wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Penilaian Harian Teks Deskripsi

Total questions: 10

Worksheet time: 5mins

Name
Class
Date
1.
Pesta Rakyat di Tepian Sungai Mahakam 1) Di sebuah kota di tepi Sungai Mahakam, angin sore membawa aroma khas tanah basah dan asap dari perapian. Langit mulai merona jingga, dan di udara, terdengar gaung riuh rendah yang semakin lama semakin ramai. Malam itu, Tenggarong tidak seperti biasanya. Jalanan dipenuhi manusia yang bergerak dalam irama yang sama, menuju ke satu titik: pusat kota, di mana perayaan Erau akan dimulai. 2) Aku, seorang pemuda Kutai, berjalan di antara kerumunan. Ada rasa bangga yang menguar dalam dadaku. Setiap tahun, aku selalu menantikan momen ini. Erau bukan sekadar festival; ini adalah napas budaya kami, sebuah cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi. Dulu, Erau hanya boleh disaksikan oleh keluarga kerajaan. Kini, ia menjadi milik semua orang. 3) Upacara pembukaan, Malam Adat Erau, berlangsung khidmat. Sultan Kutai dengan gagahnya mengumumkan dibukanya festival. Lalu, seolah-olah tabir diangkat, kota berubah menjadi panggung raksasa. 4) Acara yang paling kunantikan adalah Upacara Adat Belimbur. Belimbur adalah ritual yang sakral, tapi juga menyenangkan. Di sebuah lapangan, kami berkumpul. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua memegang wadah berisi air. Air ini bukan sembarang air, konon katanya air ini adalah air dari Kutai Lama yang dapat membersihkan diri dari hal-hal buruk. Ketika aba-aba diberikan, kami saling menyiram. Tawa dan teriakan riang pecah di mana-mana. Baju kami basah kuyup, tapi hati kami terasa bersih, ringan, dan penuh berkah. 5) Malam itu, setelah Belimbur, aku melihat kakekku tersenyum. Senyum itu berbeda. Bukan hanya senyum bahagia, tapi juga senyum kelegaan. Aku tahu, baginya, Erau adalah pengikat. Pengikat yang menyatukan masa lalu dengan masa kini, antara tradisi dan modernitas. Ia adalah warisan yang tak ternilai, sebuah cerita tentang bagaimana budaya kami bertahan di tengah derasnya arus zaman. Dan aku, sebagai bagian dari cerita itu, merasa bangga. Bangga menjadi seorang Kutai, bangga memiliki Erau. Apakah acara budaya yang dideskripsikan pada bacaan tersebut?
a)
Pesta Rakyat
b)
Pesta Adat
c)
Festival budaya
d)
Upacara Adat
2.
Pesta Rakyat di Tepian Sungai Mahakam 1) Di sebuah kota di tepi Sungai Mahakam, angin sore membawa aroma khas tanah basah dan asap dari perapian. Langit mulai merona jingga, dan di udara, terdengar gaung riuh rendah yang semakin lama semakin ramai. Malam itu, Tenggarong tidak seperti biasanya. Jalanan dipenuhi manusia yang bergerak dalam irama yang sama, menuju ke satu titik: pusat kota, di mana perayaan Erau akan dimulai. 2) Aku, seorang pemuda Kutai, berjalan di antara kerumunan. Ada rasa bangga yang menguar dalam dadaku. Setiap tahun, aku selalu menantikan momen ini. Erau bukan sekadar festival; ini adalah napas budaya kami, sebuah cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi. Dulu, Erau hanya boleh disaksikan oleh keluarga kerajaan. Kini, ia menjadi milik semua orang. 3) Upacara pembukaan, Malam Adat Erau, berlangsung khidmat. Sultan Kutai dengan gagahnya mengumumkan dibukanya festival. Lalu, seolah-olah tabir diangkat, kota berubah menjadi panggung raksasa. 4) Acara yang paling kunantikan adalah Upacara Adat Belimbur. Belimbur adalah ritual yang sakral, tapi juga menyenangkan. Di sebuah lapangan, kami berkumpul. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua memegang wadah berisi air. Air ini bukan sembarang air, konon katanya air ini adalah air dari Kutai Lama yang dapat membersihkan diri dari hal-hal buruk. Ketika aba-aba diberikan, kami saling menyiram. Tawa dan teriakan riang pecah di mana-mana. Baju kami basah kuyup, tapi hati kami terasa bersih, ringan, dan penuh berkah. 5) Malam itu, setelah Belimbur, aku melihat kakekku tersenyum. Senyum itu berbeda. Bukan hanya senyum bahagia, tapi juga senyum kelegaan. Aku tahu, baginya, Erau adalah pengikat. Pengikat yang menyatukan masa lalu dengan masa kini, antara tradisi dan modernitas. Ia adalah warisan yang tak ternilai, sebuah cerita tentang bagaimana budaya kami bertahan di tengah derasnya arus zaman. Dan aku, sebagai bagian dari cerita itu, merasa bangga. Bangga menjadi seorang Kutai, bangga memiliki Erau. Menurut kalian, paragraf manakah yang tidak sesuai dengan pengalaman kalian?
