NEW
Font size
WorksheetsUAS FARMAKOTERAPI RESPIRASI
Total questions: 41
Worksheet time: 21mins
Seorang perempuan 20 tahun sering mengalami sesak napas saat malam hari dan setelah olahraga. Ia menggunakan inhaler salbutamol hampir setiap hari. Berdasarkan kondisi tersebut, interpretasi paling tepat adalah:
Asma terkontrol baik
Efek samping salbutamol
Asma tidak terkontrol
Asma intermiten
PPOK awal
Menurut guideline GINA, obat yang paling dianjurkan sebagai pengontrol utama (controller) pada asma adalah:
Salbutamol
Formoterol
Kortikosteroid inhalasi
Antihistamin
Antibiotik
Seorang pasien hanya menggunakan SABA bila sesak dan tidak pernah menggunakan ICS. Risiko utama dari kondisi ini adalah:
Hipertensi
Ketergantungan obat
Eksaserbasi asma lebih sering
Gagal ginjal
Penurunan nafsu makan
Pasien asma mengeluh suara serak setelah rutin menggunakan inhaler kortikosteroid. Edukasi paling tepat yang dapat diberikan adalah:
Menghentikan obat
Mengurangi dosis sendiri
Berkumur setelah inhalasi
Mengganti obat oral
Menggunakan inhaler lebih jarang
Manakah pernyataan yang BENAR mengenai LABA pada asma?
Dapat digunakan sendiri
Digunakan hanya saat serangan akut
Harus dikombinasikan dengan ICS
Tidak memiliki efek samping
Menggantikan fungsi ICS
Obat yang bekerja sebagai antagonis reseptor leukotrien dan diberikan secara oral adalah:
Salbutamol
Budesonide
Formoterol
Montelukast
Ipratropium
Seorang laki-laki 32 tahun didiagnosis TBC paru sensitif obat. Dokter meresepkan HRZE untuk 2 bulan pertama. Tujuan utama pemberian regimen ini adalah:
Mengurangi efek samping obat
Membunuh kuman persisten saja
Menurunkan Jumlah kuman dan resitensi
Mengganti fase lanjutan
Mengobati TBC laten
Pasien pada fase intensif TBC mengeluh urin berwarna merah jingga sejak 1 minggu terapi. Tindakan yang paling tepat diberikan adalah:
Menyarankan penghentian obat
Merujuk segera ke IGD
Menjelaskan bahwa ini efek normal obat tertentu
Menjelaskan bahwa ini Efek dari semua obat TBC yang dikonsumsi
Seorang pasien TBC mengeluh kesemutan pada ujung jari setelah 1 bulan pengobatan. Obat yang paling mungkin menyebabkan keluhan tersebut adalah:
Rifampisin
Isoniazid
Etambutol
Pirazinamid
Streptomisin
Untuk mencegah efek samping Isoniasid dokter biasanya menambahkan:
Vitamin C
Asam folat
Vitamin B6 (piridoksin)
Vitamin D
Kalsium
Pasien TBC memiliki riwayat asam urat dan mengeluh nyeri sendi selama terapi. Obat yang paling mungkin memperberat kondisi ini adalah:
Rifampisin
Isoniazid
Etambutol
Pirazinamid
Streptomisin
Seorang pasien TBC juga menggunakan kontrasepsi oral. Edukasi paling tepat adalah:
Kontrasepsi tetap efektif
Kontrasepsi harus dihentikan
Ganti jenis Kontrasepsi
Turunkan dosis kontrasepsi
Ganti semua obat TBC
Pasien TBC menghentikan obat setelah 2 bulan karena merasa sudah sembuh. Risiko paling serius dari tindakan ini adalah:
Efek samping meningkat
Kekambuhan ringan
Terjadi resistensi obat TBC
Gangguan lambung
Penurunan berat badan
Seorang pasien memasuki fase lanjutan pengobatan TBC. Tujuan utama fase ini adalah:
Mengurangi jumlah obat
Menghilangkan gejala sepenuhnya
Membunuh sisa kuman dan mencegah kekambuhan
Mengurangi efek samping
Menggantikan fase intensif
Pasien TBC mengeluh penglihatan kabur dan sulit membedakan warna setelah beberapa minggu terapi. Obat yang harus dicurigai sebagai penyebab adalah:
Isoniazid
Rifampisin
Pirazinamid
Etambutol
Streptomisin
