WorksheetsKasus Keperawatan Kronis dan Terminal
Total questions: 15
Worksheet time: 30mins
An. A (5 tahun) didiagnosis menderita Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dan sedang menjalani fase induksi kemoterapi. An. A tampak pucat, lemah, sering mengalami perdarahan gusi ringan, dan nafsu makannya menurun drastis. Hasil laboratorium menunjukkan Hb 7,5 g/dL, Leukosit 2.500/mm³, dan Trombosit 45.000/mm³. Ibu An. A terlihat sangat cemas dan sering menangis di samping tempat tidur anaknya, mengungkapkan kekhawatiran tentang prognosis dan efek samping pengobatan.
Berdasarkan pengkajian biologis utama, diagnosa keperawatan prioritas menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) untuk An. A saat ini adalah...
Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (proses penyakit dan pengobatan).
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek samping kemoterapi.
Risiko infeksi berhubungan dengan imunosupresi (efek kemoterapi).
Risiko perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit.
An. B (7 tahun) menderita Thalassemia Mayor dan menjalani transfusi darah rutin setiap 3-4 minggu. Saat ini An. B dirawat untuk transfusi dan terapi kelasi besi (desferal). Keluarga mengungkapkan kesulitan dalam manajemen obat kelasi besi di rumah karena An. B sering menolak penggunaan pompa infus yang memakan waktu lama setiap malam. Keluarga membutuhkan dukungan agar An. B patuh terhadap pengobatan jangka panjang ini.
Sebagai perawat yang menerapkan Family Centered Care, intervensi keperawatan utama (SIKI) yang paling tepat untuk meningkatkan kepatuhan An. B terhadap terapi kelasi besi adalah...
Melakukan demonstrasi ulang cara penggunaan pompa infus desferal kepada orang tua secara terpisah.
Memberikan obat penenang ringan sebelum pemasangan pompa infus setiap malam agar An. B tidak rewel.
Melibatkan An. B dan orang tua dalam memilih waktu dan tempat yang nyaman untuk pemasangan pompa infus, serta menggunakan pendekatan bermain edukatif.
Menjelaskan secara tegas konsekuensi medis jangka panjang jika An. B tidak patuh menggunakan obat kelasi besi.
An. C (10 tahun) didiagnosis Gagal Ginjal Kronis (GGK) tahap akhir dan sedang dalam persiapan menjalani dialisis peritoneal. An. C sering mengalami mual, muntah, dan kelebihan cairan yang ditandai dengan edema periorbital dan kaki. Keluarga menunjukkan sikap protektif berlebihan dan enggan membatasi asupan cairan serta diet rendah garam An. C karena kasihan.
Tujuan luaran keperawatan (SLKI) yang berfokus pada manajemen cairan dan kepatuhan diet serta paling relevan untuk diukur setelah edukasi kesehatan terstruktur kepada keluarga adalah...
Status nutrisi membaik, ditandai dengan berat badan ideal tercapai dan nafsu makan meningkat.
Tingkat edema menurun, asupan cairan seimbang, dan keluarga mampu mendemonstrasikan pemilihan makanan rendah garam.
Pengetahuan keluarga tentang penyakit dan perawatan meningkat, ditandai dengan keluarga tidak terlihat cemas lagi.
Keseimbangan elektrolit membaik, ditandai dengan hasil laboratorium Natrium dan Kalium dalam batas normal.
An. D (3 tahun) menderita Tetralogy of Fallot (ToF) parah yang tidak dapat dioperasi dan kini dalam kondisi terminal di ruang PICU dengan bantuan ventilator penuh. Dokter merekomendasikan penghentian terapi suportif (ekstubasi) dan beralih ke perawatan paliatif (DNR/ Do Not Resuscitate), namun kedua orang tua bersikeras agar segala upaya medis maksimal tetap dilakukan karena keyakinan spiritual mereka yang kuat.
