik hikayat pada penggalan teks di atas yaitu...
kemustahilan
kesaktian
istana sentris
anonim
bahasa
Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si bungkuk air itu dalam.
Sumber teks: http://abdsyawal.blogspot.co.id/
Kata yang digarisbawahi pada penggalan hikayat di atas menggunakan majas...
antonomasia
alegori
perumpamaan
simile
metafora
Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?"
Konjungsi yang menyatakan urutan waktu atau peristiwa pada penggalan hikayat di atas adalah...
kemudian
lalu
maka
setelah itu
selanjutnya
Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman. “Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.” kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.” tanya Abu Nawas.
“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.” kata Baginda.
Majas yang digunakan pada penggalan hikayat di atas adalah...
metafora
alegori
antonomasia
personifikasi
simile
Adalah sebuah kolam yang amat elok. Di tepi kolam itu adalah dua ekor burung diam. Kedua burung itupun bersahabat dengan seekor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu datanglah kemarau. Maka air kolam itu keringlah.maka berkatalah burung itu kepada sahabatnya kura-kura itu.”Hai sahabatku. Apakah hal kami sekarang karena air kolam ini telah keringlah. Baikla kami berpindah kepada kolam yang lain supaya dapat kami mencari makan di sana. Tetapi susah kami meninggalkan tuan hamba di sini. Sebab itu biarlah kami bawa tuan hamba dan kami lepaskan kepada tempat berair supaya senang hati kami. Hendakpun kami menerbangkan tuan hamba tiada boleh karena kulit tuan hamba itu terlalu keras, tiada dapat kami pagut. Akan tetapi adalah suatu bicara kami, kami bawa suatu kayu tuan hamba gigitlah pada sama tengah kayu itu. Maka kami terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangan tuan hamba bukakan mulut dari pada kayu itu.
Maka sahut kura-kura,”Baiklah, mana kata tuan hamba hemba turutlah.”
Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu, maka digigitlah oleh kura-kura itu maka oleh burung itu diterbangkanlah seorang suatu penjuru. Setelah sampai burung itu terbang ke atas kampung orang maka heranlah segala orang melihat hal itu, kura-kura terbang di tengah-tengah dan dua ekor burung pada kiri kanannya. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Apabila didengar kura-kura akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya kura-kura, “Apa sebabnya maka orang itu semuanya bersorak?” Demi dibukanya mulutnya, maka jatuhlah ia ke bumi lalu mati. (Penjedar Sastra, Dr.C. Hooykaas)
Karakteristik sastra Melayu Klasik yang paling dominan dalam hikayat di atas adalah ... .
tema
latar
sudut pandang
tokoh
alur
Adalah sebuah kolam yang amat elok. Di tepi kolam itu adalah dua ekor burung diam. Kedua burung itupun bersahabat dengan seekor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu datanglah kemarau. Maka air kolam itu keringlah.maka berkatalah burung itu kepada sahabatnya kura-kura itu.”Hai sahabatku. Apakah hal kami sekarang karena air kolam ini telah keringlah. Baikla kami berpindah kepada kolam yang lain supaya dapat kami mencari makan di sana. Tetapi susah kami meninggalkan tuan hamba di sini. Sebab itu biarlah kami bawa tuan hamba dan kami lepaskan kepada tempat berair supaya senang hati kami. Hendakpun kami menerbangkan tuan hamba tiada boleh karena kulit tuan hamba itu terlalu keras, tiada dapat kami pagut. Akan tetapi adalah suatu bicara kami, kami bawa suatu kayu tuan hamba gigitlah pada sama tengah kayu itu. Maka kami terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangan tuan hamba bukakan mulut dari pada kayu itu.
Maka sahut kura-kura,”Baiklah, mana kata tuan hamba hemba turutlah.”
Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu, maka digigitlah oleh kura-kura itu maka oleh burung itu diterbangkanlah seorang suatu penjuru. Setelah sampai burung itu terbang ke atas kampung orang maka heranlah segala orang melihat hal itu, kura-kura terbang di tengah-tengah dan dua ekor burung pada kiri kanannya. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Apabila didengar kura-kura akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya kura-kura, “Apa sebabnya maka orang itu semuanya bersorak?” Demi dibukanya mulutnya, maka jatuhlah ia ke bumi lalu mati. (Penjedar Sastra, Dr.C. Hooykaas)
Hal utama yang diceritakan dalam hikayat di atas adalah ... .
