wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UTS dan UAS Ekonomi Kesehatan — Kumpulan Soal (Kelas 13)

Total questions: 70

Worksheet time: 35mins

Name
Class
Date
1.

Sebuah puskesmas menghadapi keterbatasan anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Mereka harus memilih antara meningkatkan layanan ANC atau memperluas program gizi balita. Keputusan ini ditentukan oleh prinsip ekonomi kesehatan bahwa sumber daya bersifat terbatas sehingga harus dialokasikan secara efisien. Konsep yang digambarkan kasus ini adalah …

a)

Moral hazard

b)

Scarcity

c)

Cost containment

d)

Equity

e)

Cost shifting

2.

Rumah sakit mengeluarkan biaya besar untuk membeli alat radiologi. Untuk menilai apakah investasi tersebut memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya, manajemen melakukan analisis perbandingan biaya dan manfaat kesehatan yang dihasilkan. Jenis evaluasi ekonomi kesehatan yang digunakan adalah …

a)

Cost–Utility Analysis

b)

Cost–Benefit Analysis

c)

Cost–Effectiveness Analysis

d)

Budget Impact Analysis

e)

Cost–Minimization Analysis

3.

Puskesmas menyelenggarakan program penyuluhan gizi untuk masyarakat. Evaluasi menemukan bahwa biaya program rendah tetapi manfaat kesehatan yang dihasilkan sangat besar dalam penurunan angka stunting. Ini menunjukkan konsep bahwa penggunaan sumber daya menghasilkan manfaat kesehatan maksimal. Konsep tersebut adalah …

a)

Efisiensi teknis

b)

Efisiensi alokatif

c)

Efektivitas klinis

d)

Opportunity cost

e)

Equity

4.

Ketika memilih intervensi kesehatan, manajemen rumah sakit mempertimbangkan bahwa jika memilih program A, maka mereka harus menghentikan program B karena keterbatasan dana. Pengorbanan manfaat dari program B disebut …

a)

Fixed cost

b)

Sunk cost

c)

Opportunity cost

d)

Direct cost

e)

Incremental cost

5.

Sebuah kabupaten menerapkan program subsidi biaya persalinan untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan ini bertujuan memastikan bahwa setiap individu memiliki akses layanan kesehatan yang adil. Konsep ekonomi kesehatan yang mendasari kebijakan ini adalah …

a)

Efficiency

b)

Scarcity

c)

Equity

d)

Moral hazard

e)

Cost sharing

6.

Seorang manajer puskesmas sedang menilai biaya langsung yang harus dikeluarkan untuk penanganan TB seperti biaya obat, tenaga kesehatan, dan pemeriksaan laboratorium. Jenis biaya yang dihitung dalam analisis ekonomi kesehatan ini adalah …

a)

Indirect cost

b)

Intangible cost

c)

Direct medical cost

d)

Direct non-medical cost

e)

Capital cost

7.

Program imunisasi HPV di suatu daerah menunjukkan bahwa biaya per kasus kanker serviks yang berhasil dicegah sangat rendah dibandingkan dengan pengobatan kanker di rumah sakit. Analisis ini menunjukkan pendekatan ekonomi kesehatan berupa …

a)

Cost–Minimization Analysis

b)

Cost–Benefit Analysis

c)

Cost–Effectiveness Analysis

d)

Cost–Utility Analysis

e)

Budget Impact Analysis

8.

Klinik swasta menaikkan tarif pelayanan karena meningkatnya harga obat. Kenaikan tarif ini kemudian dibebankan kepada pasien sebagai bentuk pengalihan biaya. Fenomena ini disebut …

a)

Cost sharing

b)

Cost shifting

c)

Supplier-induced demand

d)

Adverse selection

e)

Incremental costing

9.

Pada sebuah desa terpencil, akses terhadap fasilitas kesehatan terbatas sehingga pemerintah membangun puskesmas pembantu. Intervensi ini bertujuan mengurangi kesenjangan akses antarwilayah. Hal ini terkait dengan konsep …

a)

Technical efficiency

b)

Allocative efficiency

c)

Equity

d)

Marginal cost

e)

Productivity

10.

