Search Header Logo
Bindo Lanjutan

Bindo Lanjutan

Assessment

Presentation

Social Studies

2nd Grade

Hard

Created by

Adriana Radja

FREE Resource

38 Slides • 0 Questions

1

Fonologi

Morfologi

Sintaksis​

2

​1. Fonologi

Fonemik yaitu kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi[r]. Dengan demikian kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Jadi fonetik adalah bagian dari studi linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, tanpa memperhatikan makna, yang tidak bersifat fungsional, kajian bunyi bahasa manapun. Sedangkan fonemik adalah bagian dari studi linguistik yang mempelajari bahasa tertentu yang memperhatikan perbedaan makna.

3

Fonem Vokal

Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi lidah dalam mulut, bentuk bibir, dan tingkat pembukaan mulut. Menurut Uhlenback (1981;27), vokal bahasa jawa hanya terdiri atas enam vokal, yaitu /i/, /e/, /a/, /ə/, /u/ dan /o/. Bunyi [a] dan [Ɔ]merupakan dua bunyi yang mampu membedakan makna sehingga tidak tepat jika kadua bunyi tersebut dianggap sebagai alofon fonem /a/. Fonem /Ɔ/ dan fonem /o/ merupakan dua fonem yang berbeda, karena kedua bunyi tersebut dalam bahasa jawa termasuk bunyi yang distingtif. Bunyi [e], [ɛ] dan [ə] mampu membedakan makna sehingga tidak tepat dikatakan sebagai alofon fonem /e/, /e/, /ɛ/ dan /ə/ termasuk bunyi distingtif. Bunyi [i] dan [u] mampu membedakan makana sehingga kedua bunyi itu dianggap sebagai dua buah fonem yang berbeda.

4

Fonem Konsonan​

Konsonan merupakan bunyi yang timbul akibat udara yang keluar dari paru-paru melalui rongga mulut atau rongga hidung. Udara yang keluar melalui rongga hidung akan manghasilkan bunyi sengau atau bunyi nasal seperti [m], [n], [ɲ], dan [ɳ], sedangkan udara yang keluar melalui rongga mulut akan mengalami hambatan, geseran, dan sentuhan lidah atau bibir sesuai dengan daerah artikulasinya. Daerah artikulasi meliputi velar (langit-langit lunak), alveolar (gusi), bilabial (bibir) , dental (gigi), dan labiodental (bibir bawah dan gigi atas), sedangkan artikulasi meliputi hambat, frikatif, nasal, getar, lateral (samping/sisi lidah), dan semi vokal.

5

​ Vokal

​ Kriteria

​ Contoh kata

[i]

Vokal depan, tinggi (atas), tak bundar, tertutup.

<ini>;[i-ni], <ibu>;[i-bu], <cari>;[ca-ri], <lari>;[la-ri]

[ I ]

Vokal depan, tinggi (bawah), tak bundar, tertutup.

<pinggir>;[ping-gir], <adik>;[a-di?]

[u]

Vokal belakang, tinggi (atas), bundar, tertutup.

<udara>;[u-da-ra], <utara>;[u-ta-ra]

[U]

Vokal belakang, tinggi (bawah), bundar, tertutup.

<ukur>;[u-kur], <urus>;[u-rus], <turun>;[tu-run]

[e]

Vokal depan, sedang (atas), tak bundar, semi tertutup.

<ekor> ; [e-kor]

[ɛ]

Vokal depan, sedang (bawah), tak bundar, semi terbuka.

<nenek>;[ne-nɛ?], <dendeng> ; [dɛn-dɛŋ]

[ə]

Vokal tengah, sedang, tak bundar, semi tertutup.

<elang>;[ə-laŋ], <emas>;[ə-mas]

[o]

Vokal belakang, sedang (atas), bundar, semi tertutup.

<toko>;[to-ko]

[ɔ]

Vokal belakang, sedang (bawah), bundar, semi terbuka.

