NEW
Font size
WorksheetsDiagnosis Partus Lama Kala I Fase Aktif
Total questions: 20
Worksheet time: 20mins
Seorang perempuan umur 24 tahun, G1P0A0 usia kehamilan 39 minggu, datang ke Puskesmas dengan keluhan mules sejak 14 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan: - TD 120/80 mmHg, N 88x/menit, RR 22x/menit, S 37°C - TFU 32 cm, punggung kiri, kepala sudah masuk PAP - Ketuban masih utuh, DJJ 142x/menit teratur - Kontraksi 3x/10 menit, lama 40 detik - Pembukaan serviks 4 cm sejak 6 jam lalu (tidak ada kemajuan) - Kepala janin masih di Hodge II - Partograf menunjukkan garis kemajuan sudah melewati garis waspada
Persalinan normal kala I fase aktif
Inersia uteri
Partus lama kala I fase aktif
Persalinan dengan disproporsi sefalopelvik
Persalinan lama kala II
Seorang ibu usia 24 tahun, G1P0A0, datang ke PMB dengan keluhan mules sejak 10 jam yang lalu. Kontraksi lemah dan jarang. Hasil pemeriksaan: pembukaan 4 cm, ketuban masih utuh, DJJ 142x/menit, kontraksi 2x/10 menit durasi 20 detik, TFU 30 cm. Data tambahan apakah yang paling penting untuk menentukan adanya komplikasi persalinan kala I pada kasus tersebut?
Hasil pemeriksaan dalam sebelumnya
Riwayat kehamilan lalu
Riwayat alergi obat
Asupan makanan ibu sebelum bersalin
Pola tidur ibu saat hamil
Seorang perempuan umur 30 tahun, G2P1A0, datang ke Puskesmas dengan keluhan mules sejak 18 jam yang lalu. Pemeriksaan: pembukaan 7 cm, ketuban sudah pecah 10 jam lalu, kontraksi 2x/10 menit durasi 25 detik, DJJ 136x/menit, TFU 33 cm, ibu tampak lemah.
Kala I memanjang
Ketuban pecah dini
Inersia uteri
Partus lama
Persalinan normal fase aktif
Seorang ibu usia 35 tahun, G3P2A0, dirujuk dari PMB ke Puskesmas dengan diagnosa partus lama. Hasil pemeriksaan di Puskesmas: pembukaan tetap 6 cm sejak 4 jam lalu, kontraksi lemah, kepala janin tinggi. Penyebab paling mungkin dari partus lama pada kasus tersebut adalah?
Inersia uteri
Ketuban pecah dini
Ketidaksesuaian janin-panggul
Oksitosin tidak adekuat
Posisi janin melintang
Seorang ibu umur 29 tahun, G2P1A0, datang ke PMB dengan keluhan mules sejak 16 jam lalu. Ketuban sudah pecah 8 jam, pembukaan 6 cm, DJJ 140x/menit, air ketuban keruh kehijauan. Tindakan awal apakah yang paling tepat dilakukan bidan di PMB?
Memberikan infus oksitosin drip
Memberikan antibiotik dan menunggu
Segera merujuk ke fasilitas rujukan dengan pendampingan
Melanjutkan observasi kemajuan pembukaan
Memberikan minum manis hangat dan posisi miring kiri
Seorang ibu usia 32 tahun, G3P2A0, dirujuk ke RS dari Puskesmas karena partus lama. Setelah rujukan ditetapkan, keluarga tampak ragu dan ingin menunggu. Pendidikan kesehatan apakah yang paling tepat diberikan bidan kepada keluarga?
Menjelaskan bahwa partus lama bisa sembuh sendiri
Menjelaskan manfaat rujukan untuk keselamatan ibu dan bayi
Meyakinkan keluarga bahwa kondisi masih bisa ditangani di Puskesmas
Menyarankan untuk berdoa bersama dan menunggu
Memberi janji bahwa bayi akan lahir dengan selamat
Seorang ibu hamil G2P1A0 usia 34 minggu, datang ke PMB dengan keluhan sakit kepala hebat, pandangan kabur, dan edema tungkai. TD 170/110 mmHg, Nadi 90x/menit, protein urin (+3), belum ada kejang. Kapan penanganan gawat darurat pada PEB harus segera dilakukan?
