wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Try Out 5 UP PPG PAI_2025

Total questions: 65

Worksheet time: 33mins

Name
Class
Date
1.

Sebagai guru PAI, Anda berkomitmen untuk tidak hanya mengajarkan materi agama secara tekstual, tetapi juga menanamkan keterampilan sosial emosional yang dapat memperkuat harmoni dan kualitas kehidupan bermasyarakat. Jika Anda ingin merancang sebuah program pembelajaran yang berkelanjutan dan berdampak luas, pendekatan manakah yang paling efektif?

a)

Menekankan disiplin ketat dan aturan agama tanpa memberikan ruang diskusi dan pengembangan keterampilan sosial emosional.

b)

Mengandalkan tokoh agama dan organisasi masyarakat untuk mengelola hubungan sosial emosional di luar pembelajaran sekolah.

c)

Membatasi pembelajaran keterampilan sosial emosional hanya dalam ruang kelas tanpa interaksi dengan masyarakat.

d)

Merancang program kolaboratif yang melibatkan siswa dalam proyek lintas agama dan kegiatan sosial kemasyarakatan, sekaligus mengintegrasikan pelatihan resolusi konflik, empati, dan komunikasi efektif dalam pembelajaran.

e)

Mengadakan pembelajaran rutin tentang nilai-nilai agama tanpa mengaitkannya dengan praktik sosial di masyarakat.

2.

Seorang guru PAI melaksanakan pembelajaran pada topik "Islam sebagai agama yang moderat (wasathiyah)". Sebelum memulai pembelajaran, guru melakukan asesmen diagnostik (asesmen awal) untuk mengetahui pemahaman dan sikap peserta didik terhadap isu-isu keagamaan kontemporer. Dari hasil asesmen awal, diketahui bahwa:

- Sebagian siswa sudah memahami konsep moderasi beragama.

- Sebagian lain masih menunjukkan kecenderungan berpikir eksklusif dan kurang terbuka terhadap perbedaan.

- Sementara beberapa siswa memiliki kemampuan tinggi dalam berdiskusi, tetapi kurang dalam penerapan nilai toleransi sehari-hari.

Berdasarkan hasil asesmen awal tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru dalam pembelajaran selanjutnya agar dapat menilai aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa secara utuh serta membantu mengembangkan karakter moderat mereka?

a)

Tes pilihan ganda tentang konsep moderasi beragama, karena dapat mengukur pengetahuan siswa secara objektif dan cepat.

b)

Lembar observasi sikap dan rubrik penilaian proyek kolaboratif lintas agama atau budaya, karena dapat menilai pemahaman konseptual sekaligus penerapan nilai toleransi dan kerja sama antar siswa.

c)

Portofolio individu reflektif, karena hanya menilai sikap pribadi tanpa memperhatikan interaksi sosial dalam pembelajaran.

d)

Kuis lisan setelah pembelajaran, karena bisa menilai kemampuan berbicara siswa meskipun tidak mencakup dimensi sikap dan keterampilan sosial.

e)

Penilaian sejawat (peer assessment), karena hanya menilai sikap antar teman tanpa bukti penerapan nilai moderasi dalam tindakan nyata.

3.

Dalam sebuah kelas Sejarah Peradaban Islam, guru menyampaikan materi tentang perkembangan kepemimpinan Islam dari masa Khulafaur Rasyidin hingga pemerintah modern hanya melalui ceramah dan hafalan kronologis. Akibatnya, peserta didik kurang mampu mengaitkan nilai-nilai kepemimpinan Islam dengan konteks kepemimpinan masa kini, seperti keterbukaan, kolaborasi, dan tanggung jawab publik. Guru ingin menciptakan lingkungan belajar yang adaptif dan kontekstual, sehingga siswa dapat memahami nilai kepemimpinan Islam secara aplikatif dan relevan dengan tantangan zaman. Untuk itu, guru perlu menentukan pendekatan pembelajaran yang paling relevan guna mencapai tujuan tersebut. Pendekatan pembelajaran yang paling tepat diterapkan guru adalah ....

a)

Pendekatan historis-deskriptif, dengan fokus menjelaskan kronologi perkembangan kepemimpinan Islam secara runtut agar siswa mampu mengingat tokoh dan periode secara akurat.

b)

Pendekatan deduktif-konvensional, dengan memberikan teori kepemimpinan Islam dari literatur klasik untuk dihafalkan dan diuji secara tertulis.

c)

Pendekatan saintifik (scientific approach), dengan meminta siswa mengamati teks sejarah tanpa menghubungkan nilai-nilainya dengan praktik kepemimpinan saat ini.

d)

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), dengan mengaitkan nilai-nilai kepemimpinan Islam masa lalu dengan tantangan kepemimpinan modern melalui diskusi kasus nyata dan refleksi nilai.

e)

Pendekatan behavioristik, dengan memberi penguatan (reinforcement) setiap kali siswa berhasil menjawab benar tentang periode pemerintahan.

4.

Anda menemukan rekan sejawat melakukan tindakan yang berpotensi merusak citra profesi guru PAI, namun Anda juga khawatir akan hubungan kerja jika menegur langsung. Apa sikap profesional yang paling tepat untuk menjaga integritas profesi sekaligus membangun hubungan kerja yang sehat?

a)

Menyebarkan informasi masalah ini kepada siswa agar mereka waspada.

b)

Membicarakan masalah ini secara terbuka di depan guru lain tanpa memberitahu rekan tersebut.

c)

Mengajak rekan tersebut berdiskusi secara pribadi dengan pendekatan konstruktif dan mengingatkan pentingnya kode etik guru secara profesional.

d)

Melaporkan langsung ke atasan tanpa diskusi terlebih dahulu.

e)

Membiarkan saja agar tidak terjadi konflik.

5.

Dalam mengelola layanan bimbingan klasikal PAI, Anda menemukan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai akhlak ke dalam perilaku sehari-hari. Bagaimana Anda merancang layanan bimbingan yang paling efektif untuk mengatasi masalah tersebut?

a)

Memberikan ceramah motivasi umum tanpa interaksi.

b)

Menginstruksikan siswa untuk membaca materi secara mandiri.

c)

Merancang sesi diskusi kelompok dan aktivitas reflektif yang melibatkan siswa untuk mengidentifikasi tantangan dan solusi terkait akhlak.

d)

Menilai siswa berdasarkan kehadiran saja.

e)

Mengabaikan masalah tersebut dan fokus pada materi pelajaran lain.

6.

Seorang guru PAI di SMA melaksanakan pembelajaran Fiqih Kontemporer dengan topik "Hukum transaksi digital dalam Islam". Dalam praktiknya, guru:

- Menggunakan slide PowerPoint standar yang hanya berisi teks-teks hukum fiqih klasik tanpa mengaitkan dengan fenomena digital masa kini.

- Menugaskan siswa membaca referensi kitab tanpa memberikan panduan atau media interaktif.

- Menggunakan metode ceramah penuh tanpa diskusi kontekstual.

- Tidak menggunakan platform pembelajaran digital walaupun sekolah sudah menyediakan LMS (Learning Management System).

  • - Di akhir pertemuan, guru hanya memberikan tes pilihan ganda untuk menilai pemahaman.

  • Situasi ini berpotensi menimbulkan masalah pembelajaran dari aspek konten, pedagogi, dan teknologi (TPACK). Berdasarkan kasus tersebut, praktik baik (best practice) apa yang seharusnya dilakukan guru untuk mewujudkan pembelajaran Fiqih Kontemporer yang berkualitas dan berkelanjutan?

a)

Menambahkan lebih banyak dalil fiqih klasik agar siswa memahami dasar hukum yang kuat tanpa harus menggunakan teknologi digital.

b)

Mengubah metode menjadi ceramah interaktif tetapi tetap menggunakan bahan ajar lama agar tidak perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

c)

Mengintegrasikan pendekatan TPACK dengan menyusun skenario pembelajaran yang mengaitkan materi hukum Islam kontemporer dengan fenomena digital terkini, menggunakan media digital interaktif serta melibatkan diskusi berbasis kasus.

d)

Fokus pada penguasaan teknologi pembelajaran saja agar terlihat inovatif meskipun tidak memperdalam konten fiqih yang diajarkan.

e)

Mengandalkan kemampuan siswa mencari sendiri referensi kontemporer tanpa arahan dari guru, agar mereka belajar mandiri.

7.

Dalam upaya menjadi role model yang konsisten dalam menghidupkan nilai-nilai PAI, seorang guru harus mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan. Strategi pengembangan diri mana yang paling efektif untuk memperkuat integritas dan kredibilitas guru dalam hal ini?

a)

Mengikuti pelatihan formal secara sporadis tanpa evaluasi diri secara berkala.

b)

Mengandalkan pengalaman mengajar lama tanpa mencari pembaruan.

c)

Menampilkan perilaku ideal hanya saat berada di depan siswa tanpa konsistensi di luar kelas.

d)

Menghindari diskusi dan refleksi tentang nilai pribadi agar tidak mengganggu hubungan dengan peserta didik.

e)

Melakukan refleksi diri secara rutin, meminta umpan balik dari kolega dan peserta didik, serta mengintegrasikan hasil refleksi dalam praktik keseharian dan pengembangan keilmuan.

8.

Anda diminta membuat laporan evaluasi dampak pembelajaran sosial emosional di sekolah yang Anda ampu. Dari pengamatan, Anda menemukan bahwa kurangnya pembelajaran sosial emosional secara sistematis berdampak negatif pada kerjasama antar siswa dan penciptaan iklim religius yang toleran. Bagaimana Anda menjelaskan secara analitis hubungan sebab-akibat tersebut dan memberikan rekomendasi strategis?

a)

Menyatakan bahwa masalah sosial emosional tidak terkait langsung dengan pengembangan PAI.

b)

Mengusulkan penghapusan pembelajaran sosial emosional karena tidak efektif.

c)

Mengabaikan hasil pengamatan dan fokus pada aspek akademik saja.

d)

Menyalahkan siswa tanpa mempertimbangkan faktor pembelajaran

e)

Menjelaskan bahwa tanpa pembelajaran sosial emosional yang sistematis, siswa kesulitan mengelola perbedaan dan konflik, yang melemahkan kerjasama dan nilai toleransi; rekomendasi meliputi integrasi program pembelajaran sosial emosional berbasis nilai PAI secara holistik dan kolaboratif

9.

