Font size
WorksheetsNeurologi
Total questions: 121
Worksheet time: 1hrs 1mins
Perempuan, 25 tahun diantar suaminya ke poliklinik saraf dengan keluhan kejang sejak 2 minggu yang lalu. Menurut suaminya, bangkitan berupa seluruh tubuh menghentak-hentak dan pasien tidak sadar. Kejang seperti itu sudah terjadi beberapa kali. Pasien mengkonsumsi pil kontrasepsi sejak 6 bulan. Pemeriksaan fisik umum dan neurologi dalam batas normal. Apakah obat anti epilepsi yang yang paling tepat untuk pasien tersebut?
Valproat
Fenobarbital
Fenitoin
Karbamazepin
Primidone
Anak laki-laki 12 tahun dibawa ke unit gawat darurat dikarenakan mengalami bengong yang dialami sejak 1 jam yang lalu. Mata penderita terbuka dan pandangan tampak kosong meskipun berusaha untuk disadarkan. Tidak didapatkan kekakuan otot pada penderita. Sebelumnya dikatakan penderita juga sering bengong akan tetapi hanya 10-20 detik saja dan penderita hanya dibawa ke paranormal. Tidak ada demam, maupun riwayat trauma dan kerusakan otak lainnya. Manakah pernyataan yang BENAR terkait tatalaksana pada kasus tersebut?
Biasanya dapat dihentikan dengan pemberian benzodiazepine intravena
Fenitoin atau valproat merupakan pilihan pertama pada terapi pasien ini
Dosis klonazepam dapat diberikan 1 mg
Diazepam dapat diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg
Lorazepam digunakan sebagai terapi lini pertama dengan dosis 0,05 mg/kg
Laki-laki 47 tahun, datang ke poliklinik neurologi untuk konsultasi pengobatan epilepsi. Pasien telah memperoleh lamotrigin 500 mg per hari namun frekuensi serangan masih belum berkurang. Pasien kemudian mendapat tambahan asam valproat 600 mg per hari dan dosis lamotrigin diturunkan menjadi 400 mg per hari. Satu minggu kemudian pasien mengeluh dizzy dan tidak seimbang.Mekanisme apakah yang menjelaskan hal tersebut di atas?
inhibisi metabolisme asam valproat oleh lamotrigine
inhibisi metabolisme lamotrigine oleh asam valproat
asam valproat neurotoksisitas
sumasi efek samping lamotrigine dan asam valproat
lamotrigine neurotoksisitas
Laki-laki, 35 tahun, datang ke poliklinik mata dengan keluhan nyeri pada kedua mata dan pandangan menjadi sedikit buram. Pada pemeriksaan diperoleh tekanan intraokular 27 mmHg. Pasien sebelumnya telah terdiagnosis epilepsi dan memperoleh Obat Anti Epilepsi (OAE). Menurut pasien, keluhan muncul sekitar 1 bulan pasca mengkonsumsi OAE tersebut.
Apakah OAE yang paling mungkin dikonsumsi pasien sehingga menimbulkan keluhan di atas?
Fenitoin
Asam valproat
Levetiracetam
Topiramat
Zonisamide
Laki-laki, 55 tahun, dibawa ke poliklinik saraf dengan keluhan kejang berulang sejak 3 bulan yang lalu. Sekitar 5 bulan lalu pasien mengalami stroke penyumbatan. Pasien juga memiliki ganggguan irama jantung dan mendapatkan warfarin.Apakah obat antiepilepsi (OAE) yang paling sesuai untuk pasien di atas?
Levetiracetam
Fenitoin
Asam valproat
Lamotrigin
Clobazam
Anak perempuan, 15 bulan, dibawa ibunya ke IGD dengan keluhan kejang berulang sejak beberapa minggu SMRS. Menurut ibu pasien, tampak episode klonik berulang. Selain itu ibu pasien juga memperhatikan adanya gerakan menghentak (jerk) cepat pada kedua lengan bersamaan. Demam di sangkal. Pasien diketahui mengalami kejang pertama saat usia 6 bulan, namun saat itu disertai demam, kejang hanya sekali. Pasien telah dilakukan MRI dan EEG saat itu dan hasilnya tidak menunjukkan hasil bermakna. Riwayat tumbuh kembang pasien tampak mengalami regresi.Mutasi gen apakah yang terkait dengan sindrom epilepsi di atas?
EPM1
CHRNA4
EPM2a
CACNA1H
SCN1A (PCHD19)
Perempuan, 32 tahun, dikonsulkan dari sejawat penyakit dalam dengan keluhan kejang berulang selama 3 hari perawatan 2x. Dari anamnesis diketahui bahwa pasien pernah kejang sebelumnya dengan pre-iktal tidak diketahui, iktal tangan kiri terangkat, kemudian tidak sadar, mata mendelik ke atas kemudian kaku kelojotan. Durasi 2-3 menit. Post iktal pasien tertidur. Pasien juga mengeluhkan sakit kepala yang bertambah disertai muntah, mudah lupa seperti bacaan doa yang biasanya pasien hafal dan melihat dobel terutama saat melihat jauh. Sebelum dikonsulkan pasien dirawat karena ada benjolan di leher dicurigai kanker. Riwayat operasi tiroid 2 tahun yang lalu dan muncul kembali. TD 150/90, N 95x/menit, RR24x/menit, suhu 36,7oC, refleks cahaya melambat, kaku kuduk tidak ada.Apakah tatalaksana yang paling tepat untuk kasus di atas..
Pemberian diazepam IV 10mg bolus pelan 5 menit
Brain imaging
Pemberian loading fenitoin 20mg/Kg BB dan dexametason IV
Longterm EEG
Inisiasi levetiracetam po dan dexametason IV
Laki-laki, 51 tahun, dibawa ke poliklinik saraf dengan keluhan kejang berulang sejak 1 bulan yang lalu. Pasien didiagnosis sebagai epilepsi onset fokal. Tiga bulan sebelum serangan kejang, pasien mengalami stroke dengan faktor risiko atrial fibrilasi. Pasien memperoleh terapi warfarin secara rutin.
Apakah Obat Anti Epilepsi (OAE) yang sebaiknya TIDAK DIBERIKAN untuk pasien tersebut?
Zonisamid
Asam Valproat
Lamotrigin
Fenitoin
Levetiracetam
Perempuan, 34 tahun, dengan Systemic Lupus Erythematosus, dikonsulkan TS IPD dengan keluhan kejang berulang. Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa pasien menderita epilepsi lobus frontal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8mg/dl, Trombosit 80.000/dl. SGOT 102, SGPT 93, Ureum 145, Creatinin 3,7.Obat Anti Epilepsi manakah yang memberikan efek samping paling minimal jika diberikan untuk pasien tersebut?
Levetiracetam
Fenitoin
Topiramat
Lamotrigin
Karbamazepin
Perempuan, 25 tahun, datang ke poliklinik saraf untuk konsultasi terkait penyakit epilepsi yang dialaminya. Pasien telah didiagnosis epilepsy lobus frontal sejak usia 12 tahun. Saat ini pasien telah bebas bangkitan selama 2 tahun dengan menggunakan asam valproate dosis 750mg/hari. Pasien saat ini telah menikah dan ingin hamil. Apakah edukasi yang harus diberikan untuk pasien tersebut?
Menganjurkan pasien untuk menggugurkan
Menghentikan obat anti epilepsi yang digunakan
Obat anti epilepsi diteruskan dengan dosis semula
Menambahkan obat lain yaitu gabapentin
Mengganti obat anti epilepsi tersebut dengan lamotrigin
Sekelompok peneliti ingin mengetahui perbedaan terapi antituberkulosis standar dengan regimen baru yang mencakup rifampicin 15 mg/kgBB per hari dan levofloxacin 20 mg/kgBB per hari pada pasien dengan meningitis tuberkulosis. Didapatkan total 817 pasien dengan 409 pasien menerima regimen standar dan 408 pasien menerima regimen baru. Setelah sembilan bulan, 114 pasien dengan terapi standar dan 113 pasien dengan regimen baru meninggal. Hazard ratio 0.94; interval kepercayaan 0,73-1,22. Apakah kesimpulan yang paling tepat untuk penelitian di atas?
Nilai p dapat diperkirakan <0.05
Tidak ada perbedaan efek bermakna antara kedua regimen
Kedua regimen tidak efektif memperbaiki luaran meningitis tuberkulosis
Regimen standar memiliki efek yang lebih baik dari pada regimen baru
Peneliti melakukan studi multisenter yang melibatkan 362 orang berusia 18-60 tahun untuk melihat gangguan penglihatan pada diabetes mellitus. Hasil pemeriksaan diperoleh diagnosis DM pada 60 orang (grup 1) dan 302 orang non-DM (grup 2). Pada grup 1 diperoleh 10 orang mengalami gangguan penglihatan sedangkan pada grup 2 hanya 2 orang.
Berapakah Rasio Odd (OR) berdasarkan hasil penelitian di atas?
25
0.2
30
5
6
Laki-laki, 48 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan bicara tidak sesuai dengan isi percakapan sejak 6 bulan yang lalu. Menurut keluarga dan rekan kerja pasien, pasien menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang sama berulang-ulang. Keluhan dikatakan semakin memberat. Pasien adalah sarjana dan guru SMP (bahasa Indonesia), dengan adanya keluhan tersebut, sejak 1 bulan yang lalu sudah tidak dapat mengajar lagi. Daya ingat masih terpelihara, aktivitas sehari- hari mandiri, dapat mengendarai mobil tidak pernah tersesat, ingat jadwal menjemput anak. Pada pemeriksaan neurologi tidak terdapat defisit neurologis fokal. Pemeriksaan neuropsikologi, atensi dalam batas normal. fungsi bahasa bicara lancar, terdapat gangguan penamaan untuk kata-kata yang jarang digunakan, pemahaman sederhana baik, kompleks terganggu (Tes Keping: 26/36), mampu mengulang kalimat yang terdiri dari 6 kata. Mampu menulis dan membaca. MMSE: 30/30. DominasI tangan kanan. Apakah diagnosis kerja yang paling tepat pada kasus tersebut?
Afasia sensorik
Degeneratif lobus fronto temporal, non fluent primary progressive aphasia
Degeneratif lobus fronto temporal, fluent primary progressive aphasia (varian semantic)
Afasia motorik
Amnestic Mild Cognitive Impairment
Perempuan, 50 tahun, dibawa ke poliklinik saraf dengan keluhan tiba-tiba lupa' menyebutkan kata-kata sejak 1 bulan yang lalu. Saat itu, pasien tiba-tiba mengeluh sakit kepala, muntah, namun tetap sadar. Pasien masih dapat berkomunikasi, namun sering salah dalammenyebutkan kata-kata. 'Motor' disebutkan 'totor', 'Kelingking disebut 'telintin'. Pasien pendidikan SMA, pensiunan PNS, dominansi kanan.
Pada pemeriksaan neurologi terdapat paresis nervus VII kanan tipe sentral. Pemeriksaan bahasa mampu berbicara lancar, terdapat parafasia fonemik, mengerti percakapan sederhana dan kompleks, pasien hanya mampu mengulang satu kata terdiri dari 3 suku kata, terdapat gangguan penamaan terdapat parafasia fonemik dan semantik.
Apakah diagnosis klinis pasien ini?
