NEW
Font size
WorksheetsUjian Tengah Semester
Total questions: 20
Worksheet time: 59mins
Berikut ini adalah tujuan dari akuntansi biaya, kecuali ....
penentuan harga pokok produk
penentuan harga jual saham
pengendalian biaya
membantu manajemen dalam pengambilan keputusan
Akun yang digunakan untuk mendebit produk yang ditransfer ke gudang dan mengkredit harga pokok produk yang dijual adalah ....
persediaan barang dalam proses
persediaan produk jadi
persediaan bahan baku
persediaan bahan penolong
Berikut ini adalah karakteristik methode harga pokok pesanan, kecuali ....
biaya produksi dikelompokkan antara biaya produksi langsung, dan biaya produksi tak langsung
produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi pemesan sehingga terdapat perbedaan produk untuk setiap pesanan
biaya produksi langsung ditentukan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi sedangan biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka
proses produksi dilakukan secara terus menerus selama satu periode akuntansi
Akun kontrol yang digunakan untuk mencatat biaya penyusutan mesin pada bagian produksi adalah ....
biaya overhead pabrik sesungguhnya
biaya penyusutan mesin pabrik
barang dalam proses
biaya produksi langsung
Untuk mengolah pesanan No. 2005 dilakukan melalui dua departemen produksi A dan B dengan biaya sebagai berikut:
Departemen A : Biaya Bahan Baku Rp 150 -
Biaya tenaga kerja langsung Rp 500,-
Biaya Overhed Pabrik Rp 5,-/jam mesin
Jam mesin 200 jam
Departemen B : Biaya tenaga kerja langsung Rp 675,-
Biaya overhead pabrik 200% dari BTKL
Jam mesin 400 jam
Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhed pabrik pada departemen A adalah ....
BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp 1000 (Debit)
Biaya overhead pabrik yang dibebankan Rp 1.000 (Kredit)
BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp 1000 (Debit)
Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 1.000 (Kredit)
Biaya overhead pabrik yang dibebankan Rp 1.000 (Debit)
Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 1.000 (Kredit)
Biaya overhead pabrik sesungguhnya Rp 1.000 (Debit)
Biaya overhead pabrik yang dibebankan Rp 1.000 (Kredit)
Untuk mengolah pesanan No. 2005 dilakukan melalui dua departemen produksi A dan B dengan biaya sebagai berikut:
Departemen A : Biaya Bahan Baku Rp 150 -
Biaya tenaga kerja langsung Rp 500,-
Biaya Overhed Pabrik Rp 5,-/jam mesin
Jam mesin 200 jam
Departemen B : Biaya tenaga kerja langsung Rp 675,-
Biaya overhead pabrik 200% dari BTKL
Jam mesin 400 jam
Besarnya harga pokok produk jadi pesanan No. 2005 adalah ....
Rp 2.325,-
Rp 2.800,-
Rp 3.000,-
Rp 3.670,-
Tarip BOP sebesar Rp 1.500,- per jam mesin. Pesanan nomor 200 menggunakan 200 jam mesin, pesanan nomor 201 menggunakan 150 jam mesin, dan pesanan nomor 202 menggunakan 400 jam mesin. Biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi adalah Rp 1.070.000,-
Besarnya pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk adalah ....
Rp 1.070.000,-
Rp 1.125.000,-
Rp 1.295.000,-
Rp 2.195.000,-
Tarip BOP sebesar Rp 1.500,- per jam mesin. Pesanan nomor 200 menggunakan 200 jam mesin, pesanan nomor 201 menggunakan 150 jam mesin, dan pesanan nomor 202 menggunakan 400 jam mesin. Biaya overhead pabrik sesungguhnya yang terjadi adalah Rp 1.070.000,-
Besarnya selisih pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk adalah ....
laba Rp 45.000,-
rugi Rp 45.000,-
laba Rp 55.000,-
Rugi Rp 55.000
Biya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume produksi ....
biaya produksi tak langsung
biaya overhead pabrik variabel
biaya overhead pabrik tetap
biaya overhead pabrik semi variabel
Tarip BOP yang dihitung berdasarkan kapasitas normal 10.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp 7.500,- perjam tenaga kerja langsung (terdiri dari Rp 5.000,- tarip BOP tetap, dan Rp 2.500,- tarip BOP Variabel). Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 9.000 jam dan BOP ssungguhnya sebesar Rp 62.500.000,- Pada akhir periode produk dalam proses Rp 15.000.000,- dan Persediaan produk jadi sebesar Rp 5.000.000,- sedangkan harga pokok produk yang dijual sebesar Rp 105.000.000,-
Berdasarkan data tersebut, selisih pembebanan Biaya Overhead Pabrik adalah ....
