NEW
Font size
WorksheetsUAS EPIDEMIOLOGI GIZI
Total questions: 50
Worksheet time: 38mins
Suatu wilayah menunjukkan peningkatan kasus wasting selama musim hujan. Berdasarkan konsep determinan epidemiologi gizi, faktor mana yang paling mungkin berperan dominan?
a. Penurunan frekuensi konsumsi makanan keluarga
Penurunan frekuensi konsumsi makanan keluarga
Peningkatan kejadian penyakit infeksi seperti diare
Perubahan pola asuh anak oleh ibu
Penurunan produksi pangan akibat musim kemarau
Praktik budidaya tanaman pekarangan yang menu
Di sebuah desa, prevalensi stunting tidak turun meskipun program PMT dan suplementasi vitamin A sudah rutin diberikan. Analisis yang tepat terhadap kondisi tersebut adalah:
Suplementasi vitamin A tidak efektif untuk menurunkan stunting
PMT tidak diperlukan untuk anak di desa tersebut
Terdapat faktor tidak langsung seperti sanitasi buruk yang belum ditangani
Data surveilans gizi tidak valid sehingga hasil tidak dapat dipercaya
Pendidikan ibu terlalu tinggi sehingga intervensi tidak berdampak
Suatu puskesmas menemukan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja penuh waktu memiliki angka wasting lebih tinggi. Interpretasi epidemiologis yang paling logis adalah:
Anak-anak tersebut lebih sering berada di luar rumah
Ibu bekerja umumnya memiliki akses makanan lebih baik
Pola asuh makan dan frekuensi pemberian makanan mungkin kurang optimal
Anak dari ibu bekerja memiliki kebutuhan energi lebih tinggi
Pemeriksaan antropometri pada kelompok ini biasanya salah
Jika suatu daerah menunjukkan BB/U normal namun TB/U rendah pada sebagian besar balita, maka intervensi yang paling sesuai adalah:
Peningkatan suplementasi vitamin A
Peningkatan program PMT pemulihan
Intervensi penanganan stunting jangka panjang
Pemberian TTD pada remaja putri
Fortifikasi garam beryodium
Dalam pemetaan daerah prioritas stunting, Kabupaten X memiliki angka 33% dan dianggap prioritas. Analisis yang mendasari keputusan tersebut adalah:
Data kabupaten tersebut paling mudah diperoleh
Prevalensi >30% termasuk kategori sangat tinggi
Kabupaten X memiliki puskesmas terbanyak
Penduduknya paling padat
Angka wasting sangat rendah
Sebuah studi menemukan hubungan signifikan antara diare berulang dengan wasting di balita. Interpretasi terbaik adalah:
Diare menyebabkan status gizi lebih baik
Wasting tidak ada hubungannya dengan penyakit infeksi
Ada hubungan dua arah antara gizi kurang dan infeksi
Wasting hanya terjadi pada anak yang tidak imunisasi
Anak yang mengalami wasting pasti mengalami stunting
Jika penilaian FFQ menunjukkan pola makan anak monoton dengan konsumsi dominan nasi dan teh manis, maka risiko utama yang perlu diwaspadai adalah:
Overweight
Defisiensi mikronutrien
Edema
Kadar ferritin meningkat
Konsumsi protein berlebih
Sebuah desa dengan tingkat pendidikan ibu tinggi justru memiliki kasus anemia remaja tinggi. Interpretasi yang paling logis adalah:
Pendidikan ibu tidak berpengaruh pada status gizi
Pola makan remaja yang terbentuk oleh body image issues
Data pendidikan ibu tidak akurat
Anemia tidak dipengaruhi pola konsumsi
Remaja di desa tersebut kurang aktivitas fisik
Dalam kerangka UNICEF, rendahnya akses air bersih termasuk faktor:
Penyebab langsung
Penyebab tidak langsung (lingkungan kesehatan)
Penyebab dasar
Dampak fisiologis
Determinan genetik
Kasus marasmus lebih banyak ditemukan di daerah yang mengalami kelangkaan pangan berkepanjangan. Hal ini mengindikasikan:
Defisiensi protein berat dengan energi cukup
Defisiensi energi kronis
Anak mengalami obesitas
Konsumsi lemak berlebih
Tingkat infeksi sangat tinggi
