NEW
Font size
WorksheetsAsesmen Sumatif 2
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Masyarakat pada masa Praksara mendapatkan makanan dari alam sekitar tempat tinggal mereka. Apabila mereka berada di gunung, mereka berburu hewan di hutan sebagai bahan makanan mereka. Apabila mereka tinggal di tepi sungai/perairan, mereka memanfaatkan ikan dan hewan laut sebagai bahan makanan. Berikut ini merupakan bukti bahwa kehidupan manusia prasejara bergantung dari alam adalah
Penemuan kubur batu yang berfungsi sebagai makam di wilayah Bali
Penemuan Kjokkenmoddinger di sepanjang Pantai Timur Sumatera
Lukisan cap telapak tangan di dinding goa Leang-leang Sulawesi
Wilayah Pacitan sebagai sumber ditemukannya peralatan batu
Penemuan benda logam di Alor
Manusia pada masa ini memenuhi kebutuhan makannya dengan cara berburu dan berpindah tempat tergantung ketersediaan makanan. Hidup berpindah-pindah disebut
Berkelompok
Nomaden
Menetap
Sosialisasi
Berpetualang
Pola hunian manusia purba yang memperlihatkan karakter khas hunian purba yaitu
Kedekatan dengan hutan
Kedekatan dengan binatang di alam
Kehidupan dengan anggota kelompok
Kedekatan dengan sumber air
Tempat manusia berkumpul
Pola hunian purba manusia purba dapat dilihat dari letak geografis situs-situs serta kondisi lingkungannya sekarang. Beberapa contoh yang menunjukkan pola hunian seperti itu adalah situs-situs purba di sepanjang aliran Bengawan Solo. Dibawah ini bukan pernyataan yang terkait dengan pernyataan tersebut
Air memberikan beragam manfaat
Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia
Air diperlukan oleh tumbuhan maupun binatang
Air dimanfaatkan untuk sarana rekreasi oleh manusia purba
Air bisa digunakan untuk berburu
Pada zaman batu muda manusia sudah mengenal cara bercocok tanam. Cara hidup manusia purba tersebut disebut
Nomaden
Food producing
Food gathering
Paleolitikum
Mesolitikum
Manusia purba pada zaman Neolitikum mulai membuat wadah dari tanah liat yang dibakar, yang kita kenal sebagai gerabah. Di rumah kita, benda yang dibuat dengan teknik dan bahan dasar serupa adalah
Piring melamin
Gelas plastik
Vas bunga keramik
Botol kaca
Mangkok stainless steel
Salah satu ciri kehidupan di zaman Neolitikum adalah adanya revolusi pertanian, di mana manusia mulai bercocok tanam dan menghasilkan makanan sendiri (food producing). Aktivitas di lingkungan rumah atau sekitar kita yang mencerminkan konsep food producing adalah
Membeli sayur di pasar
Memasak nasi di dapur
Memancing di sungai
Menanam cabai di pot atau halaman rumah
Berburu hewan kecil
Pada zaman Neolitikum, manusia mulai hidup menetap (sedenter) dan membangun rumah panggung untuk menghindari banjir dan gangguan binatang buas. Di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, pola rumah panggung ini masih dipertahankan karena alasan
Mengikuti tren arsitektur internasional
Lebih hemat biaya pembangunan
Adaptasi terhadap iklim tropis dan lingkungan rawa/sungai
Pengaruh kuat dari budaya kolonial Belanda
Lebih mudah dalam proses penggusuran
Pola hunian praaksara seringkali terletak dekat dengan sumber air, seperti sungai atau pantai, untuk memudahkan akses pangan. Pola pemukiman modern yang masih sangat kental mengikuti orientasi kedekatan dengan sumber daya alam ini adalah pemukiman
Di kawasan industri
Di pegunungan tinggi yang terpencil
Nelayan di pesisir pantai atau tepi sungai
Di tengah padang pasir
Di dalam kompleks perumahan elit di kota besar
Pada masa Neolitikum, manusia mulai hidup menetap (sedenter) di perkampungan dan mengembangkan pertanian. Perubahan pola hunian ini memengaruhi tema seni tari, yang mulai banyak berkaitan dengan kesuburan dan ritual panen. Karakteristik tari modern yang masih mencerminkan warisan ini adalah
Tari yang dilakukan secara massal dalam festival panen raya
Tari yang menceritakan pertempuran antar suku
Gerakan tari yang bersifat ritmis dan berulang-ulang, meniru aktivitas menanam padi
Tari tunggal yang bersifat sangat individualistis
Tari yang melibatkan penggunaan properti berupa hasil bumi atau hasil panen