Manajemen rumah sakit sedang mengevaluasi apakah penambahan jumlah perawat dapat meningkatkan jumlah pasien yang dapat dilayani tanpa menambah biaya lain secara signifikan. Pengukuran output tambahan dari penambahan satu unit input kesehatan ini merupakan konsep …

a)

Marginal analysis

b)

Opportunity cost

c)

Intangible benefit

d)

Cost containment

e)

Direct non-medical benefit

11.

Sebuah rumah sakit swasta melakukan promosi besar-besaran untuk layanan medical check-up premium. Peningkatan permintaan terjadi karena pengaruh informasi dari penyedia layanan, bukan karena kebutuhan medis riil pasien. Fenomena ini disebut …

a)

Cost shifting

b)

Supplier-induced demand

c)

Moral hazard

12.

Pemerintah melakukan regulasi tarif maksimal untuk operasi caesar guna mencegah rumah sakit menaikkan harga secara berlebihan. Tindakan pemerintah ini merupakan fungsi dalam industri layanan kesehatan sebagai …

a)

Provider

b)

Regulator

c)

Financier

d)

Stewardship

e)

Purchaser

13.

Sebuah perusahaan asuransi kesehatan menerima peserta baru tanpa mengetahui riwayat penyakitnya. Setelah bergabung, banyak peserta mengajukan klaim karena memiliki penyakit kronis sejak lama. Kondisi ini merupakan contoh …

a)

Moral hazard

b)

Cost sharing

c)

Adverse selection

d)

Cream skimming

e)

Supplier-induced demand

14.

Puskesmas menambah jumlah perawat untuk meningkatkan kapasitas pelayanan. Output layanan meningkat secara signifikan tanpa kenaikan biaya besar. Hal ini mencerminkan karakteristik industri kesehatan yaitu …

a)

Labor intensive

b)

Capital intensive

c)

Cost sharing

d)

Market failure

e)

Information asymmetry

15.

Rumah sakit daerah membeli alat CT-Scan mahal untuk meningkatkan kualitas layanan, namun hanya digunakan 20% dari kapasitas maksimal sehingga biaya per pemeriksaan menjadi sangat tinggi. Hal ini mencerminkan masalah …

a)

Moral hazard

b)

Underutilization

c)

Cost minimization

d)

Overutilization

e)

Market segmentation

16.

Industri layanan kesehatan memiliki karakteristik bahwa pasien sulit menilai kualitas pengobatan karena kurang memahami informasi medis, sehingga sangat bergantung pada tenaga kesehatan. Kondisi ini dikenal sebagai …

a)

Information asymmetry

b)

Market equality

c)

Cost shifting

d)

Cream skimming

e)

Economic rationality

17.

Sebuah klinik menetapkan tarif tinggi untuk layanan spesialis karena minimnya fasilitas sejenis di wilayah tersebut. Klinik dapat menentukan harga karena tidak memiliki banyak pesaing. Kondisi pasar seperti ini disebut …

a)

Perfect competition

b)

Monopoly

c)

Monopolistic competition

d)

Oligopoly

e)

Market contestability

18.

BPJS Kesehatan bertindak sebagai pembeli layanan dari fasilitas kesehatan dan menentukan tarif INA-CBG’s untuk pembiayaan layanan. Dalam sistem industri kesehatan, BPJS berperan sebagai …

a)

Provider

b)

Purchaser

c)

Regulator

d)

Manager

e)

Stakeholder pasif

19.

Sebuah rumah sakit memindahkan pasien dengan kondisi stabil ke rumah sakit lain karena tarif INA-CBG’s lebih rendah daripada biaya pengobatan aktual. Tindakan ini merupakan contoh …

a)

Supplier-induced demand

b)

Dumping

c)

Cost containment

d)

Up-coding

e)

Gatekeeping

20.

Pemerintah melakukan program akreditasi untuk memastikan rumah sakit memenuhi standar mutu dan keselamatan pasien. Program ini merupakan bagian dari …

a)

Market competition

b)

Quality assurance

c)

Cost minimization

d)

Buyer protection

e)

Resource allocation

21.

