Search Header Logo
TELADAN 4 IMAM MAZHAB

TELADAN 4 IMAM MAZHAB

Assessment

Presentation

Science

11th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Miftahul Fahmi

FREE Resource

7 Slides • 3 Questions

1

Suri teladan empat Imam Mazhab

Hukum yang didapat oleh seseorang dengan jalan ijtihad, dinamakan madzhabnya. Dalam sejarah pengkajian fiqih, bermunculan ahlu madzhab. Mereka, antara lain, ialah Hasan Basri, Ats-Tsaury ibnu Abi Laila, Al-Auza'iy, Al-Laitsi, dan Imam Dawud Al-Zhoiri. Akan tetapi dalam perkembangannya dari waktu ke waktu, setelah diadakan evaluasi dan seleksi, sampai saat ini hanya empat madzhab yang mendapat dukungan para ulama.

Aliran Ahli sunnah wal Jama'ah, dalam bidang Fikih mengikuti pada ajarannya 4 Mazhab. yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad.

Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia merupakan muslim yang bermaẓhab Syafi’i. Akan tetapi tidak jarang muslim yang tidak mengikuti Maẓhab Imam Syafi’i. Hal tersebut merupakan pilihan masing-masing dan kita harus bersikap saling menghargai atas perbedaan tersebut.

Contohnya adalah qunut pada waktu shubuh yang berhukum sunnah untuk Maẓhab Imam Syafi’i. Bagi imam lainnya qunut tidaklah perlu dilakukan. Dalam menanggapi perbedaan di atas, beberapa imam maẓhab telah memberikan contoh kepada kita. Seperti sikap menghargai dari Imam Malik meskipun muridnya Imam Syafi’i memiliki perbedaan pandangan terhadapnya. Adapun bab ini akan menjelaskam empat tokoh imam maẓhab yang terkenal yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.


media

2

Open Ended

Sebutkan nama-nama Imam 4 mazhab dalam bidang Fikih

3

Sanad / silsilah keilmuan 4 Imam Mujtahid dalam Mazhab fikih Islam

media

4

YANG HARUS KALIAN KUASAI DALAM MATERI INI ADALAH:


1.      Menghayati keteladanan sifat-sifat sufistik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal

2.      Mengamalkan sikap takwa, wara, zuhud, sabar, dan ikhlash yang mencerminkan sifatsifat kesufian Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal

3.      Mengevaluasi kisah kesufian Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal

4.      Menilai kisah kesufian Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kehidupan sehari-hari untuk teladan kehidupan sehari-hari

media

5

Biografi Imam Abu Hanifah

Nu’man bin Tsabit bin Marzuban atau Abu Hanifah lahir di kota Kufah pada tahun 80 H/699 H dan wafat di kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M .

Beliau tumbuh di dalam keluarga yang shaleh dan kaya. Ayahnya, Tsabit merupakan seorang pedagang sutra yang masuk Islam masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Sejak kecil beliau sudah hafal al-Qur’an dan menghabiskan waktunya untuk terus-menerus mengulangi hafalan agar tidak lupa. Pada bulan Ramadan, Abu Hanifah bahkan bisa mengkhatamkan al-Qur’an berkali-kali. Pada awalnya beliau menganggap bahwa belajar agama bukan tujuan utama karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdagang di pasar. Namun, setelah bertemu dengan seorang ulama besar, al-Sya’bi beliau mulai serius dalam belajar agama. Al-Sya’bi mengatakan kepada Abu Hanifah, “Kamu harus memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah para ulama karena kamu cerdas dan memiliki potensi yang sangat tinggi,” tutur al-Sya’bi. Setelah itu, Imam Abu Hanifah pun mengikuti halaqah Hammad bin Abu Sulaiman. Beliau belajar selama 18 tahun kepada Hammad sampai guru beliau wafat pada 120 H.

