wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

11 Deteksi SARS-CoV-2

Total questions: 68

Worksheet time: 34mins

Name
Class
Date
1.

Seorang petugas laboratorium menerima sampel swab nasofaring dari pasien dengan gejala demam dan batuk selama 5 hari. Untuk mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2, ia melakukan pemeriksaan yang diawali dengan konversi RNA menjadi cDNA sebelum amplifikasi. Tahap ini disebut

a)

Denaturasi

b)

Reverse Transcription

c)

Elusi RNA

d)

Annealing

2.

Seorang mahasiswa TLM sedang mempelajari metode RT-PCR untuk deteksi SARS-CoV-2. Ia mengetahui bahwa virus ini memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal, sehingga diperlukan enzim khusus untuk membentuk cDNA sebelum PCR. Enzim yang dimaksud adalah

a)

DNA polimerase

b)

Ligase

c)

Reverse transcriptase

d)

RNA polimerase

3.

Dalam proses RT-PCR, probe TaqMan digunakan untuk mendeteksi amplifikasi. Probe ini membawa fluorofor dan quencher yang akan terpisah saat enzim bekerja. Tahap enzimatik yang menyebabkan pemotongan probe adalah

a)

Reverse transcription

b)

Annealing primer

c)

5’ nuclease activity saat extension

d)

Denaturasi DNA

4.

Seorang teknisi melakukan RT-PCR untuk sampel pasien. Mesin PCR menunjukkan kurva fluoresensi yang meningkat dan melampaui ambang pada siklus ke-28. Hal ini mengindikasikan bahwa

a)

Sampel negatif SARS-CoV-2

b)

Sampel tidak valid

c)

Viral load sangat rendah

d)

RNA virus SARS-CoV-2 terdeteksi dengan jumlah cukup

5.

Dalam tahap ekstraksi RNA, sampel yang telah dilisis ditambahkan ke kolom silika dan disentrifugasi untuk mengikat RNA. Prinsip pengikatan RNA pada membran silika adalah

a)

Interaksi hidrofobik pada suhu tinggi

b)

Adsorpsi dalam kondisi garam dan pH optimal

c)

Reaksi enzimatik antara RNA dan silika

d)

Ikatan kovalen permanen

6.

Seorang analis laboratorium sedang menyiapkan reaksi RT-PCR menggunakan metode one-step. Ia mencampurkan semua komponen reaksi, termasuk enzim RT dan DNA polimerase dalam satu tabung. Tujuan metode ini adalah

a)

Menghemat jumlah RNA template

b)

Memisahkan proses RT dan PCR secara manual

c)

Mempercepat dan menyederhanakan proses deteksi

d)

Menghindari penggunaan primer

7.

Sebelum proses amplifikasi, mahasiswa diminta menambahkan elution buffer ke kolom silika untuk memperoleh RNA murni. Fungsi elution buffer pada tahap ini adalah

a)

Menyediakan garam tinggi untuk mengikat RNA

b)

Melarutkan RNA yang terikat agar terlepas ke tabung bawah

c)

Mengendapkan protein pengotor

d)

Mengaktifkan enzim polimerase

8.

Mesin Real-Time PCR mencatat sinyal fluoresensi pada setiap siklus untuk membentuk kurva amplifikasi. Kurva ini digunakan untuk menentukan nilai Ct. Nilai Ct merupakan

a)

Jumlah total siklus yang dilakukan

b)

Siklus di mana sinyal fluoresensi melampaui ambang batas

c)

Konsentrasi akhir DNA target

d)

Suhu optimal annealing

9.

Dalam pemeriksaan RT-PCR, digunakan kontrol positif yang berisi RNA transkrip gen target. Kontrol ini berfungsi untuk

a)

Menunjukkan bahwa tidak ada kontaminasi

b)

Mengukur konsentrasi primer

c)

Memastikan reagen dan sistem PCR berfungsi dengan benar

d)

Menentukan suhu optimal annealing

10.

