wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Farmakologi dan Farmakoterapi Antibiotik

Total questions: 10

Worksheet time: 5mins

Name
Class
Date
1.
  1. 1. Farmakologi adalah cabang ilmu kedokteran dan biologi yang mempelajari interaksi antara obat (zat kimia) dengan tubuh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Ilmu ini mencakup berbagai aspek penting seperti:

a)

Farmakokinetik , yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh,

termasuk mekanisme kerja dan efek yang ditimbulkan.

Farmakodinamik, yaitu bagaimana tubuh memproses obat melalui proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME).

●     Selain itu, farmakologi juga mencakup studi tentang efek terapeutik (yang diinginkan) maupun efek toksik (yang merugikan) dari obat.


b)

Farmakodinamik, yaitu bagaimana tubuh memproses obat

termasuk mekanisme kerja dan efek yang ditimbulkan.

Farmakokinetik, yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh,melalui proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME).

●     Selain itu, farmakologi juga mencakup studi tentang efek terapeutik (yang diinginkan) maupun efek toksik (yang merugikan) dari obat.


c)

Farmakodinamik, yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh,

termasuk mekanisme kerja dan efek yang ditimbulkan.

Farmakokinetik, yaitu bagaimana tubuh memproses obat melalui proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME).

●     Selain itu, farmakologi juga mencakup studi tentang efek terapeutik (yang diinginkan) maupun efek toksik (yang merugikan) dari obat.


d)

Farmakoterapi, yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh,

termasuk mekanisme kerja dan efek yang ditimbulkan.

Farmakokinetik, yaitu bagaimana tubuh memproses obat melalui proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME).

●     Selain itu, farmakologi juga mencakup studi tentang efek terapeutik (yang diinginkan) maupun efek toksik (yang merugikan) dari obat.


e)

Farmakoterapi, yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh,

termasuk mekanisme kerja dan efek yang ditimbulkan.

Farmakokinetik, yaitu bagaimana obat bekerja di dalam tubuh dan bagaimana tubuh memproses obat melalui proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi (ADME).

●     Selain itu, farmakologi juga mencakup studi tentang efek terapeutik (yang diinginkan) maupun efek toksik (yang merugikan) dari obat.


2.
  1. 2. Berdasarkan Mekanisme Kerja antibiotik dibagi sbb :

a)
  • - Antibiotik yang membuat sintesis dinding sel bakteri (misalnya: penisilin, sefalosporin).

- Antibiotik yang menghambat sintesis protein bakteri (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

- Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat bakteri (misalnya: kuinolon).

b)
  • - Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri (misalnya: penisilin, sefalosporin).

- Antibiotik yang membuat sintesis protein bakteri (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

- Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat bakteri (misalnya: kuinolon).

c)

-Antibiotik yang menghambat dinding sel bakteri (misalnya: penisilin, sefalosporin).

- Antibiotik yang menghambat protein bakteri (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

- Antibiotik yang menghambat asam nukleat bakteri (misalnya: kuinolon).

d)
  • -Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri (misalnya: penisilin, sefalosporin).

- Antibiotik yang menghambat sintesis protein bakteri (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

- Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat bakteri (misalnya: kuinolon).

e)

-Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel Mikroba (misalnya: penisilin, sefalosporin).

- Antibiotik yang menghambat sintesis protein Mikroba (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

- Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat Mikroba (misalnya: kuinolon).

3.
  1. 3. Resistensi Antibiotik

    Bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, membuat terapi tidak efektif.

    Penyebab:

a)
  1.  • Penggunaan antibiotik indikasi jelas.

     • Pengobatan tidak tuntas.

     • Paparan antibiotik yang berlebihan

b)
  1.  • Penggunaan antibiotik tanpa indikasi jelas.

     • Pengobatan tuntas.

     • Paparan antibiotik yang berlebihan

c)
  1.  • Penggunaan antibiotik tanpa indikasi jelas.

     • Pengobatan tuntas.

     • Paparan antibiotik yang berkecukupan

d)
  1.  • Penggunaan antibiotik tanpa indikasi jelas.

     • Pengobatan tidak tuntas.

     • Paparan antibiotik yang berlebihan

e)
  1.  • Penggunaan antibiotik indikasi jelas.

