Search Header Logo
Deep Learning

Deep Learning

Assessment

Presentation

Education

Professional Development

Practice Problem

Easy

Created by

Supriyanto, PSP

Used 3+ times

FREE Resource

22 Slides • 3 Questions

1

media

DEEP
LEARNING

(PEMBELAJARAN MENDALAM)

SUPRIYANTO

2

media

3

4

Multiple Choice

Apa yang dimaksud dengan pembelajaran mendalam

1
Pembelajaran mendalam adalah metode pembelajaran mesin yang menggunakan jaringan saraf tiruan dengan banyak lapisan.
2
Pembelajaran mendalam adalah proses belajar yang dilakukan secara individu tanpa bantuan alat bantu.
3
Pembelajaran mendalam adalah metode pengajaran yang hanya menggunakan buku teks.
4
Pembelajaran mendalam adalah teknik pengajaran tradisional yang tidak melibatkan teknologi.

5

media

6

media

7

Multiple Choice

Strategi yang benar agar pembelajaran berkesadaran adalah..

1
Fokus pada pengulangan materi tanpa refleksi.
2
Menggunakan metode pengajaran tradisional tanpa interaksi.
3
Menerapkan pendekatan satu arah dalam komunikasi.
4
Mengabaikan perasaan siswa selama pembelajaran.
5
Menerapkan pendekatan reflektif dan mindfulness dalam pembelajaran.

8

media
media

DL sebagai Prinsip Pembelajaran

Interaktif

Inspiratif

Menyenangkan

Menantang

Memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif

Memberikan ruang yang

cukup bagi prakarsa,

kreativitas, kemandirian

sesuai dengan bakat, minat
dan perkembangan fisik serta

psikologis peserta didik

9

media

Pembelajaran yang Menerapkan
Kesadaran Penuh (Mindful Learning)

Pembelajaran yang menerapkan kesadaran penuh (mindful

learning) adalah pendekatan yang menekankan perhatian
secara sadar terhadap pengalaman belajar di saat ini, tanpa
gangguan atau penilaian berlebihan.

Ini membantu peserta didik lebih fokus, mengurangi stres, dan

meningkatkan pemahaman yang mendalam

10

media

Prinsip-Prinsip Mindful Learning

Hadir Sepenuhnya dalam Proses Belajar
Siswa dan guru fokus pada pengalaman saat ini tanpa terganggu oleh masa lalu atau
masa depan.

Kesadaran terhadap Pikiran dan Emosi
Memahami bagaimana perasaan dan pikiran dapat memengaruhi proses belajar.

Fleksibilitas Kognitif
Terbuka terhadap berbagai perspektif dan cara berpikir baru dalam memahami materi.

Belajar dengan Rasa Ingin Tahu
Menghindari pembelajaran otomatis atau sekadar menghafal tanpa pemahaman.

Tidak Menghakimi Diri Sendiri atau Orang Lain
Menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar tanpa merasa takut atau malu.

11

media

Strategi Menerapkan Mindful Learning

1. Latihan Kesadaran (Mindfulness) Sebelum Belajar

Mengajak siswa melakukan pernapasan dalam atau meditasi singkat sebelum memulai pelajaran untuk meningkatkan fokus.

2. Pembelajaran Aktif dan Reflektif

Mendorong siswa untuk merenungkan apa yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan pengalaman mereka sendiri.

3. Menggunakan Teknik Inquiry-Based Learning

Mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong eksplorasi dan pemikiran mendalam.

4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Nyaman

Menghindari tekanan berlebihan dan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dengan ritme mereka sendiri.

5. Melatih Kesadaran dalam Berbicara dan Mendengar

Mendorong komunikasi yang penuh perhatian dalam diskusi kelas.

6. Mempraktikkan Rasa Syukur dan Apresiasi

Guru dan siswa dapat saling berbagi hal-hal yang mereka syukuri terkait dengan pengalaman belajar mereka.

12

media

Pembelajaran Bermakna
(meaningful)

Pembelajaran yang menerapkan meaningful learning (pembelajaran

bermakna) adalah pendekatan yang memungkinkan siswa
menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka
miliki.

Konsep ini dikembangkan oleh David Ausubel dan menekankan bahwa

belajar akan lebih efektif jika materi yang dipelajari memiliki makna dan
relevansi bagi siswa

13

media

Ciri-ciri Pembelajaran Bermakna

Menghubungkan dengan Pengetahuan Sebelumnya

Siswa mengaitkan konsep baru dengan pengalaman atau informasi yang telah
mereka pelajari sebelumnya.

Relevan dengan Kehidupan Nyata

Materi pembelajaran memiliki keterkaitan dengan situasi atau masalah di dunia nyata.

Memfasilitasi Pemahaman Mendalam

Siswa tidak hanya menghafal, tetapi memahami konsep secara mendalam.

Mendorong Keterlibatan Aktif Siswa

Siswa terlibat dalam proses belajar secara aktif melalui diskusi, eksperimen, atau
proyek.

