WorksheetsUAS BAHSA INDONESIA KELAS X
Total questions: 26
Worksheet time: 48mins
Liburan semester lalu, aku dan keluargaku pergi ke desa nenek di kaki Gunung Salak. Kami menempuh perjalanan panjang dari kota dan tiba saat sore menjelang. Udara yang sejuk dan suasana tenang langsung membuat kami merasa nyaman. Keesokan harinya, aku ikut kakek ke kebun dan belajar menanam sayuran. Aku juga membantu nenek memasak menggunakan tungku kayu. Hari-hari di desa terasa menyenangkan: aku bermain di sungai, memetik buah, dan mengenal anak-anak desa yang ramah. Ketika waktunya pulang tiba, aku merasa berat meninggalkan suasana damai itu. Aku menyadari bahwa hal-hal sederhana bisa memberikan kebahagiaan yang mendalam. Bagian yang menunjukkan penutup atau kesan pribadi penulis dalam teks adalah…
Liburan semester lalu, aku dan keluargaku pergi ke desa nenek di kaki Gunung Salak. Kami menempuh perjalanan panjang dari kota dan tiba saat sore menjelang. Udara yang sejuk dan suasana tenang langsung membuat kami merasa nyaman. Keesokan harinya, aku ikut kakek ke kebun dan belajar menanam sayuran. Aku juga membantu nenek memasak menggunakan tungku kayu. Hari-hari di desa terasa menyenangkan: aku bermain di sungai, memetik buah, dan mengenal anak-anak desa yang ramah. Ketika waktunya pulang tiba, aku merasa berat meninggalkan suasana damai itu. Aku menyadari bahwa hal-hal sederhana bisa memberikan kebahagiaan yang mendalam. Manakah yang merupakan bagian dari urutan kejadian dalam teks?
Liburan semester lalu, aku dan keluargaku pergi ke desa nenek di kaki Gunung Salak. Kami menempuh perjalanan panjang dari kota dan tiba saat sore menjelang. Udara yang sejuk dan suasana tenang langsung membuat kami merasa nyaman. Keesokan harinya, aku ikut kakek ke kebun dan belajar menanam sayuran. Aku juga membantu nenek memasak menggunakan tungku kayu. Hari-hari di desa terasa menyenangkan: aku bermain di sungai, memetik buah, dan mengenal anak-anak desa yang ramah. Ketika waktunya pulang tiba, aku merasa berat meninggalkan suasana damai itu. Aku menyadari bahwa hal-hal sederhana bisa memberikan kebahagiaan yang mendalam. Nilai kehidupan yang dapat diambil dari pengalaman tokoh adalah…
Cerpen: Hujan di Ujung Pekan.
Akhir pekan itu, langit kota tampak kelabu sejak pagi. Aku dan Ayah sebenarnya berencana pergi memancing ke danau kecil di pinggir kota, seperti yang sudah lama kami rencanakan. Namun hujan turun deras, disertai angin yang membuat dedaunan di halaman rumah berjatuhan. Ayah hanya duduk di ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar jendela. Aku tahu, ia sama kecewanya denganku.
Untuk mengisi waktu, Ayah mengajakku ke loteng. Sudah lama aku tidak ke sana. Loteng itu dipenuhi kotak-kotak tua berisi barang-barang kenangan. Kami membuka satu per satu, menemukan album foto, mainan masa kecil Ayah, hingga sepucuk surat yang ditulis Ibu saat Ayah hendak merantau dulu. Kami tertawa saat melihat foto-foto lawas, dan diam sejenak saat membaca surat itu. Ada cerita di setiap benda, dan setiap cerita mengikat kami lebih dekat.
Saat sore menjelang, hujan masih turun, tapi tak lagi deras. Kami duduk berdampingan di ruang tengah. Ayah membuatkan teh hangat, dan aku memainkan gitar kecil yang kami temukan tadi di loteng. Meski rencana awal gagal, hari itu justru menjadi hari yang sangat berarti bagiku. Aku sadar, kadang yang terpenting bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita menjalaninya.
Berdasarkan kutipan berikut, apa yang dapat disimpulkan oleh pembaca? “Aku sadar, kadang yang terpenting bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita menjalaninya.”