Sebuah puskesmas menghitung biaya total pelaksanaan program imunisasi selama 1 tahun, termasuk biaya vaksin, gaji tenaga kesehatan, transportasi, dan penyimpanan vaksin. Jenis biaya yang dihitung tersebut adalah …

a)

Direct medical cost

b)

Indirect cost

c)

Intangible cost

d)

Incremental cost

e)

Sunk cost

22.

Dalam program pencegahan TB, pemerintah ingin mengetahui biaya tambahan jika cakupan layanan diperluas dari 1.000 menjadi 2.000 pasien. Biaya tambahan yang muncul disebut …

a)

Total cost

b)

Average cost

c)

Marginal cost

d)

Opportunity cost

e)

Capital cost

23.

Sebuah rumah sakit membeli alat USG baru dengan harga mahal. Setelah perhitungan, biaya yang dikeluarkan untuk pembelian tidak dapat dikembalikan meskipun alat jarang digunakan. Biaya ini tergolong …

a)

Variable cost

b)

Fixed cost

c)

Indirect cost

d)

Sunk cost

e)

Incremental cost

24.

Program edukasi gizi membutuhkan biaya Rp15.000.000 untuk menjangkau 500 peserta. Manajer program ingin mengetahui rata-rata biaya per peserta sebagai dasar efisiensi. Analisis yang digunakan adalah …

a)

Total cost

b)

Average cost

c)

Marginal cost

d)

Direct cost

e)

Opportunity cost

25.

Dalam perencanaan program, tim menghitung biaya yang dikeluarkan akibat hilangnya produktivitas pasien selama sakit. Jenis biaya ini termasuk …

a)

Direct medical cost

b)

Direct non-medical cost

c)

Intangible cost

d)

Indirect cost

e)

Variable cost

26.

Rumah sakit menetapkan tarif layanan laboratorium berdasarkan penjumlahan biaya bahan habis pakai, tenaga kerja, biaya overhead, ditambah margin keuntungan. Metode penetaran ini disebut …

a)

Activity-based costing

b)

Cost-plus pricing

c)

Value-based pricing

d)

Differential pricing

e)

Marginal pricing

27.

Sebuah klinik memberikan tarif lebih rendah untuk pasien BPJS dibandingkan pasien umum. Klinik menerapkan strategi tarif berbeda untuk segmen pasar tertentu. Metode tarif ini dikenal sebagai …

a)

Uniform pricing

b)

Cost-plus pricing

c)

Value-based pricing

d)

Differential pricing

e)

Incremental pricing

28.

Rumah sakit menghitung tarif rawat inap dengan mempertimbangkan nilai manfaat klinis dan kepuasan pasien, bukan hanya biaya produksi layanan. Tarif ditentukan berdasarkan persepsi nilai oleh pasien. Ini merupakan contoh …

a)

Activity-based costing

b)

Value-based pricing

c)

Cost-plus pricing

d)

Break-even pricing

e)

Average cost pricing

29.

RS menghitung tarif pelayanan berdasarkan seluruh aktivitas yang memberikan kontribusi pada proses layanan, misalnya waktu dokter, penggunaan alat, dan bahan medis. Metode tarif berdasarkan unit aktivitas ini adalah …

a)

Marginal pricing

b)

Activity-based costing

c)

Differential pricing

d)

Value-based pricing

e)

Cross-subsidization

30.

Suatu rumah sakit ingin menetapkan tarif minimal agar biaya operasional layanan dapat tertutupi tanpa menghasilkan kerugian. Tarif ini biasanya dihitung menggunakan pendekatan …

a)

Break-even pricing

b)

Cost-plus pricing

c)

Value-based pricing

d)

Average cost pricing

31.

Metode penetapan tarif yang menggunakan analisis titik impas (break‑even analysis) adalah …

a)

Cost‑plus pricing

b)

Value‑based pricing

c)

Break‑even pricing

d)

Incremental pricing

e)

Market‑based pricing

32.