Seorang mahasiswa menemukan bahwa kontrol negatif pada hasil RT-PCR menunjukkan sinyal fluoresensi yang melewati threshold. Hal ini mengindikasikan bahwa

a)

Reaksi berlangsung dengan baik

b)

Terjadi kontaminasi pada kontrol negatif

c)

Primer terlalu banyak digunakan

d)

RNA target terlalu sedikit

11.

Dalam prosedur pengambilan sampel untuk pemeriksaan RT-PCR, swab dimasukkan ke rongga hidung hingga mencapai nasofaring dan diputar perlahan untuk mengumpulkan sekret. Tujuan tindakan ini adalah

a)

Meningkatkan sensitivitas metode pewarnaan

b)

Mendapatkan virus dari permukaan kulit hidung

c)

Mengumpulkan jumlah partikel virus yang optimal

d)

Menstimulasi respon imun lokal

12.

Seorang analis mencatat bahwa kontrol internal RNase P tidak terdeteksi pada hasil RT-PCR pasien. Kontrol positif dan negatif menunjukkan hasil sesuai. Interpretasi yang tepat adalah

a)

Pasien positif SARS-CoV-2

b)

Pasien negatif SARS-CoV-2

c)

Hasil tidak valid karena kemungkinan inhibisi PCR atau kesalahan ekstraksi

d)

Mesin PCR rusak

13.

Dalam proses ekstraksi RNA, penggunaan lysis buffer dengan kandungan guanidine isothiocyanate memiliki fungsi utama

a)

Menurunkan suhu inkubasi

b)

Mengaktifkan RNase untuk degradasi RNA

c)

Mendenaturasi protein dan menonaktifkan RNase

d)

Mengikat RNA pada membran

14.

Seorang teknisi melakukan sentrifugasi setelah menambahkan lysis buffer dan sampel ke kolom spin. Cairan filtrat dibuang dan kolom dicuci berulang dengan wash buffer. Tujuan pencucian ini adalah

a)

Mengendapkan RNA

b)

Menghilangkan pengotor seperti protein dan garam sisa

c)

Melarutkan RNA ke dalam filtrat

d)

Mengaktifkan primer

15.

Mesin PCR yang digunakan dalam pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2 memiliki kemampuan mendeteksi sinyal fluoresensi saat proses berlangsung. Teknologi ini disebut

a)

Conventional PCR

b)

Nested PCR

c)

Real-Time PCR

d)

Gel electrophoresis

16.

Seorang mahasiswa melakukan kesalahan saat penambahan RNA template ke master mix, sehingga terjadi kontaminasi silang antar sampel. Dampak yang paling mungkin terjadi adalah

a)

Semua hasil menjadi negatif

b)

Kontrol internal gagal

c)

Nilai Ct semua sampel menjadi sama

d)

Muncul hasil positif palsu pada sampel lain

17.

Pada tahap pengambilan sampel, jika swab tidak segera dimasukkan ke media transport virus (VTM) dan dibiarkan pada suhu kamar selama beberapa jam, kemungkinan hasil RT-PCR dapat

a)

Tetap stabil dan akurat

b)

Meningkatkan jumlah RNA

c)

Menurun kualitasnya karena degradasi RNA

d)

Menghasilkan Ct yang lebih rendah

18.

Dalam RT-PCR SARS-CoV-2, gen target yang sering digunakan antara lain RdRp, E, dan N. Fungsi penggunaan lebih dari satu target gen adalah

a)

Menghemat primer

b)

Menjamin spesifisitas dan sensitivitas deteksi

c)

Mengurangi waktu reaksi

d)

Menentukan suhu inkubasi

19.

Seorang teknisi mencatat bahwa nilai Ct kontrol positif sangat tinggi, mendekati 39. Kemungkinan penyebabnya adalah

a)

Konsentrasi RNA target sangat tinggi

b)

Terjadi degradasi RNA atau masalah pada reagen

c)

Probe terlalu banyak

d)

Primer tidak spesifik

20.

