Font size
WorksheetsAna_Imas_Dzul
Total questions: 100
Worksheet time: 58mins
Berikut ini definisi Makkiyah dan Madaniyah menurut pendapat yang paling populer di kalangan ulama ahli Al-Qur’an, yaitu….
Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum hijrahnya Rasulullah Saw ke Madinah sekalipun turunnya bukan di kota Makkah
Madaniyah adalah ayat yang ditujukan untuk umat Islam Madinah yang sudah terbentuk sebagai komunitas masyarakat
Madaniyah adalah ayat yang turun setelah hijrahnya Rasulullah Saw sekalipun turunnya di kota Makkah
Makkiyah adalah ayat yang ditujukan untuk penduduk Makkah (kaum musyrikin Quraisy)
Madaniyah adalah ayat atau surah yang diturunkan di wilayah Madinah dan sekitarnya.
Berikut ini ciri-ciri surat Madaniyyah, yaitu….
Suratnya Panjang-panjang
Mengandung masalah hukum
Terdapat kalimat yaa ayyuhannaas
Mengandung masalah keimanan/ tauhid
Terdapat kalimat Yaa ayyuhalladziina aamanuu
Jumlah surat yang dikategorikan Makkiyah dan Madaniyah menurut buku Ulumul Qur’an untuk pemula adalah….
84 surat Makkiyah dan 30 surat Madaniyah
85 surat Makkiyah dan 29 surat Madaniyah
87 surat Makkiyah dan 27 surat Madaniyah
89 surat Makkiyah dan 25 surat Madaniyah
90 surat Makkiyah dan 24 surat Madaniyah
Ditinjau dari bentuknya, asbabun nuzul diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu Asbābun nuzūl yang berbentuk ….
ujian iman dan janji Allah
kisah Nabi dan larangan Allah
peristiwa alam dan perintah Allah
wahyu pertama dan wahyu terakhir
peristiwa dan yang berbentuk pertanyaan
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 148 berikut
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Asbābun nuzūl ayat tersebut adalah….
Orang-orang munafik enggan ikut serta dalam perang Tabuk.
Kaum Muslimin berhasil mengalahkan Quraisy pada perang Badar
Perintah agar kaum Muslimin memperbanyak zikir di bulan Ramadan.
Kaum Quraisy menolak ajakan Nabi Muhammad Saw untuk berhijrah ke Madinah.
Perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah, sebagai jawaban atas ejekan orang Yahudi.
Hikmah adanya muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur’an adalah….
Sebagai salah satu ujian dari Allah agar semakin kuat keimanannya
Memperlihatkan keagungan dan kebenaran Al-Qur’an sebagai kalam Allah
Menjadikan Al-Qur’an hanya dapat dipahami oleh kalangan ulama tertentu saja
Membatasi pemahaman umat agar tidak mendalami ayat-ayat Al-Qur’an secara menyeluruh
Memberi kesempatan dan peluang kepada umat Islam untuk mengkaji dan meneliti ayat-ayat Al-Qur’an
Perhatikan QS. Al-Ahqaf: 17 berikut!
وَالَّذِيْ قَالَ لِوَالِدَيْهِ اُفٍّ لَّكُمَآ ....
Dalam kaidah Tafsir, lafadz "الَّذِيْ"merupakan ciri bentuk lafadz ‘Am yang berarti ditunjukkan oleh nomor….
Lafadz ‘ām berarti khusus, sehingga hanya berlaku bagi anak-anak yang hidup pada zaman Nabi saja.
Lafadz ‘ām hanya berlaku untuk kasus durhaka tertentu dan tidak mencakup semua bentuk kedurhakaan.
Lafadz ‘Am tidak terbatas pada satu individu tertentu (misalnya anak Yahudi/anak Arab saja), melainkan bersifat universal.
Lafadz ‘ām berarti umum, sehingga hukum dalam ayat ini berlaku untuk semua anak yang berbuat durhaka kepada orang tuanya.
Lafadz ‘Am menunjukkan bahwa larangan durhaka kepada orang tua adalah hukum syar’i yang berlaku bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman.
Perhatikan kedua potongan ayat berikut!
فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ
Memerdekakan budak yang beriman. (QS. An-Nisa: 92)
فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ
Memerdekakan budak. (QS. Al-Mujadilah: 3)
Analisislah kedua ayat di atas, lalu tentukan klasifikasi lafadznya!
Kedua ayat sama-sama Mutlaq
Kedua ayat sama-sama Muqayyad
Kedua ayat termasuk Muhkam karena jelas maksudnya
Ayat An-Nisa: 92 Muqayyad, sedangkan Al-Mujadilah: 3 Mutlaq
Ayat An-Nisa: 92 Mutlaq, sedangkan Al-Mujadilah: 3 Muqayyad
Metode tafsir Maudhu’i (tematik) memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode tafsir lainnya, di antaranya adalah….
membantu memahami hubungan antar ayat Al-Qur'an dalam konteks tema tertentu.
menggunakan pendekatan historis untuk menjelaskan konteks pewahyuan setiap ayat
mengutamakan penafsiran satu ayat secara mendalam tanpa mengaitkannya dengan ayat lain.
memungkinkan pembahasan suatu tema secara menyeluruh dan terfokus dari berbagai ayat yang relevan.
memberikan solusi praktis dan relevan terhadap permasalahan kontemporer berdasarkan pandangan Al-Qur'an.
Salah satu judul penelitian dalam bidang ilmu tafsir adalah “Interpretasi Tauhid dalam Tafsir Klasik dan Kontemporer” yang disusun oleh Hasan Ali (2022). Penelitian tersebut bertujuan untuk membandingkan penafsiran klasik dan modern serta mendalami aspek filosofis dan tematik dari tauhid.
Kombinasi metode tafsir yang paling tepat berdasarkan judul tersebut adalah….
Muqaran dan Maudhu’i
Ijmali dan Muqaran
Maudhu'i dan Isyari
Isyari dan Ijmali
Tahlili dan Isyari
Perhatikan QS. An-Najm: 39 berikut!
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat di atas sering digunakan dalam penafsiran untuk menjelaskan pentingnya kerja keras dan usaha dalam mencapai keberhasilan, baik dalam kehidupan individu maupun dalam membangun masyarakat. Jika ayat ini ditafsirkan untuk menekankan nilai gotong royong dan etos kerja dalam kehidupan bermasyarakat untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan, maka tafsir tersebut termasuk corak....
