wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Ulangan Balaghah: Fasohah (2)

Total questions: 15

Worksheet time: 21mins

Name
Class
Date
1.

Perhatikan dua kalimat berikut:

  • Kalimat 1: سَأَطْلُبُ بُعْدَ الدَّارِ عَنْكَ لِتَقْرَبُوا (Aku cari tempat tinggal jauh dari kalian, agar kalian dekat denganku)

    Kalimat 2: وَقَبْرُ حَرْبٍ بِمَكَانٍ قَفْرٍ (Dan kuburan Harb di tempat yang sepi)

Manakah pernyataan yang paling tepat mengenai jenis ketidakfasihan pada kedua kalimat di atas?

a)

Kalimat 1 tidak fashih karena `ta'qīd lafzhi`, sedangkan Kalimat 2 tidak fashih karena `ta'qīd ma'nawi`.

b)

Keduanya tidak fashih karena `tanafuru al-huruf`.

c)

Kalimat 1 tidak fashih karena `ta'qīd ma'nawi`, sedangkan Kalimat 2 tidak fashih karena `tanafuru al-kalimat`.

d)

Keduanya tidak fashih karena `dha'fu al-ta'lif`.

e)

Kalimat 1 tidak fashih karena `dha'fu al-ta'lif`, sedangkan Kalimat 2 tidak fashih karena `gharābah`.

2.

Seorang orator bernama Adi menyampaikan pidato yang menggunakan kata-kata yang indah dan struktur kalimat yang sempurna. Namun, audiensnya adalah anak-anak yang tidak mengerti istilah-istilah yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa pidato tersebut:

a)

Baligh, karena struktur dan pemilihan katanya sudah tepat.

b)

Fashih, tetapi tidak baligh, karena tidak sesuai dengan `muqtadhal-hal` audiens.

c)

Tidak fashih dan tidak baligh, karena maknanya tidak sampai.

d)

Baligh, karena pesan yang disampaikan memiliki makna yang mendalam.

e)

Fashih dan baligh, karena oratornya memiliki `malakah`.

3.

Fashahah al-kalam (kefasihan kalimat) dan dha'fu at-ta'līf (lemahnya susunan) memiliki hubungan yang erat. Suatu hari, Dimas sedang berdiskusi dengan teman-temannya tentang pentingnya kefasihan dalam berkomunikasi. Ia menjelaskan bahwa jika suatu kalimat dikatakan `dha'fu at-ta'līf`, maka secara otomatis kalimat tersebut:

a)

Fashih, tetapi tidak baligh.

b)

Memiliki `ta'qīd lafzhi`.

c)

Memiliki `ta'qīd ma'nawi`.

d)

Tidak fashih.

e)

Selalu memiliki `tanafuru al-kalimat`.

4.

Agus adalah seorang penulis yang menyusun kalimat yang sempurna dari sisi kaidah nahwu dan sharaf, menggunakan kata-kata yang umum, serta mudah diucapkan. Namun, kalimatnya mengandung perumpamaan yang ambigu dan sulit dicerna maksudnya. Manakah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan karya Agus tersebut?

a)

Fashih secara lafazh, tetapi tidak fashih secara makna.

b)

Baligh, tetapi tidak fashih.

c)

Fashih, tetapi tidak baligh.

d)

Tidak fashih dan tidak baligh.

e)

Fashih dan baligh.

5.

Sebagai seorang pembicara yang fasih (fashih al-mutakallim), Rina dituntut untuk memiliki malakah (kecakapan) dalam mengungkapkan maksud dengan kalimat yang fasih dan sesuai situasi. Rina ingin menyampaikan pidato tentang "Pentingnya Menjaga Lingkungan" kepada dua audiens yang berbeda: anak-anak usia SD dan orang dewasa. Manakah di antara strategi berikut yang paling tepat untuk menyesuaikan pidato tersebut agar baligh untuk kedua audiens?

a)

Menggunakan kata-kata teknis yang sama untuk kedua audiens agar mereka terbiasa, dan hanya mengubah intonasi.

b)

Menggunakan banyak majas dan kiasan yang rumit untuk anak-anak, sementara untuk orang dewasa menggunakan bahasa yang sangat sederhana.

c)

Untuk anak-anak, Rina akan menggunakan kalimat yang singkat, bahasa sehari-hari, dan contoh konkret (seperti membuang sampah pada tempatnya). Untuk orang dewasa, Rina akan menggunakan data statistik, kalimat yang lebih formal, dan menjelaskan dampak global.

d)

Menggunakan pidato yang sama persis untuk kedua audiens karena balaghah adalah tentang kefasihan kalimat, bukan audiens.

e)

Untuk anak-anak, Rina akan berfokus pada ancaman global, dan untuk orang dewasa, Rina akan berfokus pada cerita-cerita sederhana tentang alam.