Bila tekanan darah di atas 140/90 mmHg
Bila disertai protein urin positif
Bila tekanan darah ≥160/110 mmHg dengan gejala berat
Bila tekanan darah meningkat dalam dua kali pemeriksaan
Bila ada keluhan bengkak tungkai saja
Seorang ibu hamil usia 22 tahun, G1P0A0, usia kehamilan 38 minggu, datang ke Puskesmas dengan kejang 2 menit, disertai penurunan kesadaran. TD 170/120 mmHg, protein urin (+3). Setelah kejang berhenti, napas ibu teratur. Langkah awal apakah yang paling tepat dilakukan bidan?
Memasang infus oksitosin dan menyiapkan partus
Memberikan MgSO₄ dosis awal dan memastikan jalan napas
Memberikan diazepam intravena dan menunggu sadar
Memberikan cairan glukosa dan observasi
Memindahkan ibu segera tanpa tindakan
Seorang ibu G3P2A0, usia kehamilan 35 minggu, datang ke Puskesmas dengan riwayat kejang selama kehamilan, saat ini sadar namun tampak lemah. TD 160/100 mmHg, protein urin (+3). Kapan penanganan gawat darurat pada eklampsia harus segera diberikan?
Saat pasien mulai mengalami kejang atau penurunan kesadaran
Setelah pasien sadar penuh
Setelah hasil laboratorium keluar
Setelah mendapat izin keluarga
Saat kontraksi sudah aktif
Seorang ibu usia 30 tahun, G3P2A0, 36 minggu, datang ke Puskesmas dengan keluhan keluar darah merah segar dari vagina tanpa nyeri sejak 2 jam. TD 100/70 mmHg, Nadi 98x/menit, TFU 33 cm, janin hidup, DJJ 144x/menit. Tindakan awal paling tepat yang dilakukan bidan di Puskesmas adalah?
Melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan asal perdarahan
Memasang infus RL, posisi miring kiri, dan rujuk segera
Memberikan oksitosin untuk menghentikan perdarahan
Menunggu darah berhenti baru dilakukan pemeriksaan
Memasukkan tampon vagina untuk menghentikan perdarahan
Seorang ibu usia 35 tahun, G4P3A0, 39 minggu, datang ke Puskesmas dengan keluhan nyeri perut hebat dan keluar darah sedikit dari vagina. Hasil pemeriksaan: TD 100/60 mmHg, Nadi 110x/menit, TFU 34 cm, kontraksi kuat dan terus-menerus, DJJ 100x/menit. Tindakan gawat darurat apakah yang paling tepat dilakukan bidan?
Memberikan oksitosin drip untuk mempercepat persalinan
Memasang infus RL, memantau tanda vital, dan segera rujuk
Melakukan pemeriksaan dalam untuk menilai pembukaan
Memberikan antibiotik profilaksis
Memberikan minum manis dan posisi setengah duduk
Seorang ibu G2P1A0, usia kehamilan 37 minggu, datang ke PMB dengan perdarahan banyak, TD 90/50 mmHg, Nadi 120x/menit, kesadaran menurun. Darah keluar ±300 ml dari vagina, ibu tampak pucat. Bagaimana prosedur penatalaksanaan gawat darurat perdarahan yang tepat dilakukan bidan di PMB sebelum rujukan?
