wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS MANAJEMEN BENCANA

Total questions: 112

Worksheet time: 1hrs 24mins

Name
Class
Date
1.

Tujuan epidemiologi pada bencana antara lain:

a)

Memonitor tingkat kedaruratan melalui analisa data kesakitan dan kematian

b)

Memonitor kesehatan penduduk dan identifikasi kebutuhan prioritas

c)

Mengikuti tren insidens dan CFR penyakit utama guna deteksi dan penanggulangan dini KLB

d)

Semua benar

2.

Ketika tahapan kedaruratan, kegiatan surveilans bencana berupa:

a)

Penyelidikan dan penanggulangan serta surveilans intensif

b)

SKD dan Respon cepat

c)

Surveilans rutin untuk SKD

d)

Semua benar

3.

Surveilans rutin dan SKD dilakukan pada tahapan:

a)

Situasi normal atau kembali normal

b)

Ancaman kedaruratan

c)

Terjadinya kedaruratan

d)

Semua benar

4.

Salah satu tujuan surveilans intensif saat terjadi kedaruratan, adalah:

a)

Pencegahan kejadian bencana

b)

Kewaspadaan dini

c)

Menentukan arah respon/penanggulangan

d)

Semua benar

5.

Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dalam manajemen bencana, meliputi:

a)

Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyediaan air bersih.

b)

Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Pengendalian vektor dan penyakit menular.

c)

Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyediaan paket awal minimal kesehatan reproduksi.

d)

Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyebarluasan informasi.

6.

Tujuan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD), antara lain adalah:

a)

Deteksi dini, tindakan cepat, tindakan efektif, menanggulangi KLB

b)

Deteksi dini, tindakan cepat, tindakan efektif, mencegah KLB

c)

Prediksi bencana, melakukan RHA, tindakan efektif, mencegah KLB

d)

Prediksi bencana, melakukan RHA, tindakan efektif, menanggulangi KLB

7.

Pengamatan terus menerus secara sistematis terhadap kesakitan dan kematian pada pengungsi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang merupakan ancaman terjadinya KLB, agar terjadi sikap tanggap melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah dan mengurangi jatuhnya korban. Pernyataan di atas merupakan:

a)

SKD dan respon KLB pengungsi

b)

Rapid Health Assesment (RHA)

c)

Surveilans rutin

d)

Promosi kesehatan pada situasi krisis/bencana

8.

KLB tanpa SKD, akan menyebabkan:

a)

Deteksi terlambat, tindakan tepat waktu, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit

b)

Deteksi cepat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit

c)

Deteksi terlambat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah banyak

d)

Deteksi terlambat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit

9.

Sumberdata SKD-KLB, antara lain:

a)

Laporan dini KLB dan penyelidikan KLB, termasuk laporan masyarakat

b)

Data epidemiologi KLB dan upaya penanggulangan

c)

Surveilans khusus penyakit berpotensi KLB

d)

Semua benar

10.

Berikut pernyataan yang tepat tentang surveilans pada bencana:

a)

Bertujuan memperoleh informasi yang diperlukan untuk kegiatan tanggap darurat dan kebutuhan hidup dasar (termasuk kebutuhan kesehatan dan sanitasi).

b)

Dilaksanakan setelah respon medik (penyelamatan korban)

c)

Semua benar

d)

Semua salah

11.

Untuk mengurangi atau memperkecil Risiko (R), adalah dengan:

a)

Meningkatkan Vulnerability (V)

b)

Tidak dipengaruhi oleh Vulnerability (V)

c)

Meningkatkan Capacity (R)

d)

Semua salah

12.

Dengan meningkatnya Vulnerability, maka:

a)

Akan meningkatkan Risiko

b)

Akan menurunkan Risiko

c)

Tidak berpengaruh terhadap Risiko jika Capasity tetap (tidak berubah)

d)

Akan menurunkan Risiko jika Capasity juga turun

13.

Berikut adalah siklus kegiatan dalam manajemen bencana:

a)

Mitigasi – Preparednes – Recovary – Response.

b)

Preparednes – Mitigasi – Recovary – Response.

c)

Response – Mitigasi – Preparednes – Recovary.

d)

Recovary – Mitigasi – Preparednes – Response.