Imam Abu Hanifah pernah pergi dari Kufah menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kota Madinah. Dalam perjalanan ini, beliau berguru kepada, Atha` bin Abi Rabah, ulama terbaik di kota Makkah dari generasi tabi’in. Jumlah total guru Imam Abu Hanifah adalah tak kurang dari 4000 orang guru. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. Imam Abu Hanifah dikenal dengan ulama yang terbuka. Beliau mau belajar dengan siapapun semisal dengan tokoh muktazilah dan syi’ah. Meskipun demikian, beliau tidak fanatik dengan pemikiran gurunya. Sa’id bin Abi ‘Arubah mengatakan, “Saya pernah menghadiri kajian Abu Hanifah dan dia memuji Utsman bin Affan. Saya tidak pernah sebelumnya mendengar orang memuji Utsman di Kufah”. Sikap terbuka ini tertanam karena terbiasa hidup dengan kelompok yang berbeda. Abu Hanifah selalu berpesan kepada murid-muridnya agar selalu menjaga adab dan tutur kata ketika berhadapan dengan masyarakat, terutama orang yang berilmu. Pesan ini selalu disampaikan agar masyarakat bisa dekat dan tidak resah dengan pendapat yang disampaikan. Imam Abu Hanifah tidak mau menerima bantuan pemerintah. Seluruh biaya hidupnya ditanggung sendiri dan diperoleh dari hasil usaha dagangannya. Hal yang berbeda dengan Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki yang biaya hidupnya ditanggung seluruhnya oleh baitul mal. Abu Hanifah hidup dalam dua kekuasaan Umawiyah selama 5 tahun dan 18 tahun dengan Abbasiyah. Saat Bani Umawiyah atau pun Abbasiyah, Imam Abu Hanifah pernah ditawari jabatan hakim dan menolak tawaran tersebut. Hal tersebut membuatnya dipenjara dan dicambuk berkali-kali hingga akhirnya beliau keluar dari penjara dan wafat. 

media

6

Kisah Imam Abu Hanifah/ Imam Hanafi yang harus diteladani

a. Saling memuji dan berbaik sangka.

Ketika Imam Malik berkata, “Saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah, sesungguhnya ia benar-benar ahli fikih wahai orang Mesir, wahai al-Laits” Kemudian al-Laits pun menceritakan ucapan pujian Imam Malik kepada Imam Abu Hanifah. Lalu beliau menjawab, “Bagus sekali ucapan Imam Malik terhadap anda”. Dan beliau menambahkan, “Demi Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan jawaban yang benar dan zuhud serta sempurna melebihi Imam Malik”.

b. Bersikap terbuka dan mau menerima kritikan.

Imam Abu Hanifah merupakan seorang yang tidak menganggap bahwa pendapat-pendapat selain dirinya adalah salah. Bahkan beliau sering mengatakan:

Apa yang aku sampaikan ini adalah sekedar pendapat. Ini yang dapat aku usahakan semampuku. Jika ada pendapat yang lebih baik dari ini, ia lebih patut diambil.” Beliau juga pernah ditanya, “Tuan Abu Hanifah, apakah fatwa yang anda sampaikan telah sungguh-sungguh benar, tak ada keraguan lagi?”. Beliau pun menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu, barangkali keliru sama sekali

Kedua pernyataan Imam Abu Hanifah ini membuktikan bahwa beliau merupakan orang yang terbuka dan toleransi. Beliau pun bersedia mencabut atau meralat pendapatnya jika keliru dan beliau menyampaikan terima kasih kepada yang mengkoreksinya. Beliau juga tak merasa harga dirinya jatuh karena mengakui hal itu.


media

7

Open Ended

siapa nama asli Imam Ibnu Hanifah/ Imam Hanafi? sebutkan kisah keteladanan beliau yang bisa kita jadikan panutan?

8

Biografi Imam Malik Bin Anas

Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari alAsbahi al-Madani lahir di Madinah pada tahun 93 H / 714 M dan meninggal pada tahun 179 H / 800 M.