     • Pengobatan tuntas.

     • Paparan antibiotik yang berlebihan

4.
  1. 4. Kasus klinis  Ciprofloxacin + Warfarin (Obat Pengencer Darah) sbb :

a)

Pada kasus pasien minum warfarin karena penggumpalan darah, lalu terkena infeksi dan diberi ciprofloxacin. Ciprofloxacin menghambat metabolisme warfarin di hati, sehingga Ciprofloxacin membuat warfarin jadi lebih kuat sehingga darah terlalu encer menyebabkan mudah berdarah (misalnya mimisan, gusi berdarah, darah di urin/feses).

b)

Pada kasus pasien minum warfarin karena pengenceran darah, lalu terkena infeksi dan diberi ciprofloxacin. Ciprofloxacin menghambat metabolisme warfarin di hati, sehingga Ciprofloxacin membuat warfarin jadi lebih kuat sehingga darah terlalu encer menyebabkan mudah berdarah (misalnya mimisan, gusi berdarah, darah di urin/feses).

c)

Pada kasus pasien minum warfarin karena penggumpalan darah, lalu terkena infeksi dan diberi ciprofloxacin. Ciprofloxacin menghambat metabolisme warfarin di hati, sehingga Ciprofloxacin membuat warfarin jadi lebih kuat sehingga darah terlalu encer menyebabkan susah berdarah (misalnya mimisan, gusi berdarah, darah di urin/feses).

d)

Pada kasus pasien minum warfarin karena penggumpalan darah, lalu terkena infeksi dan diberi ciprofloxacin. Ciprofloxacin menghambat metabolisme warfarin di hati, sehingga Ciprofloxacin membuat warfarin jadi lebih lemah sehingga darah terlalu encer menyebabkan mudah berdarah (misalnya mimisan, gusi berdarah, darah di urin/feses).

e)

Pada kasus pasien minum warfarin karena penggumpalan darah, lalu terkena infeksi dan diberi ciprofloxacin. Ciprofloxacin memperlancar metabolisme warfarin di hati, sehingga Ciprofloxacin membuat warfarin jadi lebih kuat sehingga darah terlalu encer menyebabkan mudah berdarah (misalnya mimisan, gusi berdarah, darah di urin/feses).

5.
  1. 5. Penggunaan Antibiotik yang Tepat sebagai berikut :

a)

1. Harus dengan resep dokter

 2. Hindari untuk infeksi virus.

 3. Habiskan sesuai durasi.

 4. Gunakan antibiotik sesuai dosis dan interval waktu yang tepat.

 5. Berdasarkan uji reabilitas (jika memungkinkan)

b)

1. Harus dengan resep dokter

 2. Hindari untuk infeksi virus.

 3. Habiskan sesuai durasi.

 4. Gunakan antibiotik sesuai dosis yang tepat.

 5. Berdasarkan uji sensitivitas (jika memungkinkan)

c)

1. Harus dengan resep dokter

 2. Hindari untuk infeksi virus.

 3. Habiskan sesuai gejala penyakit.

 4. Gunakan antibiotik sesuai dosis dan interval waktu yang tepat.

 5. Berdasarkan uji sensitivitas (jika memungkinkan)

d)

1. Harus dengan resep dokter

 2. Hindari untuk infeksi virus.

 3. Habiskan sesuai durasi.

 4. Gunakan antibiotik sesuai dosis dan interval waktu yang tepat.

 5. Berdasarkan uji sensitivitas (jika memungkinkan)

e)

1. Harus dengan rekam medis

 2. Hindari untuk infeksi virus.

 3. Habiskan sesuai durasi.

 4. Gunakan antibiotik sesuai dosis dan interval waktu yang tepat.

 5. Berdasarkan uji sensitivitas (jika memungkinkan)

6.
  1. 6. Perbedaan efek terapetik

    Bakterisidal dan  Bakteriostatik sbb :

a)

. Bakterisidal

antibiotik yang membunuh bakteri secara langsung.

Contoh:

 • Penicillin → Menghambat sintesis dinding sel → lisis sel.

Makrolida → Menghambat sintesis protein dengan mekanisme serupa.

 Aminoglikosida → Menghambat sintesis protein → kematian bakteri.

b. Bakteriostatik

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri, memberi waktu bagi sistem imun untuk mengeliminasi patogen.

