

KIMIA PAS Ganjil XI IPA
Presentation
•
Chemistry
•
11th Grade
•
Hard
Kacuk Sudarmono
FREE Resource
84 Slides • 0 Questions
1
SMA/MA Kelas XI Semester 1
Kimia
Disusun oleh:
1. Erna Tri Wulandari
2. Annik Qurniawati
3. Risha Rahmawati
Disklaime
r
Daftar isi
2
BAB
Senyawa Hidrokarbon
I
A. Definisi Senyawa Hidrokarbon
B. Alkana, Alkena, dan Alkuna
C. Reaksi-Reaksi pada Senyawa
Hidrokarbon
D. Kegunaan Senyawa
Hidrokarbon dan Karbon
Tiner tersusun atas senyawa-senyawa hidrokarbon
Kembali ke daftar isi
3
1
2
3
4
5
6
Sejarah Perkembangan Senyawa Organik
Identifikasi Unsur Karbon, Hidrogen, dan Oksigen
dalam Senyawa Organik
Sumber Senyawa Organik atau Senyawa Karbon
Kekhasan Atom Karbon dalam Membentuk Senyawa
Hidrokarbon
Posisi Atom Karbon
Penggolongan Senyawa Hidrokarbon
A. Definisi Senyawa Hidrokarbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
4
Pada 1827, Friedrich Wohler mampu
membuat senyawa organik dari
senyawa anorganik sesuai reaksi
berikut.
Urea diperoleh dari pemanasan
amonium sianat.
1. Sejarah Perkembangan Senyawa Organik
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
5
Perbedaan Senyawa
Organik dan Anorganik
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
6
air menjadi
keruh →
adanya gas CO2
ada titik-titik
air → adanya
gas H2
O,
mengubah
warna kertas
koblat
2. Identifikasi Unsur Karbon, Hidrogen, dan Oksigen
dalam Senyawa Organik
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
7
•
Tumbuhan dan Hewan
https://bit.ly/2XbwUQB
•
Batu Bara
https://bit.ly/2J9eEUP
•
Gas Alam dan Minyak Bumi
https://thegorbalsla.com/minyak-bumi/
3. Sumber Senyawa Organik atau Senyawa Karbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
8
Dapat membentuk empat ikatan kovalen tunggal dengan
atom lain.
Dapat berikatan dengan sesama atom karbon membentuk
rantai yang bervariasi.
4. Kekhasan Atom Karbon dalam Membentuk
Senyawa Hidrokarbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
9
5. Posisi Atom Karbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
10
a. Berdasarkan jenis ikatan
b. Berdasarkan bentuk rantai karbon
hidrokarbon alifatik hidrokarbon siklik
6. Penggolongan Senyawa Hidrokarbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
11
Alkana
(Cn
H
2n+2
)
Alkuna
(Cn
H
2n−2
)
Alkena
(Cn
H
2n
)
B. Alkana, Alkena, dan Alkuna
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
12
alkana
a. Tata Nama Alkana
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
13
Isomer kerangka
Isomer kerangka adalah senyawa yang mempunyai rumus molekul
sama, tetapi kerangka rantai karbonnya berbeda.
Isomer n -pentana antara lain 2-metilbutana dan 2,2-dimetilpropana.
b. Isomer Alkana
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
14
1)
2)
Sifat Kimia
Sukar bereaksi dengan
zat pengoksidasi atau
pereduksi.
Dapat bereaksi dengan
oksigen melalui reaksi
pembakaran.
1)
2)
3)
4)
Sifat fisika
Tidak larut dalam air.
Makin besar Mr, titik leleh
dan titik didihnya makin
tinggi.
Dalam jumlah atom C
sama, semakin banyak
jumlah cabang semakin
rendah titik didihnya.
C1
−C
4
berwujud gas,
C5
−C
17
berwujud cair, dan
C18
ke atas berwujud padat.
c. Sifat-Sifat Alkana
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
15
1)
2)
3)
4)
5)
Mereaksikan aluminium karbida dengan air.
Al4
C
3
(s) + 12H
2
O(l)→ 3CH
4
(g) + 4Al(OH)
3
(aq)
Mereaksikan alkena dengan gas hidrogen.