Seorang laki-laki 21 tahun datang ke apotek dengan keluhan nyeri tenggorokan sejak 2 hari, disertai demam ringan dan pilek. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, dan tidak tampak eksudat pada tonsil. Terapi paling tepat yang disarankan adalah:
Antibiotik spektrum luas
Parasetamol dan istirahat
Amoksisilin selama 7 hari
Kortikosteroid oral
Antihistamin jangka panjang
Seorang laki-laki 21 tahun datang ke apotek dengan keluhan nyeri tenggorokan sejak 2 hari, disertai demam ringan dan pilek. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, dan tidak tampak eksudat pada tonsil. penyebab paling mungkin dari faringitis yang dialami pasien adalah:
Infeksi bakteri Streptococcus
Infeksi jamur
Infeksi virus
Reaksi alergi obat
Refluks asam lambung
Seorang perempuan 25 tahun mengeluh nyeri tenggorokan berat, demam tinggi, tonsil eksudatif, dan nyeri saat menelan tanpa batuk atau pilek. Berdasarkan gejala tersebut, terapi farmakologis yang paling rasional adalah:
Analgesik saja
Antivirus
Antibiotik
Antihistamin
Antasida
Pada faringitis streptokokus, antibiotik lini pertama yang paling tepat adalah:
Siprofloksasin
Eritromisin
Amoksisilin
Doksisiklin
Seftriakson
Pasien faringitis akut bakteri sudah merasa membaik setelah 3 hari minum antibiotik dan ingin menghentikan obat. Edukasi paling tepat dari apoteker adalah:
Obat boleh dihentikan jika gejala hilang
Obat dihentikan untuk mencegah efek samping
Antibiotik harus dihabiskan sesuai durasi
Dosis dikurangi setengah
Antibiotik diganti analgesik
Seorang laki-laki 45 tahun mengeluh rasa mengganjal di tenggorokan sejak >3 bulan, suara serak, dan sering berdehem. Tidak ada demam. Riwayat merokok berat. Pendekatan terapi paling tepat adalah:
Antibiotik jangka panjang
Antivirus
Mengatasi faktor iritan dan terapi simptomatik
Kortikosteroid jangka panjang selama 3 bulan
Antijamur oral
Pada kasus faringitis kronis dengan keluhan rasa mengganjal >3 bulan, suara serak, sering berdehem, tanpa demam, dan riwayat merokok berat, faktor yang paling berperan adalah:
Infeksi bakteri akut
Infeksi virus berulang
Iritasi kronis (rokok/polusi)
Kekurangan vitamin
Efek samping antibiotik
Yang Manakah pernyataan PALING BENAR mengenai penggunaan antibiotik pada faringitis?
Semua faringitis perlu antibiotik
Antibiotik diberikan pada faringitis virus
Antibiotik hanya untuk faringitis bakteri terkonfirmasi/kuat
Antibiotik mencegah faringitis kronis
Antibiotik mempercepat penyembuhan semua kasus
Obat simptomatik yang paling tepat untuk membantu meredakan nyeri tenggorokan pada faringitis akut adalah:
Antibiotik
Analgesik-antipiretik
Antasida
Bronkodilator
Antijamur
Seorang laki-laki 24 tahun datang ke apotek dengan keluhan batuk berdahak sejak 5 hari, disertai pilek dan nyeri tenggorokan. Tidak ada demam tinggi, sesak berat, atau nyeri dada. Pemeriksaan dokter sebelumnya menyatakan paru bersih. Terapi paling tepat adalah:
Antibiotik amoksisilin
Antibiotik makrolida
Terapi simptomatik (antitusif/ekspektoran)
Kortikosteroid oral
Bronkodilator jangka panjang
Pada bronkitis akut, penyebab paling sering adalah:
Infeksi bakteri
Infeksi virus
Infeksi jamur
Reaksi alergi
Paparan rokok kronis
Seorang pasien bronkitis akut meminta antibiotik karena batuknya belum sembuh setelah 4 hari. Edukasi paling tepat yang harus diberikan oleh farmasis adalah:
Antibiotik mempercepat penyembuhan
Antibiotik wajib untuk semua bronkitis
Bronkitis akut umumnya viral dan sembuh sendiri
Antibiotik mencegah bronkitis kronis
Antibiotik aman digunakan bebas
Manakah kondisi berikut yang PALING MENGINDIKASIKAN perlunya antibiotik pada pasien dengan gejala bronkitis?
