WorksheetsSoal Pilihan Ganda K3LH di Tempat Kerja
Total questions: 27
Worksheet time: 20mins
Seorang pekerja di bagian pengelasan (welding) untuk menyambung besi beton telah menggunakan helm las dan sarung tangan kulit yang disyaratkan. Namun, setelah bekerja beberapa minggu, ia mulai merasakan iritasi dan mata berair parah. Berdasarkan kasus ini, evaluasi paling tepat terhadap penerapan Alat Pelindung Diri (APD) K3LH di tempat kerja tersebut adalah...
Pengelasan adalah pekerjaan berisiko tinggi sehingga iritasi mata adalah risiko yang tidak dapat dihindari.
Pekerja harusnya mengurangi jam kerja agar iritasi tidak terjadi, bukan kesalahan APD.
APD yang digunakan sudah memadai karena telah sesuai standar minimal untuk pengelasan.
Telah terjadi kegagalan sistem K3 yang mengabaikan perlunya kacamata pelindung atau filter lensa yang sesuai standar mutu.
Area lantai di sekitar mesin produksi pada sebuah pabrik seringkali licin karena adanya tumpahan oli dan cairan pendingin. Berdasarkan Hierarki Pengendalian Bahaya K3 (Hierarchy of Control), tindakan pencegahan yang dianggap paling efektif dan harus diprioritaskan untuk mengendalikan bahaya ini adalah...
Mengganti jenis oli atau cairan pendingin dengan bahan yang tidak mudah tumpah atau tidak licin (Substitusi).
Menyediakan sepatu penyerap oli dan Alat Pelindung Diri (APD) berupa sepatu keselamatan anti-slip bagi semua pekerja.
Memasang sistem saluran pembuangan dan penampung oli tertutup langsung pada mesin (Engineering Control) agar oli tidak mencapai lantai.
Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang cara berjalan di lantai licin dan memasang rambu peringatan.
Sebuah perusahaan manufaktur telah memiliki prosedur kerja aman dan Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang bersertifikasi. Namun, data menunjukkan angka kecelakaan 'Near Miss' (nyaris celaka) yang tinggi, terutama pada shift malam yang disebabkan oleh human error. Berdasarkan konsep manajemen risiko SMK3, area fokus perbaikan yang paling fundamental untuk menekan Near Miss tersebut adalah...
Melakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor penyebab kelelahan (fatigue) dan sistem kerja shift (Administrasi) serta mengevaluasi ulang kompetensi pekerja.
Mengganti semua peralatan kerja lama dengan yang baru yang dilengkapi sensor otomatis.
Meningkatkan sanksi bagi pekerja yang lalai dan menambah jumlah pengawas K3 di malam hari.
Memperbanyak rambu-rambu peringatan dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengurangi dampak dari Near Miss.
Seorang teknisi di sebuah fasilitas petrokimia sedang menangani tumpahan bahan kimia korosif. Ia wajib menggunakan full-face respirator, sarung tangan nitril tebal, dan baju hazmat level B. Tindakan K3LH yang benar berdasarkan prosedur dekontaminasi setelah selesai bekerja dan keluar dari area berbahaya (hot zone) adalah...
Melepas APD di area kerja sebelum keluar dari hot zone.
Membersihkan APD dengan air bersih sebelum dilepas.
Melakukan dekontaminasi APD dan tubuh di area khusus sebelum keluar dari hot zone.
Langsung keluar dari hot zone dan melepas APD di ruang ganti.
Setelah selesai bekerja di area yang terkontaminasi bahan berbahaya, langkah yang benar dalam melepas alat pelindung diri (APD) adalah...
Melepas semua APD, membuangnya ke tempat sampah biasa, lalu segera mencuci tangan.
Mencuci seluruh baju hazmat dan respirator dengan air mengalir di lokasi kejadian untuk digunakan kembali.
Melepas APD dari luar ke dalam (sarung tangan terluar, hazmat, respirator) di stasiun dekontaminasi untuk mencegah kontaminasi sekunder.
Melepas sarung tangan dan hazmat terlebih dahulu, lalu melepas respirator di area aman (cold zone).
Seorang pekerja 50 tahun sering mengeluh nyeri punggung kronis dan carpal tunnel syndrome (CTS) setelah bekerja 8 jam sehari di meja perakitan. Pekerja tersebut harus memindahkan komponen kecil secara berulang dalam posisi membungkuk. Solusi Ergonomi yang paling mendasar dan harus segera diterapkan oleh perusahaan adalah...