Cn
H
2n
(g) + H
2
(g)→ C
n
H
2n+2
Sintesis Wurtz.
2CH3
Cl(aq) + Na(s)→ CH
3
−CH
3
(g) + 2NaCl(aq)
Sintesis Grignard.
C2
H
5
MgI(aq) + H
2
O(l)→ CH
3
−CH
3
(g) + MgOHI(aq)
Sintesis Dumas.
d. Pembuatan Alkana
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
16
Pelumas
Alkana rantai
panjang digunakan
sebagai oli.
Bahan bakar
Alkana menyusun
elpiji, bensin,
solar dan avtur.
Bahan Baku
Industri
Alkana
digunakan sebagai
bahan baku
industri plastik, pupuk,
dan detergen.
e. Kegunaan Alkana
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
17
Aturan penamaan alkena sama dengan
penamaan alkana, hanya akhiran -ana
diganti dengan
-ena
.
alkena
a. Tata Nama Alkena
Jika alkena mengandung dua ikatan rangkap dua, senyawa alkena diberi nama
dengan akhiran -diena. Jika mengandung tiga ikatan rangkap dua dinamakan -
triena, dan seterusnya.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
18
1) Isomer posisi
3) Isomer geometri/ruang (cis -trans )
2) Isomer kerangka
b. Isomer Alkena
Senyawa alkena yang mempunyai rumus
molekul sama, tetapi letak ikatan rangkap
dua berbeda.
Senyawa alkena yang gugus-
gugus alkil atau atom yang
sama pada atom C ikatan
rangkap terletak pada sisi
yang sama.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
19
1)
2)
3)
4)
Sifat Kimia
Dapat bereaksi dengan
oksigen.
Lebih reaktif daripada alkana.
Dapat mengalami reaksi
polimerisasi.
Dapat dioksidasi dengan
KMnO4
menghasilkan
senyawa glikol.
1)
2)
3)
Sifat fisika
Tidak larut dalam air.
Semakin besar Mr, titik leleh
dan titik didihnya semakin
tinggi.
Pada suhu kamar, tiga suku
pertama alkena (C2
– C
4
)
berwujud gas, alkena dengan
jumlah atom C
5
– C
17
berwujud cair, sedangkan
alkena dengan jumlah atom >
C
17
berwujud padat.
c. Sifat-Sifat Alkena
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
20
1)
2)
3)
4)
Pemanasan alkana pada suhu 500 oC dengan katalis Cr2
O
3
atau
Al
2
O
3
.
Mereaksikan monohaloalkana dengan KOH dalam alkohol.
Memanaskan alkohol dengan H2
SO
4
pekat pada suhu 170–180oC.
Eliminasi alkana.
d. Pembuatan Alkena
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
21
e. Kegunaan Alkena
Bahan polimer
karena mampu
mengalami reaksi
polimerisasi.
Etilen glikol untuk
menurunkan
titik didih radiator
kendaraan dan
bahan baku pembuatan
kain tetoron.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
22
Aturan penamaan alkuna sama dengan penamaan alkana, hanya
akhiran -ana diganti dengan -una .
alkuna
a. Tata Nama Alkuna
2-propuna
2-butuna
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
23
1-pentuna dan 2-pentuna merupakan isomer posisi
b. Isomer Alkuna
Jenis keisomeran alkuna adalah isomer posisi dan isomer
kerangka. Alkuna tidak memiliki isomer geometri.
1-pentuna dan 3-metil-1-butuna merupakan isomer kerangka
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
24
Sifat Kimia
Alkuna mudah mengalami reaksi
pemutusan ikatan rangkap tiga
menjadi ikatan rangkap dua, lalu
menjadi ikatan tunggal. Reaksi ini
dinamakan reaksi adisi.
1)
2)
3)
4)
Sifat fisika
Alkuna rantai pendek
berwujud gas, alkuna
rantai panjang berwujud
cair dan padat.
Kerapatannya kecil.
Tidak larut dalam air.
