NEW
Font size
WorksheetsUTS dan UAS Ekonomi Kesehatan — Kumpulan Soal (Kelas 13)
Total questions: 70
Worksheet time: 35mins
Sebuah puskesmas menghadapi keterbatasan anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Mereka harus memilih antara meningkatkan layanan ANC atau memperluas program gizi balita. Keputusan ini ditentukan oleh prinsip ekonomi kesehatan bahwa sumber daya bersifat terbatas sehingga harus dialokasikan secara efisien. Konsep yang digambarkan kasus ini adalah …
Moral hazard
Scarcity
Cost containment
Equity
Cost shifting
Rumah sakit mengeluarkan biaya besar untuk membeli alat radiologi. Untuk menilai apakah investasi tersebut memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya, manajemen melakukan analisis perbandingan biaya dan manfaat kesehatan yang dihasilkan. Jenis evaluasi ekonomi kesehatan yang digunakan adalah …
Cost–Utility Analysis
Cost–Benefit Analysis
Cost–Effectiveness Analysis
Budget Impact Analysis
Cost–Minimization Analysis
Puskesmas menyelenggarakan program penyuluhan gizi untuk masyarakat. Evaluasi menemukan bahwa biaya program rendah tetapi manfaat kesehatan yang dihasilkan sangat besar dalam penurunan angka stunting. Ini menunjukkan konsep bahwa penggunaan sumber daya menghasilkan manfaat kesehatan maksimal. Konsep tersebut adalah …
Efisiensi teknis
Efisiensi alokatif
Efektivitas klinis
Opportunity cost
Equity
Ketika memilih intervensi kesehatan, manajemen rumah sakit mempertimbangkan bahwa jika memilih program A, maka mereka harus menghentikan program B karena keterbatasan dana. Pengorbanan manfaat dari program B disebut …
Fixed cost
Sunk cost
Opportunity cost
Direct cost
Incremental cost
Sebuah kabupaten menerapkan program subsidi biaya persalinan untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan ini bertujuan memastikan bahwa setiap individu memiliki akses layanan kesehatan yang adil. Konsep ekonomi kesehatan yang mendasari kebijakan ini adalah …
Efficiency
Scarcity
Equity
Moral hazard
Cost sharing
Seorang manajer puskesmas sedang menilai biaya langsung yang harus dikeluarkan untuk penanganan TB seperti biaya obat, tenaga kesehatan, dan pemeriksaan laboratorium. Jenis biaya yang dihitung dalam analisis ekonomi kesehatan ini adalah …
Indirect cost
Intangible cost
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Capital cost
Program imunisasi HPV di suatu daerah menunjukkan bahwa biaya per kasus kanker serviks yang berhasil dicegah sangat rendah dibandingkan dengan pengobatan kanker di rumah sakit. Analisis ini menunjukkan pendekatan ekonomi kesehatan berupa …
Cost–Minimization Analysis
Cost–Benefit Analysis
Cost–Effectiveness Analysis
Cost–Utility Analysis
Budget Impact Analysis
Klinik swasta menaikkan tarif pelayanan karena meningkatnya harga obat. Kenaikan tarif ini kemudian dibebankan kepada pasien sebagai bentuk pengalihan biaya. Fenomena ini disebut …
Cost sharing
Cost shifting
Supplier-induced demand
Adverse selection
Incremental costing
Pada sebuah desa terpencil, akses terhadap fasilitas kesehatan terbatas sehingga pemerintah membangun puskesmas pembantu. Intervensi ini bertujuan mengurangi kesenjangan akses antarwilayah. Hal ini terkait dengan konsep …
Technical efficiency
Allocative efficiency
Equity
Marginal cost
Productivity
Manajemen rumah sakit sedang mengevaluasi apakah penambahan jumlah perawat dapat meningkatkan jumlah pasien yang dapat dilayani tanpa menambah biaya lain secara signifikan. Pengukuran output tambahan dari penambahan satu unit input kesehatan ini merupakan konsep …
