NEW
Font size
WorksheetsTO 1 UP PPG PAI 2025
Total questions: 12
Worksheet time: 6mins
Di sebuah sekolah dasar, Pak Budi, seorang guru pendidikan agama, menghadapi tantangan. Beberapa siswanya menunjukkan perilaku kurang santun, seperti berbicara kasar dan kurang menghargai pendapat teman. Pak Budi menyadari bahwa pendekatan konvensional dengan hanya memberikan teori-teori tentang akhlak kurang efektif. Ia memutuskan untuk mengubah strategi pembelajarannya. Pak Budi memulai dengan menceritakan kisah-kisah teladan dari tokoh-tokoh saleh yang memiliki akhlak mulia. Ia juga mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat bermain, belajar kelompok, atau berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Selain itu, Pak Budi selalu berusaha menunjukkan contoh perilaku yang baik, seperti mengucapkan salam, mendengarkan dengan sabar, dan menolong siswa yang kesulitan. Pak Budi ingin merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik untuk ranah sikap (afektif) guna meningkatkan keimanan dan akhlak mulia siswa.
Berdasarkan deskripsi kasus di atas, rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling tepat untuk diterapkan Pak Budi adalah...
Siswa dapat memahami pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari
Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW
Siswa dapat menginternalisasi dan mengaplikasikan perilaku santun dalam interaksi sosial di sekolah dan lingkungan keluarga
Siswa dapat menjelaskan konsep keteladanan sebagai metode pembentukan akhlak
Siswa dapat menghafal hadis-hadis tentang keutamaan akhlak mulia
Ibu Fatimah, guru Pendidikan Agama Islam di sebuah SMP, menghadapi fenomena baru di kelasnya. Banyak siswanya yang aktif di media sosial, namun ia mengamati bahwa interaksi mereka sering kali diwarnai dengan komentar negatif, penyebaran berita bohong (hoax), bahkan perundungan siber (cyberbullying). Ibu Fatimah menyadari bahwa akhlak mulia tidak hanya relevan dalam interaksi tatap muka, tetapi juga di dunia maya. Untuk mengatasi masalah ini, Ibu Fatimah merancang sebuah unit pembelajaran khusus tentang etika digital dalam perspektif Islam. Ia mengajak siswa berdiskusi tentang konsep tabayyun (klarifikasi), pentingnya menjaga lisan (dalam hal ini, jari), serta dampak buruk dari perundungan daring. Ibu Fatimah berencana merumuskan tujuan pembelajaran yang dapat membentuk sikap dan kesadaran siswa agar mereka dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui interaksi digital yang positif.
Rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan pendekatan yang dilakukan Ibu Fatimah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa dalam konteks era digital adalah...
Siswa dapat memahami definisi dan jenis-jenis perundungan siber
Siswa dapat membuat konten digital yang berisi pesan-pesan positif tentang akhlak mulia
Siswa dapat mengidentifikasi hadis-hadis tentang pentingnya berkata baik di media sosial
Siswa dapat menyadari dan mempraktikkan sikap bertanggung jawab, kritis, dan beretika dalam menggunakan media sosial sesuai ajaran Islam
Siswa dapat menjelaskan perbedaan antara berita benar dan berita bohong
Di sebuah desa, terjadi kasus pernikahan antara Mawar (16 tahun) dan Budi (18 tahun). Pernikahan ini dipicu oleh desakan keluarga yang khawatir akan pandangan masyarakat jika Mawar tidak segera menikah, meskipun Mawar sendiri masih ingin melanjutkan sekolah. Mereka berdua belum memiliki pekerjaan tetap dan pemahaman yang minim tentang tanggung jawab rumah tangga. Setelah beberapa bulan menikah, mereka menghadapi berbagai masalah, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik rumah tangga yang sering terjadi, hingga terhentinya pendidikan Mawar. Kasus ini menimbulkan perdebatan di masyarakat: apakah pernikahan di usia dini dapat dibenarkan atas dasar adat istiadat, ataukah seharusnya masyarakat lebih mengutamakan pendidikan dan kesiapan mental serta finansial calon pengantin? Sebagai calon pendidik, Anda ingin menyusun materi pembelajaran tentang pernikahan yang mendorong siswa untuk tidak hanya mengetahui syarat dan rukun nikah, tetapi juga mampu berpikir kritis dan menganalisis dampak dari setiap keputusan terkait pernikahan.
