NEW
Font size
WorksheetsCBT 2025
Total questions: 40
Worksheet time: 40mins
1. Pada saat dilakukan pertolongan di UGD terhadap korban kecelakaan lalu lintas, didapat primary survey: A clear, B clear, C tekanan darah 70/-, cairan apa yang paling tepat diberikan pada pasien ini?
Larutan D5%
Larutan Hemasel
Aquades steril
Larutan HES 5%
Larutan Ringer Laktat
Jika pada pemeriksaan pasien ini ditemukan jejas pada kepala dan dada, tindakan airway management apa yang boleh dan paling tepat dilakukan?
Head tilt
Chin lift
Jaw thrust
Fleksi kepala
Ekstensi kepala
Seorang laki-laki berusia 65 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan diare cair sejak 3 hari SMRS, lebih dari 15 kali per hari. Diare disertai muntah berulang. Keluarga mengatakan pasien tampak sangat lemah, tidak mau makan dan minum sejak sehari terakhir, dan sejak pagi ini pasien sulit diajak bicara. Pemeriksaan fisik pasien ditemukan TD 80/50 mmHg, nadi 130 kali/menit lemah, frekuensi napas 28 kali/menit, SpO2 95%, akral dingin, mata cekung, mukosa mulut kering, turgor kulit sangat lambat (>2 detik), produksi urin sangat sedikit. Bagaimana terapi awal yang paling tepat untuk pasien ini?
Memberikan cairan oral rehidrasi (Oralit) sebanyak mungkin
Memberikan cairan intravena kristaloid (RL atau NaCl 0,9%)
Memberikan diuretik untuk memperbaiki keseimbangan cairan
Menunggu hasil laboratorium sebelum memulai terapi cairan
Memberikan transfusi darah segera
Seorang laki-laki 52 tahun datang dengan nyeri perut hebat sejak 12 jam, didiagnosis perforasi usus, dan direncanakan menjalani laparatomi eksplorasi darurat. Pasien memiliki riwayat hipertensi terkontrol tanpa penyakit penyerta lain.Di kamar operasi, pasien dilakukan induksi anestesi umum dengan intubasi. Selama prosedur, dokter anestesi melakukan pemantauan tanda vital sesuai standar monitoring dasar anestesi. Menurut standar monitoring dasar dalam anestesi, parameter yang WAJIB dipantau secara kontinu selama prosedur anestesi adalah…
Tekanan darah invasif, saturasi oksigen, EKG, suhu tubuh
Tekanan darah non-invasif, saturasi oksigen, EKG, end-tidal CO₂
Tekanan vena sentral, saturasi oksigen, EKG, gas darah arteri
Saturasi oksigen, tekanan darah non-invasif, EKG, tanda klinis ventilasi
Tekanan arteri invasif, saturasi oksigen, cardiac output, suhu tubuh
Seorang pasien laki-laki, 50 tahun, baru selesai operasi laparotomi eksplorasi akibat perforasi usus. Pasien masih terintubasi, mendapat ventilasi mekanik, dan akan dipindahkan dari ruang operasi ke ICU.
Saat persiapan transportasi, monitor menunjukkan : SpO₂ 89%, frekuensi napas 10x/menit, tekanan darah 80/50 mmHg, nadi 120x/menit. Tim anestesi bersiap melakukan transportasi pasien menggunakan ventilator portable dan monitor transport.