Marginal analysis
Opportunity cost
Intangible benefit
Cost containment
Direct non-medical benefit
Sebuah rumah sakit swasta melakukan promosi besar-besaran untuk layanan medical check-up premium. Peningkatan permintaan terjadi karena pengaruh informasi dari penyedia layanan, bukan karena kebutuhan medis riil pasien. Fenomena ini disebut …
Cost shifting
Supplier-induced demand
Moral hazard
Pemerintah melakukan regulasi tarif maksimal untuk operasi caesar guna mencegah rumah sakit menaikkan harga secara berlebihan. Tindakan pemerintah ini merupakan fungsi dalam industri layanan kesehatan sebagai …
Provider
Regulator
Financier
Stewardship
Purchaser
Sebuah perusahaan asuransi kesehatan menerima peserta baru tanpa mengetahui riwayat penyakitnya. Setelah bergabung, banyak peserta mengajukan klaim karena memiliki penyakit kronis sejak lama. Kondisi ini merupakan contoh …
Moral hazard
Cost sharing
Adverse selection
Cream skimming
Supplier-induced demand
Puskesmas menambah jumlah perawat untuk meningkatkan kapasitas pelayanan. Output layanan meningkat secara signifikan tanpa kenaikan biaya besar. Hal ini mencerminkan karakteristik industri kesehatan yaitu …
Labor intensive
Capital intensive
Cost sharing
Market failure
Information asymmetry
Rumah sakit daerah membeli alat CT-Scan mahal untuk meningkatkan kualitas layanan, namun hanya digunakan 20% dari kapasitas maksimal sehingga biaya per pemeriksaan menjadi sangat tinggi. Hal ini mencerminkan masalah …
Moral hazard
Underutilization
Cost minimization
Overutilization
Market segmentation
Industri layanan kesehatan memiliki karakteristik bahwa pasien sulit menilai kualitas pengobatan karena kurang memahami informasi medis, sehingga sangat bergantung pada tenaga kesehatan. Kondisi ini dikenal sebagai …
Information asymmetry
Market equality
Cost shifting
Cream skimming
Economic rationality
Sebuah klinik menetapkan tarif tinggi untuk layanan spesialis karena minimnya fasilitas sejenis di wilayah tersebut. Klinik dapat menentukan harga karena tidak memiliki banyak pesaing. Kondisi pasar seperti ini disebut …
Perfect competition
Monopoly
Monopolistic competition
Oligopoly
Market contestability
BPJS Kesehatan bertindak sebagai pembeli layanan dari fasilitas kesehatan dan menentukan tarif INA-CBG’s untuk pembiayaan layanan. Dalam sistem industri kesehatan, BPJS berperan sebagai …
Provider
Purchaser
Regulator
Manager
Stakeholder pasif
Sebuah rumah sakit memindahkan pasien dengan kondisi stabil ke rumah sakit lain karena tarif INA-CBG’s lebih rendah daripada biaya pengobatan aktual. Tindakan ini merupakan contoh …
Supplier-induced demand
Dumping
Cost containment
Up-coding
Gatekeeping
Pemerintah melakukan program akreditasi untuk memastikan rumah sakit memenuhi standar mutu dan keselamatan pasien. Program ini merupakan bagian dari …
Market competition
Quality assurance
Cost minimization
Buyer protection
Resource allocation
Sebuah puskesmas menghitung biaya total pelaksanaan program imunisasi selama 1 tahun, termasuk biaya vaksin, gaji tenaga kesehatan, transportasi, dan penyimpanan vaksin. Jenis biaya yang dihitung tersebut adalah …
Direct medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Incremental cost
Sunk cost
Dalam program pencegahan TB, pemerintah ingin mengetahui biaya tambahan jika cakupan layanan diperluas dari 1.000 menjadi 2.000 pasien. Biaya tambahan yang muncul disebut …
Total cost
Average cost
Marginal cost
Opportunity cost
