Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Soal Remadial PSAS B.Indonesia X

Total questions: 20

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

   Adalah sebuah kolam yang amat elok. Di tepi kolam itu adalah dua ekor burung diam. Kedua burung itupun bersahabat dengan seekor kura-kura. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu datanglah kemarau. Maka air kolam itu keringlah.maka berkatalah burung itu kepada sahabatnya kura-kura itu.”Hai sahabatku. Apakah hal kami sekarang karena air kolam ini telah keringlah. Baikla kami berpindah kepada kolam yang lain supaya dapat kami mencari makan di sana. Tetapi susah kami meninggalkan tuan hamba di sini. Sebab itu biarlah kami bawa tuan hamba dan kami lepaskan kepada tempat berair supaya senang hati kami. Hendakpun kami menerbangkan tuan hamba tiada boleh karena kulit tuan hamba itu terlalu keras, tiada dapat kami pagut. Akan tetapi adalah suatu bicara kami, kami bawa suatu kayu tuan hamba gigitlah pada sama tengah kayu itu. Maka kami terbangkan seorang suatu penjuru. Tetapi jangan tuan hamba bukakan mulut dari pada kayu itu.

Maka sahut kura-kura,”Baiklah, mana kata tuan hamba hemba turutlah.”

Maka dibawalah oleh burung itu sepotong kayu, maka digigitlah oleh kura-kura itu maka oleh burung itu diterbangkanlah seorang suatu penjuru. Setelah sampai burung itu terbang ke atas kampung orang maka heranlah segala orang melihat hal itu, kura-kura terbang di tengah-tengah dan dua ekor burung pada kiri kanannya. Maka sekalian orang itu pun bersoraklah serta menepuk-nepuk tangannya. Apabila didengar kura-kura akan bunyi orang riuh rendah, maka katanya kura-kura, “Apa sebabnya maka orang itu semuanya bersorak?” Demi dibukanya mulutnya, maka jatuhlah ia ke bumi lalu mati. (Penjedar Sastra, Dr.C. Hooykaas)Hal utama yang diceritakan dalam hikayat di atas adalah ...

a)

Dua ekor burung yang berbuat baik kepada seekor kura-kura

b)

Kura-kura yang celaka akibat tidak patuh pada kesepakatan

c)

Kecerdikan dua ekor burung dalam memindahkan kura-kura

d)

Kekaguman orang-orang kepada kura-kura yang diterbangkan dua ekor burung

2.

Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong."begitulah enaknya jadi orang miskin," batinnya,"dapat fasilitas gratis tidur di lantai." Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari. Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah ...

a)

Tubuhnya digerogoti penyakit

b)

Buruknya pelayanan rumah sakit

c)

Susahnya menjadi orang miskin

d)

Banyak bangsal yang kosong

e)

Tidak mendapat fasilitas gratis

3.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. "Kenang-kenangan" oleh Abdul Gani A.K. Amanat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ....

a)

Jangan cepat menyerah pada keadaan bagaimanapun juga.

b)

Jangan membuang waktu selagi masih ada waktu.

4.

4. "Ramai sekali Yah?" Tanya Wahyu saat kami memasuki halaman rumah Datu. Tak ada yang menyadari kedatanganku, semuanya serius memandang ke arah seorang penari. Oh... hatiku ciut. Tangganku tiba-tiba dingin. Desiran darahku semakin kencang. Acara mabbissu, acara ritual yang diperankan oleh para bissu. Orang kebanyakan mengatakan kalau bissu itu "Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakkunraito" (Laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Para bissu berperan sebagai penasihat raja. Pada masa pra-Islam mereka bisa dikatakan sebagai pendeta agama Bugis kuno. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissulah yang menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah. Nilai budaya yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...

a)

a. Bissu menentukan hari baik untuk memulai sesuatu

b)

b. Para bissu berperan sebagai penasihat raja

c)

c. Ritual bissu bagi suku Bugis untuk menentukan hari baik untuk memulai sesuatu

d)

d. Bissu memulai hari yang baik

5.

