NEW
Font size
Worksheets11 Deteksi SARS-CoV-2
Total questions: 68
Worksheet time: 34mins
Seorang petugas laboratorium menerima sampel swab nasofaring dari pasien dengan gejala demam dan batuk selama 5 hari. Untuk mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2, ia melakukan pemeriksaan yang diawali dengan konversi RNA menjadi cDNA sebelum amplifikasi. Tahap ini disebut
Denaturasi
Reverse Transcription
Elusi RNA
Annealing
Seorang mahasiswa TLM sedang mempelajari metode RT-PCR untuk deteksi SARS-CoV-2. Ia mengetahui bahwa virus ini memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal, sehingga diperlukan enzim khusus untuk membentuk cDNA sebelum PCR. Enzim yang dimaksud adalah
DNA polimerase
Ligase
Reverse transcriptase
RNA polimerase
Dalam proses RT-PCR, probe TaqMan digunakan untuk mendeteksi amplifikasi. Probe ini membawa fluorofor dan quencher yang akan terpisah saat enzim bekerja. Tahap enzimatik yang menyebabkan pemotongan probe adalah
Reverse transcription
Annealing primer
5’ nuclease activity saat extension
Denaturasi DNA
Seorang teknisi melakukan RT-PCR untuk sampel pasien. Mesin PCR menunjukkan kurva fluoresensi yang meningkat dan melampaui ambang pada siklus ke-28. Hal ini mengindikasikan bahwa
Sampel negatif SARS-CoV-2
Sampel tidak valid
Viral load sangat rendah
RNA virus SARS-CoV-2 terdeteksi dengan jumlah cukup
Dalam tahap ekstraksi RNA, sampel yang telah dilisis ditambahkan ke kolom silika dan disentrifugasi untuk mengikat RNA. Prinsip pengikatan RNA pada membran silika adalah
Interaksi hidrofobik pada suhu tinggi
Adsorpsi dalam kondisi garam dan pH optimal
Reaksi enzimatik antara RNA dan silika
Ikatan kovalen permanen
Seorang analis laboratorium sedang menyiapkan reaksi RT-PCR menggunakan metode one-step. Ia mencampurkan semua komponen reaksi, termasuk enzim RT dan DNA polimerase dalam satu tabung. Tujuan metode ini adalah
Menghemat jumlah RNA template
Memisahkan proses RT dan PCR secara manual
Mempercepat dan menyederhanakan proses deteksi
Menghindari penggunaan primer
Sebelum proses amplifikasi, mahasiswa diminta menambahkan elution buffer ke kolom silika untuk memperoleh RNA murni. Fungsi elution buffer pada tahap ini adalah
Menyediakan garam tinggi untuk mengikat RNA
Melarutkan RNA yang terikat agar terlepas ke tabung bawah
Mengendapkan protein pengotor
Mengaktifkan enzim polimerase
Mesin Real-Time PCR mencatat sinyal fluoresensi pada setiap siklus untuk membentuk kurva amplifikasi. Kurva ini digunakan untuk menentukan nilai Ct. Nilai Ct merupakan
Jumlah total siklus yang dilakukan
Siklus di mana sinyal fluoresensi melampaui ambang batas
Konsentrasi akhir DNA target
Suhu optimal annealing
Dalam pemeriksaan RT-PCR, digunakan kontrol positif yang berisi RNA transkrip gen target. Kontrol ini berfungsi untuk
Menunjukkan bahwa tidak ada kontaminasi
Mengukur konsentrasi primer
Memastikan reagen dan sistem PCR berfungsi dengan benar
Menentukan suhu optimal annealing
Seorang mahasiswa menemukan bahwa kontrol negatif pada hasil RT-PCR menunjukkan sinyal fluoresensi yang melewati threshold. Hal ini mengindikasikan bahwa
Reaksi berlangsung dengan baik
Terjadi kontaminasi pada kontrol negatif
Primer terlalu banyak digunakan
RNA target terlalu sedikit
Dalam prosedur pengambilan sampel untuk pemeriksaan RT-PCR, swab dimasukkan ke rongga hidung hingga mencapai nasofaring dan diputar perlahan untuk mengumpulkan sekret. Tujuan tindakan ini adalah
