WorksheetsTPA 2
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Bacalah bacaan berikut !
Peluncuran Gerakan maluku Gemar Membaca (GMGM) baru saja di lakukan di Kota Ambon yang di hadiri oleh Bapak Menteri Pendidikan kebudayaan RI Anies Baswedan serta pejabat tinggi yang ada di daerah Maluku khususnya di Kota Ambon.
Dengan adanya GMGM di Kota Ambon maka diharapkan dari seluruh lapisan masyarakat di Kota Ambon dan Maluku pada umumnya untuk tingkatkan cara berpikir demi membangun Kota Ambon tercinta.
Kita dihimbau untuk lebih giat dan gemar lagi dalam membaca, karena dengan membaca kita dapat mengetahui banyak informasi. Informasi tersebut berguna bagi diri sendiri tapi juga dapat diinformasikan kepada orang lain.
Kita bangga dengan semua program yang dilakukan pemerintah di negeri ini demi perubahan Maluku kedepan.
Judul yang tepat pada bacaan diatas adalah … .
Maluku Gemar Membaca
Maluku bangga dengan GMGM
Kehadiran Menteri di Ambon
Perubahan Maluku kedepan
Bacalah bacaan berikut !
Peluncuran Gerakan maluku Gemar Membaca (GMGM) baru saja di lakukan di Kota Ambon yang di hadiri oleh Bapak Menteri Pendidikan kebudayaan RI Anies Baswedan serta pejabat tinggi yang ada di daerah Maluku khususnya di Kota Ambon.
Dengan adanya GMGM di Kota Ambon maka diharapkan dari seluruh lapisan masyarakat di Kota Ambon dan Maluku pada umumnya untuk tingkatkan cara berpikir demi membangun Kota Ambon tercinta.
Kita dihimbau untuk lebih giat dan gemar lagi dalam membaca, karena dengan membaca kita dapat mengetahui banyak informasi. Informasi tersebut berguna bagi diri sendiri tapi juga dapat diinformasikan kepada orang lain.
Kita bangga dengan semua program yang dilakukan pemerintah di negeri ini demi perubahan Maluku kedepan.
Siapakah yang hadir dalam acara peluncuran GMGM tersebut ?
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Bapak Menteri Pendidikan dan Pejabat tinggi daerah
Masyarakat Kota Ambon dan Pejabat tinggi daerah
Para siswa, bersama Bapak Menteri Pendidikan
Bacalah bacaan berikut !
Peluncuran Gerakan maluku Gemar Membaca (GMGM) baru saja di lakukan di Kota Ambon yang di hadiri oleh Bapak Menteri Pendidikan kebudayaan RI Anies Baswedan serta pejabat tinggi yang ada di daerah Maluku khususnya di Kota Ambon.
Dengan adanya GMGM di Kota Ambon maka diharapkan dari seluruh lapisan masyarakat di Kota Ambon dan Maluku pada umumnya untuk tingkatkan cara berpikir demi membangun Kota Ambon tercinta.
Kita dihimbau untuk lebih giat dan gemar lagi dalam membaca, karena dengan membaca kita dapat mengetahui banyak informasi. Informasi tersebut berguna bagi diri sendiri tapi juga dapat diinformasikan kepada orang lain.
Kita bangga dengan semua program yang dilakukan pemerintah di negeri ini demi perubahan Maluku kedepan.
Mengapa pemerintah di daerah Maluku bahkan secara khusus di Kota Ambon merancangkan program GMGM ?
karena sekian tahun program gmgm tidak disambut baik oleh masyarakat
kerena pemerintah kurang membuka diri kepada masyarakat kota ambon
karena pemerintah mengharapkan masyarakat kota ambon gemar membaca demi perubahan kedepan
sebab pemerintah Maluku bekerja sama dengan pemerintah pusat
Bank Indonesia mencatat, jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal III 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu. Utang luar Swasta mendominasi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, dengan total penarikan sebesar US$325,3 miliar atau 50,1 persen. Secara nominal, utang luar negeri swasta turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Sementara ULN publik atau yang ditarik pemerintah, jumlahnya tercatat sebesar US$162,2 miliar atau 49,9 persen dari total ULN. ULN pemerintah naik 20,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 17,9 persen (yoy).
"ULN sektor swasta turun 2,7 persen (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi BI dikutip Sabtu (19/11). Tirta mengatakan ULN swasta banyak bersumber dari pelaku usaha sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6 persen. Dibandingkan kuartal II 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih melambat. Begitu juga, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan yang masih terkontraksi.
