Search Header Logo
Belum Berjudul

Belum Berjudul

Assessment

Presentation

History

10th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

syahreni 576

FREE Resource

9 Slides • 0 Questions

1

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

51

JPFS7(1)202451-59

Jurnal Pendidikan Fisika dan Sains

(JPFS)

Journal homepage: http:// journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpfs

Pengembangan Modul Ajar Fisika Kurikulum Merdeka

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1

1Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan, Universitas Garut

*E-mail: irvan.irvani@uniga.ac.id

DOI: https://doi.org/10.52188/jpfs.v7i1.562

Accepted: 3 Maret 2024

Approved: 15 Maret 2024

Published: 31 Maret 2024

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka, yakni
Modul Ajar Fisika pada materi Energi Alternatif yang memenuhi kriteria viliditas. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kuantitatif yang diinterpretasi dan dianalisis secara kualitatif. Modul
Ajar dikembangkan dengan model pengembangan 4D yang disederhanakan menjadi 3D (Define,
Design, dan Develop). Modul Ajar ini dikembangkan berdasarkan ketentuan dan karakteristik yang
mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran di Kurikulum Merdeka. Instrumen pengumpulan data
berupa lembar validasi dan angket. Lembar validasi meliputi validasi konten dan validasi bahasa.
Validasi dilakukan oleh tiga orang ahli dengan keahlian pendidikan fisika dan pendidikan bahasa.
Adapun angket diberikan kepada praktisi yakni dua orang guru mata pelajaran fisika di salah satu
sekolah menengah atas di Kabupaten Garut. Data yang diperoleh kemudian diolah secara kuantitatif
dengan menghitung persentase tiap aspek dan persentase keseluruhan. Hasil pengolahan kemudian
diinterpretasi dan dianalisis secara kualitatif untuk menentukan validitas produk. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa berdasarkan uji validitas, Modul Ajar Fisika Kurikulum Merdeka dinyatakan
sangat valid dengan persentase tingkat validitas 82,7%. Respons dari praktisi juga menunjukkan hal
positif dari aspek konten fisika maupun aspek keterbacaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa modul
yang dikembangkan telah valid dan dapat digunakan sebagai modul pembelajaran..

Kata kunci: Energi Alternatif, Kurikulum Merdeka, Model 3D, Modul Ajar.

ABSTRACT

This research was conducted to develop the Merdeka Curriculum learning tools, namely the Physics
Teaching Module on Alternative Energy material that meets the validity criteria. The research method
used is a quantitative method which is interpreted and analyzed qualitatively. The Teaching Module
was developed using a 4-D development model which was simplified to 3-D (Define, Design and
Develop). This Teaching Module was developed based on provisions and characteristics that refer to
the learning principles in the Independent Curriculum. Data collection instruments include validation
sheets and questionnaires. The validation sheet includes content validation and language validation.
Validation was carried out by three experts with expertise in physics education and language
education. The questionnaire was given to practitioners, namely two physics subject teachers at one of
the high schools in Garut Regency. The data obtained was then processed quantitatively by calculating
the percentage of each aspect and the overall percentage. The processing results are then interpreted
and analyzed qualitatively to determine product validity. The research results showed that based on
the validity test, the Independent Curriculum Physics Teaching Module was declared very valid with a
validity percentage of 82.7%. Responses from practitioners also showed positive things from the
physics content aspect and readability aspect. This shows that the module developed is valid and can
be used as a learning module

2

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

52

Keyword: 3D Models, Alternative Energy, Independent Curriculum, Teaching Modules

@2024 Pendidikan Fisika FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon

__________________________________________________________________________________

PENDAHULUAN

Pendidikan tidak hanya menjadi fondasi penting bagi adaptasi manusia terhadap perubahan

zaman, tetapi juga merupakan kunci untuk memahami dan menghadapi kompleksitas kehidupan
modern (Maulida, 2022). Setiap individu membutuhkan pendidikan yang menyeluruh untuk dapat
bersaing dan berkontribusi secara maksimal dalam masyarakat yang terus berkembang. Sejalan dengan
itu, studi fisika memegang peranan penting sebagai landasan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, menekankan perlunya penerapan strategi pembelajaran yang efektif guna memperdalam
pemahaman tentang fenomena alam sehari-hari dan meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan
tantangan yang dihadapi (Irvani and Warliani, 2022; Syahdah and Irvani, 2023).
Dengan pendidikan yang berkualitas dan pemahaman yang mantap dalam bidang fisika, individu dapat
dikembangkan secara holistik untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era modern ini
(Amarulloh et al., 2023). Melalui kombinasi pendidikan yang komprehensif dan penguasaan konsep
fisika yang kuat, diharapkan generasi masa depan akan mampu menjadi agen perubahan yang mampu
menanggapi dinamika masyarakat dan teknologi dengan keberanian dan keterampilan yang dibutuhkan.

