Search Header Logo
perencanaan pembelajaran dan asesmen

perencanaan pembelajaran dan asesmen

Assessment

Presentation

Other

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Iis Marliani

Used 2+ times

FREE Resource

13 Slides • 0 Questions

1

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

10

3Perencanaan Pembelajaran
dan Asesmen

Pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran
(CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan.
Namun demikian, CP tidak cukup konkret untuk
memandu kegiatan pembelajaran sehari-
hari. CP perlu diurai menjadi tujuan-tujuan

pembelajaran yang lebih operasional dan
konkret, yang dicapai satu persatu oleh peserta
didik hingga mereka mencapai akhir fase. Proses
berpikir dalam merencanakan pembelajaran
ditunjukkan dalam Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 3.1. Proses Perancangan Kegiatan Pembelajaran

Pendidik dapat (1) mengembangkan
sepenuhnya alur tujuan pembelajaran
dan/atau perencanaan pembelajaran, (2)
mengembangkan alur tujuan pembelajaran
dan/atau rencana pembelajaran berdasarkan
contoh-contoh yang disediakan pemerintah,
atau (3) menggunakan contoh yang disediakan.
Pendidik menentukan pilihan tersebut
berdasarkan kemampuan masing-masing.
Dalam Platform Merdeka Mengajar,

pemerintah menyediakan contoh-contoh alur
tujuan pembelajaran, rencana pelaksanaan
pembelajaran atau yang sering dikenal sebagai
RPP, dan modul ajar. Dengan kata lain, setiap
pendidik perlu menggunakan alur tujuan
pembelajaran dan rencana pembelajaran
untuk memandu mereka mengajar; akan tetapi
mereka tidak harus mengembangkannya
sendiri.

Ringkasan Bab

Memahami Capaian Pembelajaran (CP)

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen

Memahami
Capaian

Pembelajaran

Merumuskan
tujuan
pembelajaran

Menyusun alur
tujuan pembelajaran
dari tujuan

pembelajaran

Merancang

pembelajaran

2

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

11

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

Proses perancangan kegiatan pembelajaran
dalam panduan ini dibuat dengan asumsi
bahwa pendidik akan mengembangkan alur
tujuan pembelajaran dan rencana pembelajaran
secara mandiri, tidak menggunakan contoh
yang disediakan pemerintah. Oleh karena

itu, apabila pendidik menggunakan contoh,
proses ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Dengan kata lain, proses dalam Gambar 2 tidak
harus dilakukan secara lengkap oleh seluruh
pendidik.

A. Memahami Capaian Pembelajaran (CP)

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan
kompetensi pembelajaran yang harus dicapai
peserta didik pada setiap fase, dimulai dari fase
fondasi pada PAUD. Jika dianalogikan dengan
sebuah perjalanan berkendara, CP memberikan
tujuan umum dan ketersediaan waktu yang
tersedia untuk mencapai tujuan tersebut
(fase). Untuk mencapai garis finish, pemerintah
membuatnya ke dalam enam etape yang
disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun.

Berikut ini adalah beberapa contoh
pemanfaatan fase-fase Capaian Pembelajaran
dalam perencanaan pembelajaran:

Pembelajaran yang fleksibel. Ada kalanya
proses belajar berjalan lebih lambat
pada suatu periode (misalnya, ketika
pembelajaran di masa pandemi COVID-19)
sehingga dibutuhkan waktu lebih
panjang untuk mempelajari suatu konsep.
Ketika harus “menggeser” waktu untuk
mengajarkan materi-materi pelajaran yang
sudah dirancang, pendidik memiliki waktu
lebih panjang untuk mengaturnya.

Pembelajaran yang sesuai dengan
kesiapan peserta didik. Fase belajar
seorang peserta didik menunjukkan

kompetensinya, sementara kelas
menunjukkan kelompok (cohort)
berdasarkan usianya. Dengan demikian,
ada kemungkinan peserta didik berada
di kelas III SD, namun belajar materi
pelajaran untuk Fase A (yang umumnya
untuk kelas I dan II) karena ia belum
tuntas mempelajarinya. Hal ini berkaitan
dengan mekanisme kenaikan kelas yang
disampaikan dalam Bab VII (Mekanisme
Kenaikan Kelas dan Kelulusan).