Break Even Point (BEP). Sebuah klinik gigi menginvestasikan alat scaling sebesar Rp50.000.000 dengan biaya operasional Rp50.000 per pasien dan tarif layanan Rp150.000 per pasien. Jumlah pasien yang harus dilayani agar investasi mencapai titik impas adalah …

a)

200 pasien

b)

300 pasien

c)

400 pasien

d)

500 pasien

e)

600 pasien

33.

Break Even Point (BEP). Sebuah puskesmas membuka layanan USG dengan biaya tetap tahunan Rp100.000.000 dan biaya variabel Rp40.000 per pemeriksaan. Tarif layanan Rp100.000. BEP layanan adalah …

a)

1.000 pemeriksaan

b)

1.500 pemeriksaan

c)

2.000 pemeriksaan

d)

2.500 pemeriksaan

e)

3.000 pemeriksaan

34.

Payback Period. Rumah sakit membeli alat X‑Ray seharga Rp400.000.000. Setiap tahun alat tersebut menghasilkan pendapatan bersih Rp100.000.000. Payback period‑nya adalah …

a)

2 tahun

b)

3 tahun

c)

4 tahun

d)

5 tahun

e)

6 tahun

35.

Payback Period (Kasus Tidak Rata). Investasi alat ventilator membutuhkan modal Rp300.000.000 dengan estimasi arus kas masuk: Tahun 1 = Rp100.000.000; Tahun 2 = Rp120.000.000; Tahun 3 = Rp80.000.000. Kapan modal awal kembali?

a)

1,5 tahun

b)

2,0 tahun

c)

2,2 tahun

d)

2,5 tahun

e)

3 tahun

36.

NPV. Sebuah klinik mempertimbangkan program layanan home care dengan investasi awal Rp200.000.000. Arus kas tahunan selama 3 tahun berturut‑turut adalah Rp90.000.000, Rp90.000.000, dan Rp80.000.000. Dengan tingkat diskonto 10%, nilai NPV diperkirakan …

a)

NPV negatif (rugi)

b)

NPV = 0

c)

NPV sedikit positif

d)

NPV sangat besar

e)

Tidak dapat dihitung

37.

NPV (Pemahaman Konsep). Jika nilai NPV suatu proyek kesehatan lebih dari 0, maka keputusan investasi adalah …

a)

Ditolak karena tidak balik modal

b)

Diterima karena menghasilkan nilai tambah

c)

Ditolak karena risiko tinggi

d)

Ditunda sampai biaya turun

e)

Tidak relevan untuk keputusan

38.

IRR. Sebuah proyek layanan fisioterapi menghasilkan arus kas yang jika dihitung memiliki nilai IRR sebesar 18%. Tingkat diskonto (cost of capital) rumah sakit adalah 12%. Keputusan investasi yang tepat adalah …

a)

Ditolak karena IRR < diskonto

b)

Diterima karena IRR > diskonto

c)

Ditolak karena arus kas tidak stabil

d)

Ditunda hingga IRR turun

e)

Tidak dapat diputuskan

39.

IRR. Sebuah puskesmas membandingkan dua proyek. Proyek A memiliki IRR 10%, proyek B memiliki IRR 14%. Tingkat diskonto adalah 12%. Pilihan terbaik adalah …

a)

Pilih proyek A

b)

Pilih proyek B

c)

Pilih keduanya

d)

Tolak keduanya

e)

Pilih yang biaya awalnya terbesar

40.

Penerapan BEP. Jika biaya tetap meningkat tetapi tarif layanan tetap, maka nilai BEP akan …

a)

Turun

b)

Naik

c)

Tetap

d)

Tidak terpengaruh

e)

Tidak dapat dihitung

41.

Hubungan NPV dan IRR. Jika NPV suatu proyek = 0, maka IRR proyek tersebut …

a)

Lebih tinggi dari tingkat diskonto

b)

Lebih rendah dari tingkat diskonto

c)

Sama dengan tingkat diskonto

d)

Tidak dapat dinilai

e)

Selalu negatif

42.