Pemerintah telah mengalihkan fokus pendidikan dari guru menjadi peserta didik melalui

Kurikulum Merdeka, di mana peserta didik ditempatkan sebagai poros utama pembelajaran. Dalam
implementasinya, kurikulum ini disusun untuk menyesuaikan proses pembelajaran sesuai dengan
karakteristik dan pencapaian peserta didik (Setiawan et al., 2022). Peran guru dalam konteks ini berubah
menjadi seorang fasilitator yang bertanggung jawab dalam mengelola pembelajaran di kelas serta
berkontribusi besar terhadap kualitas pendidikan di sekolahnya. Hal ini mengharuskan guru untuk
memiliki kemampuan merancang dan mempersiapkan segala aspek agar proses pembelajaran dapat
berjalan efektif (Rahimah, 2022).

Perencanaan yang matang sebelum melaksanakan pembelajaran fisika sangat vital karena dapat

membantu guru dalam merancang strategi efektif, menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa, dan
menciptakan lingkungan belajar yang memadai (Wahidin, 2024). Dengan perencanaan yang baik, guru
dapat mengidentifikasi tujuan pembelajaran, metode pengajaran yang sesuai, serta menyiapkan sumber
daya yang diperlukan untuk memastikan pembelajaran fisika berjalan lancar dan efisien, sehingga
memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Dokumen perencanaan pembelajaran
dalam konteks Kurikulum Merdeka kini berubah istilah menjadi modul ajar.

Modul ajar menjadi topik perbincangan utama di semua jenjang pendidikan mulai dari SD,

SMP, hingga SMA saat ini. Modul ajar merupakan materi pembelajaran yang dirancang secara cermat
dan terstruktur untuk mendukung konsep pengajaran kepada siswa (Sulaeman, Nuryadin and Efwinda,
2023). Meskipun pentingnya, banyak guru masih menghadapi kesulitan dalam menyusun dan
mengembangkan modul ajar sesuai dengan pendekatan Kurikulum Merdeka. Kekurangan pemahaman
dalam penyusunan modul ajar dapat mengakibatkan penyampaian materi yang tidak terstruktur dan
pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa (Ulva and Fitri, 2022).

Modul ajar yang dirancang dengan baik dapat mencakup elemen yang mendorong keterlibatan

aktif siswa, seperti tugas proyek, latihan interaktif, atau pertanyaan reflektif (Nurul Zainab, 2021).
Dengan pengembangan modul ajar, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih
terorganisir, fleksibel, dan efektif bagi siswa (Arifin and Sukati, 2020). Pengembangan modul ajar yang
baik juga dapat membatu memcapai tujuan pembelajaran dengan efektif dan efisien.

Ketersediaan contoh modul ajar fisika yang sesuai dengan prinsip Kurulum Merdeka masih

terbatas (Eveline, Saputro and Jayanti, 2023). Hal ini mencerminkan tantangan dalam mengadaptasi
kurikulum yang berfokus pada peserta didik. Hal ini juga menandakan perlunya lebih banyak upaya
dalam pengembangan materi pembelajaran yang mendukung pendekatan baru dalam proses belajar-
mengajar. Keterbatasan contoh modul ajar ini dapat menghambat guru dalam menyusun bahan ajar
yang responsif terhadap kebutuhan siswa serta mengakibatkan kesenjangan antara harapan kurikulum
dan praktik pembelajaran di lapangan (Sipahutar, 2024). Perlu dorongan lebih lanjut dalam
menghasilkan sumber belajar yang sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka guna meningkatkan
kualitas pendidikan fisika yang inklusif dan relevan.

3

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

53

Berdasarkan latar belakang tersebut, pengembangan modul ajar fisika yang mengacu pada

Kurikulum Merdeka masih penting dan relevan untuk dilakukan. Oleh karena itu, penulis melakukan
pengembangan modul ajar fisika Fase E pada materi energi alternatif dengan tujuan untuk menghasilkan
produk perangkat pembelajaran fisika yang valid dan dapat digunakan sebagai panduan pelaksanaan
pembelajaran..