Pengembangan rencana pembelajaran
yang kolaboratif. Satu fase biasanya
lintas kelas, misalnya CP Fase D yang
berlaku untuk Kelas VII, VIII, dan IX.
Saat merencanakan pembelajaran di
awal tahun ajaran, guru kelas VIII perlu
berkolaborasi dengan guru kelas VII untuk
mendapatkan informasi tentang sampai
mana proses belajar sudah ditempuh
peserta didik di kelas VII. Selanjutnya ia
juga perlu berkolaborasi dengan guru kelas
IX untuk menyampaikan bahwa rencana
pembelajaran kelas VIII akan berakhir di
suatu topik atau materi tertentu, sehingga
guru kelas IX dapat merencanakan
pembelajaran berdasarkan informasi
tersebut.

3

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

12

Untuk Pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran. Tabel 3.1
memperlihatkan pembagian fase.

Tabel 3.1. Pembagian Fase

Fase

Kelas/Jenjang pada Umumnya

Fondasi

PAUD

A

Kelas I-II SD/MI

B

Kelas III-IV SD/MI

C

Kelas V-VI SD/MI

D

Kelas VII-IX SMP/MTs

E

Kelas X SMA/SMK/MA/MAK

F

Kelas XI-XII SMA/MA/MAK
Kelas XI-XII SMK Program 3 tahun
Kelas XI-XII SMK program 4 tahun

Ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang kekhasan CP sebelum memahami isi dari capaian
untuk setiap mata pelajaran.

• Dalam CP, kompetensi yang ingin dicapai
ditulis dalam paragraf yang memadukan
antara pengetahuan, keterampilan, dan
sikap atau disposisi untuk belajar. Sementara
karakter dan kompetensi umum yang ingin
dikembangkan dinyatakan dalam profil
pelajar Pancasila secara terpisah. Dengan
dirangkaikan sebagai paragraf, ilmu

pengetahuan yang dipelajari peserta didik
menjadi suatu rangkaian yang berkaitan.

• CP dirancang dengan banyak merujuk
kepada teori belajar Konstruktivisme
dan pengembangan kurikulum dengan
pendekatan “Understanding by Design
(UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins
& Tighe (2005). Dalam kerangka teori ini,

Catatan untuk Pengawas/Penilik:

Pengawas/penilik dapat mendiskusikan
dan mendukung proses belajar pendidik
untuk mengembangkan perencanaan
pembelajaran. Pada saat berdiskusi dengan
pendidik, pengawas/penilik perlu fokus pada
bagaimana proses perencanaan dilakukan,
misalnya:

• Apakah guru berkolaborasi lintas kelas
sebagaimana yang dicontohkan di atas?

• Apakah perencanaan di suatu kelas
memperhatikan topik atau konsep yang
sudah dikuasai peserta didik di kelas
sebelumnya?

• Apakah pendidik memperhatikan
perkembangan peserta didik ketika
merencanakan pembelajaran?

• Apakah perencanaan pembelajaran
memperhatikan perkembangan peserta
didik dan kesinambungan proses
pembelajaran antar kelas?

4

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

13

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

“memahami” merupakan kemampuan yang
dibangun melalui proses dan pengalaman
belajar yang memberikan kesempatan
kepada mereka untuk dapat menjelaskan,
menginterpretasi dan mengaplikasikan
informasi, menggunakan berbagai perspektif,
dan berempati atas suatu fenomena. Dengan
demikian, pemahaman bukanlah suatu
proses kognitif yang sederhana atau proses
berpikir tingkat rendah.

• Memang apabila merujuk pada Taksonomi
Bloom, pemahaman dianggap sebagai
proses berpikir tahap yang rendah (C2).
Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom
sebenarnya digunakan untuk perancangan
pembelajaran dan asesmen kelas yang
lebih operasional, bukan untuk CP yang
lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom
lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/
menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran
yang lebih konkret.

• Naskah CP terdiri atas rasional, tujuan,
karakteristik, dan capaian per fase. Rasional
menjelaskan alasan pentingnya mempelajari
mata pelajaran tersebut serta kaitannya
dengan profil pelajar Pancasila. Tujuan
menjelaskan kemampuan atau kompetensi
yang dituju setelah peserta didik mempelajari
mata pelajaran tersebut secara keseluruhan.
Karakteristik menjelaskan apa yang
dipelajari dalam mata pelajaran tersebut,
elemen-elemen atau domain (strands)
yang membentuk mata pelajaran dan
berkembang dari fase ke fase. Capaian per
fase disampaikan dalam dua bentuk,

yaitu secara keseluruhan dan capaian per fase
untuk setiap elemen. Oleh karena itu, penting
untuk pendidik mempelajari CP untuk mata
pelajarannya secara menyeluruh.