Cost Minimization Analysis (CMA). Dua obat antidiabetes (Obat A dan Obat B) terbukti secara klinis memiliki efektivitas yang sama. Namun, biaya Obat A per pasien per bulan adalah Rp150.000, sedangkan Obat B Rp100.000. Metode evaluasi ekonomi yang paling tepat digunakan adalah …

a)

Cost–Benefit Analysis

b)

Cost–Utility Analysis

c)

Cost–Effectiveness Analysis

d)

Cost Minimization Analysis

e)

Incremental Analysis

43.

Cost Effectiveness Analysis (CEA). Jika program A memiliki biaya Rp1.000.000 per kasus penyakit yang dicegah dan program B Rp800.000 per kasus, maka …

a)

Program A lebih efisien

b)

Program B lebih efisien

c)

Kedua program sama

d)

Tidak dapat dibandingkan

e)

Harus menggunakan CBA

44.

CBA (Interpretasi). Jika hasil CBA dari program imunisasi menunjukkan Benefit–Cost Ratio (BCR) = 2,5, maka artinya …

a)

Program merugikan

b)

Program impas

c)

Manfaat 2,5 kali lebih besar dari biaya

d)

Biaya lebih besar dari manfaat

e)

Tidak layak dijalankan

45.

CUA (Interpretasi). Intervensi A memberikan tambahan 3 QALY dengan biaya Rp90 juta, sedangkan intervensi B memberikan tambahan 2 QALY dengan biaya Rp70 juta. Intervensi yang lebih efisien secara utilitas adalah …

a)

A

b)

B

c)

Sama saja

d)

Tidak dapat dibandingkan

e)

Bergantung pada pendapatan pasien

46.

Konsep Mikro Pembiayaan Kesehatan. Sebuah rumah sakit melakukan analisis biaya layanan rawat inap untuk menentukan tarif yang efisien dan terjangkau. Analisis ini termasuk ke dalam …

a)

Konsep makro pembiayaan

b)

Konsep mikro pembiayaan

c)

Permasalahan alokasi anggaran

d)

Analisis beban biaya nasional

e)

Kebijakan fiskal kesehatan

47.

Konsep Makro Pembiayaan Kesehatan. Kementerian Kesehatan mengevaluasi total pengeluaran kesehatan nasional untuk mengetahui persentase pembiayaan publik dan swasta. Evaluasi ini merupakan bagian dari …

a)

Konsep mikro

b)

Analisis tarif layanan

c)

Konsep makro

d)

Evaluasi cost‑effectiveness

e)

Analisis rumah sakit

48.

Permasalahan Pembiayaan Nasional. Tingginya proporsi out‑of‑pocket (OOP) sering dikaitkan dengan fenomena …

a)

Financial protection meningkat

b)

Akses layanan makin murah

c)

Risiko kemiskinan akibat biaya kesehatan

d)

Biaya layanan semakin efisien

e)

Pembiayaan publik mendominasi

49.

National Health Account (NHA). NHA digunakan pemerintah untuk mengetahui aliran dana kesehatan dari berbagai sumber seperti pemerintah, swasta, donor, dan rumah tangga. Fungsi utama NHA adalah …

a)

Menentukan tarif layanan rumah sakit

b)

Mengukur efektivitas obat

c)

Memetakan arus pembiayaan kesehatan nasional

d)

Mengukur beban penyakit

e)

Mengatur distribusi tenaga kesehatan

50.

Data NHA (Sumber Pembiayaan). Dalam laporan NHA, salah satu sumber pembiayaan adalah "General Government Health Expenditure" (GGHE). Istilah ini mengacu pada …

a)

Pembayaran langsung pasien

b)

Belanja kesehatan pemerintah

c)

Pembiayaan swasta

d)

Dana hibah antarnegara

e)

Investasi perusahaan farmasi

51.

Data NHA (Pengeluaran Rumah Tangga). Jika NHA menunjukkan proporsi besar pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan, maka dapat diinterpretasikan bahwa …

a)

Proteksi finansial kuat

b)

Risiko kebangkrutan medis rendah

c)

Belanja kesehatan pemerintah sudah sangat besar

d)

Sistem pembiayaan kurang melindungi masyarakat

e)

Masyarakat tidak membutuhkan asuransi

52.

