WorksheetsUntitled Quiz
Total questions: 30
Worksheet time: 15mins
Seorang wanita, 52 tahun, datang dengan benjolan pada payudara kiri yang teraba keras, ireguler, berukuran 4 cm. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening aksila ipsilateral yang terfiksasi (>2 cm). Biopsi jarum inti (core biopsy) menunjukkan :Karsinoma Duktal Invasif grade 3. Hasil Imunohistokimia (IHC): ER (Estrogen Receptor) negatif, PR (Progesterone Receptor) negatif, HER2 3+ (positif kuat). Staging klinis: cT2N1M0. Pasien tidak memiliki komorbiditas signifikan dan fungsi jantungnya normal. Berdasarkan panduan NCCN/ESMO terbaru, apakah pilihan penatalaksanaan sistemik *neoadjuvant* yang paling tepat untuk pasien ini?
Paclitaxel, Carboplatin, Trastuzumab, dan Pertuzumab (TCH-P).
Paclitaxel mingguan ditambah Trastuzumab dan Pertuzumab selama 6-8 siklus, diikuti oleh operasi.
Terapi Endokrin dengan Anastrozole ditambah Ribociclib selama 6 bulan, diikuti oleh operasi.
Doxorubicin dan Cyclophosphamide (AC) diikuti oleh Paclitaxel (T) sebagai terapi neoadjuvant.
Seorang wanita, 42 tahun, pre-menopause, didiagnosis Kanker Payudara Invasif: ER+/PR+/HER2-**, cT2N1M0. Pasien menjalani kemoterapi neoadjuvant (AC-T), dan mencapai respons parsial (tidak mencapai pCR). Operasi Mastektomi Radikal Modifikasi (MRM) dilakukan. Pasien masih memiliki penyakit residu di payudara dan KGB. Apakah penatalaksanaan **adjuvant** sistemik selanjutnya yang paling tepat untuk pasien ini, sesuai panduan NCCN/ESMO, untuk mengurangi risiko rekurensi?
Terapi Endokrin Adjuvant (Tamoxifen) + Radiasi saja
Capecitabine (Kemoterapi) selama 8 siklus, dilanjutkan dengan Terapi Endokrin Adjuvant.
Cyclin-dependent kinase 4/6 (CDK4/6) Inhibitor (seperti Abemaciclib) ditambah Terapi Endokrin Adjuvant selama 2 tahun.
Switch ke Fulvestrant + Everolimus, dilanjutkan Radiasi.
Seorang wanita, 60 tahun, dengan Kanker Payudara Metastatik (ER+/PR+/HER2-) mengalami progresi penyakit setelah 15 bulan menjalani terapi lini pertama Letrozole ditambah Palbociclib. Tumor primer telah diperiksa dan ditemukan mutasi gen PIK3CA positif. Pasien asimtomatik dan tidak mengalami krisis visceral. Apakah regimen terapi lini kedua yang paling tepat berdasarkan profil molekuler ini?
Fulvestrant ditambah Alpelisib (PIK3CA inhibitor).
Fulvestrant ditambah Everolimus (mTOR inhibitor).
Kemoterapi tunggal dengan Capecitabine (Xeloda).
Terapi Endokrin tunggal dengan Exemestane.
Seorang wanita, 45 tahun, pre-menopause, baru didiagnosis Kanker Payudara Metastatik (Maligna stadium IV). Tumor primer payudara: **ER+/PR+/HER2-**. Metastasis terbatas di tulang (5 lesi). Pasien tidak ada krisis visceral. Pasien tidak ingin menjalani Ovarian Ablation atau Supression (OAS). Apakah pilihan terapi sistemik lini pertama yang paling tepat untuk pasien ini?
Kemoterapi berbasis Paclitaxel mingguan
Tamoxifen (SERM) ditambah Everolimus
Anastrozole (AI) ditambah Palbociclib
Fulvestrant (SERD) ditambah Ribociclib (CDK4/6 Inhibitor).