Dua ekor burung yang berbuat baik kepada seekor kura-kura
Kura-kura yang celaka akibat tidak patuh pada kesepakatan
Kecerdikan dua ekor burung dalam memindahkan kura-kura
Kekaguman orang-orang kepada kura-kura yang diterbangkan dua ekor burung
Persahabatan antara burang dan kura-kura
Adalah sebuah kolam yang amat elok. Di tepi kolam itu adalah dua ekor burung diam. Kedua burung itupun bersahabat dengan seekor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu datanglah kemarau. Maka air kolam itu keringlah.maka berkatalah burung itu kepada sahabatnya kura-kura itu.”Hai sahabatku. Apakah hal kami sekarang karena air kolam ini telah keringlah. Baikla kami berpindah kepada kolam yang lain supaya dapat kami mencari makan di sana. Tetapi susah kami meninggalkan tuan hamba di sini. Sebab itu biarlah kami bawa tuan hamba dan kami lepaskan kepada tempat berair supaya senang hati kami. Hendakpun kami menerbangkan tuan hamba tiada boleh karena kulit tuan hamba itu terlalu keras, tiada dapat kami pagut. Akan tetapi adalah suatu bicara kami, kami bawa suatu kayu tuan hamba gigitlah pada sama tengah kayu itu. Maka kami terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangan tuan hamba bukakan mulut dari pada kayu itu.
Maka sahut kura-kura,”Baiklah, mana kata tuan hamba hemba turutlah.”
Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu, maka digigitlah oleh kura-kura itu maka oleh burung itu diterbangkanlah seorang suatu penjuru. Setelah sampai burung itu terbang ke atas kampung orang maka heranlah segala orang melihat hal itu, kura-kura terbang di tengah-tengah dan dua ekor burung pada kiri kanannya. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Apabila didengar kura-kura akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya kura-kura, “Apa sebabnya maka orang itu semuanya bersorak?” Demi dibukanya mulutnya, maka jatuhlah ia ke bumi lalu mati. (Penjedar Sastra, Dr.C. Hooykaas)
Nilai moral yang terdapat dalam hikayat di atas adalah ... .
Saling menolong terutama pada musim kemarau
Menjalin kerja sama merupakan kunci dari persahabatan
Mencari siasat dalam melakukan suatu pekerjaan
Manjalin persahabatan dengan siapa pun.
Pentingnya menaati kesepakatan agar tidak celaka
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
Tubuhnya digerogoti penyakit
Buruknya pelayanan rumah sakit
Susahnya menjadi orang miskin
Banyak bangsal yang kosong
Tidak mendapat fasilitas gratis
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Amanat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
Jangan cepat menyerah pada keadaan bagaimanapun juga.
Jangan membuang waktu selagi masih ada waktu.
Sebaiknya kita menyesuaikan diri dengan keadaan.
Jangan lupa diri bila menguasai bahasa orang
Jangan mudah dipengaruhi oleh orang lain.
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Pernyataan yang sesuai dengan teks cerpen di atas adalah …
Banun menobatkan diri sebagai orang kikir
Predikat Banun Kikir didasari kedengkian
Banun tidak pernah tahu rekor kikir itu
Banun tidaklah kikir tetapi hemat
Tidak ada yang pernah bertanya tentang Banun
Hikayat termasuk ke dalam jenis teks ....
narasi
prosedur
laporan
eksposisi
deskripsi
Manakah yang bukan termasuk karakteristik hikayat?
kemustahilan
kesaktian tokoh-tokohnya
anonim
keunikan
menggunakan alur berbingkai/ cerita berbingkai.
Ciri bahasa yang dominan pada hikayat adalah ...
menggunakan bahasa Melayu
banyak menggunakan konjungsi pada awal kalimat
mengandung nilai-nilai kehidupan
menggunakan bahasa yang sukar dipahami
diceritakan secara lisan sehingga tidak diketahui penulisnya
Hikayat banyak menggunakan kata arkais. Yang dimaksud kata arkais adalah ....
kata-kata baku
kata-kata Melayu yang sudah jarang digunakan
kata-kata yang sudah jarang digunakan
kata-kata resapan dari bahasa asing
kata-kata yang tidak terdapat di kamus
Salah satu karakteristik hikayat adalah menggunakan alur berbingkai. Yang dimaksud alur berbingkai adalah ...
alur maju
alur mundur
alur yang di dalamnya terdapat cerita yang lain
alur campuran
alur yang membahas tokoh lain
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.
Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah …
Basmilah jika melihat kejahatan
Jangan menyombongkan diri
Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
Hendaklah menolong orang dalam kesulitan
Bersyukurlah jika mendapat pertolongan
Pengganti Hang Tuah di keraton adalah Hang Jebat. Sesungguhnya, ia menaruh dendam atas keputusan raja yang dijatuhkan kepada sahabatnya, Hang Tuah. Karena setia kepada sahabatnya, ia mengamuk di keraton. Putri-putri dan dayang-dayang diperlakukan kurang sopan sehingga banyak jugalah orang yang mati karena kerisnya, yang diberikan Hang Tuah kepadanya. Tiada seorang pun yang berani mendinginkan sehingga raja sendiri pun terlibat pula dalam kesulitan dan ketakutan.
Dari kutipan cerita di atas kita dapat mengetahui bahwa Hang Jebat berwatak ….
pemberani
baik budi
sombong
setia
kasar
”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya. ”Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata.”
”Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya.”
(Hikayat Kalilah dan Dimnah)
mendahulukan kepentingan umum
menghormati orang lain
menegur orang dengan bahasa yang sopan
menolong orang yang sedang menderita
membantu orang yang sedang bersedih hati
Tuan puteri memandang ke dayang kipas itu. Kesepuluhnya menyembah, lalu mengundurkan diri mengisut ke belakang perlahan-lahan. Bangkitlah Mak Inang, lalu duduk di tepi tilak tujuh bertindih, lalu mengumpulkan bunga melur yang terselit-selit di suara tuan puteri itu.
Nilai yang terdapat pada penggalan tersebut adalah ….
sosial
moral
budaya
agama
pendidikan
Berikut adalah cerita hikayat, yang melibatkan tokoh binatang adalah . . . . .
Hikayat Si Miskin serta Hikayat Sa-Ijaan dan Ikan Todak
Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak , serta Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Si Miskin
Hikayat Abu Nawas dan Hikayat Si Miskin
Hikayat Si Miskin dan Hikayat Hang Tuah
Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka.
Ada dua nilai yang terkandung dalam kutipan tersebut, yaitu nilai .…
sosial dan moral
agama dan moral
budaya dan sosial
edukasi dan sosial
edukasi dan moral
Maka, sesampainya di negeri Antah Berantah, sepasang suami istri miskin itu, sambil menahan perutnya yang dililit lapar, mereka mengais-ngais mencari sisa makanan di tempat sampah di halaman luar istana Maharaja Indra Dewa. Orang-orang yang melihat sepasang pengemis tua dengan pakaian compang-camping dan buruk rupa itu jadi ramai seketika. Mereka mengejek dan mentertawai tingkah laku kedua pengemis yang sedang mengais-ngais sampah mencari sisa makanan. Bahkan ada yang sampai hati melempari dengan batu dan ranting kayu.
Latar penggalan Hikayat di atas . . .
Negeri Antah Berantah
Dalam Istana raja
Luar Istana raja
Tempat sampah di dalam istana
Di tempat sampah di halaman luar istana
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar kabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu. Itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.
Amanat yang tersirat dalam kutipan hikayat tersebut adalah ....
tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
hendaklah menolong orang yang dalam kesulitan
lihatlah terlebih dahulu musuh yang akan dihadapi
bersyukurlah jika mendapat pertolongan dari seseorang
jangan terlalu emosi sehingga dapat mencelakai orang lain
Sebermula Raja Hindustan itu sediakala pekerjaanya pergi berburu juga. Maka pada satu hari Raja Hindustan itu sedang berburu, lalu bertemu dua ekor ular. Adapun ular yang betina itu terlalu baik rupanya, maka yang jantan sangat jahat rupanya. Maka hati pada hati Baginda, “Bukan juga jodohnya ular itu, karena yang jantan itu amat jahat rupanya dan yang betina itu elok rupanya.” Maka lalu dihununsnya pedangnya, lalu diparangnya kepada ular jantan itu. Maka ular jantan itu pun matilah. Maka ular betina itu pun putus ekornya sedikit.
Nilai budaya dalam kutipan tersebut yang masih dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah…
Lebih mempercayai ular
Menghukum yang berperilaku jahat
Berlaku kasar kepada orang yang tidak disukai
Melakukan perburuan di hutan tanpa mengenal batas
Marah melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangannya
Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya.
Bukti yang mendukung bahwa kutipan tersebut terkandung nilai moral adalah ….
