wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Latihan Soal 11

Total questions: 20

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke klinik nyeri untuk pengelolaan nyeri neuropatik pada ekstremitas atas kanan akibat kompleks regional pain syndrome (CRPS). Dokter melakukan blok ganglion stellatum kanan. Beberapa saat setelah prosedur, pasien melaporkan pandangannya agak kabur dan merasa kelopak matanya turun. Pada pemeriksaan fisik ditemukan miosis, ptosis ringan, dan anhidrosis di sisi wajah yang sama.

Pertanyaan:

Manakah dari temuan berikut ini yang paling mungkin menjelaskan kondisi pasien tersebut?

a)

Cedera nervus optikus akibat penyebaran anestesi ke intracranial

b)

Toksisitas lokal anestetik pada sistem saraf pusat

c)

Aktivasi simpatis berlebihan pada pleksus brakialis

d)

Blokade saraf simpatis yang menyebabkan sindrom Horner

e)

Reaksi alergi sistemik terhadap agen anestesi local

2.

Seorang laki-laki berusia 34 tahun menjalani prosedur bedah minor di ekstremitas bawah dengan anestesi lokal menggunakan prilokain. Sekitar 1 jam setelah prosedur, pasien mengeluh pusing, lemas, dan sesak napas ringan. Pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen 88% pada pulse oximeter, namun pasien tidak tampak sianosis yang jelas. Pemeriksaan gas darah menunjukkan PaO₂ normal, namun kadar methemoglobin meningkat signifikan.

Pertanyaan:

Manakah dari pernyataan berikut yang paling menjelaskan kondisi pasien ini?

a)

Prilokain dimetabolisme menjadi senyawa ortotoluidin yang menyebabkan methemoglobinemia

b)

Reaksi alergi terhadap prilokain menyebabkan spasme bronkus dan hipoksia

c)

Efek samping prilokain menyebabkan penurunan produksi hemoglobin

d)

Prilokain meningkatkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen secara berlebihan

e)

Prilokain menghambat enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase sehingga menyebabkan hemolisis

3.

Seorang pria berusia 56 tahun menjalani operasi urologi dalam posisi litotomi dengan teknik anestesi spinal kontinu menggunakan lidokain hiperbarik 5% melalui mikrokateter berukuran 28G. Beberapa jam setelah operasi, pasien mengeluh kesemutan, kelemahan, dan mati rasa pada kedua tungkai bawah, disertai dengan kesulitan berkemih dan tidak dapat mengontrol defekasi.

Pemeriksaan neurologis menunjukkan penurunan refleks, hipestesia pada daerah perineum (saddle anesthesia), serta kelemahan ekstremitas bawah bilateral. MRI menunjukkan edema dan kemungkinan kerusakan pada akar-akar saraf lumbosakral.

Pertanyaan:

Komplikasi manakah yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

a)

Hematoma spinal

b)

Abses epidural

c)

Sindrom cauda equina akibat toksisitas lokal anestetik

d)

Mielitis transversa

e)

Cedera medula spinalis pars torakal

4.

Seorang pria usia 68 tahun menjalani operasi bypass arteri koroner (CABG) tanpa komplikasi intraoperatif. Dua hari pascaoperasi, pasien mengalami palpitasi, denyut jantung tidak teratur, dan sesak ringan. EKG menunjukkan fibrilasi atrium dengan respons ventrikel cepat. Dokter mengonfirmasi bahwa ini adalah episode fibrilasi atrium pascabedah jantung, yang diketahui dapat memperpanjang lama rawat inap dan meningkatkan morbiditas kardiovaskular.

Pertanyaan:

Manakah intervensi berikut yang paling tepat digunakan secara profilaksis untuk mengurangi kejadian komplikasi tersebut?

a)

Digoksin intravena rutin pada hari ke-1 pascaoperasi

b)

Pemberian amiodaron, beta blocker, atau magnesium secara terkontrol

c)

Terapi antikoagulan agresif pada seluruh pasien bedah jantung

d)

Pemberian diuretik dosis tinggi untuk mencegah overload cairan

e)

Pemasangan pacemaker sementara untuk semua pasien CABG

5.