Seorang perempuan berumur 60 tahun, datang dengan benjolan di payudara kanan sejak 2 tahun yang lalu, dari pemeriksaan fisik didapatkan massa ukuran 7cm dan belum menembus kulit bagian luar. Pasien mengaku tidak menstruasi semejak 5 tahun yang lalu. Dari hasil IHK didapatkan Estrogen Reseptor +, Progesteron Reseptor +, Her2 negatif dan KI67 + low grade, dari hasil laboratorium hanya didapatkan Fibrinogen dan D-dmer tinggi, fungsi hati, ginjal dalam batas normal, dari USG didapatkan metastase proses pada hati. Tatalaksana awal pada pasien ini adalah:
Kemoterapi regimen TAC
Kemoradiasi
Kemoterapi dilanjutkan Tamoxifen tablet
Letrozole tablet
Kemoterapi TAC + kemoradiasi
Seorang perempuan berumur 60 tahun, datang dengan benjolan di payudara kanan sejak 2 tahun yang lalu, dari pemeriksaan fisik didapatkan massa ukuran 7cm dan belum menembus kulit bagian luar. Pasien mengaku tidak menstruasi semejak 5 tahun yang lalu. Dari hasil IHK didapatkan Estrogen Reseptor +, Progesteron Reseptor +, Her2 negatif dan KI67 5%, dari hasil laboratorium hanya didapatkan Fibrinogen dan D-dmer tinggi, fungsi hati, ginjal dalam batas normal, dari USG didapatkan metastase proses pada hati.. Dari hasil IHK, termasuk dalam
Luminal A
Luminal B Low grade
Luminal B High Grade
Basal like
Triple negative
Seorang wanita, 48 tahun, didiagnosis Kanker Payudara Metastatik, subtipe Triple Negative (TNBC). Pemeriksaan Immunochemistry (IHC) menunjukkan PD-L1 Combined Positive Score (CPS) ≥10. Pasien belum pernah menerima kemoterapi untuk penyakit metastatik. Apakah regimen terapi lini pertama terbaik yang direkomendasikan untuk pasien ini?
Sacituzumab Govitecan (Anti-Trop-2 Antibody-Drug Conjugate)
Pembrolizumab (PD-1 Inhibitor) ditambah Kemoterapi (misalnya, Nab-Paclitaxel).
Monoterapi dengan Nab-Paclitaxel.
Kemoterapi berbasis platinum (Carboplatin atau Cisplatin).
Laki-laki usia 68 tahun datang dengan keluhan kelelahan penuruna berat badan dan terasa cepat kenyang selama 4 bulan terakhir Dari pemeriksaan fisik didapatkan Lien S VI, Hb 11.1 g/dL, and hematocrit is 33.7%. leukosit 6200/μL, dan trombosit 220,000/μL. Gambaran sel darah 75% PMNs, 8% mye locytes, 4% metamyelocytes, 8% lymphocytes, 3% monocytes, and 2% eosinophils. Apusan darah tepi menunjukkan gambaran teardrop cells, sel darah merah berinti, dan immature granulocytes. Rheuma-toid faktor positive. Biopsi sumsum tulang telah dilakukan, tetapi tidak ada sel yang dapat diasipirasi.tidak didapatan bukti yang mengarah ke leukemia dan lymphoma. Apa penyebab splenomegaly yang paling mungkin?
Chronic idiopathic myelofibrosis
Chronic myelogenous leukemia
Rheumatoid arthritis
Wanita usia 50 tahun datang dengan membawa hasil Patologi anatomi, dari anamnesa didapatkan pasien telah melakukan pengangkatan bola mata kanan 1 bulan yang lalu, Hasil PA dan IHK menunjukan hasil Lymphoma non Hodgkin regio orbita tipe Marginal Zone. Hasil CD 20 +, CD 3+, Hasil Ro menunjukan adanya nodul yang dicurigai metastasis. Terapi yang tepat berikan pada pasien ini
CHOP
RCHOP
Rituximab + Bendamustin
Rituximab + Cycloposphamin
Rituximab
Seorang laki-laki, 50 tahun datang ke rumah sakit dnegan keluhan timbul bitnik-bintil merah di kulit dan mimisan sejak 3 hari. Sebelum masuk RS. Sudah 6 bulan yang lalu, pasien sering mengeluh tidak nafsu makan, perut terasa lebih cepat kenyang. Selain itu juga merasa perut bertambah besar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran hati 3 jari di bawah arkus costae, dengan pemeriksaan limpa S V. Hasil laboratorium Hb: 8 mg/dL, GT 23%, Trombosit 58.000, leukosit 586.000/m3. Hitung jenis (0/0/1/58/14/6): sel blat 14%, promielosit 4%, metamielosit: 3%, mielosit 2%. Diagnosa yang paling mungkin pada pasien ini adalah:
Leukemia mieloblastik
Leukemia limfositik kronik
Leukemia granulositik kronik fase blastik
Leukemia granulositik kronik fase kronik
Leukemia granulositik kronik fase akselerasi
Seorang Laki-laki 50 tahun dengan keluhan sesak sejak 1 hari yang lalu. Sesak semakin memberat disertai riwayat kejang sebelumnya. Pemeriksaan fisis didapatkan TD: 110/80mmhg, HR:110x/ reguler, RR : 45x cepat dan dalam. Laboratorium Hb 10,2 g/dl, leukosit 12.157/mm3, trombosit 151.000/mm3. Kalium : 6,5mg/dl. Asam urat 14mg/dl. Creatinine 12mg/dl. Pasien riwayat Limfoma maligna Hodgkin dan post kemoterapi 2 hari yang lalu. Apakah tindakan yang paling tepat dilakukan pada pasien tersebut?