Memasang conveyor belt untuk mengeliminasi gerakan memindahkan komponen secara manual.
Menyesuaikan ketinggian meja kerja agar komponen berada pada ketinggian siku pekerja saat berdiri/duduk tegak, dan menggunakan alat bantu mekanik untuk gerakan berulang.
Mengganti kursi kerja dengan kursi yang lebih empuk dan memberikan suplemen vitamin anti-nyeri.
Memperpendek jam kerja dari 8 jam menjadi 6 jam per hari tanpa perubahan posisi kerja.
Sebuah gudang mengalami insiden kebakaran kecil yang berhasil dipadamkan oleh tim internal perusahaan dalam waktu lima menit. Tidak ada korban jiwa, tetapi terdapat kerugian material. Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, langkah wajib selanjutnya yang harus dilakukan oleh Pengurus/Perusahaan terkait insiden ini adalah...
Membuat laporan tertulis dan melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat yang berwenang (Pengawas Ketenagakerjaan setempat).
Mengadakan pertemuan darurat dengan seluruh karyawan untuk menceritakan kronologi kejadian sebagai pelajaran.
Melakukan investigasi internal dan segera memperbaiki kerusakan material yang terjadi.
Membuat sertifikat baru untuk APAR yang digunakan dan menggantinya dengan yang baru.
Dalam konteks K3LH (aspek Lingkungan Hidup), sebuah pabrik diketahui membuang limbah cair yang mengandung Merkuri (Hg) ke sungai tanpa pengolahan memadai. Tindakan ini termasuk dalam pelanggaran K3LH paling serius karena Merkuri merupakan...
Limbah padat yang seharusnya dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus yang kedap air.
Zat yang hanya berbahaya bagi ekosistem air, tetapi aman bagi kesehatan manusia jika tidak dikonsumsi langsung.
Limbah padat yang seharusnya dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) khusus yang kedap air.
Zat yang hanya berbahaya bagi ekosistem air, tetapi aman bagi kesehatan manusia jika tidak dikonsumsi langsung.
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang bersifat karsinogenik dan persisten di lingkungan, melanggar peraturan lingkungan.
Seorang rekan kerja tersengat listrik tegangan rendah dan tergeletak tidak sadarkan diri di lantai, masih dalam posisi menyentuh sumber listrik. Anda adalah penolong pertama yang bersertifikat P3K. Tindakan prioritas pertama dan paling kritis yang harus Anda lakukan adalah...
Segera memberikan pernapasan buatan (CPR) di tempat kejadian.
Memanggil bantuan medis secepatnya sambil memeriksa denyut nadi korban.
Menuangkan air ke tubuh korban untuk mengurangi efek sengatan listrik.
Mengamankan sumber listrik dengan mematikan saklar utama atau memutus kontak korban dengan benda non-konduktor.
Pekerjaan pemeliharaan gedung di ketinggian 50 meter menggunakan gondola membutuhkan Analisis Keselamatan Kerja (Job Safety Analysis/JSA). Bahaya (Hazard) utama yang memiliki potensi risiko paling tinggi dan membutuhkan pengendalian paling ketat pada pekerjaan ini adalah...
Paparan sinar matahari langsung yang dapat menyebabkan dehidrasi jika tidak disiapkan air minum yang cukup.
Potensi terjatuh dari ketinggian yang dapat menyebabkan cedera fatal (kematian) jika sistem pengaman (full body harness) gagal.
Kerusakan gondola yang diakibatkan oleh kurangnya perawatan berkala.
Bising dari mesin gondola yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dalam jangka panjang.
Setelah evaluasi simulasi tanggap darurat, ditemukan bahwa banyak karyawan panik, tidak menggunakan jalur evakuasi yang benar, dan berdesakan di Muster Point (titik kumpul). Upaya perbaikan yang paling efektif untuk mengatasi masalah kepatuhan dan kepanikan ini pada pelatihan berikutnya adalah...
Meningkatkan frekuensi pelatihan evakuasi dengan skenario yang lebih realistis, termasuk peran khusus bagi Koordinator Lantai/Gedung (Floor Warden).
Mengadakan kompetisi evakuasi antar departemen dengan hadiah untuk kelompok tercepat.
