NEW
Font size
WorksheetsAnalisis Fitokimia
Total questions: 40
Worksheet time: 40mins
Tujuan utama skrining fitokimia dalam pengembangan obat bahan alam adalah untuk:
Menentukan dosis terapi
Mengetahui kandungan metabolit sekunder sebagai dasar isolasi
Menentukan stabilitas sediaan
Menentukan bioavailabilitas
Menilai toksisitas akut
Jika hasil skrining fitokimia negatif, kesimpulan yang PALING BENAR adalah:
Senyawa tidak ada
Simplisia tidak bermutu
Senyawa mungkin ada tetapi di bawah batas deteksi
Reagen rusak
Metode salah total
Pelarut yang paling sesuai untuk mengekstraksi senyawa polar adalah:
n-heksana
Kloroform
Etil asetat
Metanol
Petroleum eter
Fraksinasi bertingkat dalam penelitian fitokimia farmasi bertujuan untuk:
Menentukan kadar senyawa
Menghilangkan pelarut
Memisahkan senyawa berdasarkan kepolaran
Menentukan struktur molekul
Uji aktivitas biologis
Kandungan metabolit sekunder tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor berikut, KECUALI:
Umur tanaman
Bagian tanaman
Kondisi lingkungan
Metode ekstraksi
Berat molekul senyawa
Skrining fitokimia bersifat:
Kuantitatif
Kualitatif
Spektroskopik
Kromatografik
Farmakologis
Uji fitokimia yang paling sederhana dan cepat adalah:
HPLC
KLT
Spektrofotometri
Skrining reagen warna
NMR
Blanko dalam uji fitokimia berfungsi untuk:
Mengendapkan senyawa
Pembanding perubahan warna
Meningkatkan sensitivitas
Menurunkan pH
Mengoksidasi reagen
Flavonoid termasuk dalam kelompok besar:
Alkaloid
Terpenoid
Fenolik
Steroid
Saponin
Flavonoid digolongkan sebagai metabolit sekunder karena:
Beracun
Tidak diperlukan tanaman
Tidak langsung berperan dalam pertumbuhan
Bersifat volatil
Tidak stabil
Metabolit sekunder pada tanaman berfungsi utama sebagai:
Sumber energi
Penyusun dinding sel
Mekanisme pertahanan
Enzim metabolik
Hormon pertumbuhan
Tahap lanjutan setelah skrining fitokimia dalam penelitian farmasi bahan alam adalah:
Standarisasi sediaan
Isolasi, identifikasi, dan uji aktivitas
Uji klinik
Penetapan dosis
Registrasi obat
Hasil positif uji fitokimia harus dikonfirmasi lebih lanjut dengan metode:
Organoleptik
Kromatografi dan spektroskopi
Penimbangan
Penentuan pH
Uji kadar air
Perbedaan utama skrining fitokimia dan KLT adalah:
Biaya
Kecepatan
Tingkat spesifisitas
Jumlah sampel
Pelarut
Antosianin termasuk dalam kelompok besar senyawa:
Steroid
Terpenoid
Sianidin
Flavonoid
Alkaloid
Senyawa fenolik berperan penting dalam farmasi karena aktivitasnya sebagai:
Analgetik
Antibiotik
Antioksidan
Anestetik
Diuretik
Ciri struktur utama yang membedakan senyawa fenolik dari golongan metabolit sekunder lain adalah adanya:
Gugus karbonil
Gugus hidroksil terikat pada cincin aromatik
Gugus amina
Gugus eter alifatik
Gugus ester
Biosintesis utama senyawa fenolik pada tanaman berlangsung melalui suatu jalur yang disebut
Jalur asetat–malonat
Jalur mevalonat
Jalur sikimat
Jalur glikolisis
Jalur pentosa fosfat
Senyawa fenolik sering menunjukkan warna pada panjang gelombang UV karena:
Ikatan sigma
Adanya sistem terkonjugasi pada cincin aromatik
Adanya atom hidrogen bebas
Gugus hidroksil alifatik
Tidak memiliki ikatan rangkap
Struktur fenolik sederhana yang hanya terdiri dari satu cincin aromatik dan satu –OH disebut:
Polifenol
Tanin
Fenol sederhana
Flavonoid
Lignan
Senyawa fenolik dengan banyak gugus –OH pada cincin aromatik cenderung memiliki sifat:
Sangat lipofilik
Lebih polar dan mudah larut dalam air
Bersifat basa
Tidak reaktif
Tidak berwarna
Senyawa fenolik memiliki kelarutan:
Tidak larut dalam pelarut organik
Mudah larut dalam air pada semua kondisi pH
