wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

ULANGAN HARIAN BAHASA INDONESIA

Total questions: 20

Worksheet time: 13mins

Name
Class
Date
1.

BACALAH POTONGAN TEKS ANEKDOT DIBAWAH INI

Seorang mahasiswa jurusan hukum sedang berdiskusi dengan temannya di kantin.

"Aku heran," kata mahasiswa itu. "Di negara kita, undang-undang dibuat begitu banyak, seperti tidak ada habisnya. Tapi, kenapa ya, masalah hukum di masyarakat tetap saja ruwet?"

Temannya, seorang mahasiswa ekonomi, menjawab santai, "Mungkin, Mas, masalahnya bukan pada undang-undangnya. Mungkin di negara kita, banyak rakyat yang hanya membaca bab awal saja, tapi tidak pernah sampai ke bab sanksi nya!" Mahasiswa hukum itu hanya bisa tersenyum geli mendengar jawaban itu.

  1. 1. Pesan utama yang ingin disampaikan dalam anekdot di atas adalah...

a)

Hukum di Indonesia terlalu rumit karena jumlah undang-undang yang terlalu banyak.

b)

Kritik terhadap pelaksanaan hukum di mana masyarakat cenderung abai terhadap sanksi.

c)

Mahasiswa hukum kurang memahami masalah sosial di masyarakat.

d)

Perbedaan pandangan antara mahasiswa hukum dan ekonomi dalam melihat masalah negara.

2.

BACALAH POTONGAN TEKS ANEKDOT DIBAWAH INI

Seorang mahasiswa jurusan hukum sedang berdiskusi dengan temannya di kantin.

"Aku heran," kata mahasiswa itu. "Di negara kita, undang-undang dibuat begitu banyak, seperti tidak ada habisnya. Tapi, kenapa ya, masalah hukum di masyarakat tetap saja ruwet?"

Temannya, seorang mahasiswa ekonomi, menjawab santai, "Mungkin, Mas, masalahnya bukan pada undang-undangnya. Mungkin di negara kita, banyak rakyat yang hanya membaca bab awal saja, tapi tidak pernah sampai ke bab sanksi nya!" Mahasiswa hukum itu hanya bisa tersenyum geli mendengar jawaban itu.

  1. 2. Perasaan yang dialami oleh mahasiswa hukum pada akhir anekdot adalah...

a)

Terkejut

b)

Kecewa

c)

Marah

d)

Geli

3.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

"Coba kamu jelaskan fungsi pagar rumah!" tanya seorang guru. Murid itu menjawab, "Untuk mencegah orang masuk, Pak!" Guru mengangguk. Lalu, ia bertanya lagi, "Kalau pagar negara kita?"

  1. 3. Kaidah kebahasaan yang ditunjukkan oleh kata "Lalu" pada kalimat di atas adalah...

a)

Kata kerja material

b)

Kalimat sindiran

c)

Konjungsi temporal

d)

Kata sifat

4.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang kepala daerah sedang meninjau proyek pembangunan. Ia marah-marah melihat bahan baku yang digunakan tidak sesuai standar. "Kenapa kualitasnya seperti ini? Mana pertanggungjawaban kalian?" Kontraktor itu dengan santai menjawab, "Maaf, Bapak, inilah hasil dari pembangunan yang mengutamakan kecepatan dan ______."

  1. 4. Kata yang paling tepat untuk melengkapi bagian rumpang (kosong) pada anekdot tersebut adalah...

a)

Kuantitas

b)

Ketepatan

c)

Efisiensi

d)

Kejujuran

5.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Murid: "Pak Guru, kenapa ya, belajar sejarah itu membosankan?"

Guru: "Itu karena kamu belum menemukan cara yang tepat. Coba ulangi pertanyaanmu. Mungkin aku yang salah mengajarimu, atau jangan-jangan kamu yang sudah terlalu nyaman dengan ______?"

