WorksheetsTO UP PPG MAPEL SKI NOMOR 1-10
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Pak Ahmad akan mengajarkan materi "Kondisi Jazirah Arab dan Peradaban Pra Islam" kepada siswa kelas VII. Beliau mengamati bahwa siswa-siswanya sering menunjukkan sikap kurang menghargai perbedaan budaya dan tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Beberapa siswa bahkan cenderung meremehkan kebudayaan lokal dan lebih mengagumi budaya asing. Dalam konteks pembelajaran tentang kondisi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Arab sebelum Islam, Pak Ahmad ingin merumuskan tujuan pembelajaran ranah sikap yang dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia siswa. Rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan kondisi tersebut adalah...
Siswa mampu menganalisis struktur sosial masyarakat Arab pra-Islam dan membandingkannya dengan struktur sosial masyarakat Indonesia modern
Siswa dapat menunjukkan sikap menghargai keberagaman budaya dan tradisi sebagai bagian dari sunnatullah dalam kehidupan bermasyarakat
Siswa mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi politik dan ekonomi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam
Siswa dapat mengidentifikasi berbagai sistem kepercayaan yang berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam dan dampaknya terhadap masyarakat
Siswa mampu menyusun timeline perkembangan peradaban Arab pra-Islam dan mengaitkannya dengan peradaban dunia pada masa yang sama
Bu Sari mengajar materi "Nabi Muhammad Sebelum Kerasulan Sampai Hijrah ke Madinah" di kelas VIII. Dalam observasinya, Bu Sari menemukan bahwa siswa-siswanya cenderung menerima informasi begitu saja tanpa mempertanyakan atau menganalisis lebih dalam. Ketika membahas peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, seperti peristiwa Hilf al-Fudhul, perdagangan ke Syam, dan pernikahan dengan Khadijah RA, siswa hanya menghafal fakta-fakta tersebut tanpa memahami hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Bu Sari ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran ini. Rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah...
Siswa dapat menceritakan kembali kronologi kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum kerasulan dengan urutan yang benar dan detail yang lengkap
Siswa mampu menganalisis faktor-faktor yang membentuk karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul
Siswa dapat menghafal nama-nama dan tanggal peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu pertama
Siswa mampu menggambarkan kondisi geografis dan demografis Makkah pada masa kehidupan awal Nabi Muhammad SAW dengan akurat
Siswa dapat menyebutkan silsilah keluarga Nabi Muhammad SAW dan menjelaskan kedudukan sosial keluarga Bani Hasyim di Makkah
Pak Budi mengampu mata pelajaran SKI di kelas IX dengan materi "Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar dan Umar bin Khattab". Dalam pembelajaran, Pak Budi menemukan bahwa siswa-siswanya cenderung individualistis dan kurang memiliki semangat kerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok. Mereka lebih suka bekerja sendiri dan enggan berbagi pengetahuan dengan teman-temannya. Pak Budi ingin memanfaatkan pembelajaran tentang sistem pemerintahan dan kebijakan-kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khattab untuk menumbuhkan semangat gotong royong pada siswanya. Beliau berencana menggunakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas kolaboratif dan saling membantu antar siswa. Rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai untuk menumbuhkan semangat gotong royong adalah...
Siswa terampil menyusun makalah individual tentang kebijakan-kebijakan khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab secara mandiri dan sistematis
Siswa mampu berkolaborasi dalam menganalisis dan mempresentasikan nilai-nilai kepemimpinan khalifah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
Siswa dapat mendemonstrasikan kemampuan public speaking dalam menyampaikan biografi khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab di depan kelas
Siswa terampil membuat mind mapping tentang struktur pemerintahan pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab dengan kreativitas tinggi
Siswa mampu mengoperasikan teknologi digital untuk mencari informasi tambahan tentang sejarah pemerintahan Khulafaur Rasyidin secara mandiri
Bu Rina mengajar materi "Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Asia Tenggara" di kelas X. Dalam pengamatannya, Bu Rina menemukan bahwa beberapa siswa menunjukkan sikap kurang toleran terhadap tradisi lokal yang telah berakulturasi dengan Islam. Mereka menganggap tradisi seperti sekaten, grebeg, dan berbagai upacara adat Jawa sebagai bid'ah yang harus ditinggalkan. Siswa-siswa ini cenderung bersikap rigid dan tidak mau menerima keberagaman dalam praktik keagamaan. Bu Rina ingin mengembangkan sikap penerimaan terhadap tradisi melalui pembelajaran tentang berbagai teori masuknya Islam di Nusantara, termasuk proses akulturasi budaya yang terjadi. Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling tepat untuk mengembangkan sikap penerimaan terhadap tradisi adalah...