Afasia transkortikal motorik
Afasia konduksi
Afasia sensorik
Afasia trankortikal campuran
Afasia transkortikal sensorik
Laki-laki, 69 tahun, dibawa ke klinik memori dengan keluhan gangguan ingatan yang memberat sejak 5 tahun yang lalu. Pasien terutama lupa terhadap informasi yang baru saja diterima dan sering bertanya berulang-ulang. Beberapa nama sanak keluarga juga dilupakan. Sejak satu tahun terakhir, pasien juga lambat dalam berpikir dan menjawab pertanyaan. Kegiatan sehari-hari perlu dibantu. Riwayat hipertensi, DM, keganasan, infeksi tidak ada. Selain diberikan donepezil, pasien juga dilatih dengan membicarakan sesuatu secara terus menerus dan berulang atau menunjukkan pengingat tertentu.
Apakah metode terapi non-farmakologis pada kasus di atas?
Adjusted memory treatment
Orientasi realitas
Snozelen therapy
Reminiscene
Stimulasi kognitif
Laki-laki, 56 tahun, dibawa anaknya ke poliklinik neurologi dengan keluhan mudah lupa sejak 3 tahun yang lalu. Menurut anaknya pasien lupa dengan nama-nama benda sederhana seperti pintu, meja, kursi dan lain- lain. Pasien tidak ada keluhan gangguan penglihatan, masih dapat melihat benda dengan baik. Pasien tidak mampu menjawab tugas pada Boston naming test. Pada saat diminta meraba benda ataupun diberikan petunjuk fungsi benda terkait, pasien tetap tidak dapat menyebutkan nama benda.
Dimanakah letaklesi pada gangguan di atas?
Lobus temporal dalam
Lobus parietal posterior
Frontal operculum
Area motorik suplementer
Fasikulus arkuatus
Laki-laki, 52 tahun, diantar anaknya ke poliklinik neurologi dengan keluhan mudah lupa sejak 1 tahun yang lalu. Menurut anaknya tidak dapat mengenali benda-benda yang ditunjukkan, seperti piring, gelas, telepon dan lain-lain. Pasien tidak ada gangguan penglihatan dan dapat melihat benda tersebut dengan baik. Pada pemeriksaan neurologis, pasien tidak mampu menyebutkan nama benda yang diperlihatkan, namun ketika diminta meraba benda tersebut, pasien mampu menyebutkan namanya. Apabila diberikan nama benda, pasien dapat menyebutkan fungsinya serta sebaliknya. Namun ketika diminta meniru gambar benda, pasien tidak dapat melakukannya.
Apakah diagnosis klinis yang sesuai dengan kasus di atas?
Aphemia (apraxia of speech / disorder of articulation)
Afasia anomik
Agnosia visual kompleks
Agnosia visual perseptif
Agnosia visual asosiatif
Perempuan, 23 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan nyeri kepala sejak 1 minggu. Nyeri kepala dirasakan diseluruh kepala dan cenderung memberat. Nyeri kepala lebih berat pada malam hari dan beberapa kali tampak episode pandangan buram. Pasien saat ini tengah hamil 14 minggu. Pada pemeriksaan neurologis diperoleh funduskopi papil ODS batas kabur, warna hiperemis, Aa: Vv 1:3 dan tampak perdarahan flame shaped. Defisit neurologis lain dalam batas normal. Pasien dilakukan MRI kepala dengan hasil sebagai berikut:
Apakah diagnosis kerja yang paling sesual untuk kasus di atas...
Cerebral Sinus Venous Thrombosis
Pseudotuimor orbita
Carcinomatous Meningitis
Posterior Reversible Encephalopathy Syndrome (PRES)
Idiopathic Intracranial Hypertension
Laki-laki, 33 tahun, dibawa ke IGD RS karena perubahan perilaku dan gelisah sejak 3 hari yang lalu. Bila diberi minum pasien menolak untuk minum dan terlihat ketakutan. Keluhan disertai demam sejak 4 hari lalu hilang timbul. Riwayat nyeri kepala tidak diketahui dengan jelas. Pasien bekerja sebagai penjaga anjing di Jakarta. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bekas luka cakaran hewan di tungkai kanan yang sudah mulai menutup. Skala Koma Glasgow E4M6V4, pupil dilatasi, tidak didapatkan defisit neurologis fokal namun didapatkan hipersalivasi dan hiperlakrimasi
Apakah diagnosis yang sesuai untuk kasus tersebut?
Rabies stadium paralitik
Rabies stadium sensori
Rabies stadium eksitasi
Ensefalitis viral
Psikotik akut
Perempuan, 20 tahun, dirujuk oleh sejawat spesialis mata dengan diagnosis suspek lesi intrakranial. Pasien dengan riwayat pandangan buram mata kanan sejak 6 bulan lalu. Keluhan saat ini tidak memberat namun kadang disertai nyeri kepala. Tidak ada penurunan berat badan maupun batuk lama. Pada pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4M6V5, Marcus Gunn (+) OD. Defisit neurologis lain tidak ada. Rontgen toraks dalam batas normal. Pada pemeriksaan MRI kepala didapatkan penyangatan pada nervus optikus kanan dan massa di sinus sfenoid. Hasil PA biopsi massa- gambaran inflamasi dan granulomatosa tanpa gambaran proses perkijuan.
Apakah diagnosis yang paling mungkin?
Sifilis stadium 2
Meningitis tuberkulosis
Sarkoidosis
Neuritis optika
Neuromyelitis optika
Perempuan, 25 tahun, dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran disertai kejang sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala dirasakan sangat hebat, memberat saat batuk dan disertai muntah. Pasien juga mengeluhkan gangguan pendengaran sejak 5 hari yang lalu. Pasien bekerja sebagai karyawan swasta, belum menikah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4M6V5, terdapat paresis N. VI bilateral dan papilledema bilateral. Pemeriksaan HIV penyaring memberikan hasil positif.
Apakah diagnosis yang paling mungkin untuk kasus tersebut?
Ensefalitis toksoplasma
Meningitis bakterial
Ensefalitis virus
Limfoma SSP
Meningitis kriptokokus
Laki-laki, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 3 hari SMRS. Sejak 1 bulan SMRS pasien mengeluh demam naik-turun, namun tidak pernah tinggi dan sesekali mengeluh nyeri kepala. Nyeri kepala makin memberat, skala 5-6, tanpa muntah. Selain itu pasien juga mengeluh batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh sejak 1.5 bulan. Pada pemeriksaan fisik diperoleh GCS E1M2V1, kaku kuduk positif dan paresis nervus VI sinistra.
Manakah stadium penyakit yang paling sesuai untuk kasus di atas?
4
3
2
5
1
Perempuan, 31 tahun, datang ke spesialis Neurologi dengan keluhan pandangan mata kanan buram sejak 5 hari yang lalu. Keluhan disertai rasa pegal pada mata kanan. Dua tahun yang lalu pasien pernah mengalami kelumpuhan yang membaik setelah 2 bulan. Tidak ada keluhan demam. Pada pemeriksaan fisik diperoleh GCS 15, pupil bulat isokor 3mm/3mm, RCL -/+, RCTL-/+, RAPD (+), funduskopi dalam batas normal. Defisit neurologis lain tidak ada.
Apakah mekanisme imunologis yang mendasari kasus di atas?
T helper 1 diaktivasi oleh infeksi virus dan melepaskan sitokin proinflamasi yang akan menembus BBB
Sel T CD41 diaktivasi oleh sel B sehingga menyerang MBP dan MOG yang akan melepaskan TNFa dan IFNy. Sitokin proinflamasi akan memicu pelepasan oligoklonal band
Connexin pada BBB mengalami kerusakan akibat infiltrasi sel T CD41 dan TNFa
Sel T CD41 diaktivasi oleh MBP dan MOG kemudian mengakitfkan sel B yang akan menghasilkan oligoklonal band dan TNFa dan IFNY
Sel B akan menghasilkan antibodi dan mereaktivasi sel T yang sensitive terhadap myelin sehingga menimbulkan kerusakan dan axon loss
Laki-laki, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran mendadak 2 jam SMRS. Menurut adik pasien, pasien. sebelumnya kejang berulang sebanyak 5 kali dan pasca kejang terakhir pasien tidak sadar. Pemeriksaan fisik: TD 130/90mmHg, frekuensi nadi: 108x/menit, frekuensi nafas: 20x/menit, suhu 36,5C, GCS E2M5V4.
Apakah tatalaksana medikamentosa lini pertama pada pasien ini?
Fenitoin 15-20 mg/KgBB intravena
Diazepam 10mg intravena
Levetiracetam 20mg/KBB per oral
Topiramat 300mg peroral
Asam Valproat 20mg/KgBB peroral
Laki-laki, 44 tahun, telah dirawat di ICU selama 1,5 bulan dengan diagnosis stroke iskemik, riwayat sepsis, pneumonia, hipertensi, dan diabetes mellitus tipe 2. Setelah kondisi tanda vital normal dan stabil, pasien dipindahkan ke ruang rawat biasa. Status neurologis saat baru pindah GCS E2M5Vtrakeostomi, pupil bulat isokor 3mm/3mm, reflex cahaya langsung dan tak langsung normal. Reflex batang otak lain dalam batas normal. Terdapat kesan hemiparesis kanan. Refleks patologis Babinski sisi kanan positif.Hasil laboratorium dalam batas normal. Hasil CT scan kepala sehari yang lalu terdapat infark di basal ganglia kiri. Hasil EEG menunjukkan latar belakang irama delta dengan amplitude rendah. Menurut perawat ICU, pasien kadang membuka mata spontan selama beberapa menit, kemudian menutup kembali. Tidak ada kontak dengan orang sekitar.
Apakah jenis keadaan yang dialami pasien saat ini?
Prolonged coma
Minimally conscious state
Vegetative state
Persistent vegetative state
Delirium
Laki-laki, 25 tahun, dilaporkan oleh perawat ranap dengan keluhan tiba-tiba tidak bergerak lagi saat dibangunkan. Pasien sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas 9 jam yl dan masuk ke IGD RS 3 jam lalu dengan keadaan umum somnolen, tekanan darah 130/80mmHg, Frekuensi nadi 108x/menit, Frek.napas 20x/menit, suhu afebris.
Pemeriksaan saat ini GCS E1M2V2=5, tekanan darah 140/70mmHg, Frekuensi nadi 110x/menit, Frekuensi napas 24x/menit. Pupil isokor 5mm/5mm, refleks cahaya negatif bilateral. Tidak ada lateralisasi saat awal di IGD dan sekarang.
Apakah jenis herniasi serebri yang terjadi pada pasien tersebut?
Unkal
Transtentorial sentral
Upward
Subfalsin
Tonsilar
Laki-laki, 56 tahun, dirawat di ruang perawatan ICU dengan penurunan kesadaran sejak 10 hari SMRS pasca infark teritori MCA dan transformasi hemoragik. Saat ini kondisi pasien E1M1VETT, pupil bulat isokor 6mm/6mm, refleks cahaya negatif, refleks oculosefalik, oculovestibular dan refleks batuk negatif. Pasien telah dilakukan tes apneu dengan gerakan pernafasan negatif dan peningkatan pC02 35 mmHg dari baseline. Manakah pernyataan yang BENAR mengenai penggunaan ancillary testing untuk prosedur di atas?
TCD dapat memperlihatkan reversal of diastolic flow dan systolic spikes
Evoked potential belum pernah digunakan sebagai ancillary testing
Isoelectric EEG paling sensitif sebagai temuan pada ancillary testing
. Hasil temuan signifikan pada EEG adalah alfa coma diffuse
Nuclide brain scanning memiliki sensitifitas mendekati 100% namun spesifitas hanya 75%
Laki-laki, 61 tahun, dirawat di ruang ICU dengan penurunan kesadaran. Pada saat sedang rapat, pasien tiba-tiba mengalami kelemahan sisi kanan. Pasien didiagnosis stroke. Pada awal tiba di IGD pasien diperoleh tekanan darah 200/110 mmHg, frekuensi nadi 72 kali/menit, tanda vital lain dalam batas normal, GCS 15 dan kekuatan motorik 4. Pasien diberikan mannitol dan kombinasi ramipril dan amlodipine. Saat ini diperoleh GCS 11 dengan kesan kekuatan motorik memberat. Apakah mekanisme yang mendasari hal tersebut?
