

MATERI 1
Presentation
•
History
•
9th - 12th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Nike Wee28
Used 1+ times
FREE Resource
15 Slides • 1 Question
1
PRESENTASI MATERI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMK NEGERI 02 KAIMANA
2
3
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI I-i
PENDAHULUAN I-ii
Kegiatan Belajar ke-1; Elemen – Elemen Bangunan Gedung
1 Elemen-elemen Konstruksi Bangunan Gedung
I-1
2 Struktur Bawah (Sub Struktur)
I-9
2.1
Pondasi Dangkal
I-11
2.2
Pondasi Dalam
I-19
3 Struktur Atas
I-38
3.1
Kolom
I-38
3.2
Balok
I-46
3.3
Plat
I-54
RANGKUMAN
I-64
DAFTAR PUSTAKA
I-65
4
Multiple Choice
SIAPA NAMA IBU YESUS
MARIA
MARTA
VERONIKA
ELISABETH
5
PENDAHULUAN
Rasional dan Deskripsi Singkat
Modul ini berisi uraian elemen-elemen konstruksi (struktur) bangunan gedung
yang mencakup struktur bawah (sub structure) dan struktur atas (upper structure)
bangunan gedung. Bagian sub structure bangunan gedung terdiri dari konstruksi pondasi
dangkal (Shallow Fundation), pondasi dalam (Deep Foundaion),Pile Cap/Poer, dan
Sloof (tie beam). Struktur bawah merupakan bagian penting dari konstruksi bangunan
yang mendukung berdirinya suatu bangunan gedung. Sedangkan bagian upper structure
meliputi konstruksi kolom, balok, plat, tangga, dan kap/atap. Struktur bawah dan struktur
atas bangunan gedung merupakan satu sistem konstrusksi utama bangunan gedung yang
berada di bagian atas pondasi merupakan struktur yang mendukung sosok bangunan.
Pada bangunan-bangunan tinggi/besar sub struktur bangunan juga dapat berupa basement.
Pondasi dan struktur atas gedung harus direncanakan sesuai dengan prinsip-prinsip
keilmuan teknik sipil dan sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Dengan
adanya struktur pondasi yang kokoh, struktur bangunan atas dapat berdiri dengan stabil
sehingga umur suatu bangunan juga lebih lama.
Kegiatan belajar (KB) Modul-1 ini merupakan modul yang awal untuk
mempelajari lebih mendalam tentang konstruksi suatu bangunan gedung. Struktur bawah
dalam tahap konstruksi merupakan pekerjaan yang paling awal dilakukan oleh pelaksana.
Merujuk dari filosofi tersebut, pendalaman struktur bawah merupakan modal utama
mahasiswa untuk mempelajari konstruksi bangunan secara mendalam. Merujuk dari
capaian kompetensi yang diharapkan setelah mahasiswa mempelajari modul ini, maka
sub capaian kompetensi yang dapat dicapai oleh mahasiswa setelah mempelajari modul
secara runut sebagai berikut: (1) memahami pengertian dan jenis pondasi dangkal
(shallow foundation), (2) menganalisis fungsi dari bagian-bagian konstruksi pondasi
dangkal, (3) memahami pengertian pondasi dalam (deep foundation), (4) menganalisis
jenis-jenis dan fungsi bagian pondasi dalam, pile cap, dan (5) sloof.. Selanjutnya pada
struktur atas akan dikaji (1) kolom, balok, dan plat.
Dengan belajar secara runut materi-materi dalam modul ini dan adanya pengayaan
dari sumber-sumber belajar yang ada, maka kompetensi mahasiswa PPG terkait dengan
struktur bawah bangunan gedung dapat meningkat.
6
Capaian Pembelajaran
Setelah membaca modul ini mahasiswa mampu mengaplikasikan
pembelajaran terkini, mengidentifikasi, dan menganalisis struktur bawah dan
struktur atas konstruksi bangunan gedung meliputi pondasi dangkal (shallow
foundation) dan pondasi dalam (deep foundation) berdasarkan kualitas material
dan metode yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pondasi.