Dalam prosedur RT-PCR, tahapan reverse transcription biasanya dilakukan pada suhu sekitar 50°C. Tujuan suhu ini adalah

a)

Mengaktifkan DNA polimerase

b)

Menyediakan kondisi optimal bagi enzim RT untuk sintesis cDNA

c)

Mendenaturasi RNA

d)

Meningkatkan aktivitas probe

21.

Seorang mahasiswa melihat kurva amplifikasi yang muncul pada siklus ke-20 dan naik tajam melewati threshold. Ini menunjukkan bahwa

a)

Konsentrasi RNA target tinggi

b)

Kontrol internal gagal

c)

Tidak ada RNA target

d)

Primer terlalu sedikit

22.

Dalam tahap PCR, annealing merupakan proses penting. Tahap ini terjadi setelah denaturasi dan berfungsi untuk

a)

Melipat ganda DNA target

b)

Menempelkan primer ke daerah target

c)

Mengaktifkan enzim polimerase

d)

Menghentikan reaksi PCR

23.

Seorang petugas laboratorium secara tidak sengaja mencampur reagen master mix dan RNA template di ruang persiapan reagen. Risiko utama dari kesalahan ini adalah

a)

Reaksi PCR lebih efisien

b)

Menurunkan sensitivitas metode

c)

Kontaminasi silang antara reagen dan sampel

d)

Tidak ada dampak sama sekali

e)

Menghasilkan lebih banyak cDNA

24.

Pada hasil RT-PCR, jika kurva fluoresensi tidak muncul untuk kontrol positif maupun sampel, kemungkinan besar kesalahan terjadi pada

a)

Kontrol negatif

b)

Mesin PCR terlalu sensitif

c)

Kegagalan reagen atau kesalahan pipet

d)

Konsentrasi virus tinggi

e)

Pemilihan gen target salah

25.

Seorang teknisi menemukan bahwa semua hasil RT-PCR menunjukkan nilai Ct identik pada siklus ke-35, termasuk kontrol negatif. Interpretasi terbaik adalah

a)

Semua sampel positif SARS-CoV-2

b)

Tidak ada kontaminasi

c)

Terjadi kontaminasi luas atau kesalahan sistemik

d)

Primer tidak bekerja

e)

RNA target tidak ada dalam semua sampel

26.

Seorang mahasiswa melakukan ekstraksi RNA dari sampel swab pasien. Setelah tahap elusi, ia mendapatkan RNA dengan volume 50 μL. RNA ini akan digunakan langsung sebagai template dalam RT-PCR. Tahapan elusi ini penting karena

a)

RNA dikonversi menjadi DNA

b)

RNA dilepaskan dari membran silika ke dalam buffer sehingga siap untuk digunakan

c)

Primer menempel pada RNA

d)

RNase dinonaktifkan untuk mempercepat PCR

e)

Kontaminan diendapkan ke dasar tabung

27.

Dalam proses pencucian kolom ekstraksi, jika wash buffer tidak dibuang sepenuhnya sebelum elusi, maka kemungkinan yang terjadi adalah

a)

RNA menjadi lebih pekat

b)

Fluoresensi meningkat

c)

Hasil RT-PCR terganggu karena inhibitor masih terbawa

d)

Enzim RT menjadi lebih aktif

e)

Nilai Ct menurun drastis

28.

Seorang teknisi mencatat bahwa kontrol negatif menghasilkan kurva amplifikasi pada siklus ke-38. Interpretasi yang tepat adalah

a)

Kontaminasi rendah tetapi tetap menunjukkan hasil positif palsu

b)

Mesin PCR mengalami kesalahan baca

c)

Primer terlalu pendek

d)

RNA pasien terlalu pekat

e)

Tidak ada masalah

29.

