Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Post Test Memahami karya sastra 12

Total questions: 10

Worksheet time: 30mins

Name
Class
Date
1.

“Ya, Nak, Nyo, memang kita harus melawan. Betapapun baiknya orang Eropa itu pada kita, toh mereka takut mengambil risiko berhadapan dengan keputusan hukum Eropa, hukumnya sendiri, apalagi kalau hanya untuk kepentingan Pribumi. Kita takkan malu bila kalah. Kita harus tahu mengapa. Begini, Nak, Nyo, kita, Pribumi seluruhnya, tak bisa menyewa advokat. Ada uang pun belum tentu bisa. Lebih banyak lagi karena tak ada keberanian. Lebih umum lagi karena tidak pernah belajar sesuatu. Sepanjang hidupnya Pribumi ini menderitakan apa yang kita deritakan sekarang ini. Tak ada suara, Nak, Nyo—membisu seperti batu-batu kali dan gunung, biarpun dibelah-belah jadi apa saja. Betapa akan ramainya kalau semua mereka bicara seperti kita. Sampai-sampai langit pun mungkin akan roboh kebisingan.
Mama sudah mulai melupakan perasaannya sendiri. Ia telah menempatkan perkara itu jadi persoalan pikiran, telah meninggalkan hati sendiri dan keluarga, telah menyangkut batu-batu kali, gunung, batu cadas, dan kapur, yang berserakan di seluruh bumi Jawa, di seluruh Hindia, mereka yang bermulut tapi tak bersuara dan tetap ada hati di pedalaman diri.
"Dengan melawan kita takkan sepenuhnya kalah,” dan nada ucapannya adalah pengetahuan bakal kalah. “Mereka tak kenal malu, Ma.” “Malu bukan urusan peradaban Eropa,” Mama membeliak padaku seperti memarahi. “Kau yang selama ini sudah bergaul dengan mereka, bagaimana kau bisa berbicara seperti itu? Kau, Nak, Nyo, sebagai pribumi, mestinya dan harusnya malu tentang Eropa. Mereka hanya tahu mencapai maksud-maksudnya. Jangan kau lupa, Nak, Nyo.” “Baik, Ma,” jawabku mengakui keunggulannya. Tentang benar tidaknya tentu soal lain lagi.
“Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi orang Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya orang dapat mengenal bangsa lain yang punya cara-cara tersendiri dalam merampas milik bangsa lain.”
Mertuaku mengambil koran dari atas meja. Di dalamnya termuat tulisanku dan ulasan dari Redaksi. “Tulisanmu ini begitu lunak, seperti tulisan gadis pingitan. Belumkah kau menjadi keras dengan pengalaman pengalaman keras belakangan ini? Dan sekarang? Keras tak dapat ditawar? Minke, Nak, Nyo,” ia lanjutkan dengan bisikan, seakan ada orang lain lagi yang sedang mengintip kami. “Sekarang kau tulis dalam Melayu, Nak. Koran Melayu tentu banyak dibaca orang.”
“Sayang, Ma, tak bisa menulis Melayu.”
“Kalau sekarang tak bisa, biar orang lain menerjemahkan untukmu. Sekaligus muncul Kommer dalam pikiranku. “Baik, Mama,” jawabku segera. “Perkawinamu syah menurut hukum Islam. Membatalkan adalah menghina hukum Islam, mencemarkan ketentuan yang dimuliakan umat Islam….Ah, betapa aku impikan perkawinan syah. Tuan selalu menolak. Ternyata karena ia masih ada istri syah. Sekarang anakku kawin syah, jauh lebih tinggi daripadaku sendiri. Dan tidak diakui. “Akan kukerjakan sekarang saja, Ma. Mama tidur saja.” Dan ia berangkat tidur. Langkahnya tetap tegap seperti panglima yang belum kalah.

Unsur intrinsik yang paling menonjol dalam kutipan novel tersebut adalah...

a)

latar

b)

tema

c)

alur

d)

amanat

e)

sudut pandang

2.

