Font size
WorksheetsUAS MANAJEMEN BENCANA
Total questions: 112
Worksheet time: 1hrs 24mins
Tujuan epidemiologi pada bencana antara lain:
Memonitor tingkat kedaruratan melalui analisa data kesakitan dan kematian
Memonitor kesehatan penduduk dan identifikasi kebutuhan prioritas
Mengikuti tren insidens dan CFR penyakit utama guna deteksi dan penanggulangan dini KLB
Semua benar
Ketika tahapan kedaruratan, kegiatan surveilans bencana berupa:
Penyelidikan dan penanggulangan serta surveilans intensif
SKD dan Respon cepat
Surveilans rutin untuk SKD
Semua benar
Surveilans rutin dan SKD dilakukan pada tahapan:
Situasi normal atau kembali normal
Ancaman kedaruratan
Terjadinya kedaruratan
Semua benar
Salah satu tujuan surveilans intensif saat terjadi kedaruratan, adalah:
Pencegahan kejadian bencana
Kewaspadaan dini
Menentukan arah respon/penanggulangan
Semua benar
Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dalam manajemen bencana, meliputi:
Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyediaan air bersih.
Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Pengendalian vektor dan penyakit menular.
Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyediaan paket awal minimal kesehatan reproduksi.
Kajian wilayah dan waktu potensi terjadinya bencana, Kajian data penyakit potensial KLB, Kesiapsiagaan menghadapi bencana, Penyebarluasan informasi.
Tujuan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD), antara lain adalah:
Deteksi dini, tindakan cepat, tindakan efektif, menanggulangi KLB
Deteksi dini, tindakan cepat, tindakan efektif, mencegah KLB
Prediksi bencana, melakukan RHA, tindakan efektif, mencegah KLB
Prediksi bencana, melakukan RHA, tindakan efektif, menanggulangi KLB
Pengamatan terus menerus secara sistematis terhadap kesakitan dan kematian pada pengungsi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang merupakan ancaman terjadinya KLB, agar terjadi sikap tanggap melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah dan mengurangi jatuhnya korban. Pernyataan di atas merupakan:
SKD dan respon KLB pengungsi
Rapid Health Assesment (RHA)
Surveilans rutin
Promosi kesehatan pada situasi krisis/bencana
KLB tanpa SKD, akan menyebabkan:
Deteksi terlambat, tindakan tepat waktu, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit
Deteksi cepat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit
Deteksi terlambat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah banyak
Deteksi terlambat, tindakan terlambat, kasus potensial yang dapat dicegah sedikit
Sumberdata SKD-KLB, antara lain:
Laporan dini KLB dan penyelidikan KLB, termasuk laporan masyarakat
Data epidemiologi KLB dan upaya penanggulangan
Surveilans khusus penyakit berpotensi KLB
Semua benar
Berikut pernyataan yang tepat tentang surveilans pada bencana:
Bertujuan memperoleh informasi yang diperlukan untuk kegiatan tanggap darurat dan kebutuhan hidup dasar (termasuk kebutuhan kesehatan dan sanitasi).
Dilaksanakan setelah respon medik (penyelamatan korban)
Semua benar
Semua salah
Untuk mengurangi atau memperkecil Risiko (R), adalah dengan:
Meningkatkan Vulnerability (V)
Tidak dipengaruhi oleh Vulnerability (V)
Meningkatkan Capacity (R)
Semua salah
Dengan meningkatnya Vulnerability, maka:
Akan meningkatkan Risiko
Akan menurunkan Risiko
Tidak berpengaruh terhadap Risiko jika Capasity tetap (tidak berubah)
Akan menurunkan Risiko jika Capasity juga turun
Berikut adalah siklus kegiatan dalam manajemen bencana:
Mitigasi – Preparednes – Recovary – Response.
Preparednes – Mitigasi – Recovary – Response.
Response – Mitigasi – Preparednes – Recovary.
Recovary – Mitigasi – Preparednes – Response.
Dalam Rapid Health Assesment (RHA), salah satunya untuk mendapatkan data dan informasi mengenai:
Evaluasi penanggulangan bencana
Monitoring kegiatan pengendalian vektor dan penyakit menular
Karakteristik epidemiologi korban bencana
Semua benar
Hasil dari Rapid Health Assesment (RHA) adalah berupa:
Penilaian apakah suatu bencana merupakan bencana nasional
Rekomendasi untuk pelaksanaan bantuan penanggulangan sesuai prioritas.
