Font size
WorksheetsTeks Cerita Pendek
Total questions: 60
Worksheet time: 1hrs 20mins
Kegagalanku berakhir ketika aku diterima di jurusan sastra Jepang. Aku menekuni pendidikan tinggi di universitas dengan sepenuh hati. Adanya kendala finansial memotivasiku untuk mencari pekerjaan sambilan di samping kuliah.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padaku. Pada suatu hari, saudaraku, Mbak April, datang kepadaku. Dia berkata padaku, “Runa, aku mau membuat toko pakaian. Kebetulan di samping kantor lamaku ada kios kosong. Bagaimana kalau kita patungan dan menjual pakaian di sana?”
Ia datang dan mengajakku berpatungan untuk membuka sebuah usaha. Kemudian, kami mulai menjalani bisnis pakaian. Ternyata, usaha kami mendapatkan hasil yang gemilang.
Dalam kutipan cerpen tersebut, terdapat kata “sepenuh hati”. Kata tersebut memiliki makna …
Sabar
Semangat
Ikhlas
Bersungguh-sungguh
Kegagalanku berakhir ketika aku diterima di jurusan sastra Jepang. Aku menekuni pendidikan tinggi di universitas dengan sepenuh hati. Adanya kendala finansial memotivasiku untuk mencari pekerjaan sambilan di samping kuliah.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padaku. Pada suatu hari, saudaraku, Mbak April, datang kepadaku. Dia berkata padaku, “Runa, aku mau membuat toko pakaian. Kebetulan di samping kantor lamaku ada kios kosong. Bagaimana kalau kita patungan dan menjual pakaian di sana?”
Ia datang dan mengajakku berpatungan untuk membuka sebuah usaha. Kemudian, kami mulai menjalani bisnis pakaian. Ternyata, usaha kami mendapatkan hasil yang gemilang.
Tokoh “aku” yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Seorang pelajar
Runa
Penjual apakian
Mbak April
Pada pelajaran Bu Ratna, aku tidak dapat konsentrasi sama sekali. Oh Tuhan, aku menyesal. Mengapa aku lakukan perbuatan itu. Itu pun juga salahku karena tidak belajar sebelumnya. Aku terpaksa menyontek. Aku tidak ingin mendapatkan nilai di bawah 5.
Latar pada kutipan cerita pendek tersebut adalah ....
Di rumah
Ruang konseling
Ruang kelas
Di jalan
Baik Hati pun pergi ke sebidang tanah tandus itu sambal membawa bibit semangka dan kuda pincang yang menjadi bagiannya. Meski mendapat warisan yang kurang menguntungkan, Baik Hati tidak putus asa. Ia langsung menanami lahan tandus itu dengan bibit semangka.
Kuda pincang yang ia tambatkan di pohon membuang kotoran sembarangan. Akan tetapi, Baik Hati tidak marah. Ia malah mengumpulkan kotoran itu dan menjadikannya pupuk.
Sifat-sifat berikut yang tidak dimiliki oleh Baik Hati adalah ...
Sabar
Suka menolong
Kreatif
Rajin
aik Hati pun pergi ke sebidang tanah tandus itu sambal membawa bibit semangka dan kuda pincang yang menjadi bagiannya. Meski mendapat warisan yang kurang menguntungkan, Baik Hati tidak putus asa. Ia langsung menanami lahan tandus itu dengan bibit semangka.
Kuda pincang yang iya tambatkan di pohon membuang kotoran sembarangan. Akan tetapi, Baik Hati tidak marah. Ia malah mengumpulkan kotoran itu dan menjadikannya pupuk.
Pendeskripsian watak tokoh yang digunakan pengarang dalam kutipan tersebut adalah ...
Melalui pembicaraan dengan tokoh lain.
Melukiskan jalan pikiran tokoh.
Melukiskan keadaan sekitar pelaku.
Reaksi tokoh terhadap suatu kejadian.
(1) Sejurus lamanya timbul pikiran dan berkata ia dalam hati, “Baiklah kemalangan ini kuserahkan saja kepada-Nya.
(2) Budi menyapu air mata adiknya sambal berkata, “Diamlah, Gus, jangan menangis. Ini aku bawakan nasi bungkus.”
(3) Agus menerima bungkusan, lalu makanlah ia dalam gelap gulita itu.
(4) Budi pun termenung dalam kegelapan malam.
Watak tokoh Budi pada kutipan cerita pendek tersebut adalah ...
