wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Unsur Intrinsik Cerpen

Total questions: 30

Worksheet time: 15mins

Name
Class
Date
1.

Konflik dalam kutipan cerite tersebut adalah....

a)

Sabrina merasa malu dengan temannya

b)

Sabrina menganggap angin lalu terhadap cemoohan temannya

c)

Alisa membujuk Sabrina agar masuk sekolah

d)

Sabrina menuruti Alisa untuk masuk sekolah

2.

Penggalan cerpen berikut untuk tiga butir soal di bawah ini!


Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.


Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …

a)

sudut pandang orang pertama

b)

sudut pandnag orang kedua

c)

sudut pandang orang jamak

d)

sudut pandang orang tunggal

3.

"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"


Latar peristiwa kutipan cerita di atas adalah

a)

kereta api

b)

jalan raya

c)

bus

d)

kapal laut

4.

“Aku maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk tangan, berdeham-deham, membuat bunyi-bunyian agar ia merayap pergi.


“Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak’kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini.

(Dikutip dari novel "Laskar Pelangi")


Watak tokoh Lintang dalam kutipan novel tersebut adalah....

a)

A. penakut

b)

B. pemberani

c)

C. ragu-ragu

d)

D. tidak percaya diri

5.

Di kelas, tadi, Beningya sudah sibuk membayang-bayangkan gambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.

(Dikutip dari cerpen "Kartu Pos dari Surga)


Watak tokoh Beningya dalam kutipan cerpen tersebut adalah....

a)

A. suka mengkhayal

b)

B. cerdas

c)

C. pemberani

d)

D. peduli

6.

(1) Aku ingin menumpahkan dendam setelah lama aku siapkan. (2) Dua puluh lima tahun. (3) Aku bergelar sarjana hukum dan pengacara termuda tersohor di negeri ini. (4) Aku punya uang dan tangan yang siap membalaskan dendamku. (5) Hanya saja, setiap niat itu aku beritahukan kepada kedua saudaraku, keduanya akan berkhutbah kepadaku, “Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan.”


Bukti watak tokoh Aku pendendam ditandai dengan kalimat nomor....

a)

A. (1) dan (2)

b)

B. (1) dan (4)

c)

C. (2) dan (5)

d)

D. (3) dan (4)

7.

“Huek, pahit, Nek. Dinda nggak suka. Nggak mau kopi ah!”

Nenek Aida tetap tersenyum. Ia teruskan kegiatannya membuat kopi. Setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu.

“Dinda nggak mau kopinya, Nek... pahit... kopi Dinda buat Nenek aja deh....”

“Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kejadian. Tahukah Dinda, semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup lebih istimewa. Mengerti?”


Pesan dalam kutipan cerpen tersebut yaitu....

a)

A. Dalam kehidupan ini kita akan mengalami berbagai kejadian yang menyenangkan.

b)

B. Hidup yang istimewa adalah hidup yang dapat menerima kepedihan.

c)

C. Kita harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup ada peristiwa membahagiakan dan menyedihkan.

d)

D. Dalam hidup dengarkanlah nasehat orang tua yang sudah berpengalaman dalam hidup.

8.

Kemudian mendadak muncul puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kupu-kupu aneka warna berterbangan dan memenuhi pandanganku. Istriku berteriak dan memegang tanganku, kurasakan pegangannya terlepas dan tak kudengar lagi suaraku sendiri.


Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut yaitu....

a)

A. damai

b)

B. ketakutan

c)

C. sedih

d)

D. sepi

9.

“Siti, aku minta maaf. Selama ini aku selalu memusuhimu hanya karena kamu tidak mau memberi jawaban saat ulangan. Aku merasa bersalah. Ternyata kamu sahabat sejatiku. Meskipun aku sudah menyakitimu, kau tetap mau menolongku saat aku kecelakaan,”kata Dina sambil mengulurkan tangan ketika sampai di rumah.


Pesan pada cerpen tersebut yaitu....

a)

A. Jangan hanya mengaku sahabat ketika mendapat jawaban saat ulangan.

b)

B. Jangan percaya kepada teman.

c)

C. Sayangilah temanmu seperti kamu menyayangi keluargamu.

d)

D. Tolonglah orang lain meskipun ornag tersebut pernah menyakitimu.

10.