Langkah terpenting yang harus dilakukan sebelum memulai transportasi pasien ini adalah:
Segera membawa pasien ke ICU agar segera mendapat perawatan definitive
Memastikan jalan napas, ventilasi, dan sirkulasi stabil serta peralatan transport siap digunakan
Memberikan obat sedatif tambahan agar pasien tetap tenang selama perjalanan
Menghentikan infus cairan untuk memudahkan pemindahan pasien
Melepas ETT sementara dan menggantinya dengan oksigen nasal untuk memudahkan transport
Seorang laki-laki 52 tahun, BB 70 kg, datang untuk operasi laparatomi karena perforasi usus. Pasien tidak ada riwayat penyakit jantung maupun ginjal. Saat induksi anestesi, dokter memberikan kombinasi propofol, fentanil, dan rokuronium. Setelah pasien tertidur, anestesi dilanjutkan dengan sevofluran selama operasi. Konsep Trias Anestesia yang dicapai dengan kombinasi obat-obatan pada kasus ini terdiri dari:
Analgesia, antiemetik, relaksasi otot
Sedasi, stabilisasi kardiovaskular, analgesia
Hipnosis, analgesia, relaksasi otot
Analgesia, antiinflamasi, anxiolisis
Hipnosis, antiemetik, relaksasi otot
Seorang pasien berusia 45 tahun baru saja menjalani prosedur bedah minor dengan anestesi lokal. Sekitar lima menit setelah prosedur dimulai, pasien melaporkan merasa pusing dan mati rasa di sekitar mulutnya. Operator yang bertindak segera menghentikan prosedur dan memantau tanda-tanda vital pasien. Pasien kemudian mulai merasa gelisah dan cemas. Bedasarkan keluhan dan tanda yang dilamai pasien. Apakah yang terjadi pada pasien?
Syok Hipovolemik
Toksisitas anestesi lokal
Dispepsia grade 4
Skizofrenia akut
Gangguan cemas menyeluruh
Seorang laki-laki 45 tahun menjalani operasi hernia inguinalis dengan anestesi umum. Setelah induksi dengan propofol, fentanyl, dan rocuronium, pasien tiba-tiba mengalami hipotensi berat (60/40 mmHg), takikardi, bronkospasme, dan eritema menyeluruh pada kulit. Saturasi oksigen turun menjadi 82% meskipun sudah diberikan oksigen 100%.
Tindakan anestesi segera menghentikan pemberian obat, memastikan jalan napas paten, dan meningkatkan ventilasi dengan oksigen 100%. Apa tatalaksana utama yang paling tepat diberikan segera pada kasus di atas?
Pemberian cairan kristaloid cepat dan vasopressor fenilefrin
Pemberian antihistamin H1 (diphenhydramine) dan kortikosteroid IV
Pemberian epinefrin intravena segera, disertai cairan cepat
Nebulisasi salbutamol untuk mengatasi bronkospasme
Menghentikan prosedur operasi dan observasi pasien di ruang pemulihan
Seorang laki-laki usia 60 tahun dirawat di ICU dengan diagnosis sepsis akibat pneumonia komunitas. Pasien tampak gelisah, GCS 13 (E4V4M5), tekanan darah 85/55 mmHg dengan norepinefrin 0,1 µg/kg/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, saturasi O₂ 88% dengan nasal kanul 4 L/menit. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: PaO₂ 65 mmHg, FiO₂ 0,5; trombosit 85.000/µL; bilirubin total 3,2 mg/dL; kreatinin serum 2,3 mg/dL; urine output <0,4 mL/kg/jam dalam 6 jam terakhir. Berdasarkan data klinis dan laboratorium di atas, berapakah skor SOFA pasien ini, dan apa interpretasinya?
SOFA 4 → risiko mortalitas rendah
SOFA 6 → disfungsi organ ringan
SOFA 9 → disfungsi organ multipel dengan mortalitas tinggi
SOFA 12 → sepsis berat dengan mortalitas sangat tinggi
SOFA 15 → kegagalan organ multipel terminal
Seorang wanita usia 42 tahun menjalani operasi miomektomi elektif dengan anestesi umum. Operasi berlangsung 2 jam, perdarahan + 400 ml, cairan masuk total 2000 ml. Setelah operasi pasien dibawa ke ruang pemulihan. Pemeriksaan fisik 1 jam pasca operasi; TD 110/70 mmHg, Nadi 96x/menit, RR 20x/menit, SpO2 99% dengan nasal kanul 2 liter, urine output 5 ml selama 1 jam. Apa interpretasi yang paling tepat mengenai urine output pada pasien?
Normal, tidak ada masalah
Oliguria, perlu evaluasi status cairan dan fungsi ginjal
Anuria, indikasi dialysis segera
Poliuria akibat overhidrasi
Normal pada pasien perempuan pasca operasi
Ny. S, 32 tahun, G2P1A0, datang ke IGD dengan keluhan nyeri hebat di perut bagian kanan bawah sejak 6 jam yang lalu. Pasien juga mengeluhkan pusing dan lemas. Riwayat menstruasi terakhir 8 minggu yang lalu, dan hasil test pack positif. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak pucat, berkeringat dingin, dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 120x/menit, pernapasan 24x/menit, dan suhu 36,5°C. Pemeriksaan abdomen menunjukkan nyeri tekan hebat di kuadran kanan bawah dengan tanda-tanda peritoneal positif.