Cerpen: Hujan di Ujung Pekan
Akhir pekan itu, langit kota tampak kelabu sejak pagi. Aku dan Ayah sebenarnya berencana pergi memancing ke danau kecil di pinggir kota, seperti yang sudah lama kami rencanakan. Namun hujan turun deras, disertai angin yang membuat dedaunan di halaman rumah berjatuhan. Ayah hanya duduk di ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar jendela. Aku tahu, ia sama kecewanya denganku.
Untuk mengisi waktu, Ayah mengajakku ke loteng. Sudah lama aku tidak ke sana. Loteng itu dipenuhi kotak-kotak tua berisi barang-barang kenangan. Kami membuka satu per satu, menemukan album foto, mainan masa kecil Ayah, hingga sepucuk surat yang ditulis Ibu saat Ayah hendak merantau dulu. Kami tertawa saat melihat foto-foto lawas, dan diam sejenak saat membaca surat itu. Ada cerita di setiap benda, dan setiap cerita mengikat kami lebih dekat.
Saat sore menjelang, hujan masih turun, tapi tak lagi deras. Kami duduk berdampingan di ruang tengah. Ayah membuatkan teh hangat, dan aku memainkan gitar kecil yang kami temukan tadi di loteng. Meski rencana awal gagal, hari itu justru menjadi hari yang sangat berarti bagiku. Aku sadar, kadang yang terpenting bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita menjalaninya.
Pernyataan manakah yang menunjukkan bahwa tokoh “aku” mulai memahami makna kebersamaan?
Cerpen: Hujan di Ujung Pekan
Akhir pekan itu, langit kota tampak kelabu sejak pagi. Aku dan Ayah sebenarnya berencana pergi memancing ke danau kecil di pinggir kota, seperti yang sudah lama kami rencanakan. Namun hujan turun deras, disertai angin yang membuat dedaunan di halaman rumah berjatuhan. Ayah hanya duduk di ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar jendela. Aku tahu, ia sama kecewanya denganku.
Untuk mengisi waktu, Ayah mengajakku ke loteng. Sudah lama aku tidak ke sana. Loteng itu dipenuhi kotak-kotak tua berisi barang-barang kenangan. Kami membuka satu per satu, menemukan album foto, mainan masa kecil Ayah, hingga sepucuk surat yang ditulis Ibu saat Ayah hendak merantau dulu. Kami tertawa saat melihat foto-foto lawas, dan diam sejenak saat membaca surat itu. Ada cerita di setiap benda, dan setiap cerita mengikat kami lebih dekat.
Saat sore menjelang, hujan masih turun, tapi tak lagi deras. Kami duduk berdampingan di ruang tengah. Ayah membuatkan teh hangat, dan aku memainkan gitar kecil yang kami temukan tadi di loteng. Meski rencana awal gagal, hari itu justru menjadi hari yang sangat berarti bagiku. Aku sadar, kadang yang terpenting bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita menjalaninya.
Manakah yang merupakan bagian penting dari rangkaian peristiwa dalam cerpen tersebut?
Cerpen: Hujan di Ujung Pekan
Akhir pekan itu, langit kota tampak kelabu sejak pagi. Aku dan Ayah sebenarnya berencana pergi memancing ke danau kecil di pinggir kota, seperti yang sudah lama kami rencanakan. Namun hujan turun deras, disertai angin yang membuat dedaunan di halaman rumah berjatuhan. Ayah hanya duduk di ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar jendela. Aku tahu, ia sama kecewanya denganku.
Untuk mengisi waktu, Ayah mengajakku ke loteng. Sudah lama aku tidak ke sana. Loteng itu dipenuhi kotak-kotak tua berisi barang-barang kenangan. Kami membuka satu per satu, menemukan album foto, mainan masa kecil Ayah, hingga sepucuk surat yang ditulis Ibu saat Ayah hendak merantau dulu. Kami tertawa saat melihat foto-foto lawas, dan diam sejenak saat membaca surat itu. Ada cerita di setiap benda, dan setiap cerita mengikat kami lebih dekat.
