NEW
Font size
Worksheetsatletik
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Istilah 'Atletik' yang merupakan gabungan dari nomor lari, lompat, dan lempar, berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata 'Athlos' yang memiliki arti...
Berolahraga
Berlomba atau bertanding
Bertarung
Bermain
Atletik sering disebut sebagai 'Mother of Sports' atau induk dari segala cabang olahraga karena...
Merupakan cabang olahraga modern yang paling banyak menyerap atlet dari cabang lain.
Memiliki peraturan yang paling sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan
Perlombaannya selalu dilaksanakan bersamaan dengan Olimpiade Kuno dan Modern.
Menggunakan gerakan dasar manusia (lari, lompat, lempar) yang menjadi dasar bagi banyak olahraga lain.
Aktivitas Atletik yang membutuhkan kekuatan eksplosif untuk memindahkan objek sejauh mungkin dengan teknik tolakan atau ayunan disebut nomor...
jalan cepat
lari
lempar
lompat
Gerakan lengan yang benar saat berlari cepat (sprint) harus diayunkan...
Sambil menggenggam erat telapak tangan untuk mendapatkan kekuatan
Lurus dari siku ke depan dan ke belakang sejajar dengan arah lari, dengan siku ditekuk sekitar 90 derajad
Menyilang di depan dada untuk membantu rotasi pinggul
Hanya diayunkan ke depan, tidak perlu ke belakang
Pada aba-aba 'Bersedia' (On Your Marks) dalam start jongkok, posisi tangan yang benar adalah...
Disilangkan di belakang punggung.
Lurus di depan dengan ujung jari-jari terbuka lebar.
Diletakkan di belakang garis start, kedua ibu jari dan telunjuk membentuk huruf 'V' terbalik.
Diletakkan sejajar dengan telapak kaki depan.
Aba-aba 'Siap' (Set) dalam start jongkok ditandai dengan perubahan posisi tubuh utama, yaitu...
Kaki belakang didorong kuat-kuat ke balok start.
Pinggul diangkat lebih tinggi dari bahu, dan lutut kaki belakang terangkat dari tanah.
Mencondongkan badan ke belakang untuk merelaksasi otot.
Kedua tangan diangkat sejajar bahu.
Tujuan utama dari penggunaan balok start (starting block) dalam lari jarak pendek adalah...
Menyediakan pijakan yang kokoh dan tidak tergelincir untuk menghasilkan daya dorong horizontal maksimal.
Sebagai penanda bagi juri untuk mengukur posisi kaki pelari.
Untuk memisahkan pelari di setiap lintasan agar tidak saling bersentuhan.
Mencegah pelari berjongkok terlalu rendah saat start.
Jenis start jongkok di mana jarak antara balok depan dan belakang sangat dekat (satu jengkal atau kurang) disebut start...
Start Jauh Sempit
Start Jauh (Elongated Start)
Start Pendek (Bunch Start)
Start Menengah (Medium Start)
Fase akselerasi dalam lari sprint adalah periode di mana pelari...
Meningkatkan kecepatannya dari kondisi diam (start) hingga mencapai kecepatan puncak (maksimal).
Mengurangi kecepatan lari untuk transisi ke jarak menengah.
Mempertahankan kecepatan maksimalnya sebelum finis.
Fokus pada pergantian tongkat estafet.
Selama langkah-langkah pertama fase akselerasi, posisi badan pelari yang paling efisien adalah...
Condong ke belakang untuk menjaga keseimbangan awal.
Kepala menoleh ke kanan atau kiri untuk mengamati lintasan.
Condong ke depan dengan sudut inklinasi yang rendah (sekitar 45 derajad), kemudian secara bertahap tegak.
Tegak lurus 90 derajad dengan tanah.
Pelari dianjurkan untuk terus berlari melewati garis finis beberapa meter ke depan karena...
Memastikan kecepatan puncak yang dipertahankan sampai melewati garis, dan mengurangi risiko pengereman mendadak.
Agar dapat segera mengambil air minum di zona finis.
Sebagai bagian dari kewajiban pendinginan (cooling down).
Untuk memberikan kesempatan kepada juri foto finis mengambil gambar yang lebih jelas.
Dalam lomba lari 100m, pelari harus segera didiskualifikasi (DQ) jika...
Pelari mengalami kejang otot (kram) saat mendekati garis finis.
Pelari sengaja keluar dari lintasan yang ditentukan untuk memotong jarak.
Pelari tidak menggunakan sepatu khusus lari (spike).
Pelari melakukan start curian (false start) sebanyak satu kali.
Peraturan utama yang berlaku untuk lari jarak pendek (100m, 200m, 400m) adalah pelari harus...
Menggunakan start berdiri (standing start).
Berlari di lintasan mana pun yang kosong setelah 50m pertama.
Membiarkan pelari yang lebih cepat mendahului di lintasan yang sama.
Wajib berlari dan tetap berada di lintasan (lane) masing-masing dari awal hingga akhir.