CBF menurun dan CPP meningkat
Vasokonstriksi akibat tekanan darah tidak dikoreksi dengan benar
CBF meningkat dan CPP meningkat
CBF meningkat karena vasokonstriksi
Vasodilatasi karena CBF menurun
Anak perempuan, 4 tahun, dibawa ibunya ke poliklinik saraf dengan keluhan gangguan tumbuh kembang, Pasien baru bisa duduk saat usia 1,5 tahun dan berjalan usia 3 tahun. Saat ini pasien belum dapat bicara. Pada pemeriksaan fisik didapatkan area penghubung kedua mata datar dan lipatan telapak tangan tunggal. (Down syndrome).
Apakah penyebab kelainan pada pasien tersebut?
Down syndrome akibat translokasi kromosom 21
West syndrome akibat agenesis kromosome 21
Rett Syndrome akibat trisomi kromosom 21.
Down syndrome akibat agenesis kromosom 21
Down syndrome akibat trisomi kromosom 21
Anak perempuan, 7 tahun, dibawa ibunya ke poliklinik saraf dengan keluhan banyak bergerak tidak bisa duduk diam. Anak dapat bermain dengan teman sebaya. Saat ini belum lancar bicara, mengemukakan keinginan dengan merangkai 4 kata, dan dapat mengerti perintah sederhana. Anak bersekolah di kelas 1 SD tapi tidak mau duduk. banyak bergerak. Test perkembangan menunjukkan kemampuan anak usia 5 tahun.
Apakah diagnosis yang paling mungkin pada penderita ini?
Autisme
Mental retardasi ringan
Mental retardasi sedang
ADHD
Mental retardasi berat
Anak laki-laki, 17 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan pusing berputar sejak 3 bulan yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluh gangguan pendengaran sejak 4 th yang lalu. MRI kepala menunjukkan schwannoma vestibular bilateral. Terdapat riwayat penyakit serupa dan multiple meningioma pada ibunya.
Manakah pernyataan yang BENAR terkait patogenesis kasus di atas?
cutaneous neurofibromas dan axillary freckling termasuk kriteria diagnostik
disebabkan oleh mutasi gen yang mengkode protein schwannomin pada kromosom X
disebabkan oleh mutasi gen yang mengkode protein merlin pada kromosom 22
disebabkan mutasi gen yang mengkode neurofibromin pada kromosom 17
diturunkan dengan pola autosomal resesif
Laki-laki, 35 tahun, dirawat di ICU dengan penurunan kesadaran pasca kecelakaan lalu lintas. Pasien telah dilakukan kraniektomi karena terdapat EDH, namun kesadaran belum juga membaik. Pasien juga telah memperoleh mannitol. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan osmolaritas serum 328 mOsm/kg, natrium 159 mEq/L, blood urea nitrogen (BUN) 21 mg/dL, kreatinin serum 1.1 mg/dL, dan glukosa 180 mg/dL.
Manakah tatalaksana berikut yang paling sesuai?
Manitol dihentikan karena osmolaritas dan hypernatremia,
Manitol dapat dilanjutkan berdasarkan hasil osmolal gap
Manitol dapat dilanjutkan berdasarkan hasil osmolaritas
Manitol dihentikan karena osmolaritas tinggi
Manitol dihentikan karena hipernatremia
Laki-laki, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan kelemahan sisi kanan 6 jam pasca kecelakaan. Pasien terjatuh dari motor dan sesaat kemudian mengalami penurunan kesadaran, namun hanya berlangsung beberapa menit. Pasien dapat berkomunikasi dan mengeluhkan nyeri kepala serta kelemahan pada sisi kanan. Beberapa jam kemudian pasien terlihat mengantuk dan mulai sulit dibangunkan. Pada pemeriksaan fisik diperoleh GCS E2MSV3, pupil bulat anisokor 3mm/4 mm, RCL +/-, RCTL -/+, kesan hemiparesis dekstra. Pasien dilakukan CT scan kepala dan didapatkan perdarahan.
Manakah pernyataan yang BENAR terkait pembuluh darah yang menyebabkan kerusakan pada kasus di atas?
Pembuluh darah yang dimaksud adalah bridging vein (SDH)
Pembuluh darah tersebut berjalan melalui foramen spinosum (arteri meningea media)
Kerusakan pada kanalis karotikus merobek pembuluh darah yang menimbulkan klinis di atas
Pembuluh darah yang dimaksud adalah vena emissaria
Pembuluh darah tersebut mensuplai darah ke sinus venosus pada permukaan duramater
Laki-laki 55 tahun, dibawa ke IGD pasca kecelakaan lalu lintas 3 jam yang lalu, Pasien mengalami benturan di kepalanya. Penurunan kesadaran dan kejang disangkal, Nyeri kepala, ada, namun ringan, dan hanya pada pelipis yang lebam. Tidak ada muai dan muntah, Pasien masih ingat kejadian kecelakaan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan luka lecet dan lebam pada dahi GCS 15, pupil bulat isokor 3mm/3mm, refleks cahaya pon tidak dermukan raccon eye, battle sign, rhinorhea, otorhea, serta defisit neurologis
Manakah pernyataan yang BENAR mengenai penatalaksanaan pasien ini selanjutnya?
Berdasarkan kriteria New Orleans, pasien terindikasi dilakukan CT scan kepala
Pasien direkomendasikan untuk rawat 2x24 jam
Pasion terindikasi CT scan kepala karena tergolong concussion
Berdasarkan kriteria New Orleans dan Canadian CT Head Rule pasien tidak terindikasi dilakukan CT scan kepala
Berdasarkan kriteria Canadian CT Head Rule, paslen terindikasi dilakukan CT scan kepala
Laki-laki, 55 tahun, datang ke Poliklinik RS dengan keluhan rasa nyeri di daerah pinggang kanan sejak 1 minggu yang lalu, setelah jatuh terduduk. Nyeri mendenyut dan menjalar ke tungkal kanan, seperti terbakar, kesetrum listrik, ditusuk jarum, dan kebas-kebas, hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada daerah lumbal. Laseque
<70/70 alodinia dan hiperalgesia pada tungkai kanan
Apakah diagnosis pada kasus ini berdasarkan nyeri yang dialaminya?
Nyeri nosiseptik visceral
. Nyeri neuropatik
Nyeri fungsional
Mixed pain
Nyeri nosiseptik somatic
Laki-laki, 65 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri bahu kiri yang memberat sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri bahu terutama menggerakkan lengan dan didapatkan kesan restriksi derajat pergerakan sendi gelang bahu. Satu tahun yang lalu pasteri didiagnosis stroke iskemik dengan hemiparesis sinistra kekuatan
3. Skor pasien NIHSS 13 dan Barthel Index 60. Riwayat trauma ataupun demam disangkal Nyeri gelang bahu dipikirkan tipe aksial dan diduga kuat akibat tidak dilakukan program fisioterapi atau olahraga terkait rehabilitasi paskastroke.
Manakah yang TIDAK TERMASUK dalam pemeriksaan fisik terkait diagnosis diatas?
Pemeriksaan Neer
Pemeriksaan Tornado
Pemeriksaan Hawkins Kennedy
Pemeriksaan Empty Can
Pemeriksaan Belly press
Laki-laki, 25 tahun, kontrol ke poliklinik saraf karena nyeri pada kedua tungkai sejak 1 minggu yang lalu.Satu minggu yang lalu pasien terjatuh dari balkon 3 meter dan menyebaban kelumpuhan kedua tungkai. Saat ini kelumpuhan perbaikan, namun nyeri dirasakan menetap. Nyeri dirasakan tajam, dari pusar hingga kedua tungkai
Mekanisme apakah yang menjelaskan terjadinya nyeri tersebut?
Reseptor adrenegik yang berlebihan pada saraf yang regenerasi
Terjadinya sirkuit pendek simpatik eferen-somatik aferen pada saraf yang rusak
Hiperaktivasi neuron nyen ordo 2 yang mengalami deaferensiasi
Serabut saraf A delta dan C menjadi lebih rentan terhadap aktivasi ephatic
Serabut saraf A delta dan C mengalami aktivasi ektopik spontan
Laki-laki, 45 tahun, dikonsulkan ke poliklinik neurologi oleh sejawat THT dengan keluhan nyeri leher sisi kiri sejak 6 bulan SMRS Pasien sebelumnya telah terdiagnosis karsinoma nasofaring. Saat ini keluhan yang sangat mengganggu adalah nyeri leher sisi kini dari benjolan hingga ke kepala bagian belakang, Nyeri seperti ditusuk-tusuk dan panas dengan intensitas yang makin bertambah, yakni dari skala nyeri 3-4 menjadi 8-9 Pasien mendapatkan morfin, Manakah pernyataan yang SALAH mengenal golongan obat yang diberikan pada kasus di atas?
Tidak mengintervensi mekanisme nyeri histaminik
Konsentrasi reseptor yang terbanyak dorsolateral pons O
Bekerja di pre-sinaps dan post sinaps laminat dan V. kornu dorsalis
Menginterversi mekanisme nyeri serotonergik dan noradrenergic
Mensupresi serabut aferen A delta pada kornu dorsalis
Laki-laki, 20 tahun, dibawa ke ke IGD pasca tersiram air panas 1 jam yang lalu. Saat di IGD pasien dengan kesadaran komposmentis, nyeri dengan NRS 7-8, TD. 160/100, HR. 100x/m, RR. 24 x/m, Suhu afebris dan didiagnosis dengan luka bakar grade II - sebesar 32%
Berapakah kecepatan hantar saraf serabut saraf yang terlibat pada kasus di atas?
530 m/detik
<0.5 m/detik
35-75 m/detik
0.5-2 m/detik
80-120 m/detik
Perempuan, 49 tahun, dibawa ke poliklinik dengan keluhan nyeri punggung bawah sejak 5 bulan yang lalu. Nyeri awalnya hanya terlokalisir di punggung, dan tidak menjalar. Nyeri terasa seperti pegal dan ngilu. Selang 1.5 bulan, nyeri mulai menjalar ke tungkal dan diikuti oleh nyeri seperti mengikat perutnya. Intensitas nyeri makin memberat dari 3-4 hingga 8-9. Selain itu kedua tungkai pasien juga terasa lemah hingga tidak bisa digerakkan dalam 2 bulan terakhir. Sejak 6 minggu terakhir, dari bagian pusar hingga ke rungkai dirasakan kebas. Dan 2 minggu terakhir, BAB dan BAK terganggu. Riwayat Tuberkulosis disangkal. Pasien dilakukan MRI vertebra dan diperoleh kesan adanya malignnasi.
Patofisiologi perluasan tumor manakah di bawah ini yang dapat menjelaskan kasus di atas?
Infiltrasi radis dan medula spinalis
Tumor intramedula
Metastasis leptomeningeal
Tumor ekstradural
Tumor intradural ekstramedula
Laki-laki 19 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan pandangan buram sejak 1 bulan sebelumnya. Pandangan buram terutama pada kedua sisi luar kanan dan kiri. Pasien juga terdapat keluhan sering haus dan buang air kecil malam hari. Sejak 1 minggu pasien merasa kepala tidak enak di bagian dahi dan cenderung mengantuk.
Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
Adenoma hipofisis
Pinealoma
Glioma optikum
Meningioma frontal
Pineablastom
Laki laki, 29 tahun, dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran sejak 1 hari sebelumnya. Pasien sudah merasakan pandangan buram sejak 1 bulan, terutama pandangan kedua sisi luar kanan dan kiri. Pasien juga terdapat keluhan sering haus dan buang air kecil malam han. Sejak 1 minggu pasien merasa sakit kepala di puncak kepala dan cenderung mengantuk
Apakah kemungkinan penyebab penurunan kesadaran pada pasien ini?
Penekanan batang brak
Lesi difus di kedua hemisfer
Lesi juas di salah satu hemisfer
Penekanan ventrikel
Penekanan thalamus
Perempuan, 32 tahun, datang ke poliklinik saraf RS Majalengka dengan keluhan sakit kepala sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri kepala terjadi di sisi kanan, rasa seperti berdenyut benda berat, disertai mual/muntah Intensitas nyeri 6-7 dan menenanggu aktivitas. Sakit kepala dapat berlangsung hingga seharian Pasien belum pernah mengalami nyeri kepala seperti ini sebelumnya Pasien saat ini sedang hamil, G1POAO, 20 minggu. Pada pemeriksaan fisik umum dan neurologis tidak diperoleh kelainan. Funduskopi ODS, papil batas tegas, jingga, Aa:Vv 2:3, cupping positif. MRI kepala dalam batas normal
Apakah tatalaksania medikamentosa yang paling tepat pada pasien ini?
Propranolol
Asam Valproat
Parasetamol
Sumatriptan
Metisergide
Laki-laki, 65 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri kepala yang menetap sejak 2 minggu SMRS. Nyeri kepala terutama dirasakan pada sisi frontotemporal kanan, terasa berdenyut dengan intensitas sedang hingga berat sehingga mengganggu aktivitas Pasien juga mengeluh demam, penurunan nafsu makan, rasa ngilu pada otot, serta nyeri saat mengunyah. Pasien memiliki riwayat hipertensi terkontrol Pada pemeriksaan fisik diperoleh nyeri pada scalp kanan Pemeriksaan neurologis lain dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium hanya diperoleh peningkatan LED 83 min/jam, hasil lain dalam batas normal.
Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat untuk pasien ini ?
Metilpredisolon IV
Sumatriptan IV
Metotrexate dan lamotrigin
Biopsi arteri temporal
MRI kepala
Perempuan, 28 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan nyeri kepala hebat di daerah mata kiri, hilang timbul diserta penglihatan ganda dan nyeri di daerah dahi dan pipi kiri. Nyeri kepala berlangsung sejak 3 minggu yang lalu. Pemeriksaan fisik tidak ditemukan kemerahan konjungtiva, kongesti nasal, maupun oedem palpebra sinistra. Pemeriksaan neurologis ditemukan parese N. III, IV, VI sinistra, lesi N. V/1 dan N V/2 sinistra.
Apakah tatalaksana medikamentosa yang paling tepat untuk pasien ini?
Indometasin
Tramadol
Asetaminofen
Prednison
Sumatriptan
Laki-laki, 35 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan nyeri kepala sisi kiri, terutama dibelakang bola mata yang terjadi sejak 10 hari yang lalu. Tipe nyeri kepala berdenyut, dengan intensitas nyeri berat. Saat nyeri kepala timbul penderita mengeluh mata yang kiri merah dan berair, serta diikuti hidung tersumbat. Nyeri kepala ini sudah sering dialami oleh penderita, bahkan hampir setiap hari. Hasil pemeriksaan CT scan kepala normal.
Apakah diagnosis pada pasien tersebut?
Thunderclap headache
Cluster headache.
Hypnic headache
Migren dengan aura
New daily persistent headache
Laki-laki 45 thn, datang ke poliklinik Neurologi dengan keluhan rasa nyeri hebat, tiba-tiba, unilateral, singkat, berulang pada wajah sebelah kiri, nyeri ini dipicu jika pasien menggosok gigi, makan, mengunyah dan mencukur wajah.
Apakah kemungkinan diagnosa dan obat pilihan dari pada pasien ini?
Sindrom Ramsay Hunt dan carbamazepin
Trigeminal neuralgia dan carbamazepin
Sindrom Tolosa Hunt dan Gabapentin
Glossopharingeal neuralgia dan okscarbazepin
Trigeminal neuralgia dan Lamotrigin
Perempuan, 34 tahun, datang ke IGD dengan keluhan nyeri kepala hebat sejak 9 hari yang lalu. Nyeri kepala dirasakan pada sisi kanan, rasa seperti ditekan. Nyeri kepala dapat berlangsung 6-8 jam dengan intensitas sedang-berat. Selain itu didapatkan mual, muntah, dan intoleransi terhadap cahaya. Gangguan penglihatan, baal, dan gangguan wicara disangkal. Seminggu yang lalu pasien mulai haid hari pertama. Haid berlangsung 5 hari. Serangan ini sudah dirasakan yang ke-3 kalinya. Namun, diluar haid, pasien juga mengalami keluhan yang sama. Pemeriksaan fisik umum dan neurologis dalam batas normal.
Apakah diagnosis kerja yang paling tepat untuk pasien ini?
Menstrual related migraine without aura
Partial menstrual related migraine without aura
Non migraine menstrual without aura
Pseudocatamenial migraine without aura
Pure menstrual migraine without aura
Perempuan, 54 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri tajam berdenyut di wajah sisi kanan sejak 1 tahun yang lalu. Nyeri dirasakan hebat, tiba- tiba, singkat sekitar 2 menit, berulang. Tidak ada demam, trauma kepala atau riwayat kejang. Rasa nyeri dirasakan di dalam gusi rahang bawah kemudian secara berangsur-angsur meluas hingga ke bibir dan daerah luar rahang. Pasien ada Riwayat tekanan darah tinggi dan tidak berobat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 160/90 mmHg, FN 80x/menit, FP 16x/menit, S 36.5 C. Hipestesi dan allodynia sesuai dermatomal N.V-3. Pemeriksaan lainnya dalam batas normal.
Arteri apakah yang dipikirkan dapat menjadi sumber penekanan terhadap kelainan tersebut?
Arteri basilaris
Arteri superior cerebellar
Arteri inferior cerebellar anterior
Arteri vertebralis
Arteri inferior cerebellar posterior
Perempuan, 60 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada pipi kanan ke area atas sudut mulut, durasi beberapa detik hingga 1 menit, NPS 9, frekuensi belasan kali per jam, dipicu bicara dan mengunyah. Nyeri berhenti atau mereda spontan. Beberapa saat setelah serangan ada rasa baal di pipi kanan yang kemudian hilang sendiri. Nyeri tidak semakin memburuk. Diantara waktu serangan tidak ada nyeri saat serangan tidak ada keluhan mata atau hidung berair. Pasien sudah diberi obat, namun tidak ada perbaikan yang signifikan.
Pada pemeriksaan N.V ditemukan ada kesan hipestesi daerah yang sakit. Nervus kranial dan pemeriksaan neurologis lainnya dalam batas normal.
Termasuk dalam golongan nyeri kepala apakah diagnosis kerja pada kasus diatas?
Sefalgia otonom trigeminal
Nyeri kepala primer
Nyeri kepala tipe klister
Nyeri kraniofasial
Nyeri kepala sekunder
Perempuan 42 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri kepala. Sejak usia 20 tahun, pasien mengalami nyeri kepala dengan frekuensi 4 hingga 6 kali per bulan. Nyeri kepala terjadi bergantian di sisi kanan atau kiri, dapat berlangsung setengah hari atau seharian. Terasa berdenyut, dirasakan sedang-berat hingga cukup mengganggu aktivitas serta dapat disertai muntah. Pasien obesitas dan memiliki Riwayat diabetes melitus dan depresi. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.
Apakah tatalaksana medikamentosa yang paling tepat untuk kasus diatas?
Topiramat
Injeksi toksin botulinum
Asam valproat
Amitriptilin
Propranolol
Perempuan, 35 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan pandangan dobel tiba-tiba disertai gangguan berjalan sejak 3 hari yang lalu. Sakit kepala, muntah, dan faktor resiko vaskular disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan oftalmoplegia bilateral terutama pada otot-otot rectus medialis dan rectus lateralis bilateral. Pupil bulat isokor dengan refleks cahaya positif baik langsung maupun tidak langsung bilateral. Tidak ditemukan ptosis maupun tanda lesi saraf kranial lainnya. Pada pemeriksaan motorik kekuatan motorik keempat ekstremitas 5 baik distal maupun proksimal, eutoni dan eutrofi. Sama refleks fisiologis menurun bilateral. Sensorik: didapatkan propioseptif pada jari kaki bilateral.
Hasil pemeriksaan MRI kepala dengan kontras dalam batas normal. Hasil pemeriksaan KHS motorik dan sensorik pada keempat ekstremitas dalam batas normal. Pemeriksaan cairan serebrospinal pada minggu kedua sejak munculnya gejala menunjukkan tanda disosiasi sitoalbumin.
Autoantibodi manakah yang paling sering dikaitkan dengan penyakit diatas?
Anti gangliosida GQ1b
Belum ada autoantibodi spesifik yang ditemukan
Anti gangliosida GD1a
Anti ganglioside GaINac
Anti ganglioside GM1
Laki-laki, 21 tahun datang dengan keluhan lengan kanan terasa lemah pasca kecelakaan lalu lintas 1 hari yang lalu, bahu kanan pasien tertumbuk jalan, kepala tidak terbentur. Pada pemeriksaan fisik: GCS 15, tanda vital normal, nervus kranial normal. Kekuatan motoric ekstremitas atas kanan:m. rhomboid 5, m. supraspinatus, infraspinatus, biseps, deltoid, brachioradialis 3, m. triseps dan pronator teres 4, m. ekstensor digitorum komunis, ekstensor indicis proprius, interosseus dorsalis I, abductor policis brevis 5. Refleks biseps, triceps, brachioradialis menurun.
Apakah diagnosis kerja yang paling tepat untuk kasus tersebut?
Radikulopati C5 dan C6
Pleksopathy brakialis korda medial
Erb’s palsy
Thoracic outlet syndrome (TOS)
Klumpke’s palsy
Laki-laki, 35 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan kelemahan keempat anggota gerak yang memberat sejak 1 hari yang lalu. Satu hari yang lalu, pasien mengeluh kesemutan pada jari-jari kaki dan perlahan kedua tungkai sulit digerakkan, begitu pula lengan. Kelopak mata turun disangkal. Satu minggu sebelumnya pasien mengaku mengalami diare. Riwayat DM, keganasan, penyakit hati dan ginjal, konsumsi alcohol disangkal. Pada pemeriksaan fisik diperoleh tetraparesis LMN dengan reflek fisiologis menurun. Pasien direncanakan dilakukan pemeriksaan KHS 1 minggu kemudian dan diperoleh kesan lesi aksonal motorik dan sensoris.
Apakah antibodi yang berperan dalam pathogenesis penyakit diatas?
Antibodi anti GM1
Antibodi MuSK
Antibodi AChR
Antibodi anti GQ1b
Antibodi AQP4
Laki-laki, 40 tahun, datang ke klinik tidur dengan keluhan sering mengantuk di siang hari sejak 3 bulan yang lalu. Pasien dilakukan pemeriksaan polisomnografi (PSG) dengan hasil AHI = 50/jam dengan saturasi oksigen yang rendah, SaO2 = 90%. Pada pemeriksaan fisik IMT 36 dan inspeksi rongga mulut palatum durum dan mole dapat terlihat, namun uvula tidak terlihat.
Berapakah skor Mallampati pada kasus diatas?