14.

Dalam Rapid Health Assesment (RHA), salah satunya untuk mendapatkan data dan informasi mengenai:

a)

Evaluasi penanggulangan bencana

b)

Monitoring kegiatan pengendalian vektor dan penyakit menular

c)

Karakteristik epidemiologi korban bencana

d)

Semua benar

15.

Hasil dari Rapid Health Assesment (RHA) adalah berupa:

a)

Penilaian apakah suatu bencana merupakan bencana nasional

b)

Rekomendasi untuk pelaksanaan bantuan penanggulangan sesuai prioritas.

c)

Keputusan untuk menetapkan terjadinya KLB penyakit menular saat bencana

d)

Semua benar

16.

Surveilans pada bencana atau Rapid Healt Assesment (RHA) dilakukan pada:

a)

Setelah selesai respon medik atau penyelamatan korban

b)

Sebelum bencana terjadi

c)

Bersamaan dengan respon medik atau penyelamatan korban

d)

Semua salah

17.

Metode pengumpulan data dalam RHA, antara lain:

a)

Observasi lapangan

b)

Wawancara

c)

Pengumpulan data sekunder

d)

Semua benar

18.

Data yang dikumpulkan dalam observasi lapangan pada kegiatan RHA, antara lain:

a)

Luas lokasi yang terkena, Estimasi biaya untuk rehabilitasi, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.

b)

Luas lokasi yang terkena, Perpindahan evakuasi penduduk, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.

c)

Luas lokasi yang terkena, Mengumpulkan data dari instansi terkait di daerah bencana, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.

d)

Luas lokasi yang terkena, Wawancara dengan penduduk, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.

19.

Wawancara untuk pengumpulan data RHA, antara lain dilakukan terhadap:

a)

Petugas kesehatan

b)

Tokoh masyarakat

c)

Masyarakat setempat

d)

Semua benar

20.

Kegiatan surveilans intensif pada situasi darurat, antara lain:

a)

Analisis data (pelayanan, faktor risiko, upaya penanggulangan, dll)

b)

Kajian terus menerus

c)

Informasi terus menerus pada tim penanggulangan

d)

Semua benar

21.

Beberapa penyakit menular yang perlu menjadi prioritas saat situasi darurat, antara lain:

a)

ISPA, Campak, Diabetes

b)

Kusta, ISPA, DBD

c)

Filariasis, Campak, ISPA

d)

ISPA, Campak, DBD

22.

Tujuan diseminasi atau penyebarluasan informasi epidemiologi, antara lain:

a)

Mendapatkan bantuan dengan prioritas yang jelas

b)

Mendapatkan asistensi strategi penanggulangan yang tepat

c)

Menjelaskan kondisi pengungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban publik

d)

Semua benar

23.

Penanggulangan dampak bencana Bidang Pengendalian dan Pemberantasan penyakit, bertugas:

a)

Manajemen dan tatalaksana penyakit, Pengendalian lingkungan, Pengendalian vektor

b)

Manajemen dan tatalaksana penyakit, Rehabilitasi sarana pelayanan kesehatan, Menyediakan tempat pengungsian.

c)

Menyiapkan dapur umum, Menyiapkan air bersih, Menyiapkan pos pelayanan kesehatan.

24.

Masalah kesehatan akibat bencana menimbulkan korban langsung dan korban tidak langsung. Yang termasuk korban langsung berupa masalah medis, adalah:

a)

Pengungsi

b)

Korban sakit, luka, meninggal

c)

Kerusakan lingkungan

d)

Kerusakan sarana-prasarana kesehatan

25.

Selain masalah medis, bencana juga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, misalnya karena:

a)

Pengungsi yang rentan (padat, terisolir)

b)

Kerusakan lingkungan (keterbatasan air bersih, munculnya tempat perindukan vektor)

c)

Rusaknya sarana pelayanan kesehatan, termasuk SDM kesehatan yang terdampak/korban

d)

Semua benar

26.

Jika masalah kesehatan masyarakat tidak diantisipasi maka dapat menimbulkan KLB penyakit menular. Salah satu penyakit yang paling berisiko menjadi KLB/wabah, adalah:

a)

HIV

b)

Kusta

c)

Filaria

d)

DBD

27.

