WorksheetsTKA BAHASA INDONESIA
Total questions: 15
Worksheet time: 8mins
Name
Class
Date
1.
Cashless Society, Apakah Generasi Alpha Siap?
Perkembangan teknologi digital mendorong masyarakat menuju cashless society, yaitu sistem transaksi yang tidak lagi mengandalkan uang fisik. Pemerintah melalui Bank Indonesia dan berbagai lembaga keuangan terus memajukan digitalisasi pembayaran, seperti melalui QRIS, BI-Fast, dan e-wallet. Bahkan, menurut Bank Indonesia (2024), terjadi pertumbuhan transaksi digital sebesar 20,7% dalam dua tahun terakhir. Di tengah tren tersebut, muncul pertanyaan: apakah Generasi Alpha siap siap hidup sepenuhnya dalam sistem ekonomi tanpa uang tunai?
Banyak pihak menilai Generasi Alpha merupakan generasi paling siape menghadapi era ini. Mereka lahir di lingkungan digital dan sudah akrab dengan e-wallet, QRIS, dan layanan paylater. Menurut Survei BRI API (2023), 60% anak muda menggunakan layanan keuangan digital untuk keperluan hiburan dan belanja daring. Adaptasi mereka terhadap teknologi sangat tinggi. Dukungan platform teknologi perbankan terbuka (open banking) juga membuat akses transaksi menjadi semakin mudah.
Namun, kesiapan teknologi belum tentu sejalan dengan kesiapan literasi keuangan. Banyak Generasi Alpha belum memahami pentingnya pengelolaan uang secara bijak. Menurut Media Indonesia (2023), 27% pengguna muda mengalami penipuan digital karena kurang paham keamanan siber. Di sisi lain, kebiasaan menggunakan paylater tanpa pertimbangan bisa menjerumuskan mereka pada uang digital. Gaya hidup instan ini mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan, terutama jika tidak dibarengi dengan edukasi finansial sejak dini.
Oleh karena itu, kesiapan Generasi Alpha tidak bisa dinilai dari kemahirannya memakai teknologi semata. Perlu sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan lembaga keuangan untuk menanamkan literasi keuangan sejak dini. Program-program, seperti Sikapi Uangmu! Dari OJK dan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) bisa menjadi solusi edukatif. Dengan bekal literasi yang kuat, Generasi Alpha tidak hanya siap bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertanggung jawab atas keuangan pribadinya pada era tanpa uang fisik.
Berdasarkan teks argumentasui tersebut, tentukan pernyataan yang memuat argumen pro! Jawaban benar lebih dari satu.
a)
Adaptasi tinggi terhadap teknologi menunjukkan bahwa Generasi Alpha siap bertransaksi secara digital.
b)
Generasi Alpha akrab dengan pembayaran digital, seperti e-wallet, QRIS, dan layanan paylater sejak usia muda.
c)
Banyak anak muda menggunakan e-wallet, tetapi belum bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.
d)
Generasi Alpha lahir pada era digital, tetapi belum memahami risiko keuangan dari sistem nontunai atau digital.
e)
Generasi Alpha membutuhkan literasi keuangan sejak dini agar mampu bertanggung jawab secara finansial.
2.
Cashless Society, Apakah Generasi Alpha Siap?
Perkembangan teknologi digital mendorong masyarakat menuju cashless society, yaitu sistem transaksi yang tidak lagi mengandalkan uang fisik. Pemerintah melalui Bank Indonesia dan berbagai lembaga keuangan terus memajukan digitalisasi pembayaran, seperti melalui QRIS, BI-Fast, dan e-wallet. Bahkan, menurut Bank Indonesia (2024), terjadi pertumbuhan transaksi digital sebesar 20,7% dalam dua tahun terakhir. Di tengah tren tersebut, muncul pertanyaan: apakah Generasi Alpha siap siap hidup sepenuhnya dalam sistem ekonomi tanpa uang tunai?
Banyak pihak menilai Generasi Alpha merupakan generasi paling siape menghadapi era ini. Mereka lahir di lingkungan digital dan sudah akrab dengan e-wallet, QRIS, dan layanan paylater. Menurut Survei BRI API (2023), 60% anak muda menggunakan layanan keuangan digital untuk keperluan hiburan dan belanja daring. Adaptasi mereka terhadap teknologi sangat tinggi. Dukungan platform teknologi perbankan terbuka (open banking) juga membuat akses transaksi menjadi semakin mudah.