Capital cost
Sebuah rumah sakit membeli alat USG baru dengan harga mahal. Setelah perhitungan, biaya yang dikeluarkan untuk pembelian tidak dapat dikembalikan meskipun alat jarang digunakan. Biaya ini tergolong …
Variable cost
Fixed cost
Indirect cost
Sunk cost
Incremental cost
Program edukasi gizi membutuhkan biaya Rp15.000.000 untuk menjangkau 500 peserta. Manajer program ingin mengetahui rata-rata biaya per peserta sebagai dasar efisiensi. Analisis yang digunakan adalah …
Total cost
Average cost
Marginal cost
Direct cost
Opportunity cost
Dalam perencanaan program, tim menghitung biaya yang dikeluarkan akibat hilangnya produktivitas pasien selama sakit. Jenis biaya ini termasuk …
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Intangible cost
Indirect cost
Variable cost
Rumah sakit menetapkan tarif layanan laboratorium berdasarkan penjumlahan biaya bahan habis pakai, tenaga kerja, biaya overhead, ditambah margin keuntungan. Metode penetaran ini disebut …
Activity-based costing
Cost-plus pricing
Value-based pricing
Differential pricing
Marginal pricing
Sebuah klinik memberikan tarif lebih rendah untuk pasien BPJS dibandingkan pasien umum. Klinik menerapkan strategi tarif berbeda untuk segmen pasar tertentu. Metode tarif ini dikenal sebagai …
Uniform pricing
Cost-plus pricing
Value-based pricing
Differential pricing
Incremental pricing
Rumah sakit menghitung tarif rawat inap dengan mempertimbangkan nilai manfaat klinis dan kepuasan pasien, bukan hanya biaya produksi layanan. Tarif ditentukan berdasarkan persepsi nilai oleh pasien. Ini merupakan contoh …
Activity-based costing
Value-based pricing
Cost-plus pricing
Break-even pricing
Average cost pricing
RS menghitung tarif pelayanan berdasarkan seluruh aktivitas yang memberikan kontribusi pada proses layanan, misalnya waktu dokter, penggunaan alat, dan bahan medis. Metode tarif berdasarkan unit aktivitas ini adalah …
Marginal pricing
Activity-based costing
Differential pricing
Value-based pricing
Cross-subsidization
Suatu rumah sakit ingin menetapkan tarif minimal agar biaya operasional layanan dapat tertutupi tanpa menghasilkan kerugian. Tarif ini biasanya dihitung menggunakan pendekatan …
Break-even pricing
Cost-plus pricing
Value-based pricing
Average cost pricing
Metode penetapan tarif yang menggunakan analisis titik impas (break‑even analysis) adalah …
Cost‑plus pricing
Value‑based pricing
Break‑even pricing
Incremental pricing
Market‑based pricing
Break Even Point (BEP). Sebuah klinik gigi menginvestasikan alat scaling sebesar Rp50.000.000 dengan biaya operasional Rp50.000 per pasien dan tarif layanan Rp150.000 per pasien. Jumlah pasien yang harus dilayani agar investasi mencapai titik impas adalah …
200 pasien
300 pasien
400 pasien
500 pasien
600 pasien
Break Even Point (BEP). Sebuah puskesmas membuka layanan USG dengan biaya tetap tahunan Rp100.000.000 dan biaya variabel Rp40.000 per pemeriksaan. Tarif layanan Rp100.000. BEP layanan adalah …
1.000 pemeriksaan
1.500 pemeriksaan
2.000 pemeriksaan
2.500 pemeriksaan
3.000 pemeriksaan
Payback Period. Rumah sakit membeli alat X‑Ray seharga Rp400.000.000. Setiap tahun alat tersebut menghasilkan pendapatan bersih Rp100.000.000. Payback period‑nya adalah …
2 tahun
3 tahun
4 tahun
5 tahun
6 tahun
Payback Period (Kasus Tidak Rata). Investasi alat ventilator membutuhkan modal Rp300.000.000 dengan estimasi arus kas masuk: Tahun 1 = Rp100.000.000; Tahun 2 = Rp120.000.000; Tahun 3 = Rp80.000.000. Kapan modal awal kembali?
