wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Dasar Relasi Konseling Pastoral (Soal 1-15)

Total questions: 65

Worksheet time: 33mins

Name
Class
Date
1.

Relasi penolong–tertolong disebut bersifat asimetris karena …

a)

Peran dan tanggung jawab penolong berbeda secara fungsional

b)

Penolong selalu berada di posisi yang lebih benar

c)

Tertolong harus mengikuti semua nasihat penolong

d)

Penolong lebih rohani daripada tertolong

e)

Penolong memiliki otoritas mutlak atas keputusan tertolong

2.

Perbedaan utama relasi konseling pastoral dengan relasi pertemanan terletak pada …

a)

Intensitas pertemuan

b)

Tingkat kedekatan emosional

c)

Tujuan pelayanan dan batasan etis

d)

Lama waktu relasi

e)

Kesamaan latar belakang iman

3.

Pernyataan yang paling tepat mengenai Allah sebagai Penolong Utama adalah …

a)

Allah hanya menolong jika konselor berhasil

b)

Konselor bertindak sebagai wakil Allah yang menentukan solusi

c)

Pertolongan Allah menggantikan peran konselor

d)

Relasi konseling menggantikan relasi manusia dengan Allah

e)

Konselor menjadi alat Allah, bukan pusat pertolongan

4.

Teladan Yesus dalam relasi penolong–tertolong paling jelas ditunjukkan melalui sikap …

a)

Tegas dan konfrontatif

b)

Hadir, mendengar, dan memulihkan tanpa menghakimi

c)

Menekankan hukum Taurat

d)

Memberi solusi instan

e)

Menghindari konflik

5.

Konsep “saling menanggung beban” (Galatia 6:2) dalam konseling pastoral menegaskan bahwa …

a)

Relasi bersifat partisipatif dan memberdayakan

b)

Tertolong boleh bergantung sepenuhnya pada penolong

c)

Penolong menjadi pengganti tanggung jawab tertolong

d)

Masalah pribadi menjadi urusan bersama jemaat

e)

Penolong harus memikul seluruh masalah tertolong

6.

Empati dalam relasi penolong–tertolong berarti …

a)

Merasakan penderitaan tertolong secara total

b)

Mengalami masalah yang sama dengan tertolong

c)

Menyetujui semua pandangan tertolong

d)

Memberikan simpati berlebihan

e)

Memahami pengalaman tertolong tanpa kehilangan objektivitas

7.

Penerimaan tanpa syarat tidak berarti …

a)

Membenarkan semua perilaku tertolong

b)

Memberi ruang aman bagi tertolong

c)

Memisahkan pribadi dari perbuatannya

d)

Tidak menghakimi pribadi tertolong

e)

Menghargai martabat tertolong

8.

Kepercayaan dalam relasi konseling pastoral terutama dibangun melalui …

a)

Karisma rohani penolong

b)

Jabatan gerejawi

c)

Konsistensi, kejujuran, dan kerahasiaan

d)

Kedekatan personal

e)

Kesamaan pengalaman hidup

9.

Batasan (boundaries) dalam relasi penolong–tertolong diperlukan terutama untuk …

a)

Mengurangi keterlibatan penolong

b)

Membatasi komunikasi

c)

Menghindari kedekatan emosional

d)

Menunjukkan profesionalisme semata

e)

Menjaga relasi tetap aman dan etis

10.

Tujuan utama relasi penolong–tertolong adalah …

a)

Menyelesaikan masalah secepat mungkin

b)

Menumbuhkan ketergantungan yang sehat

c)

Memberi nasihat rohani

d)

Menguatkan posisi penolong

e)

Membentuk kemandirian dan pertumbuhan tertolong

11.

Peran penolong sebagai pendengar aktif ditunjukkan dengan …

a)

Mengarahkan pembicaraan sesuai sudut pandang penolong

b)

Menyela untuk klarifikasi

c)

Mengutip ayat Alkitab setiap waktu

d)

Banyak berbicara dan memberi solusi

e)

Memberi perhatian penuh dan refleksi empatik

12.