Sub Capaian Pembelajaran
Mahasiswa setelah mendalami kegiatan belajar struktur bawah (pondasi) ini,
mahasiswa dapat lebih mendalami:
1. Elemen struktur bangunan gedung.
2. Jenis dan bahan pondasi dangkal (shallow foundation).
3. Jenis dan bahan pondasi dalam (deep foundation).
4. Pile cap/Poer
5. Sloof.
6. Struktur atas
Petunjuk Penggunaan Modul
Pelajarilah modul Struktur Bawah (Pondasi) bangunan gedung ini secara
mendalam. Modul ini mencakup materi pondasi dangkal dan pondasi dalam yang
uraiannya disampaikan secara umum. Masing-masing materi pokok bahasan
masih diuraian secara umum, rinciannya bisa anda pelajari dalam media ataupun
tautan link-internet yang sudah ada alamat lamannya.
Langkah-langkah untuk mempelajari modul ini dapat dilakukan secara runut
sebagai berikut:
1.Bacalah dan pahamilah modul ini secara berurutan masing-masing kegiatan
pembelajaran mulai dari uraian materi, deskripsi masing-masing materi, test
formatif dan tugas yang harus dikerjakan sebagai latihan.
2.Pada saat mahasiswa mengalami kesulitan dalam mempelajari uraian materi,
mahasiswa bisa konsultasi dan diskusi dengan dosen pembimbing melalui
sarana yang ada.
7
Uraian Materi
1. Elemen-Elemen Bangunan Gedung
Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat
kedudukan baik yang ada di atas, di bawah tanah dan/atau di air. Bangunan biasanya
dikonotasikan dengan rumah, gedung ataupun segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam
kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya seperti halnya jembatan
dan konstruksinya serta rancangannya, jalan, sarana telekomunikasi, dan lain-lain. Teknik
bangunan adalah suatu disiplin ilmu teknik yang berkaitan dengan perencanaan, desain,
konstruksi, operasional, renovasi dan pemeliharaan bangunan, termasuk juga kaitannya dengan
dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Proyek bangunan perumahan/pemukiman (residential Construction), merupakan proyek
pembangunan yang dilakukan secara serempak dengan penyediaan prasarana penunjang. Jenis
proyek ini sangat memerlukan perencanaan yang matang untuk infrastruktur yang ada dalam
lingkungan pemukiman tersebut seperti jaringan jalan, air bersih, listrik dan fasilitas lainnya.
Secara filosofis bangunan gedung harus memberikan jaminan kemanan, kenyamanan,
kesehatan, dan keindahan serta kemudahan akses bagi pengguna dan lingkungannya. Oleh
karena itu harus dibangun berdasarkan standar-standar yang telah ditetapkan baik oleh
pemerintah maupun teori bidang keilmuan teknik sipil dan profesi yang relevan.
Berdasar jenisnya, bangunan gedung dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yaitu (a)
sebagai hunian (perumahan), (b) bangunan publik seperti perkantoran, sekolah, tempat ibadah,
hotel, rumah sakit, mall, apartemen, dan lainya; (c) bangunan monumental dan sejarah misalnya
Museum Nasional/Monas (Jakarta), Petronas (Malaysia), One O OneTower (Taiwan), Al Buruj
Tower (Dubai) dan sebagainya, serta (d) bangunan industri.
Berdasarkan tinggi bangunan, dapat dikelompokkan pada bangunan tidak bertingkat,
bangunan bertingkat sedang, serta bangunan tingkat tinggi (> delapan lantai). Pembedaan fungsi
tersebut membawa implikasi terhadap penerapan standar konstruksi, pemilihan sistem struktur,
standar material, maupun metode pelaksanaannya.