Memungkinkan Transfer Pengetahuan

Ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam berbagai konteks dan situasi lain.

14

media

Contoh Penerapan Pembelajaran
Bermakna

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Siswa diminta membuat proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti membuat ekosistem mini dalam
pelajaran biologi.

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)

Siswa diberikan masalah nyata untuk diselesaikan, seperti menganalisis penyebab banjir di daerah mereka dalam mata
pelajaran geografi.

Pembelajaran Kontekstual

Guru mengajarkan konsep melalui pengalaman nyata, misalnya mengajarkan konsep matematika dengan simulasi jual beli.

Diskusi dan Kolaborasi

Siswa belajar dengan berdiskusi dalam kelompok untuk memahami suatu konsep secara lebih mendalam.

Dengan menerapkan pembelajaran bermakna, siswa dapat lebih mudah memahami materi, mengembangkan
keterampilan berpikir kritis, dan meningkatkan motivasi belajar

15

media

Joyful learning

Joyful learning adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang agar siswa merasa senang,
nyaman, dan termotivasi saat belajar.

Pendekatan ini menekankan pengalaman belajar yang interaktif, kreatif, dan tidak
membosankan, sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi.

16

media

Ciri-ciri Pembelajaran Joyful Learning

Lingkungan Belajar yang Menyenangkan
Kelas yang nyaman, penuh warna, dan memungkinkan siswa bergerak bebas.

Interaksi yang Positif
Guru bersikap ramah dan mendukung, serta mendorong siswa untuk aktif bertanya dan
berpartisipasi.

Belajar Melalui Permainan (Game-Based Learning)
Menggunakan kuis, teka-teki, atau simulasi untuk membuat pembelajaran lebih menarik.

Pembelajaran Berbasis Pengalaman (Experiential Learning)
Siswa belajar melalui eksperimen, proyek, atau kunjungan lapangan.

Menggunakan Teknologi dan Media Interaktif
Pemanfaatan video, animasi, aplikasi edukasi, atau augmented reality (AR) agar pembelajaran
lebih visual dan menarik.

Kebebasan Bereksplorasi
Siswa didorong untuk mencoba, mengeksplorasi, dan membuat kesimpulan sendiri.

Mengurangi Tekanan dan Stres
Tidak terlalu menekankan tes dan tugas berat, tetapi lebih fokus pada pemahaman konsep
dengan cara yang menyenangkan.

17

media

Contoh Penerapan Joyful Learning

Game Edukatif

Menggunakan permainan seperti Kahoot!, Wordwall, atau puzzle dalam pembelajaran.

Belajar dengan Musik dan Lagu

Menggunakan lagu atau musik untuk menghafal konsep, seperti lagu alfabet atau rumus matematika.

Role-Playing (Bermain Peran)

Siswa berperan sebagai tokoh sejarah dalam pelajaran sejarah atau berperan sebagai dokter dalam pembelajaran sains.

Eksperimen dan Simulasi

Melakukan eksperimen sains atau simulasi matematika dengan alat bantu digital.

Belajar di Luar Kelas

Mengadakan pembelajaran di alam terbuka atau mengunjungi museum untuk pengalaman langsung.

Membuat Proyek Kreatif

Siswa membuat video pembelajaran, komik edukatif, atau presentasi kreatif.

Dengan menerapkan joyful learning, siswa akan merasa lebih antusias dalam belajar, mengurangi rasa bosan, dan meningkatkan
pemahaman terhadap materi dengan cara yang lebih alami dan menyenangkan

18

media
media

19

media
media

20

media

Perbedaan Taksonomi Bloom dan
SOLO

Taksonomi SOLO berbasis penelitian/bukti pada struktur hasil pembelajaran siswa, sementara taksonomi
Bloom dikembangkan dari proposal oleh sebuah komite pendidik.

SOLO adalah teori tentang pengajaran dan pembelajaran, sementara teori Bloom lebih berfokus pada
pengetahuan.

SOLO didasarkan pada tingkat kompleksitas kognitif yang meningkat, sementara Bloom memiliki
hubungan hierarkis yang dipertanyakan antar tingkat. Ini sangat berguna dalam memberikan umpan
balik, umpan depan, dan umpan atas. Memungkinkan umpan balik yang eksplisit – hierarkis – proksimal.
Misalnya – Pendidik dan siswa merasa mudah untuk menentukan apa yang sedang mereka lakukan –
kompleksitas tugas SOLO – Pendidik dan siswa merasa mudah untuk secara andal dan sah menentukan
seberapa baik hasilnya – kriteria keberhasilan yang dibedakan SOLO – Pendidik dan siswa merasa
mudah untuk secara andal dan sah menentukan langkah selanjutnya – tambah satu tingkat SOLO.

SOLO memiliki reliabilitas inter-rater yang tinggi – pendidik dan siswa cenderung setuju ketika
memoderasi pekerjaan siswa terhadap tingkat SOLO – sementara Bloom memiliki reliabilitas inter-rater
yang rendah.