METODE

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dianalisis melalui interpretasi kualitatif.

Pengembangan produk dilakukan dengan model pengembangan 4D (Thiagarajan, 1974). Model
pengemabnagn 4D meliputi empat tahapan yakni: define, design, develop, dan disseminate. Namun,
karena penelitian ini hanya menguji kelayakan modul, tahap disseminate tidak dilakukan. Tujuan
penelitian juga telah dicapai pada tahap pengembangan (Setyandaru, Wahyuni and Putra, 2017).

Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah instrumen penelitian non-tes, seperti lembar

validasi dan lembar penilaian. Sebelum dipergunakan untuk pengumpulan data, instrumen penelitian
harus melewati proses validasi guna memastikan ketepatannya. Proses validasi dimulai dengan tahap
pendefinisian (define) yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, kekurangan dalam pembelajaran
fisika, dan kebutuhan akan materi ajar tambahan, yang pada akhirnya memperlihatkan perlunya
pengembangan modul ajar (Warliani, Irvani and Khoiril, 2023).

Instrumen lembar validasi meliputi empat aspek penilaian yaitu isi konten, bahasa, kegrafikan,

dan penyajian. Indikator untuk setiap aspek disesuaikan dengan hasil pendefinisian awal dari tujuan
pembelajaran dan prinsip pembelajaran. Hal ini dilakukan berdasarkan pedoman penyusunan
pembelajaran dan asesmen kurikulum merdeka.

Tahap perancangan (design) merupakan langkah kedua yang bertujuan untuk merancang

perangkat pembelajaran, menghasilkan contoh perangkat pembelajaran (prototipe) terkait materi energi
alternatif. Kegiatan dalam tahap ini mencakup pemilihan media, format, dan perencanaan awal. Pada
tahap perancangan, hasil dari tahap pendefinisian disesuaikan dengan karakteristik modul ajar yang
sesuai dengan pedoman pengajaran dan evaluasi Kurikulum Merdeka.

Tahap ketiga merupakan tahap pengembangan (develop) di mana modul ajar fisika Kurikulum

Merdeka dibuat atau dikembangkan serta divalidasi (Hidayati Azkiya et al., 2022). Tujuan dari tahap
ini adalah menghasilkan modul ajar fisika yang valid sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Evaluasi
dilakukan melalui penilaian oleh lima ahli, terdiri dari tiga dosen Pendidikan Fisika dan dua guru fisika,
dengan hasil penilaian yang dianalisis menggunakan persamaan berikut.

𝑃𝐾 = 𝑆!

𝑆"#$

𝑥 100%

Keterangan:
𝑃𝐾: Persetase Kelayakan (%)

𝑆!: Skor penilaian

𝑆"#$ : Skor maksimal

Selanjutnya hasil penilaian ini diinterpretasikan ke dalam lima kriteria kelayakan seperti ditunjukkan
pada Tabel 1.

Tabel 1. Interpretasi Data Kelayakan Modul
K (%)

Kriteria

81% - 100%

Sangat Layak

61% - 80%

Layak

41% - 60%

Cukup Layak

21% - 40%

Tidak Layak

0% - 20%

Sangat Tidak Layak

(Puspitasari, Hamdani and Risdianto, 2020)

Modul Ajar Fisika Kurikulum Merdeka materi energi alternatif yang dikembangkan dapat

dikatakan baik/layak jika memenuhi kriteria kelayakan isi dengan persentase ≥ 61%. Hal ini mengacu
pada interpretasi kriteria kelayakan pada Tabel 1.

4

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

54

HASIL

Hasil penelitian disajikan berdasarkan tahap pengembangan 3D yang diperoleh dari

penyederhanaan model 4D. Tahapan-tahapan pengembangan modul ajar fisika kurikulum merdeka
adalah sebagai berikut.
1.Tahap Define (Pendefinisian)

a.Analisis awal dilakukan saat mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan Lapangan Persekolahan di

salah satu SMA negeri di Kabupaten Garut pada semester ganjil tahun ajaran 2022/2023.
Observasi menunjukkan rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran yang berdampak pada
rendahnya hasil belajar. Aktivitas siswa yang kurang aktif sering kali dipengaruhi oleh kurangnya
perencanaan atau desain pembelajaran yang mendukung. Sejalan dengan pandangan (Ulva and
Fitri, 2022), kurangnya persiapan dalam penyusunan modul ajar dapat mengakibatkan
penyampaian materi yang tidak terstruktur dan proses pembelajaran yang kurang menarik bagi
siswa.