Keputusan untuk menetapkan terjadinya KLB penyakit menular saat bencana
Semua benar
Surveilans pada bencana atau Rapid Healt Assesment (RHA) dilakukan pada:
Setelah selesai respon medik atau penyelamatan korban
Sebelum bencana terjadi
Bersamaan dengan respon medik atau penyelamatan korban
Semua salah
Metode pengumpulan data dalam RHA, antara lain:
Observasi lapangan
Wawancara
Pengumpulan data sekunder
Semua benar
Data yang dikumpulkan dalam observasi lapangan pada kegiatan RHA, antara lain:
Luas lokasi yang terkena, Estimasi biaya untuk rehabilitasi, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.
Luas lokasi yang terkena, Perpindahan evakuasi penduduk, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.
Luas lokasi yang terkena, Mengumpulkan data dari instansi terkait di daerah bencana, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.
Luas lokasi yang terkena, Wawancara dengan penduduk, Infrastruktur yang rusak, Potensi sumber air bersih, Sarana pembuangan kotoran/limbah.
Wawancara untuk pengumpulan data RHA, antara lain dilakukan terhadap:
Petugas kesehatan
Tokoh masyarakat
Masyarakat setempat
Semua benar
Kegiatan surveilans intensif pada situasi darurat, antara lain:
Analisis data (pelayanan, faktor risiko, upaya penanggulangan, dll)
Kajian terus menerus
Informasi terus menerus pada tim penanggulangan
Semua benar
Beberapa penyakit menular yang perlu menjadi prioritas saat situasi darurat, antara lain:
ISPA, Campak, Diabetes
Kusta, ISPA, DBD
Filariasis, Campak, ISPA
ISPA, Campak, DBD
Tujuan diseminasi atau penyebarluasan informasi epidemiologi, antara lain:
Mendapatkan bantuan dengan prioritas yang jelas
Mendapatkan asistensi strategi penanggulangan yang tepat
Menjelaskan kondisi pengungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban publik
Semua benar
Penanggulangan dampak bencana Bidang Pengendalian dan Pemberantasan penyakit, bertugas:
Manajemen dan tatalaksana penyakit, Pengendalian lingkungan, Pengendalian vektor
Manajemen dan tatalaksana penyakit, Rehabilitasi sarana pelayanan kesehatan, Menyediakan tempat pengungsian.
Menyiapkan dapur umum, Menyiapkan air bersih, Menyiapkan pos pelayanan kesehatan.
Masalah kesehatan akibat bencana menimbulkan korban langsung dan korban tidak langsung. Yang termasuk korban langsung berupa masalah medis, adalah:
Pengungsi
Korban sakit, luka, meninggal
Kerusakan lingkungan
Kerusakan sarana-prasarana kesehatan
Selain masalah medis, bencana juga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, misalnya karena:
Pengungsi yang rentan (padat, terisolir)
Kerusakan lingkungan (keterbatasan air bersih, munculnya tempat perindukan vektor)
Rusaknya sarana pelayanan kesehatan, termasuk SDM kesehatan yang terdampak/korban
Semua benar
Jika masalah kesehatan masyarakat tidak diantisipasi maka dapat menimbulkan KLB penyakit menular. Salah satu penyakit yang paling berisiko menjadi KLB/wabah, adalah:
HIV
Kusta
Filaria
DBD
Sanitasi yang buruk pada kondisi darurat berisiko menimbulkan KLB/wabah:
Diare, ISPA, Tifus
Influenza, Campak, Hepatitis A
Diare, keracunan makanan, Typhoid
Influenza, ISPA, Campak
Kondisi pengungsi yang padat, berisiko menimbulkan KLB/wabah penyakit:
Diare, ISPA, Tifus
Influenza, Campak, Hepatitis A
Diare, keracunan makanan, Tifus
Influenza, ISPA, Campak
Kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk bisa meningkatkan kehadiran lalat sebagai vektor penular penyakit:
DBD
Disentri
Malaria
Campak
Pengendalian penyakit pada kondisi krisis kesehatan dilakukan dengan:
Pengamatan penyakit/surveilans
Promotif, preventif
Pelayanan kesehatan
Semua benar
Tujuan pengendalian penyakit menular pada situasi bencana, adalah:
Mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular potensi wabah
Pengendalian vektor sebagai faktor risiko penyakit menular
Tersedianya data mengenai faktor risiko penyakit menular
Menyediakan sanitasi yang memadai untuk mencegah timbulnya penyakit menular