Pasien kemudian direncanakan untuk menjalani laparotomi eksplorasi dengan anestesi umum. Saat induksi anestesi, terjadi penurunan tekanan darah menjadi 70/30 mmHg, nadi meningkat menjadi 145x/menit, disertai penurunan kesadaran.
Apa diagnosis yang paling mungkin terkait dengan kondisi pasien ini?
Syok Hipovolemik
Syok Anafilaktik
Syok Kardiogenik
Syok Neurogenik
Syok Distributif
Seorang wanita 43 tahun datang ke IGD dengan demam tinggi, tekanan darah 85/55 mmHg, nadi 125 bpm, RR 28 kali/menit, dan SpO₂ 90% dengan nasal kanul. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri tekan di perut kanan bawah, curiga perforasi usus buntu dengan peritonitis. Laboratorium: leukosit 21.000/µL, laktat 4 mmol/L. Tindakan tatalaksana awal yang paling sesuai adalah…
Melakukan kultur darah dahulu, kemudian menunda antibiotik
Segera memberikan antibiotik spektrum luas empiris dalam 1 jam pertama setelah diagnosis
Memberikan antibiotik setelah cairan resusitasi 30 mL/kg diberikan
Menunggu konfirmasi imaging sebelum memulai antibiotic
Memberikan vasopressor, lalu antibiotik bila TD sudah stabil
Seorang bayi perempuan berusia 5 bulan diantar ibunya ke IGD dengan diare cair tidak berdarah sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai muntah dan demam yang tidak terlalu tinggi sejak 2 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak gelisah dan haus, mata dan ubun-ubun cekung. Cubitan pada kulit kembali sangat lambat. BB 5 kg, T 38.8°C, HR 169 x/menit, dan TD 90/50 mmHg. Setelah 3 jam observasi di IGD, diare dan muntah berlanjut. Pasien bayi menjadi letargi dan sedikit minumnya. Apakah terapi yang paling tepat untuk pasien ini?
Men Jam pertama 30 cc/KgBB cairan infus Ringer laktat dan 3 jam selanjutnya 70 cc/kgBB cairan infus Ringer Laktat
Jam pertama 30 cc/kgBB cairan infus Ringer Laktat dan 5 jam selanjutnya 70 cc/kgBB cairan infus Ringer Laktat
Setengah jam pertama 30 cc/kgBB cairan infias Ringer laktat dan dua setengah jam selanjutnya 70 cc/kgBB cairan infus Ringer Laktat
Jam pertama 70 cc.kgBB cairan infas Ringer Laktat dan 5 jam selanjutnya 30 cc/kgBB cairan infus Ringer Laktat
Tn. M 45 tahun dengan berat badan 70 kg datang ke ruang operasi untuk tindakan laparotomi eksplorasi akibat obstruksi usus halus. Pasien tampak gelisah, muntah berulang, perut distensi dan terpasang NGT. Tanda vital didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 100x/menit, pernapasan 24x/menit dan SpO2 96% RA. Riwayat penyakit penyerta asma terkontrol. Pasien dalam keadaan sadar, jalan napas bebas namun terdapat resiko aspirasi. Laboratorium dalam batas normal. Dokter anestesi memutuskan untuk melakukan anestesi umum. Metode induksi anestesi umum yang paling tepat pada pasien ini adalah...