Beliau adalah pendiri Maẓhab Maliki yang ahli di bidang fikih dan hadis. Beliau juga merupakan penyusun kitab al-Muwaththa’ yang menghabiskan waktu 40 tahun dan kitabnya telah diperlihatkan kepada 70 ahli fikih di Madinah. Anas, ayah beliau merupakan periwayat hadis dan Malik bin ‘Amr, kakek beliau adalah ulama dari kalangan tabi’in. Kakeknya banyak meriwayatkan hadis dari tokoh-tokoh besar sahabat, seperti Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Abu Hurairah, Hasan bin Tsabit dan ‘Uqail bin Abi Thalib. Imam Malik merupakan pribadi yang tekun. Saat masih kecil, Imam Malik sudah hafal al-Qur’an lalu beliau beralih menghafal hadis setelahnya. Selain menghafal, Imam Malik juga rajin belajar ilmu fikih. Beliau belajar ilmu fikih kepada Rabi’ah bin Abdurrahman. Beliau juga belajar di halaqah Abdurrahman bin Hurmuz selama 13 tahun tanpa diselingi belajar kepada guru lain. Beliau juga tidak pernah mengembara ke negeri lain untuk mencari ilmu. Beliau hanya mencukupkan belajar ilmu kepada tokoh dan ulama dari kalangan tabiin di Madinah. Dengan ketekunan tersebut menjadikan beliau pribadi yang berpengetahuan luas. Ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pernah menimba ilmu dan belajar kepada beliau. Sebelum beliau wafat, beliau meninggalkan beberapa karya yang dapat dinikmati yaitu kitab Al-Muwattha` dan Maẓhab Maliki.

media

9

Kisah Imam Malik Yang Perlu Diteladani 


Kisah yang dapat diteladani dari Imam Malik ialah berani berkata tidak tahu kepada penanya. Hal ini penting karena sebagai seorang yang berpengetahuan terkadang sulit atau bahkan gengsi untuk mengatakan tidak tahu.

Sebuah riwayat dari Ibnu Mahdi menyatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik tentang sebuah masalah. Imam Malik menjawab, “Lā uhsinuhā (aku tidak mengerti masalah itu dengan baik)”. Lalu lelaki itu berkata lagi, “Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk bertanya kepadamu tentang masalah ini”. Imam Malik lalu berkata kepadanya, “Ketika kau kembali ke tempat tinggalmu, kabarkan pada masyarakat di sana bahwa aku berkata kepadamu bahwa aku tidak mengerti dengan baik masalah tersebut”.


media

10

Open Ended

siapakah nama asli Imam Malik? sebutkan judul kitab karangan beliau

Suri teladan empat Imam Mazhab

Hukum yang didapat oleh seseorang dengan jalan ijtihad, dinamakan madzhabnya. Dalam sejarah pengkajian fiqih, bermunculan ahlu madzhab. Mereka, antara lain, ialah Hasan Basri, Ats-Tsaury ibnu Abi Laila, Al-Auza'iy, Al-Laitsi, dan Imam Dawud Al-Zhoiri. Akan tetapi dalam perkembangannya dari waktu ke waktu, setelah diadakan evaluasi dan seleksi, sampai saat ini hanya empat madzhab yang mendapat dukungan para ulama.

Aliran Ahli sunnah wal Jama'ah, dalam bidang Fikih mengikuti pada ajarannya 4 Mazhab. yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad.

Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia merupakan muslim yang bermaẓhab Syafi’i. Akan tetapi tidak jarang muslim yang tidak mengikuti Maẓhab Imam Syafi’i. Hal tersebut merupakan pilihan masing-masing dan kita harus bersikap saling menghargai atas perbedaan tersebut.

Contohnya adalah qunut pada waktu shubuh yang berhukum sunnah untuk Maẓhab Imam Syafi’i. Bagi imam lainnya qunut tidaklah perlu dilakukan. Dalam menanggapi perbedaan di atas, beberapa imam maẓhab telah memberikan contoh kepada kita. Seperti sikap menghargai dari Imam Malik meskipun muridnya Imam Syafi’i memiliki perbedaan pandangan terhadapnya. Adapun bab ini akan menjelaskam empat tokoh imam maẓhab yang terkenal yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.


media

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 10

SLIDE