Font size
WorksheetsTKA_Menilai Ketepatan Bagian Teks Fiksi
Total questions: 15
Worksheet time: 9mins
Perhatikan teks berikut.
Di sebuah desa yang dikelilingi sawah hijau, tinggal seorang anak bernama Jaya. Ia dikenal ramah dan suka menolong teman-temannya. Setiap pagi, Jaya berjalan kaki menuju sekolah sambil membawa tas kecil berisi buku dan bekal sederhana. Suasana desa yang tenang membuat Jaya selalu bersemangat untuk belajar.
Bagian teks yang tepat untuk menggambarkan latar tempat dalam cerita tersebut, yaitu ....
di sebuah desa yang dikelilingi sawah hijau
ia dikenal ramah dan suka menolong teman-temannya
setiap pagi, Jaya berjalan kaki menuju sekolah sambil membawa tas kecil
suasana desa yang tenang membuat Jaya selalu bersemangat untuk belajar
Jaya adalah anak yang sederhana
Perhatikan teks berikut.
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya muncul ketika Dina sudah duduk di beranda rumahnya. Dengan rambut yang masih basah karena baru saja mandi, ia menatap jalan kampung yang sepi. Dina memang dikenal rajin dan selalu memulai harinya lebih awal dibanding teman-teman sebayanya. Hari ini, ia berencana membantu neneknya menyiapkan kue untuk dijual di pasar. Angin pagi yang sejuk berembus, membawa aroma bunga melati dari halaman rumah.
Berdasarkan teks di atas, pilihlah bagian yang tepat untuk menggambarkan karakter, peristiwa, dan latar.
Dina memang dikenal rajin dan selalu memulai harinya lebih awal dibanding teman sebayanya
Dengan rambut yang masih basah karena baru saja mandi, ia menatap jalan kampung yang sepi.
Hari ini, ia berencana membantu neneknya menyiapkan kue untuk dijual di pasar.
Angin pagi yang sejuk berembus, membawa aroma bunga melati dari halaman rumah.
Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Dina sudah duduk di beranda rumahnya.
Perhatikan teks berikut.
Pagi itu, Sinta berlari kecil menuju sekolahnya. Ia tidak ingin terlambat karena ada ulangan Matematika. Meskipun hujan turun sejak subuh, Sinta tetap bersemangat. Sesampainya di kelas, ia segera membuka buku catatannya untuk mengulang pelajaran.
Tentukan Sesuai (S) atau Tidak Sesuai (TS) ketetapan bagian teks untuk menggambarkan karakter, peristiwa, atau latar dalam teks tersebut.
A. Karakter Sinta digambarkan sebagai anak yang rajin dan semangat belajar. (a)
B. Latar waktu cerita adalah sore hari setelah pulang sekolah. (b)
C. Peristiwa utama yang terjadi adalah Sinta bermain bersama teman-temannya di taman. (c)
D. Latar suasana yang digambarkan dalam teks adalah penuh semangat meskipun hujan. (d)
E. Bagian teks yang menyebutkan “Sinta berlari kecil menuju sekolah” menunjukkan
latar tempat. (e)
Perhatikan teks berikut.
Pagi itu, langit Kota Bandung tampak kelabu. Adi duduk di pojok kantin, menatap kosong halaman sekolah. Sejak kepergian ayahnya, ia menjadi lebih pendiam. Namun di balik diamnya, ia menyimpan semangat yang besar untuk menyelesaikan sekolah dan membanggakan ibunya.
Pilihlah yang tepat tentang nilai karakter tokoh Adi yang dapat diteladani dalam teks (jawaban dapat lebih dari satu).
Sikap rendah diri karena merasa sendirian
Kecenderungan untuk menyendiri
Ketabahan menghadapi kehilangan
Semangat untuk meraih cita-cita
Kasih sayang kepada orang tua
Perhatikan teks berikut.
Setiap pagi, Kakek duduk di teras, membersihkan setiap bilah keris pusakanya dengan minyak cendana. Gerakannya lambat, khidmat, seolah sedang bercakap-cakap dengan benda mati itu.
Bagian cerita ini paling tepat digunakan untuk menggambarkan karakter Kakek sebagai seorang yang...
Modern dan mengikuti perkembangan zaman.
Pemarah dan tidak sabaran.
Melestarikan tradisi dan menghargai warisan.
Tidak peduli dengan benda-benda di sekitarnya.
Gelisah dan penuh kekhawatiran.
Perhatikan teks berikut.
Pagi itu, mentari menapaki lorong sempit menuju pasar tradisional yang sudah ramai sejak matahari baru menyapa bumi. Suara riuh para pedagang terdengar bersahutan, menciptakan irama yang tak beraturan. Udara lembap bercampur dengan bau tanah basah dan aroma sayur mayur yang baru dipanen. Dari kejauhan, tampak asap mengepul dari warung gorengan yang mulai diserbu pembeli.
Lengkapi paragraf tersebut dengan kalimat deskriptif yang paling efektif dan tidak klise guna menggambarkan suasana pasar yang sangat ramai dan padat. Pilihlah kalimat yang paling tepat di bawah ini!