Sanitasi yang buruk pada kondisi darurat berisiko menimbulkan KLB/wabah:

a)

Diare, ISPA, Tifus

b)

Influenza, Campak, Hepatitis A

c)

Diare, keracunan makanan, Typhoid

d)

Influenza, ISPA, Campak

28.

Kondisi pengungsi yang padat, berisiko menimbulkan KLB/wabah penyakit:

a)

Diare, ISPA, Tifus

b)

Influenza, Campak, Hepatitis A

c)

Diare, keracunan makanan, Tifus

d)

Influenza, ISPA, Campak

29.

Kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk bisa meningkatkan kehadiran lalat sebagai vektor penular penyakit:

a)

DBD

b)

Disentri

c)

Malaria

d)

Campak

30.

Pengendalian penyakit pada kondisi krisis kesehatan dilakukan dengan:

a)

Pengamatan penyakit/surveilans

b)

Promotif, preventif

c)

Pelayanan kesehatan

d)

Semua benar

31.

Tujuan pengendalian penyakit menular pada situasi bencana, adalah:

a)

Mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular potensi wabah

b)

Pengendalian vektor sebagai faktor risiko penyakit menular

c)

Tersedianya data mengenai faktor risiko penyakit menular

d)

Menyediakan sanitasi yang memadai untuk mencegah timbulnya penyakit menular

32.

Permasalahan penyakit menular pada kondisi darurat/bencana, antara lain dapat berupa:

a)

Adanya kelompok risiko tinggi, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, tercemarnya sumber air minum

b)

Pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, rusaknya sarana transportasi, tercemarnya sumber air minum

c)

Pengungsian yang padat, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, lokasi bencana berada di pegunungan

d)

Adanya kelompok risiko tinggi, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, lokasi bencana berada di dekat pantai

33.

Yang termasuk kelompok risiko tinggi penyakit menular di daerah bencana, antara lain:

a)

Wanita

b)

Remaja

c)

Usia produksi

d)

Balita

34.

Ibu hamil lebih berisiko terkena penyakit menular, karena:

a)

Kekurangan gizi

b)

Anemi

c)

Adanya immunosupresi

d)

Obesitas

35.

Penyakit tidak menular/non infeksi yang bisa terjadi saat bencana, antara lain:

a)

Patah tulang/cidera, hipertensi, stroke

b)

Tetanus, hipertensi, penyakit jantung

c)

Pneumoni, patah tulang/cidera, hipertensi

d)

Hipertensi, stroke, penyakit kaki gajah (filariasis)

36.

Penyakit menular yang berisiko muncul pada kejadian bencana, antara lain:

a)

Tetanus

b)

Hipertensi

c)

Diabetes mellitus

d)

PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)

37.

Beberapa metode yang sesuai dalam mencegah penularan penyakit demam berdarah di pengungsian, kecuali:

a)

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

b)

Pemakaian kelambu pada malam hari

c)

Penggunaan lotion anti nyamuk

d)

Fogging/pengkabutan

38.

Berikut ini metode yang tepat untuk memberantas larva/jentik nyamuk Aedes aegypti di pengungsian, antara lain:

a)

Fogging (pengasapan)

b)

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

c)

Lotion anti nyamuk

d)

Semua benar

39.

Untuk menentukan metode pengendalian penyakit menular sebagai bagian manajemen bencana, perlu diketahui cara penularan penyakit tersebut. Berikut adalah penyakit yang ditularkan melalui udara:

a)

Penumonia TBC, scabies

b)

Pneumoni, scabies, campak

c)

Scabies, campak, TBC

d)

Pneumoni, TBC, campak

40.

Penyakit yang ditularkan melalui perantara vektor nyamuk, antara lain:

a)

DBD, chikungunya, malaria, filariasis

b)

DBD, malaria, scabies, filariasis

c)

DBD, malaria, dermatitis, leptospirosis

d)

DBD, malaria, conjungtivitis, filariasis

41.

Penyakit yang ditularkan melalui air, juga sangat penting diketahui dan diantisipasi ketika bencana terjadi. Beberapa penyakit tersebut antara lain:

a)

Diare

b)

Leptospirosis

c)

Hepatitis A

d)

Semua benar

42.