Namun, kesiapan teknologi belum tentu sejalan dengan kesiapan literasi keuangan. Banyak Generasi Alpha belum memahami pentingnya pengelolaan uang secara bijak. Menurut Media Indonesia (2023), 27% pengguna muda mengalami penipuan digital karena kurang paham keamanan siber. Di sisi lain, kebiasaan menggunakan paylater tanpa pertimbangan bisa menjerumuskan mereka pada uang digital. Gaya hidup instan ini mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan, terutama jika tidak dibarengi dengan edukasi finansial sejak dini.
Oleh karena itu, kesiapan Generasi Alpha tidak bisa dinilai dari kemahirannya memakai teknologi semata. Perlu sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan lembaga keuangan untuk menanamkan literasi keuangan sejak dini. Program-program, seperti Sikapi Uangmu! Dari OJK dan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) bisa menjadi solusi edukatif. Dengan bekal literasi yang kuat, Generasi Alpha tidak hanya siap bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertanggung jawab atas keuangan pribadinya pada era tanpa uang fisik.
Teks argumentasi tersebut memiliki argumen kontra. Pernyataan manakah yang menunjukkan argumen kontra berdasarkan teks tersebut?
a)
Kemudahan teknologi finansial membuat Generasi Alpha terbiasa menggunakan e-wallet dan paylater.
b)
Generasi Alpha belum tentu memiliki literasi keuangan meskipun mahir teknologi.
c)
Rendahnya pemhaman tentang keamanan digital membuat sebagian Generasi Alpha rentan tertipu.
3.
Cashless Society, Apakah Generasi Alpha Siap?
Perkembangan teknologi digital mendorong masyarakat menuju cashless society, yaitu sistem transaksi yang tidak lagi mengandalkan uang fisik. Pemerintah melalui Bank Indonesia dan berbagai lembaga keuangan terus memajukan digitalisasi pembayaran, seperti melalui QRIS, BI-Fast, dan e-wallet. Bahkan, menurut Bank Indonesia (2024), terjadi pertumbuhan transaksi digital sebesar 20,7% dalam dua tahun terakhir. Di tengah tren tersebut, muncul pertanyaan: apakah Generasi Alpha siap siap hidup sepenuhnya dalam sistem ekonomi tanpa uang tunai?
Banyak pihak menilai Generasi Alpha merupakan generasi paling siape menghadapi era ini. Mereka lahir di lingkungan digital dan sudah akrab dengan e-wallet, QRIS, dan layanan paylater. Menurut Survei BRI API (2023), 60% anak muda menggunakan layanan keuangan digital untuk keperluan hiburan dan belanja daring. Adaptasi mereka terhadap teknologi sangat tinggi. Dukungan platform teknologi perbankan terbuka (open banking) juga membuat akses transaksi menjadi semakin mudah.
Namun, kesiapan teknologi belum tentu sejalan dengan kesiapan literasi keuangan. Banyak Generasi Alpha belum memahami pentingnya pengelolaan uang secara bijak. Menurut Media Indonesia (2023), 27% pengguna muda mengalami penipuan digital karena kurang paham keamanan siber. Di sisi lain, kebiasaan menggunakan paylater tanpa pertimbangan bisa menjerumuskan mereka pada uang digital. Gaya hidup instan ini mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan, terutama jika tidak dibarengi dengan edukasi finansial sejak dini.
Oleh karena itu, kesiapan Generasi Alpha tidak bisa dinilai dari kemahirannya memakai teknologi semata. Perlu sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan lembaga keuangan untuk menanamkan literasi keuangan sejak dini. Program-program, seperti Sikapi Uangmu! Dari OJK dan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) bisa menjadi solusi edukatif. Dengan bekal literasi yang kuat, Generasi Alpha tidak hanya siap bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertanggung jawab atas keuangan pribadinya pada era tanpa uang fisik.