Titik didih alkuna lebih
tinggi daripada alkena
dengan jumlah atom
karbon sama.
c. Sifat-Sifat Alkuna
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
25
Alkuna dibuat dengan
memanaskan campuran
dihaloalkana dengan KOH.
d. Pembuatan Alkuna
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
26
Bahan bakar
dalam proses
pengelasan
Bahan bakar
dalam proses
pengelasan
Gas Etuna
Bahan
pematangan buah
e. Kegunaan Alkuna
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
27
3. Reaksi Substitusi
1. Reaksi Adisi
2. Reaksi Eliminasi
4. Reaksi Oksidasi
C. Reaksi-Reaksi
pada Senyawa
Hidrokarbon
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
28
1. Reaksi Adisi
Reaksi adisi merupakan reaksi pembukaan ikatan rangkap karena mengikat
atom atau gugus atom.
Contoh reaksi alkena dengan HCl sebagai berikut.
Reaksi adisi juga dapat terjadi pada alkuna.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
29
a. Reaksi Dehidrohalogenasi
b. Reaksi Dehidrasi
c. Reaksi Dehidrogenasi
2. Reaksi Eliminasi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
30
3. Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi adalah reaksi penggantian atom atau gugus atom yang diikat.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
31
4. Reaksi Oksidasi
Reaksi oksidasi merupakan reaksi senyawa karbon dengan oksigen yang
berupa reaksi pembakaran.
Reaksi pembakaran dapat berupa reaksi pembakaran sempurna dan reaksi
pembakaran tidak sempurna.
CO2
H2
O
CO
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
32
D. Kegunaan
Senyawa
Hidrokarbon
dan Karbon
1. Bidang Pangan
3. Bidang Papan
4. Bidang Seni
dan Estetika
2. Bidang Sandang
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
33
a.
Karbohidrat
https://tandapagar.
com/
sumber-karbohidrat/
b. Protein
c. Lemak
https://bit.ly/2JBlQZj
https://bit.ly/309abXh
1. Bidang Pangan
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
34
https://bit.ly/2XOzSuS
b. Sutra
c. Rayon
https://bit.ly/2KNpFLn
a. Kapas
https://bit.ly/2KkZe0f
2. Bidang Sandang
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
35
https://bit.ly/2WBQaX8
b. Kayu
c. Karet Alam
http://bahanpengawet.
com/2017/05/1465/
a. Plastik
https://bit.ly/2VYiWUT
3. Bidang Papan
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
36
a.Tiner
b. Lilin
https://pixabay.com/id/photos/lilin-ulang-tahun-
hitam-putih-71089/
4. Bidang Seni
dan Estetika
https://bit.ly/2JLMcZj
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
37
BAB
Minyak Bumi
II
A. Minyak Bumi dan
Gas Alam
B. Bensin dan Dampak
Pembakaran Bahan
Bakar
Malam batik memanfaatkan salah satu hasil pengolahan
minyak bumi
Kembali ke daftar isi
38
1
2
3
Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam
Komposisi Minyak Bumi
Pengolahan Minyak Bumi
A. Minyak Bumi dan Gas Alam
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
39
1. Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
40
Secara umum, komponen minyak bumi terdiri atas lima
unsur kimia yaitu 83–87% karbon; 10–14% hidrogen; 0,
05–6% belerang; 0,05–1,5% oksigen; 0,1–2% nitrogen;
dan < 0,1% unsur-unsur logam.
2. Komposisi Minyak Bumi
Berdasarkan komponen terbanyak, minyak bumi
dibedakan menjadi tiga golongan yaitu parafin, naftalena,
dan campuran parafin-naftalena.
Komposisi senyawa hidrokarbon dalam minyak
bumi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
41
Tahapan pengolahan minyak
mentah sebagai berikut.
a. Desalting
Desalting adalah proses
penghilangan kotoran atau
garam yang terdapat dalam
minyak mentah.
b. Distilasi bertingkat
Distilasi adalah proses
pemisahan komponen-
komponen minyak mentah
berdasarkan perbedaan titik
didih.
3. Pengolahan Minyak Bumi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
42
Bagan distilasi bertingkat pada proses pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
43
Tabel Fraksi-Fraksi Hasil Pengolahan Minyak Bumi dan Kegunaannya
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
44
1. Bensin
(gasolin)
2. Kualitas Bensin
3. Dampak Pembakaran
Bahan Bakar
B. Bensin dan Dampak Pembakaran Bahan Bakar
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
45
Bensin merupakan campuran isomer-isomer heptana
(C7
H
16
) dan oktana (C
8
H
18
).