Beberapa penyakit ditularkan melalui kontak langsung tanpa perantara. Diantaranya adalah:

a)

Scabies

b)

HIV

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

43.

Penyakit yang ditularkan lewat makan juga perlu menjadi perhatian dan diwaspadai ketika bencana. Berikut ini penyakit yang dapat ditularkan lewat makanan:

a)

Typhoid

b)

Disentri

c)

Diare

d)

Semua benar

44.

Dinamika penularan penyakit termasuk saat bencana dapat dipahami melalui “segi tiga epidemiologi”. Host dalam penyakit malaria adalah:

a)

Manusia dan nyamuk Anopheles

b)

Manusia dan nyamuk Aedes

c)

Plasmodium malariae

d)

Nyamuk Aedes

45.

Yang termasuk dalam peran host dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:

a)

Perubahan lingkungan

b)

Resistensi kuman terhadap obat

c)

Imunitas

d)

Perubahan iklim

46.

Yang termasuk dalam peran agent dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:

a)

Resistensi kuman terhadap obat

b)

Imunitas

c)

Usia lanjut

d)

Stres

47.

Yang termasuk peran lingkungan dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:

a)

Munculnya tempat perindukan nyamuk

b)

Tercemarnya sumber air bersih

c)

Pengelolaan sampah/limbah yang buruk

d)

Semua benar

48.

Masa inkubasi perlu diketahui dan berguna dalam penyelidikan epidemiologi penyakit menular. Masa inkubasi adalah:

a)

Waktu sejak timbulnya gejala sampai sembuh

b)

Waktu sejak terinfeksi sampai timbul gejala

c)

Waktu sejak terinfeksi sampai sembuh

d)

Waktu sejak timbulnya gejala sampai sembuh

49.

Risiko penyakit ketika bencana sangat berbeda dengan kondisi ketika situasi normal. Hal ini dapat disebabkan karena:

a)

Pengungsi memasuki daerah dengan agen pathogen yang tidak diketahui.

b)

Perubahan lingkungan (kerusakan saluran air minum, kepadatan pengungsi)

c)

Tingkat imunitas penduduk yang rendah.

d)

Semua benar

50.

Rusaknya sumber air minum dan kepadatan pengungsi merupakan faktor:

a)

Host

b)

Agent

c)

Lingkungan

d)

Pejamu

51.

Dalam kondisi bencana, penting untuk melakukan surveilans, termasuk surveilans vektor. Tujuan dari surveilans vektor adalah:

a)

Mengetahui obat-obatan yang diperlukan untuk menanggulangi penyakit

b)

Sebagai dasar untuk memahami dinamika penularan penyakit dan upaya pengendaliannya.

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

52.

Pada bencana banjir, penyakit yang potensial perlu diwaspadai adalah:

a)

Leptospirosis

b)

Diare

c)

Disentri

d)

Semua benar

53.

Vektor penular Leptospirosis adalah:

a)

Lalat

b)

Kelelawar

c)

Nyamuk

d)

Tikus

54.

Pada bencana gunung api, salah satu penyakit potensial yang perlu diwaspadai adalah:

a)

ISPA

b)

Rabies

c)

Antrax

d)

Leptospirosis

55.

Menurunkan populasi vektor sehingga tidak berisiko untuk terjadinya penularan atau menghindari kontak dengan vektor sehingga penularan penyakit dapat dicegah. Hal tersebut merupakan:

a)

Tujuan pengendalian vektor

b)

Tujuan surveilans vektor

c)

Semua benar

d)

Semua salah

56.

Pengendalian vektor terpadu, merupakan:

a)

Pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor.

b)

Pengendalian vektor dengan rekayasa lingkungan secara menyeluruh

c)

Pengendalian vektor dengan menggunakan predator dari vektor tersebut.

d)

Pemberantasan semua vektor penular penyakit, seperti nyamuk, tikus, lalat, dll.

57.

Pengendalian vektor yang dilakukan, berdasarkan azas:

a)

Keamanan,

b)

rasionalitas

c)

efektifitas

d)

Semua benar

58.

Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya risiko tertular penyakit melalui vektor pada korban bencana:

a)

Peningkatan pemajanan kepada vektor

b)

Bertambahnya dan tersedianya tempat perindukan

c)

Tersedianya sumber-sumber makanan dan sisa makanan yang menarik bagi vektor.

d)

Semua benar

59.

Masalah dan kendala yang dihadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain:

a)

Kondisi geografi dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vector.

b)

Banyaknya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor.

c)

Teridentifikasinya spesies vektor (pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis.

d)

Semua benar

60.

Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang:

a)

Bioekologi vektor setempat,

b)

Dinamika penularan penyakit,

c)

Ekosistem, dan perilaku masyarakat yang bersifat spesifik lokal (evidence based)

d)

Semua benar

61.

Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar:

a)

Sumber daya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga.

b)

Semua vektor dapat dimusnahkan

c)

Semua metode harus dipadukan

d)

Semua benar

62.

Hal yang juga perlu dipertimbangkan dalam pengendalian vektor, antara lain:

a)

Pengendalian vektor tidak perlu melibatkan partisipasi aktif berbagai sektor.

b)

Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metode kimia

c)

Pengendalian vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi.

d)

Semua benar.

63.

Berikut adalah metode sederhana pengelolaan lingkungan guna pengendalian vektor di lokasi pengungsian:

a)

Menimbun genangan air

b)

Memberi tutup pada tempat sampah

c)

Menimbun sampah

d)

Semua benar

64.

Pemasangan kelambu merupakan pengendalian vektor dengan metode:

a)

Fisik/mekanis

b)

Biologi

c)

Lingkungan

d)

Semua salah

65.

Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier) dan ikan pemakan jentik, merupakan upaya pengendalian vektor dengan metode:

a)

Kimia

b)

Fisik/mekanik

c)

Biologis

d)

Semua salah

66.

Pemberantasan vektor dengan target larva nyamuk, biasanya dengan cara, kecuali:

a)

Ikan pemakan jentik

b)

Penggunaan Larvasida

c)

Fogging

d)

Menguras tampungan air

67.

Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotik (biologis), antara lain dapat dilakukan dengan cara/menggunakan:

a)

Predator pemakan jentik (ikan)

b)

Bakteri, virus, fungi

c)

Manipulasi gen

d)

Semua benar

68.

Metode pengendalian dengan metode kimia, antara lain:

a)

Penyemprotan tenda pengungsi dengan insektisida

b)

Penggunaan lotion anti nyamuk

c)

Fogging/pengasapan

d)

Semua benar

69.

Latar belakang pentingnya Paket Penilaian Awal Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada krisis kesehatan, antara lain:

a)

Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana.

b)

Jika terjadi bencana berskala besar, dapat menyebabkan terganggunya pelayanan kesehatan reproduksi dengan kelompok rentan sebagai target sasaran.

c)

Pelayanan kesehatan reproduksi adalah salah satu jenis pelayanan kesehatan yang harus tersedia dalam situasi apapun, dan justru meningkat pada situasi krisis kesehatan.

d)

Semua benar

70.

Pendekatan koordinatif yang menyatukan semua pihak terkait, baik pemerintah maupun non pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana, untuk meminimalkan kesenjangan dan tumpang tindih dalam bantuan/pelayanan. Pernyataan di atas merupakan penjelasan dari:

a)

Pendekatan klaster dalam bencana

b)

Manajemen bencana

71.

Klaster bencana di tingkat internasional terdiri dari:

a)

8 klaster

b)

11 klaster

c)

3 klaster

d)

Semua salah

72.

Klaster tingkat internasional dalam penanggulangan bencana secara keseluruhan dipimpin oleh:

a)

World Health Organitation (WHO)

b)

United Nations Development Programme (UNDP)

c)

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA).

d)

United Nations Children's Fund (UNICEF)

73.

Klaster Nasional Penanggulangan Bencana terdiri dari:

a)

8 klaster

b)

11 klaster

c)

3 klaster

d)

Semua salah

74.

Dari 8 klaster tersebut yang terkait dengan kesehatan reproduksi adalah:

a)

klaster kesehatan

b)

klaster pengungsian dan perlindungan.