Mesin Real-Time PCR dapat mendeteksi amplifikasi DNA secara langsung selama siklus berlangsung. Teknologi ini memanfaatkan

a)

Pewarnaan Gram

b)

Probe berlabel fluorofor dan quencher

c)

Pewarnaan HE

d)

Elektroforesis gel

e)

Spektrofotometri UV

30.

Dalam pemeriksaan RT-PCR, nilai Ct sampel pasien tercatat pada siklus ke-15. Dibandingkan dengan sampel lain, hal ini menunjukkan bahwa

a)

RNA pasien mengalami degradasi berat

b)

Konsentrasi RNA virus pasien sangat tinggi

c)

Kontrol internal gagal bekerja

d)

Probe tidak spesifik

e)

Primer terlalu sedikit digunakan

31.

Seorang analis mengerjakan RT-PCR dengan primer yang menargetkan gen E dan N. Hasilnya hanya gen E yang menunjukkan kurva amplifikasi, sedangkan gen N tidak. Kemungkinan yang paling logis adalah

a)

RNA tidak ada sama sekali

b)

Terjadi mutasi atau kegagalan amplifikasi pada target gen N

c)

Mesin PCR mengalami gangguan

d)

Probe gen E rusak

e)

Kontrol negatif positif

32.

Seorang teknisi tidak menggunakan sarung tangan saat menyiapkan master mix, sehingga kemungkinan kontaminasi DNA manusia sangat tinggi. Dampak yang mungkin muncul pada hasil RT-PCR adalah

a)

Nilai Ct meningkat tajam

b)

Muncul sinyal pada kontrol internal tanpa RNA virus

c)

Semua hasil menjadi negatif

d)

Probe tidak bekerja

e)

Kurva amplifikasi menjadi datar

33.

Dalam pengambilan sampel swab nasofaring, jika swab tidak dimasukkan cukup dalam ke nasofaring, maka hasil RT-PCR berpotensi

a)

Lebih sensitif terhadap virus

b)

Menjadi negatif palsu

c)

Menjadi positif palsu

d)

Nilai Ct sangat rendah

e)

Amplifikasi lebih cepat

34.

Seorang mahasiswa lupa menambahkan primer ke dalam master mix sebelum PCR dijalankan. Hasil yang kemungkinan muncul adalah

a)

Semua sampel menunjukkan Ct rendah

b)

Kontrol positif gagal menunjukkan amplifikasi

c)

Kurva amplifikasi muncul pada semua sampel

d)

Kontrol negatif menjadi positif

e)

Ct kontrol internal turun

35.

Dalam RT-PCR SARS-CoV-2, penggunaan kontrol internal seperti RNase P diperlukan untuk

a)

Menentukan suhu optimal annealing

b)

Menilai keberhasilan ekstraksi RNA dan memastikan tidak ada inhibisi PCR

c)

Menggandakan jumlah RNA virus

d)

Menurunkan nilai Ct

e)

Menentukan volume elusi

36.

Seorang petugas laboratorium menemukan bahwa kurva amplifikasi kontrol positif sangat landai dan baru melewati threshold pada siklus ke-39. Hal ini paling mungkin disebabkan oleh

a)

Primer terlalu pekat

b)

Konsentrasi RNA target sangat rendah atau degradasi RNA

c)

Kontaminasi silang

d)

Probe terlalu sensitif

e)

Kesalahan interpretasi Ct

37.

Dalam tahap annealing PCR, suhu biasanya diatur sekitar 55–60°C. Fungsi utama tahap ini adalah

a)

Mendenaturasi DNA target

b)

Memfasilitasi penempelan primer ke cDNA target

c)

Mengaktifkan enzim RT

d)

Menonaktifkan probe

e)

Meningkatkan jumlah RNA

38.

