Font size
WorksheetsAl-Quran dan Hadits XI Bab 1-5
Total questions: 40
Worksheet time: 20mins
Perhatikan teks berikut! Dalam kehidupan modern, banyak manusia bekerja keras siang dan malam untuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas. Tidak sedikit yang merasa hidupnya hanya untuk mencapai kesuksesan duniawi. Padahal Allah SWT telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dalam firman-Nya: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56) Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap manusia bahwa hidup di dunia memiliki arah dan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar urusan dunia. Berdasarkan teks dan ayat di atas, pesan utama yang hendak disampaikan Allah SWT kepada manusia adalah…
Manusia diciptakan untuk menguasai bumi dan mencapai kejayaan duniawi.
Tujuan hidup manusia adalah menyeimbangkan antara kenikmatan dunia dan akhirat.
Hakikat penciptaan manusia adalah beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.
Manusia bebas menentukan arah hidupnya tanpa campur tangan agama.
Manusia diciptakan hanya untuk saling bersaing dan memperbanyak harta.
Perhatikan teks berikut! Dalam pembelajaran biologi, siswa mengenal proses perkembangan manusia dari pembuahan, pembentukan embrio, hingga janin yang tumbuh dalam rahim. Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa proses ini terjadi secara bertahap dan sangat teratur. Al-Qur’an telah menyebutkan tahapan ini jauh sebelum ilmu modern menemukannya, sebagaimana firman Allah SWT: ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Lalu air mani itu Kami jadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 13–14) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan justru memperkuat keagungan dan kebesaran Allah SWT dalam proses penciptaan manusia. Hubungan antara ayat Al-Qur’an di atas dengan penemuan sains modern adalah…..
Al-Qur’an menjelaskan proses penciptaan manusia secara metaforis tanpa makna ilmiah.
Ayat tersebut hanyalah kiasan yang tidak sesuai dengan penemuan biologi modern.
Penemuan ilmiah modern membuktikan kebenaran tahapan penciptaan manusia sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an.
Sains dan Al-Qur’an memiliki penjelasan yang saling bertentangan tentang asal manusia.
Ilmu pengetahuan tidak bisa digunakan untuk memahami kebenaran ayat Al-Qur’an.
Perhatikan teks berikut! Setiap manusia berawal dari sesuatu yang kecil dan tampak tidak berarti, yaitu setetes air mani. Namun dari proses yang sangat kompleks, manusia kemudian terbentuk menjadi makhluk yang sempurna dengan akal, hati, dan potensi besar. Allah SWT menggambarkan proses ini dalam firman-Nya: ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (QS. Al-Mu’minūn [23]: 13–14) Dalam dunia medis, proses ini dikenal dengan tahap embriologi, yang semuanya terjadi di dalam rahim dengan sistem biologis yang menakjubkan. Semakin dalam manusia meneliti proses itu, seharusnya semakin besar pula rasa syukurnya kepada Sang Pencipta. Pesan utama yang dapat dipetik dari ayat dan penjelasan di atas adalah…
Penciptaan manusia adalah hasil kebetulan biologis tanpa peran Tuhan.
Proses penciptaan manusia menunjukkan kesempurnaan ilmu pengetahuan modern.
Keajaiban penciptaan manusia seharusnya menumbuhkan rasa syukur dan pengakuan atas kebesaran Allah SWT.
Al-Qur’an hanya menjelaskan penciptaan manusia untuk tujuan ilmiah, bukan spiritual.
Manusia tidak perlu mempelajari ilmu sains karena semuanya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Perhatikan teks berikut! Dalam ayat QS. Al-Mu’minūn [23]: 13–14, Allah SWT menggambarkan tahapan penciptaan manusia dengan sangat rinci dari nuthfah, ‘alaqah, mudhghah, hingga menjadi makhluk yang sempurna. Ayat tersebut ditutup dengan kalimat: فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” Kalimat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk menjadi makhluk yang berakhlak dan bertanggung jawab. Namun, dalam kehidupan modern, banyak orang justru menggunakan kelebihannya untuk berbuat zalim, menipu, atau merusak lingkungan. Makna nilai yang seharusnya muncul dari kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan terbaik menurut ayat di atas adalah….
Manusia bebas menggunakan kelebihannya tanpa batas karena ia makhluk paling sempurna.
Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuan fisiknya yang melebihi makhluk lain.
Sebagai ciptaan terbaik, manusia wajib menjaga moral, lingkungan, dan menghargai sesama.