1,5 tahun
2,0 tahun
2,2 tahun
2,5 tahun
3 tahun
NPV. Sebuah klinik mempertimbangkan program layanan home care dengan investasi awal Rp200.000.000. Arus kas tahunan selama 3 tahun berturut‑turut adalah Rp90.000.000, Rp90.000.000, dan Rp80.000.000. Dengan tingkat diskonto 10%, nilai NPV diperkirakan …
NPV negatif (rugi)
NPV = 0
NPV sedikit positif
NPV sangat besar
Tidak dapat dihitung
NPV (Pemahaman Konsep). Jika nilai NPV suatu proyek kesehatan lebih dari 0, maka keputusan investasi adalah …
Ditolak karena tidak balik modal
Diterima karena menghasilkan nilai tambah
Ditolak karena risiko tinggi
Ditunda sampai biaya turun
Tidak relevan untuk keputusan
IRR. Sebuah proyek layanan fisioterapi menghasilkan arus kas yang jika dihitung memiliki nilai IRR sebesar 18%. Tingkat diskonto (cost of capital) rumah sakit adalah 12%. Keputusan investasi yang tepat adalah …
Ditolak karena IRR < diskonto
Diterima karena IRR > diskonto
Ditolak karena arus kas tidak stabil
Ditunda hingga IRR turun
Tidak dapat diputuskan
IRR. Sebuah puskesmas membandingkan dua proyek. Proyek A memiliki IRR 10%, proyek B memiliki IRR 14%. Tingkat diskonto adalah 12%. Pilihan terbaik adalah …
Pilih proyek A
Pilih proyek B
Pilih keduanya
Tolak keduanya
Pilih yang biaya awalnya terbesar
Penerapan BEP. Jika biaya tetap meningkat tetapi tarif layanan tetap, maka nilai BEP akan …
Turun
Naik
Tetap
Tidak terpengaruh
Tidak dapat dihitung
Hubungan NPV dan IRR. Jika NPV suatu proyek = 0, maka IRR proyek tersebut …
Lebih tinggi dari tingkat diskonto
Lebih rendah dari tingkat diskonto
Sama dengan tingkat diskonto
Tidak dapat dinilai
Selalu negatif
Cost Minimization Analysis (CMA). Dua obat antidiabetes (Obat A dan Obat B) terbukti secara klinis memiliki efektivitas yang sama. Namun, biaya Obat A per pasien per bulan adalah Rp150.000, sedangkan Obat B Rp100.000. Metode evaluasi ekonomi yang paling tepat digunakan adalah …
Cost–Benefit Analysis
Cost–Utility Analysis
Cost–Effectiveness Analysis
Cost Minimization Analysis
Incremental Analysis
Cost Effectiveness Analysis (CEA). Jika program A memiliki biaya Rp1.000.000 per kasus penyakit yang dicegah dan program B Rp800.000 per kasus, maka …
Program A lebih efisien
Program B lebih efisien
Kedua program sama
Tidak dapat dibandingkan
Harus menggunakan CBA
CBA (Interpretasi). Jika hasil CBA dari program imunisasi menunjukkan Benefit–Cost Ratio (BCR) = 2,5, maka artinya …
Program merugikan
Program impas
Manfaat 2,5 kali lebih besar dari biaya
Biaya lebih besar dari manfaat
Tidak layak dijalankan
CUA (Interpretasi). Intervensi A memberikan tambahan 3 QALY dengan biaya Rp90 juta, sedangkan intervensi B memberikan tambahan 2 QALY dengan biaya Rp70 juta. Intervensi yang lebih efisien secara utilitas adalah …
A
B
Sama saja
Tidak dapat dibandingkan
Bergantung pada pendapatan pasien
Konsep Mikro Pembiayaan Kesehatan. Sebuah rumah sakit melakukan analisis biaya layanan rawat inap untuk menentukan tarif yang efisien dan terjangkau. Analisis ini termasuk ke dalam …
Konsep makro pembiayaan
Konsep mikro pembiayaan
Permasalahan alokasi anggaran
Analisis beban biaya nasional
Kebijakan fiskal kesehatan
Konsep Makro Pembiayaan Kesehatan. Kementerian Kesehatan mengevaluasi total pengeluaran kesehatan nasional untuk mengetahui persentase pembiayaan publik dan swasta. Evaluasi ini merupakan bagian dari …
Konsep mikro
Analisis tarif layanan
Konsep makro
Evaluasi cost‑effectiveness
Analisis rumah sakit
Permasalahan Pembiayaan Nasional. Tingginya proporsi out‑of‑pocket (OOP) sering dikaitkan dengan fenomena …
Financial protection meningkat