6.

Perhatikan kalimat berikut: كَلَامُكَ جَمِيلٌ وَلَكِنْ غَيْرُ مُؤَثِّرٍ (Kata-katamu indah tetapi tidak berpengaruh). Nita sedang mendengarkan Joko berbicara di depan kelas. Apa yang dapat disimpulkan mengenai kalimat ini dalam konteks balaghah?

a)

Fashih, tetapi tidak baligh, karena tidak memberikan dampak.

b)

Baligh, karena strukturnya yang baik.

c)

Tidak fashih dan tidak baligh, karena maknanya tidak sampai.

d)

Fashih dan baligh, karena penggunaan kata yang tepat.

e)

Baligh, tetapi tidak Fashih.

7.

Pada bait أَرْسَلْتُ رَسُولِي فِي «مُهِمَّةٍ» صَعْبَةٍ (Aku mengutus utusanku dalam misi yang sulit), kata مُهِمَّةٍ dianggap cacat dalam balaghah. Manakah pernyataan yang paling tepat mengenai jenis kecacatan pada kata tersebut?

a)

Tanafuru al-huruf, karena pengucapan huruf dalam kata tersebut berat.

b)

Mukhalafatu al-qiyas, karena bentuk sharaf kata tersebut tidak sesuai dengan kaidah baku.

c)

Gharābah (keanehan), karena kata tersebut dianggap asing dan tidak lazim digunakan dalam percakapan atau tulisan yang baku.

d)

Ta'qīd lafzhi, karena susunan kata-katanya membuat kalimat sulit dipahami. e. Dha'fu at-ta'līf, karena kaidah nahwunya tidak benar.

e)

Tanafuru al-kalimat karena pengucapan kata tersebut berbelit-belit.

8.

Wahyu sedang mempelajari syair dari al-Mutannabi dan menemukan syair berikut:

جَفَخَتْ - وَهُمْ لَا يَجْفَخُوْنَ بِهَا - بِهِمْ # شِيَمٌ عَلَى الْحَسَبِ الْأَغَرِ دَلَائِلُ.

Dia bertanya-tanya, manakah di antara pernyataan berikut yang paling tepat mengenai alasan ketidakfasihan syair tersebut?

a)

Terdapat tanāfur al-kalimāt (ketidakserasian kata-kata) yang membuat pengucapannya sulit.

b)

Terdapat gharābah (keanehan) dalam penggunaan kata جَفَخَتْ.

c)

Terdapat dha'fu at-ta'līf (lemahnya susunan) karena menyalahi kaidah nahwu.

d)

Terdapat ta'qīd lafzhi (kerancuan struktur kata) karena memisahkan kata yang semestinya disambungkan dan mendahulukan kata yang mestinya diakhirkan.

e)

Terdapat ta'qīd ma'nawi (kerancuan makna) karena majasnya ambigu.

9.

Dalam sebuah diskusi, Surya menyebutkan kalimat في البيت الرجل (Di dalam rumah lelaki itu). Manakah alasan yang paling tepat mengenai kecacatan kalimat tersebut?

a)

Kalimat tersebut memiliki ta'qīd maknawi karena maknanya ambigu.

b)

Kalimat tersebut tidak fasih karena gharābah (kata asing).

c)

Kalimat tersebut tidak fasih karena dha'fu at-ta'līf (lemahnya susunan), di mana subjek (الرجل) diletakkan setelah khabar muqaddam tanpa kaidah yang kuat, sehingga menyebabkan kerancuan.

d)

Kalimat tersebut memiliki tanafuru al-kalimat (ketidakserasian kata-kata) karena pengucapannya sulit.

e)

Kalimat tersebut memiliki mukhalafatu al-qiyas (menyalahi kaidah sharaf).

10.