<tokoh>;[to-kɔh]

[a]

Vokal belakang, rendah, netral, terbuka

<cari> ; [ca-ri]

6

​ Konsonan

​ Kriteria

​ Contoh Kata

[b]

Bunyi bilabial, hambat, bersuara

< baru, abu >

[p]

Bunyi bilabial, hambat, tak bersuara

< pita, apa, tetap >

[m]

Bunyi bilabial, nasal, bersuara

< mana, lama, malam >

[w]

Bunyi bilabial, semi vokal, bersuara

< warna, waktu, awan >

[v]

Bunyi labiodental, geseran, bersuara

< veteran, devisa >

[f]

Bunyi labiodental, geseran, tak bersuara

< fajar, nafas, taraf >

[d]

Bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara

< datang > ; [da-taŋ]

[t]

Bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara

< peta > ; [pə-ta]

[n]

Bunyi apikoalveolar, nasal, bersuara

< nama, ini, saran >

[l]

Bunyi apikoalveolar, sampingan, bersuara

< lama, pula, asal >

[r]

Bunyi apikoalveolar, getar, bersuara

< segar > ; [sə-gar]

[z]

Bunyi laminoalveolar, geseran, bersuara

< lezat > ; [lə-zat]

7

​ Konsonan

​ Kriteria

​ Contoh Kata

[ñ]

Bunyi laminopalatal, nasal, bersuara

< nyaring > ; [ña-riŋ]

[ ǰ ]

Bunyi laminopalatal, paduan, bersuara

< jurang > ; [ju-raŋ]

[č]

Bunyi laminopalatal, paduan, tak bersuara

< cara, baca >

[š]

Bunyi laminopalatal, geseran, bersuara

< syarat >

[s]

Bunyi laminopalatal, geseran, tak bersuara

< sama, nasi >

[g]

Bunyi dorsovelar, hambat, bersuara

< gaya, tiga >

[k]

Bunyi dorsovelar, hambat, tak bersuara

< kaca, saku >

[ŋ]

Bunyi dorsovelar, nasal, bersuara

< langit > ; [la-ŋit]

[x]

Bunyi dorsovelar, geseran, bersuara

< khidmat, akhirat >

[h]

Bunyi laringal, geseran, bersuara

< hemat, bahan, indah >

[Ɂ]

Bunyi hambat, glotal, bersuara

< bak, pak, rakyat >

[ baɂ, paɂ, raɂ-yat ]

8

​Diftong

Diftong adalah bunyi vokal angkap yang tergolong menjadi satu suku kata. Ciri diftong ialah waktu diucakannya bunyi bahasa posisi lidah yang satu dengan yang lain saling berbeda. Perbedaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya (jarak lidah dengan langit-langit) Berdasarkan perbedaanya itulah maka diftong diklasifikasikan menjadi diftong naik dan diftong turun dan diftong memusat. 1. Diftong Naik Diftong naik adalah vokal yang kedua diucapkan dengan posisi lidah lebih tinggi dari yang pertama. Posisi lidah semakin menaik sehingga strikturnya semakin tertutup. Berdasarkan posisi di atas diftong naik disebut juga sebagai diftong tertutup. Bahasa Indonesia mempunyai tiga jenis diftong naik: a. Diftong naik menutup maju (al) misalnya dalam kata : pakai, lalai, nilai, sampai, pandal dll. b. Diftong naik menutup maju (oi) misalnya pada kata : amboi, angin sepoi-sepoi dll. c. Diftong naik menutup mundur (au) misalnya pada kata : saudara, saudagar, pulau, kacau, surau, dll.

9

​ 2. Diftong Turun Disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari bunyi kedua. Dalam bahasa Indonesia tidak ada diftong turun. Dalam bahaa Inggris ada dua jenis diftong turun, yaitu: a. Diftong turun membuka-memusat (uә), misalnya dalam kata poor. b. Diftong turun membuka-memusat (iә), misalnya dalam kata ear.