Induksi inhalasi dengan sevoflurane tanpa relaksan otot
Induksi cepat (Rapid Sequence Induction/RSI) dengan preoksigenasi, pemberian propofol dan rocuronium
Induksi intravena lambat dengan ketamin kemudian ventilasi masker sebelum intubasi
Induksi dengan thiopental dan relaksan kerja panjang, ventilasi manual sebelum intubasi
Induksi kombinasi inhalasi + intravena, intubasi setelah pasien dalam keadaan anestesi dalam
Seorang pasien perempuan 45 tahun menjalani operasi laparotomi eksplorasi akibat perforasi usus. Selama operasi terjadi perdarahan sebanyak 1200mL. Hb awal 9g/dL, Hb intraoperatif turun menjadi 6,5 mg/dL dan tekanan darah 90/60mmHg, serta nadi 124 kali per menit. Berdasarkan kondisi pasien tersebut, Tindakan apa yang paling tepat pada pasien ini?
Memberikan cairan kristaloid
Transfusi Packed Red Cell
Transfusi trombosit
Transfusi Fresh Frozen Plasma
Memberikan vasopressor
Tn.w usia 70 tahun dibawa ke IGD RS karena mendadak tidak sadar. pasien memiliki riwayat gagal jantung sejak 5 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran somnolen, TD 80/50 mmHg, hadi 114 x/menit, RR 30 x/menit, akral dingin, ronkhi basah di basal paru. Dalam Perjalanan sudah diberikan cairan normal saline 250 cc, namun masih belum ada Perbaikan. Apakah tatalaksana yang tepat pada pasien tersebut?
Epinefrin
Dopamin
Dobutamin
Norepinefrin
Sulfas Atropin
Seorang pasien laki laki 60 tahun menjalani operasi TURP dengan anestesi spinal, diberikan midazolam 2 mg IV untuk sedasi. Saat di ruang pemulihan pasien tampak tertidur, sulit dibangunkan, RR 8x per menit, SpO2 85%. Berdasarkan kondisi pasien tersebut, Tindakan apa yang paling tepat pada pasien ini?
Intubasi ulang
Pemberian Nalokson
Pemberian Flumazenil
Pemberian Sugammadex
Pemberian Salbutamol Inhalasi
Seorang pria 45 tahum=n dibawa ke kamar operasi untuk tindakan laparotomi ekplorasi atas indikasi perforasi usus. Saat di ruang induksi anestesi pasien tampak gelisah dan sesak, TD: 90/60 mmHg, HR: 120 x/i, RR: 32 x/i, Temp 38 C, SpO2 86% RA, Vs (+/+), Wh (-/-), Rh (-/-). Apa langkah awal terkait terapi oksigen yang harus lakukan sebelum induksi anestesi pada pasien ini
Nasal kanul 2-4 L/menit
imple face mask 6-8 L/menit
Non-Rebreathing Mask 10-15 L/menit
Venturi mask 24-28%
Intubasi segera tanpa preoksigenasi
Seorang pria berusia 55 tahun dirawat di ICU setelah menjalani operasi bypass jantung. Pasien memiliki riwayat gagal jantung dengan fraksi ejeksi 30%. Enam jam pascaoperasi, pasien mengalami hipotensi (MAP 55 mmHg) dan tanda hipoperfusi perifer (oliguria, kulit dingin, laktat meningkat). Dokter mempertimbangkan penggunaan agen vasoaktif. Manakah pernyataan berikut yang paling tepat membedakan vasopressor dari inotropik dalam tata laksana syok?
Vasopressor meningkatkan kontraktilitas miokard secara dominanEfek sedatif kuat
Inotropik meningkatkan vasokonstriksi sistemik secara dominanTidak memiliki efek perdarahan gastrointestinal
Vasopressor bekerja terutama melalui peningkatan tonus vaskuler untuk menaikkan tekanan darah
Inotropik bekerja terutama menurunkan resistensi vaskuler sistemik
Vasopressor menurunkan konsumsi oksigen miokard secara signifikan
Seorang pria 65 tahun dengan kanker paru stadium IV datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada hebat, menjalar ke punggung, menetap sepanjang hari. Nyeri dirasakan semakin berat dalam 1 bulan terakhir hingga pasien sulit tidur dan hanya bisa berbaring. Skala nyeri saat ini NRS 9/10. Pasien sudah mengonsumsi kombinasi parasetamol dan tramadol, tetapi nyeri tetap tidak terkontrol. Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tampak kesakitan, tekanan darah dan nadi stabil. Langkah manajemen nyeri yang paling tepat untuk pasien ini adalah…
Menaikkan dosis tramadol hingga maksimal
Menambahkan morfin dengan tetap melanjutkan parasetamol
Memberikan NSAID dosis tinggi sebagai obat tunggal
Menghentikan semua obat dan mengganti dengan terapi non-
farmakologis
Memberikan antidepresan trisiklik saja
Seorang laki-laki usia 55 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat setelah kecelakaan lalu lintas. Pasien tampak tidak sadar. Saat pemeriksaan, pernapasan tidak teratur, terdapat ronki, GCS E1V1M4 dengan saturasi oksigen 78% dengan oksigen nasal kanul. Pasien memiliki trauma wajah dengan perdarahan di mulut. Apakah tindakan yang tepat untuk mengamankan jalan napas pasien ini?