Seorang guru PAI akan mengajarkan materi "Perkembangan Kepemimpinan Islam" di kelas XII. Dalam pelaksanaan pembelajaran sebelumnya, siswa hanya mampu menyebutkan nama-nama khalifah dan masa pemerintahannya, tetapi belum mampu memahami nilai-nilai kepemimpinan Islam yang relevan dengan kehidupan saat ini, seperti keadilan, amanah, dan musyawarah. Guru kemudian ingin mengubah strategi pembelajaran menjadi pendekatan pembelajaran berbasis mendalam (deep learning) agar siswa tidak hanya tahu 'siapa' para pemimpin itu, tetapi juga 'mengapa' dan 'bagaimana' prinsip kepemimpinan mereka dapat diteladani dalam konteks modern. Berdasarkan kasus tersebut, rancangan pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ....

a)

Guru meminta siswa menghafalkan urutan khalifah beserta tahun pemerintahannya, lalu memberikan kuis untuk mengukur kecepatan ingatan siswa.

b)

Guru menugaskan seluruh siswa membuat peta konsep perkembangan kepemimpinan Islam berdasarkan urutan sejarah, tanpa membahas nilai-nilai kepemimpinan di dalamnya.

c)

Guru menjelaskan teori kepemimpinan Islam secara lengkap, kemudian meminta siswa menuliskan kembali isi penjelasan guru dengan kalimat mereka sendiri.

d)

Guru membagi siswa ke dalam kelompok untuk menganalisis kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab dalam menegakkan keadilan sosial, lalu mendiskusikan bagaimana prinsip tersebut dapat diterapkan dalam konteks kepemimpinan organisasi sekolah.

e)

Guru memutar video dokumenter tentang sejarah Islam lalu menugaskan siswa untuk meringkas isi video dalam bentuk laporan singkat.

10.

Seorang guru PAI ingin mengintegrasikan program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) ke dalam pembelajaran bertema "Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sosial." Peserta didik dikenal memiliki gaya belajar kolaboratif, reflektif, dan terbuka terhadap diskusi nilai. Guru ingin mengembangkan materi ajar yang relevan dengan nilai-nilai P5, seperti:

- Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia;

- Bernalar kritis;

- Gotong royong;

- Berkeberagaman global.

Berdasarkan deskripsi tersebut, pengembangan materi ajar nilai-nilai P5 yang paling sesuai untuk digunakan dalam perencanaan tujuan pembelajaran adalah ....

a)

Guru menugaskan siswa membuat laporan individu tentang nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan Rasulullah tanpa diskusi kelompok.

b)

Guru menjelaskan teori nilai-nilai Pancasila secara mendalam, lalu meminta siswa menyalin ringkasan nilai-nilai tersebut dari buku teks.

c)

Guru membagi siswa ke dalam kelompok dan menugaskan mereka membaca biografi Rasulullah untuk menemukan lima sifat utama Nabi.

d)

Guru menampilkan tayangan video tentang perilaku sosial Rasulullah, lalu mengajak siswa berdiskusi dan membuat proyek sosial sederhana di lingkungan sekolah.

e)

Guru memberikan ceramah interaktif tentang sejarah pembentukan Pancasila, lalu meminta siswa menghafalkan nilai-nilai utamanya

11.

Dalam kegiatan pembelajaran PAI bertema "Meneladani Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari", guru merancang aktivitas seperti menonton video keteladanan Nabi, diskusi kelompok tentang perilaku jujur, serta refleksi pribadi tentang sikap sehari-hari di rumah dan sekolah. Guru ingin memastikan bahwa tujuan pembelajaran ranah sikapnya benar-benar mendorong peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia peserta didik. Berdasarkan deskripsi tersebut, rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling tepat adalah ....

a)

Peserta didik dapat menjelaskan nilai-nilai akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

b)

Peserta didik dapat menumbuhkan kesadaran untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai wujud keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

c)

Peserta didik dapat menganalisis relevansi keteladanan Rasulullah SAW dengan pembentukan karakter peserta didik masa kini.

d)

Peserta didik dapat menunjukkan perilaku sopan santun dan tanggung jawab di sekolah.

e)

Peserta didik dapat membuat laporan hasil refleksi tentang perilaku teman sebaya yang berakhlak mulia.

12.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, sekelompok mahasiswa PAI mengamati praktik keagamaan di sebuah desa multikultural. Mereka menemukan bahwa masyarakat menjalankan tradisi keagamaan lokal, seperti gotong royong lintas agama dan doa bersama untuk keselamatan kampung. Sebagian masyarakat memandang praktik ini sebagai bentuk moderasi beragama, sementara sebagian lainnya menganggapnya tidak sesuai dengan kemurnian ajaran Islam. Sebagai calon pendidik, mahasiswa perlu menilai alasan yang paling tepat dalam mengembangkan materi ajar Islam sebagai agama moderat (wasathiyah) agar dapat menjelaskan fenomena tersebut kepada peserta didik secara mendidik dan kontekstual. Berdasarkan deskripsi tersebut, alasan pengembangan materi ajar yang paling tepat adalah ....

a)

Karena Islam menolak semua bentuk tradisi lokal yang tidak berasal dari Al-Qur'an dan hadis secara tekstual, sehingga perlu diluruskan dalam pembelajaran.

b)

Karena Islam sebagai agama wasathiyah mengajarkan keseimbangan antara keyakinan dan penghargaan terhadap budaya, sehingga pembelajaran perlu menekankan nilai toleransi dan dialog.

c)

Karena praktik sosial masyarakat tidak perlu dikaitkan dengan ajaran Islam, sebab hal itu termasuk ranah budaya bukan pendidikan agama.

d)

Karena tujuan pembelajaran PAI adalah memperkuat akidah, maka fokusnya pada hafalan dalil tanpa membahas tradisi keagamaan lokal.

e)

Karena tradisi keagamaan lokal bisa dianggap bid'ah, sehingga sebaiknya dihindari dalam kegiatan pembelajaran untuk menjaga kemurnian ajaran.

13.

Anda menyadari bahwa seorang siswa yang biasanya aktif dalam pembelajaran PAI kini menunjukkan tanda-tanda stres dan menarik diri. Selain memberikan dukungan emosional, bagaimana Anda sebagai guru yang berkematangan emosi dan spiritual, dapat membantu siswa ini agar tetap merasa aman dan termotivasi dalam belajar?

a)

Fokus pada tugas akademik agar siswa tidak terlalu memikirkan masalah pribadi.

b)

Menggunakan pendekatan empatik dengan mendengarkan siswa, mengajak refleksi spiritual yang sesuai nilai agama, dan menghubungkan dengan layanan konseling jika perlu.

c)

Memberikan peringatan agar siswa tidak mengganggu suasana kelas.

d)

Menyampaikan masalah siswa tersebut kepada wali kelas tanpa interaksi langsung.

e)

Menghindari interaksi agar tidak menimbulkan masalah lebih besar.

14.

Sekolah Anda mengembangkan program pembelajaran PAI berbasis nilai sosial dan spiritual. Bagaimana Anda dan tim guru dapat memaksimalkan kolaborasi untuk menghasilkan program yang efektif dan relevan?

a)

Setiap guru bekerja sendiri sesuai gaya mengajar masing-masing.

b)

Menunggu arahan resmi tanpa inisiatif.

c)

Membandingkan hasil belajar siswa masing-masing tanpa diskusi mendalam.

d)

Kompetisi antar guru untuk menentukan metode terbaik.

e)

Membentuk kelompok kerja lintas disiplin untuk berdiskusi, mengintegrasikan nilai-nilai, dan menyusun rencana pembelajaran bersama dengan evaluasi berkelanjutan.

15.

Dalam mata pelajaran Akidah Akhlak, seorang guru akan mengajarkan materi mu'jizat, karamah, dan sihir kepada siswa kelas XI. Guru menyadari bahwa karakteristik peserta didiknya sangat beragam:

• Sebagian memiliki kecenderungan rasional dan kritis.

• Sebagian lain lebih emosional dan religius.

• Ada juga siswa yang kurang percaya diri dalam berdiskusi terbuka.

Guru ingin menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis perbedaan individu (individual differences approach) agar semua siswa dapat memahami materi sesuai karakter dan gaya belajarnya masing-masing. Berdasarkan kasus tersebut, rancangan pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ....

a)

Guru menjelaskan perbedaan mu'jizat, karamah, dan sihir secara klasikal di depan kelas, lalu memberikan lembar latihan yang sama kepada seluruh siswa.

b)

Guru menugaskan semua siswa membuat makalah ilmiah tentang mu'jizat dan karamah tanpa mempertimbangkan kemampuan awal mereka.

c)

Guru membagi siswa ke dalam kelompok berdasarkan gaya belajar — visual, auditori, dan kinestetik — lalu memberikan tugas berbeda yang sesuai dengan kecenderungan belajar masing-masing dalam memahami konsep mu'jizat, karamah, dan sihir.

d)

Guru menampilkan video kisah Nabi Musa dan tukang sihir Fir'aun, kemudian meminta seluruh siswa menjawab pertanyaan reflektif yang sama tentang perbedaan mu'jizat dan sihir.

e)

Guru memberikan ujian pilihan ganda setelah penjelasan materi untuk mengetahui sejauh mana seluruh siswa memahami topik yang sama.

16.