V
IV
III
II
I
Perempuan, 28 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan sulit tidur sejak 1 bulan yang lalu. Pasien mulai tidur pukul 02.00 dan terbangun pukul
05.00. pasien kesulitan memulai tidur dan sering terbangun. Pada saat bangun, pasien merasa Lelah. Keluhan dirasakan hamper setiap hari. Pasien berobat dan didiagnosis insomnia. Dokter menyarankan agar pasien memperbaiki “sleep hygiene”
Apakah contoh kegiatan yang dimaksud oleh dokter pada kasus diatas?
Mengganti baju sebelum tidur
b. Berolahraga 1 jam sebelum tidur
c. Tidak menggunakan laptop ditempat tidur
d. Selalu mengganti sprei 2x/minggu
e. Tidak menggunakan cahaya yang terang ditempat tidur
Berolahraga 1 jam sebelum tidur
Tidak menggunakan laptop ditempat tidur
Selalu mengganti sprei 2x/minggu
Tidak menggunakan cahaya yang terang ditempat tidur
Laki-laki, 34 tahun, datang ke klinik gangguan tidur untuk mengetahui kesimpulan dari hasil pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan sebelumnya terkait gangguan tidur yang dialaminya. Berdasarkan anamnesis dan sleep study, pasien didiagnosis narkolepsi dengan katapleksi. Hasil pemeriksaan cairan serebrospinal turut menunjang diagnostik, yakni diperoleh penurunan kadar suatu peptida.
Apakah fungsi peptida tersebut pada proses tidur?
Neurotransmitter utama untuk mempertahankan tidur
Neurotransmitter yang berkaitan dengan irama sirkadian
Neurotransmitter utama pada stadium NREM
Penurunan produksinya akan menyebabkan insomnia
Neurotransmitter utama untuk mempertahankan bangun
Anak laki-laki 6 tahun, dibawa oleh ibunya ke klinik gangguan tidur karena sering berteriak-teriak saat tidur sejak 6 bulan yang lalu. Menurut ibunya, sekitar sepertiga awal tidur, pasien dapat berteriak, mengamuk, hingga berkeringat. Pada saat bangun tampak bingung. Ketika ditanyakan mengalami mimpi apa hingga berteriak-teriak, pasien tidak dapat menceritakannya. Berdasarkan gejalanya, parasomnia tersebut terjadi pada salah satu stadium tidur.
Dimanakah letak generator stadium tidur yang sesuai dengan kasus diatas?
Ventral tegmental area
Nucleus di posterior hipotalamus
Nucleus Raphe
Nucleus Ventrolateral preoptic di hipotalamus anterior
Nukleus laterodorsal tegmentum di formasio retikularis
Laki-laki, 65 tahun, datang ke poliklinik neurologi untuk control pasca perawatan stroke 3 minggu yang lalu. Tiga minggu yang lalu, pasien mengalami kelemahan dan baal mendadak sisi kanan disertai pandangan buram mata kiri. Pasien didiagnosis stroke iskemik dan dilakukan pemeriksaan carotid doppler diperoleh stenosis ECA kiri 60% dan stenosis ECA kanan 75%.
Apakah tatalaksana lanjutan untuk pasien ini?
CAS arteri karotis kanan dilanjutkan dengan CAS arteri karotis kiri
CEA arteri karotis kiri dilanjutkan dengan CEA arteri karotis kanan
CAS arteri karotis kiri
CEA arteri karotis kanan dilanjutkan dengan CEA arteri karotis kiri
CEA arteri karotis kiri
Laki-laki, 55 tahun, datang dengan penurunan kesadaran 11 jam SMRS. Pasien mengeluh nyeri kepala dan muntah 1x. pasien memiliki Riwayat hipertensi sejak 3 tahun dengan minum obat secara tidak teratur yaitu amlodipine 1x10mg, captopril 3x25mg. pemeriksaan fisik: TD 160/100 mmHg, N78x/menit, RR 20x/menit, suhu 36.5. Kaku kuduk: positif. CT scan menunjukkan gambaran subarachnoid hemorrhage. Pasien dilakukan pemeriksaan trankranial doppler.
Rasio apakah yang dinilai dengan pemeriksaan ini?
Lindegaard
Uhtoff
Oxfordshire
Zhiel-nielsen
Alberta
Laki-laki, 65 tahun, datang ke IGD dengan keluhan utama kelemahan anggota gerak kiri tiba-tiba sejak 4 jam SMRS. Pasien masih bisa bicara namun dikatakan pelo oleh keluarga, dan mulut mencong ke kanan. Pasien mengeluh nyeri kepala hebat dan muntah 1x tapi tidak menyemprot.
Sewaktu di IGD pasien mengeluh nyeri kepala semakin hebat dan disertai muntah 2x, serta terlihat seperti mengantuk berat tapi masih bisa merespon kalua dipanggil oleh dokter.
Pasien menderita hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, tidak terkontrol. DM dan penyakit jantung disangkal.
Pada pemeriksaan fisik tampak sakit sedang, somnolen. GCS: E2M6V5(13), terpasang NGT dengan keluar cairan residu berwarna merah kehitaman. TD: 220/110 mmHg, N: 55x/menit, RR: 16x/menit
Pupil isokor diameter 3mm kiri dan kanan, refleks cahaya dan kornea dalam batas normal. Kaku kuduk negatif. N. kranialis: kesan parese N.VII dan XII dextra sentral.
Motoric: kesan hemiparesis kiri dengan refleks fisiologis normal dan refleks babinsky (+) pada kaki kiri.
Bagaimana menurut saudara penanganan hipertensi pada pasien tersebut diatas?
Diturunkan bertahap menjadi tekanan darah sistolik 110-139 mmHg
Diturunkan bertahap menjadi tekanan darah sistolik <185 mmHg
Diturunkan bertahap 20-25%
Diturunkan menjadi normal
Diturunkan bertahap menjadi tekanan darah sistolik140-179 mmHg
Laki-laki, 54 tahun, dibawa ke IGD dengan penurunan kesadaran sejak 2 jam SMRS. Sepuluh jam SMRS saat sedang merapihkan koleksi vespa antiknya, pasien mendadak mengalami kelemahan sisi kanan. Bicara pasien juga menjadi pelo dan tersedak saat minum. Berjalannya waktu, pasien mulai terlihat mengantuk hingga dua jam ini sulit dibangunkan. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 7 tahun. Pada inspeksi terlihat deviasi lidah ke kanan didalam mulut disertai atrofi. Pada pemeriksaan fisik diperoleh kesan hemiparesis dextra. Pasien dilakukan pemeriksaan MRI dan didapatkan lesi hipointens pada sekuens T1 weighted image.
Apakah penyebab lesi pada kasus diatas?
Oklusi cabang paramedian arteri basilaris
Oklusi short circumference arteri basilaris
Oklusi arteri PICA
Oklusi arteri vertebralis proksimal
Oklusi arteri vertebralis distal
Laki-laki, 65 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan utama kelemahan anggota gerak kiri tiba-tiba sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien masih bisa bicara namun dikatakan pelo oleh keluarga, dan mulut mencong ke kanan. Pasien mengeluh nyeri kepala hebat dan muntah 1x tapi tidak menyemprot. Riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik umum diperoleh TD: 220/110 mmHg, N: 55x/menit, RR: 16x/menit. Pasien terpasang NGT dengan keluar cairan residu berwarna merah kehitaman.
Pada pemeriksaan neurologis didapatkan GCS E2M6V5, pupil isokor diameter 3mm kiri dan kanan, refleks cahaya dbn, kesan parese N.VII dan XII sinistra sentral, serta hemiparesis kiri.
Apakah patofisologi yang mendasari komplikasi medis diatas?
Edema serebral terjadi akibat penekanan massa hematom ke pembuluh darah sehingga menimbulkan edema vasogenic
Perdarahan lambung akan menurunkan keadaan umum pasien sehingga dapat menyebabkan perburukan klinis dan memperburuk prognosis
Adanya hipertensi emergensi akan memperluas volume perdarahan intraserebral yang pada akhirnya menimbulkan efek desak ruang
Sefalgia terjadi akibat adanya lesi desak ruang (hematom) yang menekan reseptor nyeri
Lesi stroke perdarahan intraserebral melalui jalur HPA axis dan jalur neural merangsang korteks adrenal mengeluarkan kortisol yang akan mengganggu keseimbangan lambung
Perempuan, 19 tahun, datang ke poliklinik saraf dengan keluhan sering pingsan dan nyeri kepala berulang. Pasien dilakukan pemeriksaan angiografi dengan hasil sebagai berikut:
Daerah manakah yang termasuk daerah “eloquent” berdasarkan grading pada kasus tersebut?
Korteks parietal non dominan, korteks visual asosiasi, dan area auditorik
Kapsula interna, batang otak, deep cerebellar nuclei
Insula, pedunculus cerebri, deep cerebellar nuclei
Lobus frontal anterior, lobus temporal anterior, forniks
Kapsula interna, batang otak, deep cerebellar nucle
Perempuan, 64 tahun, datang ke poliklinik saraf untuk control penyakit stroke yang dialami pasien 3 minggu yang lalu. Tiga minggu yang lalu, pasien mendadak mengalami kelemahan sisi kanan, pandangan sisi kanan gelap dan afasia ekspresif. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan DM yang tidak terkontrol. Hasil evaluasi factor resiko stroke tidak ditemukan atrial fibrilasi dan transthoracic echocardiography (TTE) dbn. Hasil pemeriksaan Computed Tomography Angiogram (CTA) diperoleh stenosis arteri karotis komunis kiri 80% dan stenosis karotis komunis kanan 60%. Pasien ini telah memperoleh antiplatelet.
Apakah tatalaksana lanjutan yang paling tepat untuk kasus ini?
Carotid Arteri Stent (CAS) kanan dan kiri sekuensial interval 1 bulan
Carotid End Arterectomy (CEA) kiri
Carotid End Arterectomy (CEA) kiri dan Carotid Arteri Stent (CAS) kanan
Carotid End Arterectomy (CEA) kanan
Carotid Arteru Stent (CAS) kanan
Laki-laki 60 tahun datang ke IGD karena pandangan gelap pada kedua mata sisi kiri mendadak sejak 2 jam lalu. Ada HT tidak terkontrol. TD 160/90 mmHg, N reguler, GCS E4M6V5, dan hemianopia homonim sinistra. Tidak ada lateralisasi. Apa
rekomendasi tatalaksana untuk kasus ini?
Trombolisis
Trombektomi
Trombolisis lanjut trombektomi
Antiplatelet ganda
Antikoagulan
Soal yang sama dengan sebelumnya
Berapa NIHSS pada kasus tersebut?
0
1
2
3
4
Laki-laki 60 tahun dibawa ke IGD karena kelemahan sisi kanan mendadak sejak 2 jam lalu. PF TD 150/90 mmHg, N 92/menit dan ireguler (curiga kardioemboli). GCS E4M5V afasia global, hemiplegia dekstra, dan paresis nervus VII dekstra sentral. Pasien lalu
menjalani terapi reperfusi.
Apa lanjutannya?
Antiplatelet tunggal, langsung diberikan
Antiplatelet ganda, langsung diberikan
Antikoagulan oral, langsung diberikan
Antikoagulan oral, minimal hari ke-4 onset stroke
Kombinasi antiplatelet dan antikoagulan, minimal hari ke-4 onset stroke
Perempuan 32 tahun dibawa ke IGD dengan kejang berulang sejak 3 hari yang lalu. Diawali nyeri kepala hebat di seluruh kepala. NRS 6-8, sejak 1 minggu lalu, diikuti kelemahan sisi kanan sejak 4 hari yang lalu. 1 hari kemudian pasien mengalami kejang kelojotan seluruh tubuh. Pasien memiliki riwayat ca mammae. CT scan otak kontras menunjukkan hasil berikut (lesi hiperdens subkorteks (white matter junction) bilateral dengan edema). Apakah tatalaksana selanjutnya yang direkomendasikan?