"Aku tak kenal Rono Mellema." "Lebih baik Tuan ambil perwalian anak ini, sekarang juga. Bayi ini lebih mudah dibunuh. Kalau tidak, warisan Tuan akan berkurang. Membiarkannya hidup, Tuan pun tak bisa. Anak ini belum pernah menangis, mungkin bisu sejak kecil." Orang-orang kini mendesak, di depan rumah dan dari dalam rumah. Mama mengulurkan bayi itu pada tamunya: "Jangan anggap dia sebagai sainganmu, Tuan Mellema," kata Jean Marais dalam Melayu, jelas, agar semua orang dapat mengerti.
"Dan jangan bunuh dia, demi Nederland." "Menjamah kemenakan sendiri pun Tuan jijik," tambah Kommer. "Dia juga punya harta, Tuan, dan Tuan takkan tolak hartanya, bukan?" "Mengapa ragu? desak Mama, "terima bayi ini. Kami percaya Tuan seorang wali yang baik." Tamu itu kehilangan akal. Justru pada waktu itu Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah.
Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: "Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya." May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu, memukul-mukulkan tinju kecilnya pada paha dan perut tamu itu. "Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan." Beberapa orang perempuan di belakang kami terdengar ikut menangis.
Tersedu-sedu. Seseorang bertanya dalam Jawa: "Noni Annelies mati? Dibunuh dia?" "Dia yang membunuhnya," tuding Maysaroh pada tamu, lelah memukuli. "Mengapa Cak Darsam diam saja?" "Aku takkan usir Tuan, karena tempat ini milik Tuan," kata Nyai. "Pergilah Tuan, sebelum kerusuhan baru timbul." Mereka tahu berduka cita, mereka semua tersinggung perasaannya."
"Kembalikan, kembalikan!" pekik Maysaroh megap-megap. Insinyur Maurits Mellema menunduk pada bungkusan di samping kaki. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ujung telunjuknya gemetar. Ia terbalik memunggungi kami, melangkah berat meninggalkan ruang depan. Tangan kirinya memegangi sarong pedang. (Dikutip dari Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Pernyataan yang menggambarkan watak karakter Maysaroh sebagai sosok yang berani adalah ....

a)

A. “Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan.”

b)

B. May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu.

c)

C. Beberapa orang yang mengintip-intip itu menarik diri, hilang dari pemandangan. Mungkin hendak mendengarkan Maysaroh.

d)

D. Dan tangis Maysaroh terdengar tak sekeras tadi. Tak jauh di belakang kami kini terdengar sedu—sedannya diselinginya dengan Jawa

e)

E. "Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah. Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: 'Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya.'”

3.

"Aku tak kenal Rono Mellema." "Lebih baik Tuan ambil perwalian anak ini, sekarang juga. Bayi ini lebih mudah dibunuh. Kalau tidak, warisan Tuan akan berkurang. Membiarkannya hidup, Tuan pun tak bisa. Anak ini belum pernah menangis, mungkin bisu sejak kecil." Orang-orang kini mendesak, di depan rumah dan dari dalam rumah. Mama mengulurkan bayi itu pada tamunya: "Jangan anggap dia sebagai sainganmu, Tuan Mellema," kata Jean Marais dalam Melayu, jelas, agar semua orang dapat mengerti.
"Dan jangan bunuh dia, demi Nederland." "Menjamah kemenakan sendiri pun Tuan jijik," tambah Kommer. "Dia juga punya harta, Tuan, dan Tuan takkan tolak hartanya, bukan?" "Mengapa ragu? desak Mama, "terima bayi ini. Kami percaya Tuan seorang wali yang baik." Tamu itu kehilangan akal. Justru pada waktu itu Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah.
Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: "Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya." May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu, memukul-mukulkan tinju kecilnya pada paha dan perut tamu itu. "Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan." Beberapa orang perempuan di belakang kami terdengar ikut menangis.
Tersedu-sedu. Seseorang bertanya dalam Jawa: "Noni Annelies mati? Dibunuh dia?" "Dia yang membunuhnya," tuding Maysaroh pada tamu, lelah memukuli. "Mengapa Cak Darsam diam saja?" "Aku takkan usir Tuan, karena tempat ini milik Tuan," kata Nyai. "Pergilah Tuan, sebelum kerusuhan baru timbul." Mereka tahu berduka cita, mereka semua tersinggung perasaannya."
"Kembalikan, kembalikan!" pekik Maysaroh megap-megap. Insinyur Maurits Mellema menunduk pada bungkusan di samping kaki. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ujung telunjuknya gemetar. Ia terbalik memunggungi kami, melangkah berat meninggalkan ruang depan. Tangan kirinya memegangi sarong pedang. (Dikutip dari Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Apa unsur intrinsik yang paling menonjol dalam kutipan teks tersebut?

a)

A. latar

b)

B. amanat

c)

C. gaya bahasa

d)

D. sudut pandang

e)

E. tokoh dan penokohan

4.