Saat sore menjelang, hujan masih turun, tapi tak lagi deras. Kami duduk berdampingan di ruang tengah. Ayah membuatkan teh hangat, dan aku memainkan gitar kecil yang kami temukan tadi di loteng. Meski rencana awal gagal, hari itu justru menjadi hari yang sangat berarti bagiku. Aku sadar, kadang yang terpenting bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita menjalaninya.
Dari isi cerita, nilai kehidupan apa yang bisa kita pelajari?
Hikayat: Raja yang Menyamar
Alkisah, di sebuah kerajaan yang makmur, hiduplah seorang raja bijak bernama Raja Zafran. Ia dikenal adil dan dekat dengan rakyatnya. Namun, belakangan ini, raja merasa resah karena banyak laporan dari menterinya yang menyebutkan bahwa kehidupan rakyat di desa-desa mulai sulit, padahal para pejabatnya selalu menyampaikan bahwa segalanya baik-baik saja. Untuk mengetahui kebenaran, Raja Zafran memutuskan menyamar sebagai pedagang keliling. Ia mengenakan pakaian lusuh dan membawa gerobak kecil berisi barang dagangan. Selama tiga hari, ia mengunjungi desa demi desa. Ia melihat anak-anak yang kekurangan gizi, sawah yang gagal panen, dan rakyat yang terpaksa menjual harta benda demi bertahan hidup. Hatinya miris melihat kenyataan itu. Setelah kembali ke istana, Raja Zafran memanggil semua pejabat istana. Ia menyingkap penyamarannya dan menunjukkan barang bukti serta catatan yang ia buat selama perjalanan. Banyak pejabat yang terbukti menyelewengkan bantuan rakyat. Dengan tegas, ia memecat mereka dan mengganti dengan orang-orang yang jujur dan berdedikasi. Sejak saat itu, kehidupan rakyat membaik. Raja Zafran tetap menjalankan kebijakannya dengan turun langsung ke lapangan setiap beberapa bulan sekali. Rakyat pun semakin mencintainya, bukan hanya sebagai raja, tetapi sebagai pelindung sejati.
Apa alasan utama Raja Zafran memutuskan untuk menyamar dan turun langsung ke desa-desa?
Hikayat: Raja yang Menyamar
Alkisah, di sebuah kerajaan yang makmur, hiduplah seorang raja bijak bernama Raja Zafran. Ia dikenal adil dan dekat dengan rakyatnya. Namun, belakangan ini, raja merasa resah karena banyak laporan dari menterinya yang menyebutkan bahwa kehidupan rakyat di desa-desa mulai sulit, padahal para pejabatnya selalu menyampaikan bahwa segalanya baik-baik saja. Untuk mengetahui kebenaran, Raja Zafran memutuskan menyamar sebagai pedagang keliling. Ia mengenakan pakaian lusuh dan membawa gerobak kecil berisi barang dagangan. Selama tiga hari, ia mengunjungi desa demi desa. Ia melihat anak-anak yang kekurangan gizi, sawah yang gagal panen, dan rakyat yang terpaksa menjual harta benda demi bertahan hidup. Hatinya miris melihat kenyataan itu. Setelah kembali ke istana, Raja Zafran memanggil semua pejabat istana. Ia menyingkap penyamarannya dan menunjukkan barang bukti serta catatan yang ia buat selama perjalanan. Banyak pejabat yang terbukti menyelewengkan bantuan rakyat. Dengan tegas, ia memecat mereka dan mengganti dengan orang-orang yang jujur dan berdedikasi. Sejak saat itu, kehidupan rakyat membaik. Raja Zafran tetap menjalankan kebijakannya dengan turun langsung ke lapangan setiap beberapa bulan sekali. Rakyat pun semakin mencintainya, bukan hanya sebagai raja, tetapi sebagai pelindung sejati.
Apa akibat dari tindakan penyamaran Raja Zafran bagi pemerintahannya?