b.Analisis dokumen melibatkan evaluasi modul ajar sebelumnya untuk mengidentifikasi

kekurangan dan mengembangkan modul ajar fisika tentang materi energi alternatif dengan
perbaikan yang sesuai. Penulis diminta untuk menambahkan sintaks pembelajaran yang
sebelumnya tidak termasuk dalam modul ajar, untuk memastikan kelancaran proses pembelajaran
sesuai rencana. Perbedaan utama dalam modul ajar yang diperbarui adalah penekanan pada
Lembar Kerja Peserta Didik, yang disesuaikan dengan karakteristik siswa yang beragam dalam
setiap pertemuan. Dengan menyusun materi pembelajaran secara terstruktur, modul ajar energi
alternatif yang dikembangkan menawarkan panduan yang jelas bagi pendidik dalam
menyampaikan materi.

c.Dalam analisis peserta didik, ditemukan sejumlah masalah dalam proses pembelajaran. Observasi

pada siswa kelas X di sebuah SMA negeri di Kabupaten Garut menunjukkan pandangan ini, yang
didukung oleh pengalaman dan penelitian sebelumnya. Fisika dianggap sulit karena memerlukan
hafalan rumus yang banyak, ditambah dengan tekanan untuk menguasai materi pelajaran yang
beragam. Akibatnya, minat siswa terhadap pelajaran fisika menurun karena kesulitan yang
mereka hadapi.

d.Analisis tugas ini berfokus pada silabus mata pelajaran fisika yang mencakup materi energi

alternatif, dengan penekanan pada beberapa kriteria tujuan pembelajaran yang harus dipenuhi.
Analisis tugas ini difokuskan pada penelusuran silabus mata pelajaran fisika yang mencakup
materi energi alternatif, dengan tujuan yang jelas untuk memastikan pencapaian kriteria
pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rangka memberikan pedoman yang komprehensif bagi
proses pengajaran dan pembelajaran.

e.Analisis konsep dilakukan untuk mengevaluasi kecocokan sumber belajar dengan kebutuhan

peserta didik, dengan menggunakan buku teks fisika Kurikulum Merdeka kelas X sebagai sumber
pembelajaran. Hasil analisis ini memunculkan penyajian materi energi alternatif dalam bentuk
modul ajar sebagai pendekatan yang berbeda dan diharapkan lebih sesuai dengan karakteristik
dan kebutuhan belajar siswa.

f.Perumusan tujuan pembelajaran merupakan langkah penting yang menentukan apa yang harus

dicapai, dikuasai, dan dipahami siswa setelah proses pembelajaran. Proses perumusan tujuan ini
didasarkan pada data yang diperoleh dari analisis capaian pembelajaran, analisis peserta didik,
analisis tugas, dan analisis konsep, sehingga menyediakan landasan yang kuat untuk merancang
pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

2.Tahap Design (Perancangan)

a.Pada tahap penyusunan tes, peneliti merancang asesmen awal yang berperan sebagai instrumen

penilaian untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi energi alternatif. Langkah ini
krusial untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dan mendapatkan gambaran yang jelas
mengenai kebutuhan pembelajaran selanjutnya.

b.Dengan merujuk pada analisis tugas, analisis konsep, analisis peserta didik, dan ketersediaan

sarana di sekolah, diputuskan untuk menggunakan buku guru dan buku siswa IPA kelas X,

5

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

55

laptop/komputer, proyektor, papan tulis, spidol, serta peralatan eksperimen sebagai media
pembelajaran. Pemilihan media ini didasarkan pada kebutuhan pembelajaran yang teridentifikasi
dan sumber daya yang tersedia untuk mendukung proses pengajaran yang efektif.

c.Saat merancang modul ajar, peneliti memilih format yang disesuaikan dengan Kurikulum

Merdeka, mencakup aspek identitas modul, kompetensi awal, Profil Pelajar Pancasila, sarana dan
prasarana, target siswa, model pembelajaran, tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna,
pertanyaan pendorong, materi ajar, kegiatan pembelajaran, asesmen, refleksi pembelajaran,
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), pengayaan, dan remedial. Pemilihan format ini didasarkan
pada prinsip-prinsip kurikulum yang berlaku dan bertujuan untuk memberikan panduan yang
komprehensif dalam proses pembelajaran.