  1. 5. Frasa yang paling tepat untuk melengkapi bagian rumpang (kosong) pada anekdot tersebut adalah...

a)

Metode ceramah

b)

Nilai yang jelek

c)

Informasi instan

d)

Buku-buku lama

6.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang pemimpin partai sedang memberikan ceramah di depan kadernya. Ia berapi-api menyampaikan visi anti-korupsi dan keadilan. Tiba-tiba, ia berhenti sebentar karena batuk keras. Seorang kadernya dengan sigap memberikan sebotol air mineral.

"Maaf, Bapak haus?" tanya kader itu.

Pemimpin partai itu menggeleng, "Tidak. Ini bukan haus biasa. Saya rasa kerongkongan saya terasa kering sekali karena harus mengucapkan kata-kata 'jujur' dan 'bersih' di hadapan kalian. Itu kata-kata yang sudah lama tidak terpakai di mulut kami." Semua kader terdiam.

  1. 6. Pesan kritis yang paling mendalam dari anekdot di atas adalah..

a)

Para pemimpin partai sering lupa minum saat berpidato panjang.

b)

Kritik terhadap kemunafikan politisi yang hanya berjanji bersih namun tidak pernah jujur dalam praktiknya.

c)

Kader partai tidak sigap dalam memberikan pertolongan kepada pemimpin mereka.

d)

Kesehatan fisik pemimpin partai perlu menjadi perhatian utama.

7.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang pemimpin partai sedang memberikan ceramah di depan kadernya. Ia berapi-api menyampaikan visi anti-korupsi dan keadilan. Tiba-tiba, ia berhenti sebentar karena batuk keras. Seorang kadernya dengan sigap memberikan sebotol air mineral.

"Maaf, Bapak haus?" tanya kader itu.

Pemimpin partai itu menggeleng, "Tidak. Ini bukan haus biasa. Saya rasa kerongkongan saya terasa kering sekali karena harus mengucapkan kata-kata 'jujur' dan 'bersih' di hadapan kalian. Itu kata-kata yang sudah lama tidak terpakai di mulut kami." Semua kader terdiam.

  1. 7. Pernyataan yang paling mencerminkan kritik sosial yang terkandung dalam anekdot tersebut adalah...

a)

Penggunaan air mineral dalam kampanye politik merupakan pemborosan anggaran.

b)

Setiap janji politik yang diucapkan harus disertai dengan bukti nyata.

c)

Pemimpin yang sakit seharusnya tidak memaksakan diri untuk berpidato.

d)

Antara ucapan dan tindakan para politisi seringkali tidak sejalan (kontradiktif).

8.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang pemimpin partai sedang memberikan ceramah di depan kadernya. Ia berapi-api menyampaikan visi anti-korupsi dan keadilan. Tiba-tiba, ia berhenti sebentar karena batuk keras. Seorang kadernya dengan sigap memberikan sebotol air mineral.

"Maaf, Bapak haus?" tanya kader itu.

Pemimpin partai itu menggeleng, "Tidak. Ini bukan haus biasa. Saya rasa kerongkongan saya terasa kering sekali karena harus mengucapkan kata-kata 'jujur' dan 'bersih' di hadapan kalian. Itu kata-kata yang sudah lama tidak terpakai di mulut kami." Semua kader terdiam.

  1. 8. Perasaan yang paling mungkin dialami oleh para kader setelah mendengar alasan batuk dari pemimpin partai tersebut adalah...

a)

Senang, karena merasa dikasihi oleh pemimpin mereka.

b)

Terkejut dan tercengang, karena menyadari pemimpin mereka mengakui praktik buruk.

c)

Marah, karena pemimpin mereka telah menyindir kinerja kader.

d)

Lega, karena pemimpin mereka tidak sakit parah.

9.

"Mengapa kamu tidak hadir saat ulangan kemarin?" tanya guru.
Murid itu menjawab, "Maaf, Pak. Saya tidak bisa datang karena harus menjaga ibu saya yang sedang sakit."

