Search Header Logo
HARI RAYA KARO

HARI RAYA KARO

Assessment

Presentation

Religious Studies

1st Grade

Hard

Created by

Misjono Jhon

Used 1+ times

FREE Resource

11 Slides • 0 Questions

1

HARI RAYA KARO

SUKU TENGGER KABUPATEN PROBOLINGGO

Oleh : Misjono

2

HONG ULUN BASUKILANGGENG

Latar Belakang

           Wilayah Tengger terdiri atas empat kabupaten yaitu Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang. Karena keempat kabupaten tersebut berada di puncak Pegunungan Tengger maka disebut Tengger. Penduduk Suku Tengger mendiami wilayah Gunung Bromo sudah sejak zaman dahulu, pada zaman pemerintahan Kerajaan Majapahit Para Ulun Hyang yaitu Suku Tengger yang selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi dibebaskan dari Pajak Titiloman yaitu pungutan pajak (Nancy, Tahun 1985). Kemudian datang penduduk baru dari Majapahit dan melepaskan atribut kebesarannya dan membaur dengan Suku Tengger. Hal ini orang Tengger belum mengenal agama, mereka menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme.

3

Suku Tengger dikenal dengan kekerabatannya yang begitu kental, selalu mengedepankan rasa kasih sayang, wujud kasih sayang yang begitu tinggi yang tua menyayangi yang muda, begitu pula yang muda juga menghormati yang tua. Ini bisa kita lihat dengan terciptanya kerukunan antar individu maupun kelompok di kawasan Tengger.

          Suku Tengger melaksanakan upacara tradisi secara turun temurun baik yang     dilaksanakan    secara     individu    maupun   secara    bersama-sama.

Tradisi Suku Tengger meliputi : Upacara Karo, Pujan Kapat, Kepitu, Kewolu, Kesanga, Kasadha, dan Unan-Unan.

4

Upacara Karo merupakan hari raya Suku Tengger yang dilaksanakan setahun sekali yang jatuh pada bulan kedua (Karo) menurut perhitungan Kalender Tengger. Upacara Karo sangat menarik karena Upacara tersebut hanya ada di Tengger dan masih dilaksanakan secara turun temurun  hingga sampai sekarang.

           Suku Tengger juga taat kepada pemimpin, dalam kepercayaan masyarakat Tengger dikenal dengan istilah Catur Guru. Catur artinya empat sedangkan Guru artinya pemimpin yang wajib ditaati. Bagian Catur Guru tersebut adalah Tuhan, Orang Tua, Guru yang memberi ilmu, dan Pemerintah. Namun yang paling menonjol di tengah masyarakat Tengger adalah dua figur yaitu pemimpin formal (Pemerintah) dan Non formal yaitu Dukun Pandita. Pemimpin formal mengatur dan menjalankan kebijaksanaan pemerintah.

5

Sedangkan pemimpin nonformal sebagai pemangku adat yang bertugas membimbing dan mengatur pelaksanaan upacara adat. Kedua pemimpin itu sangat dipatuhi oleh masyarakat Tengger. Karena beitu patuhnya terhadap pemimpin maka di Tengger sering dikenal dengan istilah Sabdo Pandito Ratu. Artinya semua perkataan, sikap dan perbuatan pemimpin berusaha untuk diteladani.

          Dari uraian di atas cukup kuat untuk dapat dijadikan bukti bahwa Suku Tengger telah menjalankan ajaran agama meskipun belum menganut agama.

Karena Suku Tengger sebelumnya sudah mempunyai salam sendiri yaitu Salam Hong Ulun Basuki Langgeng yang artinya Hong : Tuhan, Ulun : Saya,Abdi  Basuki : Makmur, selamat, dan Langgeng : Kekal abadi. Arti keseluruhan Semoga Tuhan tetap memberikan kemakmuran yang kekal abadi kepada kita. Salam tersebut dipergunakan pada awal dan akhir pertemuan secara resmi maupun secara adat.

6

Dalam kurun waktu yang begitu lama mereka akhirnya secara massal menganut agama Hindu hal ini terbukti dari peninggalan lontar dan Japa Mantra Dukun Pandita yang isinya menyebut nama-nama Dewata Nawa Sanga, serta sarana upacara adat yang menyajikan Air, Buah, Daun, Api dan Bunga, serta perlengkapan upacara berupa Gentha (Bajira Gentra Hindu), Prasen (Tempat air suci), Prapen (Padupan), dan Sampet (selendang Dukun Pandita berwarna Panca Warna). Sehingga sampai saat ini bagi orang awam keberadaan tersebut menimbulkan keunikan dan daya tarik tersendiri bagi pemerhati Suku Tengger. Lebih-lebih pada era saat ini dengan berbagai kajian dan pertimbangan Suku Tengger dengan Umat Hindu Tenggernya, maka adat dan budaya tentu membawa pengaruh terhadap pemahaman Agama Hindu.

