Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Strategi Negosiasi dalam Organisasi

Total questions: 57

Worksheet time: 29mins

Name
Class
Date
1.

Bagaimana Anda merencanakan strategi negosiasi yang efektif untuk menyelesaikan konflik dalam organisasi, berdasarkan pemahaman Anda tentang dinamika organisasi?

a)

Dengan memaksakan kehendak satu pihak tanpa mempertimbangkan pihak lain.

b)

Dengan mengambil keputusan sepihak tanpa diskusi.

c)

Dengan mengabaikan konflik dan berharap masalah akan selesai sendiri.

d)

Dengan mengidentifikasi kepentingan semua pihak dan mencari solusi win-win.

2.

Seorang dokter merasa tertekan karena tuntutan profesional bertentangan dengan nilai pribadinya. Berdasarkan analisis, tentukan jenis konflik yang dialami dan berikan penjelasan logis atas pilihan Anda.

a)

Konflik Intergroup

b)

Konflik Interpersonal

c)

Konflik Organisasional

d)

Konflik Intrapersonal

3.

Dalam sebuah organisasi, kebijakan baru yang diterapkan menyebabkan ketegangan di antara seluruh anggota. Berdasarkan penalaran Anda, tentukan jenis konflik yang terjadi dan berikan argumen yang mendukung jawaban Anda.

a)

Konflik Intragroup

b)

Konflik Interpersonal

c)

Konflik Organisasional

d)

Konflik Intergroup

4.

Sebuah rumah sakit mengalami konflik antara bagian laboratorium dan pelayanan klinik integrasi karena keterlambatan hasil lab. Berdasarkan contoh tersebut, bagaimana Anda merencanakan solusi strategis untuk mengurangi konflik yang terjadi?

a)

Mengurangi jumlah staf laboratorium agar beban kerja berkurang

b)

Mengabaikan keluhan dari pelayanan klinik integrasi

c)

Meningkatkan komunikasi dan memperjelas instruksi antara laboratorium dan klinik integrasi

d)

Membiarkan kedua pihak menyelesaikan masalah sendiri tanpa intervensi

5.

Dalam menghadapi perubahan organisasi seperti perubahan sistem, kebijakan, atau pimpinan, apa langkah strategis yang dapat diambil untuk meminimalisir konflik?

a)

Mengabaikan masukan dari staf terkait perubahan

b)

Melakukan perubahan secara diam-diam tanpa pemberitahuan

c)

Mensosialisasikan perubahan secara terbuka dan melibatkan seluruh staf dalam proses adaptasi

d)

Hanya memberitahu staf senior tentang perubahan

6.

Dalam situasi di mana kedua pihak memiliki kekuatan yang seimbang, strategi manajemen konflik mana yang paling tepat digunakan? Jelaskan alasan Anda berdasarkan karakteristik strategi tersebut.

a)

Competing (Bersaing)

b)

Compromising (Berkompromi)

c)

Avoiding (Menghindar)

d)

Accomodating (Mengalah)

7.

Seorang pemimpin organisasi pelayanan publik ingin memastikan hubungan antar anggota tetap harmonis, meskipun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Strategi manajemen konflik mana yang paling sesuai dan mengapa?

a)

Compromising (Berkompromi)

b)

Accomodating (Mengalah)

c)

Avoiding (Menghindar)

d)

Competing (Bersaing)

8.

Berdasarkan teknik negosiasi aktif, bagaimana Anda merencanakan strategi negosiasi agar kedua pihak merasa diuntungkan dan tercapai kesepakatan tanpa konflik?

a)

Fokus pada posisi, abaikan pendapat lawan, gunakan pendekatan menang-kalah, dan komunikasikan secara agresif.

b)

Fokus pada kepentingan, bukan posisi, dengarkan secara aktif, gunakan pendekatan win-win solution, dan jaga komunikasi yang sopan dan konstruktif.

c)

Fokus pada hasil akhir saja, tidak perlu komunikasi, gunakan pendekatan satu arah, dan abaikan kepentingan lawan.

d)

Hanya utamakan kepentingan sendiri, tidak perlu mendengarkan lawan, gunakan pendekatan kompromi, dan komunikasikan secara pasif.

9.