Dalam sebuah kelas bahasa Arab, Nita sedang menjelaskan tentang cacat tanafurul huruf (dalam fasohatul mufrod). Dia memberikan beberapa contoh kalimat kepada teman-temannya. Manakah di antara kata dalam kalimat berikut yang memiliki cacat tersebut?

a)

هُعْخُعُ الْجَمَلُ

(Unta itu muntah).

b)

وَقَبْرُ حَرْبٍ بِمَكَانٍ قَفْرٍ (Kuburan Harb berada di tempat yang sepi).

c)

الحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْأَجْلَلِ (Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia).

d)

كُنْتُ كُنْتُ كَتَمْتُ السِّرَّ (Aku-aku telah menyimpan rahasia).

e)

سَأَطْلُبُ بُعْدَ الدَّارِ عَنْكَ لِتَقْرَبُوا (Aku akan meminta rumah jauh darimu agar kalian dekat).

11.

Di sebuah kelas bahasa Arab, Susi, Nita, dan Wawan sedang berdiskusi tentang pentingnya memahami bahasa Arab. Susi menjelaskan bahwa Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari tata bahasa dan struktur kalimat. Nita menambahkan bahwa Ilmu Shorf berfokus pada perubahan bentuk kata dan maknanya. Sementara itu, Wawan menjelaskan bahwa Ilmu Balaghah berkaitan dengan keindahan bahasa dan retorika. Mereka bertiga sepakat bahwa ketiga ilmu ini saling melengkapi untuk memahami bahasa Arab secara menyeluruh. Apa pendapatmu tentang perbedaan mendasar antara ketiga ilmu ini dan bagaimana mereka saling melengkapi? Apa manfaatnya bagi anda?

4 lines
12.

Dalam sebuah diskusi, Titi mengungkapkan kalimat `جَزَى بَنُوهُ أَبَا الْغِيْلَانِ عَنْ كِبَرَ` (Anak-anaknya membalas jasa Abu Ghilan) dan menyatakan bahwa kalimat tersebut tidak fashih karena `dha'fu at-ta'lif. Wawan yang mendengarkan, ingin tahu mengapa kalimat tersebut dianggap tidak fashih menurut kaidah balaghah!

4 lines
13.

Dalam sebuah diskusi seni di sekolah, Siti mengemukakan pendapat bahwa ta'qīd ma'nawi (kerumitan makna) dianggap sebagai sebuah kecacatan. Namun, Mega berpendapat bahwa dalam konteks seni (puisi atau lirik lagu), kerumitan ini justru sering kali dianggap sebagai keindahan.

a. Apakah Anda setuju bahwa ta'qīd ma'nawi dapat menjadi keindahan dalam karya seni?

b. Jelaskan argumen Anda, berikan contoh dari lirik lagu atau puisi yang Anda ketahui, dan analisis mengapa kerumitan maknanya justru membuat karya tersebut menarik.

4 lines
14.

Dalam balaghah, dikenal konsep bahwa kalām (ungkapan) harus sesuai dengan muqtadhal-hal (konteks situasi dan kondisi). Misalnya, ketika Laila sedang belajar di rumah, ibunya bertanya apakah dia sudah menyelesaikan PR-nya. Jika Laila menjawab dengan santai bahwa dia akan melakukannya nanti, padahal waktu sudah sangat mepet, ucapan tersebut tidak sesuai dengan muqtadhal-hal yang ada. Hal ini dapat menyebabkan ibunya merasa khawatir dan marah, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kesalahpahaman atau konflik antara mereka. Jelaskan dengan bahasa Anda sendiri, mengapa kesesuaian ini sangat penting dalam komunikasi yang efektif. Berikan satu contoh konkret dari kehidupan sehari-hari (misalnya, di sekolah atau rumah) yang menggambarkan prinsip ini selain yang disebutkan!

4 lines
15.

Seorang penyair menulis:

نَشَرَ الْمَلِكُ أَلْسِنَتَهُ فِي الْمَدِينَةِ (Sang Raja menyebar lidah-lidahnya di kota). Kalimat ini dianggap tidak fashih karena ta'qīd ma'nawi.

a. Jelaskan mengapa lidah-lidahnya dianggap sebagai kiasan yang tidak tepat dalam konteks ini.

b. Tuliskan kembali kalimat tersebut agar menjadi fashih dengan kiasan yang lazim.

4 lines