Search Header Logo
Belum Berjudul

Belum Berjudul

Assessment

Presentation

Religious Studies

7th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Abdullah Abdullah

FREE Resource

6 Slides • 0 Questions

1

media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media

EMPAT TELADAN NABI IBRAHIM AS

Khutbah Idul Adha 1445 H

Ketua Departemen Diklat PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah,
Wakil Ketua PB KBPII, Sekretaris Dewan Syura IKADI (Ikatan Dai
Indonesia), Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat, Bidang Dakwah

KODI DKI Jakarta, Penulis 62 Buku, Trainer Dai, Manajemen

Majelis Taklim dan Manajemen Masjid

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah swt, hari ini mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk menikmati ibadah
shalat idul adha, insya Allah kita lanjutkan setelah ini dengan penyembelihan hewan qurban. Saat ini,
kaum muslimin dari berbagai belahan dunia sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di tanah
suci. Apa yang kita lakukan merupakan upaya untuk menguatkan rasa dekat kepada Allah swt, rasa dekat
yang membuat kita tidak mau menyimpang dari segala ketentuan-Nya, meskipun peluangnya ada.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beliau telah meneladani Nabi
Ibrahim as dan Ismail as, hal ini karena pada sosok Nabi Ibrahim as dan orang yang bersama beliau
terdapat teladan yang luar biasa untuk kita sepanjang zaman.

2

media
media
media
media
media
media
media
media
media

Siapapun orangnya, sangat membutuhkan figur-figur yang bisa diteladani, termasuk Nabi Muhammad
saw. Karena itu, Allah swt menjadikan Nabi Ibrahim as dan keluarganya sebagai teladan bagi beliau yang
tentu saja bagi kita semua, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Karena itu, momentum hari Raya Idul Adha dan Ibadah haji tidak bisa dilepaskan dari sosok Nabi Ibrahim
as. Dalam konteks inilah, ada banyak poin keteladanan dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang harus
kita ambil untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam buku Belajar Karakter Dari Para Nabi, Ust. Drs. H. Ahmad Yani menguraikan banyak poin
keteladanan dari Nabi Ibrahim as. Pada kesempatan yang singkat ini, kita bahas empat pelajaran dari
Nabi Ibrahim as yang merupakan sosok teladan abadi. Pertama, Memiliki Idealisme Berkelanjutan.
Sejak muda beliau sudah mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan tidak bisa membiarkan kebathilan,
apalagi dalam bentuk kemusyrikan, yakni menuhankan selain Allah swt. Karenanya, ia hancurkan berhala
agar masyarakat dan para pemimpin mau berpikir atas kesesatan itu. Ketika itu, Ibrahim masih sangat
muda, hal itu tergambar dalam firman Allah swt:

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotongpotong, kecuali yang terbesar dari
patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata:
Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang
mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS Al Anbiya [21]:58-60).

Kesimpulan ini kita dapatkan dari kisah Nabi Ibrahim yang

menghacurkan berhala

saat

masih muda dan menunjukkan ketaatan yang luar bisa dengan menyembelih
Ismail saat sudah amat tua. Ibnu Abbas seperti dikutip Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar
menyebutkan tentang pentingnya masa muda. “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan anak
muda. Dan seorang yang alim tidaklah diberi Allah ilmu melainkan diwaktu muda.”

Karena itu, sejak muda seharusnya seseorang sudah membersihkan dirinya dengan taubat dan ini
merupakan sesuatu yang sangat istimewa sehingga Allah swt lebih mencintainya ketimbang orang tua
yang taubat, Rasulullah saw bersabda:

Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat (HR. Ad
Dailami).

Idealisme yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia, tapi
bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah swt
untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak
yang sangat didambakan sejak lama. Maka Ibrahimpun melaksanakan perintah Allah swt yang terasa
lebih berat dari sekadar menghancurkan berhala-berhala dimasa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita

3

media
media
media
media

bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam
kehidupan di negeri kita, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman,
tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu
ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia
berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi.

Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme
atau dengan kata lain tidak istiqomah sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam
langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh
sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik, karena itu Rasulullah saw mengingatkan dalam satu
haditsnya:

Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat
baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim.
Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat
kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya (HR.
Tirmidzi).

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt.