Memberikan oksigen dengan non-rebreathing mask 15 L/menit
Melakukan head-tilt chin-lift dan ventilasi bag-valve-mask (BVM)
Melakukan jaw thrust dan suction sekret, kemudian ventilasi BVM
Melakukan intubasi endotrakeal segera tanpa preoksigenasi
Melakukan trakeostomi segera di IGD
Seorang pria berusia 55 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat setelah ditemukan tidak sadar di ruang tunggu puskesmas. Menurut saksi mata, pasien awalnya duduk sambil mengeluh pusing, lalu tiba-tiba jatuh ke lantai. Saat tim medis tiba, pasien tidak memberikan respons terhadap panggilan maupun rangsangan nyeri. Evaluasi cepat jalan napas menunjukkan tidak ada suara napas atau gerakan dada. Pemeriksaan pernapasan dilakukan dengan teknik look, listen, and feel selama 10 detik, tidak ditemukan tanda pernapasan spontan. Palpasi nadi karotis juga tidak teraba. Tekanan darah dan saturasi oksigen tidak dapat diukur karena pasien sudah dalam kondisi henti jantung. Apakah tindakan awal yang paling tepat yang dapat dilakukan pada pasien ini?
Segera memberikan oksigen nasal kanul
Melakukan kompresi dada dengan frekuensi 100–120 kali/menit
Memberikan obat adrenalin intravena
Melakukan intubasi endotrakeal segera
Menghubungi keluarga pasien
Seorang pria berusia 58 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam tinggi sejak dua hari yang lalu disertai lemas dan napas cepat. Pasien mengeluh batuk berdahak kuning kehijauan sejak satu minggu terakhir. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah 85/55 mmHg, frekuensi nadi 118 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, suhu 39,2°C dan 90% tanpa O₂ tambahan. Pada pemeriksaan fisik tampak CRT : 4 detik, ronki basah di lapang bawah kanan. Urine output: 10 mL/jam. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan : Leukosit: 21.000/µL, Laktat serum: 4 mmol/L, Kreatinin: 2,1 mg/dL. Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah…
Pneumonia tanpa komplikasi
Sepsis akibat pneumonia
Syok hipovolemik
Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi
Bronkitis akut
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut hebat sejak 12 jam lalu. Diagnosis perforasi ulkus gaster ditegakkan dan pasien akan menjalani laparotomi emergensi. Pasien tampak gelisah, nadi 110 x/menit, TD 100/70 mmHg, RR 20 x/menit, suhu 38,5 C. Pasien belum makan sejak 6 jam lalu. Saat persiapan anestesi, dokter anestesi melakukan preoxygenation, merencanakan intubasi trakea, namun setelah induksi cepat dengan propofol dan suksinilkolin, ventilasi manual sulit dilakukan dan saturasi turun menjadi 82%. Tindakan selanjutnya yang paling tepat dalam situasi tersebut adalah?
Ulangi percobaan intubasi sampai berhasil
Lakukan ventilasi bag-mask dengan tekanan tinggi
Pasang alat supraglotik (LMA) untuk ventilasi
lakukan cricothyroidotomy segera
Bangunkan pasien dan tunda operasi
Seorang laki-laki berusia 50 tahun baru saja menjalani operasi hernia inguinalis dengan anestesi umum. Sekitar lima menit setelah pemberian morfin secara intravena untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, pasien tampak mengantuk berat dan responnya terhadap rangsangan nyeri menurun. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 52 kali per menit, frekuensi napas 6 kali per menit, dan saturasi oksigen 80% meskipun sudah diberikan nasal kanul 3 L/menit. Pada pemeriksaan fisik tampak miosis bilateral. Petugas anestesi kemudian segera dipanggil ke ruang pemulihan. Tindakan awal yang tepat untuk dilakukan adalah...