Undang-Undang Jasa Konstruksi (UU No 2 tahun 2017) menegaskan bahwa pekerjaan
konstruksi bangunan di Indonesia dikelompokkan ke dalam empat jenis pekerjaan yaitu (1)
pekerjaan Arsitektural, (2) pekerjaan Struktural, (3) pekerjaan Mekanikal & Elektrikal, dan (4)
pekerjaan Tata Lingkungan (ASMET). Pekerjaan arsitekural adalah pekerjaan berfungsi sebagai
8
Komponen pondasi dangkal menerus batu kali meliputi urugan pasir bawah pondasi, pasangan batu
kosong (anstamping), dan pasangan batu kali sebagaimana dipaparkan pada Gambar 1.5.
Pondasi batu kali dibuat dari bahan utama batu belah yang merupakan bahan konstruksi
pondasi yang paling banyak digunakan, karena batu belah yang umumnya didapatkan dari batu
kali yang tidak mengalami perubahan bentuk dan kualitas bila tertanam di dalam tanah.
Persyaratan batu belah sebagai bahan konstruksi pondasi adalah batu tersebut mempunyai
permukaan yang kasar, berukuran ± 25 cm, bersih dari segala kotoran. Batu belah yang
permukaannya halus kurang baik dipakai sebagai bahan pondasi, sehingga harus dipecah
terlebih dahulu agar didapatkan permukaan yang kasar. Demikian juga dengan batu belah
yang berpori sebaiknya tidak digunakan untuk bahan konstruksi pondasi. Permukaan batu yang
kasar akan membuat ikatan yang kokoh.
Gambar 1.15. Pondasi Menerus Batu Kali
c.Pondasi Telapak (Foot Plate Foundation)
Pondasi telapak merupakan pelebaran alas kolom atau dinding dengan tujuan untuk
meneruskan beban pada tanah suatu tekanan yang sesuai dengan sifat-sifat tanah yang bersangkutan.
Pondasi telapak yang mendukung kolom tunggal disebut telapak kolom individual, telapak
tersendiri atau telapak sebar. Pondasi telapak di bawah suatu dinding disebut telapak dinding atau
telapak menerus. Apabila sebuah pondasi telapak mendukung beberapa kolom disebut telapak
gabungan. Bentuk khusus dari telapak gabungan yang umumnya digunakan apabila salah satu
kolomnya mendukung dinding luar disebut telapak kantilever.
9
Gambar 1.22. Model Pondasi Tiang Kayu dan Pasangan Batu Kali
2.2.2 Tiang Pancang dan Pilecap
a. Pondasi Tiang Pancang Beton Bertulang
Penggunaan pondasi tiang pancang sebagai pondasi bangunan apabila tanah yang berada
dibawah dasar bangunan tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup
untuk memikul berat bangunan dan beban yang bekerja padanya Atau apabila
tanah yanmempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul berat bangunan dan
seluruh beban yang bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam dari permukaan tanah
kedalaman lebih dari 8 meter.
b. Jenis-Jenis Pondasi Tiang Pancang
10
Tiang pancang ini dapat memikul beban yang besar (>50 ton untuk setiap tiang), hal ini
tergantung dari dimensinya. Dalam perencanaan tiang pancang beton precast ini panjang dari
pada tiang harus dihitung dengan teliti, sebab kalau ternyata panjang dari pada tiang ini kurang
terpaksa harus dilakukan penyambungan, hal ini adalah sulit dan banyak memakan waktu.
Reinforced Concrete Pile penampangnya dapat berupa lingkaran, segi empat, segi delapan
dapat dilihat pada Gambar 2. di bawah ini.
Gambar 1.24. Penulangan Tiang Pancang Precast Reinforced Concrete Pile
Gambar 1.25. Tiang Pancang Precast Reinforced Concrete Pile
Keuntungan pemakaian Precast Concrete Reinforced Pile:
(1)Precast Concrete Reinforced Pile ini mempunyai tegangan tekan yang besar, hal ini
tergantung dari mutu beton yang di gunakan.