3. Diftong memusat Yaitu terjadi jika vocal kedua diacu oleh sebuah atau lebih volak yang lebih tingggi, dan juga diacu oleh sebuah atau lebih vocal yang lebih rendah. Diftong jenis ini terdapat di dalam bahasa Inggris, seperti [oα] contohnya kata [more] yang secara fonetis diucapkan dengan [moα]

10

​Kluster

Bunyi kluster/ konsonan rangkap(dua atau lebih) merupakan bagian dari struktur fonetis atau fonotaktis yang disadari oleh penuturnya.Oleh karena itu,pengucapan pun harus sesuai dengan struktur fonetis tersebut.Sebab,kalau salah pengucapan akan berdampak pada pembedaan makna. Kluster dalam bahasa Indonesia sebagai akibat pengaruh stuktur fonetis unsur serapan. Namun,pada umumnya kluster bahasa indonesia seputar kombinasi berikut:

1. Jika Kluster terdiri atas dua kontoid,yang berlaku adalah: a. Kontoid pertama hanyalah sekitar [p],[b],[k] b. Kontoid kedua hanyalah sekitar [l],[r],[w] Contoh: [p] pada [pleonasme], [gr] pada [grafik’], [b] pada [gamblan], [fr] pada [frustasi],[k] pada [klinik], [sr] pada [pasrah].

2. Jika kluster terdiri atas tiga kontoid,yang berlaku adalah: a. Kontoid pertama selalu[s] b. Kontoid kedua[t] atau[p] c. Kontoid ketiga [r] atau[l] Contoh: [str] pada [strategi] [spr] pada [sprinter] [skr] pada [skripsi] [skl] pada [sklerosis]

11

2. Morfologi

Morfem merupakan satuan terkecil di dalam bahasa yang mempunyai pengertian dalam satu ujaran. Seperti halnya yang dikatakan oleh Hocket, morfem merupakan unsur terkecil yang secara individual memiliki pengertian dalam satu ujaran suatu bahasa. Kemudian, seperti apa bentuk morfem itu? Bentuk dari morfem sendiri bisa berupa imbuhan kata, misalnya aja: ber-, di-, juang. Menurut Keraf, morfem dibedakan menjadi dua, yaitu: Morfem bebas yang bisa langsung membentuk sebuah kalimat ataupun morfem yang bisa berdiri sendiri. Morfem terikat yang tidak bisa langsung membina sebuah kalimat, namun selalu terikat dengan morfem lainnya. Kata merupakan sebuah morfem juga, atau lebih tepatnya adalah morfem bebas, karena kata bisa berdiri sendiri tanpa adanya morfem lain. Sedangkan afiks atau imbuhan di- dan ber- adalah morfem terikat, karena keduanya harus digabungkan dengan morfem lainnya.

12

​Nana sudah mandi

Shafa sedang duduk di teras

Anak kecil itu makan sepotong kue

Ketiga morfem tersebut bisa dikelompokkan sebagai morfem bebas. Pada dasarnya, semua kata dasar atau kata monomorfemis bisa digolongkan sebagai morfem bebas. Sementara itu, morfem terikat merupakan morfem yang tidak bisa berdiri sendiri. Itu artinya, morfem tersebut harus bergabung dan juga terikat dengan morfem lainnya untuk membentuk sebuah kata utuh. Berikut ini adalah beberapa contohnya, antara lain:

Di dalam kata bersembahyang, morfem terikat {ber-} digabung dengan satu morfem bebas yaitu {sembahyang}.

Di dalam sebuah kata ketidakhadiran, morfem terikat {ke-/-an} bergabung dengan dua morfem bebas, yaitu morfem {tidak} dan {hadir}.

Morfem terikat {ber-} bisa bergabung dengan morfem terikat {juang} untuk membentuk sebuah kata berjuang.