Dalam pembelajaran Al-Qur'an, guru menyampaikan materi tentang ayat muhkamad dan ayat mutasyabihat. Guru memberikan contoh perbedaan tafsir para ulama terhadap ayat mutasyabihat, lalu mengajak peserta didik berdiskusi bagaimana perbedaan itu menunjukkan keluasan makna dan kebijaksanaan Islam dalam menghadapi perubahan zaman. Guru berharap peserta didik tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu berpikir dinamis dan inovatif dalam menafsirkan makna ayat sesuai konteks kehidupan modern. Berdasarkan deskripsi kegiatan tersebut, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai adalah ....

a)

Peserta didik dapat menganalisis makna ayat mutasyabihat secara kreatif dengan mempertimbangkan konteks sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.

b)

Peserta didik dapat menyebutkan pengertian ayat muhkamad dan ayat mutasyabihat.

c)

Peserta didik dapat menjelaskan perbedaan ayat muhkamad dan mutasyabihat beserta contohnya.

d)

Peserta didik dapat menghafal contoh ayat muhkamad dan mutasyabihat dengan lancar.

e)

Peserta didik dapat menuliskan tafsir tradisional ayat mutasyabihat secara lengkap.

17.

Seorang guru PAI melaksanakan pembelajaran kajian tafsir tematik menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Dalam kegiatan belajar, siswa dibagi ke dalam kelompok untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an tentang keadilan sosial dan mempresentasikan hasil penafsiran mereka secara kontekstual di depan kelas. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mengamati adanya perbedaan karakter peserta didik, ada yang aktif berdiskusi dan berargumentasi, ada yang lebih reflektif dan teliti dalam menafsirkan teks, serta ada yang unggul dalam menyampaikan hasil kerja kelompok. Dalam situasi tersebut, teknik asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru agar dapat menilai capaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa secara komprehensif sesuai karakter masing-masing peserta didik?

a)

Tes uraian individu, karena mampu mengukur kemampuan kognitif siswa secara objektif dan efisien.

b)

Observasi dengan lembar penilaian sikap dan rubrik presentasi, karena memungkinkan guru menilai proses berpikir kritis, kerja sama, dan tanggung jawab siswa selama PBL berlangsung.

c)

Portofolio tugas individu, karena lebih menekankan hasil akhir tanpa memperhatikan dinamika proses belajar kelompok.

d)

Kuis pilihan ganda, karena dapat menilai seluruh aspek belajar dengan cepat dan mudah diproses hasilnya.

e)

Self-assessment (penilaian diri), karena siswa dapat menilai sendiri sejauh mana pemahamannya terhadap makna ayat-ayat sosial.

18.

Dalam pembelajaran hadis di kelas, guru menampilkan beberapa contoh hadis dengan kualitas berbeda (sahih, hasan, dan da'if). Guru kemudian membagi peserta didik dalam kelompok kecil untuk meneliti kriteria hadis sahih berdasarkan sanad, matan, dan perawi. Setiap kelompok harus menyusun hasil analisis bersama dan mempresentasikannya di depan kelas. Berdasarkan deskripsi kegiatan tersebut, rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai agar peserta didik memiliki semangat gotong royong adalah ....

a)

Peserta didik dapat menyebutkan kriteria hadis sahih berdasarkan sanad dan matan.

b)

Peserta didik dapat menjelaskan perbedaan hadis sahih, hasan, dan da'if.

c)

Peserta didik dapat menganalisis kualitas hadis berdasarkan kriteria hadis sahih secara individu.

d)

Peserta didik dapat bekerja sama dalam kelompok untuk meneliti kriteria hadis sahih dan mempresentasikan hasilnya secara kompak

e)

Peserta didik dapat menuliskan hasil telaah pribadi tentang kualitas hadis sahih.

19.

Seorang guru PAI di SMA melaksanakan pembelajaran dengan materi Pembentukan Akhlak Karimah. Dalam praktiknya:

- Guru hanya menilai hasil belajar siswa melalui ujian tertulis yang berfokus pada pengertian dan dalil tentang akhlak karimah.

- Tidak dilakukan observasi perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

- Guru belum menggunakan media digital reflektif, seperti video pembiasaan akhlak atau jurnal digital harian.

- Tidak ada umpan balik (feedback) kepada siswa tentang perkembangan karakter mereka.

- Evaluasi pembelajaran tidak melibatkan orang tua atau wali kelas untuk melihat kesinambungan pembentukan akhlak di rumah.

Situasi ini menimbulkan permasalahan dari aspek konten, pedagogi, dan teknologi (TPACK) yang dapat menghambat efektivitas pembelajaran akhlak karimah secara berkelanjutan. Berdasarkan narasi tersebut, praktik baik (best practice) apa yang seharusnya dilakukan guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran akhlak karimah agar lebih berkualitas dan berkelanjutan?

a)

Melanjutkan evaluasi dengan tes tertulis saja agar proses penilaian lebih objektif dan mudah diukur secara kuantitatif.

b)

Menilai siswa hanya berdasarkan hasil diskusi di kelas tanpa perlu mengaitkannya dengan perilaku nyata di luar pembelajaran.

c)

Menghapus semua bentuk penilaian sikap dan hanya menilai dari hasil proyek individu agar lebih efisien dalam pengumpulan data.

d)

Mengintegrasikan evaluasi autentik berbasis TPACK, seperti penggunaan jurnal refleksi digital, observasi sikap, portofolio perilaku, serta umpan balik dari guru dan orang tua, untuk menilai perkembangan akhlak secara berkelanjutan.

e)

Menyerahkan penilaian akhlak sepenuhnya kepada guru BK karena pembentukan akhlak bukan bagian dari evaluasi pembelajaran PAI.

20.

Seorang guru PAI menyajikan materi pendidikan nilai dan karakter dengan menggunakan contoh perilaku sosial dari dua dekade lalu, yang sudah kurang relevan dengan kehidupan peserta didik masa kini. Akibatnya, siswa tampak kurang antusias, sulit mengaitkan materi dengan realitas mereka, dan pembelajaran berjalan satu arah tanpa diskusi reflektif. Sebagai calon pendidik profesional, pendekatan pembelajaran pendidikan nilai dan karakter manakah yang paling relevan untuk digunakan agar proses pembelajaran nilai dan karakter tersebut menjadi lebih progresif, kontekstual, serta mampu menumbuhkan karakter unggul dan berdaya saing?

a)

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang mengaitkan nilai-nilai karakter dengan kehidupan nyata peserta didik saat ini.

b)

Pendekatan tradisional berbasis ceramah agar nilai-nilai karakter klasik dapat disampaikan secara utuh tanpa pengaruh budaya modern.

c)

Pendekatan behavioristik dengan penekanan pada pembentukan kebiasaan melalui hukuman dan penghargaan secara ketat.

d)

Pendekatan konstruktivistik murni yang menyerahkan sepenuhnya proses pembentukan nilai kepada pengalaman pribadi peserta didik tanpa arahan guru.

e)

Pendekatan saintifik (scientific approach) yang menekankan observasi dan eksperimen terhadap nilai.

21.

Dalam sebuah kelas PPG, Anda menemukan bahwa gaya belajar siswa sangat bervariasi, ada yang visual, auditori, dan kinestetik. Manakah langkah pembelajaran yang paling tepat agar proses belajar menjadi efektif dan berpusat pada peserta didik?

a)

Fokus hanya pada gaya belajar mayoritas siswa agar pembelajaran berjalan cepat.

b)

Memberikan tugas tambahan bagi siswa yang merasa tidak cocok dengan metode yang dipakai.

c)

Meminta siswa yang memiliki gaya belajar berbeda untuk menyesuaikan diri dengan satu metode saja.

d)

Menggabungkan metode pembelajaran yang beragam, seperti diskusi, praktik, dan media visual untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa.

e)

Menggunakan ceramah panjang agar semua siswa mendapat informasi lengkap.

22.

Dalam perencanaan pembelajaran Al-Qur'an Hadis di kelas XI, seorang guru memilih tema "Pemahaman terhadap Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat dalam Kehidupan Modern" menggunakan pendekatan Problem Based Learning (PBL) dengan langkah-langkah:

1. Menyajikan kasus penafsiran yang berbeda terhadap ayat mutasyabihat.

2. Mengarahkan peserta didik untuk mengidentifikasi masalah dalam perbedaan penafsiran tersebut.

3. Membimbing peserta didik mencari dalil, pendapat ulama, dan konteks sejarah.

4. Mendorong peserta didik menyusun kesimpulan yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Dalam konteks tersebut, indikator tujuan pembelajaran yang paling sesuai berdasarkan struktur keilmuan tafsir dan karakteristik peserta didik SMA adalah ....

a)

Peserta didik dapat menyebutkan pengertian ayat muhkamat dan mutasyabihat sesuai pendapat para mufasir.

b)

Peserta didik dapat mengidentifikasi masalah penafsiran ayat mutasyabihat dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata melalui kegiatan pemecahan masalah.

c)

Peserta didik dapat menafsirkan ayat muhkamat dan mutasyabihat dengan menggunakan bahasa sendiri tanpa mempertimbangkan pendapat ulama terdahulu.

d)

Peserta didik dapat menghafal contoh-contoh ayat muhkamat dan mutasyabihat sebagai bekal untuk memahami tafsir modern.

e)

Peserta didik dapat menilai perbedaan tafsir terhadap ayat mutasyabihat dan menyimpulkan tafsir yang paling benar menurut pemahamannya sendiri.

23.

Dalam pembelajaran Fiqih Kontemporer, seorang guru di MA menyampaikan materi tentang transaksi jual beli online dan penggunaan uang digital dengan cara ceramah satu arah menggunakan referensi lama. Peserta didik menjadi kurang aktif, beberapa di antaranya bahkan bingung membedakan hukum fiqih klasik dengan konteks digital masa kini. Guru menyadari bahwa sebagian siswa juga mengalami keraguan dan kebingungan dalam mengaitkan nilai-nilai Islam dengan fenomena modern, seperti e-commerce, fintech, dan cryptocurrency. Untuk menciptakan suasana belajar yang progresif dan berorientasi pada pengembangan karakter unggul, guru berencana menggunakan model pembelajaran berbasis pelayanan bimbingan dan konseling (BK) agar siswa dapat belajar sambil memperoleh arahan, motivasi, dan pendampingan emosional. Berdasarkan kasus tersebut, strategi penerapan model pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ....

a)

Guru menjelaskan hukum-hukum fiqih klasik secara mendalam dan meminta siswa mencatat dalil Al-Qur'an dan hadis tanpa aplikasinya di era digital

b)

Guru mengajak siswa berdiskusi tentang dilema moral dalam transaksi online, mendengarkan pandangan mereka dengan empati, lalu membimbing siswa menemukan solusi hukum fiqih yang relevan dan menumbuhkan kesadaran etis dalam bertransaksi digital.

c)

Guru memberikan tugas makalah tentang hukum jual beli dalam Islam tanpa arahan bimbingan atau umpan balik pribadi

d)

Guru menampilkan video pembelajaran tentang fiqih muamalah dan meminta siswa menuliskan kembali isi video secara ringkas.

e)

A.   Guru membagi siswa ke dalam kelompok untuk mencari pendapat ulama tentang uang digital tanpa adanya sesi refleksi atau pendampingan dari guru.