Akses layanan makin murah
Risiko kemiskinan akibat biaya kesehatan
Biaya layanan semakin efisien
Pembiayaan publik mendominasi
National Health Account (NHA). NHA digunakan pemerintah untuk mengetahui aliran dana kesehatan dari berbagai sumber seperti pemerintah, swasta, donor, dan rumah tangga. Fungsi utama NHA adalah …
Menentukan tarif layanan rumah sakit
Mengukur efektivitas obat
Memetakan arus pembiayaan kesehatan nasional
Mengukur beban penyakit
Mengatur distribusi tenaga kesehatan
Data NHA (Sumber Pembiayaan). Dalam laporan NHA, salah satu sumber pembiayaan adalah "General Government Health Expenditure" (GGHE). Istilah ini mengacu pada …
Pembayaran langsung pasien
Belanja kesehatan pemerintah
Pembiayaan swasta
Dana hibah antarnegara
Investasi perusahaan farmasi
Data NHA (Pengeluaran Rumah Tangga). Jika NHA menunjukkan proporsi besar pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan, maka dapat diinterpretasikan bahwa …
Proteksi finansial kuat
Risiko kebangkrutan medis rendah
Belanja kesehatan pemerintah sudah sangat besar
Sistem pembiayaan kurang melindungi masyarakat
Masyarakat tidak membutuhkan asuransi
Isu Makro (Efisiensi Sistem). Pengeluaran kesehatan nasional meningkat, tetapi tidak diikuti peningkatan kualitas layanan. Permasalahan ini berkaitan dengan …
Inefisiensi alokatif
Efisiensi teknis
Harga pasar tenaga kesehatan
Mikro‑costing
Break‑even point rumah sakit
Isu Mikro (Biaya Rumah Sakit). Rumah sakit mengalami defisit karena tarif INA‑CBG’s lebih rendah dari biaya operasional riil. Permasalahan ini termasuk …
Isu makro terkait sistem nasional
Isu mikro terkait struktur biaya fasilitas kesehatan
Masalah beban penyakit
Kegagalan pasar tenaga kerja
Permasalahan epidemiologi
Fungsi NHA dalam Kebijakan Publik. NHA dapat digunakan pembuat kebijakan untuk menentukan prioritas anggaran, misalnya meningkatkan pembiayaan preventif jika data menunjukkan dominasi anggaran kuratif. Hal ini menunjukkan bahwa NHA berfungsi sebagai …
Alat perhitungan tarif
Alat advokasi kebijakan
Sistem klaim rumah sakit
Instrumen biaya mikro
Metode evaluasi klinis
Sebuah puskesmas pemerintah menghadapi keterlambatan pencairan dana kapitasi JKN sehingga menghambat penyediaan bahan habis pakai. Hal ini mencerminkan tantangan dalam pengelolaan keuangan sektor pemerintah, yaitu …
Motivasi profit yang rendah
Ketergantungan pada transfer dan regulasi
Persaingan pasar bebas
Kelebihan fleksibilitas anggaran
Tidak adanya sistem akuntabilitas
Rumah sakit swasta premium menaikkan harga layanan rawat inap karena peningkatan biaya operasional dan investasi alat kesehatan baru. Motivasi utama dari kebijakan ini adalah …
Memenuhi kewajiban audit pemerintah
Mengejar efisiensi pengelolaan anggaran
Memaksimalkan profit untuk keberlanjutan usaha
Menurunkan utilisasi layanan
Menghindari risiko hukum
Sumber pendapatan utama bagi rumah sakit swasta tipe menengah umumnya berasal dari …
APBN dan APBD
Dana kapitasi
Hibah pemerintah
Pembayaran pasien umum dan asuransi swasta
Dana desa
Sebuah klinik swasta menghadapi masalah cash flow karena 70% pendapatannya berasal dari klaim asuransi swasta yang terlambat dibayar. Tantangan ini termasuk …
Risiko pasar
Risiko regulasi
Risiko likuiditas
Risiko produksi
Risiko kompetitor
Ketika pemerintah daerah menetapkan plafon anggaran kesehatan yang ketat, maka strategi yang harus dilakukan pengelola fasilitas kesehatan pemerintah adalah …
Meningkatkan tarif layanan untuk pasien umum
Mengurangi transparansi penggunaan anggaran
Menyesuaikan prioritas program yang cost‑effective
Mengurangi pelaporan kepada pusat