Pelajaran Kedua dari Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah Baik Sangka, baik kepada Allah swt, diri
sendiri maupun orang lain. Nabi Ibrahim as mencontohkan kepada kita tentang berbaik sangka kepada
Allah swt sehingga apa yang diperintah-Nya siap dilaksanakan meskipun berat dan terkesan tidak baik.
Perintah menempatkan isteri dan anaknya ke Makkah yang waktu itu belum ada kehidupan merupakan
sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan, apalagi perintah menyembelih anaknya yang bernama
Ismail.

Nabi Ibrahim berbaik sangka kepada Allah swt, ia yakin, dibalik perintah pasti ada kemaslahatan atau
kebaikan yang ingin diwujudkan Allah swt. Baik sangka seperti ini melahirkan ketataan sehingga seberat
apapun perintah itu, Ibrahim as melaksanakannya. Karena itu kitapun harus berbaik sangka kepada Allah
swt. Keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian buat kita agar derajat kita lebih tinggi.

Sikap baik sangka ini diikuti oleh isterinya Siti Hajar, iapun siap ditempatkan di Makkah karena hal itu
memang perintah Allah swt. Karenanya, sesulit apapun kondisi, kehidupan harus dilanjutkan dengan
usaha yang dalam prosesi haji ada sai yang artinya usaha.

Ketiga yang merupakan pelajaran dari Nabi Ibrahim as adalah menghidupkan suasana dialogis Dalam
Keluarga. Meskipun berbaik sangka kepada Allah swt, melaksanakan perintah-Nya bila ada kaitan dengan
orang lain harus didialogkan. Maka, meskipun Nabi Ibrahim sudah yakin akan perintah Allah swt yang
harus dilaksanakannya, tapi karena harus melibatkan orang lain, dalam hal ini Ismail, maka ia berdialog.
Karena itu, diantara sisi menarik dari sosok nabi Ibrahim adalah mewujudkan suasana dialogis dalam
kehidupan keluarga. Beliau sudah yakin atas perintah menyembelih Ismail, tidak perlu minta pendapat.
Tapi, ia minta pendapat kepada anaknya yang baru gede. Bahkan, Ibrahim bukan hanya sudah yakin akan

4

media
media
media
media

perintah itu, tapi ia juga orang yang sudah sangat tua, bahkan seorang Nabi yang untuk apa lagi meminta
pendapat anaknya, Ismail.

Dalam kehidupan sekarang, suasana dialogis dalam keluarga

amat dibutuhkan.

Kesibukan

rutin

telah menghilangkan suasana dialogis ini, banyak orang tua yang hanya bersifat instruktif,

akibatnya melakukan kebaikan tidak didasari oleh kesadaran dan pemahaman, tapi karena instruksi.
Lebih tragis, instruksi orang tua pun tidak ada, karena banyak orang tua tidak melakukan apa yang harus
diinstruksikan. Bagaimana mungkin orang tua menginstruksikan anaknya untuk shalat ke masjid bila ia
sendiri tidak ke masjid. Bagaimana mungkin orang tua melarang anaknya merokok bila ia sendiri sudah
biasa merokok, dan begitulah seterusnya.

Suasa dialogis semakin hilang dari keluarga kita karena kesibukan semakin bertambah dengan
Handphone dan media sosial, meskipun anggota keluarga kumpul, tetap saja tidak berdialog, semua
menunduk ke arah HP masing-masing. Ada yang aneh pada keluarga kita, dulu ketika anak masih bayi,
belum bisa bicara, tapi kita sudah mengajaknya bicara, sekarang anak sudah besar, tapi tidak diajak
bicara, apalagi dimintai pendapat tentang sesuatu. Bahkan, sekarang ada anak berpendapat malah
dibentak oleh orang tuanya agar ia diam, karena dianggap tidak tahu persoalan.

Ibrahim sudah menjadi nabi dan rasul, usianya pun sudah tua dengan pengalaman hidup yang banyak,
tapi ia minta pendapat pada anaknya. Berapa banyak orang tua yang jangankan minta pendapat, diberi
pendapat yang baik oleh anaknya saja ia tidak suka. Begitu juga sebagai suami terhadap istrinya.
Begitulah diantara kesan dari kisah Nabi Ibrahim as yang difirmankan Allah swt:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu." Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar". (QS ash shaffat [37]:102).

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Keempat, pelajaran dari Nabi Ibrahim adalah Memiliki Ketajaman Hati. Hati yang tajam membuat
perintah dan larangan tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa yang terang. Isyarat saja sudah
cukup. Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contohnya. Karena itu, perintah menyembelih Ismail cukup
disampaikan oleh Allah swt dengan isyarat mimpi. Sedangkan Ibrahim menyampaikan perintah itu
dengan bercerita kepada Ismail dan iapun merespon mimpi sang ayah sebagai perintah yang harus
dilaksanakan.