Forced diuretic selama 24 jam pertama dengan penambahan allopurinol 600-800mg/24jam oral
10 IU insulin dalam D 40% 50 ml habis 30 menit
Infus mannitol 12,5 gram
10 IU insulin dalam D50% 50ml habis 30 menit + Hemodialisa
Allopurinol 600mg/24jam oral, alkalinisasi urin dengan natrium bikarbonat 50-100mEq
Seorang wanita 67 tahun datang ke UGD dengan nyeri perut, keluhan lain berupa BAB encer campur darah, dan mual muntah dirasa kadang, demam tidak ada. Riwayat DM dan hipertensi ada tidak rutin berobat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan lemah, TD 95/70 mmHg, nadi 108 x/menit lemah, RR 18 x/ menit, suhu 36,3C. Pemeriksaan fisis tampak anemis ada, ikterus tidak ada, nyeri pada seluruh area abdomen, bising usus kesan normal, organomegali tidak ada, tidak didapatkan tanda peritonitis. Pada laboratorium didapatkan Hb 10,4, leukosit 4800, trombosit 59000, ureum 132 mg/dL, kreatinin 5,19 , LDH 1738 UI / L, ADT : schistocytes. Hasil monitor urine output dalam 6 jam sekitar : 50cc.
HUS
TTP-idiopathic
DIC
ITP
TTP-like
Seorang perempuan berusia 65 tahun datang berobat ke poliklinik dengan keluhan cepat lelah sejak 1 bulan yang lalu. Pasien tampak pucat dan letih. Riwayat transfusi berulang (+). Dari pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, paru dan jantung dalam batas normal, hepatosplenomegali tidak ada. Hasil laboratorium Hb 7,0 g/dL, leukosit 4.800/mm3, trombosit 75.000/mm2, hitung jenis leukosit: eosinofil 0%, basofil 0%, netrofil batang 0%, netrofil segmen 55%, limfosit 18%, monosit 25%, sel blast 2%. Hasil BMP : hiposeluler disertai displasia sistem hemopoeisis, sideroblas 10%, blast 15%. Patogenesis yang mungkin pada kasus diatas adalah :
Abnormalitas sitogenetik seperti delesi 5q atau monosomi 7
Gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi gen globin
Translokasi gen BCR-ABL atau terbentuk kromosom Ph
Reaksi kompleks auto imun
Defek jalur heksosa monofosfat
Seorang laki-laki 65 tahun datang berobat ke poliklinik dengan keluhan cepat lelah sejak 1 bulan yang lalu. Pasien tampak pucat dan letih. Riwayat transfusi berulang (+). Dari pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, paru dan jantung dalam batas normal, hepatosplenomegali tidak ada. Hasil laboratorium Hb 7,5 g/dL. Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
Anemia aplastik
Anemia defisiensi besi
Anemia hemolitik kronik
Leukemia akut
4.000/mm3, trombosit 75.000/mm2, hitung jenis leukosit : eosinofil 0%, basofil 0%, netrofil batang 0%, netrofil segmen 55%, limfosit 18%, monosit 25%, sel blast 5%. Hasil BMP : hiposeluler disertai displasia sistem hemopoiesis, sideroblast 10%, blast 30%, Auer rod body (-). Indikator prognosis buruk pada pasien ini adalah:
Usia lanjut dan didapatkan sel blast tinggi pada BMP
Usia lanjut dan didapatkan sideroblast bercincin yang tinggi pada BMP
Didapatkan sideroblast bercincin dan sel blast yang tinggi pada BMP
Usia lanjut, didapatkan sideroblast bercincin dan sel blast normal pada BMP
Usia lanjut, sel blast rendah pada darah tepi dan sel blast tinggi pada BMP
Seorang pria, 25 tahun datang ke rumah sakit dengan bintik kemerahan pada dinding mulut yang dialami sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, tidak ada demam, tidak ada riwayat demam sebelumnya. Tidak ada riwayat trauma. Pada pemeriksaan fisis didapatkan TD : 110/80, suhu 36.7°C, konjungtiva tidak anemis, jantung, dan abdomen dalam batas normal. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 11.0 g/dL, MCV 88 fl, MCH 32 g/dL, Hct 33%, leukosit 6.300/mm3, trombosit 165.000/mm3, PT 12.1 detik, APTT 65 detik, Faktor IX 0.8 U/ml (N = 0.5-1.5 U/ml), dan uji Ristostein rendah. Diagnosis yang paling tepat pada kasus ini adalah…