Penyayang
Pemalu
Pemarah
Pembohong
1) Orang-orang masih duduk berkumpul di teras masjid. 2) Seorang takmir yang juga ikut nimbrung dengn pujian penuh kebahagiaan bercerita tentang sedekah Pak Aris. 3) Pada mulanya Pak Aris memang pelit. 4) Namun, kini ia ingin berkurban pada Hari Raya Kurban. 5) Hanya Pak Aris satu-satunya warga yang memberikan sapinya. 6) Selain itu, hewan yang dikurbankan kadang hanya tiga ekor kambing. 7) Ada yang urunan. 8) Tetapi, Kurnia selalu rutin memberikan kambing ternaknya untuk kurban pada hari raya.
Watak tokoh Pak Aris digambarkan melalui .....
Diceritakan tokoh lain
Dialog dengan tokoh lain
Pelukisan tindakan
Penjelasan langsung oleh penulis
Nalea tersenyum. Sebenarnya, lelaki itu sudah lama ingin bercerita, bahwa ia bukan ayahnya. Dahulu, ketika sedang memulung barang bekas, ia melihat seorang wanita turun dari mobil, meletakkan kardus di bawah sudut jembatan layang, kemudian kembali ke mobil dan pergi. Ketika didekati, didapatinya di dalam kardus itu seorang bayi. Saat itulah, lelaki itu merasa iba, lalu merawatnya. Ia memberi Nalea, nama yang ditemukannya dalam sebuah cerita pendek di koran lama. Nalea ditemukan dalam tumpukan sampah, terkadang lelaki itu heran bagaimana bayi itu bisa bertahan hidup.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah .....
Menolong dengan ikhlas orang yang membutuhkan
Menolong dengan ikhlas makhluk yang lemah
Mengorbankan hidup untuk sesamanya
Mengorbankan hidup untuk orang tua
Aku bersyukur kepada Tuhan karena dia telah berubah. Aku pun memaafkannya, meskipun sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi. Aku berharap suatu hari nanti kami akan menjalin persahabatan lagi.
Penggalan cerpen tersebut merupakan bagian ....
Orientasi
Resolusi
Komplikasi
Koda
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Pernyataan yang sesuai dengan teks cerpen di atas adalah …
Banun menobatkan diri sebagai orang kikir
Banun tidak pernah tahu rekor kikir itu
Predikat Banun Kikir didasari kedengkian
Banun tidaklah kikir tetapi hemat
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Kakek tua
Lelaki Muda
Nenek tua
“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Anisa dan Handoko tidak jadi menikah.
Mama yang berpikiran picik terhadap Handoko.
Anisa dilarang menikah oleh Mama dan kakaknya.
Keinginan Mama agar Anisa hidup bahagia.
1) Bagas mendengkur keras
2) Dia duduk di kursi dekat jendela kamarnya selama hampir empat jam menatap ke luar jalan yang gelap dan akhirnya tertidur.
3) Kaca matanya miring dan mulutnya terbuka lebar
4) Wajahnya berkilau kena cahaya jingga lampu jalan di luar
Latar tempat dan waktu pada teks tersebut adalah..
Kamar dan senja hari
Kamar dan malam hari
Jalan raya dan malam hari
Rumah dan malam hari
Aku segera mengambil sendokku dan mulai makan, hanya untuk menunjukkan pada Emma bahwa aku tidak peduli dengan apa yang telah diketahuinya. Ia menatapku penuh selidik. “Lalu apa katamu tentang itu?”, tanyaku. “Aku memberitahumu bahwa di sini bisa berbeda. Kukatakan bahwa pilihanmu adalah menjadi berbeda di dunia yang berbeda. Aku mengatakan agar kau terbiasa, jangan takut lagi…. Selama ini kau selalu berlebihan. Dan, ketakutan tanpa alasan”. Emma menjelaskan.
Watak aku pada kutipan tersebut adalah..
Penakut
Penakut
Percaya diri
Tidak peduli
Menjelang hari raya ini, aku terbaring di rumah sakit. Dari jendela kamar rumah sakit yang kudiami, aku bisa melihat keluar dengan jelas. Hujan menderas, manusia-manusia menepi pada kesunyian, lagu hujan, lagu keleneng becak. Di ruangan ini, aku cuma berdua. Selisih satu ranjang, terbaring seorang perempuan tua.
Unsur cerita yang dominan di dalam cuplikan cerita tersebut adalah..