Berdasarkan kasus di atas, rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan (kognitif) yang paling sesuai untuk melatih peserta didik berpikir kritis adalah…
Siswa dapat menjelaskan syarat dan rukun pernikahan menurut ajaran Islam
Siswa dapat menyebutkan dalil-dalil syar'i tentang anjuran untuk menikah
Siswa dapat mengidentifikasi dampak negatif pernikahan di bawah umur dari aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan
iswa dapat menganalisis dan mengevaluasi kasus pernikahan di bawah umur berdasarkan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan di Indonesia
Siswa dapat memahami pentingnya komunikasi yang baik dalam membangun rumah tangga yang harmonis
Ani, seorang mahasiswi muslim, berencana menikah dengan Doni, seorang laki-laki beragama Kristen. Kedua keluarga mereka menentang keras rencana ini, masing-masing dengan alasan keyakinan agama. Ani dan Doni berpendapat bahwa cinta dan toleransi seharusnya menjadi landasan utama, sementara keluarga mereka bersikukuh bahwa pernikahan beda agama tidak sah secara hukum agama dan dapat menimbulkan masalah besar di masa depan, terutama terkait dengan pendidikan anak dan tradisi keagamaan. Kasus ini mencerminkan kompleksitas pernikahan di era modern, di mana individu sering dihadapkan pada pilihan antara mengikuti keyakinan dan tradisi keluarga atau mengejar kebahagiaan pribadi. Sebagai seorang guru, Anda ingin merancang pembelajaran yang tidak hanya membahas hukum pernikahan dalam Islam, tetapi juga mendorong siswa untuk dapat mengeksplorasi isu-isu kontemporer dan berpikir secara kritis dalam konteks hukum dan sosial.
Rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan (kognitif) yang paling tepat untuk memfasilitasi peserta didik agar mampu berpikir kritis terhadap isu pernikahan beda agama adalah…
Siswa dapat memahami konsep pernikahan dalam Islam dan di agama lain
Siswa dapat menjelaskan dalil-dalil yang melarang pernikahan antara muslimah dan laki-laki non-muslim
Siswa dapat membandingkan dan mengevaluasi pandangan hukum, sosial, dan agama terkait pernikahan beda agama di Indonesia
Siswa dapat menyebutkan dampak psikologis pernikahan beda agama terhadap pasangan
Siswa dapat menghafal ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan pernikahan
Sekelompok mahasiswa semester 5 di sebuah universitas sedang mempelajari mata kuliah Ilmu Hadis. Dosen mereka memberikan tugas yang cukup menantang: menganalisis beberapa hadis tentang anjuran tolong-menolong dan gotong royong. Dosen tersebut mengarahkan mereka untuk tidak hanya menghafal teks hadis, tetapi juga menelusuri sanad (jalur periwayatan) dan matan (isi teks) untuk menentukan kriteria kesahihan hadis (shahih, hasan, atau dhaif). Dosen memotivasi mahasiswa untuk bekerja sama dalam tim, di mana setiap anggota memiliki peran spesifik—satu mencari sumber referensi, yang lain menganalisis sanad, dan yang lainnya lagi mengkaji matan hadis. Tujuannya adalah agar mereka dapat memahami bahwa validasi hadis bukanlah pekerjaan individu, melainkan kolaborasi ilmiah yang membutuhkan ketelitian dan kejujuran. Selain itu, proses kerja tim ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling membantu dan bertanggung jawab.
Berdasarkan narasi di atas, rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan (psikomotorik) yang paling sesuai untuk menumbuhkan semangat gotong royong peserta didik adalah...