13

Kata

Kata merupakan sebuah bentuk bebas yang paling kecil. Akan tetapi, morfem mungkin saja termasuk ke dalam keseluruhan kata ataupun merupakan bagian dari suatu kata. Jadi, bisa dikatakan juga bahwa kemungkinan besar, sebenarnya morfem adalah satuan kata yang paling kecil. Untuk perbedaan yang paling mendasar dari morfem dan juga kata adalah kata bisa berdiri sendiri dan bisa membentuk suatu makna bebas. Sebagai satuan gramatik, kata sendiri terdiri satu ataupun beberapa morfem. Suatu kata bisa berupa bentuk tunggal ataupun terdiri dari satu satuan gramatikal dan bisa juga berupa bentuk kompleks atau terdiri dari beberapa satuan gramatikal. Dalam artian lain, bentuk kompleks tersebut dibangun oleh satuan gramatikal yang lebih kecil.

14

​Kelas Kata

  1. Kata benda (nomina) adalah kata-kata yang merujuk pada bentuk suatu benda. Bentuk benda dapat bersifat abstrak ataupun konkret.

  2. Kata Kerja (Verba) Kata kerja atau verba adalah jenis kata yang menyatakan suatu perbuatan.

  3. Kata Sifat (Adjektiva) Kata sifat adalah kelompok kata yang mampu menjelaskan atau mengubah kata benda atau kata ganti menjadi lebih spesifik. Selain itu, kata sifat mampu menerangkan kuantitas dan kualitas dari kelompok kelas kata benda atau kata ganti.

  4. Kata Ganti (Pronomina) Kelompok kata ini dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan.

  5. Kata Keterangan (Adverbia) Kata keterangan adalah jenis kata yang memberikan keterangan pada kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan, bahkan mampu memberikan keterangan pada seluruh kalimat.

15

  1. Kata Bilangan (Numeralia) Kata bilangan adalah jenis kelompok kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, dan urutan sesuatu yang dibendakan.

  2. Kata Tugas Kata tugas merupakan kata yang memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Dari segi bentuk umumnya, kata-kata tugas sukar mengalami perubahan bentuk, seperti kata dengan, telah, dan, tetapi. Namun, ada sebagian yang dapat mengalami perubahan golongan kata, tetapi jumlahnya sangat terbatas, seperti kata tidak dan kata sudah. Meskipun demikian, kedua kata tersebut dapat mengalami perubahan menjadi menidakkan dan menyudahkan.

16

Afiksasi​

  1. Prefiks merupakan afiks yang telah ditambahkan di awal bentuk dasar, seperti misalnya me- yang ada pada kata menghibur. Prefiks ini bisa muncul bersama dengan sufiks ataupun afiks lainnya. Misalnya saja, prefiks ber- bersama dengan sufiks -kan pada kata berdasarkan.

  2. Infiks: merupakan afika yang ditambahkan di tengah bentuk dasar. Dalam Bahasa Indonesia, infiks -el- yang ada pada kata telunjuk dan -er- yang ada pada kata seruling.

  3. Sufiks: merupakan sebuah afiks yang ditambahkan pada posisi akhir bentuk dasar. Misalnya saja, dalam Bahasa Indonesia, sufiks -an yang ada pada kata bagian dan sufiks -kan yang ada pada kata bagaikan.

17

  1. Konfiks: merupakan afiks yang berbentuk morfem terbagi, yang mana pada bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan yang bagian kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Di dalam Bahasa Indonesia, terdapat konfiks per-/-an seperti yang ada pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an seperti pada kata keterangan, dan konfiks ber-/-an seperti pada kata berciuman.

  2. Sirkumfiks: merupakan gabungan dari afiks yang bukan konfiks, seperti ber-/-an pada kata beraturan yang mempunyai makna “memiliki aturan”.

18

Reduplikasi

Menurut Ramlan proses reduplikasi ataupun pengulangan merupakan pengulangan satuan gramatik, baik itu keseluruhannya ataupun sebagian, baim itu dengan variasi fonem ataupun tidak. Hasil dari pengulangan tersebut disebut dengan kata ulang yang mana termasuk ke dalam kata majemuk. Sementara satuan yang diulang adalah bentuk dasar. Ada beberapa jenis reduplikasi, antara lain:

  1. Pengulangan seluruh yaitu pengulangan untuk seluruh bentuk dasar, tanpa adanya perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses oembubuhan afiks, misal ya: sepeda menjadi sepeda-sepeda, pohon menjadi pohon-pohon, dan lain sebagainya.