Fasilitator pemahaman diri berarti penolong …

a)

Membantu tertolong mengenali makna pengalaman hidupnya

b)

Menunjukkan kesalahan tertolong

c)

Mengganti peran pengambil keputusan

d)

Menafsirkan masalah tertolong secara sepihak

e)

Mengoreksi iman tertolong

13.

Sebagai pendamping rohani, penolong seharusnya …

a)

Membantu tertolong menyadari kehadiran Allah

b)

Mengarahkan tertolong pada pengalaman religius tertentu

c)

Mengukur kedewasaan rohani tertolong

d)

Menghakimi iman tertolong

e)

Menentukan kehendak Allah bagi tertolong

14.

Tanggung jawab menjaga batas relasi terutama berada pada …

a)

Pimpinan gereja

b)

Penolong

c)

Keluarga tertolong

d)

Tertolong

e)

Komunitas iman

15.

Sikap tertolong yang paling mencerminkan relasi sehat adalah …

a)

Mengambil keputusan dengan dukungan penolong

b)

Bergantung penuh pada penolong

c)

Menyangkal kebutuhan bantuan

d)

Menyerahkan semua keputusan

e)

Menghindari keterbukaan

16.

Ketergantungan berlebihan dalam konseling pastoral ditandai oleh …

a)

Kepercayaan penuh kepada penolong

b)

Kedekatan emosional sementara

c)

Intensitas pertemuan yang tinggi

d)

Hilangnya kemampuan mengambil keputusan sendiri

e)

Keterbukaan tertolong

17.

Penyalahgunaan kuasa dalam relasi konseling dapat terjadi ketika penolong …

a)

Memberi nasihat Alkitabiah

b)

Menjaga jarak profesional

c)

Mendengarkan terlalu lama

d)

Memaksakan tafsir rohani pribadi

e)

Menolak rujukan

18.

Kaburnya batas relasi paling berbahaya karena dapat menyebabkan …

a)

Konseling menjadi tidak efektif

b)

Relasi berubah menjadi tidak sehat dan manipulatif

c)

Tertolong menjadi lebih terbuka

d)

Konseling menjadi informal

e)

Relasi menjadi lebih manusiawi

19.

Spiritualisasi masalah merujuk pada sikap …

a)

Menggunakan Alkitab sebagai dasar konseling

b)

Menekankan doa

c)

Mengaitkan masalah dengan iman

d)

Mengajak refleksi rohani

e)

Mengabaikan aspek psikologis dan sosial

20.

Prinsip kerahasiaan dalam konseling pastoral bertujuan untuk …

a)

Melindungi reputasi penolong

b)

Membatasi informasi

c)

Menjaga wibawa gereja

d)

Membangun rasa aman dan kepercayaan tertolong

e)

Menghindari konflik

21.

Kesukarelaan dalam relasi konseling berarti …

a)

Konseling dilakukan tanpa aturan

b)

Tertolong bebas menghentikan proses

c)

Penolong tidak bertanggung jawab

d)

Tidak ada tujuan jelas

e)

Konseling bersifat informal

22.

Prinsip non-diskriminasi menuntut penolong untuk …

a)

Melayani tanpa membedakan latar sosial dan moral

b)

Menyamakan semua kasus

c)

Mengutamakan jemaat sendiri

d)

Mengabaikan latar belakang tertolong

e)

Menolak kasus berat

23.

Kompetensi penolong berarti …

a)

Memiliki pengalaman hidup

b)

Mengetahui semua masalah

c)

Mengandalkan intuisi rohani

d)

Memiliki jabatan rohani

e)

Memiliki kemampuan sesuai batas keahlian

24.

Rujukan (referral) perlu dilakukan ketika …

a)

Tertolong tidak berubah

b)

Tertolong sulit diatur

c)

Masalah di luar kapasitas penolong

d)

Konseling berlangsung lama

e)

Penolong merasa gagal

25.