Batuk <7 hari
Dahak jernih
Demam ringan
Dugaan pneumonia atau infeksi bakteri berat
Nyeri tenggorokan
Seorang laki-laki 60 tahun, perokok berat, mengeluh sesak saat berjalan cepat di jalan datar dan harus berhenti sesekali untuk bernapas. Keluhan ini sesuai dengan skor mMRC:
mMRC 0
mMRC 1
mMRC 2
mMRC 3
mMRC 4
Pasien PPOK yang sama mengisi kuesioner CAT dan memperoleh skor CAT = 18. Interpretasi paling tepat terhadap kondisi pasien adalah:
Gejala ringan
Gejala sedang–berat
PPOK stabil tanpa terapi
Tidak perlu terapi farmakologis
Hanya membutuhkan antibiotik
Pasien PPOK dengan mMRC = 2 dan CAT = 18, tanpa riwayat eksaserbasi berat dalam 1 tahun terakhir. Terapi awal paling tepat adalah:
SABA saja
Kortikosteroid inhalasi tunggal
LABA atau LAMA
Antibiotik jangka panjang
Mukolitik saja
Seorang pasien PPOK stabil menggunakan LABA, namun masih sering sesak dan skor CAT tetap tinggi. Langkah farmakoterapi selanjutnya yang paling rasional adalah:
Menghentikan LABA
Menambah SABA rutin
Kombinasi LABA + LAMA
Menambah antibiotik
Mengganti ke antitusif
Pasien PPOK bertanya mengapa terapi bronkitis kronis berbeda dengan bronkitis akut. Penjelasan paling tepat adalah:
PPOK disebabkan bakteri
PPOK bersifat reversibel
PPOK adalah penyakit inflamasi kronik dengan obstruksi menetap
PPOK hanya terjadi saat infeksi
PPOK sembuh dengan antibiotik
Seorang laki-laki 45 tahun datang ke IGD dengan keluhan batuk berdahak, demam 38,5°C, dan sesak sejak 3 hari. Tidak ada riwayat rawat inap sebelumnya. Foto toraks menunjukkan infiltrat lobar. Tekanan darah 120/80 mmHg, RR 22 kali/menit, kesadaran compos mentis, ureum normal, usia <65 tahun. Berdasarkan data tersebut, interpretasi paling tepat adalah:
HAP
CAP
VAP
Bronkitis kronis
PPOK eksaserbasi
Pasien perempuan 50 tahun dengan CAP datang dengan data berikut: Confusion: tidak; Ureum: normal; Respiratory rate: 32 kali/menit; Blood pressure: 88/56 mmHg; Usia: <65 tahun. Berapakah nilai CURB-65 pasien tersebut?
0
1
2
3
4
Berdasarkan nilai CURB-65 = 2 pada soal sebelumnya, keputusan tempat perawatan paling tepat adalah:
Rawat jalan
Rawat jalan dengan antibiotik oral
Rawat inap di bangsal
Rawat inap ICU
Tidak perlu antibiotik
Seorang laki-laki 68 tahun dengan CAP memiliki data berikut: Usia: 68 tahun; Riwayat: gagal jantung; RR: 30 kali/menit; Tekanan darah: 100/60 mmHg; Suhu: 38,2°C; Kesadaran: compos mentis. Berdasarkan komponen di atas, pasien paling mungkin masuk dalam kategori:
PSI Kelas I
PSI Kelas II
PSI Kelas III
PSI Kelas IV
PSI Kelas V
Jika pasien PSI Kelas II, maka rekomendasi tempat perawatan yang paling tepat adalah:
Rawat jalan
Rawat jalan dengan kontrol ketat
Rawat inap di bangsal
Rawat inap ICU
Isolasi mandiri di rumah
Seorang laki-laki 62 tahun datang ke IGD dengan keluhan batuk berdahak purulen, demam, dan sesak napas sejak 2 hari. Pasien baru pulang dari rawat inap di rumah sakit 3 minggu lalu karena stroke. Foto toraks menunjukkan infiltrat baru di lobus bawah.
Diagnosis pneumonia yang paling tepat adalah:
CAP
HCAP
VAP
HAP
Seorang laki-laki 58 tahun dirawat di ICU dan menggunakan ventilator mekanik selama 6 hari karena stroke perdarahan. Pada hari ke-7, pasien mengalami demam 39°C, peningkatan sekret purulen dari ETT, leukositosis, dan foto toraks menunjukkan infiltrat baru.
Diagnosis paling tepat pada kasus ini adalah
CAP
HCAP
HAP
VAP
Seorang laki-laki 72 tahun datang ke IGD dengan keluhan batuk berdahak, demam, dan sesak napas sejak 3 hari. Pasien tinggal di panti wreda dan memiliki riwayat gagal jantung. Pemeriksaan klinik dan laboratorium: Kesadaran: compos mentis, Frekuensi napas: 32 kali/menit, Tekanan darah: 100/60 mmHg, Suhu tubuh: 38,5°C, Nadi: 110 kali/menit, pH darah: 7,45, BUN: normal, Natrium: normal,Foto toraks: infiltrat lobus bawah. Hitung nilai PSI total pasien tersebut
102
132
112
122