Seorang teknisi tidak menutup rapat tabung reaksi sebelum sentrifugasi pada tahap ekstraksi RNA. Akibat yang mungkin terjadi adalah

a)

RNA menjadi lebih pekat

b)

Lisis virus lebih sempurna

c)

Tumpahan sampel yang menyebabkan kehilangan RNA dan risiko kontaminasi

d)

Nilai Ct menurun

e)

Probe rusak

39.

Proses amplifikasi DNA dalam PCR terdiri dari tiga tahap utama yang berulang, yaitu

a)

Lisis, annealing, elusi

b)

Denaturasi, annealing, extension

c)

Ekstraksi, elusi, amplifikasi

d)

Vorteksing, sentrifugasi, inkubasi

e)

Transkripsi, translasi, replikasi

40.

Seorang mahasiswa melakukan pencampuran RNA template dan master mix di ruang reagen. Ia tidak memisahkan area kerja dengan benar. Akibat yang sering terjadi adalah

a)

Reaksi menjadi lebih cepat

b)

Kontaminasi silang yang menyebabkan hasil positif palsu

c)

Probe menjadi tidak aktif

d)

Hasil menjadi negatif palsu

e)

Primer terdegradasi

41.

Dalam RT-PCR, penggunaan probe TaqMan memberikan keunggulan dibandingkan pewarna interkalasi karena

a)

Tidak memerlukan primer

b)

Memberikan spesifisitas tinggi terhadap target tertentu

c)

Dapat digunakan tanpa mesin PCR

d)

Menggantikan enzim RT

e)

Tidak membutuhkan kontrol negatif

42.

Seorang petugas menggunakan tabung mikro yang tidak steril untuk ekstraksi RNA. Akibat yang mungkin muncul adalah

a)

Nilai Ct menjadi sangat rendah

b)

Kontaminasi RNase atau DNA asing yang merusak integritas hasil RT-PCR

c)

Probe menjadi lebih sensitif

d)

RNA menjadi lebih stabil

e)

Tidak ada perubahan signifikan

43.

Dalam proses amplifikasi RT-PCR, aktivitas 5’ nuclease dari DNA polimerase penting karena

a)

Menempelkan primer ke DNA

b)

Memotong probe sehingga fluorofor terlepas dari quencher dan menghasilkan sinyal fluoresensi

c)

Mengikat RNA ke kolom

d)

Mendenaturasi DNA

e)

Menonaktifkan enzim RT

44.

Seorang mahasiswa melakukan kesalahan dengan menggunakan air keran sebagai kontrol negatif. Hasil RT-PCR menunjukkan sinyal pada kontrol negatif. Kemungkinan penyebabnya adalah

a)

Air keran mengandung RNase yang meningkatkan fluoresensi

b)

Air keran mengandung DNA/RNA lingkungan yang menyebabkan kontaminasi

c)

Primer terlalu banyak digunakan

d)

Probe tidak spesifik

e)

Tidak ada masalah berarti

45.

Seorang mahasiswa TLM sedang melakukan proses ekstraksi RNA dari sampel swab nasofaring pasien. Setelah tahap lisis dan pengikatan RNA ke kolom silika, ia lupa melakukan langkah pencucian. Pada saat RT-PCR dijalankan, muncul kurva amplifikasi yang tidak stabil dan hasil tidak valid. Apa penyebab paling mungkin dari kegagalan tersebut?

a)

RNA tidak terikat sempurna pada kolom silika

b)

Kontaminasi inhibitor dari sisa lisis yang tidak terbuang

c)

Kerusakan RNA akibat suhu inkubasi terlalu tinggi

d)

Konsentrasi primer yang terlalu rendah

46.

Dalam pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2, seorang teknisi memperhatikan bahwa kontrol negatif menunjukkan kurva amplifikasi yang muncul pada siklus ke-35. Hal ini tidak terjadi pada kontrol sebelumnya. Apa interpretasi terbaik dari fenomena ini?

a)

Hasil negatif valid karena kurva muncul setelah Ct 35

b)

Kontrol negatif positif palsu akibat kontaminasi silang

c)

Primer dan probe tidak berfungsi dengan baik

d)

Mesin real-time PCR mengalami gangguan optik

47.