Langkah strategis apa yang dapat diambil kepala instalasi rawat inap agar negosiasi pengadaan linen bersih di malam hari dengan bagian logistik berjalan efektif dan menghasilkan solusi terbaik bagi kedua pihak?

a)

Fokus pada masalah teknis saja tanpa mempertimbangkan komunikasi dan kepentingan lawan.

b)

Identifikasi kepentingan kedua pihak, dengarkan secara aktif, cari solusi win-win, dan jaga komunikasi yang sopan.

c)

Hindari diskusi, ambil keputusan sendiri, dan tidak perlu mencari solusi bersama.

d)

Tekankan tuntutan sendiri, abaikan kepentingan lawan, cari solusi sepihak, dan komunikasikan dengan nada tinggi.

10.

Sebuah tim negosiasi menghadapi situasi di mana kedua belah pihak saling curiga dan tidak mau terbuka. Berdasarkan langkah-langkah negosiasi efektif, strategi apa yang paling tepat dilakukan untuk mengatasi masalah ini?

a)

Mengabaikan kebutuhan pihak lain dan fokus pada posisi sendiri

b)

Menunda negosiasi hingga suasana membaik dengan sendirinya

c)

Langsung memilih opsi terbaik tanpa berdiskusi lebih lanjut

d)

Meningkatkan suasana saling percaya dan terbuka melalui pembangunan hubungan

11.

Dalam upaya meningkatkan kemampuan staf rumah sakit dalam menangani konflik, strategi apa yang dapat direncanakan untuk jangka panjang?

a)

Mengabaikan pelatihan dan hanya mengandalkan pengalaman kerja

b)

Melarang staf mengikuti pelatihan apapun

c)

Hanya memberikan pelatihan teknis tanpa fokus pada interpersonal

d)

Mengadakan pelatihan keterampilan interpersonal dan manajemen emosi

12.

Jika Anda adalah kepala unit di RS X yang menghadapi konflik antara perawat senior dan dokter muda terkait pemberian obat, langkah strategis apa yang paling efektif untuk memfasilitasi dialog terbuka antara kedua profesi tersebut?

a)

Mengabaikan konflik agar mereda dengan sendirinya

b)

Memberikan sanksi kepada salah satu pihak

c)

Melakukan mediasi secara langsung antara perawat dan dokter

d)

Meminta HRD untuk mengambil keputusan sepihak

13.

Dalam proses penyelesaian konflik antarprofesi di RS X, mengapa penting bagi HRD untuk mengumpulkan keterangan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan?

a)

Agar keputusan didasarkan pada bukti dan sudut pandang yang objektif

b)

Supaya HRD bisa memilih pihak yang lebih disukai

c)

Agar konflik tetap berlangsung

d)

Untuk mempercepat proses tanpa mendengar kedua belah pihak

14.

Seorang pemimpin dan manajer di organisasi pelayanan kesehatan menghadapi perbedaan pendapat di antara anggota tim. Rancanglah langkah-langkah strategis yang dapat diambil untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbuka terhadap perbedaan namun tetap fokus pada tujuan bersama.

a)

Menjadi fasilitator utama, mendorong keterampilan negosiasi yang baik, dan menjaga fokus pada tujuan bersama.

b)

Mengabaikan perbedaan pendapat dan hanya mengikuti keputusan mayoritas.

c)

Membiarkan konflik berkembang tanpa intervensi untuk melihat hasil alami.

d)

Memusatkan perhatian hanya pada tugas individu tanpa memperhatikan tujuan tim.

15.

Bagaimana Anda dapat membedakan antara artefak, nilai atau keyakinan yang dianut, dan asumsi dasar dalam budaya organisasi menurut Edgar Schein? Berikan contoh situasi di mana ketiga elemen tersebut dapat diidentifikasi secara strategis dalam sebuah organisasi.

a)

Artefak adalah prinsip kerja, nilai adalah keyakinan terdalam, dan asumsi dasar adalah hal yang tampak; contohnya: slogan organisasi, pelaporan kecelakaan, desain ruangan.

b)

Artefak, nilai, dan asumsi dasar semuanya adalah hal yang tampak; contohnya: desain ruangan, slogan organisasi, pelaporan kecelakaan kerja.

c)

Artefak adalah keyakinan terdalam, nilai adalah hal yang tampak, dan asumsi dasar adalah prinsip kerja; contohnya: pelaporan kecelakaan, desain ruangan, prioritas pasien.

d)

Artefak adalah hal yang tampak, nilai adalah prinsip kerja, dan asumsi dasar adalah keyakinan terdalam; contohnya: desain ruangan, prioritas pasien, pelaporan kecelakaan kerja.

16.