21

media

Tingkat SOLO dapat dikomunikasikan melalui teks, isyarat tangan, dan simbol – di lingkungan
pembelajaran yang besar dan bising, sementara tingkat Bloom hanya dapat dikomunikasikan dengan teks
saja.

SOLO memungkinkan tugas dan hasil berada di tingkat yang berbeda, sementara Bloom tidak
dirancang/tidak dapat digunakan untuk menetapkan tingkat hasil terhadap setiap tugas.

SOLO memungkinkan kita membedakan antara kompleksitas kognitif suatu tugas dan kesulitan tugas
tersebut.

SOLO memiliki kejelasan dalam penggunaan kata kerja untuk setiap tingkat. Kejelasan tingkat kata kerja
adalah keuntungan besar ketika pendidik merencanakan dan menulis niat pembelajaran, sementara Bloom
memiliki penggunaan kata kerja yang membingungkan di antara tingkat-tingkatnya.

SOLO dapat digunakan untuk melihat tingkat pengetahuan deklaratif dan pengetahuan fungsional termasuk
refleksi metakognitif.

SOLO sangat sederhana dan dapat digunakan oleh siswa yang masih berusia lima tahun untuk melihat
hasil pembelajaran mereka sendiri dan hasil pembelajaran teman sekelasnya.

SOLO adalah model yang menunjukkan kepada siswa bahwa pembelajaran adalah hasil dari usaha dan
strategi, BUKAN kemampuan tetap atau disukai. Ini menunjukkan kemajuan pembelajaran dan langkah
selanjutnya untuk setiap siswa.

22

media

SOLO TAXONOMY

1. Pre-structural

Pada tingkat ini, peserta didik memiliki pemahaman yang sangat terbatas atau tidak terarah tentang
konsep yang dipelajari. Mereka mungkin tidak dapat mengidentifikasi atau menghubungkan informasi
dengan baik. Contoh: peserta didik ditanya tentang topik tertentu, tetapi mereka tidak dapat memberikan
jawaban yang relevan atau hanya menjawab secara acak.

2. Uni-structural

Di tingkat ini, peserta didik dapat memahami satu aspek atau elemen dari konsep yang dipelajari. Mereka
mampu memberikan definisi sederhana atau menyebutkan satu contoh, tetapi belum dapat
menghubungkan informasi yang berbeda. Contoh: peserta didik dapat mendefinisikan kata sifat sebagai
"kata yang menggambarkan kata sifat atau adjective" tetapi mereka belum dapat menjelaskan lebih
lanjut atau memberikan contoh yang beragam tentang adjective.

23

media

3. Multi-structural

Pada tingkatan ini, peserta didik mulai memahami beberapa elemen dari konsep yang lebih
kompleks. Mereka dapat menyebutkan dan menjelaskan beberapa bagian atau aspek, tetapi belum
dapat menghubungkan elemen-elemen tersebut untuk membentuk pemahaman yang lebih holistik.
Contoh: peserta didik dapat mencantumkan dan menjelaskan beberapa jenis kata sifat
atau adjective (descriptive adjective, quantitative adjective, demonstrative adjective) tetapi belum
dapat menjelaskan bagaimana kata sifat (adjective) tersebut digunakan

24

media

4. Relational

Di tingkat ini, peserta didik mampu menghubungkan berbagai elemen yang telah mereka pelajari untuk
membentuk pemahaman yang lebih menyeluruh dan dapat menjelaskan hubungan antara elemen-
elemen tersebut. Mereka dapat memberikan analisis dan menjelaskan pentingnya hubungan antar
konsep. Contoh: peserta didik dapat menjelaskan bagaimana penggunaan kata sifat (adjective) dalam
kalimat dapat meningkatkan deskripsi dan memberi detail yang lebih kaya serta memahami perannya
dalam konteks yang lebih luas.

5. Extended Abstract

Pada tingkat tertinggi ini, peserta didik mampu berpikir secara kritis dan kreatif. Mereka tidak hanya
dapat menghubungkan berbagai elemen tetapi juga dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam
konteks baru, menciptakan solusi inovatif, atau merancang aktivitas yang kompleks. Contoh: peserta
didik dapat merancang sebuah proyek atau aktivitas yang mendorong penggunaan kata sifat secara
efektif dalam tulisan, menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana kata sifat berfungsi
dan berkontribusi pada komunikasi yang lebih baik.

25

Multiple Choice

Jelaskan hubungan Taxonomi SOLO dan Anderson

1
Taxonomi SOLO hanya digunakan untuk pengukuran di tingkat dasar.
2
Taxonomi SOLO dan Anderson saling melengkapi dalam pengukuran dan pengembangan hasil belajar.
3
Taxonomi SOLO dan Anderson bertentangan dalam pengukuran hasil belajar.
4
Taxonomi Anderson tidak relevan dengan pengembangan hasil belajar.
media

DEEP
LEARNING

(PEMBELAJARAN MENDALAM)

SUPRIYANTO

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 25

SLIDE