24.

Sebagai guru PAI, Anda diminta merancang kegiatan pembelajaran yang mencerminkan filosofi dan tujuan pendidikan Indonesia yang mengedepankan karakter bangsa dan kebinekaan. Bagaimana Anda mendesain pembelajaran agar nilai-nilai tersebut benar-benar terealisasi dalam perilaku peserta didik?

a)

Membatasi diskusi nilai hanya pada satu kelompok tertentu.

b)

Mengajarkan nilai-nilai nasionalisme secara teoritis tanpa kaitan praktik nyata.

c)

Mengutamakan penguasaan materi teks kitab suci saja.

d)

Merancang proyek kolaboratif antar siswa dari berbagai latar belakang untuk membahas dan mengaplikasikan nilai kebinekaan dan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

e)

Memberikan ceramah panjang tentang sejarah dan filosofi pendidikan tanpa aktivitas interaktif.

25.

Seorang guru PPG mendapati bahwa kelasnya sering gaduh karena siswa kurang nyaman dan aman, beberapa siswa tampak takut menyampaikan pendapat. Sebagai guru yang profesional, langkah mana yang paling tepat untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan nyaman?

a)

Memberi teguran keras pada siswa yang berisik agar segera diam dan memperbaiki suasana.

b)

Mengatur ulang posisi duduk supaya siswa dapat saling melihat dan merasa lebih terlibat, serta menerapkan aturan kelas bersama siswa.

c)

Mengabaikan kegaduhan karena pembelajaran tetap berjalan meski ramai.

d)

Meminta wali kelas untuk mengawasi dan mengatur disiplin siswa agar tidak gaduh.

e)

Menyelesaikan materi pembelajaran secepat mungkin tanpa memperhatikan suasana kelas.

26.

Seorang guru PAI di SMA mencoba memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa Generasi Z dan Alpha. Ia menggunakan AI untuk:

- membuat kuis interaktif dan gambar tematik dari ayat Al-Qur'an,

- memberikan umpan balik otomatis pada tugas siswa,

- serta menggunakan chatbot untuk menjawab pertanyaan keagamaan.

Namun, dalam pelaksanaannya muncul sejumlah masalah:

1. Siswa lebih fokus pada tampilan digital dibanding pemaknaan nilai-nilai Islam yang dikaji.

2. Tidak semua siswa merasa terlibat karena gaya belajar mereka berbeda — ada yang visual, ada yang kinestetik, ada pula yang reflektif.

  1. 3. Guru belum mampu mengaitkan hasil analisis AI dengan refleksi nilai spiritual dan moral yang menjadi tujuan utama pembelajaran PAI.

  2. Berdasarkan kasus di atas, masalah utama yang dihadapi guru serta solusi ilmiah yang paling tepat untuk menunjukkan jati diri guru profesional di era digital adalah ....

a)

Masalahnya terletak pada kurangnya variasi media pembelajaran, solusinya adalah menambah aplikasi AI lain agar siswa lebih tertarik dan aktif.

b)

Masalahnya pada rendahnya kemampuan guru memanfaatkan AI secara teknis, solusinya adalah mengikuti pelatihan digitalisasi pembelajaran secara intensif.

c)

Masalahnya adalah siswa kurang disiplin dalam menggunakan perangkat digital, solusinya adalah membatasi penggunaan teknologi di kelas agar fokus pada materi pokok.

d)

Masalahnya pada kurangnya sumber daya teknologi, solusinya adalah mengganti AI dengan metode ceramah agar nilai keislaman lebih terjaga.

e)

Masalahnya pada ketidaksesuaian penggunaan AI dengan karakter dan gaya belajar siswa, solusinya adalah melakukan analisis kebutuhan belajar siswa dan mengintegrasikan AI secara adaptif dan reflektif agar pembelajaran lebih bermakna.

27.

Dalam pembelajaran "Transformasi Peradaban Islam di Era Modern," seorang guru PAI menggunakan model pelayanan konseling agar siswa mampu memahami nilai-nilai peradaban Islam tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga dalam konteks pembentukan sikap dan karakter pribadi. Guru berupaya mengevaluasi apakah peserta didik telah mampu:

- Menunjukkan empati terhadap perbedaan budaya,

- Menyadari nilai-nilai spiritual dalam kemajuan peradaban,

- Mengaitkan prinsip Islam dengan tantangan kehidupan modern.

Agar hasil evaluasi sesuai dengan karakteristik peserta didik yang reflektif dan komunikatif, alur pelaksanaan materi ajar yang paling logis dan sesuai dengan model pelayanan konseling adalah ....

a)

Guru mengajak siswa melakukan refleksi diri melalui diskusi bimbingan kelompok tentang nilai-nilai Islam yang dapat diteladani dalam kehidupan modern, lalu menilai berdasarkan kedalaman pemahaman dan perubahan sikap.

b)

Guru memberikan kuis online tentang tokoh dan peristiwa dalam sejarah Islam, lalu menilai hasil skor sebagai indikator keberhasilan belajar.

c)

Guru menyampaikan ceramah tentang kemajuan peradaban Islam, kemudian meminta siswa menulis ringkasan untuk dikumpulkan sebagai tugas evaluasi.

d)

Guru meminta siswa menjelaskan kembali sejarah kerajaan Islam, kemudian memberikan penilaian berdasarkan ketepatan isi dan kelengkapan data.

e)

Guru menugaskan siswa membuat mind map tentang perkembangan peradaban Islam, kemudian menilai berdasarkan kreativitas dan estetika tampilan.

28.

Dalam mengajarkan konsep akhlak terpuji dalam PAI, Anda melihat sebagian siswa hanya menghafal definisi tanpa memahami penerapannya. Bagaimana Anda memodifikasi pembelajaran agar siswa mampu menganalisis dan menerapkan akhlak terpuji dalam kehidupan nyata?

a)

Meminta siswa menghafal ulang definisi tanpa diskusi.

b)

Menggunakan pendekatan studi kasus dan simulasi situasi nyata untuk mendorong analisis dan refleksi perilaku.

c)

Memberi ujian tulis soal hafalan.

d)

Memberikan ceramah panjang mengenai akhlak terpuji.

e)

Membebaskan siswa menentukan makna akhlak tanpa arahan.

29.

Seorang guru PAI sedang mengajarkan materi mu'jizat, karamah, dan sihir kepada peserta didik kelas XI. Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan diskusi kelompok dan studi kasus, di mana siswa menganalisis berbagai peristiwa yang sering dikaitkan dengan hal-hal supranatural, kemudian membedakan mana yang tergolong mu'jizat, karamah, atau sihir berdasarkan dalil dan akal sehat. Selama kegiatan, guru mengamati dinamika kelas yang cukup beragam:

• Sebagian siswa aktif berdiskusi dan mengaitkan dengan fenomena kekinian.

• Sebagian lain masih ragu dan hanya mendengarkan.

• Beberapa menunjukkan sikap ingin tahu tinggi namun kurang berani menyampaikan pendapat di forum.

Dalam situasi tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru agar dapat menilai capaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa secara komprehensif sesuai dengan karakter lingkungan belajar yang heterogen?

a)

Lembar observasi dan jurnal refleksi siswa, karena dapat mengukur partisipasi, rasa ingin tahu, pemahaman konsep, serta kemampuan berpikir kritis dalam konteks sosial kelas yang beragam.

b)

Tes pilihan ganda standar, agar guru dapat menilai pemahaman kognitif siswa dengan cepat dan objektif.

c)

Penilaian proyek kelompok, karena menilai produk akhir tanpa memperhatikan sikap dan proses berpikir siswa.

d)

Kuis individu tertulis, karena hanya memberikan gambaran umum kemampuan pengetahuan tanpa memperhatikan interaksi sosial.

e)

Self-assessment, karena siswa menilai dirinya sendiri tanpa keterlibatan guru dalam observasi proses pembelajaran.

30.

Dalam merancang pembelajaran PAI, Anda ingin memastikan siswa benar-benar aktif dan menjadi agen pembelajaran. Strategi manakah yang paling tepat untuk mewujudkan pembelajaran berpusat pada peserta didik dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis?

a)

Memberikan ceramah lengkap agar semua materi tersampaikan.

b)

Memberikan tugas hafalan sebagai prioritas utama.

c)

Mengintegrasikan proyek kolaboratif yang memotivasi siswa untuk eksplorasi nilai-nilai PAI secara kontekstual dan reflektif.

d)

Mengandalkan ujian tertulis untuk menilai pemahaman.

e)

Meminta siswa mengikuti instruksi tanpa diskusi.

31.

Seorang guru PAI di era digital berusaha meningkatkan kualitas pembelajarannya. Ia menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu merancang soal, menganalisis hasil belajar siswa, dan menyiapkan bahan ajar digital. Namun, dalam praktiknya:

• Guru masih sering menyalin hasil dari AI tanpa melakukan verifikasi isi dan kesesuaian nilai Islam.

• Guru belum memanfaatkan AI secara reflektif untuk menumbuhkan berpikir kritis dan kolaboratif pada siswa.

• Penggunaan teknologi dilakukan hanya untuk efisiensi waktu, bukan untuk pengembangan kualitas pembelajaran.

• Guru juga belum mengembangkan refleksi profesional terhadap penggunaan teknologi yang dilakukan.