Apa hubungan antara paragraf kedua dan paragraf ketiga dalam teks argumentasi tersebut?
a)
Paragraf kedua menunjukkan kesiapan Generasi Alpha secara teknologi, sedangkan paragraf ketiga membandingkan kesiapan teknologi dengan kesiapan keuangan Generasi Alpha.
b)
Paragraf kedua menggambarkan penggunaan teknologi digital oleh Generasi Alpha, sedangkan paragraf ketiga membandingkan dengan perlunya edukasi keuangan sejak din
c)
Paragraf kedua menyampaikan bahwa Generasi Alpha terbiasa bertransaksi digital, sedangkan paragraf ketiga membandingkan dengan risiko utang digital yang mungkin mereka alami.
d)
Paragraf kedua menjelaskan keunggulan adaptasi digital Generasi Alpha, sedankan paragraf ketiga menunjukkan bahwa adaptasi digital belum sejalan dengan kesiapan literasi digital.
e)
Paragraf kedua membahas kemampua Generasi Alpha menggunakan teknologi pembayaran, sedangkan paragraf ketiga membandingkan kemampuan tersebut dengan kelemahan finansial.
4.
Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z
Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi-sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat. Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma.
Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar. Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Brimingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misalnya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin-suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.
Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa generasi Z tidak sepeuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar generasi stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.
Berdasarkan teks deskripsi tersebut, frasa konotatif apa saja yang digunakan untuk menggambarkan objek? Jawaban benar lebih dari satu.
a)
Prestasi gemilang yang diraih Kenzia
b)
Potensi penuh yang dimiliki generasi Z
c)
Kunci kesuksesannya dalam meraih prestasi
d)
Generasi stroberi sebagai label untuk generasi Z
e)
Kampus ternama dunia tempat Kenzia akan studi.
5.
Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z
Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi-sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat. Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma.
Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar. Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Brimingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misalnya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin-suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.
Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa generasi Z tidak sepeuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar generasi stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.
Apakah pernyataan berikut sesuai dengan konotasi penggambaran fenomena? Tentukan benar atau salah untuk setiap pernyataan berikut!
a)
Label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat luas (Benar)
b)
Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya
c)
Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata
6.
Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z
Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi-sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat. Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma.
Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar. Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Brimingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misalnya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin-suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.
Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa generasi Z tidak sepeuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar generasi stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.
Manakah pernyataan yang sesuai dengan konotasi penggambaran karakter? Tentukan sesuai atau tidak sesuai untuk setiap pernyataan berikut!
a)
“Memanfaatkan peluang” menunjukkan sifat kalkulatif yang berorientasi target. (sesuai)
b)
“Berani berkorban” mengisyaratkan kecenderungan mengabaikan kebutuhan diri.
c)
“Gigih dan visioner” menggambarkan karakter yang realistis, tetap ambisius.
7.
Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z
Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi-sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat. Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma.
Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar. Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Brimingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misalnya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.
Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin-suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.
Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa generasi Z tidak sepeuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar generasi stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.
Berdasarkan isi teks, pernyataan yang sesuai mengenai penggunaan idiom dalam teks tersebut adalah ...
a)
Generasi Stroberi merupakan idiom yang menggambarkan generasi yang rapuh, tetapi manis seperti buah stroberi.
b)
Memenfaatkan peluang merupakan idiom, yaitu mengambil kesempatan yang ada dengan kesadaran dan kesiapan.
c)
Kesempatan emas merupakan idiom yang menyatakan pentingnya memanfaatkan peluang berharga yang langka.
d)
Bekal untuk kembali merupakan idiom tentang persiapan logistik untuk kepulangan ke tanah air.
e)
Berani berkorban merupakan idiom yang menunjukkan pengorbanan tanpa pamrih.
8.
Margo memelankan laju sepeda saat mendekati rumah besar di ujung klaster. Kotak berisi kue buatan ibunya tersimpan aman di keranjang depan. Meski sering mengantar kue ke sana, ia tak bosan memandangi rumah mewah bergaya modern tropis itu. Menurut hitungan kasarnya, Margo harus melariskan puluhan ribu kotak kue untuk membeli rumah seperti itu. Ia terkekeh saat menimbang perlu tidaknya merintis usaha sebagai importir gula seperti Om Indra.
