WorksheetsIntroduction to Glomedcomm
Total questions: 10
Worksheet time: 10mins
Jika warga lokal di Eropa buat konten di TikTok tapi penontonnya mayoritas dari Indonesia https://drive.google.com/file/d/1MPacoAoiDQ5PEcPWKXuHLe09l5kL2BvM/view?usp=sharing, fenomena ini menunjukkan:
Cultural hybridity (Bhabha)
Global village (McLuhan)
Network society (Castells)
Imagined communities (Anderson)
Media di Korea Utara sepenuhnya dikontrol negara dan berfungsi sebagai alat propaganda, sedangkan di Korea Selatan terdapat media komersial yang lebih plural, dengan pers bebas dan beragam platform digital. Perbedaan ini paling tepat dijelaskan melalui konsep:
Authoritarian theory vs libertarian theory (Siebert et al.)
Public sphere (Habermas) vs Propaganda model (Herman & Chomsky)
State-owned media system vs Media convergence
Cultural proximity vs Cultural imperialism
Mengapa konflik Palestina–Israel atau Ukraina–Rusia lebih sering muncul di media global daripada konflik lokal di Papua?
Agenda-setting theory (McCombs & Shaw)
News value theory (Galtung & Ruge)
Framing theory (Entman)
Cultural proximity (Straubhaar)
K-Pop memakai bahasa Korea, campur Inggris, dengan dance ala Amerika, lalu viral di Indonesia. Fenomena ini menggambarkan:
Cultural hybridity (Bhabha)
Cultural imperialism (Schiller)
Global-local nexus (Robertson)
Intercultural miscommunication
Film Parasite (Korea Selatan) mendominasi pasar global dan menang Oscar. Fenomena ini menunjukkan:
Pergeseran dari cultural imperialism ke multi-directional media flows
Dominasi Hollywood tetap ada, hanya lebih fleksibel
Globalisasi sinema tidak lagi menimbulkan hegemoni
Sinema Asia menggantikan peran Barat sepenuhnya
Meme politik tentang NATO dan Rusia berbeda antara Eropa Barat dan Eropa Timur. Fenomena ini paling tepat dijelaskan dengan konsep:
Soft power (Nye)
Weaponized memes (Warfare Studies)
Propaganda model (Herman & Chomsky)
Digital populism
McDonald’s menyesuaikan menunya (ayam goreng di Indonesia, teriyaki burger di Jepang). Fenomena ini adalah contoh dari:
Glocalization (Robertson)
Global consumer culture (Featherstone)
Localization strategy
Cultural adaptation (Hall)
Budaya lokal ditampilkan dalam documentary Netflix. Hal ini mengandung risiko dan peluang berupa:
Cultural appropriation vs cultural appreciation
Cultural homogenization vs cultural heterogenization
Orientalism vs Occidentalism
Global North–South imbalance
Dalam film global, representasi perempuan sering mengikuti “male gaze” (Laura Mulvey). Apa implikasi utamanya?
Perempuan direpresentasikan sebagai objek visual laki-laki
Media memperkuat symbolic annihilation
Gender stereotypes direproduksi melalui media
Semua benar
Perusahaan fashion bikin kampanye “Go Green” tapi diam-diam tetap merusak lingkungan. Fenomena ini disebut:
Greenwashing
Corporate hypocrisy
Astroturfing
Reputation management