Meningkatkan sensitivitas metode pewarnaan
Mendapatkan virus dari permukaan kulit hidung
Mengumpulkan jumlah partikel virus yang optimal
Menstimulasi respon imun lokal
Seorang analis mencatat bahwa kontrol internal RNase P tidak terdeteksi pada hasil RT-PCR pasien. Kontrol positif dan negatif menunjukkan hasil sesuai. Interpretasi yang tepat adalah
Pasien positif SARS-CoV-2
Pasien negatif SARS-CoV-2
Hasil tidak valid karena kemungkinan inhibisi PCR atau kesalahan ekstraksi
Mesin PCR rusak
Dalam proses ekstraksi RNA, penggunaan lysis buffer dengan kandungan guanidine isothiocyanate memiliki fungsi utama
Menurunkan suhu inkubasi
Mengaktifkan RNase untuk degradasi RNA
Mendenaturasi protein dan menonaktifkan RNase
Mengikat RNA pada membran
Seorang teknisi melakukan sentrifugasi setelah menambahkan lysis buffer dan sampel ke kolom spin. Cairan filtrat dibuang dan kolom dicuci berulang dengan wash buffer. Tujuan pencucian ini adalah
Mengendapkan RNA
Menghilangkan pengotor seperti protein dan garam sisa
Melarutkan RNA ke dalam filtrat
Mengaktifkan primer
Mesin PCR yang digunakan dalam pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2 memiliki kemampuan mendeteksi sinyal fluoresensi saat proses berlangsung. Teknologi ini disebut
Conventional PCR
Nested PCR
Real-Time PCR
Gel electrophoresis
Seorang mahasiswa melakukan kesalahan saat penambahan RNA template ke master mix, sehingga terjadi kontaminasi silang antar sampel. Dampak yang paling mungkin terjadi adalah
Semua hasil menjadi negatif
Kontrol internal gagal
Nilai Ct semua sampel menjadi sama
Muncul hasil positif palsu pada sampel lain
Pada tahap pengambilan sampel, jika swab tidak segera dimasukkan ke media transport virus (VTM) dan dibiarkan pada suhu kamar selama beberapa jam, kemungkinan hasil RT-PCR dapat
Tetap stabil dan akurat
Meningkatkan jumlah RNA
Menurun kualitasnya karena degradasi RNA
Menghasilkan Ct yang lebih rendah
Dalam RT-PCR SARS-CoV-2, gen target yang sering digunakan antara lain RdRp, E, dan N. Fungsi penggunaan lebih dari satu target gen adalah
Menghemat primer
Menjamin spesifisitas dan sensitivitas deteksi
Mengurangi waktu reaksi
Menentukan suhu inkubasi
Seorang teknisi mencatat bahwa nilai Ct kontrol positif sangat tinggi, mendekati 39. Kemungkinan penyebabnya adalah
Konsentrasi RNA target sangat tinggi
Terjadi degradasi RNA atau masalah pada reagen
Probe terlalu banyak
Primer tidak spesifik
Dalam prosedur RT-PCR, tahapan reverse transcription biasanya dilakukan pada suhu sekitar 50°C. Tujuan suhu ini adalah
Mengaktifkan DNA polimerase
Menyediakan kondisi optimal bagi enzim RT untuk sintesis cDNA
Mendenaturasi RNA
Meningkatkan aktivitas probe
Seorang mahasiswa melihat kurva amplifikasi yang muncul pada siklus ke-20 dan naik tajam melewati threshold. Ini menunjukkan bahwa
Konsentrasi RNA target tinggi
Kontrol internal gagal
Tidak ada RNA target
Primer terlalu sedikit
Dalam tahap PCR, annealing merupakan proses penting. Tahap ini terjadi setelah denaturasi dan berfungsi untuk
Melipat ganda DNA target
Menempelkan primer ke daerah target
Mengaktifkan enzim polimerase
Menghentikan reaksi PCR
Seorang petugas laboratorium secara tidak sengaja mencampur reagen master mix dan RNA template di ruang persiapan reagen. Risiko utama dari kesalahan ini adalah
Reaksi PCR lebih efisien