Pertimbangan biopsi/evakuasi massa
Pemberian steroid
Pemberian agen hiperosmolar
Pemberian antikoagulan
Pemberian asam traneksamat
Laki-laki, 75 tahun dibawa ke IGD pada pukul 19.00 karena kelemahan sisi kiri mendadak hari ini. Pasien masih makan siang jam 12.00-13.00 tanpa keluhan, lalu tidur. Saat bangun pada 16.00, pasien merasa tidak dapat menggerakan sisi kirinya. Jika pasien terdiagnosis dengan stroke iskemik, jam berapa onsetnya?
12.00
13.00
14.00
16.00
19.00
Laki-laki 28 tahun dibawa ke IGD dengan penkes sejak 3 hari SMRS. Sejak 6 bulan SMRS pasien sering mengeluhkan nyeri kepala, progresif. Terdapat kelemahan sisi tubuh bergantian (soal tidak lengkap, ada MRI FLAIR lesi hipointens multipel di otak,
beberapa ada edema).
Apa langkah selanjutnya?
Cek tumor marker dan WBRT
Pemberian deksametason
Pemberian pirimetamin
Pemberian albendazol
Pemberian artemisin
Laki-laki 52 tahun kontrol poli saraf akibat stroke iskemik berulang pada 2 tahun dan 6 bulan yang lalu. Sekuele kelemahan sisi kiri. Ada HT sudah terkontrol obat. Ada gambar USG karotis kiri kanan. (Gambaran stenosis yang sisi kanan, ga ada ukuran, kesan
stenosisnya besar).
Apakah tata laksana yang paling direkomendasikan untuk pasien?
Extracranial-intracranial bypass
Antiplatelet tunggal
Carotid artery stenting
Antiplatelet ganda
Carotid endarterectomy
Laki-laki, 55 tahun, dibawa ke IGD karena kelemahan sisi kanan onset tidak diketahui.
Pasien tinggal sendiri, sedangkan keluarga terakhir melihat pasien dalam keadaan sehat
3 bulan lalu.
Ada gambar MRI, lesi pada T1 isointens, T2 hipotens
Berapa perkiraan umur perdarahan pada pasien:
<7 jam
7jam-13 hari
3-7 hari
7-30 hari
>30 hari
Laki-laki 52 tahun datang ke IGD dengan keluhan pusing berputar sejak 2 hari yang lalu, terus menerus. Gangguan pendengaran dan telinga bredenging disangkal. Pasien ada HT. TD 140/100 mmHg. HIT positif kanan (perifer), nistagmus horizontal torsional ke kiri
(perifer) dan skew deviation negatif (bukan sentral). Status neurologis laboratorium dalam batas normal. Pasien dilakukan imaging dengan hasil sbb: (infark sentrum semiovale kiri). Apakah tatalaksana kausatif yang paling tepat pada pasien ini?
Trombolisis dengan rtPA
Single antiplatelet
Dual antiplatelet
Metilprednisolon
Betahistin dan flunarizin
Perempuan 32 tahun, datang dengan keluhan pusing berputar 3 hari yang lalu, durasi 1 jam. Ada fotofobia, tidak disertai nyeri kepala. Keluhan seperti ini sudah berlangsung lebih dari 5 kali. 2 serangan sebelumnya ada fonofobia. Pasien memilki riwayat migraine
saat masih kuliah, namun sudah tidak pernah muncul lagi 8 tahun ini. PF umum dalam batas normal. Manakah hasil manuver HINTS yang sesuai?
Head impulse test negatif, skew deviation negatif
Head impulse test negatif, nistagmus direction changed
Head impulse test positif, skew deviation negatif
Head impulse test positif,, skew deviation positif
Head impulse test negatif, nistagmus direction fixed
Laki-laki, 52 tahun, datang ke poliklinik dengan kluhan pusing berputar 2 hari yang lalu. Keluhan muncul saat pasien bangun dari posisi berbaring, durasi <5 menit. Gangguan pendengaran disangkal. RPD disangkal. Pemeriksaan status generalis neurologis dalam
batas normal. Pasien dilakukan manuver dsb (gambar supine head roll apogeotropik) .
Bagaimana tatalaksana pasien selanjutnya?
Manuver gufoni ke sisi kanan
Manuver gufoni ke sisi kiri
Manuver Lampert dari sisi kanan
Manuver Lampert dari sisi kiri
Manuver Yacovino ke sisi kanan
Laki-laki, 52 tahun kontrol rutin ke poliklinik akibat stroke iskemik berulang pada 2 tahun dan 6 bulan lalu, dengan klinis kelemahan sisi kiri berulang. Terdapat hipertensi yang saat ini telah terkontrol obat. Pemeriksaan digital subtraction angiography pada arteri karotis komunis dekstra menunjukkan hasil berikut: (sepertinya stenosis ICA)
Apakah gangguan struktur yang dapat menjelaskan klinis pasien?
Stenosis arteri karotis externa
Stenosis arteri karotis interna
Oklusi arteri karotis interna
Oklusi arteri karotis eksterna
Tidak ada struktur yang dapat menjelaskan klinis pasien dari hasil tersebut
Lelaki usia 57 tahun dengan riwayat diabetes berobat tidak teratur mengeluhkan rasa baal dan nyeri di daerah pipi rahang bawah kanan. Dirasakan seperti ditusuk-tusuk sejak 2 bulan yang lalu. Pasien berencana untuk berobat ke dokter spesialis saraf. Apakah terapi preventif nyeri kepala yang tidak sesuai dengan diagnosis di atas?
Gabapentin
Carbamazepin
Pregabalin
Topiramat
Fenitoin
Seorang perempuan usia 36 tahun pekerjaan akuntan mengeluh nyeri dan kaku pada bahu kanan yang hilang timbul selama 6 bulan terakhir, hingga mengganggu
produktivitas kerjanya (perlu antidepresan). Pada pemeriksaan otot trapezius, ditemukan adanya tenderness Terapi apa yang paling sesuai untuk pasien tersebut?
NSAID dan pregabalin
Injeksi taut band dan pregabalin
Antidepresan
NSAID dan antidepresan
Injeksi taut band dan antidepresan
Perempuan, 25 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri kepala berulang. Onset setidaknya lebih dari 5 tahun. Nyeri kepala di kedua sisi, berdenyut, skala, 8-9, hilang timbul dengan durasi seharian jika tanpa obat. Keluhan disertai mual dan kadang muntah. Pasien tidak dapat beraktivitas jika keluhan muncul. Frekuensi serangan 3x/minggu. IMT 30. Pemeriksaan fisik umum dan neurologi normal. Funduskopi
diperoleh sebagai berikut (kesan normal). Apakah rencana lanjutan yang direkomendasikan untuk pasien ini?
MRI kepala dengan kontras
MRI orbita dengan fat supression
Methylprednisolonge high dose 1 g IV
Acetazolamide 500 mg/hari dan diet
Parasetamol 1000 mg (terapi abortif non-spesifik) dan propranolol (terapi profilaksis) 40 mg/hari
Laki-laki, 52 tahun, dikonsulkan TS IPD dengan hipertensi emergensi. TD 200/130
mmHg GCS E3M6V5, tanpa disertai defisit neurologis. Gambaran funduskopi sbb:
(retinopati hipertensif grade 3). Gambaran mana yang khas pada pasien ini?
Lingkaran A
Lingkaran B
Lingkaran C
Lingkaran D
Lingkaran E
Perempuan 25 tahun datang ke pliklinik dengan keluhan nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu. Nyeri terutama dirasakan di daerah temporal dan orbital kanan. Frekuensi nyeri hingga 10x/hari dengan tiap serangan sektiar 10 menit. Pasien juga mengeluh mata
kanan lebih merah dan berair. Pasien sudah pernah mengalami hal ini dua bulan yang lalu dengan gejala berlangsung selama lebih dari 2 minggu. Saat itu dilakukan MRI kepala dan hasilnya normal. Pada pemeriksaan status neurologis didapatkan pupil
anisokor (myosis ringan ipsilateral bisa terjadi pada TAC) 2mm/4mm, refleks cahaya positif.
Apakah diagnosis yang paling tepat untuk pasien ini?
Nyeri kepala tipe klaster
Hemikrania kontinua
Hemikrania paroksismal
SUNCT
Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri kepala hebat. Ini merupakan serangan kelima dalam 6 minggu terakhir. Nyeri kepalanya bersifat bilateral dan terasa seperti diremas, berlansgung selama 8-12 jam. Sakit kepala ini
disertai dengan nyeri leher dan mual. Tidak diperburuk oleh aktivitas fisik Tidak ada sensitivitas terhadap cahaya atau suara. Pemeriksaan neurologis normal.
Apa diagnosis pasien?
Migraine
Paroxysmal hemicrania
TTH
Probable migraine
Seroang laki-laki 50 tahun, 5 hari yang lalu menjalani operasi amputasi tungkai kanan di bawah lutut (below knee) karena kecelakaan. Setelah 3 hari terakhir pasien merasakan nyeri tumpul dan berdenyut pada sektiar lutut dan area luka amputasi.
Apakah diagnosis yang tepat pada kasus tersebut?
Psychogenic pain
Phantom limb pain
Stump related pain
Phantom limb sensation
Iatrogenic neuropathy
Pria usia 37 tahun dengan nyeri kepala berdenyut sejak 2 tahun lalu, satu sisi, tajam, NRS 7-8, berpindah-pindah, diperberat dengan aktivitas, cahaya dan suara bising, mual muntah ada, durasi 4-6 jam, tidak ada gangguan visual, pencetus stress emosional,
selama ini diatasi parasetamol dan tidur, frekuensi sekali seminggu. Obat preventif yang tidak sesuai?
Propranolol
Topiramat
Asam valproat
Dexamethason
Verapamil
Laki-laki, 63 tahun, dibawa ke klinik memori dengan keluhan mudah lupa yang memberat sejak 9 bulan yang lalu. Menurut anaknya, pasien sering lupa terhadap nama benda. Pasien seringkali salah menyebutkan sama sekali benda yang ditunjukkan.
Paisen juga terkadang mengganti kata-kata dengan kata lain yang dapat tidak bermakna sama sekali. Pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
Pada pemeriksaan terlihat pasien dapat mengingat 3 kata dalam 3 menit. Visuokonstruksi pada MoCA-INA baik. Pada saat diminta menyebutkan nama hewan
dalam 1 menit, pasien menyebutkan 4.
Apakah diagnosis kerja yang paling tepat pada pasien ini?
Primary progressive aphasia (sebelum jadi FTD)
Idiopathic non-fluent aphasia syndrome
Progressive grammatical aphasia syndrome
Alzheimer disease
Fronto Temporal Lobe Degeneration
Laki-laki, 56 tahun, datang ke poli neuro dengan keluhan mudah lupa sejak 1 tahun yang lalu. Pasien adalah seorang dosen. Pasien sering lupa menaruh barang atau janji dengan mahasiswa. Pasien juga sering lupa materi yang baru diperolehnya dari
workshop atau simposium. Saat ini pasien masih dapat mengajar dan kegiatan sehari-hari masih mandiri. Riwayat HT, DM, keganasan, infeksi otak, dll disangkal. MRI normal. MMSE 27 dan MoCAINA 26. Bagaimana pendekatan tatalaksana?
Tidak direkomendasikan terapi medikamentosa pada kasus ini
Pemberian memantin dapat dipertimbangkan pada kasus MCI dan demensia sedang berat
Pemberian donepezil dan monitoring fungsi kognitif
Pemberian donepezil selama 3 bulan
Pemberian profilaksis dengan ginkgo biloba
Perempuan 62 tahun, S1, Pensiunan PNS, janda tanpa anak dirujuk curiga demensia. PF neuroloisi tidak ada defisit fokal, MMSE 24 (gangguan kognitif ringan), ADL dan IADL dependen (fungsional terganggu), hamilton depression scale: 20 (depresi sedang berat). Pemeriksaan lainnya normal. Head CT scan: awal atrofi senilis. Yang benar?