Gadis lima belas tahun itu menyandarkan sepedanya dan menyapa perempuan setengah baya yang sedang menyiram tanaman.
“Mia ada, Mpok?”
“Masuk aja, Non,” jawab wanita itu.
Margo tersenyum, mengambil kotak kue, dan melangkah masuk.
“Aw!” Ia mundur saat tersengat panas dari mesin moge bermesin impor Amerika Serikat. Sambil menghindar, ia mengangkat kotak kuenya agar tidak tersangkut helm dan jaket kulit di setang.
Dari dalam rumah, terdengar suara.
“Udah dong ngambeknya.”
“Siapa yang ngambek?!”
“Permisi... Om Indra ... Mia ...”
“Kak Margo!” Mia muncul ceria, meski rambutnya acak-acakan.
“Bawa pesanan aku, ya?”
Margo mengangguk dan menyerahkan Klepon Cake. Indra muncul dengan wajah merah dan bekas balaclava.
“Tuh, sama Kak Margo kamu ketawa. Sama Papa judes amat?”
“Salah sendiri!”
“Bilangin si Mia nih, Go,” keluh Indra.
Margo tersenyum.
“Cuma gara-gara enggak diajak sunmori kamu marah ya, Mi?”
Dua orang itu terkejut.
“Tahu dari mana kamu, Go?”
“Mesin moge masih panas, helm nyantol, bekas balaclava di muka Om. Tapi, hari ini Mia bangun kesiangan kayaknya. Pasti gara-gara kebablasan nonton situs streaming video, nih.” Margo tertawa kecil.
Ia tahu Mia paling susah bangun pagi kalau habis bergadang.
“Hebat kamu, Go?” Indra bertolak pinggang kagum.
“Jelaslah, Pa! Papa tahu enggak?” Mia seolah lupa dengan rasa kesalnya, “Kak Margo ‘kan dapat beasiswa masuk SMA Manggala Utama.”
“Betulan, Go? Manggala Utama yang di Sentul itu? Wuih, selamat ya, Go,” Indra berdecak.
Catatan:
Moge: akronim dari motor gede, sepeda motor dengan kapasitas mesin 600 cc atau lebih.
Mpok: kakak perempuan; kata sapaan dalam suku Betawi untuk perempuan yang lebih tua.
sunmori: sunday Morning Ride, istilah untuk penghobi motor besar berkendara (touring) pada Minggu pagi.
balaclava: kain penutup muka, biasanya digunakan untuk pengendara motor agar terhindar dari panas matahari dan debu jalanan.
Sumber: Aghnia Sofyan, Margo dan Rahasia Setengah Abad, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2021.
Apa tema utama cerita yang dapat disimpulkan dari kutipan novel tersebut?
a)
Perjuangan ekonomi keluarga kurang mampu dalam mencapai kemakmuran
b)
Konflik generasi antara orang tua dan anak dalam keluarga modern
c)
Ketimpangan sosial ekonomi yang memengaruhi aspirasi remaja
d)
Pentingnya pendidikan sebagai jembatan mobilitas sosial
e)
Dinamika hubungan persahabatan lintas kelas sosial
9.
Margo memelankan laju sepeda saat mendekati rumah besar di ujung klaster. Kotak berisi kue buatan ibunya tersimpan aman di keranjang depan. Meski sering mengantar kue ke sana, ia tak bosan memandangi rumah mewah bergaya modern tropis itu. Menurut hitungan kasarnya, Margo harus melariskan puluhan ribu kotak kue untuk membeli rumah seperti itu. Ia terkekeh saat menimbang perlu tidaknya merintis usaha sebagai importir gula seperti Om Indra.
Gadis lima belas tahun itu menyandarkan sepedanya dan menyapa perempuan setengah baya yang sedang menyiram tanaman.
“Mia ada, Mpok?”
“Masuk aja, Non,” jawab wanita itu.
Margo tersenyum, mengambil kotak kue, dan melangkah masuk.
“Aw!” Ia mundur saat tersengat panas dari mesin moge bermesin impor Amerika Serikat. Sambil menghindar, ia mengangkat kotak kuenya agar tidak tersangkut helm dan jaket kulit di setang.
Dari dalam rumah, terdengar suara.