a)
1
b)
2
c)
3
d)
4
3.
Pilihlah pernyataan Benar atau Salah tentang manfaat lerak dan cara penggunaannya. Lerak merupakan tumbuhan yang memiliki nama latin Sapindus rarak DC. Tumbuhan ini juga memiliki berbagai nama tergantung daerah tumbuhnya, seperti di Palembang disebut Lamuran, di Jawa disebut Klerek/Werak, dan di Jawa Barat sering disebut Rerek. Tumbuhan ini biasanya tidak dibudidayakan, tapi tergolong tanaman liar. Lerak sangat mudah tumbuh di hampir semua jenis tanah dan iklim, dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 450-1500 mdpl. Umumnya, Lerak memiliki ukuran tinggi 10 m, meskipun ada yang bisa mencapai 42 m dengan diameter batang 1 m [7]. Mungkin ada yang sudah familiar dengan kata lerak karena biasa digunakan sebagai pencuci kain batik agar batik terjaga warna aslinya. Tapi ternyata lerak bukan hanya sebagai bahan pembersih kain batik loh. Oleh nenek moyang kita, lerak juga dimanfaatkan sebagai sabun alami untuk mencuci baju, membasuh wajah, keramas, hingga membersihkan benda yang terbuat dari kuningan, tembaga, atau emas [3, 7]. Di India, lerak digunakan untuk mencuci sutra dan wol sejak zaman kuno [4]. Kini ada pula yang menggunakan lerak untuk mencuci piring, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi. Bahkan beberapa orang mulai memproduksi lerak sebagai obat kudis dan sabun penangkal jerawat. Cara membuat sabun alami sendiri dari buah lerak Begini caranya… Cukup rendam beberapa biji Lerak beserta kulitnya, dengan air hangat-hangat kuku, atau bisa juga direbus supaya busa yang dihasilkan bisa banyak. Setelah dingin lalu disaring, sabun alami dari lerak langsung siap digunakan. O iya, tapi jangan salah kira ya bahwa semakin banyak busa semakin bersih hasilnya. Busa bukanlah indikator suatu zat dapat membersihkan lebih bersih. Tapi yang bertanggung jawab dalam membersihkan adalah zat saponinnya.nYang jelas, hasil cucian menggunakan lerak tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Berdasarkan teks dan gambar, dijelaskan manfaat lerak dan cara penggunaannya.
a)
benar
b)
salah
4.
Isi teks kurang bermanfaat karena kemajuan teknologi membuat kehidupan kita semakin dinamis sehingga penggunaan lerak sebagai pengganti deterjen kurang diminati.
a)
benar
b)
salah
5.
Konteks yang digunakan dalam teks tidak sesuai dengan perkembangan zaman, jadi teks tersebut tidak lagi bermanfaat bagi kehidupan kita.
a)
benar
b)
salah
6.
Manakah jenis kalimat yang tidak memiliki konjungsi?
a)
Ayah dan Ibu bekerja, sedangkan aku di rumah
b)
Budi tidak bersekolah hari ini karena sakit
c)
Andi pergi sekolah dengan mengendarai sepedanya
d)
Kamarku berukuran kecil, namun nyaman ditempati
7.