Contoh:

 Tetrasiklin → Mengikat ribosom → menghambat sintesis protein.

 

b)

. Bakterisidal

antibiotik yang membunuh bakteri secara langsung.

Contoh:

 • Penicillin → Menghambat sintesis dinding sel → lisis sel.

 Aminoglikosida → Menghambat sintesis protein → kematian bakteri.

b. Bakteriostatik

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri, memberi waktu bagi sistem imun untuk mengeliminasi patogen.

Contoh:

 Tetrasiklin → Mengikat ribosom → menghambat sintesis protein.

 Makrolida → Menghambat sintesis protein dengan mekanisme serupa.

c)

. Bakterisidal

antibiotik yang membunuh bakteri secara langsung dan memberi waktu bagi sistem imun untuk mengeliminasi patogen.

Contoh:

 • Penicillin → Menghambat sintesis dinding sel → lisis sel.

 Aminoglikosida → Menghambat sintesis protein → kematian bakteri.

b. Bakteriostatik

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri

Contoh:

 Tetrasiklin → Mengikat ribosom → menghambat sintesis protein.

 Makrolida → Menghambat sintesis protein dengan mekanisme serupa.

d)

. Bakterisidal

antibiotik yang replikasi bakteri dan membunuh bakteri secara langsung.

Contoh:

 • Penicillin → Menghambat sintesis dinding sel → lisis sel.

 Aminoglikosida → Menghambat sintesis protein → kematian bakteri.

b. Bakteriostatik

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan memberi waktu bagi sistem imun untuk mengeliminasi patogen.

Contoh:

 Tetrasiklin → Mengikat ribosom → menghambat sintesis protein.

 Makrolida → Menghambat sintesis protein dengan mekanisme serupa.

e)

. Bakterisidal

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri secara langsung.

Contoh:

 • Penicillin → Menghambat sintesis dinding sel → lisis sel.

 Aminoglikosida → Menghambat sintesis protein → kematian bakteri.

b. Bakteriostatik

antibiotik yang menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri, memberi waktu bagi sistem imun untuk mengeliminasi patogen.

Contoh:

 Tetrasiklin → Mengikat ribosom → menghambat sintesis protein.

 Makrolida → Menghambat sintesis protein dengan mekanisme serupa.

7.
  1. 7. Antibiotika memberi Efek Samping (Negatif) berupa :

a)
    1. a. Reaksi Imun dan Non Alergi

      beberapa antibiotik dapat memicu reaksi hipersensitivitas:

       • Ringan: Gatal, ruam.

       • Berat: Anafilaksis.

      Contoh: Penicillin, Sulfonamid.

      b. Gangguan Flora Normal & Superinfeksi

       • Gangguan Flora Normal: Antibiotik spektrum luas dapat mengganggu mikrobiota tubuh.

      Akibat:

       • Kandidiasis

       • Disbiosis usus (diare, kembung)

       • Superinfeksi: Pertumbuhan patogen oportunistik akibat hilangnya flora normal.

      Contoh: Clostridium difficile → diare berat

b)
  1. a. Reaksi Imun dan Alergi

    beberapa antibiotik dapat memicu reaksi hipersensitivitas:

     • Ringan: Gatal, ruam.

     • Berat: Anafilaksis.

    Contoh: Clostridium difficile → diare berat

    b. Gangguan Flora Normal & Superinfeksi

     • Gangguan Flora Normal: Antibiotik spektrum luas dapat mengganggu mikrobiota tubuh.

    Akibat:

     • Kandidiasis

     • Disbiosis usus (diare, kembung)

     • Superinfeksi: Pertumbuhan patogen oportunistik akibat hilangnya flora normal.

    Contoh: Penicillin, Sulfonamid.

c)
  1. a. Reaksi Imun dan Alergi

    beberapa antibiotik dapat memicu reaksi hipersensitivitas:

     • Ringan: Gatal, ruam.

     • Berat: Anafilaksis.

    Contoh: Penicillin, Sulfonamid.

    b. Gangguan Flora Normal & Superinfeksi

     • Gangguan Flora Normal: Antibiotik spektrum Sempit dapat mengganggu mikrobiota tubuh.