“Udah dong ngambeknya.”
“Siapa yang ngambek?!”
“Permisi... Om Indra ... Mia ...”
“Kak Margo!” Mia muncul ceria, meski rambutnya acak-acakan.
“Bawa pesanan aku, ya?”
Margo mengangguk dan menyerahkan Klepon Cake. Indra muncul dengan wajah merah dan bekas balaclava.
“Tuh, sama Kak Margo kamu ketawa. Sama Papa judes amat?”
“Salah sendiri!”
“Bilangin si Mia nih, Go,” keluh Indra.
Margo tersenyum.
“Cuma gara-gara enggak diajak sunmori kamu marah ya, Mi?”
Dua orang itu terkejut.
“Tahu dari mana kamu, Go?”
“Mesin moge masih panas, helm nyantol, bekas balaclava di muka Om. Tapi, hari ini Mia bangun kesiangan kayaknya. Pasti gara-gara kebablasan nonton situs streaming video, nih.” Margo tertawa kecil.
Ia tahu Mia paling susah bangun pagi kalau habis bergadang.
“Hebat kamu, Go?” Indra bertolak pinggang kagum.
“Jelaslah, Pa! Papa tahu enggak?” Mia seolah lupa dengan rasa kesalnya, “Kak Margo ‘kan dapat beasiswa masuk SMA Manggala Utama.”
“Betulan, Go? Manggala Utama yang di Sentul itu? Wuih, selamat ya, Go,” Indra berdecak.
Catatan:
Moge: akronim dari motor gede, sepeda motor dengan kapasitas mesin 600 cc atau lebih.
Mpok: kakak perempuan; kata sapaan dalam suku Betawi untuk perempuan yang lebih tua.
sunmori: sunday Morning Ride, istilah untuk penghobi motor besar berkendara (touring) pada Minggu pagi.
balaclava: kain penutup muka, biasanya digunakan untuk pengendara motor agar terhindar dari panas matahari dan debu jalanan.
Sumber: Aghnia Sofyan, Margo dan Rahasia Setengah Abad, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2021.
Tentukan tingkat hubungan amanat berikut dengan konteks cerita. Tentukan relevan atau tidak relevan pernyataan-pernyataan berikut!
a)
Kerja keras adalah kunci utama meraih kesuksesan. (tidak relevan)
b)
Hubungan antargenerasi memerlukan komunikasi yang baik. (relevan)
c)
Pendidikan adalah investasi terbaik untuk mengganti status sosial. (tidak relevan)
10.
Margo memelankan laju sepeda saat mendekati rumah besar di ujung klaster. Kotak berisi kue buatan ibunya tersimpan aman di keranjang depan. Meski sering mengantar kue ke sana, ia tak bosan memandangi rumah mewah bergaya modern tropis itu. Menurut hitungan kasarnya, Margo harus melariskan puluhan ribu kotak kue untuk membeli rumah seperti itu. Ia terkekeh saat menimbang perlu tidaknya merintis usaha sebagai importir gula seperti Om Indra.
Gadis lima belas tahun itu menyandarkan sepedanya dan menyapa perempuan setengah baya yang sedang menyiram tanaman.
“Mia ada, Mpok?”
“Masuk aja, Non,” jawab wanita itu.
Margo tersenyum, mengambil kotak kue, dan melangkah masuk.
“Aw!” Ia mundur saat tersengat panas dari mesin moge bermesin impor Amerika Serikat. Sambil menghindar, ia mengangkat kotak kuenya agar tidak tersangkut helm dan jaket kulit di setang.
Dari dalam rumah, terdengar suara.
“Udah dong ngambeknya.”
“Siapa yang ngambek?!”
“Permisi... Om Indra ... Mia ...”
“Kak Margo!” Mia muncul ceria, meski rambutnya acak-acakan.
“Bawa pesanan aku, ya?”
Margo mengangguk dan menyerahkan Klepon Cake. Indra muncul dengan wajah merah dan bekas balaclava.
“Tuh, sama Kak Margo kamu ketawa. Sama Papa judes amat?”
“Salah sendiri!”
“Bilangin si Mia nih, Go,” keluh Indra.
Margo tersenyum.