d.Dalam desain awal, peneliti merancang modul ajar fisika yang terdiri dari delapan sesi

pertemuan. Materi dimulai dengan penjelasan keterampilan yang dibutuhkan selama
pembelajaran, diikuti dengan uraian konsep untuk memfasilitasi guru dalam proses mengajar,
serta contoh-contoh aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan modul ajar ini
melibatkan beberapa tahap revisi sebelum divalidasi oleh dosen ahli, memastikan kualitas dan
relevansi materi yang disajikan.

3.Tahap Develop (Pengembangan)

a.Validasi oleh dosen ahli dilakukan sebelum modul ajar fisika Kurikulum Merdeka tentang materi

energi alternatif digunakan dalam proses pembelajaran. Tujuan dari validasi ini adalah
memastikan bahwa modul ajar yang dikembangkan dapat efektif digunakan dalam pembelajaran,
sesuai dengan standar kurikulum dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

b.Setelah uji validasi oleh dosen ahli, dilakukan revisi berdasarkan masukan yang diberikan untuk

memastikan modul ajar menjadi valid dan layak. Tahap selanjutnya adalah penilaian produk oleh
guru mata pelajaran fisika setelah melalui proses validasi ahli, sehingga memungkinkan
penyempurnaan lebih lanjut sebelum modul ajar digunakan secara luas dalam pembelajaran.

c.Penilaian oleh guru fisika terhadap modul ajar fisika Kurikulum Merdeka tentang materi energi

alternatif menjadi dasar bagi revisi kedua dan penyempurnaan hasil penilaian guru tersebut.
Tujuan dari penilaian ini adalah untuk mengevaluasi kelayakan modul ajar fisika Kurikulum
Merdeka materi energi alternatif, memastikan bahwa materi yang disajikan sesuai dengan
kebutuhan dan standar pembelajaran.

d.Tahap terakhir dari penelitian dan pengembangan adalah revisi dan penyempurnaan berdasarkan

hasil penilaian dari guru fisika. Komentar, saran, dan evaluasi dari ahli dan guru fisika menjadi
dasar untuk meningkatkan modul ajar fisika Kurikulum Merdeka tentang materi energi alternatif.
Produk akhir yang dihasilkan berupa modul ajar yang valid dan dapat disebarkan serta digunakan
secara luas oleh siswa, memastikan kualitas dan keberlanjutan pembelajaran.

Penelitian ini berfokus pada pengembangan modul ajar fisika Kurikulum Merdeka sebagai alat

perencanaan pembelajaran bagi guru. Modul ajar ini menyajikan materi energi alternatif dan disusun
dalam format buku, sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka untuk mendukung proses
pembelajaran yang lebih efektif dan relevan. Tampilan halaman depan Modul Ajar yang telah
dikembangkan dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

6

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

56

Gambar 1. Halaman Depan Modul Ajar Fisika

Desain halaman depan modul ajar ini dibuat dengan menggunakan aplikasi canva dengan

menekankan ilustrasi yang sederhana namun mencerminkan isi konten fisika di dalamnya. Energi
alternatif digambarkan dengan adanya beberapa ilustrasi tiang listrik dan kincir angin. Warna hijau
menggambarkan green energy yang merupakan fokus dari energi alternatif yang ramah lingkungan.
Sedangkan bentuk setengah lingkaran melambangkan bentuk bumi akan utuh dengan terciptanya
energi-energi alternatif yang ramah lingkungan.

Untuk isi modul ajar seluruhnya mengacu pada komponen-komponen inti dan pendukung yang

tertera pada panduan penyusunan modul ajar serta prinsip pembelajaran dan asesmen kurikulum
merdeka. Alur penyusunan modul ini meliputi penurunan Capaian Pembelajaran menjadi Alur Tujuan
Pembelajaran, dilanjutkan menjadi Tujuan Pembelajaran dan Desain Pembelajaran. Adapun contoh
tampilan isi Modul Ajar yang telah dikembangkan dapat dilihat pada Gambar

Gambar 2. Tampilan Isi Modul Ajar Fisika

7

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

57

Data hasil penilaian modul ajar fisika Kurikulum Merdeka diperoleh dari 3 orang dosen

Pendidikan Fisika serta 2 guru mata pelajaran fisika kelas X SMA. Data yang diperoleh berupa data
kuantitatif yang berupa lembar penilaian. Hasil penilaian lima validator terhadap modul ajar fisika
Kurikulum Merdeka tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Penilaian Kelayakan Modul Ajar Fisika

No.