Seorang pria berusia 60 tahun datang ke IGD dengan keluhan palpitasi yang tiba-tiba dirasakan sejak 30 menit lalu. EKG menunjukkan takikardia supraventrikular. Dokter merencanakan pemberian adenosin intravena untuk kardioversi farmakologis. Ternyata pasien memiliki riwayat asma bronkial, meskipun saat ini tidak sedang mengalami serangan.

Pertanyaan:

Manakah dari pilihan berikut yang paling tepat dilakukan oleh dokter sebelum memberikan adenosin?

a)

Melanjutkan pemberian adenosin karena tidak ada gejala asma saat ini

b)

Menunda pemberian adenosin dan memberikan verapamil sebagai alternatif

c)

Memberikan bronkodilator sebelum adenosin untuk mencegah bronkospasme

d)

Memberikan adenosin dalam dosis setengah dari standar

e)

Melakukan nebulisasi rutin setelah pemberian adenosin

6.

Seorang anak laki-laki usia 7 tahun dengan leukemia limfoblastik akut telah menjalani transplantasi sumsum tulang dan direncanakan menerima transfusi trombosit karena trombositopenia berat. Dokter memutuskan untuk menggunakan trombosit teriradiasi untuk transfusi.

Pertanyaan:

Apakah alasan paling tepat penggunaan trombosit teriradiasi pada pasien ini?

a)

Mencegah reaksi alergi terhadap protein donor

b)

Menghindari penularan virus melalui transfusi

c)

Menurunkan risiko demam pasca transfusi

d)

Mencegah graft-versus-host disease

e)

Meningkatkan umur simpan trombosit dalam tubuh pasien

7.

Seorang pria berusia 65 tahun dengan riwayat pemasangan katup jantung mekanik sedang menjalani pengobatan rutin dengan warfarin. Ia dijadwalkan menjalani operasi elektif penggantian pinggul (hip replacement). INR preoperatif menunjukkan nilai 2,8. Dokter bedah meminta agar dilakukan persiapan koagulasi sebelum operasi.

Pertanyaan:

Untuk mencegah perdarahan, manakah dari pernyataan berikut yang paling sesuai dalam penatalaksanaan pasien ini?

a)

Operasi dapat langsung dilakukan karena INR masih di bawah 3,0

b)

Warfarin dihentikan 5 hari sebelum operasi, dan bridging dengan heparin

c)

Aspirin ditambahkan sebelum operasi untuk menurunkan risiko trombosis

d)

Tidak perlu menghentikan warfarin, cukup berikan vitamin K preoperatif

e)

INR harus diturunkan hingga <1,0 sebelum semua jenis prosedur bedah

8.

Seorang wanita G2P1 usia 34 tahun menjalani seksio sesarea elektif karena plasenta previa totalis. Prosedur dilakukan dengan anestesi spinal. Setelah bayi lahir dan plasenta berhasil dilepaskan, pasien diberikan oksitosin 10 unit secara bolus intravena cepat. Sesaat kemudian, pasien tampak gelisah, mengeluh pusing dan mual. Tekanan darah turun dari 120/75 mmHg menjadi 80/50 mmHg dan denyut jantung meningkat menjadi 115 kali/menit.

Pertanyaan:

Mengapa terjadi perubahan hemodinamik mendadak pada kasus ini?

a)

Oksitosin menyebabkan stimulasi vagal

b)

Efek simpatolitik oksitosin menyebabkan tonus vaskular turun

c)

Efek relaksan langsung oksitosin pada otot polos vaskular

d)

Aktivasi baroreseptor pusat oleh oksitosin menurunkan curah jantung

e)

Penurunan tekanan darah karena kontraksi uterus berlebihan

9.