Hemofilia A
Hemofilia B
Von Willebrand disease
Hemofilia B dan penyulit Von Willebrand disease
Koagulopati kausa penggunaan warfarin
Perempuan, 58 tahun, seorang peternak ayam, datang ke RS dengan keluhan benjolan pada leher kiri, tidak terasa nyeri, benjolan juga pasien keluhkan muncul pada kedua ketiak dan pangkal paha kanan, pasien tidak mengeluh demam, Pasien juga mengeluh berat badan bertambah turun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan pada leher kiri, ketiak kiri dan kanan, serta pada inguinal kanan dengan konsistensi kenyal, mobile, nyeri (-), pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Pemeriksaan darah rutin dalam batas normal. Dari pemeriksaan jaringan benjolan didapatkan hasil suatu limfoma Non Hodgkin, Stadium berdasarkan Ann Arbor I pada pasien diatas adalah?
Stadium IB
Stadium II A
Stadium II B
Stadium IIIA
Stadium IIIB
Seorang laki-laki usia 40 tahun datang dengan keluhan benjolan pada leher kanan disebelah bawah teliga kanan yang dirasakan bertambah besar sejak 5 bulan terakhir, pasien tidak ada keluhan demam, seminggu terakhir pasien mengeluh nyeri pada benjolan tersebut dan mengeluh kadang mimisan 1 minggu terakhir, telinga kanan terasa pekak sehingga pendengaran berkurang, ada didapatkan penurunan berat badan drastis sejak 2 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisis didapatkan benjolan pada leher kanan, ukuran 3x4 cm, tidak mobile, nyeri tekan ada.
Limfadenitis TB
Limfadenitis non-spesifik
Limfoma Hodgkin
Limfoma Non Hodgkin
Karsinoma nasofaring
Seorang wanita berusia 50 tahun masuk di RS dengan keluhan demam disertai batuk lendir sejak 3 hari. Sesak mulai dirasakan sejak 1 hari terakhir. Pasien dirawat dengan diagnosa CML fase akselerasi. Riwayat konsumsi imatinib 2x200mg sejak 1 tahun terakhir. Riwayat DM dan hipertensi ada sejak 5 tahun terakhir. Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien sadar, TD : 110/80mmhg, HR 112x/m, RR : 30x/m, S : 39. Bronchovesicular ronkhi kasar hemithorax sinistra. Lien schuffner 4. Lab : wbc 1,100, Hb: 9,8, PLT: 100.000. ANC 600sel/mm3. GDS 230mg/dl. Perawatan hari ke 5 keluhan demam masih ada. Pemeriksaan Lab kontrol didapatkan WBC 600. PLT 90000. Hb 9,5. ANC 200 sel/mm3. GDS 257, Ur/Cr : 50/0,9. GOT/GPT : 110/190. Pasien sudah diberikan kombinasi antibiotik sesuai kultur dan direncanakan pemberian anti fungal. Tatalaksana yang tepat untuk pasien tersebut ?
Voriconazole
Itrakonazole
Caspofungin
Mycafungin
Amfoterisin B
Seorang perempuan usia 37 tahun dengan karsinoma nasofaring stadium IIA, datang ke poliklinik dan akan melanjutkan kemoterapi ajuvan siklus ketiga dengan regimen Cisplatin dan 5-Flouro-uracil. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan hemodinamik stabil dan konjungtiva anemis. Hb 6,5 gr/dL; leukosit 9.500/uL; trombosit 374.000/uL, fungsi jantung, renal dan liver normal. Pasien direncanakan pemberian transfusi darah PRC sebanyak 2 kantong per hari. 4 jam setelah transfusi PRC pertama selesai, tiba-tiba pasien mengeluh demam, batuk dan sesak napas. Dari hasil pemeriksaan, didapatkan tekanan darah 80/40 mmHg, Nadi 125x/menit, RR 30x/menit, T 38,4°C. Konjungtiva masih anemis, JVP tidak meningkat, namun didapatkan ronki di seluruh lapang paru, ekstremitas tampak pucat dan dingin. Cairan isotonis diberikan sebanyak 250 cc dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan radiologis. Kemudian didapatkan hasil Hb 7,2 gr/dL; leukosit 2.050/uL; trombosit 325.000/uL; gambaran foto toraks didapatkan kongesti paru. Patofisiologi yang terjadi pada pasien tersebut adalah :
Adanya interaksi antara IgA pada darah donor dengan anti-IgA spesifik pada plasma resipien.