Permasalahan penyakit menular pada kondisi darurat/bencana, antara lain dapat berupa:
Adanya kelompok risiko tinggi, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, tercemarnya sumber air minum
Pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, rusaknya sarana transportasi, tercemarnya sumber air minum
Pengungsian yang padat, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, lokasi bencana berada di pegunungan
Adanya kelompok risiko tinggi, pengungsian berada di daerah endemis penyakit menular, lokasi bencana berada di dekat pantai
Yang termasuk kelompok risiko tinggi penyakit menular di daerah bencana, antara lain:
Wanita
Remaja
Usia produksi
Balita
Ibu hamil lebih berisiko terkena penyakit menular, karena:
Kekurangan gizi
Anemi
Adanya immunosupresi
Obesitas
Penyakit tidak menular/non infeksi yang bisa terjadi saat bencana, antara lain:
Patah tulang/cidera, hipertensi, stroke
Tetanus, hipertensi, penyakit jantung
Pneumoni, patah tulang/cidera, hipertensi
Hipertensi, stroke, penyakit kaki gajah (filariasis)
Penyakit menular yang berisiko muncul pada kejadian bencana, antara lain:
Tetanus
Hipertensi
Diabetes mellitus
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)
Beberapa metode yang sesuai dalam mencegah penularan penyakit demam berdarah di pengungsian, kecuali:
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
Pemakaian kelambu pada malam hari
Penggunaan lotion anti nyamuk
Fogging/pengkabutan
Berikut ini metode yang tepat untuk memberantas larva/jentik nyamuk Aedes aegypti di pengungsian, antara lain:
Fogging (pengasapan)
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
Lotion anti nyamuk
Semua benar
Untuk menentukan metode pengendalian penyakit menular sebagai bagian manajemen bencana, perlu diketahui cara penularan penyakit tersebut. Berikut adalah penyakit yang ditularkan melalui udara:
Penumonia TBC, scabies
Pneumoni, scabies, campak
Scabies, campak, TBC
Pneumoni, TBC, campak
Penyakit yang ditularkan melalui perantara vektor nyamuk, antara lain:
DBD, chikungunya, malaria, filariasis
DBD, malaria, scabies, filariasis
DBD, malaria, dermatitis, leptospirosis
DBD, malaria, conjungtivitis, filariasis
Penyakit yang ditularkan melalui air, juga sangat penting diketahui dan diantisipasi ketika bencana terjadi. Beberapa penyakit tersebut antara lain:
Diare
Leptospirosis
Hepatitis A
Semua benar
Beberapa penyakit ditularkan melalui kontak langsung tanpa perantara. Diantaranya adalah:
Scabies
HIV
Keduanya benar
Keduanya salah
Penyakit yang ditularkan lewat makan juga perlu menjadi perhatian dan diwaspadai ketika bencana. Berikut ini penyakit yang dapat ditularkan lewat makanan:
Typhoid
Disentri
Diare
Semua benar
Dinamika penularan penyakit termasuk saat bencana dapat dipahami melalui “segi tiga epidemiologi”. Host dalam penyakit malaria adalah:
Manusia dan nyamuk Anopheles
Manusia dan nyamuk Aedes
Plasmodium malariae
Nyamuk Aedes
Yang termasuk dalam peran host dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:
Perubahan lingkungan
Resistensi kuman terhadap obat
Imunitas
Perubahan iklim
Yang termasuk dalam peran agent dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:
Resistensi kuman terhadap obat
Imunitas
Usia lanjut
Stres
Yang termasuk peran lingkungan dalam penularan/terjadinya penyakit menular, antara lain:
Munculnya tempat perindukan nyamuk
Tercemarnya sumber air bersih
Pengelolaan sampah/limbah yang buruk
Semua benar
Masa inkubasi perlu diketahui dan berguna dalam penyelidikan epidemiologi penyakit menular. Masa inkubasi adalah:
Waktu sejak timbulnya gejala sampai sembuh
Waktu sejak terinfeksi sampai timbul gejala
Waktu sejak terinfeksi sampai sembuh
Waktu sejak timbulnya gejala sampai sembuh
Risiko penyakit ketika bencana sangat berbeda dengan kondisi ketika situasi normal. Hal ini dapat disebabkan karena:
Pengungsi memasuki daerah dengan agen pathogen yang tidak diketahui.