kurang Rp 7.500.000,-
lebih Rp 7.500.000,-
kurang Rp 5.000.000,-
lebih Rp 5.000.000,-
Tarip BOP yang dihitung berdasarkan kapasitas normal 10.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp 7.500,- perjam tenaga kerja langsung (terdiri dari Rp 5.000,- tarip BOP tetap, dan Rp 2.500,- tarip BOP Variabel). Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 9.000 jam dan BOP ssungguhnya sebesar Rp 62.500.000,- Pada akhir periode produk dalam proses Rp 15.000.000,- dan Persediaan produk jadi sebesar Rp 5.000.000,- sedangkan harga pokok produk yang dijual sebesar Rp 105.000.000,-
Berdasarkan data tersebut, besarnya selisih kapasitas Biaya Overhead Pabrik adalah ....
laba Rp 5.000.000,-
rugi Rp 5.000.000,-
laba Rp 7.000.000,-
rugi Rp 7.000.000,-
Tarip BOP yang dihitung berdasarkan kapasitas normal 10.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp 7.500,- perjam tenaga kerja langsung (terdiri dari Rp 5.000,- tarip BOP tetap, dan Rp 2.500,- tarip BOP Variabel). Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 9.000 jam dan BOP ssungguhnya sebesar Rp 62.500.000,- Pada akhir periode produk dalam proses Rp 15.000.000,- dan Persediaan produk jadi sebesar Rp 5.000.000,- sedangkan harga pokok produk yang dijual sebesar Rp 105.000.000,-
Berdasarkan data tersebut, besarnya selisih anggaran Biaya Overhead Pabrik adalah ....
rugi Rp 5.000.000,-
laba Rp 5.000.000,-
rugi Rp 10.000.000,-
laba Rp 10.000.000,-
Tarip BOP yang dihitung berdasarkan kapasitas normal 10.000 jam tenaga kerja langsung adalah Rp 7.500,- perjam tenaga kerja langsung (terdiri dari Rp 5.000,- tarip BOP tetap, dan Rp 2.500,- tarip BOP Variabel). Jam tenaga kerja langsung sesungguhnya 9.000 jam dan BOP ssungguhnya sebesar Rp 62.500.000,- Pada akhir periode produk dalam proses Rp 15.000.000,- dan Persediaan produk jadi sebesar Rp 5.000.000,- sedangkan harga pokok produk yang dijual sebesar Rp 105.000.000,-
Berdasarkan data tersebut, besarnya pembebanan Biaya Overhead Pabrik adalah ....
Rp 22.500.000,-
Rp 25.000.000,-
Rp 62.500.000,-
Rp 67.500.000,-
Berikut ini adalah catatan persediaan bahan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode rata-rata bergerak, biaya bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 201.228,57
Rp 205.228,57
Rp 231.228.57
Rp 238.225.57
Berikut ini adalah catatan persediaan bahan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode rata-rata bergerak, persediaan akhir bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 45.771,43
Rp 54.771.43
Rp 46.771.43
Rp 64.771,43
Berikut ini adalah catatan persediaanh baan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode rata-rata fisik, besarnya biaya bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 109.272.73
Rp 110.722.73
Rp 111.272,73
Rp 117.272,73
Berikut ini adalah catatan persediaan baan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode FIFO fisik, biaya bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 48.000,-
Rp 203.000,-
Rp 251.000,-
Rp 261.000,-
Berikut ini adalah catatan persediaan bahan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode FIFO begerak, persediaan akhir bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 48.000,-
Rp 51.000,-
Rp 53.000,-
Rp 58.000,-
Berikut ini adalah catatan persediaan baan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode LIFO begerak, persediaan akhir bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 108.000,-
Rp 68.000,-
Rp 58.000,-
Rp 48.000,-
Berikut ini adalah catatan persediaan bahan baku pada bulan Mei 2018
Saldo awal per 1 Mei 2018 sebanyak 20 unit @ Rp 2.000
Tanggal 12 Juni 2018 dibeli sebanyak 50 unit @ Rp 2.300,-
Tanggal 15 Juni 2018 digunakan dalam produksi 10 unit
Tanggal 23 Juni 2018 dibeli sebanyak 40 unit @ Rp 2.400,-
Tanggal 24 Juni digunakan dalam proses produksi 80 unit
Jika perusahaan menggunakan methode LIFO fisik, biaya bahan baku bulan Mei 2018 adalah ....
Rp 188.000,-
Rp 198.000,-
Rp 211.000,-
Rp 251.000,-