Bensin yang diperoleh dari proses distilasi bertingkat
jumlahnya relatif sedikit.
1. Bensin (Gasolin)
Bensin juga
diperoleh dari
proses kertakan
(cracking
) dan
perengkahan
termal.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
46
• Kualitas bensin ditentukan berdasarkan bilangan oktan
atau angka oktan.
2. Kualitas Bensin
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
47
• Semakin tinggi bilangan oktan, semakin bagus
kualitas bensin.
Bilangan oktan bensin dapat ditingkatkan dengan beberapa
cara berikut.
a. Memperbanyak kadar isooktana dalam bensin.
b. Menambahkan zat aditif ke dalam bensin, seperti etanol
pada proses blending .
c. Perengkahan termal yang menghasilkan heksena.
d. Meningkatkan kualitas bensin dengan metode reforming .
e. Polimerisasi.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
48
3. Dampak Pembakaran Bahan Bakar
Hasil
pembakaran
bahan bakar
gas CO
gas CO2
gas NOx
gas SOx
Hidro-
karbon
(HC)
Timbal
membentuk
asam nitrat
↓
hujan asam
membentuk
asam sulfat
↓
hujan asam
karboksi-
hemoglobin
logam berat
→ berbahaya
iritasi mata
dan
gangguan
saluran
pernapasan
efek rumah
kaca
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
49
BAB
B. Perubahan Entalpi
Standar (ΔH °)
Termokimia
III
A. Perubahan Kalor
Reaksi Kimia
C. Penentuan
Perubahan Entalpi
Reaksi
Kompres instan coldpack merupakan penerapan
sekaligus pemanfaatan reaksi termokimia dalam
kehidupan sehari-hari.
Kembali ke daftar isi
50
A. Perubahan Kalor Reaksi Kimia
1. Interaksi Sistem
dan Lingkungan
2. Entalpi (H) dan
Perubahan
Entalpi(ΔH )
3. Reaksi Eksoterm
dan Endoterm
4. Persamaan
Termokimia
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
51
1. Interaksi Sistem dan Lingkungan
a.Sistem terbuka
b.Sistem tertutup
c.Sistem terisolasi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
52
2. Entalpi (H) dan Perubahan Entalpi (ΔH )
Entalpi (H ) adalah energi kalor yang dilepaskan atau diserap oleh
sistem pada tekanan tetap.
Besarnya entalpi sukar diukur, hanya
perubahan entalpi (ΔH ) yang dapat
ditentukan nilainya.
ΔH = ΔHakhir – ΔH
awal
Perubahan entalpi bergantung pada
keadaan awal dan keadaan akhir sistem.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
53
Jenis Reaksi Termokimia
reaksi eksoterm
reaksi endoterm
3. Reaksi Eksoterm dan Endoterm
contoh: reaksi pembakaran metanol
contoh: proses fotosintesis
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
54
1. Terjadi perpindahan kalor
dari sistem ke lingkungan.
2. ΔHhasil reaksi < ΔH
pereaksi
3. ΔH < 0 (negatif)
4. T2> T
1
Contoh: fermentasi glukosa
1. Terjadi perpindahan kalor
dari lingkungan ke sistem.
2. ΔHhasil reaksi > ΔH
pereaksi
3. ΔH > 0 (positif)
4. T2< T
1
Contoh: pelarutan urea dalam
air
Reaksi Eksoterm
Reaksi Endoterm
Reaksi Kimia
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
55
4. Persamaan Termokimia
a.
b.
a.
Persamaan termokimia adalah persamaan reaksi kimia yang penulisannya
disertai dengan perubahan entalpi (ΔH ) reaksi.
Persamaan termokimia ditulis dengan menyertakan perubahan entalpi (ΔH )
dan fase senyawa atau unsur yang terlibat dalam reaksi kimia, seperti gas
(g), padat (
s), cairan murni (l), dan larutan (
aq
).
Apabila arah reaksi kimia dibalik, besar perubahan entalpinya (ΔH ) sama,
tetapi tandanya berubah.