Seorang dosen meminta mahasiswa untuk menjelaskan alasan penggunaan Reverse Transcriptase pada pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2. Mahasiswa tersebut menyebutkan bahwa enzim ini digunakan untuk menghasilkan cDNA dari RNA virus sebagai template amplifikasi. Mengapa langkah ini penting?

a)

DNA virus tidak bisa diperbanyak tanpa RNA

b)

Mesin PCR hanya dapat membaca RNA secara langsung

c)

RNA sangat stabil sehingga butuh DNA untuk stabilitas

d)

PCR hanya bekerja pada molekul DNA sebagai template

48.

Dalam tahap preparasi reaksi RT-PCR, seorang teknisi menggunakan primer dan probe yang salah urutan karena kesalahan label. Hasil amplifikasi tidak menunjukkan kurva pada kontrol positif maupun sampel pasien. Apa penjelasan yang paling tepat?

a)

RNA tidak diekstraksi dengan baik

b)

Enzim Taq polimerase tidak aktif

c)

Primer dan probe tidak berikatan

d)

Konsentrasi dNTP terlalu tinggi

49.

Seorang petugas laboratorium mengamati bahwa semua sampel menunjukkan nilai Ct sekitar 15, termasuk kontrol negatif. Situasi ini tidak sesuai dengan kondisi sebelumnya. Langkah pertama apa yang paling tepat dilakukan?

a)

Mengulang amplifikasi dengan volume template lebih sedikit

b)

Mengganti primer dan probe dengan yang baru

c)

Memeriksa kemungkinan kontaminasi pada reagen master mix

d)

Menurunkan suhu annealing

e)

Menambahkan kontrol internal tambahan

50.

Seorang mahasiswa diminta menjelaskan alasan penggunaan kontrol internal dalam reaksi RT-PCR SARS-CoV-2. Ia menjawab bahwa kontrol internal digunakan untuk memastikan proses ekstraksi RNA dan amplifikasi berjalan baik. Mengapa hal ini penting?

a)

Untuk mendeteksi keberadaan virus tambahan

b)

Untuk menentukan suhu optimal PCR

c)

Untuk mendeteksi kegagalan teknis atau adanya inhibitor

d)

Untuk mempercepat proses amplifikasi

e)

Untuk menurunkan nilai Ct sampel positif

51.

Seorang analis sedang melakukan proses RT-PCR dan memperhatikan bahwa kurva amplifikasi kontrol positif tidak muncul, sedangkan kurva kontrol internal terlihat normal. Apa penyebab paling mungkin?

a)

Reagen RT-PCR rusak total

b)

Tidak ada RNA virus pada kontrol positif

c)

Primer dan probe untuk target virus rusak atau tidak sesuai

d)

Mesin PCR rusak

e)

Inhibitor PCR menghambat seluruh reaksi

52.

Dalam pemeriksaan SARS-CoV-2, nilai Ct dari sampel pasien ditemukan sebesar 18. Berdasarkan interpretasi RT-PCR, apa kesimpulan yang paling tepat?

a)

RNA virus tidak terdeteksi

b)

Jumlah RNA virus sangat rendah

c)

Jumlah RNA virus tinggi menunjukkan viral load besar

d)

Hasil tidak valid dan perlu diulang

e)

Kontrol negatif terkontaminasi

53.

Seorang teknisi laboratorium mendapat nilai Ct sebesar 39 pada sampel pasien, sedangkan semua kontrol bekerja dengan baik. Berdasarkan panduan interpretasi, bagaimana hasil tersebut sebaiknya dilaporkan?

a)

Positif SARS-CoV-2 dengan viral load tinggi

b)

Positif SARS-CoV-2 dengan viral load sangat rendah

c)

Negatif SARS-CoV-2

d)

Tidak valid, perlu ekstraksi ulang

e)

Positif palsu karena kontaminasi silang

54.