Suatu daerah perkotaan menunjukkan peningkatan obesitas yang sangat cepat dalam 5 tahun terakhir, meskipun akses fasilitas olahraga cukup banyak. Analisis yang paling mungkin adalah:
Program olahraga tidak digunakan masyarakat karena kurang sosialisasi
Konsumsi makanan ultra-proses meningkat seiring urbanisasi
Data obesitas kemungkinan salah
Penduduk memiliki pendidikan lebih tinggi
Aktivitas fisik masyarakat meningkat
Dalam data 2023, provinsi perkotaan memiliki prevalensi obesitas 48%, sedangkan pedesaan 25%. Analisis yang paling tepat untuk memahami perbedaan ini adalah:
Pedesaan memiliki lebih banyak fasilitas olahraga
Akses makanan cepat saji lebih tinggi di perkotaan
Pendapatan pedesaan lebih tinggi
Pola budaya makan pedesaan lebih tidak sehat
Penimbangan di pedesaan tidak akurat
Jika tren obesitas meningkat bersamaan dengan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi, maka hubungan epidemiologis yang paling mungkin adalah:
Aktivitas fisik populasi menurun
Konsumsi makanan meningkat karena berkendara
Penggunaan kendaraan menyebabkan obesitas langsung
Pola makan lebih teratur
Pengeluaran energi meningkat
Dalam studi kohort, individu yang sering konsumsi makanan ultra-proses 3 kali lebih berisiko mengalami obesitas setelah 5 tahun. Analisis yang tepat:
Studi kohort tidak bisa mengukur risiko
Paparan diet berpotensi menjadi faktor penyebab obesitas
Hubungan tersebut tidak dapat dipercaya
Variabel penelitian yang tidak sesuai
Diet ultra-proses tidak memengaruhi IMT
Jika penelitian menemukan hubungan signifikan antara obesitas sentral dan resistensi insulin, maka kesimpulan epidemiologis terbaik adalah:
Obesitas sentral hanya terjadi pada orang dengan diabetes
Lemak perut berperan dalam gangguan metabolisme
Resistensi insulin menyebabkan konsumsi makan meningkat
Obesitas tidak ada hubungannya dengan penyakit metabolik
Semua individu obesitas pasti mengalami resistensi insulin
Jika obesitas lebih tinggi pada usia >40 tahun, maka faktor fisiologis yang memungkinkan adalah:
Aktivitas fisik meningkat
Metabolisme basal menurun seiring usia
Asupan vitamin meningkat
Kualitas tidur lebih baik
Remaja makan lebih sedikit dari sebelumnya
Jika kebijakan fortifikasi pangan berjalan baik namun obesitas tetap meningkat, penyebab yang paling mungkin:
Fortifikasi meningkatkan kandungan energi
Faktor lingkungan seperti fast food lebih dominan memengaruhi obesitas
Fortifikasi gagal total
Masyarakat tidak menyukai pangan fortifikasi
Masalah gizi mikro penyebab utama obesitas
Jika suatu wilayah memiliki akses tinggi terhadap fast food dan juga minim ruang hijau publik, faktor utama penyebab obesitas berdasarkan kerangka determinan adalah:
Determinan proksimal
Determinan budaya
Determinan lingkungan dan sosial ekonomi
Determinan klinis
Determinan genetik
Jika peningkatan obesitas selaras dengan penurunan konsumsi makanan tradisional dan peningkatan konsumsi makanan ultra-proses, maka fenomena tersebut disebut:
Food security improvement
Nutrition transition
Malabsorpsi pangan
Transisi infeksi
Food fortification effect
Hasil RCT menunjukkan bahwa program intervensi aktivitas fisik menurunkan lemak tubuh secara signifikan, sedangkan intervensi edukasi saja tidak. Analisis efektifitas paling tepat:
Aktivitas fisik lebih efektif karena meningkatkan pembakaran energi secara langsung
Edukasi selalu tidak berguna
RCT tidak cocok untuk penelitian gizi
Aktivitas fisik mengganggu metabolisme
Edukasi menyebabkan peningkatan IMT
Di Desa Suka Maju, 45% balita mengalami diare berulang dalam 3 bulan terakhir. Prevalensi stunting mencapai 32%.