Menurunkan sensitivitas metode
Kontaminasi silang antara reagen dan sampel
Tidak ada dampak sama sekali
Menghasilkan lebih banyak cDNA
Pada hasil RT-PCR, jika kurva fluoresensi tidak muncul untuk kontrol positif maupun sampel, kemungkinan besar kesalahan terjadi pada
Kontrol negatif
Mesin PCR terlalu sensitif
Kegagalan reagen atau kesalahan pipet
Konsentrasi virus tinggi
Pemilihan gen target salah
Seorang teknisi menemukan bahwa semua hasil RT-PCR menunjukkan nilai Ct identik pada siklus ke-35, termasuk kontrol negatif. Interpretasi terbaik adalah
Semua sampel positif SARS-CoV-2
Tidak ada kontaminasi
Terjadi kontaminasi luas atau kesalahan sistemik
Primer tidak bekerja
RNA target tidak ada dalam semua sampel
Seorang mahasiswa melakukan ekstraksi RNA dari sampel swab pasien. Setelah tahap elusi, ia mendapatkan RNA dengan volume 50 μL. RNA ini akan digunakan langsung sebagai template dalam RT-PCR. Tahapan elusi ini penting karena
RNA dikonversi menjadi DNA
RNA dilepaskan dari membran silika ke dalam buffer sehingga siap untuk digunakan
Primer menempel pada RNA
RNase dinonaktifkan untuk mempercepat PCR
Kontaminan diendapkan ke dasar tabung
Dalam proses pencucian kolom ekstraksi, jika wash buffer tidak dibuang sepenuhnya sebelum elusi, maka kemungkinan yang terjadi adalah
RNA menjadi lebih pekat
Fluoresensi meningkat
Hasil RT-PCR terganggu karena inhibitor masih terbawa
Enzim RT menjadi lebih aktif
Nilai Ct menurun drastis
Seorang teknisi mencatat bahwa kontrol negatif menghasilkan kurva amplifikasi pada siklus ke-38. Interpretasi yang tepat adalah
Kontaminasi rendah tetapi tetap menunjukkan hasil positif palsu
Mesin PCR mengalami kesalahan baca
Primer terlalu pendek
RNA pasien terlalu pekat
Tidak ada masalah
Mesin Real-Time PCR dapat mendeteksi amplifikasi DNA secara langsung selama siklus berlangsung. Teknologi ini memanfaatkan
Pewarnaan Gram
Probe berlabel fluorofor dan quencher
Pewarnaan HE
Elektroforesis gel
Spektrofotometri UV
Dalam pemeriksaan RT-PCR, nilai Ct sampel pasien tercatat pada siklus ke-15. Dibandingkan dengan sampel lain, hal ini menunjukkan bahwa
RNA pasien mengalami degradasi berat
Konsentrasi RNA virus pasien sangat tinggi
Kontrol internal gagal bekerja
Probe tidak spesifik
Primer terlalu sedikit digunakan
Seorang analis mengerjakan RT-PCR dengan primer yang menargetkan gen E dan N. Hasilnya hanya gen E yang menunjukkan kurva amplifikasi, sedangkan gen N tidak. Kemungkinan yang paling logis adalah
RNA tidak ada sama sekali
Terjadi mutasi atau kegagalan amplifikasi pada target gen N
Mesin PCR mengalami gangguan
Probe gen E rusak
Kontrol negatif positif
Seorang teknisi tidak menggunakan sarung tangan saat menyiapkan master mix, sehingga kemungkinan kontaminasi DNA manusia sangat tinggi. Dampak yang mungkin muncul pada hasil RT-PCR adalah
Nilai Ct meningkat tajam
Muncul sinyal pada kontrol internal tanpa RNA virus
Semua hasil menjadi negatif
Probe tidak bekerja
Kurva amplifikasi menjadi datar
Dalam pengambilan sampel swab nasofaring, jika swab tidak dimasukkan cukup dalam ke nasofaring, maka hasil RT-PCR berpotensi
Lebih sensitif terhadap virus
Menjadi negatif palsu
Menjadi positif palsu
Nilai Ct sangat rendah
Amplifikasi lebih cepat
Seorang mahasiswa lupa menambahkan primer ke dalam master mix sebelum PCR dijalankan. Hasil yang kemungkinan muncul adalah
Semua sampel menunjukkan Ct rendah