Destruksi sel darah merah setelah transfusi akibat darah yang inkompatibel.
Adanya reaksi antara neutrofil resipien dengan antibodi donor yang memiliki HLA atau antigen neutrofil spesifik.
Ketidakmampuan resipien donor dalam mengompensasi volume dari produk transfusi.
Adanya kerusakan jaringan paru yang menyebabkan perdarahan alveolar difus.
Seorang laki-laki usia 43 tahun dikonsul dokter Neurologi dengan keluhan hemiparese dextra dan dijumpai riwayat nyeri kepala, telinga berdenging, dan gatal-gatal. Pasien juga merasakan adanya benjolan di perut sebelah kiri dan terdapat penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisis didapatkan splenomegali schufner 2. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 19 gr/dl, Ht 53%, leukosit 16.000/μL, trombosit 970.000/μL. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang ditemukan hiperseluler trilinier dengan proliferasi sel eritroid, granulosit dan megakariosit dan mutasi JAK 2 V617F positif. Tatalaksana yang tepat pada kasus di atas adalah :
Flebotomi + Busulfan + Aspirin + Anti Histamin
Flebotomi + Interferon alfa + Aspirin + Anti Histamin
Flebotomi + Hidroksiurea + Aspirin + Anti Histamin
Flebotomi + Ruxolitinib + Aspirin + Anti Histamin
Flebotomi + Anagrelide + Aspirin + Anti Histamin
Seorang pria, 45 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan kuning pada mata dan badan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai rasa lemas. Buang air kecil pagi hari berwarna cola. Tidak ada riwayat bepergian ke daerah endemis. Pada pemeriksaan fisis didapatkan konjungtiva pucat, sclera ikterus, jantung paru dalam batas normal, splenomegali schuffner 2. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 7,0 g/dL, MCV 88 fl, MCHC 32 g/dL, Hct 21%, leukosit 2.300/mm3, trombosit 65.000/mm3, bilirubin total 4,4 mg/dL, bilirubin direk 1,8 mg/dL dan indirek 2,6 mg/dL, retikulosit 2,8%. Urinalisis : hemoglobinuria. Pemeriksaan sucrose water test : positif. Patogenesis yang mendasari penyakit diatas adalah:
Gangguan mutasi somatik pada totipotent haematopoetic stem cell
Defisiensi G6PD menyebabkan hemolitik akut dan hemoglobinuria
Gangguan mutasi somatik menyebabkan peningkatan pembentukan GPI anchored
Fibrosis sumsum tulang yang menyebabkan hemopoiesis ekstramedulare dengan splenomegaly dan leukoeritro blastosis dalam darah
Infeksi parasit menyebabkan hemolitik massif
Seorang wanita 21 tahun dengan thalassemia, datang dengan keluhan pucat. Tidak ada riwayat transfusi darah rutin setiap bulan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Lien teraba S V pada laboratorium didapatkan. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hemoglobin 6,5 g/dL, lekosit 5.000/uL, trombosit: 160.000/uL, leukosit 5700/uL, ferritin 1879 mg/dL. Tatalaksana kelasi besi pada pasien ini adalah:
Defferifirone 30 mg/kg BB
Defferipirone dengan dosis awal BB20 mg/kg
Defferiprone 75mg/kg BB
Defferasirox dosis awal 20 mg/kg BB
Defferasissx 75 mg/Kg BB
Seorang Wanita 54 tahun dengan NHL dan rencana dilakukan kemoterapi. Namun saat ini pasien didiagnosa menderita sindrom lisis tumor. Dari pemeriksaan laboratorium yang di harapkan untuk menegakan diagnosis adalah:
Hiperurisemia, hiperkalemia, hiperfosfatemia, hiperkalsemia.