“Cuma gara-gara enggak diajak sunmori kamu marah ya, Mi?”
Dua orang itu terkejut.
“Tahu dari mana kamu, Go?”
“Mesin moge masih panas, helm nyantol, bekas balaclava di muka Om. Tapi, hari ini Mia bangun kesiangan kayaknya. Pasti gara-gara kebablasan nonton situs streaming video, nih.” Margo tertawa kecil.
Ia tahu Mia paling susah bangun pagi kalau habis bergadang.
“Hebat kamu, Go?” Indra bertolak pinggang kagum.
“Jelaslah, Pa! Papa tahu enggak?” Mia seolah lupa dengan rasa kesalnya, “Kak Margo ‘kan dapat beasiswa masuk SMA Manggala Utama.”
“Betulan, Go? Manggala Utama yang di Sentul itu? Wuih, selamat ya, Go,” Indra berdecak.
Catatan:
Moge: akronim dari motor gede, sepeda motor dengan kapasitas mesin 600 cc atau lebih.
Mpok: kakak perempuan; kata sapaan dalam suku Betawi untuk perempuan yang lebih tua.
sunmori: sunday Morning Ride, istilah untuk penghobi motor besar berkendara (touring) pada Minggu pagi.
balaclava: kain penutup muka, biasanya digunakan untuk pengendara motor agar terhindar dari panas matahari dan debu jalanan.
Sumber: Aghnia Sofyan, Margo dan Rahasia Setengah Abad, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2021.
Berdasarkan kutipan novel tersebut, bagaimana karakteristik sudut pandang dalam cerita dapat diidentifikasi?
a)
Kerja keras adalah kunci utama meraih kesuksesan.
b)
Hubungan antargenerasi memerlukan komunikasi yang baik.
c)
Pendidikan adalah investasi terbaik untuk mengganti status sosial.
11.
Margo memelankan laju sepeda saat mendekati rumah besar di ujung klaster. Kotak berisi kue buatan ibunya tersimpan aman di keranjang depan. Meski sering mengantar kue ke sana, ia tak bosan memandangi rumah mewah bergaya modern tropis itu. Menurut hitungan kasarnya, Margo harus melariskan puluhan ribu kotak kue untuk membeli rumah seperti itu. Ia terkekeh saat menimbang perlu tidaknya merintis usaha sebagai importir gula seperti Om Indra.
Gadis lima belas tahun itu menyandarkan sepedanya dan menyapa perempuan setengah baya yang sedang menyiram tanaman.
“Mia ada, Mpok?”
“Masuk aja, Non,” jawab wanita itu.
Margo tersenyum, mengambil kotak kue, dan melangkah masuk.
“Aw!” Ia mundur saat tersengat panas dari mesin moge bermesin impor Amerika Serikat. Sambil menghindar, ia mengangkat kotak kuenya agar tidak tersangkut helm dan jaket kulit di setang.
Dari dalam rumah, terdengar suara.
“Udah dong ngambeknya.”
“Siapa yang ngambek?!”
“Permisi... Om Indra ... Mia ...”
“Kak Margo!” Mia muncul ceria, meski rambutnya acak-acakan.
“Bawa pesanan aku, ya?”
Margo mengangguk dan menyerahkan Klepon Cake. Indra muncul dengan wajah merah dan bekas balaclava.
“Tuh, sama Kak Margo kamu ketawa. Sama Papa judes amat?”
“Salah sendiri!”
“Bilangin si Mia nih, Go,” keluh Indra.
Margo tersenyum.
“Cuma gara-gara enggak diajak sunmori kamu marah ya, Mi?”
Dua orang itu terkejut.
“Tahu dari mana kamu, Go?”
“Mesin moge masih panas, helm nyantol, bekas balaclava di muka Om. Tapi, hari ini Mia bangun kesiangan kayaknya. Pasti gara-gara kebablasan nonton situs streaming video, nih.” Margo tertawa kecil.
Ia tahu Mia paling susah bangun pagi kalau habis bergadang.
“Hebat kamu, Go?” Indra bertolak pinggang kagum.
“Jelaslah, Pa! Papa tahu enggak?” Mia seolah lupa dengan rasa kesalnya, “Kak Margo ‘kan dapat beasiswa masuk SMA Manggala Utama.”