Seorang wanita usia 58 tahun menjalani operasi mastektomi radikal dengan anestesi umum. Pemanasan aktif tidak diberikan selama prosedur berlangsung. Di ruang pemulihan, pasien tampak menggigil hebat dan merasa sangat tidak nyaman. Hasil monitor menunjukkan tekanan darah 150/90 mmHg dan denyut jantung 115 kali/menit. Dokter mencatat bahwa waktu bangun dari anestesi lebih lama dari biasanya.

Pertanyaan:

Manakah pernyataan berikut yang PALING MENJELASKAN kondisi pasien ini?

a)

Hipotermia menurunkan kelarutan anestesi inhalasi dalam darah, memperlambat pemulihan

b)

Hipotermia meningkatkan metabolisme obat anestesi, menyebabkan pasien cepat sadar

c)

Hipotermia meningkatkan kerja sistem parasimpatis, menyebabkan lambat bangun

d)

Hipotermia menurunkan metabolisme obat, memperpanjang efek anestesi dan relaksan otot

e)

Hipotermia menyebabkan vasodilatasi perifer, mengurangi klirens obat karena perfusi organ turun

10.

Seorang pria usia 68 tahun dijadwalkan menjalani operasi hernia inguinalis elektif. Dalam evaluasi praoperatif diketahui bahwa pasien rutin mengonsumsi naproksen 500 mg dua kali sehari selama 1 bulan terakhir karena nyeri punggung bawah. Ia juga mengonsumsi aspirin dosis rendah setiap hari pasca infark miokard 3 tahun lalu, dan menggunakan prednison 5 mg/hari untuk rheumatoid arthritis. Dua tahun lalu, pasien pernah dirawat karena perdarahan tukak duodenum.

Pertanyaan:

Manakah kombinasi berikut yang merupakan FAKTOR RISIKO TERKUAT untuk komplikasi gastrointestinal akibat NSAID pada pasien ini?

a)

Usia tua dan rheumatoid arthritis

b)

Penggunaan jangka pendek naproksen dan riwayat GERD

c)

Konsumsi aspirin, kortikosteroid, dan riwayat tukak sebelumnya

d)

Penggunaan PPI bersamaan dan aktivitas fisik berat

e)

Pasca infark miokard

11.

Seorang anak laki-laki usia 5 tahun dirawat di ICU pasca operasi jantung kongenital. Terpasang kanulasi arteri femoralis kiri untuk keperluan pemantauan tekanan darah dan pemeriksaan gas darah. Dua hari kemudian, dicurigai adanya penurunan perfusi ekstremitas bawah kiri. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan tanda-tanda iskemia tulang dan gangguan mobilisasi sendi panggul kiri.

Pertanyaan:

Komplikasi mana berikut ini yang PALING MUNGKIN berkaitan dengan kanulasi arteri femoralis pada pasien ini?

a)

Trombosis vena dalam (DVT) ekstremitas bawah

b)

Aseptic necrosis pada kepala femur

c)

Osteomielitis tulang femur

d)

Ruptur arteri iliaca kiri distal

e)

Hematoma retropelvis

12.

Seorang pria usia 60 tahun dirawat di ICU karena syok hipovolemik akibat fraktur multipel. Dokter memutuskan untuk melakukan kanulasi vena sentral untuk resusitasi cairan, pemberian vasopressor dan pemantauan vena sentral. Dokter mempertimbangkan lokasi akses vena sentral yang meminimalkan risiko infeksi selama penggunaan jangka panjang. Sehari setelah pemasangan terjadi komplikasi cylothorax.

Pertanyaan:

Lokasi kanulasi manakah yang paling berisiko terjadi komplikasi tersebut?

a)

Vena femoralis

b)

Vena jugularis interna kiri

c)

Vena subklavia

d)

Vena jugularis eksterna

e)

Vena jugularis interna kanan

13.