Tindakan perawat yang paling tepat dalam menghadapi dilema etik dan legal terkait permintaan orang tua An. D yang bertentangan dengan rekomendasi medis paliatif adalah...
Menghentikan ventilator sesuai rekomendasi dokter karena secara medis kondisi An. D sudah tidak reversibel.
Memaksa orang tua menandatangani formulir DNR dengan menjelaskan bahwa melanjutkan pengobatan hanya akan memperpanjang penderitaan An. D.
Menyelenggarakan family meeting multidisiplin (dokter, perawat, rohaniawan, ahli etika) untuk memfasilitasi komunikasi terbuka dan mencari titik temu keputusan terbaik bersama keluarga (shared decision-making).
Melaporkan orang tua ke pihak berwajib atau komite etik rumah sakit karena dianggap menghalangi perawatan terbaik untuk pasien anak.
Bayi E (usia 10 hari) baru saja menjalani prosedur pembuatan kolostomi karena diagnosis Penyakit Hirschsprung. Saat ini, perawat melakukan pengkajian pada area stoma. Stoma tampak kemerahan (pink), lembap, namun kulit di sekitar stoma (peristomal) tampak kemerahan dan terdapat iritasi akibat rembesan feses cair. Ibu bayi merasa takut menyentuh area tersebut karena khawatir menyakiti bayinya.
Berdasarkan standar intervensi (SIKI) "Perawatan Stoma", tindakan keperawatan manakah yang paling tepat untuk mengatasi masalah integritas kulit peristomal sekaligus mengintegrasikan Family Centered Care?
Memberikan antibiotik salep pada area kemerahan tanpa menutup stoma.
Membersihkan kulit peristomal dengan air hangat dan sabun ringan, lalu mendampingi ibu memasang kantong kolostomi yang sesuai ukuran stoma.
Menganjurkan ibu untuk membiarkan stoma terbuka tanpa kantong agar kulit bisa "bernapas" dan cepat kering.
Melakukan aspirasi cairan feses secara rutin menggunakan kateter melalui lubang stoma.
An. F (2 tahun) dengan Tetralogy of Fallot (ToF) sedang bermain di bangsal keperawatan ketika tiba-tiba ia mengalami serangan sianotik akut (tet spell). Anak tampak sangat biru (sianosis), bernapas cepat, dan sangat gelisah. Ibunya panik dan mencoba menggendong anak dalam posisi berdiri.
Intervensi mandiri prioritas yang harus segera dilakukan perawat untuk memperbaiki oksigenasi jantung dan menurunkan resistensi sistemik pada An. F adalah...
Memberikan injeksi Morfin secara intravena sesuai instruksi dokter.
Menempatkan anak dalam posisi knee-chest (lutut ke dada) dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
Meminta ibu untuk meletakkan anak di tempat tidur dengan posisi telentang (supinasi).
Melakukan pijat jantung luar karena anak berisiko mengalami henti jantung.
An. G (12 tahun) baru didiagnosis Diabetes Melitus (DM) Tipe 1. Ia mengeluh lemas, sering merasa haus (polidipsia), dan berat badannya turun 3 kg dalam sebulan terakhir. Hasil GDS: 350 mg/dL. An. G merasa sedih karena ia atlet basket sekolah dan merasa karier olahraganya akan berakhir.
Dalam menyusun rencana edukasi keluarga dan pasien sebelum pulang (discharge planning), fokus utama untuk mendukung aspek psikososial dan kemandirian An. G adalah...
Melarang An. G berolahraga basket untuk mencegah risiko hipoglikemia mendadak.
Memberitahu keluarga bahwa pemberian insulin adalah tugas penuh orang tua hingga anak berusia 18 tahun.
Mengajarkan An. G cara menghitung karbohidrat dan teknik penyuntikan insulin mandiri serta penyesuaian jadwal latihan fisik.
Menyarankan keluarga untuk menyekolahkan An. G di rumah (home schooling) agar pemantauan gula darah lebih mudah.