Memberikan cairan infus, menekan uterus, dan rujuk segera
Menunggu sampai darah berhenti baru dipasang infus
Melakukan pemeriksaan dalam untuk menilai pembukaan
Memberikan obat uterotonika oral
Memberikan minuman manis untuk menambah energi
Seorang ibu bersalin, usia 28 tahun, G2P1A0, kala I fase aktif, datang ke Puskesmas dengan keluhan ketuban pecah sejak 6 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, N 90x/menit, P 22x/menit, suhu 38ºC, TFU 34 cm, presentasi kepala, punggung kiri, ketuban sudah pecah, air ketuban hijau pekat, DJJ 100x/menit dan tidak teratur, kontraksi 4x/10 menit dengan durasi 60 detik. Tindakan awal yang paling tepat dilakukan oleh bidan di fasilitas pelayanan dasar adalah:
Memberikan infus RL dan memantau DJJ setiap 15 menit
Melanjutkan persalinan dan menunggu tanda-tanda gawat janin
Melakukan rujukan segera ke fasilitas yang lebih lengkap
Memberikan antibiotik oral dan observasi
Memberikan oksigen 4 L/menit dan melakukan amniotomi
Seorang ibu, umur 29 tahun, G3P2A0, kala I fase laten, direncanakan dirujuk karena ketuban pecah dini >12 jam dan suhu 38°C. Bidan telah menstabilkan kondisi dan menyiapkan rujukan. Langkah komunikasi dan transportasi rujukan yang benar dilakukan oleh bidan adalah:
Mengirim pasien tanpa pemberitahuan sebelumnya
Mengirim pasien dengan surat rujukan tertulis tanpa laporan verbal
Menghubungi fasilitas rujukan dan menyampaikan kondisi pasien secara lengkap
Menunggu pasien membaik sebelum berangkat
Menitipkan pasien pada petugas non-medis selama perjalanan
Seorang ibu bersalin, G1P0A0 usia kehamilan 40 minggu, mengalami kala II >2 jam. Hasil pemeriksaan: kepala janin tidak turun, posisi oksiput posterior, kontraksi kuat, DJJ 136x/menit, dan tidak ada tanda ruptur uteri. Penyebab paling mungkin dari partus macet pada kasus tersebut adalah:
Kontraksi uterus lemah
Panggul sempit atau disproporsi sefalopelvik
Janin kecil dan plasenta previa
Malposisi kepala janin
Ketuban pecah dini
Seorang ibu, umur 25 tahun, G1P0A0, kala II sudah berlangsung >2 jam. Kontraksi masih kuat, kepala janin tidak turun, DJJ 108x/menit. Bidan mendiagnosis partus macet kala II. Langkah penatalaksanaan yang paling tepat dilakukan oleh bidan di PMB adalah:
Melanjutkan persalinan dan memberikan oksitosin drip
Melakukan ekstraksi vakum
Memberikan infus RL, oksigen, posisi miring kiri, dan rujuk segera
Memberikan uterotonika untuk mempercepat persalinan
Menunggu hingga kontraksi melemah
Seorang ibu, G1P0A0 usia kehamilan 39 minggu, berada dalam kala II. Bidan memantau denyut jantung janin (DJJ) sebesar 100x/menit, teratur, dan tidak meningkat meskipun kontraksi sudah berakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa janin mengalami:
Hipoksia janin ringan
Gawat janin
Normal fisiologis
Takikardi janin
Bradikardi karena posisi ibu
Seorang ibu G2P1A0, usia kehamilan 40 minggu, melahirkan di PMB. Kepala bayi sudah lahir, tetapi wajah bayi tampak merah kebiruan dan bahu tidak segera lahir dalam 1 menit. Saat dilakukan tarikan lembut, kepala bayi tertarik ke perineum dan kemudian kembali ke posisi semula (“turtle sign”). Tanda tersebut menunjukkan bahwa bayi mengalami:
Kepala lahir normal
Tali pusat menumbung
Distosia bahu
Letak lintang
Distosia serviks
Seorang ibu hamil 39 minggu, G3P2A0, dengan BB 90 kg, tinggi badan 150 cm, melahirkan spontan di PMB. Kepala bayi lahir tetapi bahu sulit keluar. Faktor risiko yang paling mungkin menjadi penyebab distosia bahu pada kasus tersebut adalah:
Panggul sempit
Bayi besar (makrosomia)
Ketuban pecah dini
Inersia uteri
Posisi kepala tidak fleksi
Seorang ibu melahirkan spontan di PMB. Kepala bayi lahir, tetapi bahu tidak segera lahir. Bidan mencurigai distosia bahu. Tindakan awal yang paling tepat dilakukan bidan adalah:
Menarik kepala bayi kuat-kuat ke bawah
Menarik tali pusat agar membantu keluarnya bahu
Melakukan manuver McRoberts dan tekanan suprapubik
Melakukan episiotomi luas
Memberikan uterotonika