Lakukan intubasi segera
Berikan naloksan IV 0,4 mg
Berikan oksigen 10 L/menit
Lakukan ventilasi bag-valve mask
Hentikan pemberian morfin
Seorang wanita berusia 45 tahun, ASA II, direncanakan menjalani operasi laparoskopi kolesistektomi. Setelah dilakukan induksi anestesi dengan propofol, fentanyl, dan rokuronium, pasien berhasil diintubasi. Namun, segera setelah intubasi, saturasi oksigen turun menjadi 82%, tekanan darah 85/50 mmHg, dan terdengar bunyi mengi (wheezing) pada auskultasi. Tindakan terpenting yang harus segera dilakukan adalah ?
Memberikan cairan kristaloid cepat untuk mengatasi hipotensi
Memberikan bronkodilator inhalasi dan meningkatkan FiO₂
Mengecek posisi endotrakeal tube dan ventilasi pasien
Memberikan vasopressor untuk menaikkan tekanan darah
Memberikan antihistamin intravena untuk reaksi alergi
Seorang pria berusia 54 tahun akan menjalani operasi elektif. Ketika dilakukan pre-operatif pada pasien, di dapat pasien mengalami obesitas, sleep apnea, Mallampati III, mouth opening 3 jari, thyromental distance 2 jari, dan leher terbatas. Apa interpretasi dari penilaian LEMON (Look – Evaluate – Mallampati – Obstruction – Neck mobility) pada pasien ini ?
Tidak beresiko sulit intubasi
Risiko sedang, dapat dilakukan intubasi biasa
Risiko tinggi sulit intubasi, perlu persiapan alat bantu
Dapat dilakukan intubasi tanpa persiapan khusus
Tidak dapat dilakukan penilaian Lemon
Seorang laki-laki berusia 65 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas dan pembengkakan pada kedua tungkai sejak 3 hari yang lalu. Pasien memiliki riwayat gagal jantung dan hipoalbuminemia. Pemeriksaan fisik menunjukkan: TD 85/50 mmHg, Nadi 112x/menit, RR 28x/menit, SpO₂ 91% (room air), edema pitting bilateral, distensi vena jugularis, dan ronki basah halus di basal paru. Hasil laboratorium: Albumin serum 2,4 g/dL (rendah), fungsi ginjal dalam batas normal. Diagnosis hipotensi akibat hipovolemia relatif pada pasien gagal jantung dengan hipoalbuminemia. Jenis cairan yang paling tepat diberikan untuk memperbaiki perfusi tanpa memperparah edema adalah?
Ringer Laktat
NaCl 0,9%
Dextrose 5%
Koloid
Ringer Asetat
Pria 45 Tahun dengan riwayat trauma kepala akan menjalani kranioktomi,
dokter anestesi berencana memberikan obat induksi yang tidak meningkatkan
tekanan intrakranial. Obat induksi yang paling tepat untuk pasien ini adalah...
Ketamin
Propofol
Thiopental
Etomida
Midazolam
Seorang laki-laki, 68 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas berat sejak 2 hari terakhir. Pasien memiliki riwayat PPOK kronik, sering batuk berdahak, dan masih merokok. Hasil pemeriksaan didapatkan RR : 30x/menit, SpO2 84%, TD 135/80 mmHg, HR 105x/menit. Dokter IGD memberikan oksigen untuk mempertahankan saturasi di kisaran 88-92%. Seorang laki-laki, 68 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas berat sejak 2 hari terakhir. Pasien memiliki riwayat PPOK kronik, sering batuk berdahak, dan masih merokok. Hasil pemeriksaan didapatkan RR : 30x/menit, SpO2 84%, TD 135/80 mmHg, HR 105x/menit. Dokter IGD memberikan oksigen untuk mempertahankan saturasi di kisaran 88-92%.