Pilih pernyataan yang paling tepat mengenai perbedaan dan pengaruh antara Budaya Organisasi Induk dan Budaya Unit Kerja dalam pelaksanaan tugas di rumah sakit.

a)

Budaya Organisasi Induk adalah budaya yang berlaku di seluruh rumah sakit sebagai bagian dari kementerian atau yayasan, sedangkan Budaya Unit Kerja berkembang di masing-masing divisi seperti IGD, ICU, atau administrasi; keduanya saling mempengaruhi dalam pelaksanaan tugas melalui kebijakan umum dan adaptasi lokal.

b)

Budaya Organisasi Induk dan Budaya Unit Kerja selalu sama dan tidak pernah berbeda dalam pelaksanaan tugas.

c)

Budaya Organisasi Induk hanya berlaku untuk divisi administrasi, sedangkan Budaya Unit Kerja untuk divisi medis saja.

d)

Budaya Organisasi Induk tidak berpengaruh terhadap Budaya Unit Kerja, sehingga pelaksanaan tugas sepenuhnya tergantung pada individu.

17.

Bayangkan Anda adalah seorang manajer di sebuah perusahaan. Tim Anda mengalami penurunan kinerja dan kolaborasi. Berdasarkan karakteristik budaya kerja positif, strategi apa yang paling efektif untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan tim Anda?

a)

Menerapkan komunikasi terbuka dan dua arah serta memberikan penghargaan atas kontribusi individu dan tim.

b)

Memusatkan keputusan hanya pada manajemen tanpa transparansi.

c)

Menyalahkan anggota tim yang melakukan kesalahan agar mereka belajar dari pengalaman.

d)

Mengutamakan persaingan antar anggota tim untuk meningkatkan produktivitas.

18.

Jika Anda menemukan adanya kesalahan dalam proses kerja tim, bagaimana pendekatan budaya kerja positif dapat membantu menyelesaikan masalah tanpa menurunkan motivasi anggota tim?

a)

Memberikan hukuman kepada seluruh tim agar lebih berhati-hati.

b)

Mengabaikan kesalahan agar tidak menimbulkan konflik.

c)

Fokus pada keselamatan dan perbaikan proses, bukan saling menyalahkan.

d)

Menyalahkan individu yang melakukan kesalahan agar menjadi pelajaran bagi yang lain.

19.

Seorang manajer di lembaga kesehatan ingin meningkatkan keterlibatan dan loyalitas karyawan. Langkah strategis apa yang dapat diambil?

a)

Menerapkan program “employee of the month” sebagai bentuk apresiasi.

b)

Mengabaikan umpan balik dari pegawai.

c)

Mengurangi kesempatan pelatihan bagi karyawan.

d)

Membatasi penghargaan hanya untuk manajemen.

20.

Analisislah mengapa dokumentasi dalam bagan struktur organisasi formal sangat penting untuk efektivitas organisasi, dan berikan alasan yang mendukung.

a)

Dokumentasi justru memperlambat proses kerja karena menambah birokrasi.

b)

Dokumentasi dalam bagan struktur penting karena membantu memastikan setiap anggota memahami peran dan tanggung jawabnya, sehingga meminimalisir konflik dan meningkatkan efektivitas kerja.

c)

Dokumentasi dalam bagan struktur dapat diabaikan karena semua anggota sudah tahu tugasnya secara informal.

d)

Dokumentasi hanya diperlukan untuk keperluan administrasi tanpa pengaruh pada efektivitas organisasi.

21.

Analisislah bagaimana struktur informal dapat mempengaruhi efektivitas koordinasi dalam sebuah organisasi, serta berikan contoh situasi di mana struktur informal justru menimbulkan hambatan.

a)

Struktur informal dapat mempercepat koordinasi jika didasarkan pada kepercayaan, namun dapat menimbulkan hambatan jika tidak sejalan, misalnya ketika terjadi konflik kepentingan antar anggota.

b)

Struktur informal hanya menimbulkan hambatan jika tercantum dalam struktur formal.

c)

Struktur informal selalu memperlambat koordinasi karena tidak ada aturan yang jelas.

d)

Struktur informal tidak berpengaruh terhadap koordinasi dalam organisasi.

22.