Mahasiswa dapat mengidentifikasi para perawi hadis dari jalur sanad yang diberikan
Mahasiswa dapat membedakan antara hadis shahih, hasan, dan dhaif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan
Mahasiswa dapat membuat laporan hasil analisis kelayakan hadis secara individu dengan sistematis
Mahasiswa dapat menyajikan hasil analisis kriteria hadis shahih dalam presentasi kelompok yang terstruktur dan interaktif
Mahasiswa dapat berkolaborasi dalam tim untuk menganalisis sanad dan matan hadis, serta menyusun laporan ilmiah secara kolektif
Sebuah kampus mengadakan program pengabdian masyarakat di sebuah desa yang sering dilanda banjir. Mahasiswa dari Jurusan Ilmu Hadis ditugaskan untuk menyusun materi edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan berdasarkan ajaran Islam. Mereka harus mencari dan menganalisis hadis-hadis yang relevan dengan tema tersebut. Dosen pembimbing menantang mereka untuk bekerja sama dengan mahasiswa dari jurusan lain—misalnya, mahasiswa Teknik Lingkungan untuk memahami aspek teknis pengelolaan sampah, dan mahasiswa Komunikasi untuk membuat media kampanye yang efektif. Dalam proses ini, mahasiswa Ilmu Hadis harus memverifikasi hadis yang akan digunakan, memastikan kevalidan dan kesesuaiannya dengan konteks modern, sementara mahasiswa dari jurusan lain memberikan masukan praktis. Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan tidak hanya menghasilkan materi yang akurat, tetapi juga menumbuhkan empati dan kerja sama tim dalam menghadapi masalah sosial.
Rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan (psikomotorik) yang paling sesuai untuk mengembangkan semangat gotong royong melalui proyek tersebut adalah...
Mahasiswa dapat menganalisis dan menjustifikasi validitas sebuah hadis terkait kebersihan secara individual
Mahasiswa dapat mempresentasikan hasil temuan mereka tentang kriteria hadis shahih di hadapan tim pengabdian masyarakat
Mahasiswa dapat membuat media kampanye yang menarik dan efektif tentang pentingnya menjaga lingkungan
Mahasiswa dapat merancang dan melaksanakan program edukasi berbasis hadis di masyarakat secara berkelompok, dengan melibatkan peran dari berbagai disiplin ilmu
Mahasiswa dapat mendokumentasikan proses verifikasi hadis dengan baik dan sistematis dalam laporan akhir
Di sebuah desa kecil, ada seorang pemuda bernama Andi yang memiliki impian besar untuk menjadi seorang seniman. Namun, keluarganya memiliki tradisi turun-temurun di mana semua anggota keluarga laki-laki harus meneruskan usaha pertanian milik keluarga. Ayah Andi, yang sangat menghargai tradisi, meyakini bahwa takdir Andi adalah menjadi petani, seperti kakek dan buyutnya. Ayah Andi tidak bermaksud membatasi, tetapi ia khawatir Andi akan gagal jika mengejar impian yang dianggapnya tidak realistis. Situasi ini membuat Andi dilema. Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya dan ia juga menyadari bahwa tradisi ini telah menjaga kesejahteraan keluarga selama puluhan tahun. Di sisi lain, ia juga merasa bahwa mengejar takdir sebagai petani bukanlah takdir yang ia inginkan. Sebagai seorang guru, Anda ingin mengajarkan konsep takdir (qada dan qadar) agar siswa dapat memiliki sikap bijak dan menerima tradisi sebagai bagian dari kehidupan, tanpa harus mengorbankan potensi diri.
Berdasarkan deskripsi kasus di atas, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai agar peserta didik memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi adalah...
Peserta didik dapat memahami perbedaan antara takdir mubram dan takdir muallaq
Peserta didik dapat menjelaskan pentingnya menghargai orang tua dan tradisi keluarga
Peserta didik dapat menerima dan menyelaraskan nilai-nilai tradisi dengan aspirasi pribadi dalam menghadapi takdir
Peserta didik dapat membedakan antara takdir Tuhan dan pilihan hidup manusia
Peserta didik dapat menghafal ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan konsep takdir
Di sebuah pesantren modern, seorang santriwati bernama Fatimah merasa dilema. Ia memiliki minat yang kuat dalam bidang teknologi dan bercita-cita menjadi seorang developer aplikasi. Namun, tradisi pesantren tempatnya belajar, yang telah dipegang teguh selama puluhan tahun, lebih menekankan pada penguasaan ilmu-ilmu agama klasik, dan para lulusan diharapkan dapat mengabdikan diri sebagai pengajar di pesantren atau dai. Fatimah menghargai tradisi ini karena ia melihat bagaimana tradisi ini telah melahirkan banyak ulama besar. Namun, ia juga merasa bahwa ia memiliki takdir untuk berkontribusi pada umat melalui jalur yang berbeda. Ia khawatir jika ia mengejar minatnya di bidang teknologi, ia akan dianggap menyimpang dari tradisi. Sebagai seorang guru, Anda ingin mengajar tentang konsep takdir agar siswa dapat menghargai tradisi yang ada, namun juga berani mengambil peran baru untuk kemajuan umat, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan materi di atas agar peserta didik memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi adalah...