Fiqhi, karena fokus pada hukum usaha dan hasil dalam Islam
Maudhu’i, karena membahas tema usaha manusia secara tematik
Ilmi, karena menjelaskan hubungan usaha manusia dengan hukum alam
Tahlili, karena menganalisis ayat secara rinci tanpa mengaitkan aspek sosial
Adabi Ijtima’i, karena menyoroti nilai sosial dan memberikan solusi praktis untuk membangun masyarakat.
Salah satu judul penelitian di bidang Tafsir Qur’an adalah "Dimensi Esoterik dalam
Penafsiran Al-Qur'an: Kajian terhadap Makna Tersembunyi dalam Ayat-Ayat tertentu" yang
ditulis oleh Umar Harun (2020). Penelitian ini mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat
makna-makna yang tersembunyi (esoterik) dengan merujuk pada tafsir yang mengarah pada
makna simbolik dan isyarat, serta aplikasinya dalam kehidupan spiritual dan tasawuf.
Dengan demikian, sumber rujukan yang digunakan dan corak tafsir yang dihasilkan
dalam penelitian tersebut adalah….
Bil ma’tsur-fiqhi
Bir ra’yi ilhadi
Bir ra’yi-ilmi
Isyari-falsafi
Isyari-sufi
Kitab Tafsir bil Ma’tsur memiliki jumlah yang sangat banyak dan menjadi rujukan utama dalam memahami Al-Qur'an melalui riwayat-riwayat shahih. Di antara karya tafsir berikut, yang termasuk kitab Tafsir bil Ma’tsur adalah….
Ma’alim al-Tanzil, karya Al-Baghawi
At-Tafsir al-Wadhih, karya Dr. Muhammad Mahmud Hijazi
Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, karya Ar-Raghib al-Asfahani
At-Tafsir al-Farid li Al-Qur’an al-Majid, karya Abdul Hamid al-Farahi
Kasyfu As-Sarair fi Ma’na Al-Wujuh wal Asybah wa An-Nazhair, karya Abu Manshur al-Azhari
Perhatikan QS. Al-Maidah: 1 berikut!
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ ....
Ditafsirkan dengan QS. Al-Maidah: 3 berikut!ِ
َْحُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ ….
Penafsiran di atas merupakan contoh dari Tafsir….
Isyari
Falsafi
Bir Ra’yi
Bil Ma’qul
Bil Ma’tsur
Qirā’āt al-Qur’an memiliki banyak sekali macamnya. Ada yang secara sanad runtut sampai Rasulullah saw, bahkan ada juga yang terputus. Qirā’āt yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa dasar termasuk dalam jenis Qirā’āt....
Ahad
Syadz
Masyhur
Maudhu’
Mutawattir
Perhatikan teks berikut!
إِذَا زَنَى الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ فَارْجُمُوهُمَا
"Apabila seorang laki-laki tua dan seorang perempuan tua berzina, maka rajamlah keduanya."
Teks di atas berkaitan dengan hukuman rajam bagi orang yang sudah menikah dan melakukan perzinaan. Berdasarkan riwayat dari Ubay ibn Ka‘ab, Ibn Abu Umamah, dan Ibn Sahl, teks tersebut dulunya termasuk bagian dari Al-Qur’an, namun kemudian dihapus. Dengan demikian, berlaku hukum….
Naskh hukum dan tilawah: Penghapusan baik bacaan maupun hukumnya.
Naskh Al-Qur'an dengan Sunnah: Penghapusan hukum ayat Al-Qur'an dengan Sunnah Nabi.
Naskh Al-Qur'an dengan Sunnah: Penghapusan hukum ayat Al-Qur'an dengan Sunnah Nabi.
Naskh tilawah tanpa hukum: Penghapusan bacaan ayat Al-Qur'an, tetapi hukumnya tetap berlaku.
Naskh Al-Qur'an dengan Al-Qur'an: Penghapusan hukum ayat Al-Qur'an dengan ayat Al-Qur'an lainnya.
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 144 berikut!
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ ....
Ayat tersebut adalah contoh dari....
Naskh sunnah dengan sunnah
Naskh al-Qur`an dengan sunnah
Naskh sunnah dengan al-Qur`an
Naskh sunnah dengan ijma’
Naskh Al-Qur`an dengan sunnah
Di antara syarat berlakunya nasakh adalah dalil nāsikh tidak berupa dalil aqli, sebab….
Mansukh diganti dengan hukum yang lebih ringan
Nasakh merupakan penghapusan hukum syar’i
Nasikh mengganti hukum yang tidak berlaku
Nasikh merupakan dalil yang menghapus
Sifat dalil aqli adalah dzanni
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 45-46 berikut!َََُّّ
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ࣖ
45. Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
46. (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali.
Para ulama tafsir mengelompokkan munāsabah ke dalam dua kelompok besar, yaitu hubungan
dalam bentuk keterkaitan redaksi dan hubungan dalam bentuk keterkaitan makna (kandungan)
ayat atau surat. Kedua ayat tersebut di atas merupakan contoh munāsabah yang berbentuk….
hubungan antara ayat dengan ayat berikutnya
hubungan antara nama surah dengan isi surah
hubungan antara awal surah dengan akhir surah
hubungan kandungan surah dengan surah berikutnya
hubungan antara akhir surah dengan awal surah berikutnya
Perhatikan QS. Al-Gāsyiyah: 17-20 berikut!ِ
اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ
Ayat di atas menunjukkan adanya munasabah antar kata dalam beberapa ayat. Hal tersebut bisa diketahui dengan cara….
memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya
mengetahui maudlu’ atau tema yang dibicarakan
mengetahui asbab nuzul ayat yang berkaitan
memperhatikan obyek yang dibicarakan
memperhatikan huruf ‘athaf
Berikut ini nama-nama ulama yang termasuk ulama qira’ah sab’ah, yaitu ….