Berdasarkan deskripsi tersebut, bagaimana penilaian yang paling tepat terhadap kemampuan guru dalam penguasaan materi di era digital dan AI sebagai modal pengembangan diri secara berkelanjutan?

a)

Guru baru berada pada tahap penggunaan dasar teknologi (belum memanfaatkan AI secara reflektif dan inovatif untuk pengembangan diri dan kualitas pembelajaran).

b)

Guru sudah sepenuhnya menguasai teknologi pembelajaran digital dan AI karena telah menggunakan alat bantu digital dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

c)

Guru telah menunjukkan kemampuan transformasional dalam mengintegrasikan AI secara etis dan kreatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

d)

Guru termasuk kategori profesional adaptif karena mampu mengombinasikan teknologi dan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran berbasis AI.

e)

Guru tidak perlu meningkatkan kompetensi digitalnya karena penggunaan AI sudah cukup menggantikan fungsi pengembangan profesional guru.

32.

Dalam sebuah kelas Akidah Akhlak, guru masih mengajarkan materi hubungan antara takdir dan iman kepada hari akhir dengan pendekatan yang bersifat dogmatis dan hafalan. Peserta didik hanya diminta menghafal definisi dan dalil tanpa memahami relevansi konsep takdir dengan semangat berusaha, optimisme, dan tanggung jawab sosial di masa kini. Akibatnya, siswa terlihat pasif dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Guru kemudian ingin memperbarui pembelajarannya dengan pendekatan DBL (Discovery-Based Learning) agar siswa lebih bahagia, aktif, dan mampu menemukan sendiri makna hubungan takdir dan iman kepada hari akhir dalam kehidupan modern. Berdasarkan kasus tersebut, strategi pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ...

a)

Guru menjelaskan secara rinci konsep takdir dan hari akhir dari kitab klasik, lalu memberikan latihan soal pilihan ganda untuk mengukur pemahaman siswa.

b)

Guru menugaskan siswa menyalin ayat dan hadis tentang takdir serta hari akhir, kemudian menuliskan artinya sebagai tugas individu.

c)

Guru menampilkan kasus nyata tentang seseorang yang sukses karena berusaha keras meski percaya pada takdir, lalu memandu siswa menemukan makna hubungan antara ikhtiar, takdir, dan keimanan kepada hari akhir melalui proses refleksi dan diskusi kelompok.

d)

Guru meminta siswa membaca satu bab buku tafsir tentang takdir, lalu membuat rangkuman untuk dikumpulkan tanpa diskusi atau penemuan konsep.

e)

Guru menayangkan video ceramah tentang iman kepada takdir, kemudian mengadakan ujian lisan secara bergiliran di depan kelas.

33.

Anda bertugas mengadministrasikan asesmen layanan bimbingan PAI untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kebutuhan spiritual siswa. Setelah menerima hasil asesmen yang beragam, bagaimana langkah terbaik Anda untuk mengelola data dan merancang tindak lanjut yang efektif?

a)

Menggunakan asesmen sebagai bahan evaluasi semata tanpa tindak lanjut.

b)

Fokus hanya pada siswa dengan nilai asesmen rendah saja.

c)

Membagikan hasil asesmen kepada seluruh guru tanpa interpretasi.

d)

Menganalisis data dengan cermat untuk mengidentifikasi pola kebutuhan siswa, kemudian merancang program layanan yang disesuaikan dengan hasil asesmen.

e)

Mengarsipkan hasil tanpa melakukan analisis lebih lanjut.

34.

Seorang guru PAI akan mengajarkan materi "Islam sebagai Agama yang Moderat (Wasathiyah)" di kelas XI. Guru ingin agar siswa tidak hanya memahami konsep moderasi beragama secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah yang majemuk. Guru berencana menerapkan pendekatan TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge) agar pembelajaran menjadi bermakna, kontekstual, dan terintegrasi antara teknologi, pedagogi, dan konten keislaman. Berdasarkan kasus tersebut, rancangan pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ....

a)

Guru menayangkan video interaktif tentang praktik moderasi beragama di Indonesia, lalu memfasilitasi diskusi daring melalui platform pembelajaran digital agar siswa dapat mengaitkan nilai wasathiyah dengan kehidupan mereka.

b)

Guru menjelaskan pengertian Islam moderat menggunakan metode ceramah, kemudian memberikan tugas menulis esai tentang pentingnya toleransi antarumat beragama.

c)

Guru memberikan materi dari buku teks tentang moderasi Islam dan meminta siswa menghafalkan tiga ciri utama Islam moderat.

d)

Guru menugaskan siswa membuat makalah kelompok tentang moderasi Islam tanpa memanfaatkan media teknologi atau pembelajaran kolaboratif.

e)

Guru mengundang tokoh masyarakat untuk bercerita tentang toleransi, kemudian meminta siswa mencatat isi ceramah untuk dikumpulkan sebagai tugas.

35.

Anda menemukan bahwa salah satu siswa PAI mengalami kesulitan belajar yang dipengaruhi oleh situasi keluarga. Sebagai guru profesional, bagaimana strategi terbaik Anda untuk melibatkan orang tua dalam mendukung keberhasilan belajar siswa tersebut?

a)

Mengandalkan wali kelas untuk menangani masalah tersebut.

b)

Membiarkan siswa menyelesaikan masalah tanpa campur tangan orang tua.

c)

Menyalahkan orang tua atas kondisi anak tanpa diskusi.

d)

Mengundang orang tua untuk berdiskusi mendalam mengenai kebutuhan siswa, menyusun rencana dukungan bersama, serta menyediakan informasi tentang sumber daya yang bisa membantu di rumah.

e)

Mengirim pesan singkat tanpa penjelasan agar tidak mengganggu orang tua.

36.

Dalam kelas PAI, Anda menghadapi situasi di mana sejumlah siswa menunjukkan reaksi emosional yang ekstrem terhadap topik keagamaan tertentu, yang mengganggu dinamika pembelajaran. Berdasarkan analisis kritis dan sistematis, faktor psikososial manakah yang paling mungkin mempengaruhi reaksi tersebut dan strategi apa yang paling efektif untuk mengelolanya?

a)

Faktor pengalaman pribadi dan konteks sosial yang mempengaruhi persepsi; strategi yang efektif adalah membangun dialog terbuka dan aktivitas pembelajaran diferensial yang menghargai keberagaman pengalaman emosional siswa.

b)

Faktor biologis semata dan tidak dapat diubah melalui pembelajaran.

c)

Menganggap reaksi tersebut sebagai sikap negatif dan menegur keras agar segera berhenti.

d)

Menyingkirkan topik yang memicu konflik agar kelas tetap kondusif.

e)

Mengabaikan reaksi siswa karena bukan fokus pembelajaran.

37.

Dalam mengikuti organisasi profesi guru PAI, Anda menemukan adanya metode pembelajaran inovatif yang berbeda dengan metode Anda. Bagaimana Anda bersikap agar tetap profesional dan meningkatkan kualitas pembelajaran?

a)

Mengevaluasi metode baru secara kritis, mencoba mengintegrasikannya dengan pendekatan Anda, dan berbagi hasilnya dengan komunitas profesi.

b)

Mengabaikan metode baru karena sudah nyaman dengan cara lama.

c)

Mengkritik metode baru tanpa mencobanya terlebih dahulu.

d)

Meniru metode baru tanpa menyesuaikan dengan karakteristik siswa.

e)

Mengandalkan pengalaman pribadi saja tanpa memperhatikan inovasi.

38.

Seorang guru PAI sedang mengajarkan materi fiqih kontemporer dengan topik etika bermedia sosial dalam perspektif Islam. Guru menggunakan metode diskusi dan studi kasus, di mana siswa menganalisis berbagai perilaku warganet, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan etika berkomentar, untuk kemudian dikaitkan dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan adab berkomunikasi. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah agar peserta didik:

1. Memahami prinsip fiqih dalam konteks kehidupan modern,

2. Menunjukkan sikap bertanggung jawab dan santun dalam bermedia,

3. Mampu menerapkan nilai-nilai fiqih dalam perilaku digital sehari-hari.

Dalam konteks tujuan tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru agar dapat menilai sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa secara komprehensif?

a)

Tes tertulis, karena dapat menguji pengetahuan konsep fiqih kontemporer secara mendalam.

b)

Kuis daring pilihan ganda, karena lebih cepat mengukur pemahaman siswa.

c)

Lembar observasi sikap dan rubrik penilaian proyek kampanye etika digital, karena menilai penerapan nilai-nilai fiqih dalam tindakan nyata sekaligus mencakup aspek pengetahuan dan keterampilan.

d)

Portofolio refleksi individu, karena hanya menilai sikap pribadi tanpa melihat interaksi sosial siswa di dunia digital.

e)

Wawancara perorangan, karena menilai pandangan siswa secara subjektif tanpa bukti keterampilan nyata.

39.

Anda ditugaskan menyusun rancangan kegiatan dukungan sistem untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI yang melibatkan guru, orang tua, dan masyarakat. Faktor manakah yang harus menjadi prioritas agar rancangan tersebut efektif dan berkelanjutan?

a)

Memfokuskan rancangan hanya pada peningkatan kompetensi guru tanpa melibatkan pihak lain.

b)

Mengembangkan program yang hanya berorientasi pada kegiatan seremonial agama.

c)

Membuat rancangan yang kompleks dan sulit diimplementasikan untuk menampilkan kesan profesional.

d)

Merancang program tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sosial sekolah.

e)

Mengidentifikasi kebutuhan semua stakeholder, membangun komunikasi dan kolaborasi aktif antar pihak, serta menyusun mekanisme monitoring dan evaluasi yang transparan untuk memastikan keberlanjutan program.

40.

Dalam kegiatan pembelajaran PAI di SMA bertema "Islam sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam," seorang guru berupaya melaksanakan program Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil 'Alamin (PPRA) dengan menanamkan nilai-nilai:

-Toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.

-Kepedulian sosial dan lingkungan.

-Moderasi beragama, Kasih sayang dan empati terhadap sesama.