"Aku tak kenal Rono Mellema." "Lebih baik Tuan ambil perwalian anak ini, sekarang juga. Bayi ini lebih mudah dibunuh. Kalau tidak, warisan Tuan akan berkurang. Membiarkannya hidup, Tuan pun tak bisa. Anak ini belum pernah menangis, mungkin bisu sejak kecil." Orang-orang kini mendesak, di depan rumah dan dari dalam rumah. Mama mengulurkan bayi itu pada tamunya: "Jangan anggap dia sebagai sainganmu, Tuan Mellema," kata Jean Marais dalam Melayu, jelas, agar semua orang dapat mengerti.
"Dan jangan bunuh dia, demi Nederland." "Menjamah kemenakan sendiri pun Tuan jijik," tambah Kommer. "Dia juga punya harta, Tuan, dan Tuan takkan tolak hartanya, bukan?" "Mengapa ragu? desak Mama, "terima bayi ini. Kami percaya Tuan seorang wali yang baik." Tamu itu kehilangan akal. Justru pada waktu itu Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah.
Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: "Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya." May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu, memukul-mukulkan tinju kecilnya pada paha dan perut tamu itu. "Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan." Beberapa orang perempuan di belakang kami terdengar ikut menangis.
Tersedu-sedu. Seseorang bertanya dalam Jawa: "Noni Annelies mati? Dibunuh dia?" "Dia yang membunuhnya," tuding Maysaroh pada tamu, lelah memukuli. "Mengapa Cak Darsam diam saja?" "Aku takkan usir Tuan, karena tempat ini milik Tuan," kata Nyai. "Pergilah Tuan, sebelum kerusuhan baru timbul." Mereka tahu berduka cita, mereka semua tersinggung perasaannya."
"Kembalikan, kembalikan!" pekik Maysaroh megap-megap. Insinyur Maurits Mellema menunduk pada bungkusan di samping kaki. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ujung telunjuknya gemetar. Ia terbalik memunggungi kami, melangkah berat meninggalkan ruang depan. Tangan kirinya memegangi sarong pedang. (Dikutip dari Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Bagian klimaks dalam teks tersebut terjadi ketika…

a)

Nyai menyuruh Maurits Mellema segera pergi

b)

Emak Minem mengusir orang-orang dari belakang rumah

c)

Maurits Mellema menolak menerima bayi Rono Mellema

d)

Maysaroh menangis histeris dan menuduh Maurits Mellema

e)

Jean Marais meminta Maurits Mellema menjadi wali bayi itu

5.

"Aku tak kenal Rono Mellema." "Lebih baik Tuan ambil perwalian anak ini, sekarang juga. Bayi ini lebih mudah dibunuh. Kalau tidak, warisan Tuan akan berkurang. Membiarkannya hidup, Tuan pun tak bisa. Anak ini belum pernah menangis, mungkin bisu sejak kecil." Orang-orang kini mendesak, di depan rumah dan dari dalam rumah. Mama mengulurkan bayi itu pada tamunya: "Jangan anggap dia sebagai sainganmu, Tuan Mellema," kata Jean Marais dalam Melayu, jelas, agar semua orang dapat mengerti.
"Dan jangan bunuh dia, demi Nederland." "Menjamah kemenakan sendiri pun Tuan jijik," tambah Kommer. "Dia juga punya harta, Tuan, dan Tuan takkan tolak hartanya, bukan?" "Mengapa ragu? desak Mama, "terima bayi ini. Kami percaya Tuan seorang wali yang baik." Tamu itu kehilangan akal. Justru pada waktu itu Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah.
Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: "Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya." May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu, memukul-mukulkan tinju kecilnya pada paha dan perut tamu itu. "Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan." Beberapa orang perempuan di belakang kami terdengar ikut menangis.
Tersedu-sedu. Seseorang bertanya dalam Jawa: "Noni Annelies mati? Dibunuh dia?" "Dia yang membunuhnya," tuding Maysaroh pada tamu, lelah memukuli. "Mengapa Cak Darsam diam saja?" "Aku takkan usir Tuan, karena tempat ini milik Tuan," kata Nyai. "Pergilah Tuan, sebelum kerusuhan baru timbul." Mereka tahu berduka cita, mereka semua tersinggung perasaannya."
"Kembalikan, kembalikan!" pekik Maysaroh megap-megap. Insinyur Maurits Mellema menunduk pada bungkusan di samping kaki. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ujung telunjuknya gemetar. Ia terbalik memunggungi kami, melangkah berat meninggalkan ruang depan. Tangan kirinya memegangi sarong pedang. (Dikutip dari Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Sudut pandang yang digunakan dalam teks tersebut adalah…