Hiperurisemia, hipokalemia, hiperfosfatemia, hipokalsemia.
Seorang wanita berusia 53 tahun berobat ke poliklinik dengan keluhan tungkai bawah sakit. Pada pemeriksaan fisik tekanan darah 150/80 mmHg frekuensi nadi 78 x/menit, limpa teraba schuffner 2, dan terdapat pitting edema pada tungkai kanan bawah. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hematokrit 65%, lekosit 12.000/mm³, trombosit 450.000/mm³, MCV 92 fl, MCH 30 pg, neutrofil 5.500/mm³. Diagnosis kerja pada pasien tersebut diatas adalah :
Myelofibrosis
Leukemia akut
Polisitemia vera
Leukemia kronis
Trmbositosis esensial
Perempuan, 42 tahun datang dengan keluhan lemas semenjak 4 minggu yang lalu, pasien mengaku terkadang timbul becak- becak merah di kulit dan gusi berdarah saat sikat gigi di pagi hari. Vital sign dalam batas norma. Konjungtiva anemis, didapatkan ekimosis dan purpura yang non-palpable di ekstremitas atas Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10,2 gr/dL, leukosit 5.300/uL, trombosit 43.000/uL. Pada hapusan darah tepi didapatkan giant thrombocyte dan pada BMP didapatkan peningkatan megakariosit. Terapi yang dapat diberikan pada pasien di atas adalah:
Transfusi TC 1 unit/kgBB hingga perdarahan berhenti atau PLT > 50.000/uL.
Prednison 1-1,5 mg/kgBB/hari secara oral seumur hidup.
Imunoglobulin intravena 1 gram/kgBB/hari selama 2-3 hari.
Prednison 1-1,5 mg/kgBB/hari secara oral selama 2 minggu dan dievaluasi responnya.
Segera direncanakan untuk splenektomi
Seorang wanita 42 tahun datang ke Poliklinik Penyakit Dalam dengan keluhan lemas yang dialami sekitar sebulan yang lalu. Pasien ada riwayat kejang yang dialami sekitar 1 minggu yang lalu. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan anemis, dan subikterik. Pemeriksaan laboratorium didapatkan HB 8,5 g/dL, PLT 30.000/mm3, apusan darah tepi didapatkan skistositiosis dan morfologi platelet normal, fungsi hati dan ginjal sedikit meningkat, dan pada pemeriksaan Coombs test negatif. Diagnosis yang tepat untuk kondisi pasien tersebut adalah
Idiopathic Thrombocytopenic Purpura
Thrombotic Thrombocytopenia Purpura
Hemolytic Uremic Syndrome
Evan’s Syndrome
Disseminatic Intravascular Coagulation
Salah satu kriteria WHO untuk diagnosis pada pasien ini adalah adanya mutasi gen yaitu
Mutasi pada JAK 2
CD-117
FLT3 tirosinkinase
Fms-related Tirosin kinase 3
BCR-ABL
Seorang wanita 39 tahun memeriksakan diri ke poliklinik dengan keluhan sering merasa nyeri seperti terbakar pada kedua kaki, kadang disertai rasa panas yang dialami sejak 4 bulan terakhir. Pemeriksaan laboratorium rutin dalam batas normal, kecuali kadar trombosit yang tinggi (Plt 857.000/mm3). Berdasarkan hasil evaluasi lanjutan, pasien didiagnosis menderita Trombositosis Esensial. Bila wanita ini masih berkeinginan untuk hamil lagi, pilihan terapi manakah yang paling tepat diberikan?
Anagrelid
Hidroksiurea
Aspirin
Interferon alfa
Anti CD 20
Seorang wanita, 45 tahun, pre-menopause, didiagnosis Kanker Payudara Invasif ER+/PR+/HER2- (Luminal A). Hasil Biopsi KGB Sentinel menunjukkan **1 kelenjar getah bening aksila positif** (makrometastasis), pT1c N1a M0. Pasien menjalani Lumpectomy. Berdasarkan status pre-menopause, T1c, dan N1, apakah rekomendasi **Terapi Endokrin Adjuvant** yang paling kuat sesuai pedoman terbaru?
Hanya observasi karena tumor masih T1c.
Anastrozole (Aromatase Inhibitor) saja selama 5 tahun.
Ovarian Suppression (OAS) dengan LHRH agonis, ditambah Tamoxifen atau Aromatase Inhibitor, selama 5–10 tahun.
Tamoxifen saja selama 5 tahun.
Kemoterapi Adjuvan paclitaxel tiap minggu