Peserta didik memiliki karakter yang kritis, terbuka terhadap dialog, dan senang bekerja sama. Guru ingin memastikan bahwa pelaksanaan pembelajaran mendorong siswa menginternalisasi nilai-nilai Islam yang damai dan universal. Berdasarkan kondisi tersebut, pengembangan materi ajar yang paling sesuai dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran PPRA adalah ....

a)

Guru menjelaskan konsep rahmatan lil 'alamin dari perspektif tafsir klasik dan meminta siswa menulis maknanya dalam buku catatan.

b)

Guru menayangkan video tentang aksi sosial lintas agama, kemudian membimbing siswa melakukan refleksi kelompok tentang pentingnya kepedulian dan toleransi dalam Islam.

c)

Guru memberikan latihan berisi soal-soal pilihan ganda tentang makna rahmatan lil 'alamin.

d)

Guru meminta siswa membaca artikel tentang moderasi beragama di Indonesia, lalu menjawab pertanyaan tertulis secara individu.

e)

Guru menyampaikan ceramah tentang moderasi beragama dan meminta siswa meringkasnya untuk dikumpulkan.

41.

Anda mendapati bahwa beberapa siswa di kelas PAI cenderung cepat bosan dengan metode pembelajaran yang monoton, sementara lainnya kesulitan memahami materi tanpa penjelasan visual. Bagaimana strategi Anda untuk mengakomodasi karakteristik belajar siswa yang berbeda tersebut secara efektif?

a)

Mengabaikan perbedaan dan menilai berdasarkan hasil tes standar saja.

b)

Fokus pada satu gaya belajar yang dianggap paling penting.

c)

Meminta siswa menyesuaikan diri dengan metode Anda.

d)

Merancang pembelajaran multimodal dengan kombinasi visual, auditori, dan kinestetik serta memberikan pilihan aktivitas sesuai gaya belajar siswa.

e)

Menggunakan satu metode yang paling mudah bagi guru.

42.

Dalam sebuah kelas tafsir, guru PAI masih menggunakan materi klasik yang hanya menjelaskan makna literal ayat-ayat Al-Qur'an tanpa mengaitkan dengan konteks sosial modern, isu lingkungan, teknologi digital, atau keadilan sosial. Akibatnya, peserta didik tampak kurang antusias, dan diskusi kelas menjadi pasif. Guru kemudian ingin memperbarui strategi pembelajarannya agar materi tafsir lebih kontekstual, relevan dengan perkembangan zaman, dan mampu menumbuhkan karakter unggul serta daya saing siswa. Guru berencana menerapkan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, aman, dan bermakna. Berdasarkan kasus tersebut, strategi pembelajaran yang paling tepat diterapkan guru adalah ....

a)

Guru menjelaskan tafsir ayat Al-Qur'an dengan makna klasik secara rinci, kemudian memberikan tugas individu untuk menulis ringkasan dan penjelasan tersebut.

b)

Guru meminta siswa membaca buku tafsir kuno dan melaporkan kembali maknanya tanpa perlu mengaitkannya dengan kehidupan modern.

c)

Guru memberikan masalah nyata seperti "bagaimana nilai-nilai Al-Qur'an dapat dijadikan pedoman menghadapi disinformasi di media sosial", kemudian membimbing siswa menganalisis ayat-ayat terkait dengan tafsir yang relevan secara kontekstual.

d)

Guru menampilkan video ceramah tafsir dari ulama terdahulu, lalu menguji pemahaman siswa dengan soal pilihan ganda.

e)

Guru mengarahkan siswa untuk mencari tafsir populer di internet tanpa bimbingan, kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas.

43.

Anda mengamati meskipun materi PAI diajarkan secara lengkap, beberapa siswa menunjukkan sikap intoleran dan kurang empati dalam interaksi sehari-hari. Dengan pemahaman mendalam tentang pembelajaran sosial emosional, langkah manakah yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut secara berkelanjutan?

a)

Memperketat aturan disiplin tanpa menyentuh aspek emosional siswa.

b)

Merancang intervensi pembelajaran yang mengintegrasikan praktik pengelolaan emosi dan pengembangan empati melalui refleksi kritis dan simulasi konflik dalam konteks nilai-nilai PAI.

c)

Mengganti materi PAI dengan pendekatan pengajaran yang lebih lepas dan dogmatis.

d)

Mengandalkan guru BK untuk menangani masalah sosial emosional siswa secara terpisah.

e)

Mengabaikan masalah ini karena nilai akademik PAI sudah memadai.

44.

Seorang siswa yang kurang mendapat dukungan spiritual di rumah mengalami kesulitan mempraktikkan nilai-nilai PAI dalam keseharian. Bagaimana Anda menyusun layanan perencanaan individu yang efektif untuk membantu siswa tersebut mengatasi kendala ini?

a)

Mengadakan pertemuan dengan siswa dan wali untuk merumuskan rencana pembelajaran yang personal, melibatkan dukungan keluarga, dan menyediakan akses bimbingan serta sumber belajar yang relevan.

b)

Memberikan materi tambahan tanpa diskusi dengan siswa maupun keluarga.

c)

Mengharuskan siswa mengikuti semua aktivitas pembelajaran tanpa perhatian khusus.

d)

Menyerahkan siswa kepada guru lain tanpa tindak lanjut.

e)

Memberikan evaluasi rutin tanpa penyesuaian perencanaan.

45.

Anda ingin meningkatkan profesionalisme sebagai guru PAI dengan menerapkan pembelajaran sosial emosional, terutama dalam menghadapi siswa yang mengalami konflik batin terkait identitas keagamaan mereka. Sikap dan tindakan profesional manakah yang paling tepat Anda ambil?

a)

Menghindari topik identitas keagamaan karena dianggap sensitif dan berisiko.

b)

Mengarahkan siswa untuk segera menyesuaikan diri tanpa dialog.

c)

Menjalin hubungan empatik, memberikan ruang aman bagi siswa untuk berekspresi, serta menggunakan pendekatan pembelajaran yang mendukung pengelolaan emosi dan pencarian makna spiritual secara inklusif.

d)

Memindahkan siswa ke kelas lain untuk menghindari masalah.

e)

Mengabaikan konflik batin siswa dan tetap fokus pada materi pembelajaran.

46.

Sekolah Anda ingin mengembangkan budaya sekolah yang kuat dalam menghidupkan nilai-nilai PAI secara berkelanjutan. Sebagai guru, Anda ditugaskan merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya efektif secara akademik tetapi juga mampu mendorong refleksi kritis dan internalisasi nilai oleh peserta didik. Manakah pendekatan yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut?

a)

Mengadakan pengajaran nilai secara tradisional dengan ceramah dan hafalan tanpa melibatkan refleksi siswa.

b)

Merancang pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan nilai-nilai PAI dalam konteks nyata, disertai kegiatan reflektif dan diskusi kritis untuk mendorong pemahaman dan penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

c)

Fokus pada penilaian nilai melalui tes tertulis tanpa aktivitas pendukung.

d)

Mengandalkan guru pembina ekstrakurikuler untuk menerapkan nilai di luar jam pelajaran.

e)

Membatasi pembelajaran nilai hanya pada momen-momen khusus seperti peringatan hari besar agama.

47.

Setelah mengoreksi hasil tugas PAI, Anda menemukan beberapa siswa belum memahami konsep nilai kejujuran dengan baik. Sebagai guru profesional yang ingin memberikan umpan balik yang berpusat pada peserta didik, langkah mana yang paling tepat Anda ambil?

a)

Memberi nilai rendah dan meminta siswa memperbaiki tugas tanpa penjelasan lebih lanjut.

b)

Menyusun laporan hasil tugas dan membagikannya kepada wali kelas tanpa interaksi langsung dengan siswa.

c)

Memberikan komentar spesifik pada tugas, mengadakan sesi diskusi reflektif dengan siswa mengenai pentingnya nilai kejujuran, dan membantu mereka merencanakan perbaikan.

d)

Mengingatkan siswa secara umum di kelas tentang pentingnya nilai kejujuran tanpa membahas hasil tugas individu.

e)

Mengabaikan kekurangan tersebut dan melanjutkan materi berikutnya agar tidak mengganggu waktu pembelajaran.

48.

Seorang guru PPG hendak melakukan asesmen formatif pada mata pelajaran PAI untuk mengetahui pemahaman siswa secara real time. Manakah jenis asesmen yang paling sesuai agar penilaian berpusat pada peserta didik?

a)

Tes pilihan ganda yang hanya menilai jawaban benar atau salah.

b)

Ujian akhir semester yang menilai hasil belajar secara keseluruhan.

c)

Penugasan proyek yang memungkinkan siswa menunjukkan pemahaman dan kreativitas secara mandiri.

d)

Memberikan soal-soal sulit tanpa bimbingan agar siswa terdorong belajar lebih keras.

e)

Memberikan nilai berdasarkan kehadiran saja.

49.

Setelah evaluasi diri, Anda menyadari bahwa selama ini metode pembelajaran PAI yang Anda gunakan kurang mengakomodasi keberagaman gaya belajar siswa. Refleksi kritis apa yang harus Anda lakukan agar perbaikan metode pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar secara signifikan?

a)

Mencari literatur terkait berbagai gaya belajar, berdiskusi dengan kolega, dan merancang strategi pembelajaran yang variatif serta inklusif.

b)

Tetap memakai metode yang sama karena sudah nyaman.

c)

Mengandalkan pengalaman pribadi tanpa mencari masukan.

d)

Menunggu pelatihan dari pihak sekolah sebelum melakukan perubahan.

e)

Mengurangi materi pembelajaran supaya lebih cepat selesai.

50.