Kontrol positif gagal menunjukkan amplifikasi
Kurva amplifikasi muncul pada semua sampel
Kontrol negatif menjadi positif
Ct kontrol internal turun
Dalam RT-PCR SARS-CoV-2, penggunaan kontrol internal seperti RNase P diperlukan untuk
Menentukan suhu optimal annealing
Menilai keberhasilan ekstraksi RNA dan memastikan tidak ada inhibisi PCR
Menggandakan jumlah RNA virus
Menurunkan nilai Ct
Menentukan volume elusi
Seorang petugas laboratorium menemukan bahwa kurva amplifikasi kontrol positif sangat landai dan baru melewati threshold pada siklus ke-39. Hal ini paling mungkin disebabkan oleh
Primer terlalu pekat
Konsentrasi RNA target sangat rendah atau degradasi RNA
Kontaminasi silang
Probe terlalu sensitif
Kesalahan interpretasi Ct
Dalam tahap annealing PCR, suhu biasanya diatur sekitar 55–60°C. Fungsi utama tahap ini adalah
Mendenaturasi DNA target
Memfasilitasi penempelan primer ke cDNA target
Mengaktifkan enzim RT
Menonaktifkan probe
Meningkatkan jumlah RNA
Seorang teknisi tidak menutup rapat tabung reaksi sebelum sentrifugasi pada tahap ekstraksi RNA. Akibat yang mungkin terjadi adalah
RNA menjadi lebih pekat
Lisis virus lebih sempurna
Tumpahan sampel yang menyebabkan kehilangan RNA dan risiko kontaminasi
Nilai Ct menurun
Probe rusak
Proses amplifikasi DNA dalam PCR terdiri dari tiga tahap utama yang berulang, yaitu
Lisis, annealing, elusi
Denaturasi, annealing, extension
Ekstraksi, elusi, amplifikasi
Vorteksing, sentrifugasi, inkubasi
Transkripsi, translasi, replikasi
Seorang mahasiswa melakukan pencampuran RNA template dan master mix di ruang reagen. Ia tidak memisahkan area kerja dengan benar. Akibat yang sering terjadi adalah
Reaksi menjadi lebih cepat
Kontaminasi silang yang menyebabkan hasil positif palsu
Probe menjadi tidak aktif
Hasil menjadi negatif palsu
Primer terdegradasi
Dalam RT-PCR, penggunaan probe TaqMan memberikan keunggulan dibandingkan pewarna interkalasi karena
Tidak memerlukan primer
Memberikan spesifisitas tinggi terhadap target tertentu
Dapat digunakan tanpa mesin PCR
Menggantikan enzim RT
Tidak membutuhkan kontrol negatif
Seorang petugas menggunakan tabung mikro yang tidak steril untuk ekstraksi RNA. Akibat yang mungkin muncul adalah
Nilai Ct menjadi sangat rendah
Kontaminasi RNase atau DNA asing yang merusak integritas hasil RT-PCR
Probe menjadi lebih sensitif
RNA menjadi lebih stabil
Tidak ada perubahan signifikan
Dalam proses amplifikasi RT-PCR, aktivitas 5’ nuclease dari DNA polimerase penting karena
Menempelkan primer ke DNA
Memotong probe sehingga fluorofor terlepas dari quencher dan menghasilkan sinyal fluoresensi
Mengikat RNA ke kolom
Mendenaturasi DNA
Menonaktifkan enzim RT
Seorang mahasiswa melakukan kesalahan dengan menggunakan air keran sebagai kontrol negatif. Hasil RT-PCR menunjukkan sinyal pada kontrol negatif. Kemungkinan penyebabnya adalah
Air keran mengandung RNase yang meningkatkan fluoresensi
Air keran mengandung DNA/RNA lingkungan yang menyebabkan kontaminasi
Primer terlalu banyak digunakan
Probe tidak spesifik
Tidak ada masalah berarti
Seorang mahasiswa TLM sedang melakukan proses ekstraksi RNA dari sampel swab nasofaring pasien. Setelah tahap lisis dan pengikatan RNA ke kolom silika, ia lupa melakukan langkah pencucian. Pada saat RT-PCR dijalankan, muncul kurva amplifikasi yang tidak stabil dan hasil tidak valid. Apa penyebab paling mungkin dari kegagalan tersebut?