Raja mencari hadiah untuk anak-anaknya
Membelikan tanda mata untuk anak-anaknya
seorang anak membuatkan teh untuk ayahnya
sebagai saudara harus saling terbuka dan empati
sesama keluarga tidak boleh saling iri dan bersaing
Maka pada suatu hari Hang Tuah duduk bersama-sama dengan sahabatnya keempat. Maka Hang Tuah “Hai saudaraku keempat, kita ini berlima bersaudara, dapatlah kita melayarkan sebuah perahu landing, boleh kita pergi merantau barang ke mana pun mencari makan?”Maka kata Hang Jebat dan Hang Kesturi, “Mengapatah maka tiada boleh kita kelima melayarkan sebuah perahu?”Maka sahut Hang Tuah, “Baiklah jika demikian, maka bapak beta ada sebuah landing lengkap dengan layarnya. Kita turun dengan beras bekal, sepuluh gantang seorang” (Hikayat Hang Tuah)
Isi kutipan hikayat tersebut adalah ..
Hang Tuah dan empat sahabatnya sepakat pergi merantau dengan perahu layar
Hang Tuah mengajak empat sahabatnya berlayar menggunakan perahu apa adanya
Hang Jebat dan Hang Kesturi melarang Hang Tuah pergi merantau karena tidak ada
bekal
Hang Jebat dan Hang Kesturi menolak diajak pergi merantau dengan menggunakan
perahu
Hang Tuah menyetujui keinginan Hang Jebat dan Hang Kesturi menggunakan perahu
tanpa layar
Maka, sesampainya di negeri Antah Berantah, sepasang suami istri miskin itu, sambil menahan perutnya yang dililit lapar, mereka mengais-ngais mencari sisa makanan di tempat sampah di halaman luar istana Maharaja Indra Dewa. Orang-orang yang melihat sepasang pengemis tua dengan pakaian compang-camping dan buruk rupa itu jadi ramai seketika. Mereka mengejek dan mentertawai tingkah laku kedua pengemis yang sedang mengais-ngais sampah mencari sisa makanan. Bahkan ada yang sampai hati melempari dengan batu dan ranting kayu.
Di bawah ini adalah amanat yang dapat diambil dari cerita di atas , kecuali . . .
Janganlah menghina orang yang miskin
Berilah pertolongan kepada orang yang membutuhkan
Semua orang miskin akan mengais-ngais makanan demi bisa makan
Kita harus menolong orang yang tidak mampu
Janganlah menyakiti orang lain
Maka, sesampainya di negeri Antah Berantah, sepasang suami istri miskin itu, sambil menahan perutnya yang dililit lapar, mereka mengais-ngais mencari sisa makanan di tempat sampah di halaman luar istana Maharaja Indra Dewa. Orang-orang yang melihat sepasang pengemis tua dengan pakaian compang-camping dan buruk rupa itu jadi ramai seketika. Mereka mengejek dan mentertawai tingkah laku kedua pengemis yang sedang mengais-ngais sampah mencari sisa makanan. Bahkan ada yang sampai hati melempari dengan batu dan ranting kayu.
Sudut pandang penggalan hikayat di atas adalah . .
Orang pertama tokoh utama
Orang kedua
Orang ketiga
Orang pertama tokoh sampingan
Orang ketiga serba tahu
Berikut ini yang bukan karakteristik dari hikayat adalah . . .
istana sentris
tokohnya sakti
anonim
Memakai bahasa baku
bersifat rekaan/khayalan
Simaklah penggalan Hikayat si Miskin berikut ini!
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya dangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan di kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggalah dua suami istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah -buahan.
Ciri-ciri / karakteristik hikayat yang menonjol pada penggalan di atas adalah . . .
memakai kata-kata arkais
tokohnya binatang
bersifat istana sentris
tokoh sakti
kemustahilan
Alur yang digunakan dalam hikayat adalah . . .
alur campuaran
alur sorot balik
alur mundur
alur rapat
alur maju.
Simaklah penggalan Hikayat si Miskin berikut ini!
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya dangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan di kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggalah dua suami istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah -buahan.
Amanat yang hendak disampaikan oleh pencerita pada penggalan hikayat di atas adalah, kecuali......
jangan suka merendahkan orang
Kita harus mengasihi dengna sesama
Curiga itu boleh jika diperlukan
Jangan memandang hina kepada orang yang tidak mampu
Janganlah membenci orang lain tanpa alasan yang jelas
Simaklah penggalan Hikayat si Miskin berikut ini!
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya dangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan di kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggalah dua suami istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah -buahan.
Nilai yang menonjol pada penggalan hikayat di atas adalah . . .
Nilai pendidikan
Nilai moral
nilai religius
nilai sosial
nilai budaya
Simaklah penggalan Hikayat si Miskin berikut ini!
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya dangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan di kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggalah dua suami istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah -buahan.
Banyaknya imbuhan di- dan kata depan pada penggalan hikayat di atas adalah . . .