Seorang mahasiswa sedang melakukan ekstraksi RNA. Ia menyimpan sampel swab pada suhu ruang selama 12 jam sebelum proses ekstraksi. Saat RT-PCR dijalankan, tidak ada kurva pada sampel pasien, sedangkan kontrol positif berjalan baik. Apa penyebab paling mungkin?

a)

Volume template terlalu banyak

b)

RNA virus terdegradasi akibat penyimpanan tidak sesuai

c)

Master mix terlalu encer

d)

Mesin RT-PCR rusak

e)

Primer tidak berfungsi

55.

Dalam tahap RT-PCR, suhu annealing biasanya diatur sekitar 60°C. Apa fungsi utama dari tahap annealing ini?

a)

Denaturasi molekul DNA menjadi untai tunggal

b)

Sintesis cDNA dari RNA virus

c)

Pengikatan primer ke sekuens target cDNA

d)

Aktivasi enzim Taq polimerase

e)

Penghentian reaksi amplifikasi

56.

Seorang analis menemukan bahwa kurva amplifikasi dari beberapa sampel naik secara abnormal dan tidak mencapai plateau. Semua kontrol berjalan normal. Apa kemungkinan penyebab fenomena ini?

a)

Konsentrasi primer terlalu tinggi

b)

Kontaminasi silang pada kontrol negatif

c)

RNA pasien tidak diekstraksi

d)

Volume master mix berlebih

e)

Primer tidak spesifik atau efisiensi PCR buruk

57.

Dalam pengambilan sampel RT-PCR SARS-CoV-2, mengapa swab nasofaring dan orofaring lebih disukai daripada saliva atau sputum?

a)

RNA virus hanya ada pada nasofaring

b)

Konsentrasi virus pada nasofaring lebih tinggi dan konsisten

c)

Saliva terlalu kental untuk ekstraksi

d)

Swab nasofaring lebih murah

e)

Saliva sering menyebabkan denaturasi primer

58.

Dalam pemeriksaan RT-PCR, tahapan reverse transcription umumnya dilakukan sebelum siklus PCR dimulai. Apa alasan utama urutan ini harus dipatuhi?

a)

Untuk mengaktifkan enzim Taq polimerase

b)

Karena PCR tidak bisa membaca RNA secara langsung

c)

Karena suhu annealing lebih tinggi dari suhu RT

d)

Agar primer dapat berikatan lebih kuat dengan RNA

e)

Untuk menstabilkan struktur protein virus

59.

Seorang teknisi menggunakan probe yang sudah kedaluwarsa dua bulan. Hasil RT-PCR menunjukkan tidak ada kurva pada kontrol positif maupun sampel pasien. Kontrol internal tidak menunjukkan sinyal. Apa penjelasan terbaik?

a)

Probe kehilangan kemampuan fluoresensi sehingga tidak mendeteksi target

b)

RNA pasien tidak mengandung virus

c)

Primer berikatan terlalu kuat dengan probe

d)

Volume template RNA terlalu besar

e)

Mesin RT-PCR mengalami error optik

60.

Dalam uji RT-PCR SARS-CoV-2, penggunaan suhu tinggi pada tahap denaturasi sangat penting. Apa alasan utama suhu ini digunakan?

a)

Untuk mengaktifkan primer

b)

Untuk memecah ikatan hidrogen dan memisahkan untaian DNA

c)

Untuk menginaktivasi enzim reverse transcriptase

d)

Untuk mempercepat annealing primer

e)

Untuk mendegredasi RNA virus

61.