RNA tidak terikat sempurna pada kolom silika
Kontaminasi inhibitor dari sisa lisis yang tidak terbuang
Kerusakan RNA akibat suhu inkubasi terlalu tinggi
Konsentrasi primer yang terlalu rendah
Dalam pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2, seorang teknisi memperhatikan bahwa kontrol negatif menunjukkan kurva amplifikasi yang muncul pada siklus ke-35. Hal ini tidak terjadi pada kontrol sebelumnya. Apa interpretasi terbaik dari fenomena ini?
Hasil negatif valid karena kurva muncul setelah Ct 35
Kontrol negatif positif palsu akibat kontaminasi silang
Primer dan probe tidak berfungsi dengan baik
Mesin real-time PCR mengalami gangguan optik
Seorang dosen meminta mahasiswa untuk menjelaskan alasan penggunaan Reverse Transcriptase pada pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2. Mahasiswa tersebut menyebutkan bahwa enzim ini digunakan untuk menghasilkan cDNA dari RNA virus sebagai template amplifikasi. Mengapa langkah ini penting?
DNA virus tidak bisa diperbanyak tanpa RNA
Mesin PCR hanya dapat membaca RNA secara langsung
RNA sangat stabil sehingga butuh DNA untuk stabilitas
PCR hanya bekerja pada molekul DNA sebagai template
Dalam tahap preparasi reaksi RT-PCR, seorang teknisi menggunakan primer dan probe yang salah urutan karena kesalahan label. Hasil amplifikasi tidak menunjukkan kurva pada kontrol positif maupun sampel pasien. Apa penjelasan yang paling tepat?
RNA tidak diekstraksi dengan baik
Enzim Taq polimerase tidak aktif
Primer dan probe tidak berikatan
Konsentrasi dNTP terlalu tinggi
Seorang petugas laboratorium mengamati bahwa semua sampel menunjukkan nilai Ct sekitar 15, termasuk kontrol negatif. Situasi ini tidak sesuai dengan kondisi sebelumnya. Langkah pertama apa yang paling tepat dilakukan?
Mengulang amplifikasi dengan volume template lebih sedikit
Mengganti primer dan probe dengan yang baru
Memeriksa kemungkinan kontaminasi pada reagen master mix
Menurunkan suhu annealing
Menambahkan kontrol internal tambahan
Seorang mahasiswa diminta menjelaskan alasan penggunaan kontrol internal dalam reaksi RT-PCR SARS-CoV-2. Ia menjawab bahwa kontrol internal digunakan untuk memastikan proses ekstraksi RNA dan amplifikasi berjalan baik. Mengapa hal ini penting?
Untuk mendeteksi keberadaan virus tambahan
Untuk menentukan suhu optimal PCR
Untuk mendeteksi kegagalan teknis atau adanya inhibitor
Untuk mempercepat proses amplifikasi
Untuk menurunkan nilai Ct sampel positif
Seorang analis sedang melakukan proses RT-PCR dan memperhatikan bahwa kurva amplifikasi kontrol positif tidak muncul, sedangkan kurva kontrol internal terlihat normal. Apa penyebab paling mungkin?