Memahami CP adalah langkah pertama yang
sangat penting. Setiap pendidik perlu familiar
dengan apa yang perlu mereka ajarkan, terlepas
dari apakah mereka akan mengembangkan
kurikulum, alur tujuan pembelajaran, atau
silabusnya sendiri atau tidak. Beberapa contoh
pertanyaan reflektif yang dapat digunakan
untuk memandu guru dalam memahami CP,
antara lain:

• Kompetensi apa saja yang perlu dimiliki
peserta didik untuk sampai di capaian
pembelajaran akhir fase?

• Kata-kata kunci apa yang penting dalam CP?

• Apakah ada hal-hal yang sulit saya pahami?

• Apakah capaian yang ditargetkan sudah
biasa saya ajarkan?

Selain untuk mengenal lebih mendalam mata
pelajaran yang diajarkan, memahami CP juga
dapat memantik ide-ide pengembangan
rancangan pembelajaran. Berikut ini adalah
beberapa pertanyaan yang dapat digunakan
untuk memantik ide:

• Bagaimana capaian dalam fase ini akan
dicapai anak didik?

• Materi apa saja yang akan dipelajari dan
seberapa luas serta mendalam?

• Proses belajar seperti apa yang akan
ditempuh peserta didik?

Catatan untuk pimpinan satuan pendidikan:
Berdasarkan umpan balik yang diterima Kemendikbudristek, sebagian pendidik masih
mengalami kesulitan untuk memahami CP secara utuh. Oleh karena itu, pendidik dapat
dianjurkan untuk berpartisipasi dalam komunitas di mana mereka dapat mengembangkan
profesionalisme mereka dan belajar lebih jauh tentang CP dan peran mereka untuk
memfasilitasi peserta didik mencapai CP.

5

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

14

Berikut ini adalah beberapa catatan penting tentang CP untuk jenis/jenjang:

Pada PAUD, CP bertujuan untuk
memberikan arah yang sesuai dengan
usia perkembangan pada semua aspek
perkembangan anak sehingga kompetensi
pembelajaran yang diharapkan dicapai
anak pada akhir PAUD dapat dipahami
dengan jelas agar anak siap mengikuti
jenjang pendidikan selanjutnya. Lingkup
CP di PAUD dikembangkan dari tiga
elemen stimulasi yang saling terintegrasi
dan merupakan elaborasi dari aspek-
aspek perkembangan anak, yaitu nilai
agama dan moral, fisik motorik, kognitif,
sosial emosional, bahasa; dan nilai
Pancasila; serta bidang-bidang lain untuk
mengoptimalkan tumbuh kembang anak
sesuai dengan kebutuhan pendidikan
Abad 21 di Indonesia. Tiga elemen
stimulasi yang dimaksud, yaitu: 1) Nilai
Agama dan Budi Pekerti; 2) Jati Diri; dan
3) Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains,
Teknologi, Rekayasa, dan Seni; diharapkan
dapat mengeksplorasi aspek-aspek
perkembangan anak secara utuh dan tidak
terpisah.

Sementara itu, pada SMK terdapat
beberapa kekhasan. Pendidik dapat
melakukan analisis CP mata pelajaran
kejuruan SMK bersama dengan mitra dunia
kerja.Pada jenjang SMK terdapat program
empat tahun sebagaimana tercantum
dalam daftar konsentrasi keahlian yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Pada
program empat tahun pembelajaran
diselenggarakan hingga kelas XIII mata
pelajaran yang diajarkan pada kelas XIII
adalah: Matematika, Bahasa Inggris,
dan Praktik Kerja Lapangan. Capaian
pembelajaran fase F berlaku pada pada

mata pelajaran yang diajarkan hingga kelas
XIII.

Pada Pendidikan Kesetaraan, penyusunan
alur tujuan pembelajaran memperhatikan
alokasi waktu didasarkan pada pemetaan
Satuan Kredit Kompetensi (SKK) yang
ditetapkan oleh satuan pendidikan
dengan bentuk pembelajaran tatap
muka, tutorial, mandiri ataupun
kombinasi secara proporsional dari
ketiganya. Capaian pembelajaran pada
mata pelajaran kelompok umum, mata
pelajaran pemberdayaan, dan mata
pelajaran keterampilan mengacu pada
capaian pembelajaran yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Satuan pendidikan dapat
mengembangkan capaian pembelajaran
pada mata pelajaran keterampilan sesuai
dengan kebutuhan belajar peserta didik,
lingkungan belajar dan satuan pendidikan.