Jelaskan bagaimana budaya dapat membentuk perilaku individu dalam menjalankan tugas, dan berikan contoh situasi di mana perubahan budaya memerlukan perubahan perilaku secara kolektif dan konsisten.

a)

Budaya tidak berpengaruh pada perilaku anggota tim, sehingga perubahan budaya tidak memerlukan perubahan perilaku.

b)

Budaya hanya mempengaruhi perilaku individu secara tidak langsung, tanpa memerlukan perubahan perilaku kolektif.

c)

Budaya hanya mempengaruhi perilaku individu dalam situasi informal, bukan dalam menjalankan tugas.

d)

Budaya membentuk sikap dan perilaku individu dalam menjalankan tugas, dan perubahan budaya memerlukan perubahan perilaku secara kolektif dan konsisten, misalnya saat perusahaan mengadopsi nilai kerja sama tim.

23.

Analisis bagaimana perilaku anggota tim dapat memperkuat budaya yang ada dalam suatu organisasi, dan berikan strategi yang dapat digunakan untuk memastikan konsistensi perilaku tersebut.

a)

Perilaku anggota tim mencerminkan dan memperkuat budaya yang ada, strategi yang dapat digunakan adalah pelatihan bersama dan penetapan standar perilaku.

b)

Perilaku anggota tim tidak berpengaruh pada budaya organisasi, sehingga tidak diperlukan strategi khusus.

c)

Perilaku anggota tim dapat memperlemah budaya organisasi jika tidak ada perubahan perilaku.

d)

Perilaku anggota tim hanya memperkuat budaya jika ada penghargaan, tanpa perlu konsistensi.

24.

Analisislah bagaimana komitmen pimpinan dan keterlibatan aktif seluruh unsur organisasi dapat mengatasi tantangan budaya lama yang belum selaras dengan visi pelayanan!

a)

Dengan hanya mengandalkan satu individu dalam organisasi

b)

Dengan membiarkan budaya lama tetap berjalan tanpa perubahan

c)

Dengan membentuk dan menanamkan budaya pelayanan excellent secara berkelanjutan

d)

Dengan mengabaikan visi pelayanan yang baru

25.

Jika Anda adalah seorang pemimpin organisasi, strategi apa yang dapat Anda rancang untuk meningkatkan kesadaran pentingnya peran setiap individu dalam pelayanan?

a)

Mengurangi komunikasi antar anggota tim

b)

Memberikan pelatihan dan keterlibatan aktif kepada seluruh anggota organisasi

c)

Mengabaikan kontribusi individu dalam pelayanan

d)

Membiarkan anggota organisasi bekerja tanpa arahan

26.

Bagaimana Anda akan merancang strategi untuk membangun budaya pelayanan excellent di sebuah organisasi, dengan mempertimbangkan lima langkah utama yang tercantum dalam gambar?

a)

Dengan menetapkan nilai inti pelayanan, mensosialisasikan nilai secara rutin, menjadikan pimpinan sebagai role model, mengintegrasikan budaya pelayanan dalam SOP dan evaluasi kinerja, serta memberikan penghargaan terhadap perilaku pelayanan unggul.

b)

Dengan fokus pada penghargaan saja tanpa memperhatikan nilai inti pelayanan.

c)

Dengan mengabaikan evaluasi kinerja dan hanya mengandalkan sosialisasi nilai.

d)

Dengan hanya memberikan pelatihan kepada karyawan tanpa melibatkan pimpinan.

27.

Jika Anda adalah seorang manajer, bagaimana Anda dapat memastikan bahwa nilai-nilai inti pelayanan seperti empati, responsif, dan profesional benar-benar diterapkan oleh seluruh anggota tim Anda?

a)

Dengan membiarkan anggota tim menentukan sendiri nilai-nilai yang mereka anggap penting.

b)

Dengan menetapkan nilai-nilai inti, mensosialisasikannya secara rutin, menjadi role model, mengintegrasikan dalam SOP dan evaluasi, serta memberikan penghargaan.

c)

Dengan hanya mengandalkan pelatihan satu kali tanpa evaluasi lanjutan.

d)

Dengan hanya memberikan penghargaan tanpa memperhatikan proses lainnya.

28.

Mengapa penting untuk mengintegrasikan budaya pelayanan ke dalam SOP dan evaluasi kinerja dalam upaya membangun budaya pelayanan excellent?

a)

Agar pimpinan tidak perlu menjadi role model.

b)

Agar budaya pelayanan menjadi bagian dari sistem kerja dan dapat diukur pencapaiannya.

c)

Agar SOP menjadi lebih panjang dan rumit.

d)

Agar karyawan tidak perlu mengikuti pelatihan lagi.

29.

