WorksheetsASKEP COVID & AGD
Total questions: 21
Worksheet time: 13mins
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dirawat hari ke-3 dengan COVID-19, TD 130/85 mmHg, N: 88x/m, RR: 28x/m, T: 38.2°C, SpO2 91% udara ruang. Pasien mengeluh sesak napas saat aktivitas ringan, batuk produktif, dan tampak gelisah. Data penunjang: D-dimer 850 ng/mL, CRP 45 mg/L. Prioritas pengkajian keperawatan yang paling tepat adalah:
Pola eliminasi dan intake cairan 24 jam
Riwayat alergi obat dan makanan
Status oksigenasi dan pola napas
Kemampuan mobilisasi mandiri
Tingkat nyeri dan lokasi nyeri
Ny. S (52 th) hari rawat ke-5 COVID-19 sedang, mengeluh lemas, nafsu makan menurun, BB turun 3 kg dalam 1 minggu. TD 120/80 mmHg, N: 76x/m, RR: 24x/m, T: 37.8°C, SpO2 94% dengan O2 3 lpm. Albumin 2.8 g/dL, Hb 10.2 g/dL. Diagnosis keperawatan prioritas adalah elsewhere:
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake inadekuat
Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolar
Risiko infeksi b.d penurunan imunitas
Hipertermia b.d proses infeksi virus
Tn. B (58 th) COVID-19 hari ke-4, mengeluh sesak napas memberat, RR: 32x/m, SpO2 88% dengan O2 5 lpm nasal kanul, tampak retraksi intercostal, sianosis perifer (+). TD 140/90 mmHg, N: 102x/m, T: 38.5°C. Foto thorax: infiltrat bilateral luas. Intervensi keperawatan yang paling tepat adalah:
Berikan kompres hangat dan antipiretik oral
Anjurkan tirah baring total posisi supine
Kolaborasi pemberian oksigen high flow dan posisi prone
Batasi asupan cairan untuk mencegah edema paru
Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam
Ny. D (47 th) COVID-19 hari rawat ke-6, mengeluh batuk produktif, dahak kental kuning kehijauan, sulit dikeluarkan. RR: 26x/m, SpO2 92% O2 4 lpm, suara napas ronki basah kasar di kedua lapang paru. TD 125/80 mmHg, N: 84x/m, T: 37.9°C. Implementasi yang paling sesuai adalah:
Berikan antitusif untuk menekan refleks batuk
Ajarkan teknik batuk efektif dan lakukan nebulisasi
Tn. K (62 th) COVID-19 pneumonia hari rawat ke-7, diagnosis keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif". Batuk produktif dengan dahak kental sulit keluar, RR: 24x/m, SpO2 93% O2 4 lpm, ronki (+) di kedua basal paru. TD 130/85 mmHg, N: 88x/m, T: 37.5ºC. Intervensi manajemen jalan napas yang paling tepat:
Lakukan suction dalam setiap 1 jam secara rutin
Ajarkan teknik batuk efektif, berikan hidrasi adekuat, lakukan fisioterapi dada
Posisikan pasien supine datar untuk drainase postural
Batasi intake cairan untuk mengurangi produksi sputum
Berikan oksigen high flow 15 lpm untuk memperbaiki saturasi
Ny. M (39 th) COVID-19 hari ke-3, mengeluh demam tinggi 39.1ºC sejak 2 hari, menggigil, nyeri kepala, nyeri otot seluruh tubuh. TD 110/70 mmHg, N: 96x/m, RR: 24x/m, SpO2 95% udara ruang, mukosa bibir kering, turgor kulit menurun. Leukosit 11.500/µL. Diagnosis keperawatan yang tepat:
Gangguan pertukaran gas b.d kerusakan membran alveolar
Risiko syok hipovolemik b.d kehilangan cairan
Hipertermia b.d proses infeksi virus COVID-19
Nyeri akut b.d agen injuri biologis
Defisit volume cairan b.d output berlebihan