  2. Pengulangan sebagian yaitu pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Hampir seluruh bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks, misalnya: mengambil menjadi mengambil-ambil, berjalan menjadi berjalan-jalan, dan lain sebagainya.

19

  1. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, di dalam jenis ini bentuk dasar yang diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Itu artinya, pengulangan itu terjadi secara bersamaan dengan proses pembubuhan afiks dan bersamaan juga dengan mendukung suatu fungsi, misalnya: kereta yang menjadi kereta-keretaan, pohon menjadi pohon-pohonan.

  2. Pengulangan dengan adanya perubahan fonem, misalnya: bolak-balik yang terbentuk dari kata dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/.

    Komposisi (Kata Majemuk)

    Komposisi ataupun kata majemuk merupakan sebuah kata yang mempunyai makna baru yang tidak termasuk gabungan makna unsur-unsurnya. Kata majemuk ini dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kata majemuk setara dan kata majemuk tidak setara.

20

Kata Majemuk Setara

Kata majemuk setara biasanya disebut juga dengan kata majemuk kumulatif atau kata majemuk gabungan, yaitu kata majemuk yang bagiannya sederajat. Kata majemuk setara ini dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

  1. Bagiannya terdiri dari wakil-wakil dari keseluruhan yang dimaksud, misalnya saja: kaki tangan, orang tua, tikar bantal, dan lain sebagainya.

  1. Bagiannya terdiri dari kata yang berlawanan, misalnya saja: tua muda, besar kecil, dan tinggi rendah.

  2. Bagiannya terdiri dari kata-kata yang memiliki makna hampir sama, misalnya: panjang lebar, susah payah, hancur lebur, dan lainnya.

21

​Kata Majemuk Tak Setara

Kata majemuk tidak setara biasanya disebut juga dengan majemuk determinatif, yaitu kata majemuk yang tidak memiliki inti, umumnya kata majemuk ini terdiri dari:

  1. Kata majemuk yang memiliki susunan DM (diterangkan menerangkan), misalnya saja: raja muda, rumah obat, orang tua.

  2. Kata majemuk yang memiliki susunan MD (menerangkan diterangkan), misalnya saja: purbakala, bumiputera, maharaja.

22

​3. Sintaksis

Sintaksis adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji seluk-beluk tata bahasa dalam satuan ujaran. Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Ramlan (2009, hlm. 1) yang mengungkapkan bahwa sintaksis adalah bagian atau cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Dari kacamata linguistik, sebetulnya sintaksis memiliki kesamaan kajian dan analisis dengan morfologi. Sintaksis dan morfologi merupakan tata bahasa. Bedanya, morfologi mengkaji hubungan gramatikal di dalam kata itu sendiri, sedangkan sintaksis mempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata dalam satuan kalimat.

23

Frasa

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003, hlm. 222). Mudahnya, frasa adalah gabungan kata yang tidak memiliki predikat (P). Agar lebih jelas, perhatikan contoh-contoh berikut.​

Satuan ayam hitam saya adalah frasa karena tidak ada keterlibatan predikat di dalamnya. Ayam hitam menjadi gabungan kata yang seakan menjadi satu. Sementara itu, ayam saya hitam memberikan keterkaitan predikatif antar keduanya, yakni: ayam saya (berwarna) hitam.​

​ Frasa

​ NonFrasa

bayi sehat

ayam hitam saya

bayi ibu sehat

ayam saya hitam

24

Klausa

Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut:

  1. Klausa kalimat majemuk setara Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut. 11 - Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur. Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain bermain catur.

    Keduanya tidak saling menerangkan.

25

  1. Klausa kalimat majemuk bertingkat Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut. - Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia. Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).

  2. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini. - Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu. Dia pindah ke Jakarta (klausa utama) Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan) Ibunya kawin lagi (klausa sematan) Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat). Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)

26

Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut:

1satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal 12 mengandung satu subjek dan prediket, (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).