Manusia unggul atas makhluk lain karena kemampuan menguasai teknologi modern.
Kesempurnaan manusia menunjukkan bahwa ia tidak lagi membutuhkan petunjuk dari Allah.
Perhatikan teks berikut! Dalam ayat QS. Al-Mu’minūn [23]: 13, Allah menyebut manusia diciptakan dari نُّطْفَةٍ (nuthfah). Dalam ilmu biologi, nuthfah ini menggambarkan tahap awal kehidupan manusia yang dimulai dari pertemuan sel laki-laki dan perempuan. Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia bermula dari sesuatu yang sangat kecil dan lemah, namun penuh potensi. Berdasarkan konteks di atas, makna yang paling tepat dari kata nuthfah adalah …
Daging yang dapat dikunyah
Segumpal darah yang menempel
Air mani sebagai asal penciptaan manusia
Tulang yang membentuk kerangka tubuh
Nafas kehidupan yang pertama kali ditiupkan
Perhatikan teks berikut! Di antara tanda kebesaran Allah SWT adalah bagaimana manusia dilahirkan dari kondisi yang sangat lemah dan tidak mengetahui apa pun. Namun, seiring waktu, Allah memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan, dan akal agar manusia mampu belajar dan bersyukur. Allah SWT berfirman: وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun; dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78) Dalam konteks kehidupan modern, kemampuan mendengar, melihat, dan berpikir menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, sebagian manusia justru menggunakan potensi itu untuk hal-hal yang merusak, bukan untuk kebaikan dan rasa syukur. Pesan utama yang dapat diambil dari ayat di atas adalah …
Manusia lahir tanpa potensi apa pun sehingga harus bergantung pada lingkungan.
Semua kemampuan manusia berasal dari usaha dan pengalaman hidupnya.
Pendengaran, penglihatan, dan akal adalah karunia Allah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui indra, bukan dari petunjuk wahyu.
Manusia diciptakan untuk bersaing dan menjadi yang paling unggul di antara sesamanya
Perhatikan teks berikut! Seorang bayi lahir ke dunia tanpa mampu berbicara, melihat dengan jelas, atau memahami lingkungan sekitarnya. Namun, seiring pertumbuhan, ia belajar mendengar, berbicara, dan berpikir.
Semua kemampuan itu merupakan anugerah Allah SWT sebagaimana firman-Nya:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(QS. An-Naḥl [16]: 78)
Dari ayat ini, tampak bahwa Allah menciptakan manusia dengan potensi besar untuk belajar dan berkembang, bukan untuk berhenti pada kebodohan.
Makna pendidikan yang terkandung dalam ayat tersebut adalah …
Ilmu dan kemampuan manusia diperoleh semata-mata karena keturunan.
Manusia memiliki potensi belajar karena Allah memberinya alat dan akal untuk berpikir dan bersyukur..
Pendengaran dan penglihatan tidak berkaitan dengan perkembangan pengetahuan.
Pendengaran dan penglihatan tidak berkaitan dengan perkembangan pengetahuan.
Semua manusia memiliki kemampuan yang sama tanpa perbedaan potensi.
Perhatikan teks berikut! Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Sejak awal, Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi, yaitu makhluk yang diberi amanah untuk mengelola, memakmurkan, dan menjaga kehidupan sesuai petunjuk-Nya. Firman Allah SWT: وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً (QS. Al-Baqarah [2]: 30) Berdasarkan teks di atas, pengertian khalifah di bumi yang tepat adalah …
Pemimpin yang berkuasa atas semua makhluk di bumi.
Makhluk yang diciptakan untuk bersaing dengan malaikat.
Nabi dan rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu.
Manusia yang diberi amanah untuk mengatur dan memelihara kehidupan di bumi sesuai kehendak Allah.
Orang yang hanya memiliki kekuasaan politik dalam pemerintahan Islam.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT bukan sekadar untuk hidup dan menikmati dunia, tetapi untuk menjalankan tugas ibadah dan pengabdian kepada-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Tujuan utama penciptaan manusia dijelaskan Allah dalam salah satu ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa seluruh makhluk hidup diciptakan agar beribadah hanya kepada-Nya. Ayat yang menjadi dasar atau dalil tujuan penciptaan manusia adalah …
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Suatu malam, Rasulullah ﷺ salat begitu lama hingga kedua kakinya bengkak. Melihat hal itu, Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini padahal dosamu yang lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah?” Rasulullah ﷺ menjawab:
"أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا"
Artinya: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Bukhari dan Muslim)Pelajaran utama dari peristiwa tersebut adalah …
Rasa syukur cukup diungkapkan dengan ucapan “alhamdulillah”.