Seorang teknisi menemukan bahwa hasil RT-PCR menunjukkan kurva amplifikasi kontrol negatif dengan Ct 20, kontrol positif normal, dan semua sampel pasien juga positif. Apa langkah yang paling tepat dilakukan?

a)

Menetapkan semua sampel sebagai positif

b)

Mengabaikan kontrol negatif karena tidak penting

c)

Mengulang seluruh uji karena terjadi kontaminasi silang

d)

Mengencerkan template RNA dan ulangi amplifikasi

e)

Mengganti primer dan probe

62.

Seorang mahasiswa melakukan pengambilan sampel dengan swab, namun swab tersebut tidak segera dimasukkan ke dalam VTM dan dibiarkan terbuka selama 15 menit. Hasil RT-PCR menunjukkan negatif. Apa kemungkinan utama?

a)

RNA virus meningkat jumlahnya

b)

Kontaminasi silang dari udara

c)

RNA virus terdegradasi akibat kondisi lingkungan

d)

Primer gagal berikatan dengan target

e)

Master mix rusak

63.

Dalam proses RT-PCR, mengapa suhu dan waktu inkubasi reverse transcription harus diatur dengan tepat?

a)

Agar primer menempel dengan kuat pada RNA

b)

Untuk memastikan enzim reverse transcriptase dapat bekerja optimal mengubah RNA menjadi cDNA

c)

Untuk menonaktifkan Taq polimerase

d)

Untuk meningkatkan konsentrasi primer

e)

Untuk mempercepat denaturasi RNA

64.

Seorang teknisi menyiapkan master mix RT-PCR namun lupa menambahkan enzim reverse transcriptase. Setelah reaksi dijalankan, semua kontrol dan sampel tidak menunjukkan kurva amplifikasi. Mengapa?

a)

RNA pasien tidak mengandung virus

b)

Tidak terbentuk cDNA sebagai template PCR

c)

Suhu annealing terlalu rendah

d)

Primer tidak berikatan dengan RNA

e)

Mesin RT-PCR tidak berfungsi

65.

Seorang mahasiswa bertanya mengapa RT-PCR lebih sensitif dibanding metode serologi dalam deteksi SARS-CoV-2. Jawaban terbaik adalah karena RT-PCR mendeteksi RNA virus langsung pada fase awal infeksi. Apa keunggulan utama pendekatan ini?

a)

RNA virus lebih stabil daripada antibodi

b)

Antibodi muncul jauh sebelum RNA

c)

RT-PCR dapat mendeteksi virus sebelum respon imun terbentuk

d)

Serologi lebih cepat mendeteksi virus

e)

RT-PCR tidak memerlukan enzim

66.

Dalam interpretasi hasil RT-PCR, nilai Ct digunakan sebagai parameter penting. Apa makna dari nilai Ct yang rendah?

a)

Viral load rendah

b)

Viral load tinggi karena jumlah RNA awal banyak

c)

Reaksi PCR berjalan lambat

d)

Reaksi tidak spesifik

e)

Kontrol internal rusak

67.

Seorang teknisi menemukan bahwa semua kurva amplifikasi muncul sangat awal, termasuk kontrol negatif, namun kontrol internal tidak muncul. Apa kesimpulan terbaik?

a)

Reaksi PCR berjalan sangat efisien

b)

Terjadi kontaminasi berat pada semua reagen

c)

Mesin PCR bekerja terlalu cepat

d)

Kontrol positif gagal total

e)

Primer dan probe tidak cocok

68.

Dalam proses pelaporan hasil RT-PCR, mengapa penting mencantumkan nilai Ct bersama interpretasi positif atau negatif?

a)

Nilai Ct menentukan kualitas primer dan probe

b)

Nilai Ct menunjukkan efisiensi mesin PCR

c)

Nilai Ct memberikan gambaran kuantitatif viral load dan membantu interpretasi klinis

d)

Nilai Ct digunakan untuk mengukur suhu optimal PCR

e)

Nilai Ct menentukan jenis virus yang terdeteksi