Abdullah Ibnu Katsir
Abu Amr bin A’la
Nafi al-Madani
Abdullah bin Zubair
Thalhah bin Khuwailid
Macam-macam qira’at dari kualitas terbagi menjadi tiga yaitu, al-Qira’at as-Sab’ah, al-Qira’at ‘Asyar, al-Qira’at al-Arba’ata ‘Asyar. Al-Qira’at as-Sab’ah termasuk qira’at yang shahih dan nama ulama yang qira’atnya banyak digunakan oleh umat Islam Indonesia Adalah.…
Hamzah Baghdadi
Al-Kisa’i al-Kufi
Ibnu ‘Amir asy-Syami
‘Ashim al-Kufi
Ya’kub al-Madani
Berikut ini yang tidak termasuk manfaat mempelajari ilmu tafsir, yaitu....
menjelaskan maksud setiap ayat
mengetahui makna kata-kata dalam Al-Qur`an
menyingkap hukum dan hikmah yang dikandung Al-Qur`an
mengetahui berbagai kitab-kitab tafsir yang beredar di masyarakat
menyampaikan pembaca kepada maksud yang diinginkan oleh Allah SWT
Seorang siswa membaca al-Qur’an dan menemukan sebuah lafadz yang sulit dipahami maksudnya. Ia mencoba melihat terjemah harfiyah, tetapi maknanya tidak sesuai dengan konteks ayat. Langkah yang paling tepat agar siswa tersebut memperoleh pemahaman yang benar sesuai maksud Allah SWT adalah....
Merujuk kepada kitab tafsir, karena tafsir menjelaskan makna ayat secara menyeluruh berdasarkan riwayat, bahasa, dan konteks turunnya ayat.
Menafsirkan ayat dengan takwil pribadi, yaitu menggunakan logika dan pengalaman hidupnya tanpa melihat pendapat ulama terdahulu.
Membandingkan terjemah tafsiriyah dari berbagai penerjemah, meskipun tidak memperhatikan riwayat atau sebab turunnya ayat.
Menyimpulkan arti kata tersebut dengan melihat kebiasaan masyarakat sekitar, tanpa merujuk pada kaidah tafsir yang benar.
Mengandalkan terjemah harfiyah saja, karena arti kata per kata dianggap sudah cukup untuk memahami maksud ayat.
Bacalah kisah berikut!
Khaulah binti Tsa’labah tak pernah menyangka rumah tangganya hancur hanya karena satu kalimat. Suaminya, Aus bin Shamit, dalam kemarahan mengucapkan, “Bagiku, kamu seperti punggung ibuku.” Dalam tradisi Arab, ucapan ini berarti talak yang tak bisa ditarik kembali. Tak terima dengan ketidakadilan ini, Khaulah menghadap Nabi Muhammad Saw., namun hukum yang berlaku saat itu tetap memisahkan mereka. Tidak menyerah, Khaulah mengadu langsung kepada Allah, berdoa dengan penuh keyakinan. Doa Khaulah akhirnya terjawab dengan turunnya wahyu QS. Al-Mujadilah: 1-2, yang menyatakan bahwa dzihar bukan lagi pemutus mutlak pernikahan, tetapi harus ditebus dengan kafarat. Berkat kegigihannya, Khaulah bukan hanya menyelamatkan rumah tangganya, tapi juga mengubah hukum yang berlaku. Ia adalah bukti bahwa Allah selalu mendengar suara hamba-Nya.
Berdasarkan kisah tersebut, hikmah ditunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah....
lebih mudah untuk dihafal dan dipahami
turun sebagai solusi atas persoalan yang terjadi
lebih mudah untuk diamalkan dalam kehidupan
memudahkan Nabi Saw dalam menerima wahyu
memudahkan malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu
Perhatikan QS. Ali Imran: 110 dan hadis Rasulullah Saw berikut!
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ ....
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)
Berdasarkan ayat dan hadis tersebut, esensi keutamaan umat Islam sebagai umat terbaik adalah....
Keutamaan umat Islam ditentukan oleh pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri utama umat terbaik.
Umat Islam dianggap terbaik karena jumlahnya yang besar dan tersebar luas di seluruh penjuru dunia.
Amar ma’ruf nahi munkar hanya menjadi kewajiban ulama, sedangkan masyarakat biasa cukup mengikuti perintah mereka.
Mengubah kemungkaran dengan lisan merupakan bentuk iman yang paling lemah dibandingkan dengan tangan atau hati.
Kualitas iman seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupannya.
Perhatikan QS. Ar-Rum: 41-42
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ
Pada ayat di atas, Allah membiarkan manusia merasakan akibat dari perbuatan mereka yang merusak alam. Pernyataan berikut yang tidak termasuk alasan Allah membiarkan manusia merasakan akibat perbuatan mereka, adalah….
sebagai peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar.
untuk menunjukkan keadilan Allah bahwa setiap perbuatan ada akibatnya
sebagai pelajaran bagi generasi mendatang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama
untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan mengingatkan mereka akan kebesaran-Nya
agar manusia mengingat bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan tidak perlu memperbaiki perilaku
Perhatikan QS. Al-Isra: 23 berikut!َ
ََِ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Jika berkata ah, berbicara atau bersuara yang menunjukkan rasa kesal dan berat saja diharamkan berdasarkan ayat di atas, maka perbuatan durhaka kepada orang tua yang dosanya lebih besar dari berkata ‘ah ini mencakup....
tidak mentaati perintah orang tua yang melanggar aturan agama
meninggalkan orang tua demi menuntut ilmu dan mewujudkan cita-cita
tidak menjaga nama baik orang tua, membuka aib dan menjelekkannya
menyuruh orang tua melayani kebutuhan anak dan membantu pekerjaan anak
pelit dan tidak mau memberi bantuan materi saat orang tua membutuhkan bantuan
Perhatikan kisah berikut!
Amr bin Hisyam, yang awalnya dijuluki Abul Hakam karena kecerdasan dan kebijaksanaannya, adalah tokoh berpengaruh di Makkah. Rasulullah Saw pernah berdoa agar salah satu dari dua Umar, Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam, masuk Islam. Namun, Allah memilih Umar bin Khattab, sementara Amr bin Hisyam justru menjadi musuh Islam. Ia menghalangi dakwah Rasulullah Saw, melarang shalat di Ka’bah, dan bahkan menumpahkan kotoran unta ke punggung Nabi saat sujud. Karena sikapnya yang mendukung penyembahan berhala dan menentang kebenaran, kaum Muslimin menjulukinya Abu Jahal (bapak kebodohan).
Menurut Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, pembangkangan Abu Jahal disebabkan kesombongannya atas kekayaan, jabatan, dan banyaknya pengikut. Dalam QS. Al- ‘Alaq: 13, Allah menyebutnya kadzdzaba (pendusta), bukan kaffara (kafir), karena ia mengetahui kebenaran tetapi tetap menolaknya dengan sadar.
Beberapa pernyataan yang benar terkait bacaan di atas, yaitu....
Kesombongan dan iri hati Abu Jahal kepada Rasulullah membuatnya menolak kebenaran Islam.