Syukur sejati ditunjukkan dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad ﷺ beribadah karena takut dosanya belum diampuni.
Syukur hanya diwajibkan bagi orang yang mendapatkan kenikmatan dunia.
Rasulullah ﷺ ingin menunjukkan kelebihan dirinya di hadapan umatnya.
Dalam kehidupan modern, banyak anak yang sibuk dengan urusannya sendiri, hingga lupa memperhatikan kedua orang tua. Padahal, Islam menempatkan bakti kepada orang tua sebagai kewajiban yang sangat tinggi, bahkan setelah perintah untuk menyembah Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا … (QS. Al-Isra’ [17]: 23–24) Ayat ini memerintahkan agar manusia menghormati dan memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang, terutama ketika mereka telah lanjut usia. Pesan utama dari ayat di atas adalah …
Menjaga hubungan baik dengan sesama teman agar tidak membuat orang tua sedih.
Kewajiban berbakti kepada orang tua harus didahulukan setelah ibadah kepada Allah.
Membalas jasa orang tua cukup dengan memberi nafkah secara materi.
Berbakti kepada orang tua hanya ketika mereka masih kuat dan sehat.
Menghormati orang tua dilakukan jika mereka berbuat baik kepada kita.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا (QS. Al-Isra’ [17]: 23) Pertanyaan: Apakah arti dari potongan ayat di atas?
Dan Tuhanmu menyuruh agar kamu selalu berdoa kepada orang tua.
Dan Tuhanmu menyuruh agar kamu hanya menghormati orang tua dan keluarga.
Dan Tuhanmu mengingatkan agar kamu menolong sesama manusia.
Dan Tuhanmu menyuruh agar kamu hanya menghormati orang tua dan keluarga.
Dan Tuhanmu memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu.
Luqman dikenal sebagai seorang yang bijak. Ia memberikan nasihat-nasihat berharga kepada anaknya agar selalu beriman dan berbuat baik. Salah satu nasihatnya terekam dalam Al-Qur’an: يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.) Luqman juga menasihati agar anaknya berbakti kepada orang tua, menegakkan salat, dan bersabar atas setiap ujian kehidupan. Berdasarkan kandungan ayat tersebut, sikap yang paling mencerminkan nilai ajaran Luqman kepada anaknya adalah …
Menyibukkan diri dengan urusan dunia, tetapi tetap sesekali beribadah.
Menganggap remeh dosa kecil karena mudah diampuni oleh Allah SWT.
Beramal hanya ketika dilihat orang lain agar mendapatkan pujian.
Menghormati orang tua, menegakkan salat, dan menjauhi perbuatan dosa.
Menghindari salat ketika sedang menghadapi kesulitan hidup.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (QS. Luqman [31]: 16) Pesan moral apa yang paling tepat dapat diambil dari ayat tersebut?
Amal sekecil apa pun, baik atau buruk, pasti akan diketahui dan dibalas oleh Allah.
Setiap amal manusia akan dibalas sesuai dengan niatnya, tanpa perlu disembunyikan.
Allah hanya memperhatikan amal besar manusia, sedangkan amal kecil diabaikan.
Amal manusia hanya dihitung bila dilakukan di tempat suci dan waktu tertentu.
Amal sekecil apa pun, baik atau buruk, pasti akan diketahui dan dibalas oleh Allah.
رَغِمَ أَنْفِهِ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفِهِ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفِهِ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِندَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ (HR. Muslim) Artinya: “Celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang!” Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapatkan salah satu atau kedua orang tuanya masih hidup di masa tuanya, tetapi ia tidak (menggunakannya untuk berbakti) hingga menyebabkan ia tidak masuk surga.” Berdasarkan hadis tersebut, nilai moral apa yang paling penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari?
Menghormati guru lebih utama daripada orang tua.
Orang yang gagal membahagiakan orang tuanya termasuk orang yang merugi.
Berbakti kepada orang tua hanya diperlukan selama mereka masih bekerja.
Memasuki surga tidak ada hubungannya dengan sikap terhadap orang tua.