Bagaimana pengaruh budaya kerja yang positif, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan terhadap efisiensi kerja dan kepuasan pasien dalam sebuah organisasi?

a)

Meningkatkan efisiensi kerja dan kepuasan pasien melalui budaya kerja yang negatif dan individualis.

b)

Meningkatkan efisiensi kerja, kesejahteraan tenaga kerja, dan kepuasan pasien.

c)

Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dengan budaya kerja yang tidak terstruktur dan tanpa orientasi pelayanan.

d)

Meningkatkan kepuasan pasien dengan budaya kerja yang berorientasi pada keuntungan semata.

30.

Perubahan penerapan sistem antrean digital di rumah sakit termasuk dalam jenis perubahan teknologi dan proses karena:

a)

Perubahan ini berfokus pada pelaporan dan sistem manajemen internal.

b)

Perubahan ini melibatkan adopsi teknologi baru dan penyesuaian alur kerja untuk efisiensi pelayanan.

c)

Perubahan ini menanamkan budaya kerja yang lebih profesional dan kolaboratif.

d)

Perubahan ini hanya mengubah struktur organisasi tanpa mempengaruhi proses kerja.

31.

Mengapa perubahan menuju budaya kerja yang lebih profesional, terbuka, dan kolaboratif dalam sebuah organisasi dikategorikan sebagai perubahan budaya?

a)

Karena perubahan ini berfokus pada nilai, sikap, dan perilaku kerja dalam organisasi.

b)

Karena perubahan ini melibatkan adopsi sistem informasi baru.

c)

Karena perubahan ini menyesuaikan alur kerja untuk efisiensi pelayanan.

d)

Karena perubahan ini merombak struktur organisasi.

32.

Apa langkah yang dapat diambil rumah sakit agar tetap relevan dan mampu bersaing?

a)

Mengurangi komunikasi dengan pasien.

b)

Menunda semua perubahan hingga pandemi berakhir.

c)

Mengabaikan regulasi baru dari pemerintah.

d)

Melakukan inovasi dalam pelayanan dan efisiensi operasional.

33.

Evaluasilah hubungan antara kurangnya kepercayaan terhadap pimpinan dan resistensi terhadap perubahan, serta berikan rekomendasi untuk meningkatkan kepercayaan tersebut dalam organisasi.

a)

Kurangnya kepercayaan terhadap pimpinan menyebabkan individu meragukan keputusan perubahan, sehingga menolak perubahan; rekomendasinya adalah meningkatkan transparansi dan keterbukaan pimpinan.

b)

Kurangnya kepercayaan terhadap pimpinan membuat individu lebih mendukung perubahan; rekomendasinya adalah mengurangi komunikasi pimpinan.

c)

Kurangnya kepercayaan terhadap pimpinan selalu meningkatkan produktivitas; rekomendasinya adalah membatasi interaksi pimpinan dengan karyawan.

d)

Kepercayaan terhadap pimpinan tidak berpengaruh pada resistensi; rekomendasinya adalah tidak perlu membangun kepercayaan.

34.

Bagaimana Anda merencanakan strategi untuk mengurangi resistensi ketika menerapkan perubahan teknologi di rumah sakit?

a)

Memaksa staf untuk menerima perubahan tanpa penjelasan.

b)

Memberikan pelatihan dan pendampingan teknis kepada staf yang belum terbiasa, serta mendengarkan kekhawatiran mereka secara empati.

c)

Mengabaikan kekhawatiran staf dan hanya memberikan insentif.

d)

Melibatkan staf hanya dalam tahap implementasi tanpa pelatihan.

35.

Jika Anda menjadi manajer perubahan di sebuah organisasi, bagaimana Anda dapat menggunakan pendekatan empati untuk mengatasi resistensi dari staf terhadap perubahan?

a)

Memaksa staf untuk mengikuti perubahan tanpa diskusi.

b)

Mendengarkan kekhawatiran staf dan menanganinya secara manusiawi.

c)

Memberikan hukuman kepada staf yang menolak perubahan.

d)

Mengabaikan keluhan staf dan fokus pada target organisasi.

36.

Strategi apa yang dapat Anda rancang untuk memastikan staf mendukung perubahan, berdasarkan prinsip pemberian insentif?

a)

Memberikan insentif hanya kepada manajer.

b)

Memberikan insentif kepada staf yang menolak perubahan.

c)

Menghargai individu yang mendukung perubahan dengan insentif.

d)

Tidak memberikan penghargaan kepada siapapun.

37.