Apabila koefisien-koefisien reaksi kimia dikalikan dengan faktor pengali a ,
nilai perubahan entalpi juga dikalikan dengan faktor pengali tersebut.
C2
H
2
(g) + 2½O
2
(g)→ 2CO
2
(g) + H
2
O(g) ΔH = –142 kJ
2CO2
(g) + H
2
O(g)→ C
2
H
2
(g) + 2½O
2
(g) ΔH = +142 kJ
2C2
H
2
(g) + 5O
2
(g)→ 4CO
2
(g) + 2H
2
O(g) ΔH = –284 kJ
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
56
Perubahan Entalpi
Pembakaran Standar ( )
c
H
B. Perubahan Entalpi Standar (ΔH° )
Perubahan Entalpi
Pembentukan Standar ( )
contoh:
½N2
(g) + 3/2H
2
(g)→ NH
3
(g)
= –46,1 kJ mol–1
Perubahan Entalpi
Penguraian Standar ( )
d
H
contoh:
NaCl(s )→ Na(s ) + ½Cl2
(g)
= +176,6 kJ mol–1
d
H
Perubahan Entalpi
Netralisasi Standar ( )
n
H
contoh:
NaOH(aq ) + HCl(aq )
→ NaCl(aq ) + H2
O(l)
= –890,4 kJ mol–1
n
H
contoh:
Mg(s ) + ½O2
(g)→ MgO(s)
= –601,7 kJ mol–1
c
H
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
f
H
f
H
57
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
Perubahan Entalpi
Sublimasi Standar ( )
sub
H
contoh:
H2
O(s)→ H
2
O(g)
= –50,01 kJ mol–1
sub
H
Perubahan Entalpi
Pelarutan Standar ( )
sol
H
contoh:
NaOH(s )→ Na+(aq ) + OH−(aq )
= –6,01 kJ mol–1
sol
H
Perubahan Entalpi
Peleburan Standar ( )
fus
H
contoh:
H2
O(s)→ H
2
O(l)
= –6,01 kJ mol–1
fus
H
Perubahan Entalpi
Penguapan Standar ( )
vap
H
contoh:
H2
O(l)→ H
2
O(g)
= +44 kJ mol–1
vap
H
B. Perubahan Entalpi Standar (ΔH° )
58
Perhatikan reaksi pembentukan air berikut!
Tentukan perubahan entalpi reaksi penguraian 1 mol H2
O!
contoh soal
Penyelesaian
Persamaan tersebut menunjukkan reaksi pembentukan 2 mol air. Reaksi
penguraian merupakan kebalikan dari reaksi pembentukan.
Jadi, reaksi penguraian H2
O ditulis sebagai berikut.
Reaksi penguraian 2 mol air memerlukan kalor sebesar 472 kJ. Reaksi
penguraian1 mol air
Dengan demikian, penguraian 1 mol air memerlukan kalor sebesar 236
kJ.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
59
C. Penentuan Perubahan
Entalpi Reaksi (ΔH )
1
Menggunakan Kalorimeter
2
Berdasarkan Data Perubahan Entalpi
Pembentukan Standar (ΔH f°)
Berdasarkan Hukum Hess
3
4
Berdasarkan Energi Ikatan
5
Perubahan Entalpi (ΔH ) Pembakaran Bahan Bakar
C. Penentuan Perubahan Entalpi Reaksi (ΔH )
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
60
Perubahan entalpi reaksi dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan berikut.
ΔH = –(qlarutan
+ q
kalorimeter)
Oleh karena qkalorimeter terlalu kecil → diabaikan)
atau
keterangan:
ΔH = perubahan entalpic = kalor jenis (J g-1oC-1)
q = jumlah kalor (joule)
C = kapasitas kalor (J oC-1)
m = massa zat (g)
ΔT = perubahan suhu (oC)
1. Menggunakan
Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat untuk
mengukur perubahan kalor
dalam suatu reaksi kimia.
kalorimeter bomb
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
61
Penyelesaian soal termokimia berkaitan dengan kalorimeter
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
contoh soal
62
2. Berdasarkan
Data Perubahan
Entalpi Pembentukan
Standar (ΔHf°)
Perubahan entalpi dihitung dengan cara menentukan
selisih entalpi pembentukan standar antara produk
dengan pereaksi (reaktan).