Dalam peraturan lari sprint modern (WA), jika seorang pelari melakukan start curian (false start), sanksi yang langsung diberikan adalah...
Dikenakan penalti waktu 0,1 detik.
Diskualifikasi langsung dari perlombaan.
Mengulang start dari posisi berdiri (standing start).
Peringatan pertama, lalu diskualifikasi jika terjadi start curian kedua.
Dalam semua nomor lari lintasan, jika seorang pelari sengaja menghalangi laju pelari lain atau memotong lintasan pelari lain untuk mendapatkan keuntungan, maka ia akan...
Diberikan kesempatan kedua untuk mengulang lari.
Diperingatkan dan diizinkan melanjutkan lari.
Dikenakan penalti waktu setelah finis.
Didiskualifikasi karena tindakan tidak sportif (unsporting behaviour) dan mengganggu integritas perlombaan.
Seorang pelari sprint menggunakan start pendek (bunch start) yang dikenal menghasilkan kecepatan ledak (eksplosif) awal yang tinggi. Namun, pelari tersebut seringkali didiskualifikasi karena 'false start' (start curian). Faktor teknis paling mungkin yang menyebabkan masalah 'false start' berulang pada start pendek adalah...
Pengangkatan pinggul pada aba-aba 'Siap' terlalu tinggi, membuat otot kaki kejang.
Posisi tangan di belakang garis terlalu jauh dari bahu, mengurangi tumpuan.
Jarak kaki yang terlalu dekat membuat pusat gravitasi terlalu jauh di depan pada posisi 'Siap', sehingga waktu reaksi alami terlewati.
Pelari cenderung mengayunkan lengan ke samping saat keluar dari balok, kehilangan momentum horizontal.
Pelari jarak 400 m harus menyeimbangkan antara kecepatan maksimal (sprint) dan daya tahan (endurance). Di lintasan 400 m, perlambatan (deceleration) yang paling signifikan terjadi pada fase terakhir. Analisis paling tepat mengenai penyebab utama perlambatan ini adalah...
Pelari salah dalam melakukan start jongkok, yang menyebabkan kelelahan awal.
Penumpukan asam laktat secara cepat akibat penggunaan sistem energi anaerobik yang dominan, terutama setelah 300 m pertama.
Teknik memasuki garis finis yang salah, yaitu melompat sebelum melewati garis
Transisi dari lari di tikungan (belokan) ke lari lurus (straight) yang membutuhkan energi berlebih.
Seorang pelari 100m menggunakan teknik memasuki garis finis 'miring' (lean/lunge), yaitu memutar bahu dan menjatuhkan torso ke depan. Mengapa teknik ini dianggap lebih efisien daripada teknik 'dada' (chest-out) dalam memenangkan perlombaan yang sangat ketat?
Hanya teknik 'miring' yang didukung oleh juri foto finis sebagai penentu pemenang.
Teknik 'dada' dapat menyebabkan pelari melompat sebelum garis, sedangkan 'miring' menjaga langkah tetap di tanah.
Teknik 'miring' memungkinkan bagian torso yang dihitung (bahu) mencapai garis finis sedikit lebih cepat dibandingkan teknik 'dada' yang membusungkan seluruh dada.
Teknik 'miring' membantu pelari mengurangi kecepatan dengan lebih aman setelah melewati garis finis.
Dalam lomba lari 200 m dan 400 m, pelari di lintasan luar (lane 8) berlari pada jarak yang tampak lebih jauh daripada pelari di lintasan dalam (lane 1) karena memiliki jarak start yang berbeda (staggered start). Namun, pada kenyataannya, kedua pelari menempuh jarak lintasan yang sama. Mengapa jarak start yang berbeda ini diperlukan...
Untuk mengompensasi panjang lintasan yang lebih besar pada tikungan luar, sehingga semua pelari menempuh total jarak yang identik.
Agar pelari di lintasan luar dapat mencapai kecepatan maksimal lebih awal dari pelari di lintasan dalam.
Untuk memberikan keuntungan mental kepada pelari di lintasan luar agar tidak merasa tertinggal.
Karena pelari di lintasan luar diwajibkan berlari dengan kecepatan konstan sejak awal.
Pada fase akselerasi lari 100 m, langkah-langkah awal pelari harus diarahkan secara horizontal untuk membangun kecepatan ke depan. Jika seorang pelari secara prematur mengangkat badannya menjadi posisi tegak lurus (vertikal) pada langkah ke-4 atau ke-5, konsekuensi biomekanika yang paling merugikan adalah...
Pelari akan melakukan 'overstriding' dan kehilangan ritme langkah yang diperlukan untuk kecepatan maksimal.
Gaya dorong vertikal menjadi terlalu dominan sebelum waktunya, yang meningkatkan waktu melayang dan mengurangi efisiensi gaya dorong horizontal ke depan.
Resiko cedera hamstring meningkat karena sendi lutut harus bekerja lebih keras untuk mengangkat tubuh.
Pelari kesulitan melakukan ayunan lengan 90 derajad yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan.