Di sebelah kiri rumahku, terdapat masjid yang cukup besar. Masjid itu biasa digunakan untuk shalat berjamaah dan mengaji. Di depan rumahku terdapat halaman yang cukup luas dan biasanya digunakan untuk bermain anak-anak kecil di sekitar rumah. Kalimat tersebut dapat dikatakan memiliki koherensi karena…
a)
kalimat tersebut menggunakan kata ganti yang digunakan untuk merujuk kembali pada kata sebelumnya
b)
kalimat tersebut menghilangkan kata yang sudah dipahami dalam konteks sebelumnya
c)
kalimat tersebut memiliki konjungsi
d)
kalimat tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan makna kalimat selanjutnya sehingga ada kepaduan makna
8.
Apakah bentuk informasi tersebut?
a)
Infografik
b)
Gambar
c)
Animasi
d)
Teks
9.
Paru-paru Sehat: Paru-paru sehat memiliki tampilan yang bersih dan cerah. Warnanya merah muda atau merah muda kecoklatan, dengan permukaan yang halus dan terasa kenyal. Organ ini dapat mengembang dan mengempis dengan mudah, memungkinkan pernapasan yang dalam dan lancar. Di dalamnya, saluran udara seperti bronkus dan bronkiolus bersih dari sumbatan, membuat oksigen mengalir bebas ke seluruh tubuh. Saat bernapas, suara napas terdengar bersih dan lembut, tidak ada suara tambahan seperti mengi atau batuk. Paru-paru Tidak Sehat: Paru-paru yang tidak sehat menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Tampilannya kusam dan kehitaman, terutama pada perokok, karena penumpukan tar dan zat kimia. Teksturnya bisa terasa kaku dan keras, tidak lagi kenyal seperti paru-paru sehat. Saluran udaranya sering bengkak dan dipenuhi lendir, membuat pernapasan terasa berat dan terhambat. Orang dengan paru-paru tidak sehat sering mengalami gejala seperti batuk kronis, sesak napas, dan mengi. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan dan kesulitan saat beraktivitas karena tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Kalimat di atas yang menunjukkan deskripsi paru-paru tidak sehat adalah ...
a)
Paru-paru yang tidak sehat menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
b)
Tampilannya kusam dan kehitaman, terutama pada perokok, karena penumpukan tar dan zat kimia.
c)
Warnanya merah muda atau merah muda kecoklatan, dengan permukaan yang halus dan terasa kenyal.
d)
Organ ini dapat mengembang dan mengempis dengan mudah, memungkinkan pernapasan yang dalam dan lancar.
e)
10.
Di rumah, meluncurlah pertanyaanku, “Bu, mengapa aku memakai nama Chaniago, bukan nama Jambak seperti nama Ayah?” Ibu tertegun sejenak, tetapi segera berbicara dengan penuh semangat. Kebudayaan Minangkabau terkenal dengan sistem matrilineal, yaitu menetapkan garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. Jadi, marga anak akan mengikuti marga ibu. Budaya ini sudah lama berlangsung dan masih bertahan hingga kini. Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. Ibu juga memiliki peran krusial dalam mengambil keputusan dalam keluarga. “Wah, anak Ibu dua-duanya laki-laki. Ibu tak punya penerus keturunan. Apakah marga Chaniago bakal lenyap?” tanyaku. “Perempuan bermarga Chaniago bukan hanya Ibu, Arifin,” sahut Ibu sambil tertawa. Benar juga. Ibu memiliki beberapa sepupu perempuan dan sejumlah kerabat jauh. “Ibu tidak menyesal tidak punya anak perempuan?” aku menggodanya. Ibu tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya tentang masyarakat Minangkabau. “Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau ini adalah paruik. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, istilah ini disebut kaum.” Sistem kekerabatan yang menurut pada garis keturunan ibu pada teks tersebut disebut...
a)
patrilineal
b)
matrilineal
c)
paruik
d)
kaum