4 imbuhan di- dan 5 kata depan
4 imbuhan di- dan 4 kata depan
3 imbuhan di- dan 4 kata depan
4 imbuhan di- dan 2 kata depan
3 imbuhan di- dan 3 kata depan
Berikut ini adalah contoh majas antonomasia , kecuali . . .
Kasihan si Miskin itu selalu dihina oleh orang
Kita harus segera menolong perempuan tua itu
Akhirnya tua bangka itu sadar juga dengan kesalahnnya
Aku tak menyadari kalau aku sudah tua
ku sangat muak melihat si kikir itu
Wajahmu pucat seperti mayat hidup.
Majas di atas adalah . . .
hiperbola
antonomasia
simile
personifikasi
metafora
Perhatikan majas berikut ini . . .
Angin malam sampaikan salam rinduku pada dia nan jauh di sana.
Berikut ini Majas yang sejenis dengan majas di atas , kecuali . . .
Pohon kelapa melambai-lambai di pinggir pantai
Angin menyambar wajahku
Nyanyian jangkrik memekakkan telingaku
Pluit kereta malam menjerit saat akan berangkat
Keringat dingin membanjiri tubuhku
Angin malam sampaikanlah salamku pada dia nan jauh di sana.
Majas di atas adalah . . . .
Simile
Metafora
Hiperbola
Personifikasi
Antonomasia
Bacalah dengan saksama penggalan cerpen berikut ini!
Di bawah terik matahari aku menyusuri jalan kampung yang tampak tak berpenghuni. Samar-samar nyanyian tonggeret terdengar di sampingku. Bagai melodi yang tak tertata, sekali lagi aku mendengarnya. Sesampai dalam " istana tuaku", terlihat seorang perempuan tua yang menyambutku dengan hangat, . . .
Sudut pandang cerpen di atas adalah . . .
orang ke-3 serba tahu
orang ke-3 tokoh utama
orang pertama tokoh utama
orang pertama tokoh sampingan
orang pertama serba tahu
Hikayat dan cerpen sama-sama merupakan teks narasi fiksi. Keduanya mempunyai unsur intrinsik yang sama yaitu…
Tema, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, alur, gaya bahasa dan imaji.
Tema, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, alur, amanat dan anekdot.
Tema, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar, gaya bahasa, dan alur.
Tema, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar, gaya bahasa, alur, dan diksi.
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum suaminya.
Konjungsi “ketika” dalam teks di atas menyatakan?
Urutan peristiwa
Urutan waktu
Hubungan peristiwa
Hubungan waktu
“Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!”
“Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian penelitian skripsi Mas….”
Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu itu.
“Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git”.
Termasuk ke dalam teks apakah kutipan di atas?
“Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!”
“Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian penelitian skripsi Mas….”
Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu itu.
“Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git”.
Di manakah latar tempat dalam kutipan teks tersebut?
“Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!”
“Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian penelitian skripsi Mas….”
Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu itu.
“Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git”.
Siapa sajakah tokoh yang ada dalam teks tersebut?
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah.
Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Dalam kutipan teks tersebut, termasuk ke dalam teks apakah?
Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di negeri antah berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah Si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki.
Dari teks tersebut, kapan terjadinya sebuah peristiwa?
Bacalah teks berikut!
Kira-kira seratus meter kakiku tersandung, lalu jatuh. Beberapa orang yang kebetulan ada di pinggir jalan mula-mula hanya menengokku. Namun, saat aku tak bisa bangun, mereka datang menolongku. Bagaikan salah seorang dari keluargaku, mereka mendudukkan aku.
Nialai moral yang terdapat pada teks tersebut adalah ....
Menghargai orang lain
Tolong-menolong
Teguh pendirian
Tidak peduli
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
(1) Usaha pembuatan pempek ikan tenggiri di keluarga Surya tetap berjalan meskipun hasilnya berkurang.
(2) Hal ini disebabkan oleh pasangnya air laut dan cuaca yang tidak menentu mengakibatkan nelayan kesulitan mencari ikan tenggiri.
(3) Surya hanya mampu membeli dari para nelayan yang mendapatkan ikan tenggiri.
(4) Tak jarang, ia juga ikut ayahnya melaut untuk mencari sendiri ikan tenggirinya demi kualitas pempek produksi keluarganya tersebut.
(5) Sekarang, Surya bekerja tanpa lelah dan tidak pernah mengeluh.
(6) Para tetangganya merasa kasihan padanya.
(7) Mereka merasa salut sekaligus tidak percaya ada anak seperti Surya.
Kalimat yang membuktikan Surya seorang yang pekerja keras adalah.
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(4) dan (5)
(5) dan (7)