  1. 9. Kaidah kebahasaan yang paling mendominasi bagian yang dicetak tebal adalah penggunaan...

a)

Konjungsi sebab-akibat

b)

Kalimat imperatif

c)

Pola deretan konjungsi temporal

d)

Kalimat tanya retoris

10.

Hakim: "Saudara didakwa atas tuduhan pencemaran nama baik. Apa pembelaan Anda?"

Tersangka: "Yang Mulia, saya hanya menyampaikan fakta. Jika fakta itu mencemarkan, berarti ada yang salah. Seharusnya, bukan saya yang dihukum, melainkan orang yang melakukan tindakan yang ______."

  1. 10. Kata yang paling tepat untuk melengkapi bagian rumpang (kosong) pada anekdot tersebut adalah...

a)

Meresahkan

b)

Mencemarkan

c)

Merugikan

d)

Membahayakan

11.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Di Balai Kota, seorang warga desa yang sudah lama mengurus KTP bertanya kepada seorang petugas, "Pak, sudah dua bulan KTP saya belum jadi. Padahal saya sudah ikut semua prosedur dan mengeluarkan banyak biaya tak terduga."

Petugas itu menjawab santai sambil menunjuk spanduk besar bertuliskan 'Pelayanan Prima Tanpa Pungli'. "Maaf, Bapak. KTP Bapak masih dalam proses. Bapak harus sabar. Lagipula, KTP itu kan cuma kartu kecil. Jangan terlalu membebani pikiran Anda, kami di sini sudah bekerja keras."

Warga desa itu tersenyum kecut. "Benar, Pak, KTP memang kartu kecil. Tapi di mata rakyat seperti saya, kartu kecil itu adalah tiket untuk bisa merasakan janji besar di spanduk Bapak!"

  1. 11. Pesan utama anekdot ini adalah bahwa program pelayanan publik yang dicanangkan pemerintah seringkali hanya sebatas slogan tanpa implementasi yang nyata.

a)

BENAR

b)

SALAH

12.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Di Balai Kota, seorang warga desa yang sudah lama mengurus KTP bertanya kepada seorang petugas, "Pak, sudah dua bulan KTP saya belum jadi. Padahal saya sudah ikut semua prosedur dan mengeluarkan banyak biaya tak terduga."

Petugas itu menjawab santai sambil menunjuk spanduk besar bertuliskan 'Pelayanan Prima Tanpa Pungli'. "Maaf, Bapak. KTP Bapak masih dalam proses. Bapak harus sabar. Lagipula, KTP itu kan cuma kartu kecil. Jangan terlalu membebani pikiran Anda, kami di sini sudah bekerja keras."

Warga desa itu tersenyum kecut. "Benar, Pak, KTP memang kartu kecil. Tapi di mata rakyat seperti saya, kartu kecil itu adalah tiket untuk bisa merasakan janji besar di spanduk Bapak!"

  1. 12. Rasa marah Warga Desa ditunjukkan melalui penekanan kata "tiket untuk bisa merasakan janji besar" yang diucapkan dengan suara keras.

a)

BENAR

b)

SALAH

13.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Di Balai Kota, seorang warga desa yang sudah lama mengurus KTP bertanya kepada seorang petugas, "Pak, sudah dua bulan KTP saya belum jadi. Padahal saya sudah ikut semua prosedur dan mengeluarkan banyak biaya tak terduga."

Petugas itu menjawab santai sambil menunjuk spanduk besar bertuliskan 'Pelayanan Prima Tanpa Pungli'. "Maaf, Bapak. KTP Bapak masih dalam proses. Bapak harus sabar. Lagipula, KTP itu kan cuma kartu kecil. Jangan terlalu membebani pikiran Anda, kami di sini sudah bekerja keras."

Warga desa itu tersenyum kecut. "Benar, Pak, KTP memang kartu kecil. Tapi di mata rakyat seperti saya, kartu kecil itu adalah tiket untuk bisa merasakan janji besar di spanduk Bapak!"