Oksigen tinggi menyebabkan saturasi hemoglobin menurun
Oksigen tinggi menekan hypoxic drive sehingga ventilasi menurun dan terjadi retensi O2
Oksigen tinggi meningkatkan produksi lendir di saluran napas
Oksigen tinggi menimbulkan bronkospasme
Oksigen tinggi dapat menyebabkan gagal jantung
Seorang pria 56 tahun dengan obesitas dan leher pendek akan dioperasi tiroid. Setelah diberi anestesi umum, dokter anestesi gagal melihat pita suara meski sudah tigal kali mencoba intubasi. Saturasi turun menjadi 85% dan ventilasi dengan masker mulai sulit. Langkah terbaik selanjutnya adalah…
Coba intubasi dengan laringoskop yang sama
Lanjutkan ventilasi dengan tekanan tinggi
Gunakan alat supraglottic airway (LMA) untuk ventilasi
Segera bangunkan pasien
Berikan lebih banyak obat pelumpuh otot
Seorang laki-laki 45 tahun akan menjalani operasi herniotomi inguinalis. Saat
induksi anestesi umum menggunakan propofol dan fentanyl, tekanan darah
pasien turun dari 130/80 mmHg menjadi 85/50 mmHg, denyut nadi 55
kali/menit. Apa penyebab paling mungkin dari kondisi tersebut? Apa penyebab paling mungkin dari kondisi tersebut?
Reaksi alergi terhadap obat anestesi
Efek vasodilatasi dan depresan jantung dari obat induksi
Kehilangan darah akut
Intubasi endotrakeal yang salah
Gangguan irama jantung ventrikular
Seorang laki-laki berusia 45 tahun dilakukan blok anestesi pada saraf brakialis menggunakan lidokain 2%. Beberapa menit setelah penyuntikan, pasien mengeluh pusing, suara berdenging di telinga, rasa logam di mulut, dan pasien mulai gelisah. Tidak lama kemudian, pasien mengalami kejang tonik-klonik. Tindakan awal yang paling tepat untuk dilakukan adalah?
Memberikan cairan glukosa 5%.
Memberikan O2 dan memastikan jalan napas serta ventilasi adekuat.
Memberikan opioid intravena untuk menekan aktivitas SSP.
Melakukan kompres dingin pada area suntikan
Memberikan antihistamin intravena untuk mengatasi alergi
Seorang wanita 45 tahun tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri di ruang
tunggu puskesmas. Dokter jaga segera melakukan pemeriksaan awal
dan didapatkan pasien tidak ada respon, tidak ada napas, dan nadi
karotis tidak teraba. Tim melakukan Resusitasi Jantung Paru. Setelah
kompresi dada selama 2 menit, Automated External Defribillator
(AED) dipasang dan menunjukkan ritme ventrikel fibrilasi (VF). Tatalaksana berikutnya yang paling tepat dilakukan adalah…
Lanjutkan RJP tanpa defibrilasi
Berikan satu kali defibrilasi, kemudian lanjutkan kompresi dada selama
2 menit
Hentikan RJP untuk memasang akses intravena dan memberikan
adrenalin
Berikan dua kali napas buatan sebelum defibrilasi
Tunggu hasil EKG 12-lead sebelum memberikan defibrilasi
Seorang wanita berusia 50 tahun akan menjalani operasi katarak
elektif. Ia memiliki riwayat hipertensi terkontrol dengan amlodipin
10mg/hari. Tekanan darah saat ini 130/80mmHg, denyut nadi stabil
dan pemeriksaan praoperasi dalam batas normal. Tidak ada keluhan
sesak atau nyeri dada, kondisi umum baik. Berdasarkan data diatas, klasifikasi ASA physical status pasien ini
adalah?
ASA I
ASA II
ASA III
ASA IV
ASA V
Seorang laki-laki berusia 72 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam
tinggi sejak 2 hari lalu, napas cepat, dan urin yang berkurang. Keluarga
mengatakan pasien tampak mengantuk dan sulit diajak bicara sejak pagi tadi.