Amanat
Alur
Latar
Penokohan
Sang raja siang bersinar panas sehingga memberikan kehangatan.
Kalimat tersebut merupakan majas....
Metafora
Simile
Pleonasme
Litotes
Dua hal yang berbeda dibandingkan dan memiliki kata "seperti", "bagaikan", "layaknya. Merupakan pengertian dari majas.....
Metafora
Simile
Pleonasme
Hiperbola
Majas yang mengecilkan kenyataan dengan maksud merendah adalah majas....
Metafora
Antitesis
Litotes
Ironi
Murid kelas ini rajin semua, tidak ada yang mengumpulkan PR nya sama sekali. Kalimat tersebut merupakan contoh majas...
Sarkasme
Sindiran
Sarkasme
Ironi
Aku sudah tak marah kata Cinta. Penulisan kalimat langsung yang benar adalah, kecuali...
"Aku sudah tak marah," kata Cinta
Kata Cinta, "Aku sudah tak marah."
"Aku sudah tak marah", kata Cinta
"Aku," kata Cinta, "sudah tak marah."
Pada teks cerpen, pembaca dapat mengetahu karakter atau watak pelaku cerita dalam ...
Komplikasi
Abstrak
Orientasi
Evaluasi
Resolusi pada teks cerpen adalah tahapan di mana ...
Pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
Berbagai kerumitan bermunculan
Konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
Konflik mencapai sebuah selesaian atau leraian
Dalam teks cerpen, struktur yang bersifat opsional adalah ...
Abstrak dan evaluasi
Abstrak dan orientasi
Koda dan resolusi
Koda dan abstrak
Struktur teks cerpen adalah . . . .
Orientasi - insiden - interpretasi
Orientasi - komplikasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - evaluasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - resolusi - interpretasi
Ringkasan atau inti cerita pada cerpen terletak pada ...
Abstrak
Orientasi
Deskripsi umum
Evaluasi
Nilai-nilai atau pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca dari sebuah teks cerpen terdapat dalam struktur ...
Abstrak
Evaluasi
Resolusi
Koda
Perpaduan antara unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita disebut dengan ...
Alur
Latar
Tokoh
Sudut pandang
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Sosial
Politik
Pendidikan
Agama
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Menakutkan
Mengenaskan
Mengharukan
Menegangkan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Sudut pandang dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Orang pertama tunggal
Orang ketiga tunggal
Orang ketiga jamak
Campuran
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mudah pasrah
Mudah mengalah
Mudah menangis
Mudah menyerah
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Hubungan antarunsur intrinsik dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Latar tempat berkaitan dengan konflik
Latar sosial berkaitan dengan konflik
Tema berkaitan dengan watak tokoh
Tema berkaitan dengan latar suasana
Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di bawah pohon rindang.
di perkampungan.
di hutan rimba.
di jalan pedasaan.
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
sore hari, terminal
siang hari, perjalanan
siang hari, terminal
pagi hari, perjalanan
“kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..
sebagai manusia harus saling tolong-menolong
seorang pendidik harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup
Guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya
guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik
Pengarang menuturkan cerita dirinya sendiri, dengan pelaku aku/orang pertama tunggal/jamak, berarti kedudukan pengarang dalam cerpen tersebut sebagai...
tokoh bawahan
tokoh pengamat
campuran
tokoh utama
Bentuk alur sorot balik digunakan apabila pengarang bermaksud....
membayangkan cerita mendatang
menerangkan peristiwa masa lalu dengan ragaan
mengemukakan khayalan-khayalan
menerangkan cerita yang sedang terjadi
Pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita dan tidak terlibat dalam cerita, dengan menggunakan pelaku utama ia/dia. Kedudukan pengarang dalam cerita tersebut sebagai....
tokoh figuran
tokoh utama
pengamat
tokoh protagonist
Dalam cerpen tokoh-tokohnya dilukiskan mengalami konfliks sampai pada....
Penyelesaian
meninggal
klimaks
perumitan
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah ....
kalimat pertama pada paragraf pertama
Kalimat ketiga pada paragraf kedua.
Kalimat keempat pada paragraf kedua
Kalimat terakhir paragraf pertama.
Nama lain tema adalah...
Plot
Alut
Topik
Sudut pandang
Unsur pembangun cerpen adalah...
Instrinsik
Ekstrinsik
Amanat
Instrinsik dan eksyrinsik
Nilai moral yang terdapat dalam cerita tersebut adalah ....
Beni segera meminta pertolongan untuk mengobati Heru.