  1. 13. Petugas merasa tertekan dan mencoba membela diri karena beban kerja yang berat, seperti yang diungkapkan dalam kalimat "kami di sini sudah bekerja keras."

a)

BENAR

b)

SALAH

14.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang dosen memberikan ujian integritas kepada mahasiswanya. Salah satu soalnya berbunyi: "Jelaskan mengapa Anda memilih jurusan ini dan mengapa Anda layak mendapatkan nilai A."

Seorang mahasiswa menjawab dengan jujur: "Saya memilih jurusan ini karena tuntutan orang tua. Saya layak mendapat nilai A karena saya berhasil menyontek seluruh jawaban tanpa ketahuan, sehingga integritas saya dalam bekerja di bawah tekanan teruji." Dosen itu terdiam sejenak.

  1. 14. Kaidah kebahasaan dalam jawaban mahasiswa tersebut menggunakan majas ironi karena menyatakan integritas padahal ia menyontek.

a)

BENAR

b)

SALAH

15.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Seorang dosen memberikan ujian integritas kepada mahasiswanya. Salah satu soalnya berbunyi: "Jelaskan mengapa Anda memilih jurusan ini dan mengapa Anda layak mendapatkan nilai A."

Seorang mahasiswa menjawab dengan jujur: "Saya memilih jurusan ini karena tuntutan orang tua. Saya layak mendapat nilai A karena saya berhasil menyontek seluruh jawaban tanpa ketahuan, sehingga integritas saya dalam bekerja di bawah tekanan teruji." Dosen itu terdiam sejenak.

  1. 15. Jika bagian rumpang diubah menjadi "...tanpa ketahuan, padahal kejujuran adalah kunci", maksud anekdot akan berubah dari kritik sarkastik menjadi nasihat moral.

a)

BENAR

b)

SALAH

16.


Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Rapat darurat diadakan untuk mengatasi kebocoran dana proyek yang sangat masif. Semua orang frustrasi karena kerugian terus terjadi.

PAK KEPALA: "Baik, selamat malam semuanya. Saya panggil rapat mendadak ini karena laporan terakhir menunjukkan kebocoran anggaran kita sudah mencapai angka yang memalukan! Rp500 miliar hilang hanya dalam tiga bulan! Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus cari cara menutup lubang kebocoran ini!"

BU SEKRETARIS: (Menghela napas) "Maaf, Bapak. Kita sudah ganti sistem pengawasan lima kali, mengganti petugas setiap bulan, bahkan sudah pasang CCTV di setiap sudut ruangan, tapi dananya tetap menguap."

PAK KEPALA: "Justru itu! Kita sudah lakukan segalanya secara prosedural, tapi kenapa kebocoran tetap terjadi? Harus ada solusi yang radikal!"

BU SEKRETARIS: "Solusi radikal seperti apa, Pak?"

PAK KEPALA: (Berdiri, tampak serius) "Begini! Kita anggarkan lagi dana sebesar Rp100 miliar khusus untuk membeli gembok, rantai, dan alarm canggih. Dana itu juga kita gunakan untuk menyewa konsultan yang khusus melatih integritas tim! Pokoknya, kita harus membuat sistem ini anti-bocor!"

BU SEKRETARIS: (Tersenyum sinis, menatap Pak Kepala) "Maaf, Pak, kalau boleh saya beri masukan. Bapak tidak perlu repot-repot menganggarkan dana tambahan untuk membeli gembok atau sistem baru."

AK KEPALA: (Kesal) "Lalu, kita harus bagaimana?!"

BU SEKRETARIS: "Sederhana, Pak. Kalau Bapak benar-benar ingin menghentikan kebocoran dana... coba Bapak alokasikan Rp500 miliar itu untuk membeli semua gembok, rantai, dan CCTV, tapi yang Bapak gembok, rantai, dan awasi... adalah sumber air di kantor ini."

PAK KEPALA: (Bingung) "Sumber air? Kenapa?"

BU SEKRETARIS: "Karena kalau Bapak perhatikan, di kantor ini yang tidak pernah bocor itu cuma keran air, karena memang tidak ada dana yang mengalir di situ."