Perubahan lingkungan (kerusakan saluran air minum, kepadatan pengungsi)
Tingkat imunitas penduduk yang rendah.
Semua benar
Rusaknya sumber air minum dan kepadatan pengungsi merupakan faktor:
Host
Agent
Lingkungan
Pejamu
Dalam kondisi bencana, penting untuk melakukan surveilans, termasuk surveilans vektor. Tujuan dari surveilans vektor adalah:
Mengetahui obat-obatan yang diperlukan untuk menanggulangi penyakit
Sebagai dasar untuk memahami dinamika penularan penyakit dan upaya pengendaliannya.
Keduanya benar
Keduanya salah
Pada bencana banjir, penyakit yang potensial perlu diwaspadai adalah:
Leptospirosis
Diare
Disentri
Semua benar
Vektor penular Leptospirosis adalah:
Lalat
Kelelawar
Nyamuk
Tikus
Pada bencana gunung api, salah satu penyakit potensial yang perlu diwaspadai adalah:
ISPA
Rabies
Antrax
Leptospirosis
Menurunkan populasi vektor sehingga tidak berisiko untuk terjadinya penularan atau menghindari kontak dengan vektor sehingga penularan penyakit dapat dicegah. Hal tersebut merupakan:
Tujuan pengendalian vektor
Tujuan surveilans vektor
Semua benar
Semua salah
Pengendalian vektor terpadu, merupakan:
Pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor.
Pengendalian vektor dengan rekayasa lingkungan secara menyeluruh
Pengendalian vektor dengan menggunakan predator dari vektor tersebut.
Pemberantasan semua vektor penular penyakit, seperti nyamuk, tikus, lalat, dll.
Pengendalian vektor yang dilakukan, berdasarkan azas:
Keamanan,
rasionalitas
efektifitas
Semua benar
Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya risiko tertular penyakit melalui vektor pada korban bencana:
Peningkatan pemajanan kepada vektor
Bertambahnya dan tersedianya tempat perindukan
Tersedianya sumber-sumber makanan dan sisa makanan yang menarik bagi vektor.
Semua benar
Masalah dan kendala yang dihadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain:
Kondisi geografi dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vector.
Banyaknya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor.
Teridentifikasinya spesies vektor (pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis.
Semua benar
Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang:
Bioekologi vektor setempat,
Dinamika penularan penyakit,
Ekosistem, dan perilaku masyarakat yang bersifat spesifik lokal (evidence based)
Semua benar
Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar:
Sumber daya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga.
Semua vektor dapat dimusnahkan
Semua metode harus dipadukan
Semua benar
Hal yang juga perlu dipertimbangkan dalam pengendalian vektor, antara lain:
Pengendalian vektor tidak perlu melibatkan partisipasi aktif berbagai sektor.
Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metode kimia
Pengendalian vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi.
Semua benar.
Berikut adalah metode sederhana pengelolaan lingkungan guna pengendalian vektor di lokasi pengungsian:
Menimbun genangan air
Memberi tutup pada tempat sampah
Menimbun sampah
Semua benar
Pemasangan kelambu merupakan pengendalian vektor dengan metode:
Fisik/mekanis
Biologi
Lingkungan
Semua salah
Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier) dan ikan pemakan jentik, merupakan upaya pengendalian vektor dengan metode:
Kimia
Fisik/mekanik
Biologis
Semua salah
Pemberantasan vektor dengan target larva nyamuk, biasanya dengan cara, kecuali:
Ikan pemakan jentik
Penggunaan Larvasida
Fogging
Menguras tampungan air
Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotik (biologis), antara lain dapat dilakukan dengan cara/menggunakan:
Predator pemakan jentik (ikan)
Bakteri, virus, fungi
Manipulasi gen
Semua benar
Metode pengendalian dengan metode kimia, antara lain:
Penyemprotan tenda pengungsi dengan insektisida
Penggunaan lotion anti nyamuk
Fogging/pengasapan
Semua benar
Latar belakang pentingnya Paket Penilaian Awal Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada krisis kesehatan, antara lain:
Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana.