Apa faktor paling berkontribusi dalam kasus ini?
Asupan gula tinggi
Infeksi berulang akibat sanitasi buruk
Pola makan yang tidak seimbang
Anak terlalu aktif bermain
Konsumsi buah berlebih
Seorang balita usia 18 bulan memiliki tinggi badan -3 SD dan berat badan masih normal. Riwayat: ibu mengalami KEK selama hamil.
Apa kesimpulan yang paling tepat?
Anak hanya mengalami wasting
Stunting karena kekurangan gizi kronis sejak kehamilan
Kondisi normal pada bayi aktif
Ibu mengalami anemia di masa kehamilan
Pengukuran antromopetri yang tidak akurat
Di wilayah A, 70% rumah tidak memiliki jamban sehat. Sebagian besar balita mengalami infeksi cacingan. Angka stunting 35%.
Faktor risiko utama pada kasus ini adalah:
Kualitas ASI kurang
Sanitasi lingkungan
Pola makan balita tidak seimbang
Posyandu tidak optimal
Akses air bersih yang kurang
Di Kabupaten Z, 60% ibu tidak memberikan ASI eksklusif. Stunting naik menjadi 29%.
Apa hubungan paling logis?
ASI eksklusif berlebih menyebabkan stunting
Tanpa ASI eksklusif, risiko infeksi dan malnutrisi meningkat
ASI tidak berpengaruh pada pertumbuhan
MP-ASI dini menghambar pertumbuhan
Air susu formula lebih aman
Keluarga miskin di daerah terpencil mengonsumsi makanan berbasis karbohidrat (nasi + mie) setiap hari. Jarang protein.
Apa risiko yang paling mungkin muncul?
Overweight
Stunting akibat malnutrisi kronis
Obesitas sentral
Gangguan tidur
Dehidrasi
Survei lapangan menunjukkan bahwa keluarga dengan pendidikan ibu rendah memiliki prevalensi stunting lebih tinggi.
Kesimpulan yang tepat?
Pendidikan tidak berpengaruh pada pola makan
Ibu berpendidikan rendah kurang memiliki pengetahuan gizi
Stunting disebabkan karena anak terlalu aktif
Pendidikan tinggi menyebabkan stunting
Pendidikan tinggi menyebabkan stunting
Balita A jarang dibawa ke posyandu. Riwayat: imunisasi tidak lengkap dan sering ISPA. Tinggi badan < -2 SD.
Apa faktor risiko utama?
Ibu hamil makan terlalu banyak
Kurangnya pemantauan pertumbuhan dan imunisasi
Anak terlalu banyak bermain gadget
Anak makan terlalu cepat
Lingkungan yang tidak bersih
Program suplementasi ibu hamil berjalan baik, tetapi prevalensi stunting tetap tinggi. Evaluasi menemukan bahwa MP-ASI tidak adekuat.
Interpretasi terbaik:
Suplementasi ibu hanyalah faktor kecil
MP-ASI berpengaruh besar pada pertumbuhan tahun kedua
Stunting hanya disebabkan faktor genetik
Anak kurang makan nasi
MP-ASI yang cepat baik untuk tumbuh kembang anak
Di sekolah PAUD, guru menemukan banyak anak kurang aktif dan lambat memahami instruksi. Sebagian besar teridentifikasi stunting.
Apa dampak stunting yang paling terkait?
Nafsu makan menurun
Gangguan kognitif
Anak menjadi hiperaktif
Gangguan kognitif dan perkembangan
Gangguan Psikologis dan perkembangan
Studi cross-sectional menunjukkan hubungan antara tidak adanya jamban keluarga dan stunting.
Apa batasan dari studi ini?
Tidak dapat melihat hubungan sama sekali
Tidak bisa menghitung prevalensi
Tidak dapat menentukan sebab-akibat secara pasti
Tidak bisa digunakan pada anak
Tidak mampu di analisis
Dalam evaluasi program pencegahan, ditemukan bahwa keluarga yang mengikuti edukasi gizi memiliki balita dengan tinggi badan sesuai umur.
Apa kesimpulan yang tepat?