Seluruh ruangan menjadi hening. Pak Kepala kembali duduk, menyadari bahwa kebocoran yang paling parah bukanlah pada sistem, melainkan pada mereka yang mengendalikan dananya. Rapat pun dibubarkan tanpa hasil, namun dengan satu kesadaran baru yang pahit.

  1. 16. kutipan yang tebal dan berwarna di atas masuk ke dalam struktur ..



(a)  

17.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Rapat darurat diadakan untuk mengatasi kebocoran dana proyek yang sangat masif. Semua orang frustrasi karena kerugian terus terjadi.

PAK KEPALA: "Baik, selamat malam semuanya. Saya panggil rapat mendadak ini karena laporan terakhir menunjukkan kebocoran anggaran kita sudah mencapai angka yang memalukan! Rp500 miliar hilang hanya dalam tiga bulan! Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus cari cara menutup lubang kebocoran ini!"

BU SEKRETARIS: (Menghela napas) "Maaf, Bapak. Kita sudah ganti sistem pengawasan lima kali, mengganti petugas setiap bulan, bahkan sudah pasang CCTV di setiap sudut ruangan, tapi dananya tetap menguap."

PAK KEPALA: "Justru itu! Kita sudah lakukan segalanya secara prosedural, tapi kenapa kebocoran tetap terjadi? Harus ada solusi yang radikal!"

BU SEKRETARIS: "Solusi radikal seperti apa, Pak?"

PAK KEPALA: (Berdiri, tampak serius) "Begini! Kita anggarkan lagi dana sebesar Rp100 miliar khusus untuk membeli gembok, rantai, dan alarm canggih. Dana itu juga kita gunakan untuk menyewa konsultan yang khusus melatih integritas tim! Pokoknya, kita harus membuat sistem ini anti-bocor!"

BU SEKRETARIS: (Tersenyum sinis, menatap Pak Kepala) "Maaf, Pak, kalau boleh saya beri masukan. Bapak tidak perlu repot-repot menganggarkan dana tambahan untuk membeli gembok atau sistem baru."

AK KEPALA: (Kesal) "Lalu, kita harus bagaimana?!"

BU SEKRETARIS: "Sederhana, Pak. Kalau Bapak benar-benar ingin menghentikan kebocoran dana... coba Bapak alokasikan Rp500 miliar itu untuk membeli semua gembok, rantai, dan CCTV, tapi yang Bapak gembok, rantai, dan awasi... adalah sumber air di kantor ini."

PAK KEPALA: (Bingung) "Sumber air? Kenapa?"

BU SEKRETARIS: "Karena kalau Bapak perhatikan, di kantor ini yang tidak pernah bocor itu cuma keran air, karena memang tidak ada dana yang mengalir di situ."

Seluruh ruangan menjadi hening. Pak Kepala kembali duduk, menyadari bahwa kebocoran yang paling parah bukanlah pada sistem, melainkan pada mereka yang mengendalikan dananya. Rapat pun dibubarkan tanpa hasil, namun dengan satu kesadaran baru yang pahit.

Rapat darurat diadakan untuk mengatasi kebocoran dana proyek yang sangat masif. Semua orang frustrasi karena kerugian terus terjadi.

  1. 17. kutipan yang tebal dan berwarna di atas masuk ke dalam struktur ..



(a)  

18.

Cermati kutipan teks anekdot berikut:

Rapat darurat diadakan untuk mengatasi kebocoran dana proyek yang sangat masif. Semua orang frustrasi karena kerugian terus terjadi.

PAK KEPALA: "Baik, selamat malam semuanya. Saya panggil rapat mendadak ini karena laporan terakhir menunjukkan kebocoran anggaran kita sudah mencapai angka yang memalukan! Rp500 miliar hilang hanya dalam tiga bulan! Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus cari cara menutup lubang kebocoran ini!"

BU SEKRETARIS: (Menghela napas) "Maaf, Bapak. Kita sudah ganti sistem pengawasan lima kali, mengganti petugas setiap bulan, bahkan sudah pasang CCTV di setiap sudut ruangan, tapi dananya tetap menguap."