Abu Jahal sebenarnya adalah orang yang bodoh karena akalnya tidak mampu menemukan kebenaran
Ilmu yang tidak bermanfaat tidak dapat menghasilkan karya apapun dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi
Abu Jahal adalah contoh orang yang ilmunya tidak bermanfaat, tidak menyebabkan dirinya menjadi lebih baik, justru sebaliknya semakin mencelakakannya dan menjauhkannya dari Tuhan.
QS. Al-‘Alaq diawali perintah membaca dan diakhiri perintah bersujud kepada Allah, mengandung maksud bahwa ilmu yang bermanfaat akan menyampaikan manusia pada ketundukan kepada Allah
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 148 berikut!
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda Indonesia menjadi alarm bagi masa depan bangsa. Data BPS Agustus 2024 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional sebesar 4,91%, dengan kelompok usia 15–24 tahun mencapai 17,32%. Lulusan SMA tercatat memiliki pengangguran tertinggi (9,01%), sedangkan sarjana hanya 1,28%.
Dalam Islam, konsep "fastabiqul khairat" (berlomba-lomba dalam kebaikan) mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi lebih baik. Semangat ini harus menjadi motivasi bagi pemuda Indonesia untuk tidak menyerah pada keadaan, tetapi justru bangkit dan bersaing secara sehat.
Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan pemuda agar lebih kompetitif di dunia kerja, yaitu....
melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
mempelajari tren dan inovasi terbaru yang dibutuhkan di berbagai sektor.
mengikuti pelatihan dan kursus yang relevan dengan kebutuhan industri.
meningkatkan Soft Skills komunikasi, kerja sama tim, dan kepemimpinan.
mencari “orang dalam” dan menggunakan “uang pelicin” agar memperoleh jabatan
1. Perhatikan QS. Al-Isra: 29-30 dan teks berikut!َ
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا ࣖ
Di tengah krisis ekonomi yang semakin berat, banyak Masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Inflasi yang tinggi menyebabkan harga bahan pokok melonjak, sementara lapangan kerja semakin sempit. Dalam kondisi ini, sebagian orang mungkin merasa enggan bersedekah karena khawatir kebutuhan pribadinya tidak terpenuhi. Namun, QS. Al-Isra’ 29-30 mengajarkan keseimbangan dalam memberi: tidak terlalu kikir hingga menahan hak orang lain, tetapi juga tidak boros hingga menyusahkan diri sendiri. Allah menjamin bahwa Dia akan melapangkan atau menyempitkan rezeki sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.
Berdasarkan ayat dan teks di atas, berikut prinsip menyantuni dhuafa yang benar di saat krisis ekonomi, yaitu....
memberikan bantuan sesuai kemampuan tanpa berlebihan hingga mengorbankan kebutuhan dasar sendiri.
meyakini bahwa memberi di saat sulit justru membawa keberkahan dan membuka pintu rezeki lebih luas
mencari cara kreatif untuk bersedekah, seperti berbagi makanan atau memberikan peluang usaha kecil
mengutamakan gaya hidup hemat agar memiliki lebih banyak dana untuk membantu orang lain
menunda sedekah hingga kondisi ekonomi membaik agar tidak membebani diri sendiri
Perhatikan QS. Al-Furqan: 67 dan teks berikut!
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Indonesia saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang berat. Menurut data Bank Dunia, sekitar 40% penduduk Indonesia berada dalam kategori miskin atau rentan miskin, dengan pengeluaran harian kurang dari Rp32.745 per orang. Selain itu, jumlah kelas menengah terus
menurun dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Inflasi dan tingginya harga kebutuhan pokok semakin memperburuk daya beli masyarakat. Dalam kondisi ini, menerapkan gaya hidup sederhana menjadi salah satu solusi agar masyarakat bisa bertahan
dan tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan. Konsep hidup sederhana juga diajarkan dalam QS. Al-Furqan: 67, yang menekankan keseimbangan dalam membelanjakan harta, yaitu tidak boros dan tidak kikir, tetapi berada di antara keduanya. Prinsip ini dapat membantu masyarakat mengelola keuangan dengan lebih bijak di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Berdasarkan informasi di atas, cara yang tepat untuk menerapkan hidup sederhana sesuai dengan QS. Al-Furqan: 67 adalah.…
membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar keinginan atau gengsi.
menjalankan gaya hidup seimbang dengan tetap memenuhi kebutuhan dasar tanpa berlebihan
berhemat secara ekstrem dengan tidak membelanjakan uang sama sekali, bahkan untuk kebutuhan pokok
menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah dan tabungan agar lebih siap menghadapi kondisi darurat
menghindari gaya hidup konsumtif dan membatasi penggunaan fasilitas kredit seperti paylater dan pinjaman online
Perhatikan QS. At-Tahrim: 6 berikut!
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Seorang hamba tidak akan selamat hingga menunaikan perintah Allah terhadap dirinya sendiri
dan orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya seperti istri dan anak, serta yang lainnya yang berada di bawah kekuasaannya.
Berikut ini yang tidak termasuk contoh penerapan ayat di atas dalam kehidupan sehari-hari, yaitu….
melarang istri boros dan mubadzir dalam belanja
memberi hukuman jika anak meninggalkan shalat 5 waktu
mengajak anak dan istri untuk shalat berjamaah di masjid
membiarkan pembantu tidak shalat, karena bukan keluarga
mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 31 dan teks berikut!
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Ketika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, Allah mengajarkan Adam semua nama dan memberikan potensi bahasa kepada keturunannya. Penelitian Noam Chomsky pada
tahun 1956 menemukan perangkat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Device/LAD) pada manusia sejak lahir, yang tidak ditemukan pada makhluk lain. Secara biologis, manusia memiliki struktur mulut, lidah, dan bibir yang memungkinkan berbicara, serta bagian otak khusus untuk kebahasaan. LAD memungkinkan manusia menamai benda, mengeluarkan kata-kata, membentuk kalimat, dan melahirkan bahasa. Fungsi bahasa sangat banyak, termasuk sebagai alat komunikasi, sosialisasi, sarana belajar, berpikir, merumuskan ide, dan melahirkan ilmu pengetahuan.
Pernyataan yang paling tepat untuk menilai hubungan antara teori LAD dengan QS. Al-Baqarah: 31adalah....
Teori LAD membantah isi Al-Qur’an karena menganggap bahasa hanyalah hasil kerja otak manusia
QS. Al-Baqarah: 31 menunjukkan bahwa bahasa lahir dari interaksi sosial, bukan dari potensi bawaan.