Membuat aturan yang lebih ketat, termasuk sanksi, bagi karyawan yang tidak tertib saat simulasi.
Mengganti semua rambu evakuasi dengan tanda digital yang dilengkapi suara peringatan.
Apa yang harus dilakukan oleh seorang karyawan yang menemukan kesalahan dalam proses kerja?
Mengabaikan kesalahan tersebut
Melaporkan kesalahan tersebut kepada atasan
Mencoba memperbaiki kesalahan tersebut sendiri
Menyalahkan orang lain
Inti dari Budaya Mutu dalam sebuah organisasi adalah...
Mendapatkan sertifikasi ISO.
Komitmen dan tanggung jawab setiap individu terhadap kualitas.
Meningkatkan keuntungan perusahaan.
Menggunakan teknologi terbaru.
Melakukan inspeksi produk akhir secara ketat.
Pada sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat, kontraktor memutuskan untuk menggunakan perancah (scaffolding) modular yang baru untuk mempercepat pemasangan. Saat perancah mencapai ketinggian 15 meter, seorang pekerja melaporkan adanya getaran berlebihan dan kekakuan yang menurun. Tim K3 segera melakukan inspeksi. Pertanyaan: Tindakan K3 paling tepat yang harus segera diambil oleh tim K3 untuk mengatasi potensi bahaya tersebut adalah:
Memerintahkan semua pekerja untuk menghentikan pekerjaan di atas perancah, lalu segera memasang penyangga diagonal (diagonal bracing) tambahan pada setiap tingkat.
Memerintahkan semua pekerja di atas perancah untuk menggunakan full body harness dengan double lanyard sebagai mitigasi risiko terjatuh.
Meninjau ulang sertifikasi kelayakan perancah modular tersebut dan meminta laporan pengujian beban statis terbaru dari pemasok.
Mengurangi jumlah pekerja dan material di atas perancah secara signifikan dan melakukan inspeksi visual pada titik-titik sambungan.
Mengganti semua papan pijakan (plank) dengan material yang lebih ringan untuk mengurangi beban vertikal.
Seorang manajer proyek K3 (Safety Manager) menemukan bahwa tingkat kecelakaan ringan akibat terpeleset, tersandung, dan terjatuh (Slips, Trips, and Falls - STF) meningkat tajam dalam sebulan terakhir, meskipun semua pekerja telah diberikan pelatihan K3 dasar. Area kerja yang paling sering terjadi insiden adalah jalur pejalan kaki yang sering basah karena bocoran pipa sementara dan area penyimpanan material yang tidak rapi. Berdasarkan hierarki pengendalian risiko K3 (Hirarki Eliminasi → Substitusi → Rekayasa Teknik → Administrasi → APD), tindakan pencegahan yang paling efektif dan berkelanjutan yang harus diusulkan oleh Safety Manager adalah:
A. Administrasi: Mewajibkan semua pekerja menggunakan sepatu keselamatan anti-selip (APD) dan memberikan toolbox meeting harian tentang bahaya STF.
B. Substitusi: Mengganti semua jalur pejalan kaki dengan grid logam berlubang yang memungkinkan air langsung mengalir ke bawah.
C. Rekayasa Teknik: Memperbaiki atau memindahkan pipa sementara yang bocor, dan merancang ulang layout area penyimpanan material dengan jalur yang ditandai jelas.
D. Eliminasi: Menghentikan semua aktivitas konstruksi di area tersebut sampai risiko STF mencapai nol.
E. Administrasi: Memberikan sanksi tegas kepada pekerja yang lalai atau tidak merapikan area kerjanya.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja mewajibkan setiap tempat kerja memasang rambu-rambu K3, menyediakan APD, dan membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) jika mempekerjakan lebih dari 100 orang atau terdapat risiko bahaya tinggi. Kasus: Sebuah proyek pembangunan ruko 3 lantai mempekerjakan 85 orang selama 6 bulan. Proyek tersebut melibatkan pekerjaan penggalian, pengecoran beton, dan pemasangan struktur baja ringan. Pimpinan proyek berargumen bahwa karena jumlah pekerja di bawah 100 orang, maka pembentukan P2K3 tidak diwajibkan secara hukum. Pertanyaan: Bagaimana seharusnya Ahli K3 Konstruksi menyikapi pernyataan pimpinan proyek tersebut sesuai dengan semangat dan tujuan peraturan K3?