Jika terjadi bencana berskala besar, dapat menyebabkan terganggunya pelayanan kesehatan reproduksi dengan kelompok rentan sebagai target sasaran.
Pelayanan kesehatan reproduksi adalah salah satu jenis pelayanan kesehatan yang harus tersedia dalam situasi apapun, dan justru meningkat pada situasi krisis kesehatan.
Semua benar
Pendekatan koordinatif yang menyatukan semua pihak terkait, baik pemerintah maupun non pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana, untuk meminimalkan kesenjangan dan tumpang tindih dalam bantuan/pelayanan. Pernyataan di atas merupakan penjelasan dari:
Pendekatan klaster dalam bencana
Manajemen bencana
Klaster bencana di tingkat internasional terdiri dari:
8 klaster
11 klaster
3 klaster
Semua salah
Klaster tingkat internasional dalam penanggulangan bencana secara keseluruhan dipimpin oleh:
World Health Organitation (WHO)
United Nations Development Programme (UNDP)
United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA).
United Nations Children's Fund (UNICEF)
Klaster Nasional Penanggulangan Bencana terdiri dari:
8 klaster
11 klaster
3 klaster
Semua salah
Dari 8 klaster tersebut yang terkait dengan kesehatan reproduksi adalah:
klaster kesehatan
klaster pengungsian dan perlindungan.
Keduanya benar
Keduanya salah
Klaster yang bertugas dalam pencarian dan penyelamatan, dipimpin oleh:
BNPB
SAR
Polri
TNI
Klaster pengungsian dan perlindungan, berada dibawah:
Kemenkes
Kemendagri
BNPB
Kemensos
Klaster kesehatan, berada dibawah:
Rumah Sakit
Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Kemenkes
BNPB
Klaster kesehatan dalam penanggulangan bencana terdiri dari:
8 sub klaster dan 6 tim
11 sub klaster dan 3 tim
6 sub klaster dan 3 tim
3 sub klaster dan 6 tim
Sub-klaster dalam klaster kesehatan nasional penanggulangan bencana, terdiri dari:
Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan, Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan
Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan
Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, pelayanan gizi, identifikasi korban mati.
Semua benar
Tiga tim tambahan dalam klaster kesehatan nasional penanggulangan bencana, terdiri dari:
Logistik, data dan informasi, promosi kesehatan
Pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan
Kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, identifikasi korban mati
SAR, PMI, Bulan Sabit Merah.
Subklaster kesehatan reproduksi pada kejadian bencana/krisis kesehatan bertanggung jawab dalam hal:
Tersedia dan terlaksananya pelayanan kesehatan reproduksi untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian kelompok rentan kesehatan reproduksi.
Pelaksanaan pelayanan minimum kesehatan balita dan kesehatan lansia.
Semua benar
Semua salah
Suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya baik pada laki-laki maupun perempuan. Hal di atas merupakan:
Definisi kesehatan reproduksi
Tujuan kesehatan reproduksi
Target kesehatan reproduksi
Sasaran kesehatan reproduksi
Kondisi-kondisi kesehatan reproduksi yang meningkat dalam situasi krisis kesehatan, antara lain:
Kebutuhan remaja saat menstruasi
Kekurangan gizi dan anemia
Kekurangan akses terhadap pelayanan kegawat daruratan obstetri.
Semua benar
Dalam situasi krisis, juga dapat terjadi beberapa masalah kesehatan reproduksi, antara lain:
Kurangnya pelayanan keluarga berencana yang meningkatkan risiko yang berhubungan dengan kehamilan yang tidak direncanakan.
Kekerasan seksual, kekerasan oleh pasangan dan praktik-praktik berbahaya yang dapat meningkat pada situasi krisis kesehatan,
Semua benar
Semua salah
Paket Pelayanan Awal Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi merupakan serangkaian kegiatan prioritas kesehatan reproduksi.
Harus segera dilaksanakan pada tanggap darurat krisis kesehatan.