Heru mengakui bahwa dirinya tidak melakukan pemanasan.
Heru meminta maaf kepada pemain tim A karena dia cedera.
Beni tidak mengacuhkan Heru, meskipun ia tahu Heru terkilir.
Apa perbedaan cerpen dan novel?
Cerpen memiliki unsur intrinsik sedangkan novel tidak
Cerpen dan novel mempunyai tokoh utama
Cerpen menceritakan konflik tokoh yang terbatas sedangkan novel menceritakan tokoh yang lebih kompleks
Cerpen tidak bisa habis dibaca dalam sekali duduk. Sedangkan novel bisa dibaca dalam sekali duduk
Di bawah ini yang bukan bagian dari unsur intrinsik cerpen adalah....
Tokoh
Latar
Alur dan Plot
Rima dan irama
Penggambaran watak tokoh dalam cerita pendek tidak dapat dilakukan melalui....
Dialog tokoh
Dialog tokoh lain
Penggambaran fisik tokoh
Komentar pembaca
Tokoh yang mengalami perubahan karakter atau watak dalam sebuah cerita disebut....
Tokoh statis
Tokoh dinamis
Tokoh protagonis
Tokoh antagonis
Kegiatan yang tidak perlu kamu lakukan sebelum membaca sebuah cerita adalah...
Menelusuri latar belakang kehidupan penulis
Menelusuri latar budaya penulis
Menelusuri karya-karya lain dari penulis dan ulasan karya penulis
Menelusuri kehidupan masa depan penulis
Berikut ini yang tidak termasuk dalam sudut pandang yang digunakan penulis dalam sebuah cerita pendek adalah....
Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang ke tiga
Sudut pandang orang pertama pelaku utama
Sudut pandang orang ke empat
Bacalah kutipan cerita berikut!
“Kenapa kamu kesal? Kenapa harus marah?” tanya Ratih. “Mendoakan orang yang sakit kan bagus.”
“Bukan cuma bagus, tapi harus. Masalahnya, apakah yang mereka ucapkan itu benar-benar mereka jalani? Apa pernah kegiatan berdoa untuk kesembuhan bu Siska itu benar-benar mereka lakukan, entah itu di rumah, di masjid, di gereja, di wihara atau di mana pun mereka berada? Atau mereka sekadar mengetikkan kata-kata di keyboard smartphone dan memencet tombol send untuk menyenang-nyenangkan bu Siska? Aku yakin yang mereka lakukan basa-basi belaka!!!”
“Jangan suka curiga….”
“Mereka sendiri yang bicara.”
(Basa-Basi, Jujur Prananto)
Watak tokoh Aku dalam kutipan cerita tersebut digambarkan penulis melalui ….
perbuatan tokoh
cakapan/dialog tokoh
penamaan tokoh
pandangan/dialog tokoh tertentu terhadap tokoh lain
penamaan tokoh
1. Jenis karya sastra berbentuk prosa dan bersifat fiktif yang menceritakan suatu kisah yang di alami suatu tokoh secara ringkas disertai berbagai konflik dan terdapat penyelesaian dari masalah yang dihadapi.
cerpen
syair
pantun
biografi
6. Pesan moral yang disisipkan pengarang dalam cerpen
pepatah
petuah
amanat
syair
Berikut yang bukan termasuk unsur intrinsik cerpen adalah ....
Alur
Latar
Tema
Judul
Berikut ini adalah karakteristik cerpen, kecuali....
mempunyai satu alur
memusatkan pada satu tokoh
terdiri atas maksimal 5.000 kata
permasalahannya berkisar pada kehidupan sehari-hari
Unsur intrinsik cerpen yang membahas watak atau karakteristik tokoh disebut....
tema
alur
tokoh
penokohan
Salah satu hal yang membedakan cerpen dan puisi adalah.…
adanya alur
adanya tema
adanya amanat
adanya imajinasi
Bentuk alur sorot balik digunakan apabila pengarang bermaksud....
membayangkan cerita mendatang
menerangkan peristiwa masa lalu dengan ragaan
mengemukakan khayalan-khayalan
menerangkan cerita yang sedang terjadi
Fungsi cerpen yang memberikan nilai moral sehingga pembaca mengerti moral yang baik dan tidak baik untuk dirinya. fungsi tersebut merupakan salah satu fungsi cerpen yaitu menempati fungsi ...
estetis
moralitas
rekreatif
religiusitas
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… Tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang san aitu, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