Doa orang tua tidak berpengaruh pada kehidupan anak.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32) Rina adalah siswi kelas XI yang sangat aktif di media sosial. Ia sering berinteraksi dengan lawan jenis tanpa batas, saling mengirim pesan pribadi yang makin lama makin menjurus ke arah hubungan yang tidak sehat. Temannya, Sinta, mengingatkannya dengan lembut tentang bahaya pergaulan bebas dan membacakan ayat di atas. Sikap yang paling tepat sesuai kandungan ayat adalah …
Islam hanya melarang zina secara fisik, bukan dalam bentuk komunikasi daring.
Menjaga diri dari zina berarti menghindari segala hal yang bisa menjermuskan ke arah itu.
Pergaulan bebas diperbolehkan selama tidak menimbulkan zina secara nyata.
Larangan zina hanya berlaku bagi orang yang sudah menikah.
Media sosial tidak berpengaruh pada moral remaja jika digunakan untuk hiburan.
Dewi dan Raka adalah teman sekelas yang sering belajar bersama. Awalnya mereka hanya berdiskusi tugas sekolah, tapi lama-lama mulai saling curhat pribadi dan bertukar pesan setiap malam. Beberapa teman memperingatkan bahwa kedekatan mereka bisa menimbulkan fitnah. Dewi merasa tidak melakukan kesalahan karena belum “melanggar batas”. Jika kamu menjadi Dewi, sikap apa yang paling sesuai dengan kandungan QS. Al-Isrā’ [17]: 32?
Tetap melanjutkan hubungan dekat itu karena belum terjadi hal yang dilarang secara nyata.
Mengurangi intensitas komunikasi pribadi dan menjaga jarak agar tidak menimbulkan fitnah.
Menjauh sepenuhnya dari semua teman lawan jenis agar aman dari dosa.
Mengabaikan nasihat teman karena mereka tidak tahu isi hatinya.
Menghapus semua media sosial agar tidak tergoda dalam pergaulan.
“الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ” “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera; dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (untuk menegakkan) hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang beriman.” Beberapa siswa kelas XI sedang membicarakan berita viral tentang skandal hubungan bebas di kalangan remaja yang berujung pada hukuman sosial dan kehilangan masa depan. Guru mereka kemudian membacakan ayat di atas dan menjelaskan bahwa Islam bukan sekadar menghukum, tetapi juga memperingatkan agar manusia menjaga kehormatan dan mencegah diri dari perbuatan yang menjerumuskan ke arah zina. Makna mendalam apa yang dapat dipetik oleh remaja dari ayat dan kisah tersebut?
Islam ingin mempermalukan orang yang berbuat salah di depan umum.
Hukuman dalam Islam bertujuan agar orang tidak berani berbuat dosa dan menjaga kehormatan diri.
Ayat tersebut hanya berlaku pada masa Nabi Muhammad ﷺ, tidak untuk sekarang.
Hukuman adalah bentuk balas dendam terhadap pelaku zina.
Ayat itu hanya ditujukan untuk laki-laki, bukan perempuan.
Nama Rani mendadak viral di media sosial. Video dirinya bersama seorang laki-laki di sebuah kamar hotel tersebar luas direkam diam-diam oleh teman laki-lakinya sendiri. Awalnya, mereka hanya pasangan remaja biasa: sering nongkrong, saling curhat, dan menganggap hubungan mereka “dewasa”. Namun, tanpa sadar, pergaulan mereka melewati batas. Setelah video itu beredar, kehidupan Rani berubah drastis. Ia tidak berani ke sekolah, orang tuanya menangis setiap malam, dan sebagian teman menjauh. Di dunia maya, ia dihujat habis-habisan. Rani menyesal, tapi semua sudah terlambat. Dalam kesepiannya, ia membaca berita tentang hukum Islam terkait zina yang menyebutkan: “الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ...” (QS. An-Nūr [24]: 2) Ia merenung lama. Bukan karena takut akan cambuk, tetapi karena sadar betapa Allah sangat menjunjung tinggi kehormatan manusia. Islam menegaskan hukuman tegas bukan untuk menyiksa, tetapi agar manusia tidak meremehkan dosa yang menghancurkan masa depan dan martabat. Rani menulis di buku hariannya: “Aku tidak dihukum oleh cambuk, tapi oleh rasa malu dan penyesalan. Andai dulu aku lebih menjaga diriku, aku tak perlu menanggung luka sebesar ini.” Beberapa tahun kemudian, setelah lulus, Rani menjadi relawan di sebuah lembaga edukasi digital. Ia membantu anak muda memahami bahaya pergaulan bebas dan eksploitasi online. Ia berkata kepada para remaja: “Aku bukan orang suci. Tapi aku tahu, batas yang Allah buat itu bukan untuk membatasi cinta, melainkan untuk menjaga harga diri kita sendiri.” Berdasarkan kisah Rani dan kandungan QS. An-Nūr [24]: 2, apa pesan moral yang paling relevan bagi remaja masa kini?