ΔHf°
senyawa
pada
suhu
25ºΔC
dan
tekanan
1 atm.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
63
Perhatikan data entalpi pembentukan standar (ΔHf°) beberapa senyawa
sebagai berikut.
Jika diketahui ΔH pembakaran gas C4H
8 = –a kJ mol–1, tentukan entalpi
pembentukan standar dari gas C4H
8!
contoh soal
Penyelesaian
Persamaan termokimia pembakaran C4
H
8
sebagai berikut.
C4
H
8
(g) + 6O
2
(g)→ 4CO
2
(g) + 4H
2
O(g) Δ
H = a kJ mol–1
ΔH = ΔHf°
produk
– ΔH
f°
pereaksi
ΔH = (4 × ΔHf°CO
2
(g) + 4 × ΔH
f°H
2
O(g)) – (ΔH
f°C
4
H
8
(g) + 6 ×ΔH
f°O
2
(g))
–a = {(4 × b ) + (4 × c )} – (ΔH f°C4
H
8
+ 6 × 0))
–a = 4b + 4c – ΔHf°C
4
H
8
ΔHf°C
4
H
8
= 4b + 4c + a
Jadi, ΔHf°C
4
H
8
= (a + 4b + 4c) kJ mol–1
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
64
3. Berdasarkan
Hukum Hess
Beberapa reaksi kimia berlangsung melalui
beberapa tahap.
Setiap tahap menurut Germain Henry Hess,
perubahan entalpi keseluruhan reaksi adalah
jumlah perubahan entalpi dari setiap tahap reaksi.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
65
contoh soal
Penyelesaian soal termokimia berkaitan dengan hukum Hess
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
66
4. Berdasarkan
Energi Ikatan
Perubahan entalpi (ΔH ) dapat ditentukan dari selisih
energi ikatan rata-rata antara pereaksi dengan
produk.
energi
ikatan
energi
atomisasi
energi
disosiasi
energi ikatan
rata-rata
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
67
contoh soal
Diketahui energi ikatan rata-rata sebagai berikut.
DC – C
= 348 kJ mol–1
DC = C
= 614 kJ mol–1
DH – H
= 436 kJ mol–1
Hitunglah energi ikatan (C – H) menurut reaksi:
C2
H
6
(g)→ C
2
H
4
(g) + H
2
(g)Δ
H = +124 kJ mol–1
Penyelesaian
ΔH = ΣD(Energi pemutusan ikatan pereaksi)– ΣD
(Energi penggabungan produk)
ΔH = (6DC − H
+ D
C – C
) – (4D
C − H
+ D
C = C
+ D
H – H
)
ΔH = (2DC – H
+ D
C – C
) – (D
C = C
+ D
H – H
)
124 kJ mol–1 = (2DC – H
+ 348 kJ mol–1) – (614 kJ mol–1 + 436 kJ mol–1)
(124 kJ mol–1 + 1.050 kJ mol–1 = (2DC – H
) + 348 kJ mol–1
2DC – H
= 826 kJ mol–1
DC – H
= 413 kJ mol–1
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
68
5. Perubahan
Entalpi (ΔH )
Pembakaran
Bahan Bakar
Pembakaran merupakan reaksi eksoterm karena
menghasilkan kalor.
Reaksi pembakaran sempurna
C8
H
18
(g) + 12½O
2
(g)→ 8CO
2
(g) + 9H
2
O(g) ΔH = –5.460 kJ mol–1
Bahan bakar menghasilkan kalor yang berbeda-beda
sesuai dengan kandungan senyawa di dalamnya.
Reaksi pembakaran
Reaksi pembakaran sempurna
C8
H
18
(g) + 12½O
2
(g)→ 8CO
2
(g) + 9H
2
O(g) ΔH = –5.460 kJ mol–1
Kalor pembakaran dapat dihitung dari data energi
ikatan rata-rata senyawa-senyawa yang menyusun
bahan bakar.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
69
Energi ikatan rata-rata sebagai berikut.