Pada Pendidikan Khusus, pembagian fase
didasarkan pada usia mental peserta didik.
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus
dengan hambatan intelektual, dapat
menggunakan CP pendidikan khusus. CP
pada peserta didik berkebutuhan khusus
dengan hambatan intelektual dapat
dilakukan lintas fase dan lintas elemen,
sesuai dengan kondisi, kemampuan,
hambatan dan kebutuhan. Sementara
peserta didik berkebutuhan khusus tanpa
hambatan intelektual menggunakan
CP reguler dengan menerapkan prinsip
modifikasi kurikulum. Di bawah ini adalah
rumusan fase capaian pembelajaran pada
Pendidikan Khusus.

6

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

15

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

B. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Setelah memahami CP, pendidik mulai
mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus
dipelajari peserta didik dalam suatu fase.
Pada tahap ini, pendidik mulai mengolah ide
tersebut, menggunakan kata-kata kunci yang
telah dikumpulkannya pada tahap sebelumnya,
untuk merumuskan tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran yang dikembangkan ini
perlu dicapai peserta didik dalam satu atau
lebih jam pelajaran, hingga akhirnya pada
penghujung Fase mereka dapat mencapai
CP. Oleh karena itu, untuk CP dalam satu fase,
pendidik perlu mengembangkan beberapa
tujuan pembelajaran.

Dalam tahap merumuskan tujuan pembelajaran
ini, pendidik belum mengurutkan tujuan-
tujuan tersebut, cukup merancang tujuan-
tujuan belajar yang lebih operasional dan
konkret saja terlebih dahulu. Urutan-urutan
tujuan pembelajaran akan disusun pada tahap
berikutnya. Dengan demikian, pendidik dapat
melakukan proses pengembangan rencana
pembelajaran langkah demi langkah.

Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya
memuat 2 komponen utama, yaitu:

1. Kompetensi, yaitu kemampuan atau
keterampilan yang perlu ditunjukkan/
didemonstrasikan oleh peserta didik.
Pertanyaan panduan yang dapat
digunakan pendidik, antara lain: secara
konkret, kemampuan apa yang perlu
peserta didik tunjukkan? Tahap berpikir
apa yang perlu peserta didik tunjukkan?

2. Lingkup materi, yaitu konten dan konsep
utama yang perlu dipahami pada akhir satu
unit pembelajaran. Pertanyaan panduan
yang dapat digunakan pendidik, antara
lain: hal apa saja yang perlu mereka pelajari
dari suatu konsep besar yang dinyatakan
dalam CP? Apakah lingkungan sekitar dan
kehidupan peserta didik dapat digunakan
sebagai konteks untuk mempelajari konten
dalam CP (misalnya, proses pengolahan
hasil panen digunakan sebagai konteks
untuk belajar tentang persamaan linear di
SMA)

Tabel 3.2. Fase Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Khusus

Fase

Jenjang/Kelas pada umumnya

Usia Mental

A

Kelas I-II SD/MI

≤ 7 tahun

B

Kelas III-IV SD/MI
± 8 tahun
C

Kelas V-VI SD/MI

D

Kelas VII-IX SMP/MTs

± 9 tahun

E

Kelas X SMA/SMK/MA/MAK

± 10 tahun

F

Kelas XI-XII SMA/SMK/MA/MAK

7

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

16

Taksonomi Bloom berguna dalam proses
perumusan tujuan pembelajaran. Namun
demikian, Taksonomi Bloom ini telah direvisi
seiring dengan perkembangan hasil-hasil
penelitian. Anderson dan Krathwohl (2001)
mengembangkan taksonomi berdasarkan

Taksonomi Bloom, dan dinilai lebih relevan
untuk konteks belajar saat ini. Anderson dan
Krathwohl mengelompokkan kemampuan
kognitif menjadi tahapan-tahapan berikut ini,
dengan urutan dari kemampuan yang paling
dasar ke yang paling tinggi sebagai berikut:

Selain taksonomi di atas, untuk merumuskan
tujuan pembelajaran, pendidik juga dapat
merujuk pada teori lain yang dikembangkan
oleh Tighe dan Wiggins (2005) tentang
enam bentuk pemahaman. Sebagaimana
yang disampaikan dalam penjelasan tentang
CP, pemahaman (understanding) adalah
proses berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar

menggunakan informasi untuk menjelaskan
atau menjawab pertanyaan. Menurut Tighe
dan Wiggins, pemahaman dapat ditunjukkan
melalui kombinasi dari enam kemampuan
berikut ini:

Level1

Mengingat, termasuk di dalamnya mengingat kembali informasi yang telah dipelajari,
termasuk defnisi, fakta-fakta, daftar urutan, atau menyebutkan kembali suatu materi
yang pernah diajarkan kepadanya.