Jelaskan bagaimana Anda akan menerapkan ketiga tahap dalam model manajemen perubahan Lewin (Unfreezing, Changing, Refreezing) jika Anda diminta untuk memimpin perubahan budaya kerja di sebuah organisasi. Berikan contoh langkah nyata pada setiap tahap.

a)

Unfreezing: Menstabilkan perubahan; Changing: Menyadarkan perlunya perubahan; Refreezing: Melaksanakan perubahan.

b)

Unfreezing: Menyadarkan perlunya perubahan; Changing: Melaksanakan perubahan; Refreezing: Menstabilkan perubahan menjadi budaya baru.

c)

Unfreezing: Menyadarkan perlunya perubahan; Changing: Menstabilkan perubahan; Refreezing: Melaksanakan perubahan.

d)

Unfreezing: Melaksanakan perubahan; Changing: Menstabilkan perubahan; Refreezing: Menyadarkan perlunya perubahan.

38.

Sebuah perusahaan ingin mengubah sistem kerjanya menjadi lebih fleksibel. Berdasarkan model manajemen perubahan Lewin, rencanakan strategi yang dapat digunakan pada tahap "Unfreezing" dan jelaskan alasan di balik strategi tersebut.

a)

Mengabaikan kekhawatiran karyawan terhadap perubahan.

b)

Langsung menerapkan sistem baru tanpa penjelasan.

c)

Menunda perubahan hingga semua setuju.

d)

Melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya perubahan.

39.

Analisis mengapa tahap "Refreezing" sangat penting dalam model manajemen perubahan dan apa risiko yang mungkin terjadi jika tahap ini diabaikan.

a)

Refreezing hanya penting untuk perusahaan besar.

b)

Refreezing dapat menghambat inovasi.

c)

Tanpa Refreezing, perubahan tidak akan menjadi budaya baru dan bisa kembali ke kebiasaan lama.

d)

Tanpa Refreezing, perubahan akan berjalan lebih cepat.

40.

Jelaskan bagaimana peran Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai penggerak dapat mempengaruhi keberhasilan perubahan dalam organisasi, dan berikan contoh strategi yang dapat digunakan untuk mendorong karyawan agar aktif dalam proses perubahan.

a)

SDM sebagai penggerak bertanggung jawab atas administrasi perubahan tanpa memotivasi karyawan.

b)

SDM sebagai penggerak hanya bertugas mengawasi karyawan tanpa memberikan motivasi.

c)

SDM sebagai penggerak memotivasi karyawan untuk terlibat aktif, misalnya dengan memberikan insentif dan penghargaan atas partisipasi dalam perubahan.

d)

SDM sebagai penggerak fokus pada pelatihan teknis tanpa memperhatikan keterlibatan karyawan.

41.

Evaluasi pentingnya peran SDM sebagai penghubung dalam proses perubahan organisasi. Bagaimana SDM dapat menjembatani kepentingan manajemen dan staf agar perubahan berjalan lancar?

a)

SDM sebagai penghubung fokus pada administrasi tanpa berperan dalam komunikasi.

b)

SDM sebagai penghubung dapat memfasilitasi komunikasi antara manajemen dan staf, sehingga tercipta kesepahaman dan kolaborasi dalam perubahan.

c)

SDM sebagai penghubung hanya bertugas menyampaikan instruksi dari manajemen tanpa memperhatikan kepentingan staf.

d)

SDM sebagai penghubung tidak diperlukan dalam proses perubahan organisasi.

42.

Strategi paling efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri karyawan dalam menggunakan sistem digital adalah...

a)

Mengurangi waktu tunggu.

b)

Meminta karyawan belajar sendiri

c)

Hanya mengandalkan dukungan dari manajemen puncak tanpa pelatihan.

d)

Memberikan pelatihan dan pendampingan intensif serta memastikan komunikasi yang jelas.

43.

Bagaimana etika kerja dapat memengaruhi karakter profesional seseorang dalam lingkungan kerja, dan mengapa aspek ini sangat penting dalam pelayanan kesehatan?

a)

Etika kerja hanya berfokus pada pencapaian target perusahaan tanpa memperhatikan nilai moral.

b)

Etika kerja tidak berpengaruh terhadap karakter profesional seseorang.

c)

Etika kerja hanya penting dalam bidang pendidikan, bukan pelayanan kesehatan.

d)

Etika kerja membentuk karakter profesional seperti tanggung jawab, kejujuran, disiplin, dan integritas, yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena berkaitan dengan kepercayaan pasien dan keselamatan nyawa manusia.

44.