Peserta didik dapat mengidentifikasi peran ulama dalam melestarikan tradisi keilmuan Islam
Peserta didik dapat menjelaskan pentingnya berinovasi tanpa harus meninggalkan tradisi
Peserta didik dapat menunjukkan sikap bijak dalam memilih jalan hidup yang selaras dengan nilai-nilai tradisi tanpa mengabaikan potensi diri
Peserta didik dapat menghafal nama-nama tokoh ulama yang berkontribusi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
Peserta didik dapat menganalisis dampak positif dan negatif dari melestarikan tradisi
Pak Hasan adalah seorang guru di sebuah daerah yang masyarakatnya sangat memegang teguh tradisi sebagai pengrajin tenun. Hampir semua keluarga di sana mewariskan keahlian menenun dari generasi ke generasi. Suatu hari, salah seorang muridnya yang bernama Rian, seorang anak laki-laki yang cerdas dan berasal dari keluarga penenun terpandang, menyatakan bahwa ia tidak ingin menjadi pengrajin tenun. Rian memiliki minat besar pada bidang robotika dan bercita-cita melanjutkan studi di bidang teknik. Keluarga Rian merasa kecewa dan beranggapan bahwa Rian menolak takdirnya untuk melestarikan warisan leluhur. Mereka percaya bahwa takdir setiap anak di desa itu adalah menjaga tradisi yang telah menghidupi mereka selama ratusan tahun. Pak Hasan ingin mengembangkan materi ajar tentang takdir yang dapat membantu Rian dan siswa lainnya memahami bahwa menghormati tradisi tidak selalu berarti harus mematikan impian pribadi. Tujuannya adalah agar siswa dapat menyikapi takdir dan tradisi dengan bijaksana.
Berdasarkan deskripsi kasus di atas, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai agar peserta didik memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi adalah...
Peserta didik dapat menjelaskan sejarah dan makna filosofis dari tradisi tenun di daerahnya
Peserta didik dapat mengidentifikasi perbedaan antara takdir yang tidak dapat diubah dan takdir yang dapat diupayakan
Peserta didik dapat menghafal dalil-dalil yang berkaitan dengan kewajiban berbakti kepada orang tua dan menghormati leluhur
Peserta didik dapat menunjukkan sikap menghargai tradisi sebagai bagian dari identitas diri, sambil berikhtiar mengejar cita-cita yang sesuai dengan potensinya
Peserta didik dapat membandingkan profesi sebagai pengrajin tenun dengan profesi di bidang teknologi dari segi prospek masa depan
Ibu Aisyah mengajar di sebuah sekolah yang berada di lingkungan masyarakat dengan tradisi perjodohan yang masih kuat. Sebagian besar orang tua di sana meyakini bahwa takdir jodoh anak-anak mereka ada di tangan orang tua, karena orang tua dianggap lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan mereka. Suatu ketika, muncul kasus seorang siswi berprestasi bernama Anisa yang dijodohkan dengan seorang pria pilihan keluarganya. Anisa merasa tertekan karena ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan merasa belum siap untuk menikah. Namun, menolak perjodohan dianggap sebagai tindakan menentang takdir dan tidak menghormati tradisi serta keputusan orang tua. Ibu Aisyah ingin membawakan materi tentang takdir dengan pendekatan yang dapat membentuk sikap siswa agar dapat menghormati tradisi perjodohan sebagai bagian dari kearifan lokal, namun tetap kritis dan komunikatif dalam menyuarakan hak dan kesiapan diri mereka.
Merujuk pada kasus tersebut, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling tepat agar peserta didik memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi adalah...