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

75.

Klaster yang bertugas dalam pencarian dan penyelamatan, dipimpin oleh:

a)

BNPB

b)

SAR

c)

Polri

d)

TNI

76.

Klaster pengungsian dan perlindungan, berada dibawah:

a)

Kemenkes

b)

Kemendagri

c)

BNPB

d)

Kemensos

77.

Klaster kesehatan, berada dibawah:

a)

Rumah Sakit

b)

Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

c)

Kemenkes

d)

BNPB

78.

Klaster kesehatan dalam penanggulangan bencana terdiri dari:

a)

8 sub klaster dan 6 tim

b)

11 sub klaster dan 3 tim

c)

6 sub klaster dan 3 tim

d)

3 sub klaster dan 6 tim

79.

Sub-klaster dalam klaster kesehatan nasional penanggulangan bencana, terdiri dari:

a)

Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan, Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan

b)

Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan

c)

Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, pelayanan gizi, identifikasi korban mati.

d)

Semua benar

80.

Tiga tim tambahan dalam klaster kesehatan nasional penanggulangan bencana, terdiri dari:

a)

Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan

b)

Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan

c)

Kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, identifikasi korban mati

d)

SAR, PMI, Bulan Sabit Merah.

81.

Subklaster kesehatan reproduksi pada kejadian bencana/krisis kesehatan bertanggung jawab dalam hal:

a)

Tersedia dan terlaksananya pelayanan kesehatan reproduksi untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian kelompok rentan kesehatan reproduksi.

b)

Pelaksanaan pelayanan minimum kesehatan balita dan kesehatan lansia.

c)

Semua benar

d)

Semua salah

82.

Suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya baik pada laki-laki maupun perempuan. Hal di atas merupakan:

a)

Definisi kesehatan reproduksi

b)

Tujuan kesehatan reproduksi

c)

Target kesehatan reproduksi

d)

Sasaran kesehatan reproduksi

83.

Kondisi-kondisi kesehatan reproduksi yang meningkat dalam situasi krisis kesehatan, antara lain:

a)

Kebutuhan remaja saat menstruasi

b)

Kekurangan gizi dan anemia

c)

Kekurangan akses terhadap pelayanan kegawat daruratan obstetri.

d)

Semua benar

84.

Dalam situasi krisis, juga dapat terjadi beberapa masalah kesehatan reproduksi, antara lain:

a)

Kurangnya pelayanan keluarga berencana yang meningkatkan risiko yang berhubungan dengan kehamilan yang tidak direncanakan.

b)

Kekerasan seksual, kekerasan oleh pasangan dan praktik-praktik berbahaya yang dapat meningkat pada situasi krisis kesehatan,

c)

Semua benar

d)

Semua salah

85.

Paket Pelayanan Awal Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi merupakan serangkaian kegiatan prioritas kesehatan reproduksi.

a)

Harus segera dilaksanakan pada tanggap darurat krisis kesehatan.

b)

Dilaksanakan setelah tanggap darurat selesai

c)

Merupakan kesiapsiagaan menghadapi bencana

d)

Merupakan kegiatan mitigasi bencana

86.

Jika PPAM Kesehatan Reproduksi tidak dilaksanakan, akan terjadi konsekuensi, antara lain:

a)

Meningkatnya kematian maternal dan neonatal, balita dan lanjut usia.

b)

Terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan dan aborsi yang tidak aman.

c)

Semua benar

d)

Semua salah

87.

Pada situasi krisis biasanya terdapat beberapa kondisi terkait kesehatan reproduksi, antara lain:

a)

Ibu hamil yang membutuhkan pelayanan dan dapat melahirkan sewaktu-waktu, termasuk persalinan prematur akibat situasi yang kacau.

b)

Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan.

c)

Wanita usia subur yang memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi dan membutuhkan pembalut saat mengalami menstruasi.

d)

Semua benar

88.

Diperkirakan pada situasi krisis kesehatan Ibu hamil akan mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan, sebanyak:

a)

> 80 %

b)

70 – 80 %

c)

15 – 20 %

d)

< 15 %

89.