a)

campuran

b)

orang ketiga terbatas

c)

orang ketiga serbatahu

d)

orang pertama sebagai pelaku utama

e)

orang pertama sebagai pelaku sampingan

6.

"Aku tak kenal Rono Mellema." "Lebih baik Tuan ambil perwalian anak ini, sekarang juga. Bayi ini lebih mudah dibunuh. Kalau tidak, warisan Tuan akan berkurang. Membiarkannya hidup, Tuan pun tak bisa. Anak ini belum pernah menangis, mungkin bisu sejak kecil." Orang-orang kini mendesak, di depan rumah dan dari dalam rumah. Mama mengulurkan bayi itu pada tamunya: "Jangan anggap dia sebagai sainganmu, Tuan Mellema," kata Jean Marais dalam Melayu, jelas, agar semua orang dapat mengerti.
"Dan jangan bunuh dia, demi Nederland." "Menjamah kemenakan sendiri pun Tuan jijik," tambah Kommer. "Dia juga punya harta, Tuan, dan Tuan takkan tolak hartanya, bukan?" "Mengapa ragu? desak Mama, "terima bayi ini. Kami percaya Tuan seorang wali yang baik." Tamu itu kehilangan akal. Justru pada waktu itu Maysaroh lari ke ruang depan lagi. Matanya merah dan basah.
Memekik, menangis sejadi-jadinya. Tangan kecilnya menuding Ir. Mellema: "Ini orangnya, ya, ini. Insinyur Maurits Mellema. Dia yang merampas kakak Annelies. Dia yang membunuhnya." May menjadi kalap dalam tangisnya. Ia lari ke hadapan perwira ahli bangunan air itu, memukul-mukulkan tinju kecilnya pada paha dan perut tamu itu. "Kembalikan kakak Annelies, Tuan, kembalikan, Tuan." Beberapa orang perempuan di belakang kami terdengar ikut menangis.
Tersedu-sedu. Seseorang bertanya dalam Jawa: "Noni Annelies mati? Dibunuh dia?" "Dia yang membunuhnya," tuding Maysaroh pada tamu, lelah memukuli. "Mengapa Cak Darsam diam saja?" "Aku takkan usir Tuan, karena tempat ini milik Tuan," kata Nyai. "Pergilah Tuan, sebelum kerusuhan baru timbul." Mereka tahu berduka cita, mereka semua tersinggung perasaannya."
"Kembalikan, kembalikan!" pekik Maysaroh megap-megap. Insinyur Maurits Mellema menunduk pada bungkusan di samping kaki. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Ujung telunjuknya gemetar. Ia terbalik memunggungi kami, melangkah berat meninggalkan ruang depan. Tangan kirinya memegangi sarong pedang. (Dikutip dari Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer)

Latar tempat yang digambarkan dalam kutipan teks adalah…

a)

pengadilan

b)

rumah sakit

c)

sebuah pasar yang ramai

d)

rumah Nyai dan sekitarnya

e)

kantor pemerintahan kolonial

7.

Sambil berhangat-hangat depan tungku di dapur, Si Kabayan dan istrinya, si Iteung, asyik mengobrol. Kata si Kabayan:

“Iteung, Iteung, kalau kita punya wang banyak, mau kamu apakan?

“Jajan, dong. Plesir. Beli pakaian yang bagus-bagus, mahal-mahal. Makan yang enak di restoran-restoran yang mewah-mewah. Pokoknya, bergaya hidup seperti orang kota yang kaya, deh.”

“Wah, itu tidak baik, Iteung. Kamu boros.”

“Habis, kau mau apakan?”

“Simpan.”