DC – C
= 348 kJ mol–1
DC – H
= 413 kJ mol–1
DO = O
= 495 kJ mol–1
DC = O
= 799 kJ mol–1
DO – H
= 463 kJ mol–1
•Bensin
Kalor pembakaran 1 liter bensin dengan bilangan oktan 90 (diasumsikan sebagai
perbandingan isooktana dan n -heptana). Massa jenis bensin = 0,7 g cm–3 dan
reaksi pembakaran bensin terjadi secara sempurna dalam fase gas.
Kalor Pembakaran Bahan Bakar: Bensin dan Elpiji
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
70
•Kalor Pembakaran isooktana dan n -heptana dalam bensin
Jadi, kalor pembakaran sempurna 1 liter bensin
= (–27.984,56 kJ) + (–3.117,1 kJ) = –31.101,66 kJ.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
71
•Elpiji
Tabung elpiji berisi berat bersih 3 kg gas elpiji. Gas elpiji dianggap terdiri atas 60%
propana dan 40% butana. Pembakaran elpiji dianggap sebagai pembakaran
sempurna.
Jadi, kalor pembakaran sempurna 3 kg elpiji
= (–82.740,7 kJ) + (–77.014,35) kJ = –86.423,4 kJ.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
72
BAB
A. Kemolaran dan
Pengertian Laju Reaksi
B. Teori Tumbukan dan
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi
Laju Reaksi
Laju Reaksi
IV
Roti mengembang karena adanya ragi (yeast ) yang
merupakan biokatalis.
Kembali ke daftar isi
73
A. Kemolaran
dan
Pengertian
Laju Reaksi
1. Kemolaran
(M )
2. Pengertian
Laju Reaksi
(v )
3. Persamaan
Laju Reaksi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
74
Keterangan:
M = molaritas (mol L-1)
n = mol (mol)
V = volume (L)
1. Kemolaran (M )
Cepat lambatnya reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya
konsentrasi zat yang bereaksi.
Kemolaran larutan yang dibuat
dari padatan (kristal) murni yang
dilarutkan ke dalam pelarut.
Keterangan:
m = massa zat terlarut (gram)
Mr = massa molekul relatif
zat terlarut (gram mol-1)
V = volume larutan (mL)
Konsentrasi biasa dinyatakan
dalam molaritas.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
75
Kemolaran (M)
Kemolaran larutan dengan konsentrasi tertentu dari larutan pekatnya,
dihitung dengan rumus pengenceran
Kemolaran larutan jika hanya diketahui kadar dan massa jenisnya
dihitung menggunakan rumus berikut
Keterangan:
M1
= molaritas larutan mula-mula (mol L–1)
V1
= volume larutan mula-mula (mL)
M2
= molaritas larutan akhir (mol L–1)
V2
= volume larutan akhir (mL)
Keterangan:
M = molaritas (mol L–1)
ρ = massa jenis (mol mL–1)
% massa = kadar zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
Molaritas campuran larutan dihitung menggunakan rumus berikut.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
76
Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan
atau produk setiap satuan waktu.
Jika diketahui persamaan reaksi:
P + Q → PQ
Maka:
d
d
C
v
t
2. Pengertian Laju Reaksi (v )
Keterangan:
v = laju reaksi (M s-1)
d[C] = perubahan konsentrasi (M)
dt = perubahan waktu (s)
grafik perubahan konsentrasi pereaksi dan produk
terhadap waktu
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
77
Jika diketahui persamaan reaksi :
aA + bB → cC + dD
Laju reaksinya dapat dirumuskan:
n
m B
A
k
v
3. Persamaan Laju Reaksi
Laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan yang ditentukan
berdasarkan konsentrasi awal setiap zat, dipangkatkan orde reaksinya.
Keterangan:
v = laju reaksi (M s-1)
m = orde reaksi terhadap zat A
k = tetapan laju reaksi
n = orde reaksi terhadap B
[A ] = konsentrasi zat A (mol L-1) m + n = order reaksi total
[B ] = konsetrasi zat B (mol L-1)
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
78
CONTOH SOAL
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
79
B. Teori Tumbukan
dan Faktor-Faktor
yang Memengaruhi
Laju Reaksi
Tumbukan
Reaksi kimia dapat
berlangsung apabila
terjadi tumbukan
antarmolekul.