    Akibat:

     • Kandidiasis

     • Disbiosis usus (diare, kembung)

     • Superinfeksi: Pertumbuhan patogen oportunistik akibat hilangnya flora normal.

    Contoh: Clostridium difficile → diare berat

d)
  1. a. Reaksi Imun dan Alergi

    beberapa antibiotik dapat memicu reaksi hipersensitivitas:

     • Ringan: Gatal, ruam.

     • Berat: Anafilaksis.

    Contoh: Penicillin, Sulfonamid.

    b. Gangguan Flora Normal & Superinfeksi

     • Gangguan Flora Normal: Antibiotik spektrum luas dapat mengganggu mikrobiota tubuh.

    Akibat:

     • Kandidiasis

     • Disbiosis usus (diare, kembung)

     • Superinfeksi: Pertumbuhan Non patogen oportunistik akibat hilangnya flora normal.

    Contoh: Clostridium difficile → diare berat

e)
  1. a. Reaksi Imun dan Alergi

    beberapa antibiotik dapat memicu reaksi hipersensitivitas:

     • Ringan: Gatal, ruam.

     • Berat: Anafilaksis.

    Contoh: Penicillin, Sulfonamid.

    b. Gangguan Flora Normal & Superinfeksi

     • Gangguan Flora Normal: Antibiotik spektrum luas dapat mengganggu mikrobiota tubuh.

    Akibat:

     • Kandidiasis

     • Disbiosis usus (diare, kembung)

     • Superinfeksi: Pertumbuhan patogen oportunistik akibat hilangnya flora normal.

    Contoh: Clostridium difficile → diare berat

8.
  1. 8. Antibiotik dengan target kerja menghambat sintesis protein Sbb :

a)
  1. •Aminoglikosida : Mengikat ribosom subunit 30S, menyebabkan kesalahan dalam pembacaan mRNA.

    •Makrolida & Ketolida : Mengikat subunit 50S ribosom, mengikat keluarnya rantai polipeptida.

    •Tetrasiklin & Glisilsiklin : Mengikat subunit 30S, mencegah pengikatan tRNA.

    •Kloramfenikol & Klindamisin : Mengikat subunit 50S, menghambat transfer asam amino.

    •Streptogramin, Linezolid, Nitrofurantoin : Mengganggu berbagai tahap sintesis protein bakteri, dengan target utama ribosom.

b)
  1. •Aminoglikosida : Mengikat ribosom subunit 30S, menyebabkan kesalahan dalam pembacaan mRNA.

    •Makrolida & Ketolida : Mengikat subunit 50S ribosom, menghambat keluarnya rantai polipeptida.

    •Tetrasiklin & Glisilsiklin : Mengikat subunit 30S, mencegah pengikatan tRNA.

    •Kloramfenikol & Klindamisin : Melepaskan subunit 50S, menghambat transfer asam amino.

    •Streptogramin, Linezolid, Nitrofurantoin : Mengganggu berbagai tahap sintesis protein bakteri, dengan target utama ribosom.

c)
  1. •Aminoglikogen : Mengikat ribosom subunit 30S, menyebabkan kesalahan dalam pembacaan mRNA.

    •Makrolida & Ketolida : Mengikat subunit 50S ribosom, menghambat keluarnya rantai polipeptida.

    •Tetrasiklin & Glisilsiklin : Mengikat subunit 30S, mencegah pengikatan tRNA.

    •Kloramfenikol & Klindamisin : Mengikat subunit 50S, menghambat transfer asam amino.

    •Streptogramin, Linezolid, Nitrofurantoin : Mengganggu berbagai tahap sintesis protein bakteri, dengan target utama ribosom.

d)
  1. •Aminoglikosida : Mengikat ribosom subunit 30S, menyebabkan kesalahan dalam pembacaan mRNA.

    •Makrolida & Ketolida : Mengikat subunit 50S ribosom, menghambat keluarnya rantai polipeptida.

    •Tetrasiklin & Glisilsiklin : Mengikat subunit 30S, mencegah pengikatan tRNA.

    •Kloramfenikol & Klindamisin : Mengikat subunit 50S, menghambat transfer asam amino.