Seorang pasien laki-laki usia 72 tahun dengan gagal jantung berat dirawat di ICU dan dipasang kateter arteri pulmonalis (Swan-Ganz) untuk pemantauan hemodinamik. Saat dilakukan pengukuran tekanan wedge (PAWP), operator mencatat adanya resistensi saat mengembuskan balon dan mencoba inflasi untuk mendapatkan nilai wedge. Beberapa menit kemudian, pasien mengalami hemoptisis hebat, desaturasi mendadak, dan hipotensi..

Pertanyaan:

Manakah komplikasi berikut yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

a)

Pneumotoraks akibat penetrasi paru oleh kateter

b)

Emboli udara dari sistem infus kateter

c)

Ruptur arteri pulmonalis

d)

Hemotoraks akibat perforasi vena subklavia

e)

Diseksi aorta torakalis oleh kateter pulmonalis

14.

Seorang pria usia 62 tahun menjalani operasi artroskopi bahu kanan dengan posisi beach chair di bawah anestesi umum. Untuk mengurangi perdarahan lapangan operasi, digunakan teknik hipotensi terkontrol, dengan target tekanan darah sistolik 90 mmHg. Sekitar 30 menit setelah induksi anestesi, pasien menunjukkan penurunan saturasi regional oksigen otak (rSO₂) pada pemantauan NIRS. Tidak ada perubahan hemodinamik yang mencolok, dan prosedur berlanjut hingga selesai. Beberapa jam pascaoperasi, pasien mengalami kelemahan ekstremitas kiri dan disartria ringan.

Pertanyaan:

Penyebab komplikasi berikut ini yang paling mungkin terjadi akibat posisi dan teknik anestesi yang digunakan adalah?

a)

Cedera pleksus brakialis karena posisi tangan saat operasi

b)

Emboli udara karena tekanan negatif vena di posisi duduk

c)

Iskemia serebral akibat hipoperfusi otak

d)

Stroke hemoragik akibat peningkatan tekanan perfusi otak

e)

Trombosis vena dalam pada ekstremitas bawah

15.

Seorang wanita usia 58 tahun dijadwalkan menjalani kolesistektomi laparoskopik elektif. Ia memiliki riwayat skleroderma dan GERD berat, dengan keluhan regurgitasi makanan hampir setiap malam. Selama evaluasi preoperatif, pasien tampak kooperatif dan tidak menunjukkan gangguan neurologis. Prosedur akan dilakukan dengan anestesi umum.

Pertanyaan:

Tindakan manakah yang paling tepat dilakukan untuk mengurangi risiko aspirasi paru pada pasien ini saat induksi anestesi?

a)

Memberikan oksigen 100% dan induksi dengan anestesi inhalasi perlahan

b)

Menggunakan rapid sequence induction dengan cricoid pressure

c)

Memberikan obat penenang oral 1 jam sebelum induksi

d)

Melakukan preoksigenasi minimal 30 detik dan ventilasi manual setelah induksi posisi head up

e)

Melakukan intubasi nasal dan pemberian obat antiemetik pascainduksi

16.

Seorang pria usia 45 tahun dengan abses submandibula menjalani anestesi umum untuk drainase abses. Intubasi dilakukan secara sadar karena prediksi sulit intubasi. Saat usaha intubasi, pasien mengalami laringospasme dengan retraksi dinding dada, suara napas mengorok, dan saturasi O₂ menurun drastis. Ventilasi bag-mask tidak berhasil. Diberikan suksinilkolin, tetapi ventilasi tetap gagal karena obstruksi jalan napas atas.

Pertanyaan:

Tindakan yang paling tepat untuk menyelamatkan jalan napas pasien ini adalah?

a)

Ulangi dosis suksinilkolin dan berikan tekanan positif lebih kuat

b)

Lakukan pemasangan LMA untuk ventilasi

c)

Lakukan manuver Larson

d)

Lakukan krikotirotomi darurat

e)

Berikan steroid intravena dan tunggu efek relaksasi jalan napas

17.

Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dengan tetralogy of Fallot datang ke IGD karena mengalami kelemahan mendadak pada ekstremitas kanan dan sulit bicara. Tekanan darah 124/56 mmHg, nadi 108x/menit, laju napas 20x/menit tidak sesak, saturasi perifer 70%. Pemeriksaan lab menunjukkan hematokrit 70%, pasien tampak dehidrasi ringan. Tidak ada riwayat perdarahan atau infeksi..

Pertanyaan:

Tindakan awal yang paling tepat dilakukan pada pasien ini adalah?

a)

Lakukan flebotomi segera untuk menurunkan hematokrit

b)

Lakukan MRI otak segera

c)

Berikan cairan intravena untuk koreksi dehidrasi terlebih dahulu

d)

Oksigenasi dan observasi saja

e)

Mulai aspirin dosis rendah sebagai profilaksis trombosis

18.

Seorang pria usia 68 tahun dengan riwayat PPOK berat dijadwalkan menjalani operasi reseksi kolon elektif. Ia memiliki riwayat eksaserbasi berulang dan sering mengalami batuk berdahak. Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan nilai FEV₁ sebesar 45% dari nilai prediksi. Saat ini pasien stabil namun masih mengalami sedikit wheezing dan sesekali batuk berdahak putih.

Pertanyaan:

Tindakan preoperatif manakah yang paling penting dilakukan untuk menurunkan risiko komplikasi paru pascaoperasi pada pasien ini?

a)

Menunda operasi hingga FEV₁ meningkat di atas 50%

b)

Memberikan antibiotik profilaksis 3 hari sebelum operasi

c)

Memberikan bronkodilator, terapi oksigen, dan fisioterapi dada

d)

Memberikan steroid sistemik dosis tinggi menjelang operasi

e)

Mengganti anestesi umum dengan anestesi spinal

19.

Seorang pria usia 55 tahun menjalani operasi lobektomi paru kiri dengan anestesi umum menggunakan double-lumen tube (DLT) untuk ventilasi paru tunggal. Selama prosedur berlangsung lancar. Namun, setelah operasi selesai dan saat ekstubasi akan dilakukan, DLT tidak dapat ditarik keluar, meskipun balon sudah dideflasi dengan benar dan pasien dalam posisi netral.

Pertanyaan:

Apa penyebab paling mungkin dari kesulitan ekstubasi ini?

a)

Spasme laring pascaoperasi yang menyebabkan tahanan mekanis

b)

Overinflasi balon trakeal yang belum sepenuhnya dideflasi

c)

Edema jalan napas akibat durasi operasi yang lama

d)

DLT secara tidak sengaja terjahit atau tert-staple pada bronkus saat prosedur

e)

Migrasi DLT ke sisi kanan bronkus utama

20.

Seorang pria usia 60 tahun dengan gagal ginjal akut dirawat di ICU dan memulai hemodialisis intermiten pertama kali. Sekitar 30 menit setelah dialisis dimulai, pasien mengeluh pusing, kemudian mengalami penurunan kesadaran, agitasi, dan gerakan kejang ringan. Pemeriksaan menunjukkan tekanan darah stabil, tidak ada hipoglikemia, dan tidak terdapat tanda-tanda stroke.

Pertanyaan:

Komplikasi manakah yang paling mungkin terjadi pada pasien ini?

a)

Kehilangan glukosa dalam jumlah besar akibat dialisis

b)

Emboli udara akibat sirkuit dialisis

c)

Dialysis disequilibrium syndrome (DDS)

d)

Hipoksemia akibat reaksi leukosit terhadap membran dialisis

e)

Neutropenia akibat hemolisis dalam sirkuit