Dari sisi jangka waktu penarikan, secara keseluruhan ULN Indonesia didominasi jangka panjang yang sebesar US$283,5 miliar atau 87,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang ini tumbuh 8,7 persen.
"Untuk ULN jangka pendek US$41,8 miliar atau tumbuh 1,8 persen (yoy)," kata Tirta. Total ULN Indonesia per September 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen (yoy). "Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," ujar Tirta.
Pernyataan yang sesuai dengan artikel adalah ….
Jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir 2016 sebesar US$325,3
ULN jangka panjang adalah 8,72 % dari total ULN
ULN sektor swasta turun menjadi 2,7% dari periode yang sama pada 2015
ULN per September 2016 naik 7,8%
Bank Indonesia mencatat, jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal III 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu. Utang luar Swasta mendominasi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, dengan total penarikan sebesar US$325,3 miliar atau 50,1 persen. Secara nominal, utang luar negeri swasta turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Sementara ULN publik atau yang ditarik pemerintah, jumlahnya tercatat sebesar US$162,2 miliar atau 49,9 persen dari total ULN. ULN pemerintah naik 20,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 17,9 persen (yoy).
"ULN sektor swasta turun 2,7 persen (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi BI dikutip Sabtu (19/11). Tirta mengatakan ULN swasta banyak bersumber dari pelaku usaha sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6 persen. Dibandingkan kuartal II 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih melambat. Begitu juga, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan yang masih terkontraksi.
Dari sisi jangka waktu penarikan, secara keseluruhan ULN Indonesia didominasi jangka panjang yang sebesar US$283,5 miliar atau 87,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang ini tumbuh 8,7 persen.
"Untuk ULN jangka pendek US$41,8 miliar atau tumbuh 1,8 persen (yoy)," kata Tirta. Total ULN Indonesia per September 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen (yoy). "Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," ujar Tirta.
Apakah kepanjangan dari ULN?
Utang Luar Nasional
Utang Luar Negeri
Uang Luar Negara
Utang Luar Negara
Bank Indonesia mencatat, jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal III 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu. Utang luar Swasta mendominasi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, dengan total penarikan sebesar US$325,3 miliar atau 50,1 persen. Secara nominal, utang luar negeri swasta turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Sementara ULN publik atau yang ditarik pemerintah, jumlahnya tercatat sebesar US$162,2 miliar atau 49,9 persen dari total ULN. ULN pemerintah naik 20,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 17,9 persen (yoy).
"ULN sektor swasta turun 2,7 persen (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi BI dikutip Sabtu (19/11). Tirta mengatakan ULN swasta banyak bersumber dari pelaku usaha sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6 persen. Dibandingkan kuartal II 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih melambat. Begitu juga, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan yang masih terkontraksi.
Dari sisi jangka waktu penarikan, secara keseluruhan ULN Indonesia didominasi jangka panjang yang sebesar US$283,5 miliar atau 87,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang ini tumbuh 8,7 persen.
"Untuk ULN jangka pendek US$41,8 miliar atau tumbuh 1,8 persen (yoy)," kata Tirta. Total ULN Indonesia per September 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen (yoy). "Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," ujar Tirta.
Pernyataan yang tidak sesuai dengan artikel diatas adalah ….
4 sektor perekonomian Indonesia menyumbang 76,6% dari total ULN swasta
Sektor pertambangan dan sektor keuangan yang tidak mengalami perlambatan pertumbuhan ULN
BI merasa ULN pada waktu tersebut masih wajar
ULN Pemerintah naik dari periode sebelumnya
Bank Indonesia mencatat, jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal III 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu. Utang luar Swasta mendominasi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia, dengan total penarikan sebesar US$325,3 miliar atau 50,1 persen. Secara nominal, utang luar negeri swasta turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Sementara ULN publik atau yang ditarik pemerintah, jumlahnya tercatat sebesar US$162,2 miliar atau 49,9 persen dari total ULN. ULN pemerintah naik 20,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2016 yang sebesar 17,9 persen (yoy).
"ULN sektor swasta turun 2,7 persen (yoy) pada triwulan III 2016, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan pada triwulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam keterangan resmi BI dikutip Sabtu (19/11). Tirta mengatakan ULN swasta banyak bersumber dari pelaku usaha sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6 persen. Dibandingkan kuartal II 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih melambat. Begitu juga, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan yang masih terkontraksi.