PAK KEPALA: "Justru itu! Kita sudah lakukan segalanya secara prosedural, tapi kenapa kebocoran tetap terjadi? Harus ada solusi yang radikal!"

BU SEKRETARIS: "Solusi radikal seperti apa, Pak?"

PAK KEPALA: (Berdiri, tampak serius) "Begini! Kita anggarkan lagi dana sebesar Rp100 miliar khusus untuk membeli gembok, rantai, dan alarm canggih. Dana itu juga kita gunakan untuk menyewa konsultan yang khusus melatih integritas tim! Pokoknya, kita harus membuat sistem ini anti-bocor!"

BU SEKRETARIS: (Tersenyum sinis, menatap Pak Kepala) "Maaf, Pak, kalau boleh saya beri masukan. Bapak tidak perlu repot-repot menganggarkan dana tambahan untuk membeli gembok atau sistem baru."

AK KEPALA: (Kesal) "Lalu, kita harus bagaimana?!"

BU SEKRETARIS: "Sederhana, Pak. Kalau Bapak benar-benar ingin menghentikan kebocoran dana... coba Bapak alokasikan Rp500 miliar itu untuk membeli semua gembok, rantai, dan CCTV, tapi yang Bapak gembok, rantai, dan awasi... adalah sumber air di kantor ini."

PAK KEPALA: (Bingung) "Sumber air? Kenapa?"

BU SEKRETARIS: "Karena kalau Bapak perhatikan, di kantor ini yang tidak pernah bocor itu cuma keran air, karena memang tidak ada dana yang mengalir di situ."

Seluruh ruangan menjadi hening. Pak Kepala kembali duduk, menyadari bahwa kebocoran yang paling parah bukanlah pada sistem, melainkan pada mereka yang mengendalikan dananya. Rapat pun dibubarkan tanpa hasil, namun dengan satu kesadaran baru yang pahit.

  1. 18. Dialog yang ditebalkan dan berwarna diatas masuk kedalam struktur...



(a)  

19.

Hari sudah pukul delapan malam. Ayah baru saja sampai rumah setelah menempuh perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu satu jam, tapi kini menjadi tiga jam penuh di jalan raya. Ia duduk lesu di meja makan, masih mengenakan kemeja yang lepek.

ANAK: (Sambil menyiapkan teh) "Ayah, kalau dihitung-hitung, Ayah menghabiskan dua belas jam seminggu hanya untuk menyumbang gas buang di jalanan. Kenapa Ayah tidak protes saja ke pemerintah daerah? Katanya mau jadi kota pintar, kok macetnya makin pintar cari jalur alternatif?"

AYAH: (Menghela napas, lelah) "Protes? Ah, sudah pernah, Nak. Dulu Ayah ikut aksi. Jawabannya selalu sama: sedang ada proyek pembangunan infrastruktur besar-besaran."

ANAK: "Iya, proyek! Proyek itu seperti jin di lampu Aladin. Tiap kita tanya, selalu ada. Proyek ini sudah berjalan lima tahun lebih, tiang-tiang beton itu sudah berlumut, tapi jalannya tidak pernah selesai. Ayah tidak curiga?"

AYAH: "Curiga bagaimana?"

ANAK: "Curiga kalau Proyek itu memang tidak boleh selesai, Yah."

AYAH: (Tersentak, menatap Anaknya)

ANAK: "Coba Ayah pikir. Kalau macetnya hilang, Ayah bisa pulang cepat. Ayah punya banyak waktu luang. Waktu luang artinya Ayah bisa membaca buku, Ayah bisa berpikir kritis, Ayah bisa ikut seminar, atau bahkan Ayah bisa mengawasi kinerja pejabat. Pemerintah itu sebenarnya tidak butuh jalan yang lancar, Yah."

AYAH: "Lalu mereka butuh apa?"