Hukuman cambuk tidak relevan di zaman modern.
Menjaga kehormatan diri dan membatasi pergaulan adalah bentuk ketaatan pada Allah.
Media sosial adalah penyebab utama dosa dan harus dihapus.
Setiap kesalahan remaja seharusnya tidak perlu disesali.
Orang yang berbuat dosa tidak mungkin bisa berubah.
Perhatikan hadis berikut ini! “لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Maksud yang paling tepat dari hadis tersebut adalah ....
Iman seseorang berkurang ketika ia melakukan dosa besar seperti zina.
Zina hanya dilarang bagi orang yang sudah menikah.
Orang beriman tidak akan pernah melakukan kesalahan.
Dosa zina dapat dihapus tanpa taubat.
Zina diperbolehkan jika tidak diketahui orang lain.
Reza duduk di bangku paling belakang kelas. Ia terkenal santai, tapi juga aktif di media sosial. Setiap kali istirahat, ia sering membuka akun-akun hiburan dan tanpa sadar melihat banyak konten yang menampilkan aurat perempuan. Awalnya ia merasa biasa saja, tapi lama-kelamaan pikirannya mulai dipenuhi bayangan dan keinginan yang tidak baik. Ia sadar bahwa semua itu berawal dari pandangan mata. Suatu hari, temannya menegur, “Za, katanya kamu ikut IRMA, tapi masih suka scroll akun-akun kayak gitu?” Reza terdiam. Malamnya ia membuka mushaf dan membaca firman Allah: “قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ...” “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangan dan menjaga kemaluannya...” (QS. An-Nūr [24]: 30) Sejak itu, Reza mulai menata ulang kebiasaannya. Ia menghapus akun-akun yang tidak bermanfaat, menjaga pandangan, dan membatasi interaksi digital yang mengarah pada dosa pandangan. Ia menyadari, menjaga pandangan adalah langkah awal mencegah zina hati dan perbuatan. Berdasarkan kisah Reza dan kandungan QS. An-Nūr ayat 30, langkah preventif yang paling tepat bagi remaja agar terhindar dari perbuatan zina adalah ....
Menghapus akun media sosial agar tidak melihat siapa pun.
Menundukkan pandangan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan syahwat.
Menganggap wajar konten berbau maksiat karena semua orang juga menontonnya.
Bergaul bebas asal tidak sampai melakukan zina fisik.
Menyalahkan media sosial atas perilaku maksiat manusia.
Nadia dan Clara sudah bersahabat sejak SMP. Mereka belajar bersama, saling mendukung, dan tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama. Ketika SMA, mereka sering satu kelompok dalam tugas, termasuk saat membuat proyek tentang kerukunan antarumat beragama. Namun suatu hari, ada teman baru yang berbisik pada Nadia, “Kamu kan muslim, kok dekat banget sama Clara yang non-muslim? Bukankah itu bisa menurunkan keimananmu?” Nadia terdiam. Ia lalu membuka mushaf digital dan menemukan ayat: “قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ - لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ...” (QS. Al-Kāfirūn [109]: 1–6) Nadia kemudian berkata pelan pada temannya, “Aku bersahabat dengan Clara bukan untuk mengikuti agamanya, tapi untuk menghargainya sebagai manusia. Kita boleh berbeda keyakinan, tapi tetap bisa saling menghormati.” Sikap yang paling tepat bagi Nadia agar tetap menjaga iman sekaligus persahabatan adalah ....
Menjauhi Clara agar imannya tidak terganggu.
Mengajak Clara beribadah bersama agar lebih akrab.
Menghormati Clara tanpa mencampuradukkan keyakinan agama.
Mengikuti sebagian tradisi agama Clara demi menjaga persahabatan.
Tidak mau berteman dengan siapa pun yang berbeda agama.