“Betulan, Go? Manggala Utama yang di Sentul itu? Wuih, selamat ya, Go,” Indra berdecak.
Catatan:
Moge: akronim dari motor gede, sepeda motor dengan kapasitas mesin 600 cc atau lebih.
Mpok: kakak perempuan; kata sapaan dalam suku Betawi untuk perempuan yang lebih tua.
sunmori: sunday Morning Ride, istilah untuk penghobi motor besar berkendara (touring) pada Minggu pagi.
balaclava: kain penutup muka, biasanya digunakan untuk pengendara motor agar terhindar dari panas matahari dan debu jalanan.
Sumber: Aghnia Sofyan, Margo dan Rahasia Setengah Abad, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2021.
Berdasarkan kutipan novel tersebut, bagaimana karakteristik sudut pandang dalam cerita dapat diidentifikasi?
a)
Melalui detail pikiran dan perasaan semua tokoh dalam cerita
b)
Melalui penempatan tokoh Margo sebagai pencerita utama
c)
Melalui deskripsi peristiwa melalui perspektif pengamat luar
d)
Melalui dialog antartokoh yang seimbang tanpa keberpihakan
e)
Melalui informasi latar belakang tokoh yang terbatas pada tokoh Margo
12.
Margo memelankan laju sepeda saat mendekati rumah besar di ujung klaster. Kotak berisi kue buatan ibunya tersimpan aman di keranjang depan. Meski sering mengantar kue ke sana, ia tak bosan memandangi rumah mewah bergaya modern tropis itu. Menurut hitungan kasarnya, Margo harus melariskan puluhan ribu kotak kue untuk membeli rumah seperti itu. Ia terkekeh saat menimbang perlu tidaknya merintis usaha sebagai importir gula seperti Om Indra.
Gadis lima belas tahun itu menyandarkan sepedanya dan menyapa perempuan setengah baya yang sedang menyiram tanaman.
“Mia ada, Mpok?”
“Masuk aja, Non,” jawab wanita itu.
Margo tersenyum, mengambil kotak kue, dan melangkah masuk.
“Aw!” Ia mundur saat tersengat panas dari mesin moge bermesin impor Amerika Serikat. Sambil menghindar, ia mengangkat kotak kuenya agar tidak tersangkut helm dan jaket kulit di setang.
Dari dalam rumah, terdengar suara.
“Udah dong ngambeknya.”
“Siapa yang ngambek?!”
“Permisi... Om Indra ... Mia ...”
“Kak Margo!” Mia muncul ceria, meski rambutnya acak-acakan.
“Bawa pesanan aku, ya?”
Margo mengangguk dan menyerahkan Klepon Cake. Indra muncul dengan wajah merah dan bekas balaclava.
“Tuh, sama Kak Margo kamu ketawa. Sama Papa judes amat?”
“Salah sendiri!”
“Bilangin si Mia nih, Go,” keluh Indra.
Margo tersenyum.
“Cuma gara-gara enggak diajak sunmori kamu marah ya, Mi?”
Dua orang itu terkejut.
“Tahu dari mana kamu, Go?”
“Mesin moge masih panas, helm nyantol, bekas balaclava di muka Om. Tapi, hari ini Mia bangun kesiangan kayaknya. Pasti gara-gara kebablasan nonton situs streaming video, nih.” Margo tertawa kecil.
Ia tahu Mia paling susah bangun pagi kalau habis bergadang.
“Hebat kamu, Go?” Indra bertolak pinggang kagum.
“Jelaslah, Pa! Papa tahu enggak?” Mia seolah lupa dengan rasa kesalnya, “Kak Margo ‘kan dapat beasiswa masuk SMA Manggala Utama.”
“Betulan, Go? Manggala Utama yang di Sentul itu? Wuih, selamat ya, Go,” Indra berdecak.
Catatan:
Moge: akronim dari motor gede, sepeda motor dengan kapasitas mesin 600 cc atau lebih.
Mpok: kakak perempuan; kata sapaan dalam suku Betawi untuk perempuan yang lebih tua.
sunmori: sunday Morning Ride, istilah untuk penghobi motor besar berkendara (touring) pada Minggu pagi.
balaclava: kain penutup muka, biasanya digunakan untuk pengendara motor agar terhindar dari panas matahari dan debu jalanan.