7

Masyarakat Suku Tengger  melakukan rangkaian kegiatan Upacara Karo di awali dengan 1.Ngumpul;  sebelum menyambut hari raya Karo seluruh umat dikumpulkan perdesa  untuk memberitahudan menetukan tepatnya Upacara Karo, sehingga bisa dilaksanakan dengan tepat pada waktunya dan dirayakan secara bersamaan. 2.Mepek; mempunyai maksud bahwa dalam mempersiapkan Upacara Karo, masyarakat supaya sudah mencukupi (Mepeki Jawa) segala kebutuhan yang diperlukan dalam Upacara Karo, baik kebutuhan dalam keluarga maupun kebutuhan secara umu. 3.Tekane ping pitu; maksudnya untuk menyambut datangnya Leluhur atau para Pitara. 4.Prepegan;  Padawaktu prepegan ini seluruh ibu rumah tangga sudah mulai membuat makanan atau sesaji yang akan digunakan pada waktu Upacara Karo, sesaji tersebut meliputi ; Sajeng atau daun, Lemek atau tikar, Dilah yaitu lampu dari biji jarak, Ajang Malang (wadah sesaji), Sega yaitu Nasi, Asas-Isis yaitu Kinangan terdiri dari daun sirtih, pinang, air kapur, Bero yaitu biji buncis

8

  • ​direbus tanpa bumbu, Tempe, Lempo yaitu jenang jagung dimasak pakai bumbu, Iwak Babat ikan babat sapai, Iwak Ati yaitu ikan hati sapi, Takir Kawung yaitu wadah sesaji terbuat dari daun kelapa, Juwadah yaitu sesaji terbuat dari tepung jagung yang diberi parutan kelapa, Pasung yaitu apem yang bebentuk kerucut, Pipis semacam nagasari terbuat dari tepung jagung, Wajik , Tetelan, Ketan, Dodol, Pisang dan Klepon. 5.Tumpeng Bandhungan ; Pada acara ini  setiap ibu rumah tangga mengirimkan tumpeng ke balai desa, sebelum tumpeng ini dimakan terlebih dahulu dimantrai oleh Dukun Pandita, pembuatan tumpeng dilaksakan oleh dua ibu rumah tangga yang berdekatan yang satu membuat tumpengnya, yang       satu      membuat      kuenya       sehingga       disebut Bandhungan.

9

6.Tumpeng Ijen atau Tumpeng Gedhe; Pada acara ini setiap ibu rumah tangga mengirimkan tumpeng ke balai desa, sebelum tumpeng ini dimakan terlebih dahulu dimantrai oleh Dukun Pandita hanya pembuatannya oleh satu keluarga. 7.Upacara Tari Sodoran; Upacara Sodoran adalah rangkaian Upacara Karo kesenian Sodoran ini menggambarkan asal usul kehidupan manusia (Bhuwana Alit). Pada acara Tari sodoran ini pesertanya melibatkan Kepala Desa Jetak berserta perangkatnya, Kepala Desa Wonotoro, dan Kepala Desa Ngadisari, serta seluruh warga masyarakat baik laki maupun perempuan. 8.Sesanding; Upacara ini setiap rumah tangga menyiapkan perlengkapan yang ditujukan kepada Leluhur yaitu berupa tumpeng beserta sesaji lainnya serta dikunjungi oleh Dukun Pandita selaku orang suci yang bertugas menghantarkan mantra kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan memberikan penghormatan kepada leuhur atau para Pitara.

10

9.Nyadran; Upacara Nyekar atau tabur bunga yang dilaksanakan dikuburan sebagai ungkapan rasa syukur kepada leluhur.

10.Sedekah pangonan; sesaji yang diberikan kepada sarwa buta agar ia bahagia. 10.Mulihe Ping Pitu; yaitu upacara kembalinya roh leluhur ke Swarga Loka.

 

11

​Biasanya dilanjutkan dengan Kesenian Penutup Hari Raya Karo

dengan Tarian Ujung.

​ Semoga bermanfaat

LANGGENG BASUKI

HARI RAYA KARO

SUKU TENGGER KABUPATEN PROBOLINGGO

Oleh : Misjono

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 11

SLIDE