Level2

Memahami,termasuk di dalamnya menjelaskan ide atau konsep seperti menjelaskan
suatu konsep menggunakan kalimat sendiri, menginterpretasikan suatu informasi,
menyimpulkan, atau membuat parafrasa dari suatu bacaan.

Level3

Mengaplikasikan,termasuk di dalamnya menggunakan konsep, pengetahuan, atau
informasi yang telah dipelajarinya pada situasi berbeda dan relevan

Level4

Menganalisis,termasuk dalam kemampuan ini adalah memecah- mecah informasi
menjadi beberapa bagian, kemampuan untuk mengeksplorasi hubungan/korelasi atau
membandingkan antara dua hal atau lebih, menentukan keterkaitan antarkonsep, atau
mengorganisasikan beberapa ide dan/atau konsep.

Level5

Mengevaluasi,termasuk kemampuan untuk membuat keputusan, penilaian,
mengajukan kritik dan rekomendasi yang sistematis.

Level6

Menciptakan,yaitu merangkaikan berbagai elemen menjadi satu hal baru yang utuh,
melalui proses pencarian ide, evaluasi terhadap hal/ide/benda yang ada sehingga kreasi
yang diciptakan menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada. Termasuk di
dalamnya adalah kemampuan memberikan nilai tambah terhadap suatu produk yang
sudah ada.

8

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

17

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

Penjelasan (explanation)

Mendeskripsikan suatu ide dengan
kata-kata sendiri, membangun
hubungan, mendemonstrasikan
hasil kerja, menjelaskan alasan,
menjelaskan sebuah teori, dan
menggunakan data.

Menerjemahkan cerita, karya seni,
atau situasi. Interpretasi juga berarti
memaknai sebuah ide, perasaan,
atau sebuah hasil karya dari satu
media ke media lain.

Interpretasi

Aplikasi

Menggunakan pengetahuan,
keterampilan dan pemahaman
mengenai sesuatu dalam situasi
yang nyata atau sebuah simulasi
(menyerupai kenyataan).

Melihat suatu hal dari sudut
pandang yang berbeda, siswa dapat
menjelaskan sisi lain dari sebuah
situasi, melihat gambaran besar,
melihat asumsi yang mendasari
suatu hal dan memberikan kritik.

Perspektif

Empati

Menaruh diri di posisi orang lain.
Merasakan emosi yang dialami oleh
pihak lain dan/atau memahami
pikiran yang berbeda dengan
dirinya.

Memahami diri sendiri; yang
menjadi kekuatan, area yang perlu
dikembangkan serta proses berpikir
dan emosi yang terjadi secara
internal.

Pengenalan diri
atau refeksi diri

Marzano (2000) mengembangkan taksonomi
baru untuk tujuan pembelajaran. Dalam
taksonominya, Marzano menggunakan tiga
sistem dalam domain pengetahuan. Ketiga
sistem tersebut adalah sistem kognitif, sistem
metakognitif, dan sistem diri (self-system).
Sistem diri adalah keputusan yang dibuat
individu untuk merespon instruksi dan
pembelajaran: apakah akan melakukannya atau
tidak. Sementara sistem metakognitif adalah
kemampuan individu untuk merancang strategi

untuk melakukan kegiatan pembelajaran agar
mencapai tujuan. Selanjutnya sistem kognitif
mengolah semua informasi yang diperlukan
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada 6
level taksonomi menurut Marzano:

9

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

18

Tingkat 3

Analisis
Analisis dalam taksonomi baru dari Marzano melibatkan perluasan
pengetahuan yang logis (masuk akal). Analisis yang dimaksud
bukan hanya mengidentifkasi karakteristik penting dan tidak
penting, namun analisis juga mencakup generasi informasi baru
yang belum diproses oleh seseorang. Ada lima proses analisis, yaitu:
(1) mencocokan, (2) mengklasifkasikan, (3) menganalisis
kesalahan, (4) menyamaratakan, dan (5) menspesifkasikan.