An. H (4 tahun) dirawat dengan Sindrom Nefrotik. Hasil pengkajian menunjukkan edema anasarka (seluruh tubuh), proteinuria +4, dan kadar albumin serum rendah (hipoalbuminemia). Diagnosa keperawatan utama adalah Hipovolemia/Hipervolemia (Gangguan Keseimbangan Cairan).
Luaran keperawatan (SLKI) "Keseimbangan Cairan" yang paling objektif untuk mengevaluasi keberhasilan pemberian terapi diuretik dan diet rendah garam pada An. H adalah...
Penurunan berat badan harian yang progresif dan pengecilan lingkar perut.
Anak menyatakan sudah tidak merasa sesak napas lagi.
Tekanan darah tetap berada dalam rentang normal untuk usia 4 tahun.
Meningkatnya nafsu makan anak setelah edema wajah berkurang.
An. I (6 tahun) dengan Cerebral Palsy tipe spastik quadriplegia. Anak mengalami kekakuan otot pada keempat ekstremitasnya, kesulitan menelan (disfagia), dan ketergantungan total dalam aktivitas harian. Orang tua mengungkapkan kelelahan secara spiritual dan sosial karena merasa kurang dukungan dari lingkungan sekitar.
Diagnosa keperawatan utama berdasarkan SDKI yang mencakup aspek sosial-spiritual pada kasus keluarga An. I adalah...
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan otot.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
Ketegangan peran pemberi asuhan berhubungan dengan kondisi kronis anak dan kurangnya dukungan sosial.
Risiko aspirasi berhubungan dengan hambatan menelan.
An. J (8 tahun) didiagnosis HIV stadium klinis 3. Ia sering mengalami infeksi oportunistik berupa kandidiasis oral yang nyeri. Teman-teman di sekolahnya mulai menjauh karena orang tua mereka mendengar rumor tentang penyakit An. J. Ibu An. J bertanya kepada perawat apakah ia harus jujur kepada guru sekolah mengenai kondisi anaknya.
Terkait isu etik dan legal (kerahasiaan/confidentiality), apa respon terbaik perawat dalam memberikan edukasi kepada ibu An. J?
"Ibu wajib melaporkan kondisi ini ke sekolah karena ini adalah ancaman kesehatan masyarakat."
"Status HIV adalah informasi rahasia; keputusan untuk membuka status (disclosure) ada di tangan keluarga, namun sekolah perlu tahu secara terbatas untuk antisipasi jika anak luka atau sakit."
"Sebaiknya ibu merahasiakan sepenuhnya agar anak tidak dikeluarkan dari sekolah, apa pun risikonya."
"Ibu tidak perlu khawatir karena secara legal pihak sekolah tidak boleh bertanya tentang diagnosis medis siswa."
An. K (6 tahun) dibawa ke poli tumbuh kembang dengan keluhan belum bisa bicara lancar, sering asyik dengan dunianya sendiri (tidak ada kontak mata), dan sering melakukan gerakan berulang (stimming). Di sisi lain, An. K sangat impulsif, tidak bisa duduk diam lebih dari 2 menit, dan sering menginterupsi pembicaraan orang lain. Keluarga merasa malu membawa An. K ke tempat umum karena perilaku anak yang sulit dikontrol.
Dalam menyusun intervensi keperawatan (SIKI) "Promosi Perkembangan Anak", langkah manakah yang paling sesuai dengan prinsip Family Centered Care untuk membantu keluarga mengelola perilaku An. K?
Menyarankan orang tua untuk memberikan hukuman fisik ringan agar anak belajar disiplin di tempat umum.
Mengajarkan keluarga teknik modifikasi perilaku dengan memberikan penguatan positif (reward) saat anak berhasil duduk tenang atau melakukan kontak mata.
Menganjurkan keluarga untuk menjauhkan anak dari interaksi sosial agar anak tidak mengalami stimulasi berlebihan.