Riwayat penyakit sebelumnya: DM tipe 2 dan hipertensi. Pemeriksaan fisik:
TD: 86/54 mmHg, nadi: 118x/menit, lemah, RR: 28x/menit, suhu: 39,2°C,
SpO₂: 91% room air, GCS: E3V4M5, turgor kulit menurun. Nyeri tekan
suprapubik, kandung kemih tidak teraba. Laboratorium : Hb 12,5 g.dL,
Leukosit 18,200 /µL, CRP +++, laktat serum 3,8 mmol/L, kreatinin 2,3
mg/dL, BUN 45 mg/dL, urinalisis : piuria, bakteri +++. Pasien mendapatkan
cairan NaCl 0,9% 30 mL/kgBB secara cepat dan antibiotik empiris setelah
kultur darah dan urin diambil. Apakah mekanisme utama yang paling mungkin menjadi penyebab terjadinya
hipotensi pada kasus ini?
Penurunan kontraktilitas miokard akibat hipoksia jaringan
Vasodilatasi sistemik akibat mediasi sitokin inflamasi
Penurunan volume sirkulasi karena kehilangan cairan eksternal
Aktivasi sistem renin-angiotensin yang berlebihan
Penurunan aliran balik vena akibat peningkatan tekanan intratorakal
Seorang pria usia 45 tahun datang untuk menjalani operasi open reduction
internal fixation (ORIF) pada fraktur femur kanan akibat kecelakaan lalu
lintas. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang terkontrol dengan
Amlodipine. Pemeriksaan pre-anestesi menunjukkan TD : 135/85 mmHg, HR
: 88 kali/menit, RR : 18 kali/menit, SpO 2 : 98% room air.
Selama induksi anestesi umum diberikan propofol, fentanyl, dan rokuronium
untuk intubasi, tiba-tiba tekanan darah pasien turun menjadi 80/50 mmHg dan
denyut nadi meningkat menjadi 110 kali/menit. Apakah penyebab paling mungkin dari kondisi hipotensi yang dialami pasien
setelah induksi anestesi tersebut?
Reaksi alergi terhadap rokuronium
Depresi miokard akibat propofol
Efek analgesic dari fentanyl
Hipovolemia akibat perdarahan masif
Reaksi vagal terhadap intubasi
Seorang pria berusia 64 tahun akan menjalani operasi reseksi prostat karena
benign prostatic hyperplasia (BPH). Pasien memiliki riwayat hipertensi yang
terkontrol dengan amlodipin 10 mg/hari. Tindakan anestesi spinal menggunakan
bupivakain 0,5% hiperbarik sebanyak 12 mg pada ruang intervertebralis L3-L4.
Lima menit setelah tindakan, pasien mengeluh pusing. Tekanan darah turun
menjadi 80/50 mmHg, nadi 55x/menit. Apa penyebab paling mungkin dari kondisi pasien tersebut?
Reaksi anafilaktik terhadap bupivakain
Efek toksik bupivakain terhadap sistem saraf pusat
Blokade saraf simpatis akibat efek anestesi spinal
Perdarahan akibat cedera pembuluh darah spinal
Efek vagal akibat nyeri viseral
Seorang pria 55 tahun menjalani operasi laparatomi eksplorasi akibat perforasi usus. Operasi berlangsung 4 jam dengan anestesi umum dan penggunaan opioid intraoperatif. Di ruang pemulihan 30 menit pasca operasi, pasien tampak mengantuk, napas dangkal 8 kali/menit, saturasi oksigen 86% dengan nasal kanula 2 L/menit. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 68 kali/menit, suhu 36,4 °C. Tidak ada tanda obstruksi jalan napas. Apakah komplikasi pasca anestesi yang paling mungkin terjadi?
Hipoksia akibat atelektasis pasca operasi
Depresi napas akibat efek residu opioid
Emboli paru pasca operasi
Bronkospasme pasca ekstubasi
Edema paru kardiogenik
Seorang laki-laki 65 tahun dengan riwayat hipertensi dan DM akan menjalani operasi hernia inguinalis elektif. Pasien masih dapat berjalan santai tanpa keluhan tanpa mengalami sesak bila naik tangga 2 lantai. Tekanan darah 150/60 mmHg, nadi 88x/menit, SpO2 96% room air. Berdasarkan data diatas, klasifikasi ASA physical status pasien ini adalah
ASA I
ASA II
ASA III
ASA IV
ASA V