Gangguan kognitif berjalan lambat jika depresi tidak teratasi
Demensia dan depresinay menetap meskipun diobati
Gangguan kognitifnya membaik jika depresinya sembuh
Berisiko menjadi demensia
Demensia memburuk, meskipun depresinya diterapi
Laki-laki 74 tahun dibawa ke IGD karena penurunan kesadaran bertahap sejak 1 hari
lalu. Pasien memiliki riwayat sering jatuh dan terbentur kepala, tetapi tidak terdapat
keluhan setelahnya. CT non kontras menunjukkan hasil berikut (SDH kiri)
Apa indikasi operasi segera?
Temuan air fluid pada lesi
Hilangnya girus sulkus di sekitar lesi
Temuan pneumoensefal di lobus frontal sinistra
Volume perdarahan lebih dari 30 mL
Ketebalan perdarahan lebih dari 10 mm
Laki-laki, 50 tahun dibawa ke IGD karena tidak dapat menggerakan keempat ekstremitas pasca jatuh dari ketinggian 5 meter pada 2 jam lalu. Pada pemantauan,
tekanan darah 80/60 mmHg, nadi 46/menit, dan akral dingin. Sumber perdarahan tidak ditemukan. EKG menunjukkan sinus bradikardia, enzim jantung normal. Telah diberikan cairan kristaloid 500 mL tetap tidak perbaikan. Apa rekomendasi tatalaksana kegawatdaruratan pada pasien?
Drip dopamin
Drip dobutamin
Pemberian sulfas atropin
Drip metilprednisolon
Pasang collar neck
Perempuan 35 tahun datang ke IGD RS dengan kelemahan keempat anggota gerak
setelah jatuh dari kuda 2 jam lalu. Pemeriksaan neurologi GCS 15. Kekuatan motorik
atas dan bawah 2222/2222. Kontraksi otot sfinger anal tidak ada (otonom S4-S5
terganggu). ASIA score?
Asia A
Asia B
Asia C
Asia D
Asia E
Seorang laki-laki, 56 tahun, DM tidak terkontrol, dibawa ke IGD dengan perubahan perilaku sejak 1 minggu terakhir. Ada demam hilang timbul 2 minggu. Pada pemeriksaan
fisik demam 37,8. Tanda vital lain stabil. PF neurologis GCS E3M5V3. Kaku kuduk
positif, tidak ada lateralisasi. SGOT 75
Inisiasi OAT L/E/S
Tunda OAT hingga enzim transaminase normal
Inisiasi OAT R/H/E/S
Inisiasi OAT R/H/Z/E
Menunggu hasil TCM sputum/cairan otak baru memulai terapi
Laki-laki 30 tahun dengan penurunan kesadaran akibat ensefalopati hipoksik dionsulkan ICU untuk status kesadaran pasien. Psien buka mata dengan rangsang suara (E2), tidak mengikuti instruksi. Saat diberikan rangsang nyeri, tampak lengan dan tungkai pasien fleksi (M2). Pasien dalam ventilator mode SIMV PIP 12, PEEP 5, FIO2 50%, RR 12 (R1), dan monitor menunjukkan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 128/menit. PF pupil 4mm/4mm reaktif lambat (dianggap kurang respon) bilateral, refleks kornea positif bilateral (B2), dan paresis nervus VII sinistra sentral . Berapa nilai FOUR score?
E2 M2 B2 R1
E2 M3 B4 R1
E3 M2 B4 R1
E3 M3 B2 R1
E4 M3 B4 R1
Laki-laki 50 tahun datang ke IGD akibat pusing berputar mendadak sejak 6 jam SMRS. HT baru terdiagnosis saat di IGD. Dalam pemantauan muncul nyeri kepala mendadak diikuti muntah dan penkes bertahap. CT scan otak non kontras menunjukkan hasil
berikut (gambar CT iskemia serebelum). Apa tindakan emergensi terbaik untuuk menjaga perfusi otak?
Menjaga TD tetap tinggi agar CPP baik dengan meningkatkan cairan rumatan hingga 500 cc/6 jam
Menjaga TD tetap tinggi agar CPP baik dengan memberikan vasopressor
Menurunkan TIK dengan memberikan kortikosteroid dosis tinggi
Menurunkan TIK dengan dekompresi kranium
Menurunkan TIK dengan memberikan agen hiperosmolar
Laki-laki 48 tahun datang dengan keluhan kelemahan pada lengan kanan sejak 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik lengan kanan didapatkan kekuatan motorik ekstensi jari 3, fleksi jari 5, ekstensi pergelangan tangan 3, fleksi siku 4, ekstensi siku, adduksi dan abduksi bahu 5. Didapatkan hipoestesi pada sisi dorsolateral tangan dan sisi dorsal
lengan bawah. Di manakah letak lesi?
Lesi pada nervus posterior interosseus nerve
Lesi pada nervus radialis setinggi spiral groove
Lesi pada nervus radialis setinggi aksila
Lesi pada pleksus brakhialis korda posterior
Lesi pada radiks C7
Wanita 24 tahun datang untuk dilakukan pemeriksaan blink refleks. Dari hasil pemeriksaan pada stimulasi sisi kanan didapatkan pemanjangan latensi gelombang R1,
R2 ipsilatral dan R2 kontralateral. Pada stimulasi kiri didapatkan latensi gelombang R1, R2 ipsilateral dan R2 kontralateral dalam atas normal.
Lesi pada nervus fasialis perifer kanan
Lesi pada nervus fasialis kanan setinggi korteks
Lesi pada nervus fasialis kanan setinggi pons
Lesi pada nervus fasialis kanan setinggi medulla oblongata
Lesi pada nervus trigeminal kanan
Laki-laki, 48 tahun datang ke poli neuro dengan keluhan sulit memulai tidur sejak 3 tahun lalu. Belakangan diketahui pasien sulit memulai tidur karena rasa tidak nyaman, sensasi aneh berdenyut, kadang menjalar, terasa di betis dan paha sehingga ada dorongan untuk menggerakan tungkainya. Gejala biasanya muncul menjelang tidur, dapat menghilang dengan cepat sementara dengan menggerakan kaki. Pasien merupakan pasien DM tipe II sejak >10 tahun
Terapi:
Melatonin 300 mg 4 jam sebelum tidur
Pramipexole 1.5 mg dua kali sehari
THP 2.5 mg
Phenobarbital (dosis lupa) sebelum tidur
Diazepam 5 mg sekali pemberian
Perempuan 36 tahun datang ke klinik neurologi akibat sulit mempertahankan bangun di siang hari sejak 3 bulan lalu. Pasien sering tertidur saat rapat, menjadi penumpang dalam kendaraan, di tengah percakapan, saat menonton TV, saat duduk menunggu. Pasien sedang beralih pekerjaan ke pekerjaan yang tidak disenangi, tetapi tetap dijalankan dengan baik. Tidak ada perubahan pola tidur, naik ranjang jam 9, tidur 9.30, bangun jam 5 pagi. Menurut suami, tidak ada gerakan menyentak ataupun gerakan lainnya, tetapi sering mendengkur dan sesekali tampak sesak napas atau napas terhenti. BB 90, TB 160, TD 130/90, Nadi 72, GDS 80, tidak ditemukan defisit
Diagnosis?
Insomnia paradoksikal
Insomnia psikofisiologi
Hipersomnia primer
Insomnia sekunder
Perempuan 76 tahun datang ke klinik neurologi akibat sulit mepertahankan bangun di siang hari sejak 3 bulan lalu. Pasien menjadi sering tertidur saat menjadi penumpang dalam kendaraan di dalam kendaraan, di tengah percakapan, saat menonton televisi, ataupun saat duduk menunggu orang. Suami meninggal 6 bulan lalu, ada perubahan pola tidur, naik ranjang jam 9, tidur 11.30, sering terbangun untuk buang air kecil, dan
bangun 5.00, tidak segar. Menurut keluarga, selama tidur tidak ada gerakan abnormal, sesak napas, atau napas berhenti. BB 50, TB 160, TD 130/90, nadi 72, GDS 80, PF neuro normal.
Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis kerja?
Sleep diary
Kuesioner berlin
Kuesioner PSQI
PSG
MSLT
Perempuan 35 tahun dibawa ke IGD akibat sering tertidur baik saat beraktivitas maupun saat beristirahat sejak 1 minggu lalu. Pasie naik ranjang 21.00, tidur 21.10, bangun 5.00. Tidak ada mengorok ataupun gerak abnoramal. Ada riwayat pandangan kabur kedua
mata pada 3 tahun lalu, menetap dan tidak mengganggu. (soal tidak lengkap, ada MRI lesi hiperintens di subkorteks). Apakah diagnosis yang tepat?
Hipersomnia primer akibat gangguan sleep drive
Hipersomnia sekunder akibat infeksi otak
Hipersomnia akibat CSVD
Hipersomnia sekunder akibat penyakit SSP
Seorang ibu membawa anak perempuan 7 tahun sering bengong, durasi 4-20 detik frekuensi 3-4 kali dalam 1 hari, ada mulut mengecap. Dari EEG didapatkan spike dan double spike wave complex 3Hz menyeluruh dengan amplitudo tinggi kemudian melambat. Yang dapat disampaikan dalam edukasi ke ibu pasien, KECUALI:
Etiologi berupa genetik
Bangkitan pada umumnya dapat dikontrol dengan OAB monoterapi
EEG interiktal didapatkan gambaran OIRDA
> 10% dapat berkembang menjadi kejang umum tonik klonik saat dewasa
Biasanya tidak memengaruhi perkembangan
Laki-laki 18 tahun datang ke IGD dengan kejang berulang. Pasien riwayat epilepsi dengan obat carbamazoepin 3x200 mg. Psien telah bebas kejang 1 tahun, tiba-tiba 3 kali kejang dalam waktu 1 hari. 3 hari terakhir pasien terlihat murung an sedih karena
tidak diterima di PTN. Di UGD kejang kembali. Semiologi: tiba-tiba terdiam, mata dan
wajah tertarik ke kiri, tangan kiri kaku menekuk, kemudian menjadi kaku seluruh tubuh,
diikuti kelojotan seluruh tubuh, tidak sadar, durasi <5 menit. Setelah kejang pasien terlihat bingung. Menurut keluarga, pasien tidak pernah sadar penuh seperti semula. TTV normal, GCS E4M6V4, PF neurologis lain normal.
Diagnosis kerja?
Status epileptikus
Epilepsi lobus temporal
Epilepsi lobus frontal
Acute symptomatic seizure
Impending status epileptikus
Perempuan 28 tahun datang ke poli rawat jalan dengan keluhan kejang di seluruh tubuh saat tidur malam hari sejak 3 bulan terakhir. Pasien sudah menikah dan ingin
mempunyai anak. Semiologi saat tidur tiba-tiba berteriak, mata dan kepala tertarik ke kanan, kaku dan kemudian ke seluruh tubuh, tidak sadar, durasi 2 menit, post-iktal pasien terlihat bingung sesaat lalu tidur. Status generalis dalam batas normal. (Ada
gambar EEG gelombang tajam kiri).Apakah OAB pilihan untuk pasien?
