

untitled
Presentation
•
World Languages
•
•
Practice Problem
•
Hard
Yustianarambu Moralambu
FREE Resource
4 Slides • 45 Questions
1
Bahasa Indonesia
CERITA PENDEK
2
Multiple Select
Manakah yang termasuk unsur intrinsik?
Gaya bahasa
Latar budaya
Latar masyarakat
Latar tempat
Sudut pandang
3
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua pelaku utama
orang ketiga serbatahu
orang ketiga terbatas/pengamat
4
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon
Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar
Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam
Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis
Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi
5
Multiple Select
Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?
Abstrak
Komplikasi
Koda
Orientasi
Resolusi
6
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...
Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah
Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji
Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji
Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta
Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal
7
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …
uraian langsung
perilaku tokoh
dialog antartokoh
tanggapan tokoh lain
pikiran tokoh
8
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...
Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami
Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya
Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya
Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya
Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja
9
Multiple Choice
“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...
Alur
Tema
Latar
Sudut pandang
Penokohan
10
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …
(1) dan (2)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
(5) dan (6)
(6) dan (7)
11
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …
Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai
Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan
Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan
Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya
12
Multiple Choice
Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.
Termasuk bagian apakah itu?
Abstrak
Koda
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
13
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …
(1), (2), (3), dan (6)
(1), (2), (3), dan (7)
(2), (3), (6), dan (8)
(2), (5), (6), dan (8)
(3), (5), (7), dan (8)
14
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
kasih sayang orang tua
hari pertama masuk sekolah
mendukung anak untuk sekolah
berangkat sekolah naik sepeda
sayang terhadap orang tua
15
Multiple Choice
Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita
Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi
Kakek dan aku bertengkar menahan marah
16
Multiple Select
Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?
Pre-writing
Proof-reading
Drafting
Writing
Revising
17
Bahasa Indonesia
CERITA PENDEK
18
Multiple Select
Manakah yang termasuk unsur intrinsik?
Gaya bahasa
Latar budaya
Latar masyarakat
Latar tempat
Sudut pandang
19
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua pelaku utama
orang ketiga serbatahu
orang ketiga terbatas/pengamat
20
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon
Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar
Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam
Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis
Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi
21
Multiple Select
Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?
Abstrak
Komplikasi
Koda
Orientasi
Resolusi
22
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...
Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah
Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji
Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji
Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta
Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal
23
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …
uraian langsung
perilaku tokoh
dialog antartokoh
tanggapan tokoh lain
pikiran tokoh
24
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...
Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami
Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya
Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya
Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya
Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja
25
Multiple Choice
“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...
Alur
Tema
Latar
Sudut pandang
Penokohan
26
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …
(1) dan (2)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
(5) dan (6)
(6) dan (7)
27
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …
Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai
Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan
Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan
Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya
28
Multiple Choice
Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.
Termasuk bagian apakah itu?
Abstrak
Koda
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
29
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …
(1), (2), (3), dan (6)
(1), (2), (3), dan (7)
(2), (3), (6), dan (8)
(2), (5), (6), dan (8)
(3), (5), (7), dan (8)
30
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
kasih sayang orang tua
hari pertama masuk sekolah
mendukung anak untuk sekolah
berangkat sekolah naik sepeda
sayang terhadap orang tua
31
Multiple Choice
Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita
Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi
Kakek dan aku bertengkar menahan marah
32
Multiple Select
Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?
Pre-writing
Proof-reading
Drafting
Writing
Revising
33
Bahasa Indonesia
CERITA PENDEK
34
Multiple Select
Manakah yang termasuk unsur intrinsik?
Gaya bahasa
Latar budaya
Latar masyarakat
Latar tempat
Sudut pandang
35
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua pelaku utama
orang ketiga serbatahu
orang ketiga terbatas/pengamat
36
Multiple Choice
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon
Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar
Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam
Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis
Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi
37
Multiple Select
Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?
Abstrak
Komplikasi
Koda
Orientasi
Resolusi
38
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...
Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah
Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji
Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji
Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta
Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal
39
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …
uraian langsung
perilaku tokoh
dialog antartokoh
tanggapan tokoh lain
pikiran tokoh
40
Multiple Choice
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...
Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami
Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya
Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya
Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya
Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja
41
Multiple Choice
“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...
Alur
Tema
Latar
Sudut pandang
Penokohan
42
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …
(1) dan (2)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
(5) dan (6)
(6) dan (7)
43
Multiple Choice
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …
Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai
Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan
Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan
Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya
44
Multiple Choice
Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.
Termasuk bagian apakah itu?
Abstrak
Koda
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
45
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …
(1), (2), (3), dan (6)
(1), (2), (3), dan (7)
(2), (3), (6), dan (8)
(2), (5), (6), dan (8)
(3), (5), (7), dan (8)
46
Multiple Choice
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
kasih sayang orang tua
hari pertama masuk sekolah
mendukung anak untuk sekolah
berangkat sekolah naik sepeda
sayang terhadap orang tua
47
Multiple Choice
Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita
Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi
Kakek dan aku bertengkar menahan marah
48
Multiple Select
Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?
Pre-writing
Proof-reading
Drafting
Writing
Revising
49
Bahasa Indonesia
CERITA PENDEK
Bahasa Indonesia
CERITA PENDEK
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 49
SLIDE
Similar Resources on Wayground
43 questions
[CTU101] BAB 1
Presentation
•
University
46 questions
Pelatihan Quizizz
Presentation
•
Professional Development
43 questions
Panduan Mode Kertas
Presentation
•
Professional Development
42 questions
pengenalan MS Excel
Presentation
•
3rd Grade
43 questions
汉语 Lesson 13 + 14
Presentation
•
1st Grade
46 questions
A2(1) 第6課レッスン
Presentation
•
University
42 questions
TEKS EKSPLANASI
Presentation
•
11th Grade
42 questions
1. Kehidupan Manusa Pada Masa Pra aksara
Presentation
•
7th Grade
Popular Resources on Wayground
25 questions
The Ultimate College Knowledge Quiz
Quiz
•
8th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
3rd Grade
15 questions
Fast food
Quiz
•
7th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Inferences
Quiz
•
4th Grade
19 questions
Classifying Quadrilaterals
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for World Languages
20 questions
Cartoon Characters!
Quiz
•
KG - 5th Grade
10 questions
Movie Trivia
Quiz
•
KG - 2nd Grade
15 questions
Memorial Day Trivia
Quiz
•
KG - 12th Grade
12 questions
Name that Candy
Quiz
•
KG - 12th Grade
20 questions
Guess The App
Quiz
•
KG - Professional Dev...
20 questions
Guess that Disney
Quiz
•
KG - 5th Grade
40 questions
Disney Trivia
Quiz
•
KG - University
10 questions
Disney Trivia
Quiz
•
KG - 12th Grade