Dilaksanakan setelah tanggap darurat selesai
Merupakan kesiapsiagaan menghadapi bencana
Merupakan kegiatan mitigasi bencana
Jika PPAM Kesehatan Reproduksi tidak dilaksanakan, akan terjadi konsekuensi, antara lain:
Meningkatnya kematian maternal dan neonatal, balita dan lanjut usia.
Terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan dan aborsi yang tidak aman.
Semua benar
Semua salah
Pada situasi krisis biasanya terdapat beberapa kondisi terkait kesehatan reproduksi, antara lain:
Ibu hamil yang membutuhkan pelayanan dan dapat melahirkan sewaktu-waktu, termasuk persalinan prematur akibat situasi yang kacau.
Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan.
Wanita usia subur yang memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi dan membutuhkan pembalut saat mengalami menstruasi.
Semua benar
Diperkirakan pada situasi krisis kesehatan Ibu hamil akan mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan, sebanyak:
> 80 %
70 – 80 %
15 – 20 %
< 15 %
Estimasi jenis dan jumlah kelompok rentan yang mengalami kondisi masalah kesehatan reproduksi pada situasi krisis, antara lain diperlukan untuk:
Mengalokasikan jenis dan jumlah logistik yang diperlukan serta SDM yang sesuai.
Menghitung kerugian akibat bencana
Menyiapkan rehabilitasi sarana dan prasarana
Semua benar
Kelompok rentan yang menjadi sasaran dalam PPAM kesehatan reproduksi pada krisis kesehatan, antara lain:
Bayi baru lahir, ibu hamil, ibu bersalin, ibu pascapersalinan, ibu menyusui, anak perempuan, wanita usia subur
Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV).
Balita dan lanjut usia
Semua benar
Paket Pelayanan Minimal (PPAM) Kesehatan Reproduksi diterapkan pada tahap tanggap darurat krisis kesehatan dan akan dilanjutkan ketika situasi sudah lebih stabil, dengan:
Penerapan kesehatan reproduksi khusus.
Penerapan kesehatan reproduksi komprehensif.
Penerapan kesehatan reproduksi prioritas.
Semua benar.
Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada tahapan pra-krisis, antara lain:
Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar
Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM).
Evaluasi pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada saat krisis terjadi, antara lain:
Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar
Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Evaluasi pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada tahapan pasca krisis, antara lain:
Perencanaan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar
Penerapan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Melakukan penilaian kesiapsiagaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
Pelatihan dan orientasi PPAM
Komponen PPAM Kesehatan Reproduksi diterapkan:
Sebelum mendapatkan hasil penilaian dari tim kaji cepat di lapangan (tim Rapid Health Assessment/RHA).
Setelah situasi darurat teratasi
Segera setelah mendapatkan hasil penilaian dari tim kaji cepat di lapangan (tim Rapid Health Assessment/RHA).
Pasca krisis kesehatan
Dalam lingkup kluster kesehatan, pelaksanaan PPAM Kesehatan Reproduksi harus dilakukan secara:
Mandiri, terlepas dari sub klaster lainnya
Terkoordinasi dan terintegrasi khusus dengan sub klaster Gizi
Terkoordinasi dan terintegrasi khusus dengan sub klaster pelayanan kesehatan.
Terkoordinasi dan terintegrasi dengan intervensi klaster terkait.
Dalam pelaksanaan PPAM, Sub klaster kesehatan reproduksi:
Bisa bekerjasama dengan klaster diluar kesehatan, misalnya kluster perlindungan dan pengungsian dibawah koordinasi Kementerian Sosial.
Hanya bisa berkoordinasi dengan sub kluster di lingkup kluster kesehatan dibawah koordinasi Kementerian Kesehatan.
Mandiri, terlepas dari kluster maupun sub klaster lainnya
Hanya bisa berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan SAR.