D. Memberikan obat penenang (sedatif) setiap kali anak akan diajak pergi ke luar rumah.
Memberikan obat penenang (sedatif) setiap kali anak akan diajak pergi ke luar rumah.
An. L (4 tahun) dirawat dengan massa di abdomen yang teraba keras, didiagnosis sebagai Nephroblastoma (Wilms Tumor). Saat melakukan pengkajian, perawat menemukan bahwa massa tersebut cukup besar. An. L dijadwalkan untuk menjalani operasi nefrektomi minggu depan.
Intervensi keperawatan (SIKI) yang bersifat kritis dan sangat spesifik bagi pasien dengan kecurigaan Wilms Tumor sebelum tindakan operasi dilakukan adalah...
Melakukan palpasi abdomen yang mendalam setiap pergantian sif untuk memantau ukuran massa.
Memasang tanda "Jangan Palpasi Abdomen" di tempat tidur pasien untuk mencegah ruptur kapsul tumor dan penyebaran sel kanker.
Melakukan kompres hangat pada area perut untuk mengurangi rasa nyeri akibat tekanan tumor.
Menganjurkan anak untuk melakukan aktivitas fisik aktif agar aliran darah ke ginjal tetap lancar.
An. M (3 tahun) menderita Retinoblastoma stadium lanjut yang telah bermetastasis ke otak. Dokter menyatakan kondisi anak sudah masuk fase terminal (paliatif). Saat ini anak mengalami kebutaan total dan nyeri hebat (skala nyeri 8/10 FLACC). Orang tua bertanya, "Mengapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini pada anak sekecil ini?"
Berdasarkan diagnosa keperawatan "Distres Spiritual" (SDKI), intervensi manakah yang paling tepat untuk mendukung aspek spiritual keluarga dalam fase terminal ini?
Menjelaskan secara medis bahwa penyakit ini adalah faktor genetika dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan.
Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan kemarahan dan kesedihannya, serta memfasilitasi pertemuan dengan pemuka agama sesuai keyakinan mereka.
Fokus hanya pada manajemen nyeri farmakologis karena aspek spiritual tidak akan mengurangi rasa sakit anak.
Meminta keluarga untuk tetap kuat dan tidak menangis di depan anak agar anak tidak merasa sedih.
An. N (2 tahun) dijadwalkan menjalani operasi chordee repair dan uretoplasty karena kondisi Hipospadia. Ibu An. N tampak sangat khawatir mengenai fungsi reproduksi anaknya di masa depan dan bagaimana perawatan setelah operasi karena anak masih menggunakan popok.
Rencana edukasi keluarga (Discharge Planning) yang paling krusial untuk mencegah komplikasi pasca-operasi uretoplasty pada An. N adalah...
Menginstruksikan orang tua agar anak segera belajar toilet training satu hari setelah operasi.
Mengajarkan cara merawat kateter urin atau stent di rumah serta teknik memandikan anak tanpa merendam area luka operasi.
Menyarankan penggunaan popok yang sangat ketat untuk menekan perdarahan pada area penis.
Memberikan edukasi bahwa anak tidak boleh bergerak sama sekali (bedrest total) selama 1 bulan di rumah.
Seorang perawat akan memberikan obat kemoterapi melalui akses vena sentral pada anak dengan kanker darah. Perawat menyadari bahwa obat kemoterapi memiliki risiko tinggi bagi pemberi asuhan jika terpapar secara tidak sengaja.
Aspek legal dan keselamatan kerja yang paling utama harus dipatuhi oleh perawat saat melakukan intervensi pemberian kemoterapi adalah...
Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sesuai standar hazardous drugs dan melakukan pengecekan ganda (double check) dosis obat dengan perawat lain.
Memberikan obat secepat mungkin agar paparan terhadap udara di ruangan berkurang.
Meminta orang tua pasien untuk memasukkan obat sendiri karena perawat sedang hamil.
Membuang limbah sisa kemoterapi ke tempat sampah medis umum karena dosisnya sudah kecil.