“Simpan? Simpan untuk dimakan tikus?” Itu kan bodoh, Kang Kabayan. Lebih baik kita habiskan dengan bermewah-mewah, supaya kita gengsi, dihormat-dikagumi-dipuji orang seperti ibu-ibu yang cantik-cantik dan busananya bagus-bagus, berliannya berapi-api membakar mata dan hatiku.”

“Itu yang aku benci, Iteung. Boros-boroskan wang dengan bermewah-mewah tanpa mata udangmu melihat ke kiri-kananmu untuk menolong yang harus ditolong dan mencari jalan-jalan yang halal guna menggolangkan wang kita supaya hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat. Tapi mata udangmu cuma melihat soal gengsi saja. Itu kan gila puji namanya. Takabur. Dilarang oleh tiap agama.”

Si Iteung ngotot. Suami-isri itu tidak mencapai persetujuan. Akhirnya, si Iteung bertengkar dengan si Kabayan. Nangis melolong-lolong seperti anak kecil. Kedengaran oleh bapaknya, mertua si Kabayan. Segera nongol ke dapur. “Ada apa, Nyai? Ada apa?’

Si Kabayan mendahului: “Saya dipukul dia, Bapak.”

“Kenapa, Kabayan?”

“Anak bapak itu perempuan boros, Pak. Mau bikin habis wang kami dengan foya-foya. Tidak dermawan.”

“Wang kalian dari mana, Kabayan?”

“Kalau kami punya, Pak, anak bapak itu akan segera hamburkan seperti menaburkan gabah di kamdang ayam. Itu kan tidak baik. Tidak manusiawi. Tidak dermawan. Mestinya kan disimpan untuk modal berusaha, sebagian dari untungkan didermakan. Si Iteung tidak ingat sama sesama hidup yang mengkrak-mengkrik. Itulah yang saya kaatakan dia boros dan tidak dermawan.”

“Lho! Kenapa si Iteung sampai mukuli kamu?”

“Ah, Bapak kok tidak ngerti. Pemboros kan perlu duit, Pak. Duit yang banyak. Lebih banyak duit kan lebih banyak yang bisa diboroskan. Lebih banyak yang diboroskan, kan itu surganya pemboros.”

“Tapi kamu kan cuma tikus comberan, Kabayan. Bukan miliuner. Si Iteung kan tidak bisa memboroskan duit yang tidak ada? Gadaikan celana kolormu? Siapa yang mau? Baunya kan tidak ketulungan. Jadi otakku tak kunjung habis keheranan, kenapa si Iteung kok sampai marahin kamu, Kabayan?

“Eh, Bapak kok nggak ngerti? Pemboros kan butuh duit, seperti telah kukatakan barusan. Tapi kami tikus comberan. Tidak punya duit sepeser petot pun. Akibatnya? Nah, inilah akibatnya, Bapak! Lihat, nih!”

Dan si Kabayan menunjukkan pipi kirinya yang dibikin benjol didorong oleh lidahnya dari dalam. Melihat pipi menantunya benjol begitu, sang mertua terharu. Katanya: “Nih, Kabayan, Bapak pinjami duit tanpa bunga. Tapi kasihkan sama si Iteung. Biar dia boroskan, supaya pipimu aman. Tidak perlu dibikin benjol dengan dorongan lidah.”

(Dikutip dari kumpulan cerpen Si Kabayan, Manusia Lucu, Karya Achdiat K. Mihardja)

Watak Iteung dalam cerpen adalah ....

a)

A. penurut dan sabar

b)

B. pemarah dan egois

c)

C. pemalas dan cerewet

d)

D. penyayang dan romantis

e)

E. konsumtif dan materialistis

8.

Sambil berhangat-hangat depan tungku di dapur, Si Kabayan dan istrinya, si Iteung, asyik mengobrol. Kata si Kabayan:

“Iteung, Iteung, kalau kita punya wang banyak, mau kamu apakan?

“Jajan, dong. Plesir. Beli pakaian yang bagus-bagus, mahal-mahal. Makan yang enak di restoran-restoran yang mewah-mewah. Pokoknya, bergaya hidup seperti orang kota yang kaya, deh.”

“Wah, itu tidak baik, Iteung. Kamu boros.”

“Habis, kau mau apakan?”

“Simpan.”