Dari sisi jangka waktu penarikan, secara keseluruhan ULN Indonesia didominasi jangka panjang yang sebesar US$283,5 miliar atau 87,2 persen dari total ULN. ULN jangka panjang ini tumbuh 8,7 persen.
"Untuk ULN jangka pendek US$41,8 miliar atau tumbuh 1,8 persen (yoy)," kata Tirta. Total ULN Indonesia per September 2016 sebesar US$325,3 miliar atau tumbuh 7,8 persen (yoy). "Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada triwulan III 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," ujar Tirta.
Apakah arti kata yang bercetak tebal dan bergaris bawah pada artikel diatas?
Jumlah banyaknya sesuatu
Korban dari kesalahan sistem
Cara menaikkan pendapatan
Upaya memberpaiki kondisi
Komputer jinjing netbook sempat jadi primadona pada 2008 silam. Bentuk mungil, bobot ringan, dan harga bersahabat. Tapi
netbook tak mendukung dari sisi performa, banyak orang dibuat sakit hati saat memakainya.
Produsen komputer Dell asal Amerika Serikat, pertama kali menyatakan diri untuk berhenti memproduksi netbook pada Desember 2011. Langkah Dell diikuti produsen lain, seperti Samsung, Sony, Toshiba, dan Hewlett Packard (HP).
Asus menyusul pada September 2012 lalu untuk berhenti memproduksi netbook seri Eee PC yang memakai prosesor Intel Atom pada akhir 2012. Acer dan Micro-Star International (MSI) juga berencana tak merilis produk netbook lagi.
Performa! Inilah alasan utama mengapa netbook mulai ditinggalkan. Ia hanya dibekali prosesor Intel Atom yang sebenarnya agak kewalahan jika dipakai membuka aplikasi yang memakan banyak memori. Ditambah lagi jika Anda membuka banyak aplikasi, maka bersiaplah untuk menunggu agak lama, dan semoga saja netbook Anda tidak hang.
Papan ketik (keyboard) yang mini juga jadi salah satu alasan seseorang menghindari netbook, ia hanya mendukung pekerjaan mengetik dan produktivitas skala kecil.
Ukuran dan resolusi layar netbook tak mendukung grafis beresolusi tinggi. Jangan harap netbook mampu memainkan game kelas berat atau memutar video HD. Layar kecilnya membuat mata cepat lelah. Terlebih jika dipakai untuk membuka browser internet, ruang halaman situs web banyak terpotong oleh toolbar dan status bar browser. Ini juga menyiksa bagi orang tua, mereka harus
melihat dalam jarak dekat agar bisa membaca teks.
Kebanyakan netbook hanya beresolusi 1.024 x 600 pixel. Dengan resolusi itu Anda tak bisa menjalankan Windows 8,
karena sistem operasi terbaru Microsoft ini butuh resolusi layar minimum 1.366 x 768 pixel.
Eksistensi netbook mulai dipertanyakan sejak kehadiran komputer tablet pada 2010 lalu. Permintaan netbook di negara maju mulai turun. Pasar potensialnya diarahkan ke negara berkembang macam Indonesia untuk segmen pasar menengah ke bawah. Tak sedikit warga Indonesia yang membeli netbook sebagai komputer pertama dan utama.
Berikut ini adalah alasan mengapa orang memilih menggunakan netbook, kecuali . . .
bentuk kecil
bobot ringan
warna menarik
harga murah
Komputer jinjing netbook sempat jadi primadona pada 2008 silam. Bentuk mungil, bobot ringan, dan harga bersahabat. Tapi netbook tak mendukung dari sisi performa, banyak orang dibuat sakit hati saat memakainya.
Produsen komputer Dell asal Amerika Serikat, pertama kali menyatakan diri untuk berhenti memproduksi netbook pada Desember 2011. Langkah Dell diikuti produsen lain, seperti Samsung, Sony, Toshiba, dan Hewlett Packard (HP).
Asus menyusul pada September 2012 lalu untuk berhenti memproduksi netbook seri Eee PC yang memakai prosesor Intel Atom pada akhir 2012. Acer dan Micro-Star International (MSI) juga berencana tak merilis produk netbook lagi.
Performa! Inilah alasan utama mengapa netbook mulai ditinggalkan. Ia hanya dibekali prosesor Intel Atom yang sebenarnya agak kewalahan jika dipakai membuka aplikasi yang memakan banyak memori. Ditambah lagi jika Anda membuka banyak aplikasi, maka bersiaplah untuk menunggu agak lama, dan semoga saja netbook Anda tidak hang.