Dalam pengambilan keputusan di sebuah institusi, bagaimana strategi yang dapat diterapkan untuk memastikan transparansi dan menghindari konflik kepentingan?

a)

Mengutamakan kepentingan pribadi dalam setiap keputusan

b)

Menyembunyikan informasi dari pihak yang berkepentingan

c)

Melibatkan seluruh pihak terkait dan mendokumentasikan proses secara terbuka

d)

Mengambil keputusan secara tertutup tanpa melibatkan pihak lain

45.

Bagaimana etika profesi kesehatan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan?

a)

Dengan mengabaikan kode etik, tenaga kesehatan dapat lebih bebas dalam mengambil keputusan; contohnya perawat tidak perlu mengikuti aturan profesi.

b)

Kepercayaan masyarakat tidak dipengaruhi oleh etika profesi kesehatan; contohnya apoteker hanya fokus pada penjualan obat.

c)

Dengan menjaga profesionalisme dan menjalankan tugas sesuai kode etik, tenaga kesehatan membangun kepercayaan masyarakat; contohnya dokter mengikuti kode etik kedokteran dari IDI.

d)

Etika profesi kesehatan hanya penting untuk dokter, tidak untuk profesi lain; contohnya analis kesehatan tidak memerlukan kode etik.

46.

Bagaimana strategi pelaksanaan CSR di sektor layanan kesehatan dapat dirancang untuk memberikan dampak sosial yang berkelanjutan, dan apa saja bentuk program yang dapat diimplementasikan?

a)

Dengan hanya memberikan donasi dana kepada masyarakat tanpa program lanjutan.

b)

Dengan membatasi CSR pada promosi produk rumah sakit saja.

c)

Melalui pengurangan jumlah tenaga medis tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat.

d)

Melalui pelayanan pengobatan gratis, edukasi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan limbah medis ramah lingkungan, dan kolaborasi pendidikan.

47.

Jika sebuah rumah sakit ingin memperluas jaringan dan kolaborasi melalui CSR, langkah strategis apa yang dapat diambil dan bagaimana hal tersebut dapat menciptakan dampak sosial yang positif?

a)

Menutup akses informasi kesehatan kepada masyarakat.

b)

Mengurangi jumlah program sosial yang dijalankan rumah sakit.

c)

Mengabaikan pengelolaan limbah medis yang ramah lingkungan.

d)

Mengadakan program magang dan pendidikan bersama universitas serta memberdayakan masyarakat melalui program kesehatan komunitas.

48.

Bagaimana Anda dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil sesuai dengan prinsip kepatuhan dalam sebuah organisasi?

a)

Dengan memeriksa dan mengikuti hukum, regulasi, serta kebijakan internal yang berlaku

b)

Dengan hanya mengikuti kebijakan eksternal

c)

Dengan membuat aturan baru tanpa referensi hukum

d)

Dengan mengabaikan regulasi demi efisiensi

49.

Bagaimana Anda akan menggunakan bukti dan penalaran untuk menindak staf yang melanggar aturan, meski ia berprestasi, agar keputusan Anda adil dan etis?

a)

Mengabaikan pelanggaran karena staf berprestasi.

b)

Memberikan hukuman yang sama untuk semua staf tanpa melihat kasus secara individual.

c)

Mengumpulkan bukti pelanggaran, mempertimbangkan prestasi, dan mendiskusikan solusi yang adil dengan staf terkait.

d)

Langsung memecat staf tanpa pertimbangan prestasi.

50.

Jika Anda dihadapkan pada dilema etika di tempat kerja, langkah strategis apa yang sebaiknya Anda lakukan sebelum mengambil keputusan akhir?

a)

Menunda keputusan hingga masalah selesai dengan sendirinya.

b)

Mengambil keputusan secara spontan tanpa analisis.

c)

Mengidentifikasi nilai-nilai yang terlibat, mengevaluasi pilihan berdasarkan dampaknya, dan berkonsultasi dengan tim etika atau pimpinan.

d)

Mengabaikan masukan dari tim etika dan hanya mempertimbangkan keuntungan perusahaan.

51.

Seorang kepala instalasi rumah sakit mengetahui bahwa salah satu dokter sering datang terlambat, tetapi sangat disukai pasien dan memiliki angka kesembuhan tinggi. Jika Anda adalah kepala instalasi tersebut, strategi apa yang paling tepat untuk mengatasi masalah ini agar tidak kehilangan dokter yang kompeten namun tetap menjaga disiplin staf?

a)

Memecat dokter tersebut agar menjadi contoh bagi staf lain

b)

Membiarkan dokter tersebut tanpa tindakan apapun agar pasien tetap puas

c)

Mencari solusi kompromi, misalnya memberikan peringatan dan menawarkan fleksibilitas jam kerja dengan evaluasi berkala

d)

Memberikan teguran keras tanpa kompromi agar disiplin tetap terjaga

52.