(2)Tiang pancang ini dapat di hitung baik sebagai end bearing pile maupun friction pile.
11
Pile Cap / Poer
Komponen konstruksi pondasi dalam yang menghubungkan antara kolom dengan tiang
pondasi disebut dengan pile cap/poer, komponen tersebutselalu ada pada pondasi dalam baik
yang satu tiang maupun lebih dan disebut tiang kelompok. Tiang kelompok ini biasanya
disatukan oleh kepala tiang yang juga disebut pile cap atau poer.
Pile cap tersebut biasanya dibuat dari beton bertulang, dituangkan langsung pada tanah
kecuali jika tanah bersifat ekspansif. Pile cap untuk konstruksi lepas pantai sering dicetak dari
form baja. Pile cap tersebut mempunyai suatu reaksi yang merupakan sederet beban terpusat
(tiang pancang). Perencanaan pile cap juga mempertimbangkan beban kolom dan momen
dari setiap tanah yang mendasari pile cap (jika poer berada di bawah permukaan tanah), dan
berat pile cap.
Perhitungan pile cap/poer dilakukan dengan asumsi dibuat kaku sempurna sehingga :
(1)Bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan
penurunan maka setelah penurunan bidang poer tetap akan merupakan bidang datar.
(2)Gaya-gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang
tersebut.
Gambar 1.28. Pile Cap
2.2.3 Sloof
Sloof adalah jenis konstruksi beton bertulang yang sengaja di desain khusus luas
penampang dan jumlah pembesiannya, disesuaikan dengan kebutuhan beban yang akan dipikul.
Untuk menentukan luas penampang (dimensi sloof), dibutuhkan perhitungan teknis yang tepat
agar sloof tersebut nanti “benar-benar mampu” untuk memikul beban dinding bata diatasnya.
12
Berdasarkan reduksi kekuatan tersebut maka rumus kuat beban aksial maksimum adalah:
Untuk kolom dengan penulangan spiral
Ø Pn(maks) = 0,85 Ø {0,85 fC’ (Ag-Ast) + fyAst}
Untuk kolom dengan penulangan sengkang
Ø Pn(maks) = 0,80 Ø {0,85 fC’ (Ag-Ast) + fyAst}
Faktor reduksi ditentukan:
Ø = 0.70 untuk penulangan spiral, dan
Ø = 0,65 untuk penulangan dengan sengkang.
Persyaratan detail penulangan kolom
Jumlah luas penampang tulangan pokok memanjang dibatasi dengan rasio penulangan antara
0,01 dan 0,08. Secara umum luas penulangan yang digunakan antara 1,5% sampai 3 % dari luas
penampang, serta terkadang dapat mencapai 4% untuk struktur berlantai banyak, namun
disarankan tidak melebihi 4%. Sesuai SNI 03-2847-2002, penulangan pokok pada kolom dengan
pengikat spiral minimal 6 batang, sedangkan untuk sengkang segiempat adalah 4 batang, dan
segitiga minimal adalah 3 batang. Beberapa susunan penulangan seperti
pada Gambar 6.1.2
Gambar 6.1.2. Detail susunan penulangan tipikal
Sumber: Dipohusodo, 1999
13
Gambar 6.1.4 Faktor Panjang Efektif pada Kondisi Ideal
Sumber: Salmon dkk, 1991
Panjang tekuk
Nilai faktor panjang tekuk (kc) bergantung pada kekangan rotasi dan translasi pada ujung-ujung
komponen struktur. Untuk komponen struktur takbergoyang, kekangan translasi ujungnya
dianggap tak-hingga, sedangkan untuk komponen struktur bergoyang, kekangan translasi
ujungnya dianggap nol. Nilai faktor panjang tekuk (kc) yang digunakan untuk komponen
struktur dengan ujung-ujung ideal ditunjukkan pada Gambar 6.1.5.