Tingkat 4

Pemanfaatan Pengetahuan
Proses pemanfaatan pengetahuan digunakan saat seseorang ingin
menyelesaikan tugas tertentu. Contohnya, ketika seorang insinyur
ingin menggunakan pengetahuannya tentang prinsip Bernoulli
untuk menyelesaikan sebuah masalah mengenai daya angkat
dalam desain jenis pesawat baru. Tugas sulit seperti ini adalah
tempat di mana pengetahuan dianggap berguna bagi seseorang.
Di taksonomi baru dari Marzano, ada empat kategori umum
pemanfaatan pengetahuan, yaitu: (1) pengambilan keputusan, (2)
penyelesaian masalah, (3) percobaan, dan (4) penyelidikan.

Tingkat 5

Metakognisi
Sistem metakognisi berfungsi untuk memantau, mengevaluasi dan
mengatur fungsi dari semua jenis pemikiran lainnya. Dalam
taksonomi baru dari Marzano, ada empat fungsi dari metakognisi,
yaitu: (1) menetapkan tujuan, (2) memantau proses, (3) memantau
kejelasan, dan (4) memantau ketepatan.

Tingkat 6

Sistem Diri
Sistem diri menentukan apakah seseorang akan melakukan atau
tidak melakukan sesuatu tugas; sistem diri juga menentukan
seberapa besar tenaga yang akan digunakan untuk mengerjakan
tugas tersebut. Ada empat jenis dari sistem diri yang berhubungan
dengan taksonomi baru dari Marzano, yaitu: (1) memeriksa
kepentingan, (2) memeriksa kemanjuran, (3) memeriksa respon
emosional, dan (4) memeriksa motivasi secara keseluruhan.

Tingkat 2

Pemahaman
Proses pemahaman dalam sistem kognitif berfungsi untuk
mengidentifkasi atribut atau karakteristik utama dalam
pengetahuan. Berdasarkan taksonomi baru dari Marzano,
pemahaman melibatkan dua proses yang saling berkaitan:
integrasikan dan simbolisasi.

Tingkat 1

Mengenali dan mengingat kembali (retrieval)
Mengingat kembali (retrieval) informasi dalam batas
mengidentifkasi sebuah informasi secara umum. Kemampuan
yang termasuk dalam tingkat 1 ini adalah kemampuan
menentukan akurasi suatu informasi dan menemukan informasi
lain yang berkaitan.

10

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

19

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

Panduan ini tidak mendorong pendidik untuk
fokus pada satu teori saja. Sebaliknya, panduan
ini memperlihatkan bahwa ada beberapa
referensi yang dapat digunakan untuk
merancang tujuan pembelajaran. Pendidik
dapat menggunakan teori atau pendekatan
lain dalam merancang tujuan pembelajaran,
selama teori tersebut dinilai relevan dengan
karakteristik mata pelajaran serta konsep/topik
yang dipelajari, karakteristik peserta didik, dan
konteks lingkungan pembelajaran.

Beberapa catatan khusus terkait dengan
perumusan tujuan pembelajaran di jenis dan
jenjang pendidikan tertentu:

Pada Capaian Pembelajaran PAUD,
penyusunan tujuan pembelajaran
mempertimbangkan laju perkembangan
anak, bukan kompetensi dan konten seperti
pada jenjang lainnya.

Pada Pendidikan Khusus, selain
kompetensi dan konten, tujuan
pembelajaran juga mencakup variasi
dan akomodasi layanan sesuai
karakteristik peserta didik. Selain itu,
tujuan pembelajaran diarahkan pada
terbentuknya kemandirian dalam aktivitas

sehari-hari sampai kesiapan memasuki
dunia kerja.

Pada pendidikan kesetaraan, dalam
merumuskan tujuan pembelajaran
memperhatikan karakteristik peserta didik,
kebutuhan belajar dan kondisi lingkungan.

Pada satuan pendidikan SMK,
tujuan pembelajaran dan alur tujuan
pembelajaran dapat disusun bersama
dengan mitra dunia kerja.

Pendidik memiliki alternatif untuk merumuskan
tujuan pembelajaran dengan beberapa
alternatif di bawah ini:

Alternatif 1. Merumuskan tujuan
pembelajaran secara langsung berdasarkan
CP

Alternatif 2. Merumuskan tujuan
pembelajaran dengan menganalisis
‘kompetensi’ dan ‘lingkup Materi’ pada CP.

Alternatif 3. Merumuskan tujuan
pembelajaran Lintas Elemen CP

Contoh masing-masing alternatif terdapat di
lampiran, termasuk contoh cara merumuskan
CP menjadi tujuan pembelajaran pada jenjang
PAUD ada di lampiran.

C. Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Setelah merumuskan tujuan pembelajaran,
langkah berikutnya dalam perencanaan
pembelajaran adalah menyusun alur tujuan
pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran
sebenarnya memiliki fungsi yang serupa dengan
apa yang dikenal selama ini sebagai “silabus”,
yaitu untuk perencanaan dan pengaturan
pembelajaran dan asesmen secara garis
besar untuk jangka waktu satu tahun. Oleh
karena itu, pendidik dapat menggunakan alur
tujuan pembelajaran saja, dan alur tujuan

pembelajaran ini dapat diperoleh pendidik
dengan: (1) merancang sendiri berdasarkan CP,
(2) mengembangkan dan memodifikasi contoh
yang disediakan, ataupun (3) menggunakan
contoh yang disediakan pemerintah.

Bagi pendidik yang merancang alur tujuan
pembelajarannya sendiri, tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah dikembangkan
dalam tahap sebelumnya akan disusun sebagai
satu alur (sequence) yang berurutan secara

11

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

20

sistematis, dan logis dari awal hingga akhir
fase. Alur tujuan pembelajaran juga perlu
disusun secara linier, satu arah, dan tidak
bercabang, sebagaimana urutan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.
Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, ada
beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

1. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang
lebih umum bukan tujuan pembelajaran
harian (goals, bukan objectives);

2. Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu
fase, tidak terpotong di tengah jalan;

3. Alur tujuan pembelajaran perlu
dikembangkan secara kolaboratif, (apabila
guru mengembangkan, maka perlu
kolaborasi guru lintas kelas/tingkatan
dalam satu fase. Contoh: kolaborasi antara
guru kelas I dan II untuk Fase A;

4. Alur tujuan pembelajaran dikembangkan
sesuai karakteristik dan kompetensi yang
dikembangkan setiap mata pelajaran. Oleh
karena itu sebaiknya dikembangkan oleh
pakar mata pelajaran, termasuk guru yang
mahir dalam mata pelajaran tersebut;

5. Penyusunan alur tujuan pembelajaran
tidak perlu lintas fase (kecuali pendidikan
khusus);

6. Metode penyusunan alur tujuan
pembelajaran harus logis, dari kemampuan
yang sederhana ke yang lebih rumit,
dapat dipengaruhi oleh karakteristik mata
pelajaran, pendekatan pembelajaran yang
digunakan (misal: matematik realistik);

7. Tampilan tujuan pembelajaran diawali
dengan alur tujuan pembelajarannya
terlebih dahulu, baru proses berpikirnya
(misalnya, menguraikan dari elemen
menjadi tujuan pembelajaran) sebagai
lampiran agar lebih sederhana dan
langsung ke intinya untuk guru;

8. Karena alur tujuan pembelajaran
yang disediakan Kemendikbudristek
merupakan contoh, maka alur tujuan
pembelajaran dapat bernomor/huruf
(untuk menunjukkan urutan dan tuntas
penyelesaiannya dalam satu fase);

9. Alur tujuan pembelajaran menjelaskan
SATU alur tujuan pembelajaran, tidak
bercabang (tidak meminta guru untuk
memilih). Apabila sebenarnya urutannya
dapat berbeda, lebih baik membuat
alur tujuan pembelajaran lain sebagai
variasinya, urutan/alur perlu jelas sesuai
pilihan/keputusan penyusun, dan untuk itu
dapat diberikan nomor atau kode; dan

10. Alur tujuan pembelajaran fokus pada
pencapaian CP, bukan profil pelajar
Pancasila dan tidak perlu dilengkapi
dengan pendekatan/strategi pembelajaran
(pedagogi).

12

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

21

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, pendidik dapat mengacu pada berbagai cara yang
diuraikan pada tabel di bawah ini (Creating Learning Materials for Open and Distance Learning, 2005;
Doolittle, 2001; Morrison, Ross, & Kemp, 2007; Reigeluth & Keller, 2009):

Tabel 3.3. Cara-Cara Menyusun Tujuan Pembelajaran Menjadi Alur Tujuan Pembelajaran

Pengurutan dari
yang Konkret ke
yang Abstrak

Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten
yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan
menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu
sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).

Pengurutan Deduktif

Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang
spesifik. Contoh: mengajarkan konsep database terlebih dahulu
sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau
relasional.

Pengurutan dari
Mudah ke yang lebih
Sulit

Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit.
Contoh: mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas
bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.

Pengurutan Hierarki

Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen
konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan
keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: siswa perlu belajar tentang
penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.

Pengurutan
Prosedural
Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari
sebuah prosedur, kemudian membantu siswa untuk menyelesaikan
tahapan selanjutnya. Contoh: dalam mengajarkan cara menggunakan
t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap
prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan
tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes
dalam sebuah perangkat lunak statistik.