Reagen RT-PCR rusak total
Tidak ada RNA virus pada kontrol positif
Primer dan probe untuk target virus rusak atau tidak sesuai
Mesin PCR rusak
Inhibitor PCR menghambat seluruh reaksi
Dalam pemeriksaan SARS-CoV-2, nilai Ct dari sampel pasien ditemukan sebesar 18. Berdasarkan interpretasi RT-PCR, apa kesimpulan yang paling tepat?
RNA virus tidak terdeteksi
Jumlah RNA virus sangat rendah
Jumlah RNA virus tinggi menunjukkan viral load besar
Hasil tidak valid dan perlu diulang
Kontrol negatif terkontaminasi
Seorang teknisi laboratorium mendapat nilai Ct sebesar 39 pada sampel pasien, sedangkan semua kontrol bekerja dengan baik. Berdasarkan panduan interpretasi, bagaimana hasil tersebut sebaiknya dilaporkan?
Positif SARS-CoV-2 dengan viral load tinggi
Positif SARS-CoV-2 dengan viral load sangat rendah
Negatif SARS-CoV-2
Tidak valid, perlu ekstraksi ulang
Positif palsu karena kontaminasi silang
Seorang mahasiswa sedang melakukan ekstraksi RNA. Ia menyimpan sampel swab pada suhu ruang selama 12 jam sebelum proses ekstraksi. Saat RT-PCR dijalankan, tidak ada kurva pada sampel pasien, sedangkan kontrol positif berjalan baik. Apa penyebab paling mungkin?
Volume template terlalu banyak
RNA virus terdegradasi akibat penyimpanan tidak sesuai
Master mix terlalu encer
Mesin RT-PCR rusak
Primer tidak berfungsi
Dalam tahap RT-PCR, suhu annealing biasanya diatur sekitar 60°C. Apa fungsi utama dari tahap annealing ini?
Denaturasi molekul DNA menjadi untai tunggal
Sintesis cDNA dari RNA virus
Pengikatan primer ke sekuens target cDNA
Aktivasi enzim Taq polimerase
Penghentian reaksi amplifikasi
Seorang analis menemukan bahwa kurva amplifikasi dari beberapa sampel naik secara abnormal dan tidak mencapai plateau. Semua kontrol berjalan normal. Apa kemungkinan penyebab fenomena ini?
Konsentrasi primer terlalu tinggi
Kontaminasi silang pada kontrol negatif
RNA pasien tidak diekstraksi
Volume master mix berlebih
Primer tidak spesifik atau efisiensi PCR buruk
Dalam pengambilan sampel RT-PCR SARS-CoV-2, mengapa swab nasofaring dan orofaring lebih disukai daripada saliva atau sputum?
RNA virus hanya ada pada nasofaring
Konsentrasi virus pada nasofaring lebih tinggi dan konsisten
Saliva terlalu kental untuk ekstraksi
Swab nasofaring lebih murah
Saliva sering menyebabkan denaturasi primer
Dalam pemeriksaan RT-PCR, tahapan reverse transcription umumnya dilakukan sebelum siklus PCR dimulai. Apa alasan utama urutan ini harus dipatuhi?
Untuk mengaktifkan enzim Taq polimerase
Karena PCR tidak bisa membaca RNA secara langsung
Karena suhu annealing lebih tinggi dari suhu RT
Agar primer dapat berikatan lebih kuat dengan RNA
Untuk menstabilkan struktur protein virus
Seorang teknisi menggunakan probe yang sudah kedaluwarsa dua bulan. Hasil RT-PCR menunjukkan tidak ada kurva pada kontrol positif maupun sampel pasien. Kontrol internal tidak menunjukkan sinyal. Apa penjelasan terbaik?
Probe kehilangan kemampuan fluoresensi sehingga tidak mendeteksi target
RNA pasien tidak mengandung virus
Primer berikatan terlalu kuat dengan probe
Volume template RNA terlalu besar
Mesin RT-PCR mengalami error optik
Dalam uji RT-PCR SARS-CoV-2, penggunaan suhu tinggi pada tahap denaturasi sangat penting. Apa alasan utama suhu ini digunakan?