Mengalihkan anggaran untuk investasi non‑medis
Sumber biaya terbesar pada klinik swasta rawat jalan biasanya berasal dari …
Gaji tenaga kesehatan
Pajak dan retribusi
Belanja modal alat kesehatan
Biaya transportasi pasien
Bantuan hibah rutin
Akibat persaingan RS baru di sekitar lokasi. Hal ini termasuk tantangan…
Risiko regulasi
Risiko pasar dan kompetisi
Risiko moral hazard
Risiko human resources
Risiko audit
UPTD farmasi pemerintah kesulitan menetapkan harga obat karena harus mematuhi regulasi e-catalog dan pengadaan barang/jasa. Ini menunjukkan bahwa sektor pemerintah memiliki karakter…
Fleksibilitas tinggi dalam penentuan harga
Mengutamakan profit daripada kepatuhan
Keterikatan kuat pada aturan pengadaan
Ketergantungan penuh pada swasta
Tidak perlu mempertimbangkan efisiensi
Rumah sakit swasta menerapkan sistem cost control dan monitoring rutin pada penggunaan obat untuk mengurangi pemborosan. Antisipasi ini bertujuan untuk…
Meningkatkan ketergantungan terhadap dana pemerintah
Mengurangi profit
Meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan finansial
Mengurangi kualitas layanan
Menghambat akreditasi
Sebuah rumah sakit swasta mempertanyakan kewajiban mereka untuk bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Pihak manajemen meminta dasar hukum resmi yang mengatur penyelenggaraan JKN. Dasar hukum utama yang harus dirujuk adalah…
PP No. 86 Tahun 2013
Permenkes No. 3 Tahun 2023
UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN dan UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS
Permenkes No. 71 Tahun 2013
Peraturan Daerah tentang Kesehatan
Salah satu tujuan JKN adalah menjamin seluruh penduduk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa kesulitan finansial. Hal ini dikenal sebagai konsep…
Economic Growth
Universal Health Coverage (UHC)
Public-Private Mix
Cost Containment
Consumer Driven Health Care
Sendi utama JKN adalah gotong royong. Dalam praktiknya, konsep ini berarti…
Peserta kaya membayar iuran bagi peserta lain
Peserta miskin membayar lebih besar
Semua peserta membayar sama rata
Faskes menanggung kerugian peserta
Pemerintah mengelola layanan tanpa dukungan swasta
Seorang warga yang bekerja di perusahaan swasta telah terdaftar sebagai Pekerja Penerima Upah (PPU). Namun ia juga mendaftar sebagai peserta mandiri. Sebagai peserta JKN, status yang berlaku adalah…
Peserta mandiri karena mendaftar sendiri
PPU dan mandiri digabungkan menjadi satu
Status ganda diperbolehkan
Status sebagai PPU karena prioritas penetapan oleh pemberi kerja
Tidak sah sebagai peserta JKN
Seorang peserta JKN marah karena tidak bisa langsung berobat ke rumah sakit tanpa rujukan. Hal ini terjadi karena JKN menggunakan sistem…
Fee for service
District health model
Pelayanan kesehatan berjenjang (gatekeeper)
Sistem terbuka tanpa pembatasan faskes
Skip and pay system
Peserta JKN mempertanyakan mengapa pelayanan estetika dan kosmetik tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Hal tersebut karena manfaat JKN hanya mencakup…
Layanan medis yang bersifat elektif
Layanan preventif saja
Pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang sesuai indikasi medis
Semua layanan tanpa batasan
Layanan yang bernilai ekonomis tinggi
Sebuah faskes tingkat pertama menolak peserta JKN karena pasien datang dalam keadaan gawat darurat. Penolakan tersebut melanggar karena kewajiban faskes dalam JKN adalah…
Melayani pasien hanya sesuai kuota
Menolak peserta yang tidak membawa kartu
Wajib memberikan pelayanan gawat darurat tanpa melihat status kepesertaan
Hanya melayani PBI
Melayani peserta yang membayar biaya tambahan