Scaffolding

Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus
mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh: dalam mengajarkan
berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika siswa
mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang
diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, siswa dapat
berenang sendiri.

13

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

22

Di bawah ini adalah ilustrasi pemetaan alur
tujuan pembelajaran dalam satu fase. Setiap
kotak tujuan pembelajaran merupakan hasil
perumusan tujuan pembelajaran yang telah

dilakukan pada tahap sebelumnya dan alur
tujuan pembelajaran adalah tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah disusun.

Gambar 3.2. Ilustrasi Alur Tujuan Pembelajaran

Sebagaimana disampaikan pada penjelasan
tentang CP, setiap fase terdiri atas 1 sampai
3 kelas. Sebagai contoh, pada jenjang SD,
satu fase terdiri atas 2 kelas. Alur tujuan
pembelajaran dikembangkan untuk setiap CP.
Dengan demikian, alur tujuan pembelajaran

untuk Fase A, misalnya, harus disusun untuk
2 tahun (Kelas I dan Kelas II). Oleh karena itu,
dalam menyusun alur tujuan pembelajaran,
pendidik perlu berkolaborasi dengan pendidik
lain yang mengajar dalam fase yang sama agar
tujuan pembelajarannya berkesinambungan.

Catatan khusus untuk jenjang dan jenis tertentu:

Untuk PAUD, esensi alur tujuan pembelajaran
adalah perencanaan pembelajaran berdasarkan
laju perkembangan anak dan dikembangkan
oleh masing-masing satuan agar dapat
mencapai CP. Satuan pendidikan dapat memilih
untuk menyusun alur tujuan pembelajaran

atau tidak dan alur tujuan pembelajaran dapat
dikembangkan dengan pendekatan yang paling
sesuai pada masing-masing satuan pendidikan.

Awal
Fase

Akhir
Fase

Tujuan
Pembelajaran
1

Tujuan
Pembelajaran
2

Tujuan
Pembelajaran
(n)

Tujuan
Pembelajaran
...

Tujuan
Pembelajaran
3

Tujuan
Pembelajaran
...

Pendidik dapat menggunakan contoh alur tujuan pembelajaran yang telah tersedia, atau
memodifikasi contoh alur tujuan pembelajaran menyesuaikan kebutuhan peserta didik,
karakteristik dan kesiapan satuan pendidikan. Selain itu, pendidik dapat menyusun alur tujuan
pembelajaran secara mandiri sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan. Tidak ada format
komponen yang ditetapkan oleh pemerintah. Komponen alur tujuan pembelajaran dapat
disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang mudah dimengerti oleh pendidik.

media

Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen

10

3Perencanaan Pembelajaran
dan Asesmen

Pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran
(CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan.
Namun demikian, CP tidak cukup konkret untuk
memandu kegiatan pembelajaran sehari-
hari. CP perlu diurai menjadi tujuan-tujuan

pembelajaran yang lebih operasional dan
konkret, yang dicapai satu persatu oleh peserta
didik hingga mereka mencapai akhir fase. Proses
berpikir dalam merencanakan pembelajaran
ditunjukkan dalam Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 3.1. Proses Perancangan Kegiatan Pembelajaran

Pendidik dapat (1) mengembangkan
sepenuhnya alur tujuan pembelajaran
dan/atau perencanaan pembelajaran, (2)
mengembangkan alur tujuan pembelajaran
dan/atau rencana pembelajaran berdasarkan
contoh-contoh yang disediakan pemerintah,
atau (3) menggunakan contoh yang disediakan.
Pendidik menentukan pilihan tersebut
berdasarkan kemampuan masing-masing.
Dalam Platform Merdeka Mengajar,

pemerintah menyediakan contoh-contoh alur
tujuan pembelajaran, rencana pelaksanaan
pembelajaran atau yang sering dikenal sebagai
RPP, dan modul ajar. Dengan kata lain, setiap
pendidik perlu menggunakan alur tujuan
pembelajaran dan rencana pembelajaran
untuk memandu mereka mengajar; akan tetapi
mereka tidak harus mengembangkannya
sendiri.

Ringkasan Bab

Memahami Capaian Pembelajaran (CP)

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen

Memahami
Capaian

Pembelajaran

Merumuskan
tujuan
pembelajaran

Menyusun alur
tujuan pembelajaran
dari tujuan

pembelajaran

Merancang

pembelajaran

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 13

SLIDE