Bacalah teks hikayat berikut dengan saksama! Sebermula ada pun yang berjalan itu pertama Maharaja Dandah, kemudian menjadi saya pikir itu Maharaja Barang, dan menjadi kepala jalan Maharaja Syahmar dan Raja Perkasa yang menjadi ekor sekali, dan beberapa pula raja-raja sekalian isi rimba itu berjalan dengan segala rakyat tentaranya mengirimkan Tuan Syekh Alim di rimba itu serta dengan tempik soraknya. Adalah lakunya seperti halilintar membelah bumi dari sebab segala raja-raja yang tiada terkira-kira banyaknya itu. Syahdan maka segala isi rimba yang di tanah itu pun berjeritanlah dan tiadalah berketahuan lagi membawa dirinya, ada yang ke dalam lubang tanah ada yang di celah-celah batu adanya. Menilik isinya, kutipan di atas merupakan bagian ... dari keseluruhan alur cerita.

a)

eksposisi (pengenalan)

b)

komplikasi (pertikaian awal)

c)

konflik (pertentangan)

d)

puncak konflik (klimaks)

e)

penyelesaian (falling action)

6.

Maka kata Indera Bangsawan, "Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu. Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah ...

a)

Basmilah jika melihat kejahatan

b)

Jangan menyombongkan diri

c)

Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan

7.

Bacalah hikayat berikut! Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.

a)

kekacauan penduduk akibat hasutan

b)

ketidakpedulian raja kepada rakyatnya

c)

kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya

d)

kekejaman raja terhadap rakyatnya

e)

keadilan seorang raja kepada rakyatnya

8.

Bacalah hikayat berikut! Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa itu.

a)

diam, dan tuan

b)

daripadanya dan merebut

c)

raja dan tamasya

d)

rimba dan akal

e)

hamba dan buraksa

9.

Perhatikan teks di bawah ini! Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekalainnya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.

a)

Novel

b)

Hikayat

c)

Cerpen

d)

Deskripsi

10.

Bacalah penggalan hikayat berikut! "Janganlah adinda bertanya jua" jawab baginda dengan sedihnya. "Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata." "Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya." (Hikayat Kalilah dan Dimnah) Nilai moral yang tertuang dalam penggalan cerita di atas tampak pada perbuatan ...

a)

menghormati orang lain

b)

mendahulukan kepentingan umum

c)

menegur orang dengan bahasa yang sopan

d)

menolong orang yang sedang menderita

e)

membantu orang yang sedang bersedih hati

11.

Unsur eksentrik dalam sebuah cerpen yaitu ...

a)

Latar belakang penulis mengaitkan dengan kehidupan

b)

Amanat tokoh yang ingin disampaikan

c)

Setting Tempat tokoh

d)

Jalan cerita tokoh

e)

Sudut pandang tokoh

12.

Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum suaminya. Konjungsi "ketika" dalam teks di atas menyatakan....

a)

Urutan peristiwa

b)

Urutan waktu

c)

Hubungan peristiwa

d)

Hubungan waktu

e)

Hubungan sebab-akibat

13.

Wajahmu pucat seperti mayat hidup. Majas di atas adalah . . .

a)

hiperbola

b)

antonomasia

c)

simile

d)

personifikasi

e)

metafora

14.

Tentukan penggunaan majas dalam kutipan teks cerita sejarah berikut! Bintang-bintang mulai menampakkan diri yang bagaikan ikut mempercepat gerakan sang waktu.

a)

simile

b)

ironi

c)

hiperbola

d)

metafora

e)

personifikasi

15.

Perhatikan majas berikut ini... Angin malam sampaikan salam rinduku pada dia nan jauh di sana. Berikut ini Majas yang sejenis dengan majas di atas, kecuali...

a)

Pohon kelapa melambai-lambai di pinggir pantai

b)

Angin menyambar wajahku

c)

Nyanyian jangkrik memekakkan telingaku

d)

Pluit kereta malam menjerit saat akan berangkat

e)

Keringat dingin membanjiri tubuhku

16.