Penilaian

Persentase Aspek

Persentase Total

1. Ahli Materi

Kelayakan Isi

87%
83%
Penyajian

77%

2. Ahli Bahasa

Kebahasaan

72%

72%

3.

Ahli Media

Penyajian

83%

85%

Kegrafikan

87%

4. Guru Fisika

Kelayakan Isi

90%

91%

Kebahasaan

96%

Penyajian

89%

Kegrafikan

92%

Rata-rata

83%

Interpretasi

Sangat Layak

PEMBAHASAN

Berdasarkan persentase rata-rata kelayakan aspek isi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan

oleh 3 dosen ahli dan 2 praktisi, modul ajar fisika Kurikulum Merdeka tentang materi energi alternatif
tergolong sangat layak dengan persentase rata-rata mencapai 86%. Meskipun telah dinilai sangat layak,
revisi pada produk masih diperlukan sebagaimana disarankan (Puspitasari, Hamdani and Risdianto,
2020).

Jika dilihat dari hasil validitas, persentase penilaian yang paling rendah terdapat pada aspek

kebahasaan. Aspek kebahasaan dalam evaluasi modul ajar fisika melibatkan penilaian terhadap
penggunaan bahasa yang jelas, tepat, dan sesuai konteks pembelajaran (Yuli and Mufit, 2021). Hal ini
mencakup kejelasan penyampaian informasi, penggunaan istilah yang tepat, struktur kalimat yang
mudah dipahami, serta penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Aspek
kebahasaan yang baik dalam modul ajar membantu siswa untuk memahami materi dengan lebih baik
dan efektif. Oleh karena itu, perlu perbaikan di bagian kebahasaan agar keterbacaan modul dapat lebih
baik.

Namun jika dilihat dari hasil validasi oleh guru fisika mendapatkan persentase yang paling

tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa isi modul ajar menurut praktisi guru sudah lebih dari cukup untuk
digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran fisika pada materi energi alternatif. Guru
menggunakan modul ajar sebagai panduan untuk merencanakan, mengantar, dan melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan tujuan dan materi yang disajikan, memastikan pembelajaran terstruktur dan
efektif (Tanaka et al., 2023).

Modul ajar yang dihasilkan diperoleh melalui proses revisi yang berulang kali untuk

memastikan bahwa modul ajar cocok digunakan oleh guru untuk mencegah siswa dan guru terjadi
miskonsepsi. Proses revisi produk dimulai dengan memperhatikan pendapat para ahli dalam proses
penyusunan produk. Selanjutnya, produk diperbaiki berdasarkan pendapat para ahli dan kajian teori
tentang penyusunan modul ajar. Aspek kelayakan isi, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikan adalah
acuan dasar penyusunan modul ajar fisika. Aspek penilaian tersebut menjadi kebutuhan mendasar bagi
guru dalam penyusunan modul ajar (Riyanto, 2017).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses

pengembangan modul ajar fisika Kurikulum Merdeka melibatkan tiga tahap. Tahap pertama, "define",
melibatkan analisis awal, dokumen, peserta didik, tugas, dan konsep untuk merancang modul ajar.
Tahap kedua, "design", mencakup penyusunan tes, pemilihan media, dan format, serta pembuatan draf
awal modul ajar fisika materi energi alternatif. Tahap terakhir, "develop", melibatkan validasi modul
ajar oleh dosen ahli, dilanjutkan dengan revisi. Setelah revisi berdasarkan hasil validasi, modul ajar

8

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

58

dievaluasi oleh praktisi. Hasil evaluasi digunakan untuk melakukan revisi tambahan guna
menyempurnakan modul ajar sebelum disebarkan dan digunakan dalam proses pembelajaran. Modul
ajar fisika Kurikulum Merdeka yang dikembangkan dalam penelitian ini layak digunakan sebagai alat
pembelajaran dengan nilai rata-rata kelayakan sebesar 83%, termasuk dalam kriteria sangat valid/baik.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada kedua dosen pembimbing yang telah memberikan

banyak masukan kepada penulis untuk menyelesaikan artikel ini. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada para validator yang telah bersedia melakukan validasi terhadap modul ajar yang
dikembangkan.