Nisan namamu merindingkan bulu kuduk yang menghantam ulu hatiku, sahabat. Seharusnya, aku tak telat untuk segera mengantarmu, mencium gumpalan tanah terakhirmu. Sedetik saja, maka akan kucium kening pucatmu untuk yang terakhir. Peristiwa kematianmu ini, akan membuatku terus mengingatmu. Aku jatuh mengenangmu, sahabat. Tidak ada yang sepeduli kau di kehidupan ini. Aku benci pada tanah yang mengurukmu.


Latar tempat pada kutipan cerpen tersebut yaitu....

a)

A. pasar

b)

B. gudang

c)

C. candi

d)

D. kuburan

11.

"Jadi, apa yang membawamu kemari?”

“Kenangan.”

“Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap sekitar 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.


Alur dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

a)

A. Alur maju

b)

B. Alur mundur

c)

C. Alur campuran

d)

D. Tidak menggunakan alur

12.

“Aku maju sedikit, membunyikan lonceng sepeda, bertepuk tangan, berdeham-deham, membuat bunyi-bunyian agar ia merayap pergi.


“Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak’kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini.

(Dikutip dari novel "Laskar Pelangi")


Watak tokoh Lintang dalam kutipan novel tersebut adalah....

a)

A. penakut

b)

B. pemberani

c)

C. ragu-ragu

d)

D. tidak percaya diri

13.

Gerimis halus masih turun dari langit. Masdudin berbalik dan mengikuti langkah istrinya ke ruang tamu.

“Mengapa Abang tiba-tiba kepingin makan kue gemblong Mak Sainah?” Asyura bertanya ketika Masdudin tengah mengatur nafas.

Masdudin berpikir untuk mencari jawaban yang pas. Dia sendiri tidak tahu mengapa pagi itu, ia ingat Mak Sainah yang biasanya menjajakan kue gemblong ke rumahnya. Tidak setiap hari juga. Dalam sepekan, dua sampai tiga kali Mak Sainah datang ke rumahnya.


Latar waktu kutipan cerpen tersebut yaitu....

a)

A. pagi hari

b)

B. siang hari

c)

C. sore hari

d)

D. malam hari

14.

Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.


Sudut pandang pengarang pada kutipan cerpen tersebut....

a)

A. sudut pandang orang ketiga

b)

B. sudut pandang orang pertama

c)

C. sudut pandang orang kedua

d)

D. sudut pandang campuran

15.

(1) Aku ingin menumpahkan dendam setelah lama aku siapkan. (2) Dua puluh lima tahun. (3) Aku bergelar sarjana hukum dan pengacara termuda tersohor di negeri ini. (4) Aku punya uang dan tangan yang siap membalaskan dendamku. (5) Hanya saja, setiap niat itu aku beritahukan kepada kedua saudaraku, keduanya akan berkhutbah kepadaku, “Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan.”


Bukti watak tokoh Aku pendendam ditandai dengan kalimat nomor....

a)

A. (1) dan (2)

b)

B. (1) dan (4)

c)

C. (2) dan (5)

d)

D. (3) dan (4)

16.

Pukul 11.20

Enggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”

Besok Papa bisa antar Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.

Ngantar ke mana? Pizza Hut?”

Beningnya menggeleng.

“Ke mana?”

“Ke rumah Pak Pos.”


Latar tempat kutipan cerpen tersebut....

a)

A. kamar tidur

b)

B. dapur

c)

C. ruang tamu

d)

D. ruang makan

17.

Kutipan cerpen berikut untuk nomor 9-13

Mereka berdua menyatakan tak bersalah. Tak ada seorangpun di atas dunia ini yang mau disalahkan. Semua orang pasti mengaku baik. Mungkin semua orang memang baik. Tapi mereka telah melanggar hukum dan mereka dijebloskan ke dalam bui.

Aku tetap memeluk lutut di pojok. Malam merayap seperti kecoa-kecoa yang sia-sia mencari makanan. Tapi aku kehilangan waktu. Aku tak tahu jam berapa lampu tiba-tiba dimatikan. Kegelapan mengerikan menyelimuti diriku. Kesenyapan meraung-meraung dari keempat sudut sel.


Latar tempat kutipan cerpen tersebut....

a)

A. kantor polisi

b)

B. penjara

c)

C. gudang

d)

D. pasar

18.