Langkah kaki para pembeli saling bersentuhan, napas orang-orang terasa berat di udara yang sesak dan beraroma rempah.
Orang-orang terus bergerak tanpa jarak, tubuh-tubuh saling bersinggungan di bawah seng yang menahan panas pagi.
Lorong pasar dipenuhi tubuh-tubuh yang berjejalan, setiap langkah terasa sempit di antara teriakan pedagang yang bersahutan.
Gerak manusia berlapis-lapis memenuhi lorong, tangan-tangan terulur mencari barang di tengah udara pengap yang berbau ikan asin.
Setiap sudut pasar bergemuruh oleh suara manusia, tubuh-tubuh rapat bagai arus sungai yang tak henti mengalir di antara lapak.
Perhatikan teks berikut.
Di bawah terik matahari yang membakar, Dira masih berdiri di pinggir jalan sambil menggenggam map lusuh berisi berkas lamaran. Kemejanya sudah basah oleh keringat, namun matanya tetap menatap setiap mobil yang melintas, berharap salah satunya berhenti di depan gedung yang kini terasa begitu megah dan jauh dari jangkauannya. Sesekali ia menarik napas panjang, menatap langit, lalu tersenyum kecil, seolah menenangkan diri dari rasa cemas yang menyesakkan dada.
Dari kutipan tersebut, bagian yang paling tepat menggambarkan karakter Dira sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah adalah ...
Kemejanya sudah basah oleh keringat, namun matanya tetap menatap setiap mobil yang melintas...
Di bawah terik matahari yang membakar, Dira masih berdiri di pinggir jalan sambil menggenggam map lusuh...
Sesekali ia menarik napas panjang, menatap langit, lalu tersenyum kecil...
Harap salah satunya berhenti di depan gedung yang kini terasa begitu megah dan jauh dari jangkauannya.
Gedung yang kini terasa begitu megah dan jauh dari jangkauannya.
Perhatikan teks berikut.
Langit sore itu menghitam cepat. Angin berhembus tajam membawa aroma tanah dan air hujan. Di ruang tamu yang temaram, Laila menatap layar ponselnya—sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul, hanya berisi satu kalimat: “Aku tahu rahasiamu.” Tangannya gemetar, napasnya tercekat. Ia menoleh ke pintu yang tertutup rapat, seakan khawatir seseorang sedang mengintip dari baliknya. Seketika, detak jam di dinding terdengar sangat keras, memecah kesunyian yang menekan.
Langit sore itu menghitam cepat. Angin berhembus tajam membawa aroma tanah dan air hujan.
Ia menoleh ke pintu yang tertutup rapat, seakan khawatir seseorang sedang mengintip dari baliknya.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul, hanya berisi satu kalimat.
Perhatikan teks berikut.
Malam menurunkan tirainya di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu toko masih menyala, memantulkan cahaya ke genangan air sisa hujan sore tadi. Di trotoar sempit, seorang pengamen muda memetik gitarnya dengan suara serak, bersaing dengan deru kendaraan yang berlalu-lalang tanpa henti. Aroma sate dari warung pinggir jalan bercampur dengan asap knalpot dan udara lembap yang pekat. Di tengah gemerlap itu, terasa sunyi yang aneh, seperti kota yang bersinar hanya untuk menutupi lelahnya sendiri.
Bagian teks yang paling tepat menggambarkan latar suasana kota malam hari adalah...
Di trotoar sempit, seorang pengamen muda memetik gitarnya dengan suara serak.
Lampu-lampu toko masih menyala, memantulkan cahaya ke genangan air sisa hujan sore tadi.
Aroma sate dari warung pinggir jalan bercampur dengan asap knalpot dan udara lembap yang pekat.
Malam menurunkan trainya di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Terasa sunyi yang aneh, seperti kota yang bersinar hanya untuk menutupi lelahnya sendiri.
Perhatikan kutipan berikut. Pasangkan bagian teks dengan unsur yang paling tepat.
Rani menatap layar komputer yang terus menampilkan pesan error, tapi ia tak berhenti mencoba hingga larut malam.
Karakter pekerja keras dan pantang menye
Petir menyambar di langit gelap, sementara ombak menghantam karang seolah ingin memecahkan malam yang sunyi
Latar suasana tegang dan mencekam
Suara sirene ambulans menembus kepadatan lalu lintas kota yang basah oleh hujan
Latar kota yang sibuk dan penuh hiruk pikuk
Bayu menggenggam erat surat lamaran kerjanya, keringat dingin mengalir di pelipis, namun langkahnya mantap menuju pintu kantor
Peristiwa yang menegangkan dan penuh harapan
Rumah tua itu berdiri di ujung gang sepi, dindingnya retak, dan jendela kayunya berderit tertiup angin
Latar tempat yang suram dan menakutkan
Perhatikan kutipan berikut.