Perhatikan firman Allah berikut ini: “لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ” (QS. Al-Kāfirūn [109]: 6) Makna yang paling tepat dari potongan ayat tersebut adalah …
Untukmu agamaku dan untukku agamamu.
Agamamu untukmu dan agamaku untukku.
Amalku untukmu, untukmu amalku.
Bagiku amalku dan bagimu amalanmu.
Setiap orang mendapat balasan dari amal perbuatannya.
Suatu ketika, kaum musyrik Quraisy menawarkan kompromi kepada Rasulullah ﷺ agar mereka dan umat Islam saling bergantian dalam beribadah: satu tahun menyembah Allah, satu tahun menyembah berhala. Sebagai jawaban atas tawaran itu, Allah menurunkan surat Al-Kāfirūn. Berdasarkan kisah tersebut, tujuan utama turunnya surat Al-Kāfirūn adalah...
Agar Rasulullah menyembah berhala agar disukai kaum Quraisy.
Menunjukkan bahwa semua agama sama dan bisa disatukan.
Menegaskan bahwa tidak ada kompromi dalam urusan akidah.
Mengajarkan umat Islam untuk saling bergantian dalam ibadah.
Menyuruh Nabi menghormati berhala agar tidak dimusuhi Quraisy.
Seorang siswa bertanya dalam diskusi kelas Qur’an Hadis: “Kalau Allah Maha Kuasa, kenapa tidak menciptakan satu agama saja agar semua manusia menyembah-Nya dengan cara yang sama?” Pertanyaan tersebut dapat dijawab berdasarkan hikmah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa …
Allah sengaja menciptakan banyak agama agar manusia bingung memilih jalan kebenaran.
Perbedaan agama adalah ujian bagi manusia untuk memilih dengan akal dan hati yang bersih.
Semua agama benar dan menuju Tuhan yang sama tanpa perbedaan.
Manusia dibiarkan bebas tanpa petunjuk karena semua jalan sama baiknya.
Nabi Muhammad diutus hanya untuk bangsa Arab, bukan seluruh manusia.
Di sebuah sekolah negeri, terdapat siswa dari berbagai latar belakang agama. Saat kegiatan bakti sosial, Arif (seorang Muslim) bekerja sama dengan teman sekelasnya, Dimas, yang beragama lain. Dimas menghormati Arif yang meminta izin salat terlebih dahulu, dan Arif pun tidak memaksakan ajarannya kepada Dimas. Keduanya tetap bekerja sama dengan baik dan saling menghargai. Perilaku Arif dalam kisah di atas mencerminkan makna dari firman Allah dalam QS. Yunus ayat 41. Makna yang paling tepat dari ayat tersebut adalah …
Setiap orang berhak memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinannya.
Seorang Muslim harus menjaga akidah sambil menghormati keyakinan orang lain.
Semua agama sama dan tidak ada perbedaan di sisi Allah.
Umat Islam dilarang bergaul dengan orang yang berbeda agama.
Amalan semua manusia pasti diterima tanpa melihat keyakinannya.
Suatu hari di media sosial, ramai perdebatan tentang gaya hidup “bebas memilih tanpa batas”. Ada yang berkata, “Yang penting bahagia, mau percaya Tuhan atau tidak, itu urusan pribadi.” Namun, ada juga yang mengingatkan bahwa kebebasan sejati harus diiringi dengan tanggung jawab di hadapan Allah. Sikap yang paling tepat menurut ajaran Islam adalah …
Allah membiarkan manusia bebas tanpa arah dan tanpa tanggung jawab.
Manusia bebas memilih antara beriman atau kafir, namun setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Semua pilihan manusia benar selama niatnya tidak menyakiti orang lain.
Kebebasan manusia membuktikan bahwa Tuhan tidak mengatur kehidupan mereka.
بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا QS. Al-Kahfi [18]: 29 ditampilkan dalam pembahasan. Maksud dari potongan ayat yang digarisbawahi adalah …
Air panas yang menjadi ujian bagi orang beriman.
Cairan mendidih yang menjadi azab bagi orang kafir.
Air biasa yang terasa pahit karena dosa-dosa manusia.
Air logam cair yang menyejukkan penghuni neraka.
Air minum dunia yang mengingatkan manusia pada neraka.