Seorang guru PAI di SMA melaksanakan pembelajaran Fiqih Kontemporer dengan topik "Etika Bermedia Sosial dalam Perspektif Islam". Guru menggunakan pendekatan Discovery Learning (DL) agar siswa dapat menemukan sendiri nilai-nilai fiqih yang relevan dengan kehidupan modern. Peserta didik terdiri dari remaja dan remaja yang kritis, aktif berdiskusi, dan akrab dengan dunia digital. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru ingin menerapkan alur kegiatan yang logis dan sesuai dengan prinsip DL serta karakteristik peserta didik. Berdasarkan situasi tersebut, alur pelaksanaan materi ajar fiqih kontemporer yang paling tepat adalah ....

a)

Guru menjelaskan pengertian etika bermedia sosial menurut fiqih, kemudian meminta siswa mencatat dalil Al-Qur'an dan hadis yang relevan.

b)

Guru memberikan artikel tentang hukum media sosial dalam Islam dan meminta siswa merangkum isi bacaan untuk dipresentasikan.

c)

Guru menugaskan siswa menulis esai tentang dampak media sosial, kemudian guru memberikan kesimpulan akhir tentang hukum bermedia sosial.

d)

Guru mendiktekan kaidah-kaidah fiqih kontemporer, kemudian mengadakan tanya jawab untuk memperkuat hafalan siswa.

e)

Guru menayangkan video perilaku negatif di media sosial, kemudian membimbing siswa menemukan prinsip-prinsip fiqih yang dapat digunakan untuk menilai perilaku tersebut.

51.

Seorang siswa di kelas PAI mulai menunjukkan penurunan motivasi belajar dan perilaku menarik diri dari interaksi sosial. Setelah Anda mengobservasi, ternyata ada konflik keluarga yang memengaruhi emosinya. Sebagai guru yang bertugas juga sebagai konselor, langkah responsif manakah yang paling efektif untuk membantu siswa ini agar kembali bersemangat secara optimal?

a)

Memberikan tugas tambahan agar siswa fokus belajar dan melupakan masalahnya.

b)

Mengadakan sesi konseling pribadi untuk menggali perasaan siswa, melibatkan orang tua, serta membuat rencana pembelajaran yang fleksibel dan dukungan emosional berkelanjutan.

c)

Meminta siswa untuk tetap mengikuti kelas secara disiplin tanpa menanyakan masalah pribadi.

d)

Melaporkan masalah ke kepala sekolah tanpa interaksi langsung dengan siswa.

e)

Mengabaikan perilaku siswa dan berharap masalah akan selesai sendiri.

52.

Saat ujian tengah semester berlangsung, Anda mendapati seorang siswa menyontek dengan sengaja. Anda memahami bahwa tindakan tersebut melanggar nilai kejujuran dan kode etik guru mengharuskan Anda bersikap adil dan mendidik. Langkah mana yang paling tepat dan mencerminkan kematangan moral dalam menghadapi situasi ini?

a)

Memanggil siswa secara pribadi setelah ujian, membahas pelanggaran tersebut dengan penuh empati, dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki melalui tugas reflektif.

b)

Memberikan teguran keras di depan kelas agar siswa lain tidak meniru perilaku tersebut.

c)

Mengabaikan kejadian itu karena takut hubungan baik dengan siswa rusak.

d)

Langsung melaporkan siswa ke kepala sekolah tanpa memberi kesempatan penjelasan.

e)

Memberi nilai nol tanpa penjelasan agar siswa jera dan tidak mengulangi perbuatan yang sama.

53.

Seorang guru PAI melakukan kunjungan pembelajaran (community learning) ke masyarakat sekitar sekolah yang memiliki keragaman latar belakang agama dan budaya. Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diajak berdialog dengan tokoh masyarakat tentang implementasi nilai-nilai moderasi beragama, seperti:

- Menghargai perbedaan,

- Menolak sikap ekstrem,

- Membangun kerja sama lintas iman,

- Menjaga harmoni sosial.

Setelah kegiatan, guru ingin mengevaluasi sejauh mana peserta didik mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam sebagai agama wasathiyah (moderat). Berdasarkan konteks tersebut, pengembangan materi ajar yang paling sesuai untuk mendukung evaluasi tujuan pembelajaran tersebut adalah ....

a)

Guru mengadakan kuis cepat tentang contoh sikap moderat dalam kehidupan sehari-hari.

b)

Guru menyampaikan ceramah tentang bahaya radikalisme, lalu meminta siswa menjawab pertanyaan pilihan ganda untuk mengukur pemahaman.

c)

Guru menugaskan siswa membuat laporan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, kemudian melakukan refleksi tentang sikap moderat dalam kehidupan sosial.

d)

Guru menampilkan video khutbah Jumat bertema moderasi beragama, lalu meminta siswa menuliskan ringkasan pesan utamanya.

e)

Guru memberikan tes tertulis tentang definisi moderasi beragama menurut Kementerian Agama RI.

54.

Seorang guru PAI ingin mengajarkan materi Klasifikasi Hadis kepada siswa kelas XI dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Guru berencana agar siswa tidak hanya memahami teori hadis sahih, hasan, dan da'if, tetapi juga mampu menganalisis keabsahan hadis dalam konteks kehidupan modern. Peserta didik memiliki karakter yang ingin tahu tinggi, gemar berdiskusi, dan terbiasa belajar melalui pemecahan masalah nyata. Berdasarkan situasi tersebut, rancangan pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang paling tepat diterapkan adalah ....

a)

Guru menayangkan potongan hadis populer di media sosial, lalu meminta siswa menelusuri sumbernya dan menilai keabsahannya berdasarkan kriteria hadis sahih.

b)

Guru menjelaskan jenis-jenis hadis secara detail, kemudian meminta siswa membuat peta konsep tentang perbedaan hadis sahih, hasan, dan da'if.

c)

Guru memberikan daftar hadis beserta klasifikasinya, kemudian meminta siswa menghafalkannya untuk ujian akhir.

d)

Guru membacakan contoh hadis palsu dan menjelaskan alasan hadis tersebut tidak sahih, lalu memberikan tes pilihan ganda.

e)

Guru membagi siswa menjadi kelompok dan menugaskan mereka membaca buku hadis untuk menuliskan ulang hadis sahih dalam bentuk tabel.

55.

Dalam mata pelajaran PAI di SMA, guru merencanakan pembelajaran bertema "Pembentukan Akhlak Karimah sebagai Pilar Karakter Bangsa." Guru menggunakan pendekatan TPACK (Technological, Pedagogical, and Content Knowledge) untuk merancang materi yang mengintegrasikan:

●     Konten keislaman tentang nilai-nilai akhlak karimah,

●     Strategi pedagogis berupa diskusi reflektif dan studi kasus,

●     Teknologi pembelajaran seperti video inspiratif dan kuis interaktif.

Guru ingin menyusun alur materi ajar yang logis dan sesuai dengan karakteristik peserta didik yang berpikir kritis, kolaboratif, dan melek teknologi. Berdasarkan deskripsi tersebut, alur materi ajar pembentukan akhlak karimah yang paling sesuai dalam perencanaan tujuan pembelajaran adalah ....

a)

Menayangkan video tentang perilaku akhlak mulia, kemudian meminta siswa menyalin dalil akhlak karimah dari Al-Qur'an dan hadis.

b)

Menjelaskan pengertian akhlak karimah secara teoretis, kemudian memberikan tugas membaca artikel tentang akhlak.

c)

Menghafal dalil-dalil tentang akhlak karimah dan menuliskan hikmah yang terkandung di dalamnya.

d)

Mengidentifikasi masalah moral di lingkungan sekitar, menganalisisnya berdasarkan nilai akhlak Islam, lalu merancang solusi kreatif menggunakan media digital.

e)

Mendiskusikan perbedaan pandangan ulama tentang akhlak, kemudian membuat laporan tertulis tanpa menggunakan media teknologi.

56.

Dalam pembelajaran Akidah Akhlak di kelas XI, guru menggunakan pendekatan Discovery Based Learning (DBL) untuk materi "Rahasia Takdir Allah dan Hubungannya dengan Iman kepada Hari Akhir." Peserta didik diajak meneliti contoh peristiwa kehidupan seperti keberhasilan dan kegagalan seseorang, lalu mendiskusikan bagaimana takdir Allah berperan dalam setiap kejadian tanpa menghilangkan peran usaha manusia. Di akhir pembelajaran, guru melakukan evaluasi dengan meminta peserta didik menyimpulkan hubungan antara keyakinan terhadap takdir dengan semangat beramal dan harapan pada hari akhir. Dalam konteks evaluasi tersebut, indikator tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik SMA adalah ....

a)

Peserta didik dapat menghafal dalil Al-Qur'an dan hadis tentang takdir dan hari akhir secara benar.

b)

Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara takdir Allah dan amal manusia berdasarkan penjelasan guru.

c)

Peserta didik dapat menguraikan keterkaitan antara keimanan kepada takdir dan keimanan kepada hari akhir melalui hasil penemuan sendiri dari kegiatan pembelajaran.

d)

Peserta didik dapat menilai perbedaan pendapat para ulama tentang takdir tanpa mengaitkannya dengan keimanan kepada hari akhir.

e)

Peserta didik dapat menuliskan definisi takdir dan hari akhir sebagai bentuk pemahaman terhadap rukun iman.

57.

Seorang guru PAI akan mengajarkan materi "Hak-Hak Rakyat dalam Perspektif Islam" kepada peserta didik SMA. Dalam observasi awal, guru menemukan bahwa siswa hanya memahami hak-hak rakyat secara teoritis dan hafalan, belum mampu mengaitkan konsep tersebut dengan realitas sosial, seperti keadilan sosial, partisipasi masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. Guru ingin merancang pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis, reflektif, dan mampu menerapkan nilai Islam dalam konteks kehidupan nyata, sehingga memilih pendekatan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam (deep learning). Berdasarkan kasus tersebut, rancangan pembelajaran yang paling tepat dilakukan guru adalah ...

a)

Guru menjelaskan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis tentang hak rakyat, kemudian meminta siswa menghafalkannya untuk diuji pada pertemuan berikutnya.

b)

Guru memberikan lembar berisi daftar hak rakyat menurut Islam dan meminta siswa menuliskannya kembali dengan kalimat sendiri.

c)

Guru meminta siswa menonton video dokumenter tentang keadilan sosial lalu menulis ringkasan isi video tanpa mengaitkannya dengan konsep hak rakyat dalam Islam.

d)

Guru menyampaikan materi melalui ceramah interaktif singkat lalu memberikan soal pilihan ganda untuk mengukur pemahaman siswa secara cepat.

e)

Guru mengajak siswa mendiskusikan kasus ketimpangan sosial di masyarakat, kemudian menelusuri ayat-ayat Al-Qur'an yang relevan untuk menganalisis bagaimana Islam mengatur hak-hak rakyat secara adil dan berkepastian.