Untuk mengaktifkan primer
Untuk memecah ikatan hidrogen dan memisahkan untaian DNA
Untuk menginaktivasi enzim reverse transcriptase
Untuk mempercepat annealing primer
Untuk mendegredasi RNA virus
Seorang teknisi menemukan bahwa hasil RT-PCR menunjukkan kurva amplifikasi kontrol negatif dengan Ct 20, kontrol positif normal, dan semua sampel pasien juga positif. Apa langkah yang paling tepat dilakukan?
Menetapkan semua sampel sebagai positif
Mengabaikan kontrol negatif karena tidak penting
Mengulang seluruh uji karena terjadi kontaminasi silang
Mengencerkan template RNA dan ulangi amplifikasi
Mengganti primer dan probe
Seorang mahasiswa melakukan pengambilan sampel dengan swab, namun swab tersebut tidak segera dimasukkan ke dalam VTM dan dibiarkan terbuka selama 15 menit. Hasil RT-PCR menunjukkan negatif. Apa kemungkinan utama?
RNA virus meningkat jumlahnya
Kontaminasi silang dari udara
RNA virus terdegradasi akibat kondisi lingkungan
Primer gagal berikatan dengan target
Master mix rusak
Dalam proses RT-PCR, mengapa suhu dan waktu inkubasi reverse transcription harus diatur dengan tepat?
Agar primer menempel dengan kuat pada RNA
Untuk memastikan enzim reverse transcriptase dapat bekerja optimal mengubah RNA menjadi cDNA
Untuk menonaktifkan Taq polimerase
Untuk meningkatkan konsentrasi primer
Untuk mempercepat denaturasi RNA
Seorang teknisi menyiapkan master mix RT-PCR namun lupa menambahkan enzim reverse transcriptase. Setelah reaksi dijalankan, semua kontrol dan sampel tidak menunjukkan kurva amplifikasi. Mengapa?
RNA pasien tidak mengandung virus
Tidak terbentuk cDNA sebagai template PCR
Suhu annealing terlalu rendah
Primer tidak berikatan dengan RNA
Mesin RT-PCR tidak berfungsi
Seorang mahasiswa bertanya mengapa RT-PCR lebih sensitif dibanding metode serologi dalam deteksi SARS-CoV-2. Jawaban terbaik adalah karena RT-PCR mendeteksi RNA virus langsung pada fase awal infeksi. Apa keunggulan utama pendekatan ini?
RNA virus lebih stabil daripada antibodi
Antibodi muncul jauh sebelum RNA
RT-PCR dapat mendeteksi virus sebelum respon imun terbentuk
Serologi lebih cepat mendeteksi virus
RT-PCR tidak memerlukan enzim
Dalam interpretasi hasil RT-PCR, nilai Ct digunakan sebagai parameter penting. Apa makna dari nilai Ct yang rendah?
Viral load rendah
Viral load tinggi karena jumlah RNA awal banyak
Reaksi PCR berjalan lambat
Reaksi tidak spesifik
Kontrol internal rusak
Seorang teknisi menemukan bahwa semua kurva amplifikasi muncul sangat awal, termasuk kontrol negatif, namun kontrol internal tidak muncul. Apa kesimpulan terbaik?
Reaksi PCR berjalan sangat efisien
Terjadi kontaminasi berat pada semua reagen
Mesin PCR bekerja terlalu cepat
Kontrol positif gagal total
Primer dan probe tidak cocok
Dalam proses pelaporan hasil RT-PCR, mengapa penting mencantumkan nilai Ct bersama interpretasi positif atau negatif?
Nilai Ct menentukan kualitas primer dan probe
Nilai Ct menunjukkan efisiensi mesin PCR
Nilai Ct memberikan gambaran kuantitatif viral load dan membantu interpretasi klinis
Nilai Ct digunakan untuk mengukur suhu optimal PCR
Nilai Ct menentukan jenis virus yang terdeteksi