Perhatikan penggalan ayat QS. Al-Hujurāt [49]: 12 tentang larangan ghibah. Di sekolah, beberapa siswa sering membuat grup obrolan yang membahas keburukan teman sekelasnya. Mereka tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan termasuk ghibah. Salah satu siswa, Nabila, mulai merasa bersalah dan teringat ayat Al-Qur’an di atas. Berdasarkan kisah di atas, perilaku seperti yang dilakukan teman-teman Nabila dapat disamakan dengan …
Memberi nasihat dengan cara yang baik di belakang orangnya.
Mengingatkan kesalahan teman secara tertutup agar ia berubah.
Membicarakan keburukan seseorang tanpa kehadirannya.
Berdiskusi untuk mencari solusi atas perilaku teman.
Menyampaikan fakta yang diketahui untuk kepentingan umum.
Suatu hari, di kelas XI terjadi perselisihan kecil antara dua teman karena hal sepele: komentar di unggahan media sosial. Salah satu dari mereka membuat story yang menyindir temannya secara halus, lalu beberapa teman lain ikut menertawakan. Dalam beberapa hari, suasana kelas jadi canggung dan saling diam-diaman. Namun, seorang teman lain memilih membuat chat group kecil untuk mengajak keduanya berdamai dan saling memahami perasaan masing-masing. Jika dikaitkan dengan pesan QS. Al-Hujurāt ayat 10–11, sikap yang ditunjukkan teman yang berusaha memperbaiki hubungan tersebut mencerminkan …
Upaya menjaga ukhuwah dan menghindari sikap saling merendahkan.
Rasa ingin tahu terhadap masalah orang lain agar bisa ikut campur.
Pembelaan terhadap salah satu pihak yang lebih populer di kelas.
Tindakan netral agar tidak disalahkan oleh kedua belah pihak.
Strategi mencari perhatian agar dianggap bijak oleh teman-temannya.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Hendaklah sebagian dari mereka memperdalam pengetahuan tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.". Di sebuah sekolah, OSIS mengadakan kegiatan sosial bertema “Remaja Beraksi untuk Kebaikan”. Tidak semua siswa bisa ikut karena keterbatasan kuota. Beberapa yang terpilih berangkat mengikuti pelatihan kepemimpinan, nilai-nilai sosial, dan penguatan karakter. Setelah pulang, mereka membuat program kecil di sekolah: mengajak teman-teman menjaga kebersihan, saling menasihati, dan membuat kampanye digital bertema akhlak remaja. Namun, sebagian teman justru berkata, “Ngapain sih sok bijak? Kita kan belum tentu lebih buruk.” Kisah di atas paling sesuai dengan kandungan QS. At-Taubah ayat 122 karena menunjukkan bahwa …
Semua siswa wajib ikut kegiatan agar tidak tertinggal ilmu.
Sebagian siswa perlu belajar hal baik lebih dalam lalu menyebarkannya kepada teman-temannya.
Ilmu yang diperoleh dari kegiatan cukup disimpan dan dibagikan ke orang terdekat.
Pelatihan seperti itu tidak perlu karena sudah diajarkan di kelas.
Menyebarkan ilmu hanya tugas pemimpin, bukan siswa biasa.
Dalam ayat yang menampilkan frasa “ulul albab” (QS. Al-Baqarah dan ayat serupa tentang penciptaan langit dan bumi), arti dari “ulul albab” adalah …
Orang-orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan umum.
Orang yang rajin berpikir dan menggunakan akal.
Orang yang memiliki jabatan tinggi dan dihormati di masyarakat.
Orang yang selalu mengingat Allah dan menggunakan akalnya untuk memahami ciptaan-Nya.
Orang yang cerdas dalam berlogika dalam memahami ketuhanan.
Ayat manakah yang menjadi dalil utama tentang keutamaan orang yang beriman dan berilmu?
QS. Al-Baqarah [2]: 197
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيم
QS. Al-Mujādilah [58]: 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
QS. Az-Zalzalah [99]: 7
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَه
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)
QS. Al-Baqarah [2]: 197
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Salsa tinggal di lingkungan yang penuh dengan godaan dunia digital. Banyak teman sebaya yang lebih tertarik menjadi viral di media sosial daripada memperdalam pengetahuan dan akhlak. Namun Salsa berpikir, “Kalau aku hanya mengikuti tren tanpa ilmu, hidupku akan dikendalikan oleh orang lain.” Ia lalu mulai membaca buku, mengikuti kajian remaja, dan aktif bertanya hal-hal yang belum ia pahami. Suatu hari, seorang temannya bertanya sinis, “Kenapa kamu repot-repot belajar terus? Bukankah nanti bisa cari di internet?” Berdasarkan kisah dan ajaran Islam, hukum menuntut ilmu adalah …
Sunnah, karena ilmu bisa diperoleh kapan saja.