Apa risiko utama jika kepala instalasi rumah sakit memilih untuk menegur atau memberi sanksi kepada dokter yang sering terlambat namun sangat kompeten?

a)

Membuat pasien semakin puas

b)

Meningkatkan angka kesembuhan pasien

c)

Risiko kehilangan tenaga dokter yang kompeten

d)

Meningkatkan motivasi seluruh staf

53.

Jika Anda adalah seorang manajer yang menghadapi dokter yang melanggar aturan kerja, bagaimana Anda dapat merencanakan langkah penanganan agar aturan tetap ditegakkan tanpa merusak hubungan kerja? Jelaskan strategi yang dapat Anda gunakan berdasarkan pendekatan yang efektif.

a)

Melakukan dialog pribadi dan terbuka, menjelaskan konsekuensi perilaku, serta mempertimbangkan fleksibilitas jam kerja jika sesuai kebijakan.

b)

Memberikan sanksi langsung dan mengabaikan hubungan kerja.

c)

Mengumumkan pelanggaran di depan umum untuk memberi efek jera.

d)

Membiarkan pelanggaran tanpa tindakan agar hubungan tetap baik.

54.

Mengapa proses internalisasi nilai inti melalui pelatihan, komunikasi, dan budaya kerja penting untuk keberlanjutan organisasi?

a)

Internalisasi nilai hanya diperlukan saat organisasi menghadapi masalah besar.

b)

Pelatihan dan komunikasi tidak berpengaruh terhadap budaya kerja organisasi.

c)

Menginternalisasi nilai melalui pelatihan, komunikasi, dan budaya kerja membantu memastikan seluruh anggota organisasi memahami dan menerapkan nilai inti secara konsisten.

d)

Budaya kerja tidak perlu disesuaikan dengan nilai inti organisasi.

55.

Bagaimana Anda merancang sistem evaluasi kinerja yang menggunakan nilai sebagai indikator utama, dan apa dampak strategisnya terhadap budaya organisasi?

a)

Dengan hanya menilai kinerja berdasarkan kehadiran, organisasi dapat meningkatkan disiplin tanpa memperhatikan nilai.

b)

Dengan mengabaikan nilai dalam evaluasi kinerja, organisasi dapat fokus pada pencapaian target finansial semata.

c)

Dengan mengintegrasikan nilai ke dalam indikator evaluasi kinerja, organisasi dapat memperkuat budaya kerja yang selaras dengan visi dan misi, serta mendorong perilaku positif di seluruh staf.

d)

Dengan menggunakan nilai sebagai indikator sekunder, organisasi dapat mengurangi beban administrasi tanpa memengaruhi budaya kerja.

56.

Rancanglah mekanisme penghargaan yang efektif untuk staf yang menunjukkan perilaku selaras dengan nilai organisasi, dan jelaskan alasan strategis di balik mekanisme tersebut.

a)

Dengan memberikan penghargaan secara terbuka dan terukur kepada staf yang menunjukkan perilaku selaras dengan nilai, organisasi dapat memperkuat motivasi dan konsistensi perilaku positif di lingkungan kerja.

b)

Dengan memberikan penghargaan secara acak mempertimbangkan perilaku, organisasi dapat meningkatkan suasana kerja.

c)

Dengan tidak memberikan penghargaan sama sekali, organisasi dapat menghemat biaya.

d)

Dengan memberikan penghargaan hanya kepada pimpinan, organisasi dapat mengabaikan kontribusi staf dalam penerapan nilai.

57.

Jelaskan mengapa penerapan etika dan nilai profesional menjadi sangat krusial dalam sektor kesehatan, terutama ketika keputusan dapat menyangkut hidup dan mati pasien.

a)

Karena etika dan nilai profesional hanya berpengaruh pada reputasi organisasi, bukan pada pasien.

b)

Karena keputusan di sektor kesehatan dapat berdampak langsung pada hidup dan mati pasien, sehingga penerapan etika dan nilai profesional sangat penting untuk memastikan keputusan yang bertanggung jawab dan bermoral.

c)

Karena etika dan nilai profesional dapat meningkatkan efisiensi kerja tanpa mempengaruhi pasien.

d)

Karena keputusan di sektor kesehatan seringkali bersifat administratif saja.