Siswa menunjukkan kemampuan mengkritisi berbagai tradisi lokal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam murni dan memberikan solusi perbaikan
Siswa menunjukkan sikap menghargai proses akulturasi budaya Islam dengan tradisi lokal sebagai bagian dari kearifan dalam berdakwah
Siswa menunjukkan kemampuan membedakan antara tradisi yang Islami dan tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam secara tegas
Siswa menunjukkan sikap kritis terhadap berbagai bentuk sinkretisme dalam praktik keagamaan masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara
Siswa menunjukkan kemampuan menyaring tradisi-tradisi lokal yang dapat diterima dalam Islam dan yang harus ditinggalkan secara bijaksana
Pak Dedi mengajar materi "Sistem Pemerintahan Islam Dinasti Ayyubiyah dan Faktor Penyebab Keruntuhannya" di kelas XI. Dalam proses pembelajaran, Pak Dedi mengamati bahwa siswa-siswanya cenderung berpikir statis dan konvensional. Mereka kesulitan dalam mengembangkan ide-ide baru dan cenderung terpaku pada informasi yang ada di buku teks. Ketika diminta menganalisis faktor-faktor kemajuan dan kemunduran Dinasti Ayyubiyah, siswa hanya menyebutkan faktor-faktor yang sudah tertulis tanpa mampu mengembangkan perspektif baru atau mengaitkannya dengan konteks masa kini. Pak Dedi ingin mengembangkan kemampuan berpikir dinamis dan inovatif siswa melalui pembelajaran sejarah ini. Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir dinamis dan inovatif adalah...
Siswa dapat menyebutkan nama-nama sultan Dinasti Ayyubiyah dan periode pemerintahan masing-masing dengan hafalan yang kuat dan akurat
Siswa mampu mengembangkan hipotesis alternatif tentang faktor-faktor yang dapat mencegah keruntuhan Dinasti Ayyubiyah berdasarkan analisis historis
Siswa dapat menjelaskan struktur birokrasi pemerintahan Dinasti Ayyubiyah sesuai dengan informasi yang terdapat dalam sumber-sumber sejarah
Siswa mampu mendeskripsikan wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah pada masa kejayaannya dengan menggunakan peta dan data geografis
Siswa dapat mengidentifikasi tokoh-tokoh penting dalam Dinasti Ayyubiyah dan menjelaskan peran mereka dalam pemerintahan secara kronologis
Bu Lina akan menerapkan pendekatan Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran materi "Kondisi Jazirah Arab dan Peradaban Pra Islam". Beliau menyajikan masalah kontekstual: "Mengapa masyarakat Arab pra-Islam yang hidup di lingkungan gurun yang keras dapat mengembangkan tradisi syair dan sastra yang sangat tinggi, sementara di sisi lain mereka juga dikenal sebagai masyarakat yang sering berperang antar suku?" Bu Lina ingin siswanya menganalisis hubungan antara kondisi geografis, sosial, dan budaya masyarakat Arab pra-Islam. Dalam perencanaan pembelajaran ini, Bu Lina perlu menganalisis materi ajar berdasarkan struktur keilmuan untuk memastikan tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan karakteristik siswa kelas VII yang aktif dan suka bertanya. Analisis materi ajar "Agama Bangsa Arab Pra Islam" yang paling tepat berdasarkan struktur keilmuan dalam perencanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan PBL adalah...
Mengorganisir materi secara kronologis dari periode tertua hingga terbaru dengan penekanan pada hafalan nama-nama dewa dan ritual keagamaan
Menyusun materi berdasarkan pendekatan komparatif antara berbagai sistem kepercayaan untuk mengembangkan kemampuan analisis kritis siswa
Mengatur materi dengan fokus pada aspek geografis dan demografis tanpa mengaitkan dengan dimensi spiritual dan kepercayaan masyarakat Arab
Menyajikan materi dalam bentuk narasi cerita yang menarik tanpa struktur analitis yang jelas untuk memudahkan pemahaman siswa
Mengorganisir materi berdasarkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Arab pra-Islam dengan penekanan pada biografi individual mereka
Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang Dapat Diterapkan Remaja Masa Kini. Dalam pelaksanaan pembelajaran, Pak Andi mengamati bahwa siswa perlu memahami kondisi sosio-kultural masyarakat Madinah sebelum hijrah untuk dapat menganalisis mengapa Nabi memilih Madinah sebagai tujuan hijrah. Pak Andi ingin memastikan bahwa analisis materi yang dilakukan sesuai dengan struktur keilmuan dan dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa kelas VIII yang sudah mulai berpikir abstrak. Analisis materi ajar "Kondisi Sosio-Kultural Masyarakat Madinah Pra-Hijrah" yang paling tepat dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan PjBL adalah...