Hikayat: Raja yang Menyamar
Alkisah, di sebuah kerajaan yang makmur, hiduplah seorang raja bijak bernama Raja Zafran. Ia dikenal adil dan dekat dengan rakyatnya. Namun, belakangan ini, raja merasa resah karena banyak laporan dari menterinya yang menyebutkan bahwa kehidupan rakyat di desa-desa mulai sulit, padahal para pejabatnya selalu menyampaikan bahwa segalanya baik-baik saja. Untuk mengetahui kebenaran, Raja Zafran memutuskan menyamar sebagai pedagang keliling. Ia mengenakan pakaian lusuh dan membawa gerobak kecil berisi barang dagangan. Selama tiga hari, ia mengunjungi desa demi desa. Ia melihat anak-anak yang kekurangan gizi, sawah yang gagal panen, dan rakyat yang terpaksa menjual harta benda demi bertahan hidup. Hatinya miris melihat kenyataan itu. Setelah kembali ke istana, Raja Zafran memanggil semua pejabat istana. Ia menyingkap penyamarannya dan menunjukkan barang bukti serta catatan yang ia buat selama perjalanan. Banyak pejabat yang terbukti menyelewengkan bantuan rakyat. Dengan tegas, ia memecat mereka dan mengganti dengan orang-orang yang jujur dan berdedikasi. Sejak saat itu, kehidupan rakyat membaik. Raja Zafran tetap menjalankan kebijakannya dengan turun langsung ke lapangan setiap beberapa bulan sekali. Rakyat pun semakin mencintainya, bukan hanya sebagai raja, tetapi sebagai pelindung sejati.
Nilai moral yang dapat dipetik dari hikayat ini adalah…
Hikayat: Raja yang Menyamar
Alkisah, di sebuah kerajaan yang makmur, hiduplah seorang raja bijak bernama Raja Zafran. Ia dikenal adil dan dekat dengan rakyatnya. Namun, belakangan ini, raja merasa resah karena banyak laporan dari menterinya yang menyebutkan bahwa kehidupan rakyat di desa-desa mulai sulit, padahal para pejabatnya selalu menyampaikan bahwa segalanya baik-baik saja. Untuk mengetahui kebenaran, Raja Zafran memutuskan menyamar sebagai pedagang keliling. Ia mengenakan pakaian lusuh dan membawa gerobak kecil berisi barang dagangan. Selama tiga hari, ia mengunjungi desa demi desa. Ia melihat anak-anak yang kekurangan gizi, sawah yang gagal panen, dan rakyat yang terpaksa menjual harta benda demi bertahan hidup. Hatinya miris melihat kenyataan itu. Setelah kembali ke istana, Raja Zafran memanggil semua pejabat istana. Ia menyingkap penyamarannya dan menunjukkan barang bukti serta catatan yang ia buat selama perjalanan. Banyak pejabat yang terbukti menyelewengkan bantuan rakyat. Dengan tegas, ia memecat mereka dan mengganti dengan orang-orang yang jujur dan berdedikasi. Sejak saat itu, kehidupan rakyat membaik. Raja Zafran tetap menjalankan kebijakannya dengan turun langsung ke lapangan setiap beberapa bulan sekali. Rakyat pun semakin mencintainya, bukan hanya sebagai raja, tetapi sebagai pelindung sejati.
Jika kamu menjadi penasihat utama Raja Zafran setelah kejadian ini, langkah strategis apa yang paling bijak untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang?
Membentuk sistem pengawasan dan pelaporan langsung dari rakyat tanpa melalui pejabat, sebagai bentuk pengawasan langsung
Pejabat harus meminta maaf pada rakyat
Denda di Hari Senin
Pagi itu, Pak Hasan buru-buru ke kantor karena terlambat bangun. Ia melanggar satu lampu merah dan ngebut di jalan protokol. Sialnya, ia diberhentikan polisi. "Selamat pagi, Pak. Bisa saya lihat surat-suratnya?" tanya Pak Polisi. Pak Hasan gelagapan, lalu berkata, "Aduh, Pak... saya buru-buru. Hari ini ada apel pagi di kantor. Bisa ditilang nanti saja?" Pak Polisi tersenyum tipis. "Sayangnya, tilang tidak mengenal hari kerja. Justru karena Senin, Bapak kami prioritaskan. "Pak Hasan akhirnya pasrah dan berkata pelan, "Baik, Pak. Saya salah. Tapi bolehlah saya nitip absen juga ke Bapak?"
Apa fungsi penggunaan kalimat terakhir Pak Hasan dalam teks tersebut?