ANAK: "Mereka butuh masyarakat yang lelah, Yah. Masyarakat yang otaknya sudah habis terkuras di jalanan. Masyarakat yang begitu sampai rumah, yang mereka inginkan hanya tidur dan lupa. Lupa bahwa ada janji yang belum ditepati, lupa bahwa ada anggaran yang bocor. Macet itu bukan kegagalan pembangunan, Ayah. Macet itu adalah strategi untuk meredam daya kritis rakyat!"

AYAH: (Terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kaget dan rasa tercerahkan) "Astaga, Anakku. Itu filosofi macet yang paling gelap yang pernah Ayah dengar. Pantas saja Proyek kita jadi Proyek Abadi; dibangun terus, tapi tidak boleh tuntas."

Ayah lalu mengambil sendok dan mulai makan malam. Malam itu, ia tidak lagi mengeluh karena macet. Ia hanya mengeluh karena ia telah menjadi bagian dari rencana besar itu selama bertahun-tahun tanpa sadar.

  1. 19. Dialog yang tebal dan berwarna diatas masuk ke dalam struktur...



(a)  

20.

Hari sudah pukul delapan malam. Ayah baru saja sampai rumah setelah menempuh perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu satu jam, tapi kini menjadi tiga jam penuh di jalan raya. Ia duduk lesu di meja makan, masih mengenakan kemeja yang lepek.

ANAK: (Sambil menyiapkan teh) "Ayah, kalau dihitung-hitung, Ayah menghabiskan dua belas jam seminggu hanya untuk menyumbang gas buang di jalanan. Kenapa Ayah tidak protes saja ke pemerintah daerah? Katanya mau jadi kota pintar, kok macetnya makin pintar cari jalur alternatif?"

AYAH: (Menghela napas, lelah) "Protes? Ah, sudah pernah, Nak. Dulu Ayah ikut aksi. Jawabannya selalu sama: sedang ada proyek pembangunan infrastruktur besar-besaran."

ANAK: "Iya, proyek! Proyek itu seperti jin di lampu Aladin. Tiap kita tanya, selalu ada. Proyek ini sudah berjalan lima tahun lebih, tiang-tiang beton itu sudah berlumut, tapi jalannya tidak pernah selesai. Ayah tidak curiga?"

AYAH: "Curiga bagaimana?"

ANAK: "Curiga kalau Proyek itu memang tidak boleh selesai, Yah."

AYAH: (Tersentak, menatap Anaknya)

ANAK: "Coba Ayah pikir. Kalau macetnya hilang, Ayah bisa pulang cepat. Ayah punya banyak waktu luang. Waktu luang artinya Ayah bisa membaca buku, Ayah bisa berpikir kritis, Ayah bisa ikut seminar, atau bahkan Ayah bisa mengawasi kinerja pejabat. Pemerintah itu sebenarnya tidak butuh jalan yang lancar, Yah."

AYAH: "Lalu mereka butuh apa?"

ANAK: "Mereka butuh masyarakat yang lelah, Yah. Masyarakat yang otaknya sudah habis terkuras di jalanan. Masyarakat yang begitu sampai rumah, yang mereka inginkan hanya tidur dan lupa. Lupa bahwa ada janji yang belum ditepati, lupa bahwa ada anggaran yang bocor. Macet itu bukan kegagalan pembangunan, Ayah. Macet itu adalah strategi untuk meredam daya kritis rakyat!"

AYAH: (Terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kaget dan rasa tercerahkan) "Astaga, Anakku. Itu filosofi macet yang paling gelap yang pernah Ayah dengar. Pantas saja Proyek kita jadi Proyek Abadi; dibangun terus, tapi tidak boleh tuntas."

Ayah lalu mengambil sendok dan mulai makan malam. Malam itu, ia tidak lagi mengeluh karena macet. Ia hanya mengeluh karena ia telah menjadi bagian dari rencana besar itu selama bertahun-tahun tanpa sadar.

  1. 20. Dialog yang tebal dan berwarna diatas masuk ke dalam struktur...



(a)