“Simpan? Simpan untuk dimakan tikus?” Itu kan bodoh, Kang Kabayan. Lebih baik kita habiskan dengan bermewah-mewah, supaya kita gengsi, dihormat-dikagumi-dipuji orang seperti ibu-ibu yang cantik-cantik dan busananya bagus-bagus, berliannya berapi-api membakar mata dan hatiku.”

“Itu yang aku benci, Iteung. Boros-boroskan wang dengan bermewah-mewah tanpa mata udangmu melihat ke kiri-kananmu untuk menolong yang harus ditolong dan mencari jalan-jalan yang halal guna menggolangkan wang kita supaya hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat. Tapi mata udangmu cuma melihat soal gengsi saja. Itu kan gila puji namanya. Takabur. Dilarang oleh tiap agama.”

Si Iteung ngotot. Suami-isri itu tidak mencapai persetujuan. Akhirnya, si Iteung bertengkar dengan si Kabayan. Nangis melolong-lolong seperti anak kecil. Kedengaran oleh bapaknya, mertua si Kabayan. Segera nongol ke dapur. “Ada apa, Nyai? Ada apa?’

Si Kabayan mendahului: “Saya dipukul dia, Bapak.”

“Kenapa, Kabayan?”

“Anak bapak itu perempuan boros, Pak. Mau bikin habis wang kami dengan foya-foya. Tidak dermawan.”

“Wang kalian dari mana, Kabayan?”

“Kalau kami punya, Pak, anak bapak itu akan segera hamburkan seperti menaburkan gabah di kamdang ayam. Itu kan tidak baik. Tidak manusiawi. Tidak dermawan. Mestinya kan disimpan untuk modal berusaha, sebagian dari untungkan didermakan. Si Iteung tidak ingat sama sesama hidup yang mengkrak-mengkrik. Itulah yang saya kaatakan dia boros dan tidak dermawan.”

“Lho! Kenapa si Iteung sampai mukuli kamu?”

“Ah, Bapak kok tidak ngerti. Pemboros kan perlu duit, Pak. Duit yang banyak. Lebih banyak duit kan lebih banyak yang bisa diboroskan. Lebih banyak yang diboroskan, kan itu surganya pemboros.”

“Tapi kamu kan cuma tikus comberan, Kabayan. Bukan miliuner. Si Iteung kan tidak bisa memboroskan duit yang tidak ada? Gadaikan celana kolormu? Siapa yang mau? Baunya kan tidak ketulungan. Jadi otakku tak kunjung habis keheranan, kenapa si Iteung kok sampai marahin kamu, Kabayan?

“Eh, Bapak kok nggak ngerti? Pemboros kan butuh duit, seperti telah kukatakan barusan. Tapi kami tikus comberan. Tidak punya duit sepeser petot pun. Akibatnya? Nah, inilah akibatnya, Bapak! Lihat, nih!”

Dan si Kabayan menunjukkan pipi kirinya yang dibikin benjol didorong oleh lidahnya dari dalam. Melihat pipi menantunya benjol begitu, sang mertua terharu. Katanya: “Nih, Kabayan, Bapak pinjami duit tanpa bunga. Tapi kasihkan sama si Iteung. Biar dia boroskan, supaya pipimu aman. Tidak perlu dibikin benjol dengan dorongan lidah.”

(Dikutip dari kumpulan cerpen Si Kabayan, Manusia Lucu, Karya Achdiat K. Mihardja)

Hal apa yang membuat cerita si Kabayan dan Iteung menjadi lucu dan menghibur?

a)

Si Kabayan meminjam uang dari mertuanya agar bisa berdamai dengan Iteung.

b)

Si Kabayan terlalu serius menanggapi impian Iteung untuk menjadi orang kaya.

c)

Mereka berdebat hebat hingga bertengkar karena uang yang sebenarnya belum mereka miliki.

d)

Iteung menangis dan memukul Kabayan hanya karena ia ingin tampil seperti ibu-ibu kota.

e)

Iteung selalu ingin membelanjakan uang, sedangkan Si Kabayan lebih suka menyimpannya.

9.

Sambil berhangat-hangat depan tungku di dapur, Si Kabayan dan istrinya, si Iteung, asyik mengobrol. Kata si Kabayan:

“Iteung, Iteung, kalau kita punya wang banyak, mau kamu apakan?