Peserta didik dapat menjelaskan konsep ikhtiar dan tawakal dalam konteks menentukan pasangan hidup
Peserta didik dapat menunjukkan sikap hormat dan terbuka untuk berdiskusi dengan orang tua mengenai pandangan mereka tentang tradisi perjodohan
Peserta didik dapat menganalisis dampak positif dan negatif dari tradisi perjodohan di era modern
Peserta didik dapat menyebutkan syarat dan rukun pernikahan sesuai dengan hukum agama dan negara
Peserta didik dapat memahami bahwa takdir jodoh, rezeki, dan maut adalah ketetapan mutlak dari Tuhan
Di sebuah sekolah pascasarjana, terjadi perdebatan serius di antara mahasiswa Ilmu Tafsir. Mereka sedang membahas sebuah ayat yang maknanya terkesan ambigu dan dapat ditafsirkan secara beragam. Salah satu mahasiswa bersikeras bahwa hanya ada satu penafsiran yang benar, yaitu yang disampaikan oleh ulama salaf terdahulu, dan menolak penafsiran-penafsiran baru. Mahasiswa lain berpendapat bahwa seiring perkembangan zaman, penafsiran juga harus dinamis dan relevan, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Dosen mereka menjelaskan bahwa Al-Qur'an memiliki ayat muhkamat (yang jelas dan pasti maknanya) dan ayat mutasyabihat (yang maknanya multitafsir), dan perbedaan penafsiran pada ayat mutasyabihat adalah keniscayaan. Dosen tersebut mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, namun tetap inovatif, dengan mengembangkan metodologi penafsiran yang baru dan relevan untuk menghadapi tantangan kontemporer, sambil tetap menjaga orisinalitas Al-Qur'an.
Berdasarkan deskripsi kasus di atas, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk memfasilitasi peserta didik memiliki kemampuan berpikir dinamis dan inovatif adalah…
Peserta didik dapat menjelaskan definisi dan ciri-ciri ayat muhkamat dan mutasyabihat secara konvensional
Peserta didik dapat mengidentifikasi penafsiran-penafsiran ulama klasik terhadap ayat mutasyabihat yang berbeda.
Peserta didik dapat mengkritisi penafsiran ulama terdahulu yang dianggap tidak relevan dengan konteks zaman sekarang
Peserta didik dapat merumuskan metode penafsiran baru terhadap ayat mutasyabihat yang relevan dengan perkembangan sains dan teknologi
Peserta didik dapat membandingkan pendapat ulama-ulama kontemporer tentang penafsiran ayat muhkamat
Sebuah tim riset mahasiswa di bidang cyber-dakwah sedang merancang sebuah aplikasi edukasi tentang Al-Qur'an. Mereka menyadari bahwa banyak pengguna muda yang merasa sulit memahami ayat-ayat yang kompleks, terutama yang termasuk dalam kategori mutasyabihat. Tim ini ingin agar aplikasi mereka tidak hanya menyajikan tafsir dari satu mazhab saja, tetapi juga memberikan perspektif yang beragam, sehingga pengguna dapat melihat kekayaan khazanah keilmuan Islam. Mereka berdiskusi tentang bagaimana menyajikan ayat-ayat mutasyabihat dengan cara yang interaktif dan mudah diakses, tanpa mengikis kedalaman maknanya. Salah satu anggota tim mengusulkan untuk membuat fitur di mana pengguna bisa membandingkan penafsiran dari berbagai ulama secara visual, dan bahkan mengusulkan "pola pikir" (mind-map) yang dapat membantu pengguna memahami alur penafsiran. Tujuannya adalah untuk mendorong pengguna berpikir secara dinamis dan tidak terpaku pada satu pemahaman tunggal saja.
Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai dengan pendekatan tim riset tersebut agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir dinamis dan inovatif adalah…
Peserta didik dapat menyebutkan berbagai contoh ayat mutasyabihat yang sering disalahpahami oleh masyarakat umum
Peserta didik dapat menganalisis dan mengelompokkan berbagai penafsiran ayat mutasyabihat berdasarkan tema-tema tertentu
Peserta didik dapat menjelaskan alasan mengapa sebagian ayat Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk mutasyabihat
Peserta didik dapat merancang model interaktif yang memvisualisasikan perbedaan penafsiran antara ayat muhkamat dan mutasyabihat
Peserta didik dapat memahami bahwa hanya Allah SWT dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang mengetahui makna sesungguhnya dari ayat mutasyabihat