Estimasi jenis dan jumlah kelompok rentan yang mengalami kondisi masalah kesehatan reproduksi pada situasi krisis, antara lain diperlukan untuk:

a)

Mengalokasikan jenis dan jumlah logistik yang diperlukan serta SDM yang sesuai.

b)

Menghitung kerugian akibat bencana

c)

Menyiapkan rehabilitasi sarana dan prasarana

d)

Semua benar

90.

Kelompok rentan yang menjadi sasaran dalam PPAM kesehatan reproduksi pada krisis kesehatan, antara lain:

a)

Bayi baru lahir, ibu hamil, ibu bersalin, ibu pascapersalinan, ibu menyusui, anak perempuan, wanita usia subur

b)

Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV).

c)

Balita dan lanjut usia

d)

Semua benar

91.

Paket Pelayanan Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi diterapkan pada tahap tanggap darurat krisis kesehatan dan akan dilanjutkan ketika situasi sudah lebih stabil, dengan:

a)

Penerapan kesehatan reproduksi khusus.

b)

Penerapan kesehatan reproduksi komprehensif.

c)

Penerapan kesehatan reproduksi prioritas.

d)

Semua benar.

92.

Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada tahapan pra-krisis, antara lain:

a)

Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar

b)

Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

c)

Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM).

d)

Evaluasi pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

93.

Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada saat krisis terjadi, antara lain:

a)

Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar

b)

Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

c)

Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

d)

Evaluasi pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

94.

Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada tahapan pasca krisis, antara lain:

a)

Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar

b)

Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

c)

Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)

d)

Pelatihan dan orientasi PPAM

95.

Komponen PPAM Kesehatan Reproduksi diterapkan:

a)

Sebelum mendapatkan hasil penilaian dari tim kaji cepat di lapangan (tim Rapid Health Assessment/RHA).

b)

Setelah situasi darurat teratasi

c)

Segera setelah mendapatkan hasil penilaian dari tim kaji cepat di lapangan (tim Rapid Health Assessment/RHA).

d)

Pasca krisis kesehatan

96.

Dalam lingkup kluster kesehatan, pelaksanaan PPAM Kesehatan Reproduksi harus dilakukan secara:

a)

Mandiri, terlepas dari sub klaster lainnya

b)

Terkoordinasi dan terintegrasi khusus dengan sub klaster Gizi

c)

Terkoordinasi dan terintegrasi khusus dengan sub klaster pelayanan kesehatan.

d)

Terkoordinasi dan terintegrasi dengan intervensi klaster terkait.

97.

Dalam pelaksanaan PPAM, Sub klaster kesehatan reproduksi:

a)

Bisa bekerjasama dengan klaster diluar kesehatan, misalnya kluster perlindungan dan pengungsian dibawah koordinasi Kementerian Sosial.

b)

Hanya bisa berkoordinasi dengan sub kluster di lingkup kluster kesehatan dibawah koordinasi Kementerian Kesehatan.

c)

Mandiri, terlepas dari kluster maupun sub klaster lainnya

d)

Hanya bisa berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan SAR.

98.

Untuk mendapatkan dukungan psikososial, pelaksanaan PPAM dapat bekerjasama dengan:

a)

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

b)

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)

c)

Sub kluster kesehatan jiwa

d)

Semua benar

99.

Dalam pelaksanaan PPAM, harus mengikuti prinsip-prinsip dasar, antara lain:

a)

Kemanusiaan

b)

Keberpihakan

c)

Ketergantungan

d)

Semua benar

100.

Mengutamakan kasus-kasus penderitaan yang paling mendesak dan tidak membeda-bedakan atas dasar kebangsaan, ras, jenis kelamin, keyakinan agama, kelas atau pendapat politik, merupakan prinsip:

a)

Ketidakberpihakan (impartiality)

b)

Kemerdekaan (independence)

c)

Kemanusiaan (humanity)

d)

Semua benar

101.

Prinsip dasar dalam pelaksanaan PPAM:

a)

Pengguna layanan tidak berhak untuk berpartisipasi membuat keputusan dan pilihan layanan

b)

Bekerja dalam kemitraan yang saling menghormati dengan masyarakat pengguna pelayanan

c)

Bekerja secara mandiri

d)

Pengguna layanan tidak boleh mengakses informasi tentang pilihan layanan yang tersedia

102.