REFERENSI

Amarulloh, R.R. et al. (2023) ‘TRAINING ON TRAINER KOMPETISI SAINS NASIONAL SMP/MTS

BIDANG IPA FISIKA BAGI GURU DAN MAHASISWA CALON GURU FISIKA/IPA’, JCES
(Journal of Character Education Society), 6(2), pp. 381–389.

Arifin, A.S. and Sukati, S. (2020) ‘Persepsi Guru Madrasah Ibtidaiyah Terhadap Pembelajaran Daring Selama

Program Belajar Dari Rumah (BDR) di Masa Pandemi COVID-19’, LITERASI (Jurnal Ilmu Pendidikan),
11(2), p. 150. Available at: https://doi.org/10.21927/literasi.2020.11(2).150-158.

Eveline, E., Saputro, E.F.H. and Jayanti, I.D. (2023) ‘Modul Fisika berbasis Kearifan Lokal dengan Pendekatan

Scaffolding’, JURNAL PENDIDIKAN MIPA, 13(4), pp. 911–919.

Hidayati Azkiya et al. (2022) ‘Pengembangan E-Modul Berbasis Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural di Sekolah

Dasar Islam’, Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 7(2), pp. 409–427. Available at:
https://doi.org/10.25299/al-thariqah.2022.vol7(2).10851.

Irvani, A.I. and Warliani, R. (2022) ‘Development of physics demonstration videos on Youtube (PDVY) as

physics learning media’, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 18(1), pp. 1–12.

Maulida, U. (2022) ‘Pengembangan modul ajar berbasis kurikulum merdeka’, Tarbawi: jurnal pemikiran dan

pendidikan islam, 5(2), pp. 130–138.

Nurul Zainab (2021) PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS DIGITAL.

Pertama. Edited by Arbain Nurdin. Bantul: Lintas Nalar, CV.

Puspitasari, R., Hamdani, D. and Risdianto, E. (2020) ‘Pengembangan E-Modul Berbasis Hots Berbantuan

Flipbook Marker Sebagai Bahan Ajar Alternatif Siswa Sma’, Jurnal Kumparan Fisika, 3(3), pp. 247–
254. Available at: https://doi.org/10.33369/jkf.3.3.247-254.

Rahimah (2022) ‘Peningkatan Kemampuan Guru SMP Negeri 10 Kota Tebingtinggi dalam Menyusun Modul

Ajar Kurikulum Merdeka melalui Kegiatan Pendampingan Tahun Ajaran 2021/2022’, JURNAL ansiru
PAI, 6(1), pp. 92–106.

Riyanto, R.A.S.A.B.A. (2017) ‘Pengembangan Media Karikatur Berbasis Sparkol Video Scribe Pada Mata Kuliah

Genetika Mahasiswa S1 Biologi IKIP Budi Utomo Malang’, 2, pp. 548–554.

Setiawan, R. et al. (2022) ‘Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Mata Pelajaran Bahasa Inggris Smk

Kota

Surabaya’,

Jurnal

Gramaswara, 2(2),

pp.

49–62.

Available

at:

https://doi.org/10.21776/ub.gramaswara.2022.002.02.05.

Setyandaru, T.A., Wahyuni, S. and Putra, P.D.A. (2017) ‘Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis

Multirepresentasi Pada Pembelajaran Fisika Di SMA/MA’, Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(3), pp. 218–
224.

Sipahutar, S.W. (2024) ‘Problematika Implementasi Kurikulum Merdeka: Studi Kasus Pada SMP Negeri 2

Sipoholon’, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, 3(1), pp. 26–36.

Sulaeman, N.F., Nuryadin, A. and Efwinda, S. (2023) ‘Teaching Physics Within New Indonesia Curriculum

“Kurikulum Merdeka”: Reflection for Teacher Education Institution’.

Syahdah, V.S. and Irvani, A.I. (2023) ‘Kesulitan Menanamkan Jiwa Percaya Diri terhadap Kemampuan

Mengerjakan Soal Fisika’, Jurnal Pendidikan dan Ilmu Fisika, 3(1), pp. 163–171.

Tanaka, A. et al. (2023) Perencanaan pembelajaran. Selat Media.

Thiagarajan, S. (1974) ‘Instructional development for training teachers of exceptional children: A sourcebook.’