Relasi penolong–tertolong yang etis menempatkan konselor sebagai …

a)

Penentu kebenaran

b)

Pemimpin rohani mutlak

c)

Pelayan yang bertanggung jawab

d)

Sahabat intim

e)

Pengawas moral

26.

Relasi konseling pastoral dikatakan berhasil apabila …

a)

Terjadi pertumbuhan pemahaman diri dan iman

b)

Tertolong merasa nyaman dengan penolong

c)

Proses konseling berlangsung lama

d)

Masalah tertolong sepenuhnya hilang

e)

Penolong memberi banyak solusi

27.

Asimetri relasi penolong–tertolong harus dikelola agar tidak berubah menjadi …

a)

Relasi dominasi kuasa

b)

Relasi profesional

c)

Relasi pendampingan

d)

Relasi fungsional

e)

Relasi formal

28.

Sikap penolong yang paling mencerminkan kerendahan hati teologis adalah …

a)

Menghindari tanggung jawab

b)

Menyadari keterbatasan diri sebagai alat Allah

c)

Menyerahkan semua pada doa

d)

Meyakini dirinya dipakai Allah secara khusus

e)

Menganggap nasihatnya selalu benar

29.

Dalam relasi konseling pastoral, objektivitas penolong penting karena …

a)

Menjauhkan diri dari tertolong

b)

Menghindari relasi pribadi

c)

Mencegah keterlibatan emosional berlebihan

d)

Menjaga jarak emosional

e)

Mengurangi empati

30.

Relasi yang berorientasi pada kemandirian tertolong ditandai oleh …

a)

Penolong sering memberi nasihat langsung

b)

Tertolong selalu meminta persetujuan penolong

c)

Tertolong mampu mengambil keputusan sendiri

d)

Konseling berlangsung tanpa batas waktu

e)

Penolong menjadi figur sentral

31.

Dalam perspektif etika pastoral, relasi penolong–tertolong bersifat …

a)

Netral secara moral

b)

Sosial semata

c)

Pribadi dan bebas

d)

Struktural institusional

e)

Bertanggung jawab secara profesional dan rohani

32.

Jika penolong mulai mencari pemenuhan emosional dari tertolong, maka relasi tersebut …

a)

Menjadi lebih manusiawi

b)

Masih dapat ditoleransi

c)

Bersifat mutual

d)

Menjadi lebih efektif

e)

Melanggar batas etis

33.

Salah satu indikator bahwa relasi konseling mulai tidak sehat adalah …

a)

Tertolong merasa nyaman

b)

Tertolong merasa didengar

c)

Tertolong takut mengecewakan penolong

d)

Penolong menjaga kerahasiaan

e)

Konseling dilakukan rutin

34.

Perbedaan utama empati dan simpati dalam konseling pastoral terletak pada …

a)

Kepekaan rohani

b)

Kesamaan pengalaman

c)

Kedalaman emosi

d)

Intensitas perhatian

e)

Kemampuan menjaga jarak profesional

35.

Dalam konseling pastoral, penerimaan tanpa syarat membantu tertolong untuk …

a)

Merasa aman untuk jujur dan reflektif

b)

Membenarkan semua perilakunya

c)

Mengurangi tanggung jawab moral

d)

Menghindari rasa bersalah

e)

Menolak koreksi

36.

Relasi penolong–tertolong menjadi tidak etis ketika penolong …

a)

Menolak hadiah besar dari tertolong

b)

Menjaga rahasia konseling

c)

Menggunakan relasi untuk kepentingan pribadi

d)

Melakukan rujukan

e)

Melakukan supervisi

37.

Supervisi dalam konseling pastoral penting terutama untuk …

a)

Memperpanjang proses konseling

b)

Menjaga kualitas dan etika penolong

c)

Menilai iman tertolong

d)

Mengontrol tertolong

e)

Menentukan solusi

38.