Makin banyak jumlah materi,
tumbukan antarmateri makin sering
terjadi
Zat baru dapat dihasilkan dari tumbukan yang berlangsung
sempurna. Tumbukan sempurna dinamakan tumbukan
efektif
Tumbukan yang menghasilkan reaksi adalah tumbukan yang
antarpartikelnya mempunyai energi lebih besar daripada energi pengaktifan.
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
80
1. Faktor-Faktor yang
Memengaruhi
Laju Reaksi
B. Teori Tumbukan
dan Faktor-Faktor
yang Memengaruhi
Laju Reaksi
2. Peranan Katalis dalam
Makhluk Hidup
dan Industri
3. Penafsiran Grafik
Faktor-Faktor
yang Memengaruhi
Laju Reaksi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
81
Konsentrasi
Luas
Permukaan
Suhu
Katalis
Makin besar konsentrasi
makin banyak jumlah partikel
pereaksi tumbukan efektif
makin banyak terjadi reaksi
berlangsung makin cepat
Luas permukaan zat makin
besar singgungan
antarpereaksi makin
besar tumbukan efektif
makin banyak laju reaksi
meningkat
Suhu dinaikkan energi kinetik
pereaksi bertambah gerakan
makin acak dan cepat
tumbukan efektif makin
banyak terjadi reaksi
berlangsung makin cepat
Katalis dapat
mempercepat laju
reaksi tanpa ikut
bereaksi, yaitu
dengan menurun-
kan energi
pengaktifan.
1. Faktor-Faktor
yang Memengaruhi
Laju Reaksi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
82
Enzim amilase dalam
air liur yang memecah
amilum menjadi
maltosa
Dalam industri pembuatan
asam sulfat digunakan
katalis vanadium pentaoksida
2. Peranan Katalis
dalam Makhluk Hidup
dan Industri
Pada pembuatan margarin
dari minyak kelapa digunakan
katalis nikel.
Pembuatan asam nitrat melalui
proses Ostwald digunakan katalis
platinum-rodium
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
83
3. Penafsiran Grafik
Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Laju
Reaksi
Grafik pengaruh
konsentrasi
terhadap laju
reaksi
Grafik pengaruh
konsentrasi
terhadap laju
reaksi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
84
3. Penafsiran Grafik
Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Laju
Reaksi
Grafik pengaruh
suhu terhadap
laju reaksi
Grafik
pengaruh
katalis
terhadap laju
reaksi
Kembali ke daftar isi
Kembali ke awal bab
SMA/MA Kelas XI Semester 1
Kimia
Disusun oleh:
1. Erna Tri Wulandari
2. Annik Qurniawati
3. Risha Rahmawati
Disklaime
r
Daftar isi
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 84
SLIDE
Similar Resources on Wayground
73 questions
Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Lesson
•
10th Grade
79 questions
LATIHAN SOAL ASTS XI INFORMATIKA
Lesson
•
11th Grade
81 questions
LKPD Interaktif Ikatan Kovalen_Widyaa
Lesson
•
11th Grade
77 questions
TEKS ANEKDOT
Lesson
•
10th Grade
79 questions
T4 BAB 7 PROSES DAN KESAN LULUH HAWA
Lesson
•
12th Grade
82 questions
PSAS X BI
Lesson
•
10th Grade
84 questions
masa orde baru
Lesson
•
12th Grade
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
10 questions
Probability Practice
Quiz
•
4th Grade
15 questions
Probability on Number LIne
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
6 questions
Appropriate Chromebook Usage
Lesson
•
7th Grade
10 questions
Greek Bases tele and phon
Quiz
•
6th - 8th Grade
Discover more resources for Chemistry
20 questions
Predicting Products
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Types of Chemical Reactions
Quiz
•
9th - 12th Grade
10 questions
Identifying types of reactions
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Naming Covalent Compounds
Quiz
•
11th Grade
10 questions
Mole to Mole Stoichiometry
Quiz
•
10th - 12th Grade
10 questions
Mass to Mole Stoichiometry
Quiz
•
10th - 12th Grade
20 questions
Balancing Equations Practice
Quiz
•
10th - 12th Grade
20 questions
Periodic Table & Trends
Quiz
•
9th - 12th Grade