“Orang-orang desa, ke kota berjalan kaki, tak masuk dalam perhatianku. Jalan raya batu kuning itu lurus langsung ke Wonokromo. Rumah, ladang, sawah, pepohonan jalanan yang dikurung dengan keranjang bambu, bagian-bagian hutan yang bermandikan sinar perak matahari, semua, semua berterbangan riang. Di kejauhan sana samar-samar nampak gunung-gemunung berdiri tenang dalam keangkuhan, seperti petapa berbaring membatu.”
Berdasarkan kutipan berikut, bagian yang menggambarkan latar tempat secara tepat adalah ...
“Jalan raya batu kuning itu lurus langsung ke Wonokromo.”
“Rumah, ladang, sawah, pepohonan jalanan yang dikurung dengan keranjang bambu, bagian-bagian hutan yang bermandikan sinar perak matahari.”
“Orang-orang desa, ke kota berjalan kaki, tak masuk dalam perhatianku.”
“Di kejauhan sana samar-samar nampak gunung-gemung berdiri tenang dalam keangkuhan.”
“Semua, semua berterbangan riang.”
Perhatikan kutipan berikut.
“Sudah hampir senja ketika kereta dari Surabaya berhenti di stasiun kecil itu. Matahari tinggal separuh di ufuk barat, sinarnya miring menyentuh genting rumah-rumah kampung. Anak-anak berlarian pulang sambil membawa buku-buku sekolah yang lusuh, sementara suara bedug magrib mulai terdengar dari kejauhan.”
Berdasarkan kutipan di atas, bagian yang menggambarkan latar waktu secara tepat adalah …
(Pilih lebih dari satu jawaban yang benar)
Sudah hampir senja ketika kereta dari Surabaya berhenti di stasiun kecil itu.
Matahari tinggal separuh di ufuk barat, sinarnya miring menyentuh genting rumah kampung.
Anak-anak berlarian pulang sambil membawa buku-buku sekolah yang lusuh.
Suara bedug magrib mulai terdengar dari kejauhan.
Kereta dari Surabaya berhenti di stasiun kecil itu.
Perhatikan kutipan berikut.
“Anak pribumi boleh sekolah asal pintar dan patuh. Itupun tidak semua, hanya yang mendapat izin khusus dari pemerintah Hindia Belanda. Di ruang kelas, duduklah anak-anak Eropa di deretan depan, anak Indo di tengah, dan pribumi di belakang. Semua harus berbicara dalam bahasa Belanda, bahkan untuk sekadar bertanya kepada guru.”
Berdasarkan kutipan tersebut, bagian yang paling tepat menggambarkan latar sosial adalah …
Anak pribumi boleh sekolah asal pintar dan patuh.
Hanya yang mendapat izin khusus dari pemerintah Hindia Belanda.
Di ruang kelas, duduklah anak-anak Eropa di deretan depan, anak Indo di tengah, dan pribumi di belakang.
Semua harus berbicara dalam bahasa Belanda.
Sekolah itu tampak megah dengan dinding tinggi dan jendela besar.
Perhatikan kutipan berikut.
"Hari itu, aku dan Arai duduk di dermaga menatap laut yang biru. Kami baru saja menerima kabar bahwa kami diterima kuliah di Jakarta. Rasanya seperti mimpi. Kami saling berpandangan, tertawa, lalu menangis. Seluruh perjuangan dari kampung kecil ini akhirnya terbayar. Di tengah terpaan angin laut, kami berjanji akan mengubah nasib dan kembali membawa kebanggaan untuk Belitong."
Berdasarkan kutipan tersebut, bagian yang paling tepat menggambarkan peristiwa adalah ...
Aku dan Arai duduk di dermaga menatap laut yang biru
Kami baru saja menerima kabar bahwa kami diterima kuliah di Jakarta
Kami saling berpandangan, tertawa, lalu menangis
Di tengah terpaan angin laut, kami berjanji akan mengubah nasib
Seluruh perjuangan dari kampung kecil ini akhirnya terbayar
Perhatikan kutipan berikut.
“Malam itu aku dan Arai duduk diam di bawah langit Belitong yang kelam. Surat dari Jakarta tergeletak di antara kami — kabar duka dari Mamak. Ia jatuh sakit keras. Arai menatapku lama, seolah ingin berkata sesuatu, tapi tak sanggup. Kami tahu, untuk pulang berarti meninggalkan pekerjaan, meninggalkan cita-cita. Namun untuk bertahan di sini, kami seperti anak durhaka. Air mata kami jatuh tanpa suara.”
Berdasarkan kutipan tersebut, bagian yang paling tepat menggambarkan konflik adalah ...
Malam itu aku dan Arai duduk diam di bawah langit Belitong yang kelam.
Surat dari Jakarta tergeletak di antara kami — kabar duka dari Mamak.
Kami tahu, untuk pulang berarti meninggalkan pekerjaan, meninggalkan cita-cita. Namun untuk bertahan di sini, kami seperti anak durhaka.
Arai menatapku lama, seolah ingin berkata sesuatu, tapi tak sanggup.
Air mata kami jatuh tanpa suara.