Sumber: Aghnia Sofyan, Margo dan Rahasia Setengah Abad, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2021.
Kutipan novel tersebut memuat konflik antartokoh cerita. Konflik yang terjadi antara tokoh Om Indra dan Mia secara implisit menggambarkan ...
a)
Nilai empati: kemampuan memahami perasaan anggota keluarga lain
b)
Nilai otoritas: kewenangan orang tua dalam mengambil keputusan keluarga
c)
Nilai individualitas: hak setiap anggota keluarga untuk mengekspresikan diri
d)
Nilai kompromi: kesediaan bernegosiasi dalam menyelesaikan masalah keluarga
e)
Nilai keluarga: pentingnya komunikasi dalam mempertahankan harmoni keluarga
13.
Jangan Bertanya Kenapa
Jika kau ingin menyembunyikan kesedihanmu
Aku akan berada di dasar paling gelap lautan—atau hidup, apa bedanya?—sebagai jutaan hewan kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu dengan cahaya.
Jika kau ingin terbang tanpa angin, tapi langit membuatmu takut,
aku akan menjadi kebebasan
dan sayap yang tidak pernah lelah mengepak di punggungnya.
Jangan bertanya mengapa.
Setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak diberi satu pertanyaan.
Kelak.
Kau tahu.
Sumber: M.A. Mansyur, “Jangan Bertanya Kenapa” dalam Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2022.
Berdasarkan puisi tersebut, tentukan lirik yang relevan dengan peristiwa sehari-hari. Jawaban benar lebih dari satu.
a)
Jangan bertanya mengapa
b)
Sebagai jutaan hewan kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu
c)
Aku akan menjadi kebebasan dan sayap yang tidak pernah mengepak
d)
Setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak diberi pertanyaan
e)
Jika aku ingin menyembunyikan kesedihanmu, aku akan berada di dasar lautan.
14.
Jangan Bertanya Kenapa
Jika kau ingin menyembunyikan kesedihanmu
Aku akan berada di dasar paling gelap lautan—atau hidup, apa bedanya?—sebagai jutaan hewan kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu dengan cahaya.
Jika kau ingin terbang tanpa angin, tapi langit membuatmu takut,
aku akan menjadi kebebasan
dan sayap yang tidak pernah lelah mengepak di punggungnya.
Jangan bertanya mengapa.
Setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak diberi satu pertanyaan.
Kelak.
Kau tahu.
Sumber: M.A. Mansyur, “Jangan Bertanya Kenapa” dalam Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2022.
Manakah pernyataan terkait sikap tokoh Aku yang sesuai dengan isi puisi tersebut? Tentukan sesuai atau tidak sesuai untuk setiap pernyataan berikut!
a)
Tokoh aku adalah seorang yang enggan berkorban untuk orang lain
b)
Tokoh aku menawarkan keceriaannya untuk menghibur seorang yang ia sayangi (Sesuai)
c)
Tokoh aku mewajibkan semua pertanyaan harus dijawab (Tidak sesuai)
15.
Jangan Bertanya Kenapa
Jika kau ingin menyembunyikan kesedihanmu
Aku akan berada di dasar paling gelap lautan—atau hidup, apa bedanya?—sebagai jutaan hewan kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu dengan cahaya.
Jika kau ingin terbang tanpa angin, tapi langit membuatmu takut,
aku akan menjadi kebebasan
dan sayap yang tidak pernah lelah mengepak di punggungnya.
Jangan bertanya mengapa.
Setiap orang memiliki satu jawaban yang menolak diberi satu pertanyaan.
Kelak.
Kau tahu.
Sumber: M.A. Mansyur, “Jangan Bertanya Kenapa” dalam Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2022.
Tentukan pernyataan pada teks puisi berdasarkan kandungan pesan dalam puisi. Tentukan benar atau salah untuk setiap pernyataan berikut!
a)
Kesediaan untuk mendampingi dalam kesedihan
b)
Kesungguhan dalam mencapai penerimaan
c)
Memberikan dukungan dengan syarat tertentu
100 %