Angin malam sampaikanlah salammu pada dia nan jauh di sana.

a)

Simile

b)

Metafora

c)

Hiperbola

d)

Personifikasi

e)

Antonomasia

17.

  Cermati kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal!

(1) Dua gentong berusia ratusan tahun itu bagai sepasang manusia renta yang tercampakkan. (2) Keduanya duduk muram di sudut kamar paling belakang. (3) Menekur diam. (4) Bibirnya berlumur lelehan pewarna yang pekat dan sudah mengering.

(5) Menatap gentong tua itu tiba-tiba aku seperti melihat bayangan ibumu. (6) Melihat kedua tangannya yang berwarna kerak nasi dan telah menghasilkan lembar-lembar batik gentongan, yang sebagian dijual dan sebagian lagi sudah dipersiapkan untuk pernikahanmu, sebagaimana kewajiban seorang ibu memersembahkan hadiah itu, meskipun sudah pernah kautegaskan bahwa itu tidak perlu!

(7) Dialah perempuan Tanjungbumi yang tak lelah menyunggi tradisi meskipun berkelindan dengan sepi....

(8) Hanya pada dua gentong tua itu akan kautemukan bayangan ibumu. (9) Bersama benda peninggalan leluhur itulah ibumu berkarib memilin sepi. (10) Menunggumu pulang dengan kerinduan berkelindan. (11) Dan kini, benda tua itu tampak muram ditinggal pemiliknya. (12) Gelap yang tersisa saat kulongokkan kepala, mengintip ke dalam. (13) Mirip bilik hati ibumu; tak tertebak bagai lorong rahasia yang panjang.

("Gentong Tua", Muna Mayasari) Kalimat bermajas personifikasi dalam kutipan tersebut terdapat pada kalimat nomor

a)

(2)

b)

(5)

c)

(8)

d)

(12)

e)

(13)

18.

Cermati kutipan berikut untuk menjawab soal!

Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk membuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala?

... Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa. Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa. Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya. "Ambil libur dua hari apa tidak bisa sama sekali?" desaknya di ujung telepon. Saya menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu menelepon lagi untuk kesekian kali. (Semangkuk Perpisahan di Meja Makan", Miranda Seftiana) Konflik pada kutipan cerpen tersebut adalah ...

a)

Tidak perlu bisa memasak untuk menjadi anak perempuan yang baik.

b)

Seorang anak yang tidak menyempatkan waktu untuk bertemu ibunya.

c)

Seorang anak yang sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa untuk belajar memasak.

d)

Kemudahan mencari makanan dan minuman membuat seorang anak berselisih dengan ibunya.

e)

Seorang ibu yang meminta anaknya untuk libur agar bisa belajar memasak dengannya.

19.

Cermati kutipan novel berikut ini! Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insomnia ternyata malah mendukungku. Aku adalah penderita insomnia yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan untuk membaca. Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran mental yaitu kembali membuka buku. Seandainya Mereka Bisa Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya di ... Di manakah Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya menurut kutipan novel tersebut?

a)

tempat kerja baru

b)

sekolah

c)

rumah sakit

d)

universitas

20.

Depan para petani Derbyshire yang sangat skeptis, keras kepala, dan antiperubahan. Dari buku itu juga aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup merasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan astauria. Membaca semua itu semangatku kembali terpompai dan hatiku semakin bening siap menerima pelajaran-pelajaran baru. (Laskar Pelangi, Andrea Hirata) Pembuktian latar tempat dalam kutipan tersebut terdapat dalam bagian ...

a)

Aku adalah penderita insomnia yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan untuk membaca.

b)

Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insomnia ternyata malah mendukungku.

c)

Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran mental yaitu kembali membuka buku.

d)

Seandainya Mereka Bisa Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya di depan para petani Derbyshire yang sangat skeptis, keras kepala, dan antiperubahan.

e)

Dari buku itu juga aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup merasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan astauria.