14
regangan tekan akan meningkat dan cenderung untuk tidak lagi sebanding dengan diantara keduanya,
dimana tegangan tekan beton akan membentuk kurva non-linear. Kurva tegangan di atas garis netral
(daerah tekan) berbentuk sama dengan kurva tegangan regangan seperti pada Gambar 6.2.5. Kapasitas
batas kekuatan beton terlampaui dan tulangan baja mencapai luluh/leleh, dan beton mengalami
hancur. Struktur akan mengalami strata runtuh atau setengan runtuh meskipun belum hancur secara
keseluruhan.
Gambar 6.2.5. Perilaku Lentur pada Beban Ultimit
Sumber: Dipohusodo, 1994
Regangan maksimum tekan beton sebagai regangan ultimit digunakan sebesar 0,003 atau 0,3%, yang
ditetapkan berdasarkan hasil-hasil pengujian.
d. Kuat lentur
Kuat lentur Mn merupakan kekuatan lentur balok, yang besarnya tergantung dari resultan gaya tekan
dalam (ND) dan resultan gaya tarik dalam (NT).
Kuat lentur pada gaya tekan beton:
(
)
Kuat lentur pada gaya tarik tulangan beton: (
)
dimana:
ND
: resultan gaya tekan dalam
NT
: resultan gaya tarik dalam
d
: tinggi efektif balok
a
: kedalaman blok tegangan
Nilai a dapat dihitung dengan rumus: (
)
dimana:
As : luas tulangan tarik (mm2)
fy : tegangan leleh baja
ß1 : konstanta yang merupakan fungsi dari kelas kuat beton
fc : kuat tekan beton
b : lebar balok (mm)
Sesuai ketentuan SNI 03-2847-2002, faktor ß1 harus diambil sebesar 0,85 untuk beton dengan nilai kuat
tekan f‟c lebih kecil daripada atau sama dengan 30 MPa. Untuk beton dengan nilai kuat tekan di atas 30
MPa, ß1 harus direduksi sebesar 0,05 untuk setiap kelebihan 7 MPa di atas 30 MPa, tetapi ß1 tidak boleh
diambil kurang dari 0,65.
15
kecil. Desain mungkin dapat dikendalikan dengan tulangan susut dan suhu yang minimum.
Faktor geser jarang dikontrol, dan tulangan transversal sulit dipasang pada plat satu arah.
Karena beban yang bekerja semuanya dilimpahkan menurut arah sisi pendek, maka plat
terlentur satu arah dapat dianggap memiliki perilaku seperti suatu balok persegi dengan tinggi
setebal plat tersebut dan dengan lebarnya adalah satu satuan panjang (umumnya 1 meter).
Apabila diberi beban merata plat akan melendut dengan kelengkungan satu arah, sehingga
menimbulkan momen lentur pada arah tersebut. Beban merata umumnya menggunakan satuan
kN/m2 (kPa), karena diperhitungkan untuk setiap satuan lebar (1 meter) maka satuannya menjadi
beban per satuan panjang (kN/m).
Penulangan plat dihitung untuk setiap satuan lebar tersebut dan merupakan jumlah rata-
rata. Dalam SNI 03-2847-2002, plat struktural harus pula dipasang tulangan susut dan suhu
dengan arah tegak lurus tulangan pokok. Tulangan ulir yang digunakan sebagai tulangan susut
dan suhu harus memenuhi ketentuan berikut:
Tulangan susut dan suhu harus paling sedikit memiliki rasio luas tulangan terhadap luas bruto
penampang beton sebagai berikut (Tabel 3.1), tetapi tidak kurang dari 0,001
Tulangan susut dan suhu harus dipasang dengan jarak tidak lebih dari lima kali tebal plat, atau
450 mm.