9

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

59

Ulva, D.Y. and Fitri, A. (2022) ‘Analisis kebutuhan modul matematika untuk meningkatkan kemampuan

pemecahan masalah siswa smp n 4 batang’, Journal of Nusantara Education, 2(1), pp. 11–21.

Wahidin, W. (2024) ‘PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN’, Al-Rabwah, 18(01), pp. 13–26.

Warliani, R., Irvani, A.I. and Khoiril, A. (2023) ‘Analisis Modul Ajar Fisika berbasis Kearifan Lokal pada

Platform Merdeka Mengajar’, Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya (JIFP), 7(2), pp. 7–13.

Yuli, F. and Mufit, F. (2021) ‘Disain dan validitas bahan ajar berbasis konflik kognitif mengintegrasikan virtual

laboratory pada materi optik untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa sma/ma’, Jurnal Penelitian
Pembelajaran Fisika, 7(1).

media

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1/ JPFS 7 (1) (2024) 51-59

51

JPFS7(1)202451-59

Jurnal Pendidikan Fisika dan Sains

(JPFS)

Journal homepage: http:// journal.unucirebon.ac.id/index.php/jpfs

Pengembangan Modul Ajar Fisika Kurikulum Merdeka

Sania Ulfa1, Asep Irvan Irvani *1, Resti Warliani1

1Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan, Universitas Garut

*E-mail: irvan.irvani@uniga.ac.id

DOI: https://doi.org/10.52188/jpfs.v7i1.562

Accepted: 3 Maret 2024

Approved: 15 Maret 2024

Published: 31 Maret 2024

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka, yakni
Modul Ajar Fisika pada materi Energi Alternatif yang memenuhi kriteria viliditas. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kuantitatif yang diinterpretasi dan dianalisis secara kualitatif. Modul
Ajar dikembangkan dengan model pengembangan 4D yang disederhanakan menjadi 3D (Define,
Design, dan Develop). Modul Ajar ini dikembangkan berdasarkan ketentuan dan karakteristik yang
mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran di Kurikulum Merdeka. Instrumen pengumpulan data
berupa lembar validasi dan angket. Lembar validasi meliputi validasi konten dan validasi bahasa.
Validasi dilakukan oleh tiga orang ahli dengan keahlian pendidikan fisika dan pendidikan bahasa.
Adapun angket diberikan kepada praktisi yakni dua orang guru mata pelajaran fisika di salah satu
sekolah menengah atas di Kabupaten Garut. Data yang diperoleh kemudian diolah secara kuantitatif
dengan menghitung persentase tiap aspek dan persentase keseluruhan. Hasil pengolahan kemudian
diinterpretasi dan dianalisis secara kualitatif untuk menentukan validitas produk. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa berdasarkan uji validitas, Modul Ajar Fisika Kurikulum Merdeka dinyatakan
sangat valid dengan persentase tingkat validitas 82,7%. Respons dari praktisi juga menunjukkan hal
positif dari aspek konten fisika maupun aspek keterbacaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa modul
yang dikembangkan telah valid dan dapat digunakan sebagai modul pembelajaran..

Kata kunci: Energi Alternatif, Kurikulum Merdeka, Model 3D, Modul Ajar.

ABSTRACT

This research was conducted to develop the Merdeka Curriculum learning tools, namely the Physics
Teaching Module on Alternative Energy material that meets the validity criteria. The research method
used is a quantitative method which is interpreted and analyzed qualitatively. The Teaching Module
was developed using a 4-D development model which was simplified to 3-D (Define, Design and
Develop). This Teaching Module was developed based on provisions and characteristics that refer to
the learning principles in the Independent Curriculum. Data collection instruments include validation
sheets and questionnaires. The validation sheet includes content validation and language validation.
Validation was carried out by three experts with expertise in physics education and language
education. The questionnaire was given to practitioners, namely two physics subject teachers at one of
the high schools in Garut Regency. The data obtained was then processed quantitatively by calculating
the percentage of each aspect and the overall percentage. The processing results are then interpreted
and analyzed qualitatively to determine product validity. The research results showed that based on
the validity test, the Independent Curriculum Physics Teaching Module was declared very valid with a
validity percentage of 82.7%. Responses from practitioners also showed positive things from the
physics content aspect and readability aspect. This shows that the module developed is valid and can
be used as a learning module

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 9

SLIDE