Isu Makro (Efisiensi Sistem). Pengeluaran kesehatan nasional meningkat, tetapi tidak diikuti peningkatan kualitas layanan. Permasalahan ini berkaitan dengan …

a)

Inefisiensi alokatif

b)

Efisiensi teknis

c)

Harga pasar tenaga kesehatan

d)

Mikro‑costing

e)

Break‑even point rumah sakit

53.

Isu Mikro (Biaya Rumah Sakit). Rumah sakit mengalami defisit karena tarif INA‑CBG’s lebih rendah dari biaya operasional riil. Permasalahan ini termasuk …

a)

Isu makro terkait sistem nasional

b)

Isu mikro terkait struktur biaya fasilitas kesehatan

c)

Masalah beban penyakit

d)

Kegagalan pasar tenaga kerja

e)

Permasalahan epidemiologi

54.

Fungsi NHA dalam Kebijakan Publik. NHA dapat digunakan pembuat kebijakan untuk menentukan prioritas anggaran, misalnya meningkatkan pembiayaan preventif jika data menunjukkan dominasi anggaran kuratif. Hal ini menunjukkan bahwa NHA berfungsi sebagai …

a)

Alat perhitungan tarif

b)

Alat advokasi kebijakan

c)

Sistem klaim rumah sakit

d)

Instrumen biaya mikro

e)

Metode evaluasi klinis

55.

Sebuah puskesmas pemerintah menghadapi keterlambatan pencairan dana kapitasi JKN sehingga menghambat penyediaan bahan habis pakai. Hal ini mencerminkan tantangan dalam pengelolaan keuangan sektor pemerintah, yaitu …

a)

Motivasi profit yang rendah

b)

Ketergantungan pada transfer dan regulasi

c)

Persaingan pasar bebas

d)

Kelebihan fleksibilitas anggaran

e)

Tidak adanya sistem akuntabilitas

56.

Rumah sakit swasta premium menaikkan harga layanan rawat inap karena peningkatan biaya operasional dan investasi alat kesehatan baru. Motivasi utama dari kebijakan ini adalah …

a)

Memenuhi kewajiban audit pemerintah

b)

Mengejar efisiensi pengelolaan anggaran

c)

Memaksimalkan profit untuk keberlanjutan usaha

d)

Menurunkan utilisasi layanan

e)

Menghindari risiko hukum

57.

Sumber pendapatan utama bagi rumah sakit swasta tipe menengah umumnya berasal dari …

a)

APBN dan APBD

b)

Dana kapitasi

c)

Hibah pemerintah

d)

Pembayaran pasien umum dan asuransi swasta

e)

Dana desa

58.

Sebuah klinik swasta menghadapi masalah cash flow karena 70% pendapatannya berasal dari klaim asuransi swasta yang terlambat dibayar. Tantangan ini termasuk …

a)

Risiko pasar

b)

Risiko regulasi

c)

Risiko likuiditas

d)

Risiko produksi

e)

Risiko kompetitor

59.

Ketika pemerintah daerah menetapkan plafon anggaran kesehatan yang ketat, maka strategi yang harus dilakukan pengelola fasilitas kesehatan pemerintah adalah …

a)

Meningkatkan tarif layanan untuk pasien umum

b)

Mengurangi transparansi penggunaan anggaran

c)

Menyesuaikan prioritas program yang cost‑effective

d)

Mengurangi pelaporan kepada pusat

e)

Mengalihkan anggaran untuk investasi non‑medis

60.

Sumber biaya terbesar pada klinik swasta rawat jalan biasanya berasal dari …

a)

Gaji tenaga kesehatan

b)

Pajak dan retribusi

c)

Belanja modal alat kesehatan

d)

Biaya transportasi pasien

e)

Bantuan hibah rutin

61.