Tn. H (55 th) COVID-19 pneumonia berat hari rawat ke-9, menggunakan HFNC 50 lpm FiO2 60%, SpO2 93%, RR: 28x/m. Pasien mengeluh cemas, sulit tidur, sering terbangun, tampak lelah. TD 145/92 mmHg, N: 94x/m, T: 37.6ºC, tidak ada ronki. Intervensi prioritas adalah:
Berikan sedatif dosis tinggi untuk tidur nyenyak
Anjurkan membaca buku sampai tertidur
Ciptakan lingkungan tenang, atur jadwal istirahat terstruktur
Batasi kunjungan keluarga sepenuhnya
Tingkatkan FiO2 menjadi 80%
Ny. T (50 th) COVID-19 hari ke-5, mengeluh lemas berat saat bangun dari tidur, pusing berputar, TD 100/65 mmHg, N: 88x/m, RR: 24x/m, SpO2 94% O2 3 lpm, T: 37.5ºC. Pasien takut jatuh saat ke kamar mandi, Hb 9.8 g/dL. Implementasi keperawatan yang tepat:
Posisikan pasien semi fowler 30 derajat
Batasi intake cairan 1000 mL/24 jam
Lakukan suction setiap 1 jam rutin
Pilih intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien dengan mobilisasi terbatas:
Anjurkan tirah baring total tanpa mobilisasi
Biarkan pasien mobilisasi mandiri untuk kemandirian
Damping mobilisasi bertahap, ajarkan duduk perlahan sebelum berdiri
Pasang kateter urin untuk menghindari ke toilet
Berikan kursi roda untuk semua aktivitas
Tn. A (48 th) COVID-19 hari rawat ke-12, keluhan sesak membaik, SpO2 96% O2 2 lpm, RR: 20x/m. Mengeluh bosan, ingin segera pulang, sering tidak patuh minum obat, melepas masker saat perawat tidak ada. TD 120/80 mmHg, N: 78x/m, T: 37.1°C, PCR swab kontrol masih positif. Diagnosis keperawatan yang sesuai:
Ketidakpatuhan b.d kurang pengetahuan tentang protokol isolasi
Ansietas b.d hospitalisasi berkepanjangan
Gangguan pertukaran gas b.d infeksi paru
Intoleransi aktivitas b.d tirah baring lama
Risiko jatuh b.d kelemahan fisik
Ny. L (44 th) COVID-19 hari ke-6, sesak napas berkurang, SpO2 95% O2 3 lpm, RR: 22x/m. Pasien mengeluh BAB cair 5x/hari sejak kemarin, konsistensi lembek, tidak ada darah/lendir, perut melilit. TD 115/75 mmHg, N: 82x/m, T: 37.4°C. Bising usus 18x/menit. Pengkajian lanjutan yang diperlukan:
Foto thorax ulang untuk evaluasi pneumonia
Pemeriksaan EKG 12 lead
Intake output cairan, turgor kulit, tanda dehidrasi
Pemeriksaan fungsi ginjal ureum kreatinin
Pengukuran lingkar perut setiap 6 jam
Tn. P (60 th) COVID-19 hari rawat ke-8, diagnosis keperawatan "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif", terpasang O2 NRM 10 lpm. Setelah intervensi latihan batuk efektif dan nebulisasi 3x/hari selama 3 hari, SpO2 94%, RR: 24x/m, batuk produktif berkurang, suara napas vesikuler, ronki minimal. TD 130/85 mmHg, N: 86x/m, T: 37.4°C. Evaluasi berdasarkan kriteria hasil SLKI yang tepat:
Kriteria hasil tidak tercapai, frekuensi batuk meningkat
Kriteria hasil tercapai sebagian: batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun
Kriteria hasil tercapai seluruhnya, hentikan semua intervensi
Muncul masalah baru gangguan pertukaran gas
Kriteria hasil tidak dapat dievaluasi, perlu data tambahan
Ny. W (53 th) COVID-19 hari ke-4, mengeluh nyeri dada seperti tertindih saat bernapas dalam, terutama sisi kanan, RR: 28x/m, SpO2 90% O2 4 lpm, tampak menahan napas dangkal. TD 135/88 mmHg, N: 92x/m, T: 38.3°C, D-dimer 920 ng/mL. Tidak ada riwayat trauma. Intervensi kolaboratif yang tepat:
Berikan analgetik oral dan kompres dingin area nyeri