27

Fungsi Sintaksis dalam Kalimat

Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.

(1) Subjek

Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut:

(a) jawaban apa atau siapa,

(b) dapat didahului oleh kata bahwa,

(c) berupa kata atau frasa benda (nomina)

28

​(d) dapat diserta kata ini atau itu,

(e) dapat disertai pewatas yang,

(f) tidak didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain, (g) tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata bukan.

Hubungan subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini. Adik bermain.

S P

Ibu memasak.

S P

(2) Predikat

Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek. Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

29

​- Adik bermain.

S P

Adik adalah pokok kalimat bermain adalah yang menjelaskan pokok kalimat. Ibu memasak.

S P

Ibu adalah pokok kalimat memasak adalah yang menjelaskan pokok kalimat.

30

​Predikat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

(a) bagian kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,

(b) dalam kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,

(c) predikat umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,

(d) dalam kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,

(e) predikat merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,

(f) predikat dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok kalimat) atau bagaimana (pokok kalimat).

31

3. Objek

Objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh di bawah ini.

- Dosen menerangkan materi.

S P O

menerangkan adalah verba transitif.

- Ibu menyuapi adik.

S P O

Menyuapi adalah verba transitif.

Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

(a) berupa nomina atau frasa nominal seperti contoh berikut,

- Ayah membaca koran.

S P O

32

​Koran adalah nomina.

- Adik memakai tas baru.

S P O

Tas baru adalah frasa nominal

(b) berada langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif) seperti contoh berikut,

- Ibu memarahi kakak.

S P O

- Guru membacakan pengumuman.

S P O

(c) dapat diganti enklitik –nya, ku atau –mu, seperti contoh berikut,

- Kepala sekolah mengundang wali murid.

S P O

- Kepala sekolah mengundangnya.

S P O

33

​d) objek dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan, seperti contoh berikut,

- Ani membaca buku.

S P O

- Buku dibaca Ani.

S P Pel.

(4) Pelengkap

Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.

- Bu Minah berdagang sayur di pasar pagi.

S P pel. ket.

- Bu Minah menjual sayur di pasar pagi.

S P O ket.

34

​Pelengkap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

(a) kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter-, seperti contoh berikut.

- Bu Minah berjualan sayur di pasar pagi.

S P Pel. Ket.

- Buku dibaca Ani.

S P Pel.

(b) pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat seperti contoh berikut.

- Ayah membelikan adik mainan.

S P O Pel.

membelikan adalah verba dwitransitif.

(c) pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi, seperti contoh berikut

35

​-Budi menjadi siswa teladan.

S P Pel.

- Kemerdekaan adalah hak semua bangsa.

S P Pel.

(d) dalam kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di belakang objek, seperti pada contoh berikut.

- Pak Ali berdagang buku bekas.

S P Pel.

- Ibu membelikan Rani jilbab.

S P O Pel.

(e) pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, seperti contoh berikut.

- Ibu memanggil adik.

S P O

36

​-Ibu memanggilnya.

S P O

- Pak Samad berdagang rempah.

S P Pel.

Pak Samad berdagangnya (?)

(f) satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif seperti contoh berikut.

- Pancasila merupakan dasar negara.

S P Pel.

Dasar negara dirupakan pancasila (?)

(5) Keterangan Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.

37

-​Ibu membeli kue di pasar.

S P O Ket. Tempat

- Ayah menonton TV tadi pagi.

S P O Ket. waktu

Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

(a) umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat, seperti contoh berikut.

- Saya membeli buku.

S P O

- Saya membeli buku di Gramedia.

S P O Ket. Tempat

(b) keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat, seperti contoh berikut.

- Dia membuka bungkusan itu dengan hati-hati.

S P O Ket. Cara

38

​- Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu.

Ket. cara S P O

(c) keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat, seperti contoh berikut.

- Rifi datang kemarin.

S P Ket. Waktu

- Ibu berangkat kemarin sore.

S P Ket. waktu

Fonologi

Morfologi

Sintaksis​

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 38

SLIDE