Papan ketik (keyboard) yang mini juga jadi salah satu alasan seseorang menghindari netbook, ia hanya mendukung pekerjaan mengetik dan produktivitas skala kecil.
Ukuran dan resolusi layar netbook tak mendukung grafis beresolusi tinggi. Jangan harap netbook mampu memainkan game kelas berat atau memutar video HD. Layar kecilnya membuat mata cepat lelah. Terlebih jika dipakai untuk membuka browser internet, ruang halaman situs web banyak terpotong oleh toolbar dan status bar browser. Ini juga menyiksa bagi orang tua, mereka harus melihat dalam jarak dekat agar bisa membaca teks.
Kebanyakan netbook hanya beresolusi 1.024 x 600 pixel. Dengan resolusi itu Anda tak bisa menjalankan Windows 8,
karena sistem operasi terbaru Microsoft ini butuh resolusi layar minimum 1.366 x 768 pixel.
Eksistensi netbook mulai dipertanyakan sejak kehadiran komputer tablet pada 2010 lalu. Permintaan netbook di negara maju mulai turun. Pasar potensialnya diarahkan ke negara berkembang macam Indonesia untuk segmen pasar menengah ke bawah. Tak sedikit warga Indonesia yang membeli netbook sebagai komputer pertama dan utama.
Berikut ini adalah alasan mengapa produsen komputer mengehentikan produksi netbook, kecuali . . .
bentuk yang kecil
permintaan yang menurun
performa yang tidak mendukung
keyboard yang kecil
Komputer jinjing netbook sempat jadi primadona pada 2008 silam. Bentuk mungil, bobot ringan, dan harga bersahabat. Tapi netbook tak mendukung dari sisi performa, banyak orang dibuat sakit hati saat memakainya.
Produsen komputer Dell asal Amerika Serikat, pertama kali menyatakan diri untuk berhenti memproduksi netbook pada Desember 2011. Langkah Dell diikuti produsen lain, seperti Samsung, Sony, Toshiba, dan Hewlett Packard (HP).
Asus menyusul pada September 2012 lalu untuk berhenti memproduksi netbook seri Eee PC yang memakai prosesor Intel Atom pada akhir 2012. Acer dan Micro-Star International (MSI) juga berencana tak merilis produk netbook lagi.
Performa! Inilah alasan utama mengapa netbook mulai ditinggalkan. Ia hanya dibekali prosesor Intel Atom yang sebenarnya agak kewalahan jika dipakai membuka aplikasi yang memakan banyak memori. Ditambah lagi jika Anda membuka banyak aplikasi, maka bersiaplah untuk menunggu agak lama, dan semoga saja netbook Anda tidak hang.
Papan ketik (keyboard) yang mini juga jadi salah satu alasan seseorang menghindari netbook, ia hanya mendukung pekerjaan mengetik dan produktivitas skala kecil.
Ukuran dan resolusi layar netbook tak mendukung grafis beresolusi tinggi. Jangan harap netbook mampu memainkan game kelas berat atau memutar video HD. Layar kecilnya membuat mata cepat lelah. Terlebih jika dipakai untuk membuka browser internet, ruang halaman situs web banyak terpotong oleh toolbar dan status bar browser. Ini juga menyiksa bagi orang tua, mereka harus melihat dalam jarak dekat agar bisa membaca teks.
Kebanyakan netbook hanya beresolusi 1.024 x 600 pixel. Dengan resolusi itu Anda tak bisa menjalankan Windows 8,
karena sistem operasi terbaru Microsoft ini butuh resolusi layar minimum 1.366 x 768 pixel.
Eksistensi netbook mulai dipertanyakan sejak kehadiran komputer tablet pada 2010 lalu. Permintaan netbook di negara maju mulai turun. Pasar potensialnya diarahkan ke negara berkembang macam Indonesia untuk segmen pasar menengah ke bawah. Tak sedikit warga Indonesia yang membeli netbook sebagai komputer pertama dan utama.
Manakah dari pernyataan berikut yang sesuai dengan wacana diatas?
Masa kejayaan notebook telah berakhir
Keberadaan netbook akan digantikan dengan keberadaan komputer tablet
Masa kejayaan netbook hanya bertahan selama 4 tahun
Komputer tablet lebih handal dibandingkan netbook