Lakukan pemeriksaan EKG dan enzim jantung
Kolaborasi rontgen thorax, CT scan, pertimbangkan antikoagulan
Anjurkan latihan napas dalam untuk mengurangi nyeri
Tinggikan kepala tempat tidur 90 derajat
Tn. E (56 th) hari rawat ke-5 COVID-19 pneumonia, terpasang O2 NRM 10 lpm, tampak gelisah. Hasil AGD: pH 7.32, PaCO2 52 mmHg, PaO2 68 mmHg, HCO3- 26 mEq/L, SaO2 89%, suhu 37.8°C. TD 140/90 mmHg, RR: 30x/m, N: 98x/m, riwayat PPOK. Interpretasi hasil AGD adalah:
Alkalosis respiratorik
Asidosis metabolik
Asidosis respiratorik
Alkalosis metabolik
Nilai gas darah dalam batas normal
Ny. V (49 th) COVID-19 hari ke-7, sesak napas, terpasang HFNC 45 lpm FiO2 50%. AGD: pH 7.48, PaCO2 32 mmHg, PaO2 75 mmHg, HCO3- 23 mEq/L, SaO2 93%, BE -1, laktat 1.8 mmol/L. RR: 32x/m, TD 125/80 mmHg, N: 96x/m, T: 37.6°C. Prosedur pengambilan AGD yang tepat dilakukan:
Tusuk vena mediana cubiti, aspirasi tanpa heparinisasi
Tusuk arteri radialis, langsung exposure udara 5 menit
Lakukan Allen test, tusuk arteri radialis, buang udara dalam spuit, tutup rapat
Tusuk arteri brachialis tanpa Allen test, simpan suhu ruang
Ambil dari kateter vena sentral, campur heparin 1:1
Tn. J (51 th) hari rawat ke-9 COVID-19, O2 6 lpm, keluhan sesak berkurang. AGD: pH 7.38, PaCO2 45 mmHg, PaO2 82 mmHg, HCO3- 26 mEq/L, SaO2 95%, BE +2. TD 120/75 mmHg, RR: 22x/m, N: 80x/m, T: 37.2°C, elektrolit normal. Interpretasi yang tepat:
Asidosis respiratorik terkompensasi sempurna
Alkalosis metabolik terkompensasi parsial
Ny. Q (46 th) COVID-19 hari ke-4, muntah >8x/hari, lemas, mukosa kering. AGD: pH 7.51, PaCO2 46 mmHg, PaO2 88 mmHg, HCO3- 36 mEq/L, SaO2 96%, K+ 2.9 mEq/L, Cl- 88 mEq/L. RR: 18x/m, TD 105/70 mmHg, N: 92x/m, O2 3 lpm, tidak ada riwayat penyakit paru. Interpretasi AGD:
Alkalosis respiratorik
Asidosis metabolik
Asidosis respiratorik
Alkalosis metabolik
Nilai gas darah dalam batas normal
Tn. N (63 th) COVID-19 + DM, hari rawat ke-6, GDS 380 mg/dL, napas cepat dalam (Kussmaul). AGD: pH 7.28, PaCO2 28 mmHg, PaO2 90 mmHg, HCO3- 13 mEq/L, SaO2 96%, BE -12, keton urin +++, laktat 2.1 mmol/L. RR: 28x/m, TD 110/70 mmHg. Dalam prosedur AGD, sampel harus segera dianalisis dalam:
60 menit jika disimpan suhu ruang
24 jam jika dimasukkan kulkas 4°C
2 jam dengan antikoagulan EDTA
10-15 menit atau simpan dalam es jika tertunda
30 menit tanpa perlu pendinginan khusus
Ny. F (54 th) COVID-19 hari ke-8, O2 nasal kanul 4 lpm, kondisi membaik. Perawat akan mengambil sampel AGD dari arteri radialis. Sebelum melakukan pungsi arteri, tindakan yang HARUS dilakukan terlebih dahulu adalah:
Memberikan anastesi lokal lidokain 2%
Melakukan desinfeksi dengan alkohol 70%
Melakukan Allen test untuk memastikan sirkulasi kolateral
Memposisikan pergelangan tangan fleksi 90 derajat
Menyiapkan spuit 5 cc yang sudah diheparinisasi
Tn. C (58 th) COVID-19 hari ke-6, riwayat hipertensi dan DM, mengeluh mual, lemas, nafsu makan menurun. AGD: pH 7.30, PaCO2 38 mmHg, PaO2 85 mmHg, HCO3- 18 mEq/L, SaO2 ...
95%, GDS 420 mg/dL, keton urin +++. RR: 26x/m (napas cepat dalam), TD 110/70 mmHg, N: 98x/m, O2 3 lpm. Interpretasi AGD:
Alkalosis respiratorik
Asidosis metabolik
Asidosis respiratorik
Alkalosis metabolik
Nilai gas darah dalam batas normal