Edukasi gizi meningkatkan perilaku pemberian makan
Edukasi membuat anak cepat gemuk
Edukasi tidak Evektif
Stunting tidak dipengaruhi pola asuh
Edukasi tidak berhubungan denga perilaku makan
Wasting didefinisikan sebagai kondisi ketika anak memiliki:
Berat badan rendah berdasarkan umur
Tinggi badan rendah berdasarkan umur
Berat badan rendah untuk tinggi badan
Berat badan berlebih untuk tinggi badan
Lingkar lengan yang kurang
Anak dianggap wasting jika Z-score BB/TB berada pada angka:
> +2 SD
-1 SD
< -2 SD
< -1 SD
. > +1 SD
Wasting paling banyak terjadi pada kelompok usia:
0–3 bulan
6–59 bulan
5–10 tahun
Remaja
Dewasa
Determinasi langsung wasting meliputi:
Kemiskinan dan pendidikan
Sanitasi dan akses kesehatan
Asupan tidak adekuat dan infeksi
Budaya dan politik
Ketersediaan teknologi
Faktor determinan tidak langsung pada wasting adalah:
Penyakit infeksi
Pola asuh dan ketahanan pangan
Kemiskinan ekstrem
Rendahnya pendidikan ibu
Tekanan politik
MP-ASI yang baik harus diberikan mulai usia:
< 3 bulan
3 bulan
6 bulan
12 bulan
24 bulan
Upaya pencegahan wasting melalui sanitasi dapat berupa?
Konsumsi air putih 8 gelas per hari
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir
Konsumsi makanan beragam
Optimalkan pola asuh anak
Pola makan yang adekuat
Anemia didefinisikan sebagai kondisi ketika:
Hemoglobin berada di atas batas normal
Sel darah putih menurun
Hemoglobin lebih rendah dari normal
Tekanan darah meningkat
Tekanan darah normal
Jenis anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi adalah:
Anemia hemolitik
Anemia defisiensi besi
Anemia aplastik
Anemia sel sabit
Anemia hipoplastik
Anemia megaloblastik terjadi akibat kekurangan:
Zat besi saja
Vitamin C
Vitamin B12 dan asam folat
Vitamin D
Kalsium
Penyebab anemia yang terkait dengan kehilangan darah adalah:
Cidera, menstruasi berat, dan operasi
Kekurangan magnesium
Stres berkepanjangan
Konsumsi sayur berlebih
Aktivitas fisik tinggi
Penyakit kronis seperti ginjal dan kanker dapat menyebabkan anemia karena:
Merangsang produksi sel darah merah
Menghambat produksi oksigen
Menghambat produksi leukosit
Meningkatkan kadar hemoglobin
Menghambat produksi eritrosir
Gejala menurunnya daya tahan tubuh pada penderita anemia disebabkan oleh:Peningkatan produksi hormon
Peningkatan produksi hormon
Kekurangan oksigen pada sel imun
Penumpukan zat besi
Peningkatan sel darah putih
Penurunan kadar air dalam tubuh
Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) terutama ditujukan untuk:
Anak balita
Laki-laki dewasa
Remaja putri dan wanita usia subur
Lansia
Anak Usia sekolah dasar
Upaya fortifikasi pangan bertujuan untuk:
Mengurangi nilai gizi makanan
Menambah zat gizi tertentu
Mengganti makanan sumber hewani
Meningkatkan rasa makanan
Menambah bumbu tertentu
Suplementasi zat besi diperlukan apabila:
Asupan zat besi dari makanan tidak mencukupi
Asupan makanan terlalu tinggi protein
Kadar hemoglobin terlalu tinggi
Anak mengalami infeksi
Konsumsi vitamin A berlebihan
Anemia memiliki dampak jangka panjang berupa:
Meningkatkan produktivitas
Meningkatkan ketahanan tubuh
Menurunkan prestasi belajar dan kinerja
Meningkatkan massa otot
Meningkatkan kemampuan berpikir
Dampak anemia terhadap fungsi otak adalah
Meningkatkan fokus
Meningkatkan energi
Menurunkan konsentrasi dan daya ingat
Menurunkan risiko sakit kepala
Meningkatkan kecepatan berpikir
Anemia sel sabit disebabkan oleh:
Kekurangan vitamin A
Kelainan genetik pada hemoglobin
Infeksi akut
Kekurangan asupan protein
Gangguan penyerapan zat besi