QS. Al-Baqarah: 31 dan teori LAD saling melengkapi bahwa kemampuan bahasa adalah fitrah dari Allah.
Teori LAD dan Al-Qur’an membicarakan hal yang sama, tetapi keduanya berdiri sendiri tanpa keterkaitan.
Kemampuan bahasa dalam Al-Qur’an hanya berlaku untuk Nabi Adam, tidak relevan bagi manusia setelahnya.
Perhatikan QS. An-Nahl: 78 dan teks berikut!
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Saat Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya tanpa mengetahui apa-apa, Allah membekalinya dengan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani (fuad) untuk belajar dan memperoleh ilmu pengetahuan (QS. An-Nahl: 78). Mengapa hati nurani dan bukan akal? Menurut Al-Qur’an, organ utama yang digunakan untuk berpikir dalam memahami ayat-ayat Allah adalah hati (al-qalb, al-fu'ad, dan al-lubb). Akal adalah prajurit yang bertugas berpikir untuk memperoleh ilmu, sedangkan hati adalah raja yang memutuskan apakah ilmu yang diperoleh melahirkan keimanan atau kekufuran, menjadi ilmu yang bermanfaat atau tidak, dan memilih melakukan kebaikan atau keburukan.
Berikut ini pernyataan yang benar berdasarkan pemahaman terhadap teks di atas, yaitu....
Ilmu yang diperoleh seseorang bisa menjadi jalan iman atau kekufuran tergantung bagaimana hati menyikapinya
Hati nurani (fuad) adalah pusat pengambilan keputusan moral dalam diri manusia menurut pandangan Al-Qur’an
Akal memiliki posisi lebih tinggi dari hati dalam menilai benar dan salah karena fungsinya sebagai pemikir utama
Fungsi pendengaran dan penglihatan tidak relevan dalam proses memperoleh ilmu karena hanya sekadar alat sensorik
Dalam pandangan Al-Qur’an, hati berperan sebagai raja, sedangkan akal hanyalah pelayan yang menjalankan perintahnya
Perhatikan QS. Al-Isra: 32 berikut!
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Hukum yang dibahas dalam QS. Al-Isra: 32 adalah larangan mendekati zina, lantas bagaimana dengan hukum berzina itu sendiri? Maka dalam ilmu ushul fiqh, ini dinamakan Qiyas Aulawi, dimana hal yang diqiyaskan lebih berat dari hukum asalnya, artinya mendekati zina saja sudah diharamkan apalagi sampai berbuat zina, tentu dosanya lebih besar. Berdasarkan konsep Qiyas Aulawi, tindakan berikut yang paling mencerminkan penerapan nilai QS. Al-Isra: 32 dalam kehidupan remaja masa kini adalah....
menjalin hubungan pacaran selama tidak melewati batas fisik.
berteman dekat dengan lawan jenis selama tidak ada niat untuk berzina
menghindari pergaulan bebas dan memilih menonton film romantis sendirian
aktif dalam diskusi online tentang hubungan cinta selama tidak bertemu langsung
menjaga pandangan, tidak pacaran, dan focus membangun diri dalam pergaulan yang sehat
Perhatikan QS. Ali Imran: 190-191 berikut!
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allah memerintahkan manusia untuk mengamati alam semesta, membaca dan meneliti tanda-tandanya, juga berpikir tentang semua ciptaan Allah di antar langit dan bumi tersebut. Dengan demikian, objek yang harus dipikirkan manusia sebenarnya telah ditentukan oleh Allah Swt (sebagai pemilik ilmu pengetahuan), karena tidak semua ilmu Allah mampu dipikirkan dan dipahami oleh akal manusia. Objek yang harus dipikirkan manusia adalah yang Allah sebutkan sebanyak 18 kali yang tersebar dalam 13 surat dan 18 ayat al-Qur’an, meliputi hal-hal yang kongkret sampai hal-hal yang metafisik. Adapun objek yang tidak boleh dipikirkan manusia karena keterbatasan akalnya, yaitu berpikir tentang zat/ bentuk / jisim Allah.
Berdasarkan ayat dan penjelasan tersebut, pernyataan berikut yang mencerminkan penerapan nilai ayat secara tepat di era modern adalah....
mengembangkan teknologi satelit untuk mengamati pergerakan benda-benda langit sebagai bentuk tadabbur alam.
mempertanyakan keberadaan Tuhan karena tidak semua ciptaan dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan
menjadikan refleksi atas penciptaan langit dan bumi sebagai sarana meningkatkan ketakwaan
mengaitkan penelitian ilmiah dengan keimanan bahwa alam ini diciptakan tidak sia-sia
menghindari ilmu fisika kuantum karena isinya sulit dipahami oleh logika manusia
Perhatikan QS. Al-Hujurat: 10 berikut!
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Ayat di atas menegaskan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara dan diperintahkan untuk berdamai jika terjadi pertikaian. Di tengah keragaman paham keislaman dan kondisi sosial yang penuh perbedaan, umat Islam diuji untuk menerapkan ukhuwah dengan benar. Bayangkan kamu hidup di lingkungan yang mayoritas memiliki pemahaman Islam yang berbeda denganmu. Tindakan berikut yang paling mencerminkan penerapan QS. Al-Hujurat: 10 sekaligus menjaga persaudaraan dan ketakwaan adalah....
A. Menjaga hubungan baik meskipun berbeda pandangan fiqh, selama masih dalam koridor Islam.
Berdiskusi dengan cara yang hikmah dan santun ketika menghadapi perbedaan pemahaman agama
Hidup damai dengan kelompok muslim lain sambil terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah
Merasa wajib membenarkan semua aliran Islam tanpa mengkritisi ajarannya meskipun menyimpang
Menolak semua yang berbeda demi menjaga kemurnian agama dan menjauh dari kelompok "menyimpang"
Perhatikan QS. Al-Fajr: 6-9 berikut!
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ
Ayat di atas termasuk kategori Makkiyah, karena.…
bercerita tentang umat-umat terdahulu.
bercerita tentang kisah Adam dan Iblis
diawali dengan huruf Qasam
diawali dengan huruf tahajji
terdapat ayat sajdah
Meskipun keberadaannya mengandung nilai kebenaran yang relatif, namun dasar pemikiran tentang adanya munasabah dalam al-Qur’an ini berpijak pada prinsip yang bersifat absolut, karena….
Kajian munasabah didasarkan pada logika cocoklogi baik antar ayat ataupun surat.