Tabel 3.1. Rasio Luas Tulangan Terhadap Luas Bruto Penampang Beton
a. Pelat yang menggunakan batang ttulangan ulir mutu 300
0.002
b. Pelat yang menggunakan batang tulangan ulir atau jarring kawat
las (polos atau ulir) mutu 400
0,0018
C, Pelat yang menggunakan tulangan dengan tegangan leleh
melebihi 400 MPa yang dikukur pada regangan leleh sebesar 0,35%
0,0018 x 400/fy
Sumber: Sagel dkk, 1994
Selanjutnya prosedur analisis dan perhitungan MR pada plat terlentur satu arah
menggunakan cara yang sama dengan balok persegi. Tambahan analisis adalah pada perhitungan
nilai minimum As, yang diperlukan untuk tulangan susut dan suhu. Perlu dilakukan pemeriksaan
nilai minimum dengan memeriksa As min. Contoh: tulangan ulir mutu 300 MPa nilai As min adalah
0,002 *bh.
16
Gambar 6.3.8 Jenis Tumpuan pada Plat Beton
Sumber: Sagel dkk, 1994
Jenis-jenis plat dengan tumpuan tersebut antara lain adalah plat yang menumpu menerus
sepanjang dua tepi yang sejajar atau pada keempat tepinya, panel plat, dan plat menerus untuk
pondasi. Panel adalah bagian segi empat suatu plat, atau suatu plat yang tepi-tepi dikelilingi oleh
tumpuan-tumpuan. Pada plat yang tertumpu pada sepanjang dua sisinya dapat disebut juga
sebagai bentang balok, jika menggunakan analogi balok. Dalam kasus plat terjepit pada dinding
bata, meskipun dapat terjadi momen jepit maka umumnya tetap akan dianggap sebagai tumpuan
bebas.
PRESENTASI MATERI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SMK NEGERI 02 KAIMANA
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 16
SLIDE
Similar Resources on Wayground
10 questions
SENI BINA MASYARAKAT KERAJAAN ALAM MELAYU
Presentation
•
9th - 12th Grade
12 questions
PENGINDRAAN JAUH
Presentation
•
KG
10 questions
Matematika Volume Kubus dan Balok
Presentation
•
10th - 11th Grade
12 questions
Billing and farewel
Presentation
•
KG - University
11 questions
Refleksi dan Umpan Balik Materi Stencil Art
Presentation
•
9th - 12th Grade
10 questions
SIMPLE PAST
Presentation
•
KG - University
9 questions
Sejarah Indonesia
Presentation
•
10th - 12th Grade
12 questions
PENGAMALAN PANCASILA
Presentation
•
4th Grade
Popular Resources on Wayground
6 questions
PRIDE Always and Everywhere
Presentation
•
12th Grade
20 questions
Lab Safety Quiz
Quiz
•
6th Grade
26 questions
KOR Review Kahoot Questions
Quiz
•
8th Grade
21 questions
Continents and Oceans
Quiz
•
6th Grade
12 questions
Unit Zero lesson 2 cafeteria
Presentation
•
9th - 12th Grade
20 questions
Parts of Speech
Quiz
•
5th Grade
10 questions
Riddles Riddles fun Riddles
Quiz
•
6th - 12th Grade
16 questions
Subject & Predicate
Quiz
•
5th Grade
Discover more resources for History
10 questions
Exploring the Journey of Early Humans
Interactive video
•
6th - 10th Grade
10 questions
Exploring the Gilded Age: Key Events and Figures
Interactive video
•
6th - 10th Grade
50 questions
Unit 1 Civil War and Reconstruction
Presentation
•
11th Grade
5 questions
SPY 4 (SSUSH8-SSUSH9)
Quiz
•
11th Grade
10 questions
Exploring the Life of Early Humans
Interactive video
•
6th - 10th Grade
10 questions
The Journey Through Atomic Theory
Interactive video
•
6th - 10th Grade
10 questions
Exploring Types of Government
Interactive video
•
6th - 10th Grade
5 questions
Day 8 USH Do Now - Immigration + Politics of the Gilded Age
Quiz
•
11th Grade