Relasi pastoral yang sehat selalu mengakui bahwa …

a)

Psikologi lebih penting dari teologi

b)

Manusia bersifat utuh: bio-psiko-sosio-spiritual

c)

Konselor adalah ahli utama

d)

Doa cukup untuk semua kasus

e)

Semua masalah bersifat rohani

39.

Ketika penolong menolak melakukan rujukan padahal masalah di luar kompetensinya, hal itu menunjukkan …

a)

Kesetiaan pada tertolong

b)

Iman yang kuat

c)

Kepedulian mendalam

d)

Keberanian pastoral

e)

Ketidaketisan profesional

40.

Dalam relasi konseling pastoral, otoritas penolong seharusnya bersumber dari …

a)

Pengetahuan teologis semata

b)

Kepercayaan dan integritas relasional

c)

Karisma pribadi

d)

Usia dan pengalaman

e)

Jabatan gerejawi

41.

Relasi penolong–tertolong yang terlalu lama tanpa tujuan jelas berpotensi menyebabkan …

a)

Pendalaman iman

b)

Ketergantungan emosional

c)

Kematangan rohani

d)

Kepercayaan yang kuat

e)

Stabilitas psikologis

42.

Dalam konteks etika, menjaga jarak profesional berarti …

a)

Menolak kedekatan manusiawi

b)

Bersikap dingin

c)

Menghindari komunikasi informal

d)

Menjaga peran sesuai fungsi

e)

Membatasi empati

43.

Penolong yang matang secara pastoral akan menyadari bahwa …

a)

Ia harus selalu kuat

b)

Ia tidak boleh salah

c)

Ia juga membutuhkan refleksi dan pertolongan

d)

Ia tidak boleh ragu

e)

Ia harus menjadi teladan sempurna

44.

Relasi konseling pastoral bukan relasi kuasa karena …

a)

Tidak memiliki tujuan

b)

Berorientasi pada pelayanan dan pemulihan

c)

Bersifat informal

d)

Bersifat sementara

e)

Tidak ada struktur

45.

Sikap reflektif penolong dalam relasi konseling bertujuan untuk …

a)

Mempercepat penyelesaian

b)

Menghindari konflik

c)

Mengevaluasi dinamika relasi

d)

Menilai iman tertolong

e)

Mengoreksi tertolong

46.

Relasi penolong–tertolong yang sehat selalu menempatkan martabat tertolong sebagai …

a)

Objek pelayanan

b)

Jemaat bermasalah

c)

Sasaran perubahan

d)

Subjek yang dihargai

e)

Penerima nasihat

47.

Ketika tertolong berbeda pandangan teologis dengan penolong, sikap etis penolong adalah …

a)

Menghentikan konseling

b)

Meluruskan secara keras

c)

Memaksakan tafsir

d)

Menghargai dan berdialog secara terbuka

e)

Menghindari topik iman

48.

Relasi penolong–tertolong menuntut penolong untuk sadar akan …

a)

Keterbatasan waktu

b)

Kelemahan tertolong

c)

Kelebihan intelektual

d)

Posisi sosial

e)

Bias pribadi dan nilai subjektif

49.

Dalam konseling pastoral, kehadiran (presence) penolong berarti …

a)

Terlibat emosional total

b)

Memberi solusi cepat

c)

Hadir secara penuh dan autentik

d)

Mengorbankan diri sepenuhnya

e)

Selalu tersedia setiap saat

50.

Relasi yang etis selalu mengarahkan tertolong untuk …

a)

Mengandalkan gereja

b)

Bergantung pada konselor

c)

Mengikuti program lanjutan

d)

Menghindari konflik hidup

e)

Bertumbuh dalam tanggung jawab pribadi

51.

Tujuan akhir konseling pastoral dalam relasi penolong–tertolong adalah …

a)

Penyelesaian masalah

b)

Kedamaian emosional

c)

Kepatuhan pada norma gereja

d)

Keseimbangan sosial

e)

Pemulihan keutuhan hidup di hadapan Allah

52.