Carbamazepin
Lamotrigine
Topiramat
Fenitoin
Asam valproat
Wanita 73 tahun datang ke IGD dengan keluhan kejang pertama kali, awalnya pasien merasakan mengalami hal yang pernah dilalui sebelumnya, kemudian diikuti kesulitan menyampaikan kata2 dan tidak sadar. Lalu pasien mengalami kaku kelojotan di seluruh
tubuh, durasi <5 menit. Setelahnya pasien tampak bingung 15 menit lalu kembali sadar. Ada DM tipe II dan stroke 3 bulan lalu, sekuele kelemahan tubuh sisi kanan
Terminologi apa yang paling tepat pada pasien?
Acute symptomatic seizure
Status epilepticus konvulsivus
Status epileptikus non konvulsivus
Remote symptomatic seizure
Laki-laki, 25 tahun, ke IGD dengan kejang 5x di rumah, tampak kelojotan dan kaki menendang2 dengan durasi 3 menit. Pasien epilepsi sebelumnya mengalami 2
bangkitan dalam 1 bulan. Dan dalam 1 hari tersebut mengalami 2x bangkitan, dengan durasi 2-3 menit. Saat ini pasien masih dapat berkomunikasi baik. Kejang terakhir 20 menit yang lalu. Obat rutin levetirasetam 2x250mg. BB 65 kg. Tatalaksana apa yang paling sesuai?
Melanjutkan OAB seperti biasa
Merawat pasien untuk observasi bangkitan 1x24 jam
Memberikan injeksi diazepam 10 mg IV
Menaikkan dosis LEV menjadi 2x500 mg PO
Loading OAB 2000 mg, dan dilanjutkan rumatan 2x1000 mg
Wanita, 27 tahun dengan riwayat TLE, masih ada bangktian 2x setiap bulannya.
(gambar EEG sepertinya verteks)
Berdasarkan EEG pasien tersebut bagaimana kondisi pasien?
Bangun
Mengantuk
Tidur NREM 1
Tidur NREM 2
Tidur NRM 3
Perempuan 67 tahun, dalam perawatan bangsal neurologi dikonsulkan untuk EEG
karena penurunan kesadaran. (Gambar EEG gelombang polimorfik)
Berdsarkan salzburg modifikasi, diagnosis pasien adalah?
Definite SENK
Possible SENK
Probable SENK
Ictal-interictal continuum
Bukan SENK
Tn. A 45 tahun dengan riw merokok datang ke IGD dengan keluhan kejang tonik klinik. Ada nyeri kepala sisi kiri sejak 2 bulan yang lalu. PF neurologi didapatkan kelemahan kiri minimal dengan peningkatan refleks. MRI menunjukkan massa yang daerah frontal kiri
disertai dengan midline shift (kayaknya ada edema). Foto thoraks menunjukkan adanya massa di lobus bawah paru. Apa tindakan selanjutnya?
Konsultasi BS untuk biopsi dan segera evakuasi tumor
Injeksi dexamethaosn 10 mg dilanjutkan 4 mg setiap 6 jam. Secara bersamaan dimulai pemberian OAB
Injeksi dexamethaosn 10 mg dilanjutkan 4 mg setiap 6 jam. Tunda antikonvulsan
Konsultasi HOM untuk kemoterapi
Konsultasi Onkrad untuk WBRT
Perempuan 50 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala sisi kanan 1 tahun sebelumnya. Keluhan memberat 1 minggu yang lalu. PF tidak didapatkan defisit neurologi. Pemeriksaan CT scan kepala dengan kontras ada massa menyengat kontras
homogen di daerah frontotemporal kiri sugestif meningioma. Apa tatalaksana selanjutnya?
Kraniotomi tumor removal
Embolisasi untuk mengurangi ukuran tumor
Observasi dengan pemeriksaan imaging berkala
Lakukan radiasi dengan teknik stereotaktik radiosurgery
Pemberian kemoterapi
Laki-laki, 55 tahun, dibawa ke IGD karena kejang anggota gerak sisi kiri. Semiologi gerakan klonik tangan dan kaki kiri 3 menit, sadar. Ada riwayat kemoterapi untuk RCC(Renal Cell Carcinoma) 1 tahun sebelumnya. MRI ditemukan lesi tunggal menyangat
kontras dengan ukuran 1,5 cm.
Penanganan definitif yang paling tepat?
Dilakukan craniotomy untuk biopsi sekaligus mengurangi efek desak massa
WBRT dengan memantine
Craniotomy untuk biopsi, jika tegak metastasis dilanjutkan WBRT
SRS 24 gy
Konsultasi HOM untuk kemoterapi lini kedua
Laki-laki 60 tahun dengan stroke iskemik 1 bulan dikonsultasikan dari ruang rawat inap
untuk NR. Pasien dengan hemiplegia sinistra. Saat ini bedriden dan baru selesai infeksi
paru. TDCS dipilih sebagai modalitas terapi
Bagaimana cara kerjanya?
Menggunakan gelombang radiofrekuensi
Menggunakan gelombang frekuensi tinggi
Mentransmisikan arus listrik menembus tengkorak
Menggunakan rangsang magnetik kuat yang ditempelkan di kulit kepala
Menggunakan sinar infrared
Anak laki-laki usia 10 bulan masuk ke IGD dengan demam dan sesak napas sejak 1
bulan yang lalu. Pasien sejak usia 3 bulan mengalami regresi motorik. Refleks fisiologis negatif. Diagnosis?
Cerebral palsy
Bronkomalasia
Spinal muscular atrofi
Hipotiroid kongenital
Anak laki-laki 3 tahun dikonsulkan dengan tangan sebelah kiri tidak bisa diangkat dan menggenggam sejak bayi. Refleks bicep negatif, pasien lahir normal, langsung menangis, sunsang, BBL 4050 gram. Perkembangan duduk, berdiri, jalan bicara, dan
kognitif normal. Apakah differensial diagnosis?
Penjepitan pada pleksus brakhialis
Serebral palsi
Spinal muscular atrofi
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun dibawa ke klinik neuropediatri dengan keluhan kesulitan berjalan dan koordinasi motorik yang buruk. Lahir prematur. Pada PF ada spastisitas pada kedua kaki, dan anak tersebut hanya dapat berjalan dengan bantuan. Tidak ada gangguan sensorik atau masalah neuro lain.
Berikut ini yang bukan merupakan faktor risiko dari penyakit yang dialami pasien adalah....
Prematur
Asfiksia perinatal
Toksemia
Perdarahan intrakranial
Kejang demam
Peneliti ingin mengetahui hubungan antara asam urat dan osteoporosis dengan kejadianBPPV. Sampel subjek berusia 50 tahun dengan dan tanpa asam urat, serta dengan dantanpa osteoporosis. Selanjutnya akan dilakukan FU hingga 5 tahun dan dicatat kejadian
BPPV.
Apakah parameter pengukuran yang sesuai?
Odds ratio
Interval kepercayaan
Absolute risk ratio
Relative risk
Hazard ratio
Perempuan 52 tahun datang ke poli dengan keluhan wajah tertarik sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan hilang timbul, durasi bervariasi menit hingga jam. Keluhan hanya terjadi wajah sisi kiri hingga ke mata, seingga kelopak mata sesekali tertutup. Rasa kebas wajah dan gangguan pendengaran disangkal. Ada HT. Pada inspeksi terlihat pada gambar terlampir. Pasien dilakukan MRI kepala. (gambar ketarik wajah kiri, mri CISS sepertinya normal?)
Apakah tatalaksana yang paling efektif pada pasien ini?
Clonazepam
Injeksi botulinum toksin
Microvascular decompression
Facial training
Carbamazepin
Laki-laki 58 tahun dibawa ke poli neuro dengan keluhan gerakan menjadi lambat sejak 5 tahun yang lalu. (Soal tidak lengkap, pokoknya khas sekali PD. Ada gambar otak aksial bagian2 ganglia basalis dikasi huruf) Ditunjuk dengan huruf apakah struktur yang mengalami penurunan aktivitas pada kasus di
atas?
Huruf A
Huruf B
Huruf C
Huruf D
Huruf E
Laki-laki 60 tahun dibawa ke IGD RS karena ditemukan tidak sadar di kamar sejak 3 jam lalu. Terdapat hipertensi, tidak berobat teratur. Survei primer didapatkan: Airway: paten Breathing: laju napas 24x/menit, SpO2 96% room air Circulation: Frekuensi nadi 120x/menit, TD 220/90mmHg, CRT <2 detik
Disability: GCS E2M5V2, pupil 3mm/3mm reaktif bilateral, kesan hemiparesis kanan, suhu 36 C Hasil lab hemostasis dalam batas normal. Hasil CT-Scan kepala non-kontras terlampir. Apakah tindakan selanjutnya yang harus dilakukan pada pasien ini?
Evakuasi hematoma
Intubasi dan ventilasi
Pemberian manitol
Pemberian Asam traneksamat
Transfusi fresh frozen plasma
Laki-laki 50 tahun dibawa ke IGD RS karena penurunan kesadaran bertahap dan sakit kepala sejak 2 hari lalu. Terdapat riwayat sirosis hepatis. Pasien tidak responsif, tampak sakit berat. Survei primer pasien ini:
Airway: Paten
Breathing: Laju napas 28x/menit teratur, SpO2 96% room air
Circulation: Frekuensi nadi 120x/menit, TD 150/100mmHg, CRT <2 detik
Disability: GCS E2M5V2, pupil 3mm/3mm reaktif bilateral, kesan tidak ada hemiparesis Suhu 36,0 C.
Apakah gambaran CT/MRI otak yang dikhawatirkan pada pasien ini?
Edema
Infark
Perdarahan subaraknoid
Atrofi
Hidrosefalus
Seorang wanita usia 25 tahun dibawa ke UGD dengan nyeri kepala sejak kurang lebih 2 bulan terakhir, didapatkan pandangan kabur dan muntah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, kaku kuduk (+). Pasien memiliki riwayat diare lama dan sering mengalami sariawan/bercak-bercak putih di mulut, dengan penurunan berat badan sejak 3
bulan terakhir. Hasil pemeriksaan LCS menunjukkan gambaran yeast berkapsul dengan pengecatan India ink. Pertanyaan: Berdasarkan informasi tersebut di atas, manakah pernyataan yang paling sesuai untuk terapi kasus tersebut?
Fluconazole 400 mg untuk terapi rumatan selama 8–10 minggu
Fluconazole 400 mg untuk terapi induksi selama 2 minggu
Fluconazole 400 mg untuk terapi konsolidasi selama 8–10 minggu
Amphotericin B 0,7 mg/kgBB dengan flucytosine 100 mg/kgBB/hari untuk terapi rumatan selama 8–10 minggu
Amphotericin B 0,7 mg/kgBB dengan flucytosine 100 mg/kgBB/hari untuk terapi konsolidasi selama 2 minggu
Seorang wanita 45 tahun dikonsulkan ke neurologi oleh sejawat pulmonologi dengan keluhan penurunan kesadaran dan kejang. Pasien telah dirawat selama 2 hari dengan diagnosis acute respiratory distress syndrome (ARDS) dengan hasil swab PCR positif
SARS CoV-2. Pertanyaan: Berdasarkan informasi tersebut di atas, pernyataan di bawah ini
yang paling sesuai untuk kasus tersebut adalah?
Pengaruh SARS CoV-2 terhadap sistem saraf pusat hanya terjadi melalui mekanisme hipoksia
SARS CoV-2 tidak menyebabkan disfungsi koagulasi pada sistem saraf pusat
SARS CoV-2 dapat memasuki sistem saraf pusat melalui akson nervus trigeminus
SARS CoV-2 mencapai sistem saraf pusat secara anterograde dengan mekanisme synaptic transmission dan neuronal protein transpor
SARS CoV-2 mencapai sistem saraf pusat melalui bulbus olfaktorius yang kaya reseptor ACE dan L cathepsin