Untuk mendapatkan dukungan psikososial, pelaksanaan PPAM dapat bekerjasama dengan:
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)
Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)
Sub kluster kesehatan jiwa
Semua benar
Dalam pelaksanaan PPAM, harus mengikuti prinsip-prinsip dasar, antara lain:
Kemanusiaan
Keberpihakan
Ketergantungan
Semua benar
Mengutamakan kasus-kasus penderitaan yang paling mendesak dan tidak membeda-bedakan atas dasar kebangsaan, ras, jenis kelamin, keyakinan agama, kelas atau pendapat politik, merupakan prinsip:
Ketidakberpihakan (impartiality)
Kemerdekaan (independence)
Kemanusiaan (humanity)
Semua benar
Prinsip dasar dalam pelaksanaan PPAM:
Pengguna layanan tidak berhak untuk berpartisipasi membuat keputusan dan pilihan layanan
Bekerja dalam kemitraan yang saling menghormati dengan masyarakat pengguna pelayanan
Bekerja secara mandiri
Pengguna layanan tidak boleh mengakses informasi tentang pilihan layanan yang tersedia
Tugas penanggung jawab dalam pelaksanaan komponen PPAM antara lain adalah:
Membatasi informasi tentang pelayanan dan komoditas kesehatan reproduksi yang tersedia untuk ketertiban
Memastikan masyarakat mengetahui tentang ketersedian dan lokasi pelayanan kesehatan reproduksi.
Melapor hanya kepada kluster kesehatan dan tidak dibenarkan memberi informasi kepada sub kluster lain.
Semua salah
Sub kluster kesehatan reproduksi terdiri dari beberapa komponen. Salah satunya adalah:
Komponen aktifitas fisik/olahraga
Komponen gizi
Komponen pelayanan kontrasepsi
Komponen kesehatan jiwa
Diantara langkah-langkah pelaksanaan komponen PPAM, dalam hal mencegah kekerasan seksual dan merespon kebutuhan penyintas, antara lain:
Memastikan adanya petugas kompeten untuk penanganan kasus kekerasan seksual
Menghindari keterlibatan organisasi di luar pemerintah yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual
Keduanya benar
Keduanya salah
Dalam rangka mencegah penularan dan mengurangi kesakitan dan kematian akibat HIV dan IMS lainnya di lokasi pengungsian:
Memastikan kegiatan transfusi darah aman dan rasional yang dilakukan oleh lembaga yang bergerak di bidangnya, misalnya: Palang Merah Indonesia
Memastikan ketersediaan kondom dengan berkoordinasi dengan organisasi dan lembaga yang bekerja di bidang keluarga berencana, Kementerian Kesehatan, BKKBN, LSM lainnya
Memasang informasi dengan nomor telepon 24 jam yang bisa dihubungi dan memastikan kelanjutan pengobatan ARV bersama dengan obat rutin lainnya.
Semua benar
Langkah-langkah pelaksanaan PPAM dalam mencegah meningkatnya kesakitan dan kematian maternal dan neonatal, antara lain:
Pendataan dan pemetaan ibu hamil, ibu pascabersalin, dan bayi baru lahir di tempat-tempat pengungsian
Memastikan petugas dapat menjangkau ibu hamil dan bayi baru lahir dan menempatkan mereka secara terpisah
Memastikan tersedianya sistem rujukan setiap hari kerja (selain hari libur).
Semua benar
Langkah-langkah pelaksanaan PPAM dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, antara lain:
Merujuk korban bencana yang memerlukan alat/obat kontrasepsi
Memberikan pelayanan kontrasepsi
Keduanya benar
Keduanya salah
Langkah-langkah pelaksanaan PPAM terkait kesehatan reproduksi remaja dan pelibatan remaja, antara lain:
Penyediaan informasi dasar kesehatan reproduksi remaja
Mengintegrasikan komponen PPAM Kesehatan Reproduksi remaja ke dalam pelayanan kesehatan dasar yang ada.
Pelibatan dan pemberdayaan remaja
Semua benar.
Langkah-langkah pelaksanaan PPAM kesehatan balita
Menyediakan susu formula
Menyediakan alat/obat kontrasepsi
Keduanya benar
Keduanya salah
Pada situasi krisis kesehatan yang diakibatkan karena wabah penyakit (bencana non alam), dibandingkan kondisi normal, biasanya kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi:
Tetap ada dan justru meningkat
Hanya terjadi pada bencana alam
Paling besar karena wabah banjir dan tsunami
Semua salah.
Kondisi yang diakibatkan oleh suatu wabah penyakit menular dapat bervariasi tergantung dari:
Jenis penyakitnya.
Mekanisme penularan penyakit.
Tingkat penyebaran wabah.
Semua benar
Berikut ini penyakit yang paling cepat menular berdasarkan mekanisme penularannya, adalah:
Airborne disease
Waterborne disease
Vektor borne disease
Semua salah