Sekarang banyak orang yang hatinya tumpul, karenanya bahasa isyarat tidak nyambung, bahkan perintah
dan larangan yang terang saja masih juga tidak nyambung. Lampu lalu lintas, garis-garis di jalan raya
merupakan diantara contoh aturan yang menggunakan bahasa isyarat, terlalu banyak orang yang tidak
nyambung sehingga lalu lintas kita makin kacau.

Salah satu isyarat yang harus kita tangkap dari ibadah haji adalah bahwa ini merupakan ibadah bergerak.
Jamaah haji harus bergerak dari rumahnya, dari kampungnya menuju asrama haji. Setelah beberapa jam

5

media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media

di asrama haji, mereka harus bergerak lagi ke bandara. Setelah duduk di pesawat, pesawat itupun
digerakkan lagi untuk terbang ke Arab Saudi. Setiba di Makkah, para jamaah bergerak menuju Masjid Al
Haram, bergerak untuk tawaf dan sai. Pada tanggal 8 Zulhijjah, semua jamaah bergerak lagi menuju
Padang Arafah untuk wukuf keesokan harinya, termasuk jamaah yang sakit harus diberangkatkan untuk
wukuf. Setelah tiba waktu maghrib, jamaah haji bergerak lagi menuju muzdalifah untuk mabit
(bermalam), lalu ke Mina untuk melontar hingga tawaf ifadah, berikutnya tawaf wada untuk
meninggalkan Makkah dan kembali ke kampung halaman masing-masing.

Peribadatan dalam Islam mengandung isyarat yang harus diwujudkan sesudah beribadah. Dalam kaitan
haji, ibadah ini adalah ibadah bergerak. Karena itu, sesudah haji, Pak Haji dan Bu Haji seharusnya
menjadi tokoh-tokoh pergerakan dalam kebaikan. Masyarakat kita memang harus digerakkan agar mau
melakukan aktivitas kebaikan yang bermanfaat. Haji yang mabrur adalah haji yang membuat seseorang
bertambah kebaikannya, bahkan bukan hanya ia bertambah baik, tapi juga menggerakkan orang lain
untuk melakukan kebaikan. Sebagai contoh, bila gelas diisi kopi, susu, gula dan air panas, tidak otomatis
menjadi kopi susu yang enak. Kenapa?, karena belum diaduk atau belum digerakkan. Karena itu, kita
semua, apalagi orang yang sudah beribadah haji harus mau menggerakan diri, keluarga dan masyarakat
guna melakukan sejumlah kebaikan, kebaikan yang sebanyak-banyaknya.

Inilah diantara pelajaran berharga dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang harus kita wujudkan.
Akhirnya, marilah kita sama-sama berdoa:

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang
masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar,
Dekat dan Mengabulkan do’a.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan.
Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan.
Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun.
Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki
sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami
dari kaum yang dzalim dan kafir.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami.
Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami
yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami
dalam setiap

6

media
media
media
media
media
media
media
media

kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari
segala kejahatan.

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i
yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan
mengalami kerugian

Ya Allah,

anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan
yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media
media

EMPAT TELADAN NABI IBRAHIM AS

Khutbah Idul Adha 1445 H

Ketua Departemen Diklat PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah,
Wakil Ketua PB KBPII, Sekretaris Dewan Syura IKADI (Ikatan Dai
Indonesia), Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat, Bidang Dakwah

KODI DKI Jakarta, Penulis 62 Buku, Trainer Dai, Manajemen

Majelis Taklim dan Manajemen Masjid

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah swt, hari ini mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk menikmati ibadah
shalat idul adha, insya Allah kita lanjutkan setelah ini dengan penyembelihan hewan qurban. Saat ini,
kaum muslimin dari berbagai belahan dunia sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di tanah
suci. Apa yang kita lakukan merupakan upaya untuk menguatkan rasa dekat kepada Allah swt, rasa dekat
yang membuat kita tidak mau menyimpang dari segala ketentuan-Nya, meskipun peluangnya ada.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beliau telah meneladani Nabi
Ibrahim as dan Ismail as, hal ini karena pada sosok Nabi Ibrahim as dan orang yang bersama beliau
terdapat teladan yang luar biasa untuk kita sepanjang zaman.

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 6

SLIDE