Denda di Hari Senin
Pagi itu, Pak Hasan buru-buru ke kantor karena terlambat bangun. Ia melanggar satu lampu merah dan ngebut di jalan protokol. Sialnya, ia diberhentikan polisi. "Selamat pagi, Pak. Bisa saya lihat surat-suratnya?" tanya Pak Polisi. Pak Hasan gelagapan, lalu berkata, "Aduh, Pak... saya buru-buru. Hari ini ada apel pagi di kantor. Bisa ditilang nanti saja?" Pak Polisi tersenyum tipis. "Sayangnya, tilang tidak mengenal hari kerja. Justru karena Senin, Bapak kami prioritaskan. "Pak Hasan akhirnya pasrah dan berkata pelan, "Baik, Pak. Saya salah. Tapi bolehlah saya nitip absen juga ke Bapak?"
Pernyataan manakah yang paling tepat menggambarkan sindiran dalam teks anekdot tersebut?
Denda di Hari Senin
Pagi itu, Pak Hasan buru-buru ke kantor karena terlambat bangun. Ia melanggar satu lampu merah dan ngebut di jalan protokol. Sialnya, ia diberhentikan polisi. "Selamat pagi, Pak. Bisa saya lihat surat-suratnya?" tanya Pak Polisi. Pak Hasan gelagapan, lalu berkata, "Aduh, Pak... saya buru-buru. Hari ini ada apel pagi di kantor. Bisa ditilang nanti saja?" Pak Polisi tersenyum tipis. "Sayangnya, tilang tidak mengenal hari kerja. Justru karena Senin, Bapak kami prioritaskan. "Pak Hasan akhirnya pasrah dan berkata pelan, "Baik, Pak. Saya salah. Tapi bolehlah saya nitip absen juga ke Bapak?"
Bagian manakah dari cerita yang menunjukkan unsur kelucuan?
"Ibu"
Oleh: A. Mustofa Bisri
Ibu, kau selalu tampak letih
namun tak pernah mengeluh
kau selalu tampak lapar
namun tak pernah meminta
kau lebih suka membeli buku untuk anak-anakmu
daripada sepasang sepatu baru untuk kakimu
kau lebih senang menahan rindu
daripada menambah resah anak-anakmu di rantau.
Manakah pernyataan berikut yang paling menggambarkan maksud bait ketiga puisi?
"Ibu"
Oleh: A. Mustofa Bisri
Ibu, kau selalu tampak letih
namun tak pernah mengeluh
kau selalu tampak lapar
namun tak pernah meminta
kau lebih suka membeli buku untuk anak-anakmu
daripada sepasang sepatu baru untuk kakimu
kau lebih senang menahan rindu
daripada menambah resah anak-anakmu di rantau.
Dari puisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penulis memandang sosok ibu sebagai…
"Ibu"
Oleh: A. Mustofa Bisri
Ibu, kau selalu tampak letih
namun tak pernah mengeluh
kau selalu tampak lapar
namun tak pernah meminta
kau lebih suka membeli buku untuk anak-anakmu
daripada sepasang sepatu baru untuk kakimu
kau lebih senang menahan rindu
daripada menambah resah anak-anakmu di rantau. Jika puisi ini dibacakan dalam acara Hari Ibu di sekolah, bagaimana cara menyampaikan makna puisi secara mendalam agar audiens benar-benar merasakannya?
Ani ingin membeli jilbab di sebuah toko. Ia tertarik dengan sebuah jilbab yang berharga Rp85.000. Ani menawar dengan sopan, "Boleh tidak, Bu, saya beli Rp70.000? Saya ambil dua, deh." Penjual tersenyum, lalu berkata, "Kalau ambil dua, boleh deh Rp75.000 per buah. Gimana?" Ani berpikir sejenak dan akhirnya setuju.
Bagian manakah dari percakapan di atas yang menunjukkan proses penawaran dalam negosiasi?
Buatlah Teks Rekon dengan tema bebas, pada sturuktur orientasi (pengenalan), Peristiwa, dan reorientasi yang memenuhi unsur :
-Pada setiap struktur harus memuat minimal 3 kalimat yang memenuhi SPOK (minimal 5 kata pada masing-masing kalimat).
-Menggunakan tatanan bahasa sessuai KBBI
-Serta, memerhatikan EYD ( Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan)