“Jajan, dong. Plesir. Beli pakaian yang bagus-bagus, mahal-mahal. Makan yang enak di restoran-restoran yang mewah-mewah. Pokoknya, bergaya hidup seperti orang kota yang kaya, deh.”

“Wah, itu tidak baik, Iteung. Kamu boros.”

“Habis, kau mau apakan?”

“Simpan.”

“Simpan? Simpan untuk dimakan tikus?” Itu kan bodoh, Kang Kabayan. Lebih baik kita habiskan dengan bermewah-mewah, supaya kita gengsi, dihormat-dikagumi-dipuji orang seperti ibu-ibu yang cantik-cantik dan busananya bagus-bagus, berliannya berapi-api membakar mata dan hatiku.”

“Itu yang aku benci, Iteung. Boros-boroskan wang dengan bermewah-mewah tanpa mata udangmu melihat ke kiri-kananmu untuk menolong yang harus ditolong dan mencari jalan-jalan yang halal guna menggolangkan wang kita supaya hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat. Tapi mata udangmu cuma melihat soal gengsi saja. Itu kan gila puji namanya. Takabur. Dilarang oleh tiap agama.”

Si Iteung ngotot. Suami-isri itu tidak mencapai persetujuan. Akhirnya, si Iteung bertengkar dengan si Kabayan. Nangis melolong-lolong seperti anak kecil. Kedengaran oleh bapaknya, mertua si Kabayan. Segera nongol ke dapur. “Ada apa, Nyai? Ada apa?’

Si Kabayan mendahului: “Saya dipukul dia, Bapak.”

“Kenapa, Kabayan?”

“Anak bapak itu perempuan boros, Pak. Mau bikin habis wang kami dengan foya-foya. Tidak dermawan.”

“Wang kalian dari mana, Kabayan?”

“Kalau kami punya, Pak, anak bapak itu akan segera hamburkan seperti menaburkan gabah di kamdang ayam. Itu kan tidak baik. Tidak manusiawi. Tidak dermawan. Mestinya kan disimpan untuk modal berusaha, sebagian dari untungkan didermakan. Si Iteung tidak ingat sama sesama hidup yang mengkrak-mengkrik. Itulah yang saya kaatakan dia boros dan tidak dermawan.”

“Lho! Kenapa si Iteung sampai mukuli kamu?”

“Ah, Bapak kok tidak ngerti. Pemboros kan perlu duit, Pak. Duit yang banyak. Lebih banyak duit kan lebih banyak yang bisa diboroskan. Lebih banyak yang diboroskan, kan itu surganya pemboros.”

“Tapi kamu kan cuma tikus comberan, Kabayan. Bukan miliuner. Si Iteung kan tidak bisa memboroskan duit yang tidak ada? Gadaikan celana kolormu? Siapa yang mau? Baunya kan tidak ketulungan. Jadi otakku tak kunjung habis keheranan, kenapa si Iteung kok sampai marahin kamu, Kabayan?

“Eh, Bapak kok nggak ngerti? Pemboros kan butuh duit, seperti telah kukatakan barusan. Tapi kami tikus comberan. Tidak punya duit sepeser petot pun. Akibatnya? Nah, inilah akibatnya, Bapak! Lihat, nih!”

Dan si Kabayan menunjukkan pipi kirinya yang dibikin benjol didorong oleh lidahnya dari dalam. Melihat pipi menantunya benjol begitu, sang mertua terharu. Katanya: “Nih, Kabayan, Bapak pinjami duit tanpa bunga. Tapi kasihkan sama si Iteung. Biar dia boroskan, supaya pipimu aman. Tidak perlu dibikin benjol dengan dorongan lidah.”

(Dikutip dari kumpulan cerpen Si Kabayan, Manusia Lucu, Karya Achdiat K. Mihardja)

Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen tersebut adalah...

a)

orang kedua

b)

orang pertama saksi

c)

orang ketiga terbatas

d)

orang ketiga serbatahu

e)

orang pertama pelaku utama

10.

Sambil berhangat-hangat depan tungku di dapur, Si Kabayan dan istrinya, si Iteung, asyik mengobrol. Kata si Kabayan:

“Iteung, Iteung, kalau kita punya wang banyak, mau kamu apakan?