Ayat al-Qur’an sudah dijamin keotentikannya oleh Allah Swt. Sampai akhir zaman
Ayat Al-Qur’an pasti benarnya, tidak mungkin bertentangan dengan akal sehat manusia
Kajian munasabah belum muncul pada masa Rasulullah, melainkan setelah berlalu sekitar tiga atau empat abad setelah masa beliau
Tartib (susunan) ayat-ayat Al-Qur’an bersifat Tauqifi yakni suatu susunan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw berdasarkan petunjuk dari Allah (wahyu)
Berikut ini adalah macam-macam qira’at yang boleh digunakan dalam shalat, yaitu….
syadz
shahih
sab’ah
masyhur
mutawatir
Perhatikan QS. Al-Hujurat: 2 berikut!
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.
Ayat di atas diturunkan karena ada peristiwa dimana dua sahabat berbicara keras di hadapan Rasulullah Saw. Dengan demikian, memahami asbābun nuzūl menjadi penting dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan tujuan....
supaya kita bisa menghindari kesalahan dalam membaca ayat dengan tartil.
agar kita memahami konteks sosial dan pesan moral ayat dengan lebih tepat
agar kita dapat memahami hukum fiqih yang terkandung dalam seluruh ayat
untuk menentukan tajwid dan panjang pendek harakat setiap kata secara akurat
karena seluruh ayat hanya bisa dipahami melalui riwayat asbābun nuzūl yang sahih
Perhatikan QS. Al-Kafirun berikut!
قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ
Makna toleransi yang benar menurut QS. Al- Kafirun: 1-6 di atas adalah....
pengakuan dan pembenaran terhadap agama dan keyakinan selain islam
perbedaan agama dan keyakinan tidak menutup jalan untuk tolong menolong
pengakuan tentang adanya realitas perbedaan agama dan kekayinan selain Islam
toleransi yang ditunjukkan dapat melunturkan keyakinan terhadap agama sendiri
Islam adalah agama yang benar dan tidak ada yang dapat menyamai syari'at islam
Perhatikan QS. Al-Kahfi: 29 berikut!
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا
Maksud lafadz "لِلظّٰلِمِيْنَ " di atas adalah....
Orang yang melakukan dosa besar dan mengabaikan hati nurani mereka untuk berbuat kebaikan
Orang yang banyak amal keburukannya dibandingkan amal shalehnya, sehingga ia akan masuk neraka
Orang yang memilih kafir, menolak hati nurani dan akal mereka tentang kebenaran yang datang dari Allah
Orang yang memilih beriman tetapi tidak mengikutinya dengan amal shaleh, sehingga keimanannya dipertanyakan
Orang yang terlahir dalam keluarga muslim namun tidak menyempurnakan keislamannya dengan iman dan amal shaleh yang benar
Perhatikan QS. Al-Hujurat: 12 berikut!
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Agar tercipta toleransi dan saling menghargai, maka tiga perilaku yang harus dikembangkan sesuai dengan kandungan ayat di atas adalah....
tidak berprasangka buruk
tidak menggunjing dan menggibah
tidak menghina dan mengolok-olok
tidak mencari-cari kesalahan orang lain
tidak memanggil dengan panggilan yang buruk
Perhatikan QS. An-Nur: 2 dan teks berikut
اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖوَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Di sebuah kota, sepasang muda-mudi tertangkap melakukan hubungan di luar nikah di sebuah apartemen. Keduanya masih lajang dan mengakui perbuatannya. Bukti berupa rekaman CCTV juga ada. Masyarakat menuntut agar pelaku dihukum sesuai syariat Islam. Namun, sebagian lainnya meminta pembinaan karena mereka masih muda dan menyesal.
Berdasarkan QS. An-Nur: 2 dan prinsip hukum Islam, sikap yang tepat dalam menanggapi kasus tersebut adalah.…
Melakukan pengkajian apakah syarat hudud terpenuhi, yaitu ada empat saksi adil atau pengakuan yang konsisten, sebelum menetapkan hukuman
Melaksanakan hukuman cambuk 100 kali tanpa persyaratan lain karena pengakuan dan bukti CCTV sudah cukup
Mengabaikan kasus ini karena pelaku masih muda dan hanya memberikan nasehat agar tidak mengulanginya
Membuka aib pelaku di media sosial supaya masyarakat menjadi takut dan tidak mengulangi perbuatan zina
Mengutamakan hukuman ta’zir berupa pembinaan karena bukti CCTV tidak bisa dijadikan dasar hudud
Perhatikan QS. At-Taubah: 122 berikut!
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan moral dan ideologi, ayat di atas mengandung arahan penting tentang peran strategis ilmu agama dalam menjaga ketahanan spiritual umat. Pernyataan berikut yang paling tepat dan mencerminkan nilai-nilai QS. At-Taubah: 122 adalah….
Dalam kondisi apapun, seluruh umat Islam harus turun langsung ke lapangan (medan fisik atau sosial), karena jihad lebih utama daripada menuntut ilmu.
Orang yang mendalami agama memiliki tanggung jawab dakwah, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga membina umat agar terhindar dari kesesatan
Di setiap komunitas muslim harus ada yang mendalami ilmu agama agar dapat membimbing masyarakatnya dan mencegah penyimpangan
Tugas mencari ilmu agama adalah bagian dari jihad intelektual dan strategis, terutama di tengah derasnya arus sekularisme dan materialism
Menuntut ilmu agama bisa ditunda jika kondisi sosial sudah damai, karena tidak ada lagi tantangan berarti bagi keimanan masyarakat
Perhatikan QS. Al-Baqarah: 30 berikut!
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Menjadi khalifah berarti memikul tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan, melestarikan, dan mengelola bumi secara bijak. Bukan merusak dan mengeksploitasi.
Berdasarkan narasi di atas, sikap yang mencerminkan peran manusia sebagai khalifah di bumi menurut QS. Al-Baqarah: 30 meliputi....
Menanam pohon dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
Membakar lahan untuk pertanian karena dianggap lebih cepat dan murah
Membuang limbah rumah tangga ke sungai karena tidak tersedia tempat pembuangan
Menyebarluaskan makna khalifah dalam Islam sebagai penjaga dan pelindung bumi
Mengajak teman dan masyarakat sekitar untuk melakukan reboisasi dan menjaga kebersihan sungai
Perhatikan QS. An-Naziat: 1-3 berikut ini!
وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ
Ayat di atas termasuk kategori Makkiyah, karena….
terdapat ayat sajadah.
diawali dengan huruf tahajji
bercerita tentang umat-umat terdahulu
bercerita tentang kisah Adam dan Iblis
diawali dengan huruf Qasam (sumpah)
Beberapa orang membaca QS. Al-Fatihah: 4 dengan pelafalan yang sedikit berbeda, seperti “Maliki” dan “Maaliki”, namun tetap dianggap sah.
Alasan perbedaan itu bisa diterima dalam ilmu qira’at karena….
setiap orang boleh membaca Al-Qur’an sesuai dengan dialek daerah masing-masing.
bacaan Al-Qur’an tidak bisa disatukan, maka semua bentuk bacaan harus diterima
bacaan yang berbeda berasal dari Nabi dan diturunkan dengan sanad mutawatir
perbedaan bacaan terjadi akibat kesalahan para sahabat dalam meriwayatkan
perbedaan bacaan tersebut berasal dari proses penyalinan mushaf yang keliru
Perhatikan ayat berikut ini!
....وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُۥ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم بِعِلۡمٖ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ
وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ٱلضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۢبِهِۦ
َلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ نَعۡمَآءَ بَعۡدَ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُ
وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرٗا
وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ
Perhatikan ayat berikut ini!
....وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ
وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتٞ
وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ
Perhatikan ayat berikut ini!
....وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُوا
وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ
وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم
يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ
Perhatikan ayat berikut ini!
....قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ
كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ
أَفَغَيۡرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبۡغُونَ وَلَهُۥٓ أَسۡلَمَ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡقَصَصُ ٱلۡحَقُّ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّا ٱللَّهُ
Perhatikan ayat berikut ini!
....ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَا يَهۡدِيهِمُ ٱللَّهُ
وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلۡعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمۡ
وَإِنَّ لَكُمۡ فِي ٱلۡأَنۡعَٰمِ لَعِبۡرَةٗ نُّسۡقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِۦ
أَوۡ يَأۡخُذَهُمۡ عَلَىٰ تَخَوُّفٖ فَإِنَّ رَبَّكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ
وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ
Perhatikan ayat berikut ini!
....فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
فَوَرَبِّكَ لَنَسَۡٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ
وَلَقَدۡ كَذَّبَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡحِجۡرِ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
قَالُواْ بَلۡ جِئۡنَٰكَ بِمَا كَانُواْ فِيهِ يَمۡتَرُونَ
Perhatikan ayat berikut ini!
....وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ
وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِ
هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦ
وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ
Perhatikan ayat berikut ini!
....كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُم مُّؤۡمِنُونَ
قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗا
تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوْنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ
وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ وَٱلنَّبِيِّۧنَ أَرۡبَابٗا
ذَٰلِكَ نَتۡلُوهُ عَلَيۡكَ مِنَ ٱلۡأٓيَٰتِ وَٱلذِّكۡرِ ٱلۡحَكِيمِ
Perhatikan ayat berikut ini!
....فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظّٗا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَا
وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُم كَيۡدُهُمۡ شَيۡٔٗا
قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
Perhatikan ayat berikut ini!
....ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقٗا ءَاخَرَۚ
Lanjutan ayat tersebut adalah:
فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ
َلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ
أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ
وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ
وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ
Perhatikan ayat berikut:
فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِ
Bagaimana penerapan perintah ini dalam kehidupan seorang pelajar?
Rajin belajar meski teman-teman banyak yang malas
Membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran
Mengikuti lomba akademik atau kegiatan positif di sekolah
Mengutamakan amal baik meski terlihat sederhana
Mengabaikan tugas sekolah untuk fokus ibadah pribadi
Perhatikan ayat berikut,
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
arti lafaz "ظَهَرَ "....
Telah nampak
Telah hadir
Telah ada
Telah bisa
Telah pergi
Perhatikan ayat berikut,
قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ
arti lafaz "فَٱنظُرُواْ".....
Maka pergilah
Maka adakanlah
Maka perhatikanlah
Maka urungkanlah
Maka damaikanlah
Perhatikan ayat berikut
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ
Arti lafaz "يُعۡجِبُكَ"....
Mengagetkanmu
Membuatmu marah
Memarahimu
Menakjubkanmu
Menghindarimu
Perhatikan ayat berikut
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ
arti lafaz "يُهۡلِكَ"....
Mengambil
Memetik
Menyiram
Membunuh
Merusak
Perhatikan ayat berikut
أَلَمۡ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيۡفَ مَدَّ ٱلظِّلَّ وَلَوۡ شَآءَ لَجَعَلَهُۥ سَاكِنٗا ثُمَّ جَعَلۡنَا ٱلشَّمۡسَ عَلَيۡهِ دَلِيلٗا
Arti lafaz "ٱلظِّلَّ"....
Mendung
Awan
Bayang-bayang
Tetap
Bukti
Perhatikan ayat berikut, artikan ayat yang dicetak tebal!
ثُمَّ قَبَضۡنَٰهُ إِلَيۡنَا قَبۡضٗا يَسِيرٗا
Arti lafaz "قَبۡضٗا "....
Tarikan
Ajakan
Perlahan-lahan
Dengan keras
Dengan hati-hati
Perhatikan ayat berikut,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ
Arti lafaz " تَفَسَّحُواْ"....
Berjuanglah
Bekerjalah
Berusahalah
Berikhtiarlah
Berlapang-lapanglah
Perhatikan ayat berikut,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Arti lafaz "لَا يَسۡخَرۡ"....
Jangan mencela
Jangan menggunjing
Jangan membentak
Jangan merendahkan
Jangan membenci
Perhatikan ayat berikut!
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat saat ini, perilaku yang paling mencerminkan nilai "لِتَعَارَفُوا" adalah …
Menghargai keberagaman budaya tanpa membeda-bedakan status sosial
Membanggakan suku sendiri dan merendahkan kelompok lain
Membatasi pergaulan hanya dengan orang yang satu etnis
Menghindari interaksi agar tidak terjadi konflik dengan orang berbeda
Memaksakan budaya sendiri agar diikuti oleh semua orang
Ibnu Katsir termasuk salah satu imam qiraat sab’ah .Beliau berasal dari
(a)
Surat yang turun setelah Nabi hijrah dinamakan surat
(a)
Surat makiyah yang paling panjang di dalam Al Qur’an adalah
(a)
Penafsiran Al Qur’an dengan pembahasan materi tertentu dinamakan
(a)
Tujuan penggunaan dhamir adalah untuk
(a)
Pernyataan: Tidak ada perbedaan antara ayat muhkam dan mutasyabih, keduanya dapat ditafsirkan dengan cara yang sama.