Relasi yang terlalu menekankan aspek rohani tanpa psikologis berisiko …

a)

Kehilangan dasar iman

b)

Terlalu rasional

c)

Mengabaikan realitas manusiawi

d)

Menjadi terlalu akademis

e)

Tidak relevan

53.

Penolong yang etis tidak akan …

a)

Menjaga rahasia

b)

Menjalin relasi ganda (dual relationship)

c)

Mendengarkan aktif

d)

Mendoakan tertolong

e)

Melakukan refleksi

54.

Relasi konseling pastoral bersifat sementara karena …

a)

Tujuannya adalah kemandirian tertolong

b)

Konselor terbatas waktu

c)

Tidak boleh terlalu dekat

d)

Bersifat administratif

e)

Masalah harus cepat selesai

55.

Dalam relasi konseling, keputusan akhir hidup tertolong tetap berada pada …

a)

Penolong

b)

Gereja

c)

Keluarga

d)

Pemimpin rohani

e)

Tertolong sendiri

56.

Ketika tertolong mulai mengidolakan penolong, langkah etis penolong adalah …

a)

Membiarkannya

b)

Memanfaatkan kepercayaan

c)

Mengembalikan fokus pada proses dan tujuan

d)

Mengakhiri konseling langsung

e)

Menjaga jarak total

57.

Relasi penolong–tertolong mencerminkan kasih Kristus ketika …

a)

Masalah cepat selesai

b)

Relasi dibangun atas kasih, kebenaran, dan kebebasan

c)

Doa selalu dijawab

d)

Tertolong selalu taat

e)

Penolong selalu benar

58.

Kesadaran akan batas kompetensi menunjukkan bahwa penolong …

a)

Tidak beriman

b)

Kurang percaya diri

c)

Bersikap pasif

d)

Profesional dan etis

e)

Menghindari tanggung jawab

59.

Relasi konseling pastoral yang dewasa akan mendorong tertolong untuk …

a)

Bergabung dalam pelayanan

b)

Meniru iman penolong

c)

Bertumbuh sesuai panggilan hidupnya

d)

Mengikuti saran penolong

e)

Menjadi konselor juga

60.

Dalam relasi konseling, konflik yang muncul seharusnya …

a)

Dikelola secara terbuka dan reflektif

b)

Diserahkan pada doa

c)

Ditutupi

d)

Dihindari

e)

Dianggap kegagalan

61.

Relasi penolong–tertolong tidak boleh berubah menjadi relasi penggembalaan umum karena …

a)

Tidak melibatkan komunitas

b)

Lebih bersifat pribadi dan intens

c)

Tidak membutuhkan teologi

d)

Berbeda konteks pelayanan

e)

Bersifat sementara

62.

Kualitas relasi lebih menentukan keberhasilan konseling pastoral daripada …

a)

Metode tertulis

b)

Kepercayaan

c)

Teknik komunikasi

d)

Kehadiran relasional

e)

Banyaknya nasihat

63.

Relasi konseling pastoral yang sehat selalu bersifat …

a)

Simetris

b)

Bebas tanpa aturan

c)

Bertujuan dan terarah

d)

Emosional

e)

Netral

64.

Penolong yang mempraktikkan refleksi teologis dalam relasi konseling akan …

a)

Menekankan dogma

b)

Menghakimi perilaku

c)

Memberi lebih banyak ayat

d)

Mengintegrasikan iman dan pengalaman hidup

e)

Menghindari psikologi

65.

Pernyataan yang paling tepat tentang relasi penolong–tertolong adalah …

a)

Relasi ketergantungan rohani

b)

Relasi pengajaran satu arah

c)

Relasi pelayanan yang etis dan memberdayakan

d)

Relasi pribadi tanpa batas

e)

Relasi kekuasaan yang sah