Akibat persaingan RS baru di sekitar lokasi. Hal ini termasuk tantangan…

a)

Risiko regulasi

b)

Risiko pasar dan kompetisi

c)

Risiko moral hazard

d)

Risiko human resources

e)

Risiko audit

62.

UPTD farmasi pemerintah kesulitan menetapkan harga obat karena harus mematuhi regulasi e-catalog dan pengadaan barang/jasa. Ini menunjukkan bahwa sektor pemerintah memiliki karakter…

a)

Fleksibilitas tinggi dalam penentuan harga

b)

Mengutamakan profit daripada kepatuhan

c)

Keterikatan kuat pada aturan pengadaan

d)

Ketergantungan penuh pada swasta

e)

Tidak perlu mempertimbangkan efisiensi

63.

Rumah sakit swasta menerapkan sistem cost control dan monitoring rutin pada penggunaan obat untuk mengurangi pemborosan. Antisipasi ini bertujuan untuk…

a)

Meningkatkan ketergantungan terhadap dana pemerintah

b)

Mengurangi profit

c)

Meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan finansial

d)

Mengurangi kualitas layanan

e)

Menghambat akreditasi

64.

Sebuah rumah sakit swasta mempertanyakan kewajiban mereka untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Pihak manajemen meminta dasar hukum resmi yang mengatur penyelenggaraan JKN. Dasar hukum utama yang harus dirujuk adalah…

a)

PP No. 86 Tahun 2013

b)

Permenkes No. 3 Tahun 2023

c)

UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS

d)

Permenkes No. 71 Tahun 2013

e)

Peraturan Daerah tentang Kesehatan

65.

Salah satu tujuan JKN adalah menjamin seluruh penduduk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa kesulitan finansial. Hal ini dikenal sebagai konsep…

a)

Economic Growth

b)

Universal Health Coverage (UHC)

c)

Public-Private Mix

d)

Cost Containment

e)

Consumer Driven Health Care

66.

Sendi utama JKN adalah gotong royong. Dalam praktiknya, konsep ini berarti…

a)

Peserta kaya membayar iuran bagi peserta lain

b)

Peserta miskin membayar lebih besar

c)

Semua peserta membayar sama rata

d)

Faskes menanggung kerugian peserta

e)

Pemerintah mengelola layanan tanpa dukungan swasta

67.

Seorang warga yang bekerja di perusahaan swasta telah terdaftar sebagai Pekerja Penerima Upah (PPU). Namun ia juga mendaftar sebagai peserta mandiri. Sebagai peserta JKN, status yang berlaku adalah…

a)

Peserta mandiri karena mendaftar sendiri

b)

PPU dan mandiri digabungkan menjadi satu

c)

Status ganda diperbolehkan

d)

Status sebagai PPU karena prioritas penetapan oleh pemberi kerja

e)

Tidak sah sebagai peserta JKN

68.

Seorang peserta JKN marah karena tidak bisa langsung berobat ke rumah sakit tanpa rujukan. Hal ini terjadi karena JKN menggunakan sistem…

a)

Fee for service

b)

District health model

c)

Pelayanan kesehatan berjenjang (gatekeeper)

d)

Sistem terbuka tanpa pembatasan faskes

e)

Skip and pay system

69.

Peserta JKN mempertanyakan mengapa pelayanan estetika dan kosmetik tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Hal tersebut karena manfaat JKN hanya mencakup…

a)

Layanan medis yang bersifat elektif

b)

Layanan preventif saja

c)

Pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang sesuai indikasi medis

d)

Semua layanan tanpa batasan

e)

Layanan yang bernilai ekonomis tinggi

70.

Sebuah faskes tingkat pertama menolak peserta JKN karena pasien datang dalam keadaan gawat darurat. Penolakan tersebut melanggar karena kewajiban faskes dalam JKN adalah…

a)

Melayani pasien hanya sesuai kuota

b)

Menolak peserta yang tidak membawa kartu

c)

Wajib memberikan pelayanan gawat darurat tanpa melihat status kepesertaan

d)

Hanya melayani PBI

e)

Melayani peserta yang membayar biaya tambahan