Membenarkan pernyataan tersebut karena UU hanya menyebutkan batas minimal 100 pekerja, sehingga secara legal formal tidak ada kewajiban membentuk P2K3.
Menyarankan pembentukan P2K3 tetap dilakukan karena proyek tersebut termasuk dalam kategori risiko bahaya tinggi, yang mewajibkan pembentukan P2K3 tanpa memandang jumlah pekerja.
Menganjurkan pembentukan P2K3, namun mengubah namanya menjadi Tim K3 Proyek agar tidak melanggar ketentuan formal UU No. 1/1970.
Mengganti fungsi P2K3 dengan mewajibkan semua mandor memimpin safety briefing harian, karena ini lebih efektif di proyek kecil.
Mengabaikan pembentukan P2K3 karena durasi proyek relatif singkat (6 bulan) dan fokus pada penyediaan APD yang lengkap saja.
Apa yang dimaksud dengan proses bisnis di bidang desain pemodelan dan informasi bangunan?
Pembuatan gambar manual saja
Kegiatan perencanaan, pemodelan, dan pengelolaan informasi bangunan
Penjualan bahan bangunan
Pekerjaan tukang bangunan
Apa salah satu tujuan dari kompetensi keahlian desain pemodelan dan informasi bangunan?
Membuat catatan keuangan perusahaan
Melakukan pekerjaan sebagai drafter dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan
Menjual produk-produk teknologi
Mengelola tenaga kerja konstruksi
Bidang usaha apa yang termasuk dalam jasa desain pemodelan bangunan?
Jasa pemodelan rumah, gedung, dan apartemen
Jasa pemasangan listrik
Jasa pengecatan dinding
Jasa pembersihan lingkungan
Hal apa yang wajib diterapkan dalam proses bisnis desain pemodelan dan informasi bangunan terkait keselamatan kerja?
Mengabaikan protokol keselamatan
Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH)
Mempercepat pengerjaan tanpa standar
Menggunakan alat seadanya saja
Apa manfaat pemodelan bangunan dalam proses bisnis konstruksi?
Seorang lulusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) ingin membuka usaha jasa desain rumah tinggal sederhana. Agar bisnisnya berkembang, strategi yang paling tepat dilakukan terlebih dahulu adalah …
Membeli peralatan desain 3D yang mahal
Menawarkan jasa tanpa membuat portofolio
Mempromosikan hasil desain melalui media sosial dan membuat portofolio digital
Menyewa kantor besar di pusat kota
Menurunkan harga secara drastis untuk menarik pelanggan
Dalam proyek pembangunan rumah dua lantai, peran utama seorang drafter lulusan DPIB adalah …
Menghitung anggaran biaya proyek secara keseluruhan
Menentukan jenis material yang digunakan di lapangan
Membuat gambar kerja teknis berdasarkan rancangan arsitek
Mengawasi pekerjaan tukang di lapangan
Menyusun laporan keuangan proyek
Seorang teknisi bangunan menemukan bahwa desain rumah yang dibuat memiliki struktur atap yang kurang efisien dalam penggunaan material. Langkah berpikir kreatif yang harus dilakukan adalah …
Mengganti seluruh desain tanpa pertimbangan
Meningkatkan ketebalan bahan untuk memperkuat struktur
Mengusulkan revisi desain dengan perhitungan ulang beban dan efisiensi material
Menunggu perintah dari arsitek tanpa memberi saran
Membiarkan desain tetap agar waktu pengerjaan tidak terganggu
Peluang kerja bagi lulusan DPIB yang memiliki kemampuan menggunakan software CAD dan BIM sangat besar karena …
Software tersebut hanya digunakan untuk proyek besar
Dunia konstruksi saat ini menuntut efisiensi perencanaan berbasis digital
Penggunaan software hanya memperlambat proses kerja
Lulusan lain tidak tertarik menggunakan komputer
Software tersebut hanya dipakai di luar negeri
Seorang wirausaha muda DPIB ingin membuat bisnis jasa estimasi biaya bangunan online. Tantangan utama yang perlu diantisipasi agar bisnisnya berkelanjutan adalah …
Banyaknya pesaing di bidang yang sama
Sulitnya mendapatkan klien dari luar daerah
Kurangnya pemahaman tentang struktur biaya bangunan dan kepercayaan pelanggan terhadap hasil estimasi
Keterbatasan akses internet di daerah pedesaan
Tidak tersedianya software untuk menghitung RAB