58.

Dalam pembelajaran PAI di SMA, guru mengangkat topik "Pernikahan dalam Islam antara nilai moral dan realitas sosial." Guru menayangkan cuplikan berita tentang meningkatnya pernikahan usia muda di suatu daerah, lalu meminta peserta didik berdiskusi dan mencari pandangan Islam mengenai kesiapan menikah dari sisi agama, psikologis, dan sosial. Guru ingin merumuskan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik terhadap fenomena tersebut. Berdasarkan narasi tersebut, rumusan tujuan pembelajaran yang paling sesuai adalah ....

a)

Peserta didik dapat menyebutkan syarat dan rukun pernikahan menurut ajaran Islam.

b)

Peserta didik dapat menjelaskan hikmah dan tujuan pernikahan dalam Islam.

c)

Peserta didik dapat menganalisis pematahan pernikahan usia muda berdasarkan prinsip syariat Islam dan konteks sosial modern.

d)

Peserta didik dapat membandingkan pendapat para ulama tentang hukum pernikahan dalam berbagai mazhab.

e)

Peserta didik dapat menuliskan kesimpulan umum tentang pandangan Islam terhadap pernikahan.

59.

Seorang guru PAI melaksanakan pembelajaran materi klasifikasi hadis menggunakan pendekatan Project Based Learning (PjBL). Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi ke dalam kelompok untuk membuat produk digital sederhana berupa poster atau video edukatif yang menjelaskan perbedaan antara hadis sahih, hasan, dan da'if, serta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selama pembelajaran, guru melihat variasi karakter peserta didik, ada yang menonjol dalam kepemimpinan kelompok, ada yang cermat dalam menganalisis sanad dan matan hadis, dan ada pula yang kreatif dalam menyusun produk proyek. Dalam konteks tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru agar dapat menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif pada aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai karakter masing-masing?

a)

Tes tulis objektif dengan bentuk pilihan ganda untuk mengukur seluruh aspek pembelajaran secara efisien.

b)

Daftar cek kehadiran dan ketepatan waktu pengumpulan proyek, karena hanya menunjukkan kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar.

c)

Portofolio individu, karena lebih menilai hasil pribadi siswa daripada kerja sama dan proses dalam proyek kelompok.

d)

Wawancara perorangan, karena guru dapat menggali persepsi siswa tentang hadis tanpa perlu menilai proses dan hasil proyek.

e)

Lembar observasi dan rubrik penilaian proyek, karena mampu menilai kolaborasi, tanggung jawab, pemahaman konsep hadis, serta kreativitas produk yang dihasilkan siswa.

60.

Dalam pembelajaran hadis di kelas XI, guru menerapkan pendekatan Project Based Learning (PjBL) pada materi klasifikasi hadis (sahih, hasan, dan da'if). Peserta didik dibagi dalam kelompok untuk membuat poster digital yang menjelaskan perbedaan antara ketiga jenis hadis berdasarkan sanad, matan, dan kredibilitas perawi. Sebelum memulai proyek, guru memberikan contoh kasus hadis yang banyak beredar di media sosial, kemudian meminta peserta didik menelusuri sumber dan kualitasnya. Guru ingin memastikan bahwa pelaksanaan pembelajaran ini sesuai dengan struktur keilmuan hadis serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan kolaboratif peserta didik. Berdasarkan deskripsi tersebut, indikator pelaksanaan tujuan pembelajaran yang paling sesuai adalah ....

a)

Peserta didik dapat menyebutkan perbedaan antara hadis sahih, hasan, dan da'if berdasarkan penjelasan guru.

b)

Peserta didik dapat menuliskan kembali penjelasan ulama tentang hadis sahih, hasan, dan da'if dalam bentuk laporan tertulis.

c)

Peserta didik dapat menjelaskan manfaat mempelajari klasifikasi hadis untuk memahami ajaran Islam secara mendalam.

d)

Peserta didik dapat mengidentifikasi jenis hadis dari berbagai sumber digital tanpa perlu mempertimbangkan kredibilitas perawi.

e)

Peserta didik dapat mengklasifikasikan hadis yang beredar di masyarakat berdasarkan penilaian sanad dan matan melalui proyek kelompok yang kreatif dan bertanggung jawab.

61.

Dalam pembelajaran akidah bertema "Takdir Allah dan Usaha Manusia," guru mengaitkan topik dengan tradisi masyarakat setempat yang biasa melakukan doa bersama setelah panen atau kelahiran anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Sebagian peserta didik menanyakan apakah tradisi tersebut termasuk bagian dari ajaran Islam atau hanya kebiasaan budaya. Guru ingin menanamkan sikap penerimaan terhadap tradisi selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Berdasarkan situasi pembelajaran tersebut, rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai adalah ....

a)

Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara takdir Allah dan usaha manusia dalam kehidupan sehari-hari.

b)

Peserta didik dapat menolak tradisi masyarakat yang tidak memiliki dasar dalil syar'i.

c)

Peserta didik dapat menumbuhkan sikap terbuka dan menghargai tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai wujud keimanan terhadap takdir Allah.

d)

Peserta didik dapat membandingkan pandangan ulama tentang tradisi dalam perspektif takdir.

e)

Peserta didik dapat menghafal dalil-dalil tentang takdir dan usaha manusia.

62.

Saat menyusun RPP PAI, Anda dihadapkan pada keterbatasan waktu dan kebutuhan untuk memenuhi berbagai komponen kurikulum secara optimal. Bagaimana Anda menyusun desain pembelajaran yang tetap efektif tanpa mengabaikan komponen penting?

a)

Mengabaikan analisis kebutuhan siswa.

b)

Menyalin RPP dari sumber lain tanpa adaptasi.

c)

Mengurangi waktu pembelajaran tanpa evaluasi.

d)

Memprioritaskan materi saja tanpa mempertimbangkan penilaian dan metode.

e)

Merancang tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur, memilih materi esensial, menentukan metode pembelajaran yang mendukung, serta merancang penilaian autentik yang mampu mengukur kompetensi secara menyeluruh.

63.

Seorang guru PAI di MA sedang melaksanakan pembelajaran dengan materi Perkembangan Kepemimpinan dalam Islam. Dalam praktiknya, guru:

●     Menjelaskan materi menggunakan metode ceramah penuh tanpa melibatkan siswa dalam diskusi tentang model kepemimpinan Islam di masa kini.

●     Menggunakan buku teks lama yang hanya memuat contoh kepemimpinan masa Khulafaur Rasyidin tanpa mengaitkannya dengan realitas kepemimpinan modern.

●     Tidak memanfaatkan media digital seperti video profil tokoh Islam kontemporer atau platform pembelajaran daring.

●     Penilaian yang digunakan hanya berupa tes tertulis tentang fakta sejarah kepemimpinan Islam, tanpa penilaian sikap dan keterampilan berpikir kritis.

Kondisi ini menunjukkan adanya permasalahan dari aspek konten, pedagogi, dan teknologi (TPACK) yang dapat menghambat terciptanya pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan. Berdasarkan narasi tersebut, praktik baik (best practice) apa yang seharusnya dilakukan guru untuk menciptakan pembelajaran kepemimpinan Islam yang berkualitas dan relevan dengan konteks kekinian?

a)

Mempertahankan metode ceramah agar siswa lebih fokus mendengarkan dan tidak perlu mencari sumber lain di luar buku teks.

b)

Menambah jam pelajaran supaya guru dapat menjelaskan seluruh sejarah kepemimpinan Islam secara mendalam tanpa perlu menggunakan media teknologi.

c)

Mengganti seluruh materi lama dengan contoh kepemimpinan modern agar pembelajaran tampak kekinian walaupun tidak berdasar pada sumber Islam.

d)

Menilai hasil belajar siswa hanya berdasarkan keaktifan bertanya tanpa mempertimbangkan aspek sikap dan pengetahuan.

e)

Mengintegrasikan pendekatan TPACK dengan mengaitkan materi kepemimpinan Islam klasik dan modern, menggunakan media digital seperti video tokoh inspiratif, serta menerapkan diskusi kolaboratif dan proyek refleksi nilai kepemimpinan.

64.

Anda hendak mengintegrasikan nilai-nilai PAI ke dalam pembelajaran dengan melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai mitra strategis. Strategi manakah yang paling efektif untuk mengoptimalkan peran mereka dalam proses pembelajaran?

a)

Membangun program kolaborasi yang melibatkan peran aktif orang tua dan tokoh masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran nilai-nilai PAI.

b)

Mengundang orang tua dan masyarakat hanya pada acara seremonial sekolah.

c)

Memberikan tugas orang tua untuk mengawasi belajar anak tanpa keterlibatan masyarakat.

d)

Mengirimkan materi pembelajaran ke orang tua tanpa ada komunikasi lebih lanjut.

e)

Mengandalkan guru saja untuk menghidupkan nilai tanpa keterlibatan eksternal.

65.

Anda hendak mengembangkan program pembelajaran PAI yang melibatkan masyarakat sekitar agar nilai-nilai keagamaan dan sosial dapat diinternalisasi peserta didik secara menyeluruh. Namun, ada perbedaan pandangan di antara warga terkait pelaksanaan program tersebut. Sebagai guru, bagaimana Anda mengelola situasi ini agar pembelajaran tetap berjalan efektif dan nilai-nilai dapat tersampaikan?

a)

Mengabaikan perbedaan dan tetap melaksanakan program tanpa melibatkan masyarakat secara langsung.

b)

Menyesuaikan program sesuai dengan kelompok masyarakat yang paling dominan tanpa mempertimbangkan keberagaman.

c)

Menginisiasi dialog terbuka antara siswa, guru, dan tokoh masyarakat untuk mencari 'titik temu' serta merancang kegiatan bersama yang inklusif dan relevan.

d)

Memindahkan program ke dalam kelas saja agar tidak memicu konflik di masyarakat.

e)

Membatalkan program agar tidak menimbulkan masalah sosial.