Larut dalam pelarut organik tertentu seperti etanol dan metanol
Hanya larut dalam pelarut nonpolar seperti n-heksana
Bersifat basa kuat
Uji FeCl3 tidak spesifik hanya untuk tanin karena juga dapat bereaksi dengan:
Alkaloid
Terpenoid
Senyawa fenolik non-tanin
Steroid
Saponin
Struktur dasar flavonoid sebagai senyawa fenolik ditandai oleh kerangka:
C6–C6
C6–C3
C6–C3–C6
C5–C5
C4–C1
Dalam identifikasi flavonoid secara fitokimia, ekstrak tanaman direaksikan dengan serbuk magnesium dan asam klorida pekat (Cyanidin test). Hasil positif yang menunjukkan adanya flavonoid ditandai oleh:
Terbentuknya endapan putih
Munculnya warna biru kehitaman
Terbentuknya buih stabil
Perubahan warna menjadi merah, kuning, atau orange
Terbentuknya endapan jingga
Alkaloid didefinisikan sebagai senyawa metabolit sekunder yang umumnya memiliki ciri struktur berupa:
Gugus hidroksil pada cincin aromatik
Atom nitrogen bersifat basa dalam struktur heterosiklik
Rantai karbon panjang alifatik
Gugus ester terkonjugasi
Gugus sulfur reaktif
Uji Dragendorff menghasilkan endapan jingga karena adanya:
Reaksi oksidasi alkaloid
Kompleks antara alkaloid dan ion bismut
Presipitasi flavonoid
Reaksi kondensasi fenol
Reduksi logam berat
Hasil positif uji alkaloid menggunakan pereaksi Mayer ditandai dengan terbentuknya:
Warna merah bata
Endapan putih kekuningan
Endapan coklat kemerahan
Warna hijau kebiruan
Buih stabil
Pereaksi Wagner bekerja berdasarkan pembentukan kompleks antara alkaloid dan iodium yang ditandai dengan:
Endapan putih
Warna ungu
Endapan merah kecoklatan
Endapan kuning cerah
Warna biru kehitaman
Uji Hager pada alkaloid memberikan hasil positif berupa:
Endapan jingga
Endapan kuning
Endapan putih
Warna merah muda
Warna hijau
Alkaloid yang memiliki inti struktur indol banyak ditemukan pada tanaman Catharanthus roseus. Golongan alkaloid tersebut adalah:
Alkaloid kuinolin
Alkaloid isoquinolin
Alkaloid indol
Alkaloid piridin
Alkaloid tropan
Biosintesis beberapa golongan alkaloid pada tanaman melibatkan jalur:
Asam asetat dan asam mevalonat
Asam sikimat dan asam malonat
Asam amino alifatik dan asam lemak
Glukosa dan fruktosa
Asam sitrat dan asam oksalat
Steroid dan terpenoid termasuk kelompok metabolit sekunder yang secara biosintetik berasal dari:
Jalur sikimat
Jalur asetat–malonat
Jalur mevalonat
Jalur pentosa fosfat
Jalur glikolisis
Ciri struktur utama terpenoid adalah tersusunnya kerangka karbon dari unit:
C2 (asetil)
C3 (propil)
C5 (isoprena)
C6 (benzena)
C10 (dekalin)
Struktur dasar steroid ditandai oleh keberadaan:
Satu cincin aromatik
Kerangka C6–C3–C6
Empat cincin berfusi (siklopentano–perhidrofenantren)
Dua cincin benzena
Rantai karbon lurus panjang
Steroid digolongkan sebagai turunan terpenoid karena:
Bersifat sangat polar
Memiliki unit isoprena sebagai penyusun awal
Mengandung atom nitrogen
Larut dalam air
Bersifat basa
Uji fitokimia yang umum digunakan untuk mendeteksi steroid dan triterpenoid adalah:
Uji Shinoda
Uji FeCl3
Uji Liebermann–Burchard
Uji Mayer
Uji Wagner
Senyawa steroid dan terpenoid banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi karena aktivitasnya sebagai:
Analgetik opioid
Antioksidan fenolik
Antiinflamasi, hormon, dan antimikroba
Antikoagulan
Antidiabetik oral
Pelarut yang PALING sesuai untuk mengekstraksi terpenoid nonpolar dari simplisia adalah:
Air
Metanol
Etanol 70%
n-heksana
Aseton
Senyawa terpenoid yang tersusun dari 6 unit isoprena sehingga memiliki jumlah atom karbon sebanyak 30 atom karbon (C30) digolongkan sebagai:
Monoterpen (C10)
Seskuiterpen (C15)
Diterpen (C20)
Triterpen (C30)
Tetraterpen (C40)