Tugas penanggung jawab dalam pelaksanaan komponen PPAM antara lain adalah:

a)

Membatasi informasi tentang pelayanan dan komoditas kesehatan reproduksi yang tersedia untuk ketertiban

b)

Memastikan masyarakat mengetahui tentang ketersedian dan lokasi pelayanan kesehatan reproduksi.

c)

Melapor hanya kepada kluster kesehatan dan tidak dibenarkan memberi informasi kepada sub kluster lain.

d)

Semua salah

103.

Sub kluster kesehatan reproduksi terdiri dari beberapa komponen. Salah satunya adalah:

a)

Komponen aktifitas fisik/olahraga

b)

Komponen gizi

c)

Komponen pelayanan kontrasepsi

d)

Komponen kesehatan jiwa

104.

Diantara langkah-langkah pelaksanaan komponen PPAM, dalam hal mencegah kekerasan seksual dan merespon kebutuhan penyintas, antara lain:

a)

Memastikan adanya petugas kompeten untuk penanganan kasus kekerasan seksual

b)

Menghindari keterlibatan organisasi di luar pemerintah yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

105.

Dalam rangka mencegah penularan dan mengurangi kesakitan dan kematian akibat HIV dan IMS lainnya di lokasi pengungsian:

a)

Memastikan kegiatan transfusi darah aman dan rasional yang dilakukan oleh lembaga yang bergerak di bidangnya, misalnya: Palang Merah Indonesia

b)

Memastikan ketersediaan kondom dengan berkoordinasi dengan organisasi dan lembaga yang bekerja di bidang keluarga berencana, Kementerian Kesehatan, BKKBN, LSM lainnya

c)

Memasang informasi dengan nomor telepon 24 jam yang bisa dihubungi dan memastikan kelanjutan pengobatan ARV bersama dengan obat rutin lainnya.

d)

Semua benar

106.

Langkah-langkah pelaksanaan PPAM dalam mencegah meningkatnya kesakitan dan kematian maternal dan neonatal, antara lain:

a)

Pendataan dan pemetaan ibu hamil, ibu pascabersalin, dan bayi baru lahir di tempat-tempat pengungsian

b)

Memastikan petugas dapat menjangkau ibu hamil dan bayi baru lahir dan menempatkan mereka secara terpisah

c)

Memastikan tersedianya sistem rujukan setiap hari kerja (selain hari libur).

d)

Semua benar

107.

Langkah-langkah pelaksanaan PPAM dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, antara lain:

a)

Merujuk korban bencana yang memerlukan alat/obat kontrasepsi

b)

Memberikan pelayanan kontrasepsi

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

108.

Langkah-langkah pelaksanaan PPAM terkait kesehatan reproduksi remaja dan pelibatan remaja, antara lain:

a)

Penyediaan informasi dasar kesehatan reproduksi remaja

b)

Mengintegrasikan komponen PPAM Kesehatan Reproduksi remaja ke dalam pelayanan kesehatan dasar yang ada.

c)

Pelibatan dan pemberdayaan remaja

d)

Semua benar.

109.

Langkah-langkah pelaksanaan PPAM kesehatan balita

a)

Menyediakan susu formula

b)

Menyediakan alat/obat kontrasepsi

c)

Keduanya benar

d)

Keduanya salah

110.

Pada situasi krisis kesehatan yang diakibatkan karena wabah penyakit (bencana non alam), dibandingkan kondisi normal, biasanya kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi:

a)

Tetap ada dan justru meningkat

b)

Hanya terjadi pada bencana alam

c)

Paling besar karena wabah banjir dan tsunami

d)

Semua salah.

111.

Kondisi yang diakibatkan oleh suatu wabah penyakit menular dapat bervariasi tergantung dari:

a)

Jenis penyakitnya.

b)

Mekanisme penularan penyakit.

c)

Tingkat penyebaran wabah.

d)

Semua benar

112.

Berikut ini penyakit yang paling cepat menular berdasarkan mekanisme penularannya, adalah:

a)

Airborne disease

b)

Waterborne disease

c)

Vektor borne disease

d)

Semua salah