Fardhu kifayah, karena cukup diwakili oleh sebagian orang.
Wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Mubah, tergantung niat masing-masing.
Makruh jika membuat seseorang sibuk dari hiburan.
Beberapa siswa sedang membuat konten dakwah di media sosial. Salah satu dari mereka, tanpa memeriksa kebenarannya, menuliskan kalimat yang ia kira hadis Nabi: “Barang siapa tidak senyum pada hari Jumat, maka amalnya tidak diterima.” Konten itu viral, tetapi ternyata tidak ada hadis yang sahih seperti itu. Saat diberi tahu, siswa itu berkata, “Yang penting kan maksudnya baik, biar orang semangat berbuat baik.” Sikap dan perbuatannya menurut ajaran Islam adalah …
Makruh, karena niatnya untuk mengajak kepada kebaikan.
Mubah, jika tidak ada maksud merugikan orang lain.
Dosa kecil, selama segera bertaubat setelahnya.
Haram dan termasuk dosa besar, karena menisbatkan sesuatu yang tidak benar kepada Rasulullah ﷺ.
Diperbolehkan, bila untuk menyampaikan pesan moral yang baik.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Lalu air mani itu Kami jadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,
kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Setelah itu Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini!
Berdasarkan ayat di atas, pernyataan yang benar adalah …
Manusia diciptakan dengan proses bertahap menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah.
Penciptaan manusia dari tanah hanya bersifat simbolis, tidak menunjukkan kekuasaan Allah.
Manusia memiliki asal-usul fisik dari tanah dan memiliki ruh yang ditiupkan Allah.
Proses penciptaan manusia menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan mendukung ayat-ayat Al-Qur’an.
Penciptaan manusia dari tanah menunjukkan bahwa manusia boleh berlaku sombong terhadap ciptaan lainnya.
Seorang siswa bernama Seno merasa kesal karena sering diminta membantu orang tuanya berjualan di warung setelah pulang sekolah. Ia ingin bermain seperti teman-temannya. Namun ketika membaca QS. Al-Isra’ 23–24, Rafi mulai berpikir ulang tentang kewajiban terhadap orang tuanya. Berdasarkan makna ayat tersebut, perilaku yang mencerminkan sikap “ihsan” kepada orang tua adalah…
Berbicara lembut dan tidak membentak ketika berbeda pendapat.
Menjawab dengan nada tinggi ketika diminta tolong karena sedang lelah.
Membantu pekerjaan orang tua dengan ikhlas meskipun capek.
Berdoa agar Allah menyayangi orang tuanya sebagaimana mereka mendidiknya.
Mengabaikan perintah orang tua karena merasa sudah dewasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kebiasaan kecil yang bisa menjadi pintu menuju perbuatan zina jika tidak dijaga. Manakah pernyataan yang sesuai dari kebiasaan yang menjadi pintu perbuatan zina?
Berduaan di tempat sepi dengan alasan ingin berbicara serius.
Mengikuti akun media sosial yang sering menampilkan konten vulgar.
Menyentuh tangan lawan jenis dengan alasan bercanda atau akrab.
Mengirim pesan pribadi dengan nada menggoda dan romantis.
Menyampaikan nasihat kepada lawan jenis di tempat ramai.
Bacalah hadis berikut: “بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ”. Hadis tersebut berisi tentang…
Kewajiban menyampaikan ilmu walau sedikit dengan tanggung jawab.
Larangan menyampaikan berita atau hadis palsu atas nama Nabi ﷺ.
Diperbolehkan menyebarkan cerita Bani Israil selama tidak bertentangan dengan syariat.
Keutamaan berdusta demi kepentingan dakwah.
Diperbolehkan menyebarkan semua cerita tanpa memastikan kebenarannya.
Bacalah ayat berikut!
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (12)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 13
Kandungan ayat tersebut adalah…
Larangan berprasangka buruk dan menggunjing orang lain.
Anjuran menghormati perbedaan suku, bangsa, dan budaya.
Kemuliaan manusia diukur dari tingkat ketakwaannya, bukan keturunan atau status sosial.
Anjuran untuk saling mengenal dan hidup rukun antar sesama manusia.
Kewajiban mencari kesalahan orang lain agar dapat memperbaikinya.