    •Streptogramin, Linezolid, Nitrofurantoin : Mengganggu berbagai tahap sintesis protein bakteri, dengan target utama ribosom.

e)
  1. •Aminoglikosida : Mengikat ribosom subunit 30S, menyebabkan kesalahan dalam pembacaan mRNA.

    •Makrolida & Ketolida : Mengikat subunit 50S ribosom, menghambat keluarnya rantai polipeptida.

    •Tetrasiklin & Glisilsiklin : Mengikat subunit 50S, mencegah pengikatan tRNA.

    •Kloramfenikol & Klindamisin : Mengikat subunit 30S, menghambat transfer asam amino.

    •Streptogramin, Linezolid, Nitrofurantoin : Mengganggu berbagai tahap sintesis protein bakteri, dengan target utama ribosom.

9.
  1. 9.  Antibiotika Berdasarkan Spektrum Aktivitas dan Berdasarkan Cara Kerja dibagi sbb :

a)
  1. 1. Berdasarkan Spektrum Aktivitas

    - Antibiotik spektrum luas (misalnya: tetrasiklin, penisilin G).

    - Antibiotik spektrum sempit (misalnya: Kuinolon , vankomisin).

    3. Berdasarkan Cara Kerja

    - Antibiotik bakterisidal (misalnya: penisilin, kuinolon).

    - Antibiotik bakteriostatik (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

b)
  1. 1. Berdasarkan Spektrum Aktivitas

    - Antibiotik spektrum luas (misalnya: tetrasiklin, kuinolon).

    - Antibiotik spektrum sempit (misalnya: penisilin G, vankomisin).

    3. Berdasarkan Cara Kerja

    - Antibiotik bakterisidal (misalnya: tetrasiklin, kuinolon).

    - Antibiotik bakteriostatik (misalnya: penisilin , makrolid).

c)
  1. 1. Berdasarkan Spektrum Aktivitas

    - Antibiotik spektrum luas (misalnya: tetrasiklin, kuinolon).

    - Antibiotik spektrum sempit (misalnya: penisilin G, vankomisin).

    3. Berdasarkan Cara Kerja

    - Antibiotik bakterisidal (misalnya: penisilin, kuinolon).

    - Antibiotik bakteriostatik (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

d)
  1. 1. Berdasarkan Spektrum Aktivitas

    - Antibiotik spektrum luas (misalnya: tetrasiklin, kuinolon).

    - Antibiotik spektrum sempit (misalnya: penisilin G, vankomisin).

    3. Berdasarkan Cara Kerja

    - Antibiotik bakteridinamis (misalnya: penisilin, kuinolon).

    - Antibiotik bakteriostatik (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

e)
  1. 1. Berdasarkan Spektrum Aktivitas

    - Antibiotik spektrum luas (misalnya: tetrasiklin, kuinolon).

    - Antibiotik spektrum pendek (misalnya: penisilin G, vankomisin).

    3. Berdasarkan Cara Kerja

    - Antibiotik bakterisidal (misalnya: penisilin, kuinolon).

    - Antibiotik bakteriostatik (misalnya: tetrasiklin, makrolid).

10.
  1. 10. Hal terkait antibiotik sbb :

a)

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala bakteri. Awalnya, antibiotik berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti jamur (contohnya penisilin dari Penicillium notatum). Namun saat ini, banyak antibiotik yang sudah diproduksi secara sintetis atau semi-sintetis di laboratorium.).

b)

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Awalnya, antibiotik berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti jamur (contohnya penisilin dari Penicillium notatum). Namun saat ini, banyak antibiotik yang sudah diproduksi secara sintetis atau semi-sintetis di laboratorium.).

c)

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Awalnya, antibiotik berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan seperti jamur (contohnya penisilin dari Penicillium notatum). Namun saat ini, banyak antibiotik yang sudah diproduksi secara sintetis atau semi-sintetis di laboratorium.).

d)

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Awalnya, antibiotik berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti jamur (contohnya penisilin dari Amoxisilin notatum). Namun saat ini, banyak antibiotik yang sudah diproduksi secara sintetis atau semi-sintetis di laboratorium.).

e)

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Awalnya, antibiotik berasal dari senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti Bakteri (contohnya penisilin dari Penicillium notatum). Namun saat ini, banyak antibiotik yang sudah diproduksi secara sintetis atau semi-sintetis di laboratorium.).