Benar
Salah
Pernyataan: Terjemahan Al-Qur’an selalu bersifat pasti, sehingga tidak perlu ada revisi dari waktu ke waktu.
Benar
Salah
Pernyataan: Mengetahui asbābun nuzūl membantu memahami konteks dan hikmah turunnya ayat.
Benar
Salah
Pada masa Abu Bakar, pengumpulan Al-Qur’an dilakukan karena banyak sahabat penghafal gugur di perang Yamamah.
Benar
Salah
Pernyataan: Tafsir ijmali adalah penafsiran ayat secara singkat, padat, tanpa uraian panjang.
Benar
Salah
Pernyataan: Tafsir muqāran adalah membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kitab-kitab sebelumnya.
Benar
Salah
Pernyataan: Tafsir al-Baghawi (Ma‘ālim al-Tanzīl) termasuk tafsir klasik yang banyak mengutip riwayat.
Benar
Salah
Pernyataan: Semua tafsir kontemporer menolak penggunaan riwayat hadis dalam penafsiran.
Benar
Salah
Pernyataan: Tafsir al-Jalalayn terkenal karena gaya bahasanya yang sangat panjang dan rumit.
Benar
Salah
Pernyataan: Salah satu kaidah tafsir adalah mendahulukan tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Benar
Salah
Pernyataan: Tafsir modern banyak dipengaruhi oleh konteks kolonialisme dan kebutuhan kebangkitan umat.
Benar
Salah
Pernyataan: Muhammad Abduh berusaha membangkitkan umat Islam dengan tafsir yang menekankan akal dan pembaruan sosial.
Benar
Salah
Pernyataan: Pada masa Utsman bin Affan, mushaf standar disalin dan disebarkan ke berbagai wilayah Islam.
Benar
Salah
Pernyataan: Semua ayat hukum dalam Al-Qur’an berbicara tentang ibadah ritual saja.
Benar
Salah
Pernyataan:Mushaf Al-Qur’an yang standar dan seragam ditetapkan pertama kali pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Benar
Salah
Kitab Fi Zhilāl al-Qur’an merupakan salah satu tafsir kontemporer yang bercorak pergerakan (haraki). Kitab ini menekankan semangat perjuangan Islam dalam kehidupan modern.
Kitab tersebut ditulis oleh…
Al-Tabari
Al-Qurtubi
Ibnu Katsir
Sayyid Qutb
Muhammad Abduh
Perhatikan pernyataan berikut ini!
عِلْمُ التَّعَلُّقِ بَيْنَ الآيَاتِ وَالسُّوَرِ وَالكَشْفِ عَنْ وَجْهِ التَّرَابُطِ فِيهَا
Pernyataan di atas menunjukkan pengertian…
Asbābun Nuzūl
Munāsabah
Qirā’āt
Balāghah Qur’āniyyah
Tafsīr Fiqhī
Perhatikan QS. Al-Hujurat ayat 13 berikut ini
{يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [الحجرات: 13]
Ayat di atas mengandung perintah dan tujuan yang jelas dalam interaksi sosial yaitu…
Perintah agar manusia saling berperang demi menunjukkan kehebatan.
Perintah agar manusia saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama.
Perintah agar manusia membedakan antara budaya satu dengan lainnya.
Perintah agar manusia menyamakan semua kebiasaan dalam masyarakat.
Perintah agar manusia menolak segala bentuk perbedaan yang ada.
QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 memuat perintah iqra’ sebagai wahyu pertama. Perintah ini dipandang memiliki makna yang luas dan mendalam menurut para mufassir. Makna yang tepat dari iqra’ adalah…
Membaca teks Al-Qur’an dengan lisan secara berulang-ulang.
Membaca tulisan Arab yang sudah diberi tanda harakat lengkap.
Membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada alam semesta.
Membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa manusia.
Membaca lafaz Al-Qur’an tanpa memperhatikan makna di dalamnya.
QS. Al-Mujādilah ayat 1 turun setelah peristiwa pengaduan Khaulah binti Tsa‘labah kepada Rasulullah ﷺ. Peristiwa tersebut menjadi contoh kajian dalam salah satu cabang ilmu Al-Qur’an.
Ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat dinamakan…
Munāsabah al-Āyāt
‘Ilmu al-Qirā’āt
Asbābun Nuzūl
An-Nāsikh wa al-Mansūkh
Makkiy wa Madaniy
Kitab tafsir al-Kashshāf karya az-Zamakhsyarī termasuk dalam kategori tafsir yang menonjolkan aspek tertentu. Kitab ini terkenal dengan kedalaman bahasanya, namun bercorak Mu‘tazilah. Kategori tafsir tersebut adalah…
Tafsir bi al-ma’tsūr yang berbasis riwayat hadis sahih.
Tafsir bi al-ra’yi yang menonjolkan aspek bahasa dan balaghah.
Tafsir fiqhī yang fokus pada penjelasan hukum-hukum syariat.
Tafsir falsafī yang membahas persoalan akidah filsafat.
Tafsir ‘ilmī yang menyoroti fenomena sains modern.
Perhatikan ayat al-Qur’an di bawah ini!
{ فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالُوا لِفِرْعَوْنَ أَئِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ } [الشعراء: 41]
Penggunaan isim nakirah“لَأَجْرًا “ pada ayat di atas untuk….
mengagungkan
menunjukkan makna tunggal
menunjukkan jenis atau macam
menunjukkan jumlah yang banyak
merendahkan atau meremehkan
Apabila penafsiran ayat Al-Quran dengan ijtihad itu, hasilnya tidak sesuai dengan kebenaran yang dibawa Al-Qur’an, maka ‘ulama menyebutnya sebagai tafsir….
al-madzmum
al-makruh
al-mahmud
al-munkar
al-matruk
Peristiwa berikut ini, yang menjadi faktor munculnya penafsiran al-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad saw adalah ….
sebagian besar sahabat menjadi ahli tafsir
ajaran Islam tidak banyak diterima kaum musyrikin
tabi’in belajar tafsir dari sahabat dan meriwayatkannya
berdirinya madrasah tafsir di Makkah, Madinah dan Iraq
saat sahabat salah paham dalam memaknai lafaz dzalim
Musyawarah merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah di masyarakat. Ungkapan yang menyinggung hal itu adalah….
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا
فَإِذَا عَزَمْتَ
فَاعْفُ عَنْهُمْ