“Jajan, dong. Plesir. Beli pakaian yang bagus-bagus, mahal-mahal. Makan yang enak di restoran-restoran yang mewah-mewah. Pokoknya, bergaya hidup seperti orang kota yang kaya, deh.”

“Wah, itu tidak baik, Iteung. Kamu boros.”

“Habis, kau mau apakan?”

“Simpan.”

“Simpan? Simpan untuk dimakan tikus?” Itu kan bodoh, Kang Kabayan. Lebih baik kita habiskan dengan bermewah-mewah, supaya kita gengsi, dihormat-dikagumi-dipuji orang seperti ibu-ibu yang cantik-cantik dan busananya bagus-bagus, berliannya berapi-api membakar mata dan hatiku.”

“Itu yang aku benci, Iteung. Boros-boroskan wang dengan bermewah-mewah tanpa mata udangmu melihat ke kiri-kananmu untuk menolong yang harus ditolong dan mencari jalan-jalan yang halal guna menggolangkan wang kita supaya hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat. Tapi mata udangmu cuma melihat soal gengsi saja. Itu kan gila puji namanya. Takabur. Dilarang oleh tiap agama.”

Si Iteung ngotot. Suami-isri itu tidak mencapai persetujuan. Akhirnya, si Iteung bertengkar dengan si Kabayan. Nangis melolong-lolong seperti anak kecil. Kedengaran oleh bapaknya, mertua si Kabayan. Segera nongol ke dapur. “Ada apa, Nyai? Ada apa?’

Si Kabayan mendahului: “Saya dipukul dia, Bapak.”

“Kenapa, Kabayan?”

“Anak bapak itu perempuan boros, Pak. Mau bikin habis wang kami dengan foya-foya. Tidak dermawan.”

“Wang kalian dari mana, Kabayan?”

“Kalau kami punya, Pak, anak bapak itu akan segera hamburkan seperti menaburkan gabah di kamdang ayam. Itu kan tidak baik. Tidak manusiawi. Tidak dermawan. Mestinya kan disimpan untuk modal berusaha, sebagian dari untungkan didermakan. Si Iteung tidak ingat sama sesama hidup yang mengkrak-mengkrik. Itulah yang saya kaatakan dia boros dan tidak dermawan.”

“Lho! Kenapa si Iteung sampai mukuli kamu?”

“Ah, Bapak kok tidak ngerti. Pemboros kan perlu duit, Pak. Duit yang banyak. Lebih banyak duit kan lebih banyak yang bisa diboroskan. Lebih banyak yang diboroskan, kan itu surganya pemboros.”

“Tapi kamu kan cuma tikus comberan, Kabayan. Bukan miliuner. Si Iteung kan tidak bisa memboroskan duit yang tidak ada? Gadaikan celana kolormu? Siapa yang mau? Baunya kan tidak ketulungan. Jadi otakku tak kunjung habis keheranan, kenapa si Iteung kok sampai marahin kamu, Kabayan?

“Eh, Bapak kok nggak ngerti? Pemboros kan butuh duit, seperti telah kukatakan barusan. Tapi kami tikus comberan. Tidak punya duit sepeser petot pun. Akibatnya? Nah, inilah akibatnya, Bapak! Lihat, nih!”

Dan si Kabayan menunjukkan pipi kirinya yang dibikin benjol didorong oleh lidahnya dari dalam. Melihat pipi menantunya benjol begitu, sang mertua terharu. Katanya: “Nih, Kabayan, Bapak pinjami duit tanpa bunga. Tapi kasihkan sama si Iteung. Biar dia boroskan, supaya pipimu aman. Tidak perlu dibikin benjol dengan dorongan lidah.”

(Dikutip dari kumpulan cerpen Si Kabayan, Manusia Lucu, Karya Achdiat K. Mihardja)

Nilai moral yang bisa diambil dari kutipan cerpen tersebut adalah ....

a)

Menjadi orang kaya harus menunjukkan kemewahan agar lebih dihormati orang lain.

b)

Sebagai orang miskin tidak boleh membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan uang.

c)

Kekayaan idealnya dimanfaatkan secara bijak untuk usaha dan berbagi dengan sesama.

d)

Perbedaan pendapat dalam rumah tangga tidak harus diselesaikan dengan cara kekerasan.

e)

Kekayaan seharusnya digunakan untuk kesenangan pribadi agar hidup menjadi lebih bahagia.