Mata Beningnya berkaca-kaca, diakhiri dengan kemunculan cahaya yang terang keperakan di kamar Beningnya dan cahaya tersebut menjadi penanda sebagai kedatangan mama Beningnya ke hadapan anaknya. Ironisnya Beningnya belum mengetahui tentang kematian ibunya. Arwah Ren datang menemui Beningnya.


Latar suasana pada kutipan cerpen "Kartu Pos dari Surga" yaitu....

a)

A. sedih

b)

B. gembira

c)

C. sepi

d)

D. ketakutan

19.

(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.


Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….

a)

(1)

b)

(2)

c)

(3)

d)

(4)

20.

Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.

“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.

Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.


Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …

a)

Ica

b)

Bunda

c)

Nanda

d)

Pembeli kios

21.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.


Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …

a)

orang pertama pelaku utama

b)

orang ketiga pelaku sampingan

c)

orang ketiga pelaku utama

d)

orang pertama dan ketiga

22.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.


Watak tokoh “aku” dalam penggalan cerita tersebut adalah …

a)

percaya diri

b)

rajin berusaha

c)

sombong

d)

mudah terpengaruh

23.

Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.


Latar tempat pada cerita di atas adalah...

a)

di perkampungan.

b)

di hutan rimba.

c)

di rumah singgah.

d)

di bawah pohon rindang.

24.

Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.


Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …

a)

sore hari, terminal

b)

siang hari, perjalanan

c)

siang hari, terminal

d)

pagi hari, rumah

25.

"kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, Diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya."


Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..

a)

sebagai manusia harus saling tolong-menolong

b)

guru harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup

c)

guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya

d)

guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik

26.

(1)Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan body semampai macam Luna Maya, padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila.


Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .…

a)

(1) dan (2)

b)

(2) dan (3)

c)

(3) dan (4)

d)

(4) dan (5)

27.

Aku pun bertanya, seperti biasanya, “Biar apa, Ayah?”

“Biar kamu tidak sombong jadi manusia, Zarah.” ujarnya sambil tersenyum, lalu mengecup keningku. Seperti biasanya.

Di tengah orang yang berlomba – lomba menjadi patung lilin, Ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia.

Watak tokoh ayah pada kutipan cerpen tersebut adalah ….

a)

sombong

b)

rendah hati

c)

religius

d)

bijaksana

28.

Cermati kutipan berikut!

Bagi nenek, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya. Kenyataannya? Memang nenek bisa mengatur keluarga. Bahkan Ida Bagus Tugur, suaminya, takkan berkutik hanya dengan batuk kecil. Anehnya, nenek hanya pandai membaca kesalahan – kesalahan yang dibuat suaminya. Tapi dia tidak lihai membaca kesalahan anak kesayangannya, anak lelaki satu – satunya yang teramat dia kagumi dan terlalu sering membuat masalah itu.


Pembuktian latar suasana tidak nyaman dalam kutipan novel tersebut adalah ….

a)

Nenek selalu mempersalahkan suaminya.

b)

Nenek selalu menjaga wibawanya.

c)

Nenek tidak bisa mengatur keluarga.

d)

Suami nenek tidak berkutik dengan batuk kecil.

29.

Gajah sangat sombong. Karena badannya yang sangat besar, ia berpikir dapat mengalahkan semua binatang. Ia menyepelekan hewan-hewan yang berada di hutan. Karena kesombongannya itu, ia tidak disenangi oleh hewan-hewan lainnya.


Alasan yang tepat mengapa gajah tidak disenangi oleh hewan-hewan yaitu ....

a)

Badannya sangat besar

b)

Ia berpikir dengan logis

c)

Ia mengalahkan hewan lain

d)

Gajah menyepelekan hewan lain

30.

Suatu hari ada kupu-kupu bersayap hitam yang terbang melintas. Tuvi dengan sombongnya mengejek kupu-kupu tersebut karena memiliki sayap hitam yang jelek. Kupu-kupu tersebut kemudian menangis, dia merasa sangat sedih dan malu. Bahkan dia tidak berani lagi terbang dan bermain di sekitar taman bunga.


Watak tokoh Tuvi adalah ....

a)

pemberani

b)

penyayang

c)

sombong

d)

pembohong