Menganalisis materi dengan fokus pada aspek politik dan ekonomi Madinah tanpa mengaitkan dengan faktor sosial dan budaya masyarakatnya
Menyajikan materi dalam bentuk data statistik dan grafik tentang komposisi penduduk Madinah tanpa interpretasi yang mendalam
Mengintegrasikan analisis struktur sosial, konflik antar suku, dan kebutuhan akan mediator dengan konteks hijrah Nabi Muhammad SAW
Mengorganisir materi berdasarkan urutan waktu kejadian tanpa menganalisis hubungan sebab-akibat antar peristiwa yang terjadi
Menyusun materi dengan penekanan pada aspek geografis Madinah tanpa mengaitkan dengan dinamika sosial masyarakatnya
Bu Maya melakukan evaluasi pembelajaran pada materi "Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar dan Umar bin Khattab" dengan menerapkan pendekatan Differentiated Based Learning (DBL). Dalam evaluasi ini, Bu Maya memberikan pilihan berbagai bentuk asesmen sesuai dengan gaya belajar siswa: ada yang membuat infografis, menulis esai reflektif, atau mempresentasikan drama sejarah. Bu Maya mengamati bahwa siswa dengan kemampuan visual lebih tertarik membuat infografis, siswa dengan kemampuan verbal memilih esai, dan siswa dengan kemampuan kinestetik memilih drama. Namun, Bu Maya perlu memastikan bahwa semua bentuk evaluasi ini tetap mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang sama dengan standar yang setara. Analisis materi ajar "Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar dan Umar bin Khattab" yang paling tepat dalam evaluasi tujuan pembelajaran dengan pendekatan DBL adalah...
Menyusun rubrik evaluasi yang sama untuk semua jenis asesmen tanpa mempertimbangkan perbedaan karakteristik setiap bentuk penilaian
Mengembangkan indikator pencapaian yang fleksibel namun tetap mengukur kompetensi inti yang sama sesuai dengan gaya belajar siswa
Memberikan bobot penilaian yang berbeda untuk setiap jenis asesmen berdasarkan tingkat kesulitan pembuatannya
Menyederhanakan materi evaluasi untuk mengakomodasi siswa dengan kemampuan rendah tanpa mempertahankan standar kompetensi
Menggunakan satu jenis asesmen saja untuk memastikan objektivitas penilaian dan kemudahan dalam pemberian skor
Pak Hasan mengajar materi "Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib" di kelas IX. Dalam perencanaan pembelajaran, Pak Hasan ingin menerapkan pendekatan TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge) untuk menganalisis alur materi secara logis. Beliau mengamati bahwa siswa-siswanya memiliki kemampuan teknologi yang baik namun masih kesulitan dalam menganalisis hubungan sebab-akibat dalam peristiwa sejarah. Pak Hasan berencana menggunakan aplikasi timeline interaktif dan peta digital untuk membantu siswa memahami perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Namun, beliau perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi ini benar-benar mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dan sesuai dengan karakteristik siswa. Alur materi ajar "Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib" yang paling tepat dalam perencanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan TPACK adalah...
Menyusun alur materi dengan fokus utama pada penggunaan teknologi digital tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan konten pembelajaran
Mengintegrasikan konten sejarah dengan strategi pedagogi yang tepat dan didukung teknologi untuk meningkatkan pemahaman konseptual siswa
Mengorganisir materi berdasarkan kemudahan akses teknologi tanpa mempertimbangkan urutan logis perkembangan ilmu pengetahuan
Menyajikan alur materi secara tradisional dengan menambahkan elemen teknologi sebagai pelengkap tanpa integrasi yang bermakna
Mengutamakan aspek pedagogi dalam penyusunan alur materi dengan mengabaikan potensi teknologi untuk memperkaya pembelajaran
Bu Sinta mengajar materi "Sejarah Masuknya Islam di Indonesia, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia" di kelas XI. Dalam pelaksanaan pembelajaran, Bu Sinta menerapkan pendekatan Deep Learning (DL) untuk membantu siswa memahami secara mendalam proses penyebaran Islam di berbagai benua. Beliau mengamati bahwa siswa perlu memahami pola-pola umum penyebaran Islam namun juga keunikan setiap wilayah. Bu Sinta ingin menganalisis alur materi secara logis agar siswa dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif tentang strategi dakwah yang disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing wilayah. Dalam konteks ini, Bu Sinta perlu menyusun alur pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk melakukan analisis komparatif yang mendalam. Alur materi ajar "Sejarah Masuknya Islam di Indonesia, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia" yang paling tepat dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan Deep Learning adalah...
Menyusun alur materi berdasarkan urutan kronologis masuknya Islam ke setiap benua tanpa menganalisis pola dan karakteristik penyebaran
Mengorganisir materi dengan fokus pada satu wilayah saja untuk memastikan kedalaman pemahaman tanpa perbandingan lintas wilayah
Mengintegrasikan analisis pola penyebaran, adaptasi strategi dakwah, dan faktor-faktor lokal yang mempengaruhi penerimaan Islam di setiap wilayah
Menyajikan materi dalam bentuk deskripsi umum tentang penyebaran Islam tanpa menganalisis keunikan dan tantangan di setiap wilayah
Mengatur alur materi berdasarkan kesamaan geografis wilayah tanpa mempertimbangkan perbedaan konteks sosial dan budaya masyarakat
